Orang Tua Tipe Helikopterkah Anda?



Image result for orang tua tipe helikopter


Apakah orang tua tipe helikopter itu? Yaitu, orang tua yang terlalu protektif dan mengatur anak sampai ke hal terkecil sekalipun. Mereka selalu membayangi kemana pun si anak pergi dan siap sedia untuk mengulurkan tangan. Orang tua tipe ini bagai sebuah helikopter yang kapan pun dibutuhkan akan datang mengirimkan bala bantuan. Pola pengasuhan seperti ini akan menghambat proses perkembangan kemandirian anak, sehingga akan berdampak pada kehidupannya di kemudian hari.

Memang, tiap orang tua punya pola pengasuhan yang berbeda-beda yang diyakini terbaik bagi anak-anaknya. Namun, seringkali tanpa disadari apa yang diterapkan selama ini hanya membawa kerugian pada tumbuh kembang anak itu sendiri.

Yakinkah bahwa Anda bukan salah satunya?

Simak berikut ini, ciri-ciri orang tua yang termasuk tipe helikopter :

1.   Over Protektif

Sejak anak buka mata sampai beranjak tidur banyak sekali pesan-pesannya. Jangan lari-lari di sekolah nanti jatuh! Jangan ikut-ikutan teman main di lapangan nanti sepatunya kotor! Jangan main tanah! Jangan hujan-hujanan! Jangan main ke rumah tetangga!

Aduh! Kalau kebanyakan “jangan ini atau itu”, bagaimana anak akan menghadapi jatuh bangunnya hidup nanti. Lebih baik beri kesempatan anak mencoba suatu pengalaman sehingga ia bisa belajar, tumbuh dan berkembang menjadi manusia dewasa yang kelak siap menghadapi berbagai tantangan.

2.   Selalu Melayani

Orang tua ibarat pelayan bagi anaknya sendiri. Anak sudah bisa mandi sendiri, masih dimandikan. Makan disuapi. Baju/sepatu dipakaikan. Semua keperluannya juga disiapkan.

Kalau seperti itu terus, anak tidak akan mampu melayani dirinya sendiri. Biarkan anak melakukan sendiri dengan menyesuaikan tingkat usianya. Libatkan ia dalam pekerjaan rumah tangga. Beri tugas sehari-hari yang sesuai kemampuannya. Seperti membuang sampah, memberi makan hewan peliharaan, mencuci piring makannya sendiri, memasukkan cucian ke mesin cuci atau menjemur baju.

3.   Selalu Memantau

Anak sudah masuk SD yang keamanan sekolahnya bagus, tapi Anda masih tak tega untuk meninggalkannya dan masih setia menungguinya seharian di kantin sekolah. Ada acara field trip di sekolah tanpa perlu pendampingan orang tua, Anda masih juga menyusul di belakang rombongan atau bahkan sudah tiba lebih dulu di lokasi tujuan. Saat si remaja Anda pergi ke undangan ulang tahun teman, Anda menelepon beberapa kali ke ponselnya.

Ayo, beri kesempatan anak menjadi mandiri tanpa merasa diikuti terus oleh orang tuanya kesana-sini.

4.   Anti Gagal

Anak yang baru belajar makan sendiri pasti belepotan disana-sini. Saat membantu mencuci piring bisa jadi piring pecah satu. Juga, mengikat tali sepatu untuk yang baru belajar itu, butuh waktu. Ada standar yang berbeda antara ibu dan anak dalam menilai kamar rapi atau tidak.

Kegagalan itu kunci utama dalam proses belajar. Biarkan anak salah di awal dan terus mencoba meski gagal. Ia akan belajar dari kegagalannya sampai bisa sempurna melakukannya.

5.   PR Anak = PR Orang Tua

Ada orang tua yang tiap malam mengerjakan Pekerjaan Rumah anaknya. Saat ada tugas membuat tulisan, orang tua mencari bahan, mengetik, menjilidnya dengan sempurna. Prakarya dapat nilai 100 karena malam-malam orang tua begadang mengerjakannya.

Latih anak untuk bertanggung jawab terhadap tugas sekolahnya. Tugas orang tua hanya sebatas mendampingi dan membimbing. Meski hasil/nilainya nanti tak sesuai dengan harapan Anda, tapi itu merupakan hasil karyanya sendiri. Sehingga kelak ia akan mampu menyelesaikan masalah yang dihadapi.

6.   Selalu Membela

Anak main ke rumah tetangga, pulang-pulang nangis. Katanya si A nakal dan ia tak mau lagi main dengannya. Karena tidak terima, Anda langsung ke sana dan tanpa tahu kejelasan masalahnya, marah-marah pada si A atau orang tuanya.

Coba cari tahu dulu, tanya pada anak kita dan dengarkan penjelasannya.  Jangan langsung membelanya. Ajari anak untuk meredakan emosi dan bantu untuk menemukan solusi.

7.   Protes Melulu

Anak cerita kalau kena hukuman dari wali kelasnya. Anda tak terima dan langsung menelepon menyampaikan keberatan. Atau, saat anak kecewa saat pelatih futsal memasukkannya jadi tim cadangan, Anda langsung protes pada kebijakannya.

Lebih baik ajari anak untuk menyelesaikan konflik yang dihadapi. Ajak diskusi, sarankan anak untuk mengungkapkan pada guru/pelatih/temannya tentang apa yang dirasakan. Sehingga ia akan belajar memecahkan masalahnya sendiri.

Nah, jika ada ciri-ciri di atas yang pernah Anda lakukan, ayo perbaiki! Jangan sampai anak keterusan dengan mudahnya mendapat bantuan, sehingga saat dewasa nanti ia jadi pribadi yang kurang mandiri. Cari kerja minta bantuan orang tua, sudah berkeluarga masih disokong dana, punya anak istri tapi masih minta beli itu ini sama mami papi.

Ah, jangan sampai ya..!😉 

  

No comments:

Post a Comment