Membentuk Generasi Muda yang Tangguh

Kang Adipura

Majelis Ilmu 📚 (bagian 1)

Alhamdulillah, hari ini saya bisa berburu ilmu di majelis taklim yang mendatangkan seorang ustad yang juga pemain sinetron ternama di Indonesia yaitu Kang Adipura.

Haaaa? Adipura? Bukannya itu yang dulu di sinetron jadi pemeran antagonis yang jahat habis?... (Saya nggak tahu kalau sekarang, karena sudah beberapa tahun terakhir ini saya nggak nonton sinetron lagi hihihi😁)

Iyaaaa, benar..!! Kang Adipura, yang menolak disebut ustad padahal tausiahnya nendang banget! Bacaan Qurannya fasih. Penjelasannya logis dan runut. Apalagi materi tausiah hari ini didasari pengalaman pribadi. Tentang bagaimana Al Quran dijadikannya pedoman hingga berkecukupan dalam kehidupan. Hingga rumah tangganya jadi adem ayem, rejeki berkah (meski cuma figuran di sinetron religi, tapi terus ada rejeki), anak-anak soleh dan cerdas (hafiz Quran dan kini kuliah di US & UK)...dan banyak kemudahan lainnya.



Sedangkan tema yang dibahas pada taklim kali ini adalah :

"Membentuk Generasi Muda yang Tangguh"

Tausiah Kang Adipura diantaranya tentang:

🌻 Mengingatkan dan mengajak untuk kembali berpegang pada Al Quran dan As Sunnah sebagai pedoman hidup umat Islam, termasuk saat mendidik anak.

🌻 Allah memberikan pahala itu di dunia dan di akhirat - bukan hanya di akhirat saja, termasuk pahala jika membaca/menghapalkan/mangamalkan Al Quran. 
فَآتَاهُمُ اللَّهُ ثَوَابَ الدُّنْيَا وَحُسْنَ ثَوَابِ الْآخِرَةِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ 
Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan (QS 3 : 148)

🌻 Jangan mengikuti sesuatu tanpa ilmu, karena pendengaran, penglihatan dan hati, semua akan diminta pertanggungjawaban
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS 17 : 36)

🌻 Dengarkan baik-baik saat ada yang membacakan Al Quran agar mendapat rahmat Allah 
وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.(QS 7 : 204)

🌻 Taat pada Allah dan Rasulullah supaya kita diberi rahmat dan bersegera pada ampunan dari Allah dan surga seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang yang bertakwa
وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat. (QS 3 : 132)
وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ 
لِلْمُتَّقِينَ
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (QS 3 : 133)

🌻 Keutamaan membaca Al Quran bagi anak-anak kita :

-Pelindung diri : jika Al Quran ada di hati mereka, maka dimanapun mereka berada Allah akan menjaganya.
-Pengontrol diri : sebagai pemisah yang hak dan yang batil
إِنَّهُ لَقَوْلٌ فَصْلٌ
Sesungguhnya Al Quran itu benar-benar firman yang memisahkan antara yang hak dan yang bathil.(QS 86 : 13)
-Penambah Kecerdasan : "...jika Al Quran dibacakan maka bergetar kulit..."(QS 39:23).. Berdasarkan penelitian: kecerdasan manusia ada di kulit otaknya.

Terus, bacanya Al Quran kapan? Boleh :

🌼 2/3 malam (QS 73 : 1-5)
🌼 Setelah Sholat Subuh (QS 17 : 78)
🌼Selama jadi "manusia"(QS 45 : 20). Kalau bukan"manusia" lagi berarti tidak bisa baca sendiri tapi dibacakan
🌼 Setiap ada kesempatan (QS 35:29)

Dan, jangan lupa... Yang utama bukan hanya dibaca tapi juga diamalkan yaaa!

Majelis Ilmu 📚 (bagian 2)

Bunda Aisah Dahlan

Alhamdulillah, guru kedua di majelis ilmu hari ini adalah Bunda Aisah Dahlan. Seorang dokter yang dengan tangan dinginnya telah berhasil membebaskan banyak pecandu narkoba ( termasuk ratusan Slankers). Pun, menjadi nara sumber berbagai kajian pola pengasuhan anak di berbagai pelosok Indonesia.

Presentasi materi oleh Bunda Aisah benar-benar kece badai. Kita diajak bicara tentang otak dengan penyampaian dalam bahasa awam yang dikaitkan dengan kinerja otak dan pola pengasuhan anak.

Materi seputar :

"..dan anak laki-laki tidak sama dengan anak perempuan.." ( QS 3 : 36)

Berdasarkan penelitian, perbedaan perempuan🚺dan laki-laki🚹:

Program bahasa/bicara : 
🚺 di otak kiri dan kanan
🚹 di kiri

Komunikasi rata-rata harian : 
🚺 20 ribu kata (kalau kurang bisa tidak nyenyak tidur😁)
🚹 7 ribu kata (itu sebabnya, saat pulang kerja tak banyak bicara, karena 7 ribu kata sudah dihabiskan di kantor saja😂)

Reaksi otak 
🚺 Pada orang dan wajah
🚹 Pada benda dan bentuk

Bicara dengan
🚺Kontak mata
🚹Tidak suka kontak mata

Sudut pandang
🚺 Luas tapi pendek (lebih cocok kerja indoor)
🚹 Sempit tapi panjang (pas di outdoor)

Relasi Sosial
🚺 Lebih suka hubungan dan kerja sama (senang hadir di pengajian,arisan,dll)
🚹Lebih pilih kekuasaan, kedudukan, persaingan (lebih cocok rapat - adu pendapat)

Ketebalan otak
🚺Lebih tebal 30℅ : bisa mengerjakan beberapa pekerjaan pada satu waktu secara bersamaan
🚹 Lebih tipis : satu pekerjaan satu waktu

Cara menyimak
🚺 Ekspresif : dalam 10 detik pertama jumpa, bisa berganti 6 ekspresi berbeda
🚹Dalam 10 menit pertama jumpa, ekspresi sama (jadi kalau suami/anak laki-laki baru pulang, tunggu 10 menit-an dulu baru bicara😁)

Jadi karena laki-laki dan perempuan tak sama, maka perlu dipahami lagi perbedaannya. Sehingga tak akan ada lagi kesalahpahaman antar Suami dan Istri, atau Ayah/Ibu dan putra/putri.

Juga, kita bisa manfaatkan kinerja otak itu untuk membentuk perilaku anak:

🌴Menghantarkan gelombang spiritual yang bisa tembus waktu dengan cara mendoakannya
🌴Jauhi ucapan prasangka karena ucapan adalah doa. Berkata-kata yang baik, jika terlanjur langsung istighfar
🌴Dalam doa sebut nama lengkap dan bin/binti serta bayangkan wajahnya
🌴Beri contoh (kalau lihat Ayah/Ibu pegang gadget melulu, jangan salahkan kalau anak pun akan mencontohnya)


Jadi, mari kita pahami perbedaan antara anak laki-laki dan perempuan agar saat mendidiknya Ayah/Ibu tidak baperan...😀😉

Happy Parenting,

Dian Restu Agustina

SURAH TANPA BASMALAH

Image result for bapak dan anak

* sebuah cerpen untuk Bapak

Dulu, ada delapan orang penghuni di rumah kami yang kecil itu. Dan tujuh diantaranya adalah perempuan yang selalu berebut bicara dan tak henti bercerita. Ya, Bapak adalah satu-satunya laki-laki yang selalu memilih untuk diam tanpa gumam. Ibu dan kami enam bersaudara perempuan semua, nyaris lupa kalau Bapak ada, saat kami ramai mengomentari siaran televisi. Kami abai meminta ide bapak kala ada pemungutan suara, hari Minggu ini mau masak apa. Atau tak peduli apakah Bapak suka atau tidak dengan pilihan kami akan kue hari raya. Memang, Ibu yang lebih banyak jadi penentu meski tetap Bapak yang ketok palu.

Bapak sudah yatim sejak kecil. Cerita yang kudengar, bapaknya meninggal karena ditembak penjajah Belanda. Mbah Kung, begitu aku mengingat nama yang tak pernah kutemui sosoknya, membantu memasok senjata bagi pejuang negeri ini di wilayah Singosari. Konon, senjata-senjata itu disusupkan di antara gerbong kereta yang diawasi Mbah Kung sebagai kepala stasiun. Sampai satu waktu Belanda memergoki, menahan dan mengirimkan jasadnya dengan butiran timah panas yang bersarang di dada. Meninggalkan Mbah Putri dengan delapan anak yang masih kecil. Anak-anakpun sebagian dititipkan untuk diasuh paklik dan buliknya. Sementara yang lain tetap bersama Mbah Putri, termasuk Bapak. Hingga Bapak pun bisa terus sekolah sampai menjadi guru.

Kerasnya hidup menjadikan Bapak sosok yang kuat dan tegar. Tanpa sambat mengemban amanah mencari nafkah. Gajinya selalu utuh diserahkan ke Ibu. Tentu jumlahnya sudah dikurangi dengan cicilan utang koperasi guru dan potongan iuran ini itu. Dan Ibu benar-benar bijak mengelolanya . Berapapun uang yang diterimanya tak ada keluhan yang terucap. Ibu membantu menambah uang belanja dengan berjualan kayu bakar di rumah dan membuat jajanan yang dititipkan ke warung sekolah. Ibu juga menerima pesanan kue untuk hidangan, jika ada tetangga yang hajatan.

Bapak tak mau menyerah begitu saja pada nasibnya dengan memutuskan untuk kuliah lagi. Bapak berangkat bersama kami saat pergi sekolah dan baru pulang kala maghrib menjelang. Kesibukan yang menyitanya dari pagi hingga senja, membuat aku tak bisa banyak menghabiskan waktu bersamanya. Semua merelakan Bapak istirahat diantara masa luangnya. Kalau ada perlu aku selalu bilang Ibu dulu. Kata Ibu, tak harus semuanya Bapak tahu. Sudah banyak beban yang diembannya, jangan ditambah dengan urusan rumah. Itulah alasan Ibu dan aku pun tak membantah. 

Kala itu bisa pergi jalan-jalan adalah hal yang langka bagiku. Tapi berkeliling kota dengan Bapak, mengendarai vespa, dan aku berdiri di depan sedangkan dua kakakku duduk di belakang, adalah sebuah kenangan yang sangat menyenangkan. Di tengah deru vespa dengan hembusan angin yang memapar muka, Bapak sesekali akan menunjukkan nama-nama tempat menarik yang kami lewati. Aku serasa sudah berkeliling dunia!

Satu waktu aku pernah diajak Bapak ke rumah saudara kami. Di mataku rumah itu begitu megah bagai istana, jauh sekali dibandingkan rumah kami yang sederhana. Bapak yang melihatku tengah terpana pun berbisik“Suk kowe mesti iso duwe omah koyo ngene iki…”.* Begitu lirihnya di telingaku, di tengah kerjap mata kecilku yang berbinar senang. Sebuah ucapan yang merupakan doa Bapak bagiku yang membekas di hati hingga kini.

Meski anaknya perempuan semua, Bapak dan Ibu tak lantas melarang kami untuk bersekolah tinggi. “Bocah wedok perlu nggolek ilmu, sekolah sing dhuwur, ora mung kanggo awakmu, tapi mbesuk iso kanggo mulang anak-anakmu”.** Pesan itu menjadi pemantik semangatku dan kakak-kakakku untuk menimba ilmu. Kami dilepas satu-persatu menuju bangku kuliah, bekerja lalu menikah. Bapak dan Ibu menyerahkan sepenuhnya keputusan pada kami saat memilih pasangan hidup. Dan, tak pernah mencampuri urusan rumah tangga anak-anaknya.

Memang tak banyak nasihat yang dituahkan lewat kalimat. Tapi kami diberi contoh nyata. Kami tak perlu jauh-jauh mencari panutan. Bapak dan Ibu yang selalu harmonis sampai usia senja menjadi teladan bagi kami dalam berkeluarga. 

Kini di renta usia, Bapak dengan penyakit gulanya, selalu setia menunggu kami pulang di rumah tempat kami berenam dibesarkan. Berdua bersama Ibu menghabiskan waktu dengan banyak silaturahmi kesana-sini. Diantara saudara, hanya Bapak dan Ibu yang masih sehat, jadi biarlah kami yang berkunjung agar panjang umur. Itulah alasan mereka. Meskipun, Bapak memang tak pernah bisa berlama-lama jauh dari rumahnya. Kata Bapak, kasihan ayam-ayamnya kalau terlalu lama ditinggal. 

Begitulah Bapak, yang masih tetap apa adanya pun bicara seperlunya. Tak pernah berburai kata untuk menceritakan keenam putrinya. Hanya mengabadikan kebanggaannya lewat enam foto bertoga di ruang keluarga. Kasih yang tak pernah dikatakan terwakili lewat tatapan mata penuh doa bermakna. Cinta yang terlupa diucapkan terwujud dalam kekhawatiran saat kami diliputi kesedihan. Diamnya Bapak telah mewalikan berjuta doa indah untukku. Meskipun kadang tetap ada tanya di hatiku, mengapa Bapak selalu diam seakan menyimpan selaksa rahasia. 

Di sepertiga malam terakhir, saat kurajut doa di bentang sajadah, melisankan ayat-ayat At Taubah, surah tanpa Basmalah. Membenamkan diri di dalam tafsirnya, menyeruak tanya mengapa tak ada Basmalah di sana. Surah yang meski tidak diawali dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, tapi diakhiri dengan nama kekasih hati yang penuh rindu dan sayang. Ayat-ayat yang di awal berisi pelepasan, di tengah tersebar berbagai kecaman, di akhir surah ditutup dengan sebuah ayat kebahagiaan, tentang kasih sayang dan kerinduan. Tapi mengapa Basmalah tak memulainya? Tak ada yang tahu pasti. Bukankah, kodrat manusia memang hanya mampu menangkap sedikit saja kemungkinan rahasia-Nya.

Ah, mengapa harus mempertanyakan begitu banyak mengapa dalam Al-Qur’an dan di kehidupan. Mengapa juga terlalu ingin tahu segala hal yang mungkin tak akan kita jumpai jawabannya. Karena di satu titik akhir, jawaban yang tepat adalah Wallahu a’lam bissawab, dan Allah lebih mengetahui yang sebenar-benarnya.

Dan, sesaat sebelum sajadah terlipat, kututup doa panjangku dengan ucap syukur pada Yang Maha Kuasa atas anugerah orang tua. Pun, sebaris permohonan semoga Allah mengampuni dosa-dosa dan mengasihani Bapak Ibuku. Seperti saat Mereka merawat dan mendidikku di masa kecil. Aamiin!



* Nanti kamu pasti bisa punya rumah seperti ini
**Anak perempuan perlu menuntut ilmu, sekolah tinggi, tidak hanya untuk dirimu sendiri, tapi kelak untuk mendidik anak-anakmu

3 Hal Ini Harus Dihindari Agar Hubungan Pasutri Aman Terkendali

freepik(dot)com

Hubungan suami istri tak selamanya sempurna. Pasti akan ada naik turunnya. Saat tak bersesuaian pendapat, bisa timbul debat. Ketika salah satu tak setuju, keduanya bisa saling berseteru. Sebaliknya, kala rasa sayang begitu menggelora, seakan keduanya tak mau berpisah walau sedetik saja. Juga saat bahagia melanda, bertambahnya kekuatan cinta keduanya pun bisa tak terkira.

Agar hubungan suami istri berjalan sesuai dengan yang diidamkan, diperlukan komitmen keduanya untuk menjaga ikatan pernikahan. Saling menghormati, menghargai perbedaan, mengedepankan kesabaran, hingga pernikahan yang bahagia, langgeng dan penuh keberkahan pun bukan lagi sebuah impian.

Nah, untuk mendapatkan hubungan pasutri yang aman dan terkendali, berikut 3 hal sederhana yang layak untuk dicoba :

1. Saat marah segera ayunkan langkah

Ketika kita sedang marah, segala kebaikan tertutup oleh rasa benci, kesal atau gundah. Logika jadi raib entah kemana. Hingga bisa-bisa kita bukanlah diri kita yang sebenarnya saat marah melanda. Oleh karena itu, saat amarah menguasai pikiran, daripada konfrontasi terbuka jadi kenyataan, lebih baik langkahkan kaki untuk mendinginkan hati. Tunda dulu perdebatanmu. Redam sementara rasa kecewa. Ambil waktu seperlunya untuk menyingkir, hingga pikiran tenang dan siap untuk bertukar pandangan dengan kepala dingin.

2. "Terserah" bisa bikin masalah

Kala pasangan tak sependapat, seringkali kata tidak atau jangan segan diucapkan. Yang biasanya terujar adalah kata terserah. Padahal terserah tidaklah menyelesaikan masalah. Malahan akan menambah masalah baru. Misalnya, saat suami mengusulkan pembelian suatu barang dan istri sebenarnya tak setuju tapi segan untuk bilang dan cuma komentar terserah. Yang ada di kemudian hari, timbul ketidakikhlasan yang jika terus-terusan terjadi, lama kelamaan akan memuncak dan berdampak buruk nanti. Maka, lebih baik hindari berkomentar terserah jika memang tak sepenuhnya iya. Karena keterbukaan dan kejujuran adalah salah satu pondasi yang akan menguatkan pernikahan.

3.  Tidur dulu, baru selesaikan masalahmu

Mitos yang beredar saat menyudahi pertengkaran adalah dengan menyelesaikan sampai tuntas dengan waktu tak terbatas. Dulu sekali, pasutri tidak diperkenankan menyudahi perselisihan sebelum ketemu solusi. Padahal, seringkali berdua sudah pada puncak emosi. Sehingga dikhawatirkan bukan penyelesaian yang didapati tapi malah perdebatan jadi tak berujung pangkal.
Oleh karena itu, sebaiknya tunda dulu. Lebih baik tidur dulu agar jiwa dan raga bisa adem lagi. Hingga nanti bisa berpikir jernih untuk sebuah titik temu. Jadi, ungkapan jangan bawa masalahmu ke tempat tidurmu, kini sudah tak lagi berlaku.

Selamat Mencoba yaa... Semoga pernikahan kita bahagia dan langgeng untuk selamanya. Aamiin. ^^


5 Cara Aman Memanaskan Kembali Makanan





Sisa makan malam, hidangan dari perjamuan yang kebanyakan atau hantaran dari saudara juga kerabat yang tak habis saat dihidangkan, menjadikan makanan musti disimpan untuk disajikan lagi esok hari. Setelah disimpan di dalam lemari pendingin dan akan disiapkan lagi di meja makan, tentu makanan itu perlu dihangatkan kembali. Lalu, ada juga makanan beku, yang sebelum penyajian perlu dipanaskan terlebih dulu. Solusi mudah untuk semua itu adalah sebuah microwave yang menyediakan berbagai pilihan, untuk jenis makanan apa yang dihangatkan, beserta waktu yang sudah ditentukan. Tapi, bagaimana jika tidak tersedia alat elektronik yang satu ini? Tentu pilihan akhirnya, makanan dipanaskan kembali di atas kompor saja.


microwave

Memanaskan makanan kelihatannya memang mudah, tinggal taruh di panci lalu panaskan di atas kompor..terus sudah! Tapi kadangkala kita menemui hasil makanan yang dipanaskan lagi itu menjadi hancur teksturnya, kering atau rasanya jadi berubah.

Nah, berikut ini adalah lima cara aman untuk memanaskan kembali makanan :

1. Daging dan Ayam

Untuk menghindari agar tekstur daging atau ayam tidak hancur, pastikan menggunakan nyala api kecil. Tambahkan sedikit minyak jika daging atau ayam itu bukan makanan berkuah. Untuk makanan berkuah beri sedikit air panas. Jika perlu potong lagi makanan dalam ukuran lebih kecil agar panasnya cepat merata. Jangan lupa tutup panci, agar proses pemanasannya lebih cepat dan hasilnya akan lebih lembut. Bolak balik agar kedua sisinya kena panas yang sama. Butuh waktu sekitar lima menit saja agar tak menjadikan makanan berubah rasa dan bentuknya.

2. Ikan

Memanaskan ikan butuh perhatian lebih, karena teksturnya yang lembut. Tambahkan sedikit minyak untuk menghindari kekeringan. Tutup panci dan sesekali periksa apakah sudah merata panasnya. Panaskan pada nyala api sedang atau kecil. 

3. Makanan yang digoreng atau dipanggang

Agar tidak gosong, beri sedikit minyak pada gorengan atau panggangan dan bolak balik agar seluruh permukaan mendapat panas yang merata. Nyala api kecil dan waktu yang secukupnya saja, sekitar tiga menit untuk tiap sisinya.

4. Tumis-tumisan

Panaskan tumisan dalam panci di atas kompor dengan api kecil atau sedang. Jangan lupa aduk-aduk agar panasnya merata. 

5. Makanan Beku

Sebelum dikeluarkan dari lemari es hendaknya makanan beku dilelehkan atau dicairkan terlebih dahulu (thawing). Ikuti petunjuk yang tertera pada kemasannya. Atau jika tak ada, lelehkan saja beberapa jam sebelumnya di lemari pendingin bagian bawah/bukan freezer-nya. Hindari melelehkan terlalu lama di suhu ruang untuk menjaga agar bakteri tak datang. Setelah makanan leleh/cair, baru bisa kita panaskan sesuai dengan jenis makanannya. Jika ingin cepat, bisa juga melelehkan dengan cara meletakkan makanan beku beserta kemasannya pada wadah berisi air panas selama sekitar 10 menit, sebelum dipanaskan lagi.

Selamat Mencoba yaaaa!^^


#MemesonaItu Jika...




Seseorang mempunyai kecerdasan (brain), kecantikan (beauty) dan kelakuan (behavior) yang seperti ini:

Kecerdasan (Brain)

image : boldomatic(dot)com

Seseorang, dikatakan #MemesonaItu, bukan lantaran memiliki bentuk badan yang menggiurkan. Tapi mempunyai otak yang berisi, karena itu yang lebih hakiki. Bagaimana cara mendapatkannya? Mudah saja! Teruslah mencari ilmu! Tingkatkan kualitas diri melalui berbagai bacaan yang bergizi. Yang bisa menambah ilmu pengetahuan pun mendongkrak kepandaian. Ikuti berbagai pelatihan yang bisa meningkatkan keterampilan. Bergabunglah pada komunitas yang akan mengajakmu keluar dari wawasan yang terbatas. Lalu, jika telah berilmu, jangan pelit untuk berbagi pada sesamamu.

Jadi, kamu tak perlu rendah diri jika merasa tak secantik model yang berseliweran di televisi. Tapi, merasa minderlah saat ilmumu tak bertambah sejak dulu. Saat dunia serasa berada di genggaman tangan seperti sekarang, ilmu yang bermanfaat mudah sekali didapat. Internet telah membuat waktu dan tempat jadi tak berjarak. Hingga, belajar apa saja, kepada siapa saja, yang berada dimana saja, bukan lagi sebuah kemustahilan. Jadi, tunggu apa lagi. Harusnya kita berkaca pada RA Kartini yang saat dilarang melanjutkan sekolah, dengan gigih belajar sendiri di rumah, dengan segala keterbatasan saat berada dalam pingitan. Namun, hasil pembelajarannya bisa melahirkan pemikiran cemerlang yang mendunia pun membuka jalan bagi perempuan Indonesia pada akses pendidikan yang setara dengan pria. Percayalah, pasti kamu juga bisa mengikuti jejaknya dengan menyebarkan pengetahuan yang kamu miliki pada sesama. 

Jadi, #MemesonaItu ketika kamu mensyukuri takdirmu sebagai manusia ciptaan-Nya, yang mengemban misi dan visi di bumi ini, dengan berburu dan berbagi ilmu yang bermanfaat untuk umat.

Kecantikan (Beauty)

image : geniusquotes(dot)org

#MemesonaItu, biasanya diidentikkan dengan penampilan luar semata. Badan kurus, pipi tirus, rambut hitam lurus atau kulit putih mulus. Hingga, ujung-ujungnya banyak perempuan berusaha mengejar kriteria memesona sampai menghalalkan segala cara. Ada yang mencoba produk kecantikan yang menawarkan hasil instan, padahal mengandung bahan kimia berbahaya. Atau menjajal perawatan kecantikan ekstrem yang bukannya bikin menawan, tapi malah wajah atau badan jadi tak karuan. Bahkan ada pula yang rela melakukan bedah plastik untuk merubah bentuk tubuh agar lebih menarik.

Padahal #MemesonaItu seharusnya tak perlu merubah apa yang sudah diberikan Tuhan pada kita. Karena yakinlah, Tuhan menciptakan setiap insan dengan sempurna, dengan takaran yang seksama beserta lebih dan kurangnya. Jadi, saat kita terobsesi dengan bintang drama Korea yang menjalani operasi plastik hingga berpenampilan tanpa cacat, kita hendaknya ingat, manusia yang ingin menyamai hasil kerja Tuhan itu akan mendapatkan akibat. Operasi plastik punya efek samping yaitu bisa memengaruhi kerja atau fungsi organ. Juga memungkinkan timbulnya resiko kegagalan pada prosedur yang dijalankan. Hingga hasilnya mungkin saja tak sesuai harapan. Bisa-bisa bukan elok menawan yang didapati tapi malah tubuh nampak tak sesuai proporsi. Selain itu, akibat jangka panjangnya bisa memengaruhi kejiwaan yang membuat seseorang kecanduan untuk terus merubah bentuk fisik di bagian itu dan ini.

Nah, daripada mengejar standar memesona dengan cara yang berbahaya, lebih baik kita menjaga dan merawat apa yang telah dianugerahkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Karena #MemesonaItu adalah jika kita menjaga kesehatan jiwa raga, merawat kecantikan dengan sewajarnya, pun selalu bersyukur atas segala yang dikaruniakan-Nya.

Kelakuan (Behavior)

image : quotefancy(dot)com

#MemesonaItu jika berperilaku sopan dan santun, baik dalam budi bahasa  maupun tingkah lakunya.

Kadang, ada seseorang yang nampak jelita di luarnya, tapi ternyata bicaranya kasar, tak tahu aturan dan menyakitkan. Ada juga yang kelihatannya lembut dan ayu, namun ternyata kelakuannya bertentangan dengan etika dan norma yang berlaku. Perilaku merupakan cerminan kepribadianmu. Jika ingin punya sifat yang elegan, maka harus belajar dan membiasakan berlaku sopan. Bekalilah diri dengan iman yang akan menjadikan tindak tanduk sesuai dengan tatanan. Bergaullah dengan orang yang baik di lingkungan yang apik. Dan, beradaptasilah pada norma yang berlaku sesuai dengan tempat, lingkungan dan waktu. Sehingga akan terbentuk kepribadian yang bermartabat dan perangai yang terhormat.

Jadi #MemesonaItu bila kamu bersyukur dan tak takabur, yang bisa tercermin dari tingkah laku yang sopan, santun dan berbudi luhur.


Nah, sudahkah kamu memenuhi semua kriteria #MemesonaItu? Kalau saya masih terus berproses untuk meraihnya. Dan, saya yakin kita semua pasti bisa. Semoga. ^^



* Horeee..!!Akhirnya...juara!! Lomba blog pertama yang saya ikuti. Meski baru pemenang hiburan tapi jadi bikin semangat nulis lagiiii ...