Secangkir Kopi ~ Sebaris Mimpi







Suami dan saya berasal dari keluarga yang sederhana. Jangankan untuk keliling dunia, bisa bersekolah saja bagi kami merupakan wujud impian terindah.😍.

Kami berdua sama, enam bersaudara. Suami anak kelima dan saya anak bungsu di keluarga. Orang tua pun sama berprofesi sebagai pahlawan tanpa tanda jasa aka Guru. Bisa sampai ke strata Sarjana itu sudah merupakan perjuangan mati-matian. Satu yang kami jadikan pedoman, pesan orang tua bahwa warisan terbaik yang bisa ditinggalkan  orang tua untuk anak-anaknya adalah adalah ilmu pengetahuan. Harta melimpah bisa habis dalam sekejap mata. Berbeda dengan ilmu yang akan kita bawa sampai maut menjemput.

Karena itu, berusaha keras adalah jawabannya. Doa di awal usaha sebagai pengingat bahwa Yang Maha Kuasa lah yang punya hak prerogatif untuk menentukan hasilnya. Tugas kita hanya berupaya sekuat tenaga. Tak ada yang bisa mengubah nasib diri selain kita sendiri. Nikmati semua prosesnya, jalani segala riaknya. Seperti saat kita menikmati secangkir kopi. Kadangkala ada rasa pahit bila kopi itu tak bergula. Lain waktu jika kelebihan takaran krimernya jadi hilang keaslian rasa kopinya. Atau kala manisnya gula malah mendominasi rasanya jadi bukan kopi lagi. Begitu juga perjalanan menuju kesuksesan. Jatuh bangun seharusnya membuat kita makin kuat dan hebat.

Alhamdulillah, berkat doa dan usaha, Allah SWT menghadiahi kami, tidak saja dengan mengabulkan, bahkan melebihkan semua impian. Membuat kami merasa bahwa sebenarnya tanpa campur tangan-Nya, kita bukanlah siapa-siapa. 🙏

Teruslah bermimpi! Jangan pernah berhenti! Teruslah mencari ilmu sampai tutup usiamu. Tambahlah wacana agar wawasanmu makin kaya. Jalin silaturahmi untuk memperpanjang umur dan meluaskan rezeki.💞

Dan, yang terpenting segera bangun dari mimpi. Karena mimpi butuh realisasi !💪🏃👌👍



No comments:

Post a Comment