Cara Super Menjawab Telemarketer



Baru saja saya mendapat telepon dari seseorang yang menawarkan sebuah kartu keanggotaan jaringan hotel ternama. Padahal belum lama juga ada telepon penawaran KTA, Kredit Tanpa Agunan. Memang, kadang ponsel berdering saat sedang berada di tengah kesibukan. Langsung saya angkat meski nomor tak dikenal. Pikir saya, itu panggilan dari teman yang belum tersimpan nomornya, telepon dari sekolah anak, dari suami yang sedang dimana atau dari pihak yang ingin menawari saya kerjasama πŸ˜€. Kalau nggak diangkat, khawatirnya itu hal penting. Pas diangkat, ternyata telemarketing! Dilema...!

Telemarketing?


Ya, Kadang heran juga, tahu dari mana ya mereka tahu data-data kita?
Jangan salah, data kita tersebar dimana-mana kan? Saat bikin akun sosial media, kita ditanya email atau nomor ponsel. Waktu bikin aplikasi pendaftaran member itu ini, juga harus nulis data diri...

Nah, terjawab sudah!


Dilansir dari okupasidotcom, Telemarketing berasal dari kata tele dan marketing. Tele artinya jauh, marketing artinya aktifitas pemasaran. Jadi Telemarketing adalah aktifitas memasarkan produk atau jasa melalui saluran komunikasi jarak jauh. Dan, orang yang berprofesi di bidang Telemarketing ini disebut Telemarketer.

Nah, tugas utama seorang Telemarketer adalah melakukan penjualan via telepon, produk/ jasa sebuah perusahaan, kepada perorangan atau perusahaan.

Sedangkan roduk yang dipasarkan contohnya: asuransi, kartu kredit, pinjaman, paket wisata, voucher hotel, kendaraan dan beragam jasa lainnya.

Telemarketer dalam menjalankan tugasnya dibantu alat bantu diantaranya: telepon, fax, komputer dan koneksi internet. Telepon digunakan untuk menghubungi prospek (sebutan bagi calon pelanggan), sedangkan fax/komputer digunakan untuk mengirimkan pricelist, undangan, voucher, dan sebagainya, lewat fax atau email.


Sebenarnya sistem pemasaran produk/jasa melalui telemarketer ini sudah lama dipakai, tepatnya sejak tahun 70-an. Kemudian dengan perkembangan telekomunikasi, sistem ini makin berkembang, lantaran orang makin mudah untuk dihubungi melalui telepon seluler. Tentu dari sisi perusahaan hal ini membawa keuntungan pada kenaikan penjualan. Tapi, dari sisi pelanggan memunculkan dampak negatif yakni, gangguan akan telepon bertubi dari para telemarketer ini.

Bagi seorang telemarketer sendiri, ini merupakan tantangan tersendiri. Karena tentu berbeda memasarkan produk/jasa secara langsung atau face to face dengan hanya melalui sambungan telepon semata. Diperlukan kesabaran ekstra menghadapi prospek yang bisa jadi mengabaikan panggilan di ponselnya. Menyudahi segera pembicaraan saat baru tahap perkenalan. Atau mengatakan hal-hal yang kasar dan menyakitkan.


Tugas dan job description yang tentunya tak mudah bagi seorang telemarketer, dimana harus mengenakan headset / handsfree supaya tangannya tidak capek memegang gagang telepon. Sambil menelepon bisa memegang pulpen dan mencatat hal-hal penting atau mengetikkan data di komputernya. Belum lagi harus meredam emosi ketika menghadapi prospek yang menjengkelkan hati. Sampai-sampai di depan meja mereka biasanya dipasang cermin. Agar mereka melihat wajahnya sendiri ketika sedang menelepon prospek, sehingga sesekali tersenyum melihat raut mukanya sendiri.

Selain itu, juga dibutuhkan kemampuan menghadapi berbagai alasan penolakan yang disampaikan oleh prospek. Kemampuan handling rejection ini akan meningkat seiring dengan bertambahnya jam terbang sebagai seorang telemarketer. Seorang telemarketer yang handal bisa merubah penolakan menjadi hot prospek. Bahkan dalam banyak kasus, seorang prospek yang menolak saat ditawari telemarketer A, ternyata closing ketika ditangani oleh telemarketer B.

Seorang telemarketer juga harus mencatat semua aktivitas telemarketingnya (call record). Setiap panggilan harus dicatat dengan jelas. Siapa namanya, berapa nomor ponsel/kantornya, statusnya sebagai decision maker atau staf biasa, bagaimana status akhirnya (prospek, hot prospek, salah sambung, telepon mati), durasi teleponnya dan sebagainya. Call record ini nantinya akan menjadi bahan evaluasi aktifitas telemarketing bersama Team Leader / Supervisor / Sales Manager.

Hmmm, sekarang tahu kan, menjadi Telemarketer tidaklah semudah yang dibayangkan? Dan, saya bisa bicara seperti ini, karena pernah merasakan menjadi seorang part timer telemarketer di PT Indosat wilayah Bali saat kuliah dulu...😁


So, let's back to the topic...

Nah, karena kamu sudah tahu hari-hari indah dan sulit yang dijalani oleh seorang telemarketer, maka bersikaplah sewajarnya saat menerima telepon dari mereka. Karena:
  • Telemarketer itu juga manusia....punya rasa punya hati...Jangan samakan dengan pisau belati! (sambil nyanyi ala Candil Seurieus)
  • Telemarketer bekerja untuk mencari nafkah sama seperti kita. Bisa jadi ia tak hanya menghidupi diri sendiri juga anak istri.
  • Menelepon memang bagian dari tugasnya. Jadi, kalau sampai berulang, lain hari ditelpon oleh yang lain lagi..ya wajar. Nggak perlu GR! Selama belum closing kamu masih dikategorikan sebagai prospek! Jadi, mereka bukannya nggak bisa move on. Melainkan menunggu kamu yang masih menggantungkan harapan!

Jadi, lebih baik saat ditelepon seorang Telemarketer kamu bersikap:
  • Jawab salamnya dengan sopan dan ramah, karena mereka juga sudah susah payah.
  • Jangan langsung diputus teleponnya. Tunggu, paling tidak sampai sesi perkenalan selesai. Nggak ada salahnya mendengarkan 2-3 menit saja. Ingat, mereka malah harus menelpon lebih lamaaa...Selama 8 jam kerja!
  • Kalau Mas/Mbak-nya pakai acara basa-basi, potonglah dengan kalimat halus.."maaf Mbak, terus ini produknya apa ya..?"
  • Jika sedang tidak sibuk tak ada salahnya mendengarkan penjelasan sampai selesai dengan santai.
  • Kalaupun kamu sedang berkegiatan sehingga tak bisa konsentrasi mendengarkan penjelasan, langsung potong saja "maaf, saya sedang nyetir ini, Mbak" atau..."Mas, saya nggak bisa lama-lama terima telepon saat ini, maaf ya!"
  • Ucapkan terima kasih atas penjelasannya.
  • Sampaikan penolakan dengan sopan dan dengan alasan. "Maaf Mbak, saat ini saya belum perlu KTA! (saya butuhnya KTB, Kredit Tanpa Bunga)"
  • Tak perlu bernada keras ataupun mengucapkan kata-kata yang menyakitkan karena mereka sekedar menjalankan pekerjaan.



Dan, ingat cara pemasaran Telemarketing bukan asal-asalan dan memang diijinkan serta dipayungi oleh: 

"Peraturan OJK(Otoritas Jasa Keuangan) Nomor 1/POJK.7/2013 yakni OJK melarang pemanfaatan freelance telemarketing yang menggunakan long-number dan seolah-olah penawaran dilakukan secara pribadi. Penawaran harus jelas menyampaikan identitas PUJK(Pelaku Usaha Jasa Keuangan) dan jika melalui telepon harus memohonkan kesediaan Konsumen untuk menerima penawaran."

Artinya: OJK melarang menggunakan Freelance Telemarketing dengan menggunakan nomor telepon seluler pribadi dan bukan karyawan sebuah perusahaan. Jadi kalau ditelepon dari 021, 022, 031..dan itu karyawan pemasaran perusahaan, itu dibolehkan.

Jadi, sekarang kamu nggak perlu ngomel-ngomel lagi saat ditelepon oleh telemarketer, ya! Karena, mereka juga sekedar mencari rejeki seperti kita...πŸ’ž


Salam,

Dian Restu Agustina


*all pictures by: pixabay (dot)com



#ODOPOKT18
Tulisan ini diikutsertakan dalam Program One Day One Post Oktober 2017
Blogger Muslimah Indonesia



26 comments:

  1. Iya sih, kadang bete kalau ditelpon mereka. Ada yang basa-basinya cukup panjang. Sementara saya menebak-nebak orang ini mau menawarkan apa sih.
    Btw, makasih sharingnya. Jadi tahu pekerjaan telemarketing.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi..iya MBak, kalau kepanjanagn dipotong saja baik-baik..yang penting sopan. Kita cuma nggak mau buang waktu dan biar mereka juga nggak buang pulsa :)

      Sama-sama...

      Delete
  2. Apapun profesinya tidak mudah ya mba.. dulu klu saya dapat telpon dari telemarketer, saya bingung harus jawab apa... N tipsnya akan saya gunakan jika sya dapat tlpn lagi mba..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar Mbak..semua profesi ada perjuangannya sendiri..

      Silakan dicoba tipsnya:)

      Delete
  3. Aku dulu pas jam kerja juga pernah ditelpon telemarketing mba, jujur bikin bete sih kadang hehe
    Makanya sekarang kalo ada telpon dari nomor tak dikenal jarang aku angkat, apalagi yang angka depannya 021 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, daripada jawabnya nanti bete, lebih baik nggak diangkat saja..:)

      Delete
  4. Kalau punya balita yang minum susu formula.., nah eta..., data kita dr SPG di supermarket, tinggal menanti dering telepon. Eh, termasuk telemarketing juga ga ya? Kadang cuma nanya kabar dan survey.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa juga sih..tapi itu biasa untuk merawat pelanggan :)

      Delete
  5. Saya pernah ditawarin bikin member hotel sampe dua tiga kali di telp pihak hotelnya. Sudah pasti saya tolak sih tp krn menghargai didengerin dulu sampe selesai penawarannya. Baru tahu kalau pekerjaan itu namanya tele marketing. Biasanya cuma tahu kata "sales"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak..dulu semua disebut Sales..Berikutnya lebih detil lagi disebut telesales atau telemarketing khusus untuk yang via telepon :)

      Delete
  6. Ini mirip mirip sama cso call center gitu ya mba? Aku pernah coba tandem sama temanku dulu call center bca

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau call center terima pengaduan, dll..Ini nawar-nawarin produk/jasa biasanya Mbak:)

      Delete
  7. Saya juga sering dapet, cuman belakangan karena jarang pegang hp juga, jadinya suka nggak keangkat. Suka nggak tega juga, sih, kalau mau ngasih jawaban sengak, hehehe. Jadi kadang saya tetep bermanis-manis meskipun nggak bener2 dengerin. kikiki. Jangan ditiru

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak..lebih baik nggak diangkat nggak pa-pa, Kalo keangkat ini yang kita jadi merasa terjebak yaaa :D

      Delete
  8. Saya sering banget ditelponin. Saya simpan nomornya dan blokir. Lalu kalau ada panggilan dan di id caller ada tulisan: greater, biasanya dri kkartu kredit. Saya blokir juga. Aamaan

    ReplyDelete
  9. pas jadi TU dulu aku catet berapa kali masuk itu telepon
    ada 34 kali
    pas aku gak jadi TU lagi udah nyampe angka 13534, kayak pageview di blog
    biasanya aku bilang KSnya gag ada atau mending datang aja

    btw kenapa penawaran kerjasamanya dicoret mbak hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, coba kalo itu pageviews kwkwkwk

      Iya, dicoret kalo cuma penawaran, maunya yang sungguhan kerjasama..hahaha

      Delete
  10. Owwh ternyata begitu ya mba.. alhamdulillah sepertinya sih gak pernah ngomel2, malah saking baiknya suka saya dengerin sampai habis walaupun akhirnya ditolak :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mbak,..didengerin aja sudah seneng..yang penting nggak diomelin :D

      Delete
  11. Kami gak pernah galak sama sales apapun dek, kalau sibuk ya disampaikan, apalagi kalu terkenang almh.adik yang seiorang salesman, suka sedih kami berdua (suami dan saya)��

    ReplyDelete
  12. Kadang saya kurang sreg dengan penggunaan kata marketer dengan salesman. Kalau yang maksa-maksa gitu menurut saya telesalesman (tapi ada ga sih istilah ini, hehe) buka telemarketer.

    Beruntung sampai sekarang saya belum pernah dihubungi sama mereka, mungkin mereka tahu kalau dompet saya tipis, haha. Tapi kalau telepon yang pembohongan gitu kok malah sering ya, hmmm.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang banyak di kota besar, Mas...Biasa karena ada data kita sebagai nasabah kartu kredit, anggota gerai supermarket, pelanggan majalah, konsumen susu dll. Mereka simpan data, jadilah dipakai oleh telemarketer ini.

      Delete
  13. Wah, baru tahu kalau pakai nomor pribadi sebetulnya tidak boleh, ya, Mbak. Terima kasih atas informasinya, yaa...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya harusnya tidak boleh, Mbak..
      Tapi sering juga dapat dari 088..081..083..dan lainnya ya:(

      Delete