Serba - Serbi Investasi


Memiliki sebuah rumah menjadi salah satu impian yang dipunyai oleh pasangan yang baru menikah. Jika ternyata setelah pernikahan rejekinya didapat dari orangtua/mertua yang meminta kita untuk tetap tinggal bersama mereka, itu lain cerita. Lalu, bagaimana jika pasangan karena pekerjaan tinggal berjauhan dari orang tua/mertua, sehingga harus berusaha sendiri mempunyai rumah sendiri?

Seperti saya dan suami, setelah sekitar 4 tahun tinggal di rumah dinas perusahaan, akhirnya harus berpikir keras untuk membeli rumah sendiri saat fasilitas itu ditiadakan. Memang, ada peraturan di perusahaan, jika ditempatkan di daerah, sarana rumah dan isinya disediakan. Jika yang bersangkutan ditarik ke kantor pusat (Jakarta), semua itu tak lagi didapatkan.

Si Mas bersama Kung (bapak saya), di rumah Pangkalan Brandan
Awalnya hal ini bikin kepala kami pusing tujuh keliling. Bagaimana tidak, saat itu kami baru menikah selama 4 tahun-an. Tabungan ada tapi tak cukup pastinya untuk mencapai harga rumah di Jakarta. Saat itu, tahun 2006, informasi lewat internet juga belum meraja. Meski kita bisa mengecek iklan properti di koran atau majalah baik cetak maupun online, tapi keraguan masih membayang. Hal ini didasari bahwa iklan selalu mengedepankan sisi baiknya saja, sisi buruknya tidak dibuka. Misalnya, iklan perumahan minimalis dengan harga terjangkau, DP ringan, akses kemana-mana mudah, fasilitas lengkap, dan lainnya. Eh, tapi kenyataannya kalau hujan ada genangan, banjir atau bahkan terendam..

Karena itulah, untuk memastikan, akhirnya suami benar-benar mensurvey dari lokasi ke lokasi perumahan termaksud.  Dan ini dilakukan saat musim hujan. Agar benar-benar tahu kenyataan, apakah komplek perumahan tersebut bebas banjir atau tidak.

Nah, di sinilah kami baru tahu, ternyata rumah di Jakarta semakin ke tengah kota makin mahaaaal harganya..(ya iyaaa lahπŸ˜€). Padahal kami tetap keekeuh kalau bisa rumahnya masuk wilayah Jakarta, bukan Tangerang, Depok, Bekasi atau Bogor. Lantaran suami penginnya enggak terlalu jauh dari kantornya. 

Oh ya, saat itu harga kontrak rumah (layak huni) di Jakarta mencapai 15 juta rupiah/tahun atau kisaran 1,5 juta/bulan. Padahal hitungan kami, jika tabungan bisa menutupi uang muka/DP, maka sisanya (terpaksa) dicicil melalui Kredit Pemilikan Rumah/KPR sebesar 2 juta/bulan. Nilai yang hampir sama besar dengan nilai sewa rumah. Padahal jika membeli lewat KPR, rumah nantinya jadi milik kami. Sedangkan jika rumah sewa, tetap jadi milik yang punya. 

siap ngojek di depan rumah Jakarta
Akhirnya kami pun memilih membeli rumah melalui fasilitas KPR dengan janji di hati, secepatnya akan segera dilunasi. Karena kami benar-benar ingin menjauhi hutang. Masalahnya harga rumah di perumahan besar itu lebih mahal daripada rumah yang ditawarkan oleh pengembang kecil. Wajar saja, karena di komplek perumahan besar, harga fasilitas yang ada dimasukkan ke dalam harga rumah kita. Seperti adanya taman di tengah perumahan, lebarnya jalan, fasilitas keamanan, lapangan dan lainnya. Sementara di perumahan kecil yang minim fasilitas, harga rumah pun bisa ditekan tak melebihi batas.

Atas pertimbangan tersebut, kami pun memilih membeli di perumahan kecil, yang hanya ada 10 unit rumah. Perumahan ini menyambung dari perumahan lama yang telah ada sebelumnya, jadi agak belak-belok aksesnya. Tapi, masih masuk wilayah Jakarta, dekat kemana-mana dan yang utama sesuai dana dan kebutuhan. Dan, ternyata setelah sekian tahun, kini nilainya menggila! Sampai, tak henti syukur terucap karena dulu memikirkan membeli rumah sebagai prioritas kesatu.

Memang, selain sebagai tempat tinggal, rumah/properti termasuk dalam jenis investasi.

Investasi?
Ya, investasi adalah barang/sesuatu yang bisa kita jadikan aset dengan harapan di masa depan akan memperoleh keuntungan atau apresiasi (peningkatan nilai/harga). Atau dengan kata lain adalah upaya menciptakan penghasilan atau keuntungan di masa depan, lewat suatu aksi yang dilakukan pada saat ini.

Sebenarnya, apa saja yang termasuk investasi dan apa keuntungan dan kerugian memilihnya?
  • Tabungan

Menyimpan sejumlah uang di bank yang dapat diambil dan dipergunakan di kemudian hari jika pemilik tabungan membutuhkan. 
Keuntungan: dapat diambil kapan saja, hampir tidak memiliki risiko, transaksinya mudah. 
Kerugiannya: uang dapat dengan mudah berkurang karena kita tergoda mengambilnya (seperti saat lihat diskonan di mal, gampang.. gesek saja kartu debitnya), bunga yang diperoleh kecil nilainya.
  • Deposito

Menyimpan uang di bank dalam periode tertentu, bila belum jatuh tempo uang tidak dapat diambil atau akan mendapat penalti/denda bila diambil sebelum waktunya.
Keuntungan: risiko sangat rendah, bunga yang diterima lebih besar dibandingkan tabungan biasa. 
Kerugian: keuntungan yang didapatkan lebih sedikit bila dibandingkan dengan jenis investasi lain yang berhadapan langsung dengan risiko pasar, hanya di kisaran 6% per tahun.
  • Emas

Emas atau logam mulia merupakan salah satu investasi yang banyak digemari di Indonesia (dalam bentuk perhiasan). Sebenarnya dalam bentuk logam mulia lebih dianjurkan, karena tidak adanya pemotongan ongkos pembuatan saat dijual kembali.
Keuntungan: emas merupakan aset likuid yang mudah dijual atau digadaikan, bisa dipakai saat kondangan.
Kerugian: emas sulit dalam penyimpanan, jika di rumah khawatir kecurian, disimpan di safe deposit box di bank harus keluar biaya sewa.
  • Properti


Rumah, apartemen dan ruko, khususnya di Indonesia, saat ini menunjukkan perkembangan harga yang luar biasa. Harga properti naik setiap tahunnya. Properti, saat jumlah penduduk meninggi, sedangkah jumlah tanah tak bertambah, adalah jenis investasi yang tepat sekali
Keuntungan: nilai akan naik terus setiap tahunnya. Bahkan nilainya bisa mencapai berapa kali lipat untuk daerah strategis seperti Jakarta. Properti juga bisa disewakan sehingga dapat memberikan penghasilan tambahan. 
Kerugian: properti membutuhkan dana yang besar untuk memulainya, jadi harus memiliki modal yang cukup besar.
  • Obligasi
Saat kita membeli obligasi, artinya kita sedang meminjamkan uang kepada perusahaan atau pemerintah. Instansi tersebut akan mengembalikan modal kita sekaligus memberikan bunga untuk pinjaman Anda. 
Keuntungan: keamanan dan stabilitas dari berinvestasi dengan 'meminjamkan uang'. Jika kita membeli obligasi dari pemerintah maka investasi kita bisa dikatakan tanpa risiko. 
Kerugian: rendahnya potensi return yang akan didapatkan sehingga dapat dikatakan obligasi merupakan kendaraan investasi yang memiliki return rendah.
  • Saham

Saat kita membeli saham (stocks), itu berarti kita membeli kepemilikan suatu usaha. Ini memberikan kita hak keuntungan berupa deviden. Deviden adalah pembagian laba kepada setiap pemegang saham berdasarkan banyaknya saham yang dimiliki.
Keuntungan: saham dibanding investasi lainnya ialah dapat memberikan return yang relatif tinggi. Investasi ini cocok untuk orang yang agresif, berpengalaman, serta memiliki pengetahuan yang cukup untuk menganalisa pergerakan harga saham.
Kerugian: saham bersifat tidak menentu. Hal ini dikarenakan nilai saham berubah setiap harinya. Tidak ada garansi kita mendapat keuntungan saat kita berinvestasi saham. 
  • Reksa Dana

Saat membeli reksa dana (mutual funds) berarti kita berinvestasi di berbagai instrument investasi seperti saham, obligasi, dan deposito, melalui institusi yang profesional yang disebut dengan Manajer Investasi. Manajer Investasi mengumpulkan dana dari banyak investor seperti kita untuk kemudian dikelola dananya dengan strategi khusus. 
Keuntungan: reksa dana cocok untuk yang baru ingin memulai investasi dan belum berpengalaman. Bahkan cukup dengan seratus ribu rupiah kita sudah dapat mulai berinvestasi di reksa dana. .
Kerugian: tidak ada jaminan untuk mendapatkan pembagian dividen, keuntungan, ataupun kenaikan modal investasi. Setiap pembelian efek akan melibatkan beberapa unsur risiko pasar.
  • Bisnis
Ada dua hal yang bisa kamu lakukan untuk berinvestasi di bisnis, apakah sebagai pebisnis aktif maupun pasif. Ada orang yang ingin berbisnis namun tak punya modal, sementara ada orang yang ingin berbisnis namun tak punya waktu tapi punya modal.
Keuntungan: jika bisnis berkembang kita akan mendapat keuntungan/bagi hasil yang lumayan.
Kerugian: tingkat risiko kerugian tinggi. Apalagi jika tidak didasari pengelolaan yang baik.
  • Koleksi

Beberapa benda koleksi yang punya nilai investasi bisa memberikan keuntungan di masa depan, seperti: perangko, uang kuno, action figure, lukisan, barang antik, cincin, keris, dan lain-lain.
Keuntungan: menjual koleksi tersebut kepada pihak lain, misalnya kolektor, balai lelang, museum swasta, galeri seni dan lainnya dengan harga yang cukup tinggi.
Kerugian: kerusakan pada saat penyimpanan, membutuhkan waktu tertentu hingga bisa disebut barang koleksi.
  • Mata uang asing

Segala macam mata uang asing biasanya dapat dijadikan alat investasi.
Keuntungan: selisih kurs jika ditukarkan pada saat nilai rupiah terhadap mata uang asing tersebut sedang turun
Kerugian: nilai mata uang asing di Indonesia menganut sistem mengambang bebas (free float) yaitu benar-benar tergantung pada permintaan dan penawaran di pasaran. Sehingga membuat nilai mata uang rupiah sangat fluktuatif.


Nah, dari beragam jenis investasi tersebut, sebaiknya dimulai sejak dini. Jangan lama-lama menunggu hingga tua baru berinvestasi.
Mengapa? Ada beberapa alasan yang mendasarinya, yaitu:

  • Usia memengaruhi tingkat risiko 
Tingkat risiko investor dipengaruhi oleh usianya. Jika investor masih berusia muda/produktif, maka ia akan mampu untuk mengambil risiko yang lebih tinggi di dalam kegiatan investasi yang dilakukan. Sedangkan investor yang sudah berusia lanjut/pensiun, mungkin akan lebih tertarik untuk melakukan investasi yang berisiko rendah atau bebas risiko. 

  • Memiliki waktu yang lebih banyak untuk belajar
Investor yang masih berusia muda mempunyai waktu belajar tentang investasi yang lebih panjang. Sehingga, meski gagal, masih banyak waktu untuk belajar kembali. Seperti kita ketahui, produk-produk investasi yang harus dipelajari juga cukup banyak dan berkarakteristik. Sehingga kita memang harus benar-benar mempelajari pasar dan membuat strategi saat berinvestasi.

  • Investasi bisa lebih berkembang
Jika memulai investasi lebih dini, maka jumlah investasi akan lebih berkembang karena waktu yang lebih panjang. Semakin lama waktu yang dimiliki untuk berinvestasi, maka kekayaan di masa depan juga akan semakin tinggi.

Namun, kita juga harus tetap berhati-hati dan jangan sampai terjebak investasi yang menipu. Sebaiknya pelajari ciri-ciri dan sistem pada setiap produk investasi yang hendak dituju. Bacalah buku yang dapat meningkatkan pengetahuan tentang pilihan instrumen investasi untuk menunjang keputusan finansial. Ikuti berbagai workshop tentang pengenalan investasi bagi pemula. Atau, berkonsultasi dengan perencana keuangan untuk memastikan investasi apa yang paling tepat untuk kita.

Dan, bukan masalah seberapa besar investasinya, tapi berapapun jumlahnya akan berguna di masa depan. Lakukan sekarang juga, tak perlu menunggu dulu hal buruk menimpa. Karena satu hari nanti tentu kita punya rencana untuk menyekolahkan anak sampai ke jenjang pendidikan tinggi, pergi haji atau menikmati uang pensiun tanpa khawatir tak mencukupi.

Dan, yang paling utama, jangan lupa sisihkan waktu untuk menambah ilmu, karena itulah investasi terbaik di sepanjang hidupmu.


Kalau kamu, sudah berinvestasi dalam bentuk apa? Dan, mengapa memilih itu?Silakan bagi di kolom komentar ya...

Akhir kata, selamat berinvestasi yang rasional ya, temans! Jika belum paham atau punya keraguan, jangan lakukan. Lebih baik pelajari dan timbang dulu sana-sini!πŸ’•


Salam,


Dian



*photo by: pixabay.com

20 comments:

  1. Waw ilmu baru nih buat saya bun. Biasanya saya sekedar tau aja tapi ga tau sampai plus dan minusnya gitu. Makasih ya

    ReplyDelete
  2. Wah, makasih infonya mba :)
    Mencerahkan!

    ReplyDelete
  3. Lengkap sekali ulasannya, Mbak Dian. Memang sebaiknya dimulai di usia muda, ya ... banyak kelebihannya. BTW, terima kasih Mbak atas sharing-nya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak..makin cepat makin baik...

      Terima kasih juga sudah singgah:)

      Delete
  4. Terima kasih infonya, ayo mulai investasi selagi bisa.

    ReplyDelete
  5. Makasih infonya mbak. Menambah ilmu...

    ReplyDelete
  6. Whuaa membuka cakrawala nih mba. Dari macam2 investasi itu sepertinya banyak org yang takut bicara saham, padahal potensi profit yg dihasilkan bisa lebih besar ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya..profitnya memang gede, Mbak..Tapi saham juga fluktuatif, jadi tingkat risiko juga sama besarnya:)

      Delete
  7. Mbak Dian..Lengkap sekali, saya masih konvensional nich hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hayuk..ada banyak pilihan din atas, sesuaikan dengan tujuan, kebutuhan dan syariat agama kita..:D

      Delete
  8. wah...kalo saya lebih suka tanah....sebab kalo emas takut ilang... kalo tanah gak bisa dicolong kecuali dicurangi.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Samaaa, Mbak. Saya juga nggak pilih emas..ada juga eMas Pramono 70 kg beratnya di rumah kwkwkw:D

      Delete
  9. Banyak cara untuk berinvestasi ya... Pilihannya tinggal disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup! Benar banget Mbak..sifatnya individual :)

      Delete
  10. masih ke property mbak, baru cicil rumah .. thank infonya mbak dian bermanfaat sekali, memang kita mesti berinvestasi untuk masa depan anak-anak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak..terutama investasi untuk anak dan masa tua kita..

      Delete