Pakai Kawat Gigi? Enggak Mau Ah!




*Cerpen Anak ini dimuat di harian Kompas edisi Minggu, 8 Februari 2009

Suatu hari saat makan malam..

“Ayah, aku boleh pakai kawat gigi?” tanya Ine kepada Ayah.

“Kawat gigi?” Ayah terlihat bingung. Ibu pun memandang Ine dengan heran.

“Iya Yah, kawat gigi! Teman sekelasku, Fia dan Izi hari ini pakai kawat gigi. Keren dan gaya!”jelas Ine.

“Ine, setahu Ayah kawat gigi bukan untuk gaya, Nak! Pemakaiannya karena disarankan oleh dokter gigi. Jadi tidak boleh sembarangan,” jelas Ayah.

“Benar kata Ayah. Selain itu biasanya orang yang memakai kawat gigi punya masalah dengan susunan giginya. Sedangkan menurut Ibu, gigimu tidak bermasalah. Jadi, kenapa harus pakai kawat gigi?” tambah Ibu.

“Tapi Bu, aku lihat Fia dan Izi juga tidak punya masalah dengan giginya,” sanggah Ine.

“Sudah, sudah begini saja. Besok sepulang sekolah, Ibu ajak kamu ke puskesmas menemui dokter gigi. Di sana kamu bisa bertanya sepuasnya. Biar nanti dokter yang memutuskan kamu perlu memakai kawat gigi atau tidak,” usul Ibu.

“Asyik, siapa tahu dokternya membenarkan kalau aku memang harus pakai kawat gigi,” sambut Ine senang.

“Jangan terlalu berharap, kita lihat apa kata dokter nanti, “ Ibu mengingatkan.

Esoknya Ine dan Ibu pergi ke puskesmas menemui dokter gigi Eti. Beliau dengan ramah mempersilakan Ine dan Ibu duduk.

“Ada yang bisa saya bantu Ine?” tanya dokter Eti.

“Iya Dokter, Ine mau tanya perlu tidak saya pakai kawat gigi?” tanya Ine penasaran.
“Kenapa rupanya Ine, ada keluhan dengan gigimu?”

“Tidak ada Dokter, hanya ada teman saya pakai kawat gigi. Saya ingin tanya apa saya bisa pakai juga.”

“Oh begitu, ayo kita periksa dulu,” ajak Dokter Eti sambil meminta Ine duduk di kursi khusus untuk pasien dokter gigi.

Beberapa saat kemudian, dokter selesai memeriksa. Mereka pun kembali duduk bersama Ibu.

“Ine, sebelum saya jawab perlu tidaknya kamu pakai kawat gigi, saya jelaskan dulu fungsinya yaa.”

“Kawat gigi adalah alat yang dipasang untuk memperbaiki susunan gigi yang tidak serasi atau menyimpang dari pola normal. Sebelum seseorang dianjurkan memakai kawat gigi, ia harus menjalani pemeriksaan, termasuk pembuatan rontgen foto kepala untuk mendiagnosa perlu tidaknya ia memakai alat bantu tersebut. Sampai di sini cukup jelas Ine?”tanya Dokter Eti.

“Hm iyaa, kelihatannya tidak boleh asal pakai ya Dok?” jawab Ine.

“Ya benar. Temanmu pasti telah menjalani serangkaian pemeriksaan juga,” tegas Dokter Eti.

Ine manggut-manggut mendengarkan.

“Dokter, lalu bagaimana dengan orang yang memakai kawat gigi hanya untuk mengikuti tren?” Ibu pun ingin tahu.

“Ibu, Ine, pemasangan kawat gigi yang tidak semestinya bisa mengakibatkan gigi menjadi tidak harmonis. Bahkan susunannya bisa jadi acak-acakan,”

“ Nah, dari hasil pemeriksaan awal, saya lihat tidak ada masalah dengan susunan gigimu. Bahkan gigimu termasuk kategori sehat, pasti karena kamu rajin merawatnya. Jadi sejauh ini, kamu tidak perlu memakai kawat gigi.”

Ine tersenyum puas dengan penjelasan Dokter Eti.

“Oh ya, memakai kawat gigi itu sebenarnya lebih repot lho,” Dokter Eti menambahkan.

“Repot?” Ine penasaran.

“Ya. Kawat gigi itu ada dua jenis, lepasan dan permanen. Pemakaiannya tergantung pada keadaan gigi geligi dan usia pasien. Jika masalahnya tidak terlalu sulit dan usia masih dalam tahap pertumbuhan maka dipilih yang lepasan. Kawat gigi ini bisa dipasang dan dilepas sendiri. Tentu harus rajin memakainya agar hasil perawatan bisa maksimal. Jelas ngga Ine?”

“ Ya Dok, lalu kalau yang permanen bagaimana?”

“Kawat gigi permanen digunakan untuk kasus yang lebih sulit. Hanya bisa dipasang oleh dokter gigi dan harus dipakai terus-menerus sampai perawatannya selesai. Memakai kawat gigi permanen mengharuskan kita rajin memelihara kesehatan gigi dan mulut. Sikat giginya pun khusus, berbentuk cekung pada bulunya dan ujungnya berbentuk segitiga.”

“Saat membersihkan gigi pun membutuhkan waktu dan perhatian lebih banyak karena harus lebih teliti.Pola makan juga harus teratur, menghindari makanan keras, mengandung gula, menghindari minuman manis dan bersoda. Buah dan sayur pun dipotong untuk sekali suap.”

“Selain itu, anak yang memakai kawat gigi harus rajin kontrol ke dokter gigi. Biaya pemasangannya juga mahal. Jadi, memakai kawat gigi butuh kesabaran juga pengorbanan waktu dan biaya,” Dokter Eti menjelaskan panjang lebar.

Ine tercengang mendengarnya. Hal yang sebelumnya tidak terlintas dalam pikirannya, ternyata pakai kawat gigi tak semudah yang ia bayangkan. Duh, benar-benar merepotkan! Jadi kalau kata dokter tidak perlu, kenapa aku ngotot ingin pakai kawat gigi yaa, batin Ine.

“Bagaimana Ine, masih ingin pakai kawat gigi juga?” goda Ibu membuyarkan lamunan Ine.

“Enggak mau, ah!” sahut Ine buru-buru.

Ibu dan Dokter Eti tertawa mendengarnya.

No comments:

Post a Comment