Bertepuk Sebelah Tangan





Perjalanan Jakarta - Magelang kulalui dengan perasaan tak menentu. Tak seperti waktu lalu. Dimana pulang adalah kesempatan yang paling kurindukan. Sebuah jeda di antara rutinitasku di ibukota yang penuh warna. Menyambangi kampung halaman untuk melepas rindu pada Ibu, Bapak dan adik-adikku. Tapi, tidak untuk kali ini.

Masih terngiang pesan Ibu minggu lalu, agar aku segera pulang. Sambil menanyakan pertanyaan yang entah untuk ke berapa kalinya diajukan. Yang selalu membuat kelu lidahku, “Kapan kau menikahi Ayu?” 

Aku dan Ayu bertetangga. Ia sudah jadi bagian dari keluargaku, begitu juga aku di keluarganya. Kami bersekolah, bermain, melewati masa remaja sampai tamat SMA bersama. Kami baru berpisah saat aku melanjutkan kuliah ke Jakarta sementara ia ke Jogja. Dan, kampung halaman adalah tempat kami bersua. Membebaskan rindu pada tanah kelahiran dan mengulang kembali keriangan masa remaja.

**

Ketep Pass adalah tempat favorit kami untuk berbincang tentang apa saja. Kampung kami memang terletak tak jauh dari objek wisata yang ramai dikunjungi orang untuk berwisata khas kegunungapian ini. Kami biasa menghabiskan waktu senggang sambil menikmati keindahan Gunung Merapi dan Merbabu dengan hamparan lahan pertanian yang hijau dan rumah-rumah penduduk di kakinya. Kadang, keindahan Merapi dan Merbabu yang berdiri berdampingan, hanya terlihat samar-samar karena balutan awan dan kabut yang menjaganya. Tapi, jika cuaca cerah, akan terlihat Puncak Merapi dengan jelas dari gardu pandang. Puncaknya tampak menyembulkan asap tipis. Begitu cantik! Tak nampak kegarangan dalam tidur panjangnya. Berbeda sekali saat puncak itu memuntahkan awan dan lahar panas yang meluluhlantakkan wilayah sekitarnya. Sementara, di sisi Merapi, Gunung Merbabu nampak anteng menemani.

Jika hawa sejuk mulai menusuk, kami pun membeli jagung bakar yang berjejer dijajakan. Pun menyeruput secangkir kopi panas untuk penghangat badan. Sebagai pelengkap, kami tak lupa singgah ke perkebunan stroberi Banyuroto, tempat wisata petik sendiri stoberi, dimana hamparan buah berwarna merah menggoda serasa memanggil-manggil untuk dinikmati. Dan, kadang kami pun pulang membawa tentengan stroberi segar. Semua kenangan bersama Ayu yang menyenangkan bergantian mengisi benakku.

**

Ibu mendelik mendengar jawabanku. Saat itu adalah kepulangan pertama setelah kugapai impian menjadi pengajar di universitas terbaik negeri ini. Kusampaikan pada Ibu, bahwa aku tidak pernah berniat menikahi Ayu. Aku telah menganggapnya sebagai adikku sendiri. Sambil terheran, Ibu pun bersikeras jika tidak ada perempuan lain yang bisa mengerti aku selain Ayu. Sebenarnya, batinku pun mengiyakannya. 

Ayu yang tahu benar berapa takaran yang pas untuk kopi di cangkirku. Wedang kacang yang dibuatnya pun paling tepat rasa jahenya, tak terlalu kuat, seperti yang kusuka. Mangut lele masakan Ayu, dengan bumbu kuning pedas sering membuatku lupa, sudah berapa piring nasi yang kutambah. Juga, dia adalah pendengar setia yang akan membiarkanku bicara apa saja. Memang, begitu banyak hal yang membuat kami klop satu sama lain. Tapi, bukan untuk sebuah pernikahan. Bukankah cinta tak bisa dipaksakan?

Hingga minggu lalu, saat Ibu memintaku segera pulang untuk membicarakan rencana pernikahanku dengan Ayu. Dan, aku datang berbekal sebongkah kegalauan. 

Esoknya, di tangga Pelataran Panca Arga, tempat pilihanku dan Ayu di Ketep Pass. Memandang sekaligus Gunung Merapi, Merbabu, Sindoro, Sumbing, dan Slamet yang berdiri dengan gagahnya. Nampak pula gunung-gunung kecil dan perbukitan yang indah, Telomoyo, Andong, Tidar, Pring serta Menoreh. Panoramanya sangat elok.

Berdua tak seperti biasa. Serasa ada ribuan meter jarak terentang. Bagai dua makhluk asing saja.

“Eka, sudah punya pacar ya di Jakarta?” tanyanya memecah sunyi.

“Belum,” jawabku singkat.

“Kamu keberatan dengan rencana ini?” lirihnya.

“Maaf, Yu, aku nggak bisa,” tegasku.

Kami terdiam.

Pagi belum sempurna, aku sudah berkemas dan bersiap meninggalkan orang-orang yang kucintai. Ibu hanya bisa tergugu melepasku. Bapak nampak lebih ikhlas.

“Kamu yakin tidak akan berpamitan sendiri ke Ayu?” Ibu setengah mendesakku.

“Nggak Bu, tolong sampaikan saja salam dan suratku.”

Sudah kuputuskan tak melanjutkan rencana pernikahan ini. Kupertegas lagi alasannya pada orang tuaku kalau Ayu sudah kuanggap saudara sendiri. Kutitip surat untuknya. Memang keputusan ini berat buatku, karena pasti ia akan tersakiti. Tapi aku tak punya pilihan lain.

***

Di sebuah sudut kampus Louisiana State University. Sembari menikmati secangkir kopi, kubaca email dari adikku. Katanya Ayu telah menikah sebulan yang lalu. Aku lega. Tak terasa setahun berselang, sejak kuambil keputusan. Lalu, aku berangkat menempuh beasiswa Fulbright ke Amerika. 

Terbayang huruf demi huruf yang kutuliskan pada sebuah surat pendek untuknya. Yang mungkin membuat bulir-bulir bening mengalir di pipinya. Tapi itu yang terbaik daripada ada air mata yang sama akan menghiasi rumah tangga kami nanti seandainya jadi menikah.

Ayu,

Cinta itu semacam sayembara. Jika kamu merasa pantas untuk mengikutinya, menang atau kalah, paling tidak kamu telah mencoba. Cintamu terlalu sempurna untuk membuatku menjadi pemujanya, apalagi memenanginya. Bukan aku. Pasti ada orang lain di semesta ini yang lebih mumpuni. Maaf, tak kuasa aku berucap langsung padamu. 

Yang selalu mendoakanmu,

Eka

“ Eka, lagi melamun ya?”

Suara lembut Nia, membuyarkan lamunanku. Nia, gadis asal Indonesia yang sekampus denganku. Aku mencintainya dan ia pun sama. Dan, kami berencana menikah libur semester nanti.

by pixabay.com



#ODOPOKT10
Tulisan ini diikutsertakan dalam Program One Day One Post Oktober 2017
 Blogger Muslimah Indonesia

18 comments:

  1. Walaah, bayangin jadi Ayu, sedih e yoo.. Hiks.. Hiks.. Meweek aku mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa...setelah sekian lama ternyata, kau tak pernah punya rasa yang samaaa! huuaaaa :(

      *sabar ya Ayu :)

      Delete
  2. Krn dulu pernah ngerasain posisi di eka, skr aku ga mau ngejudge hal2 yg begini, apalagi yg menyangkut ayu. Krn memang cinta itu ga bisa dipaksa :D. Ga bakal happy nantinya. Jd memang jujur dr awal :). Bgs cerita fiksinya mba :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Mbak..
      Memang cinta nggak bisa dipaksakan...:)

      Delete
  3. Hm, jadi lebih baik berterus terang walo menyakitkan ya. Cinta memang sungguh misteri yak. Keren fiksinya, Mbak Dian jago euy

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jujur di depan lebih baik daripada hancur belakangan..

      Makasih Mbak:)

      Delete
  4. Diksi diksinya keren, sangat mengena dan mudah dimengerti

    ReplyDelete
  5. Iiiiih aku jadi bayangin jalan-jalannya, keren perpaduan katanya. Kejam, tapi Indah #saveayu😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. mending kejam sekarang daripada nanti hihihi...
      *pelukayu

      Delete
  6. Cerpen mbak Dian selalu asik dibaca, apalagi kali ini memasukkan unsur destinasi wisata. Tambah keren ^^

    ReplyDelete
  7. suka sama cerpennya Mbaa *jempol*

    Cinta memang tak bisa dipaksakan yaa Mba :)

    entah mengapa, saya merasa jika pernikahan Eka dan Ayu tetap dilangsungkan, kisah rumah tangga mereka sama seperti kisah rumah tangga yang di novelet kang Abik yang berjudul "Pudarnya Pesona Cleopatra"

    ReplyDelete
  8. Terima kasih, Mbak:)

    Saya belum baca novel Kang Abik tersebut. Terima kasih infonya :D

    ReplyDelete
  9. Aku kok kasian sama Ayu ya... Tapi ya memang cinta enggak bisa dipaksakan sih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak. Memang kasihan..Tapi, lebih baik begitu..:)

      Delete