Unfollow, Unfriend or Blocking?



Halo Hola!...Boleh tanya? 

Berapa banyak sih teman kamu di media sosial, Facebook misalnya?

Kalau saya punya sekitar 2 ribu teman Facebook. Dan, sebagian besar dari mereka adalah teman dunia maya. Artinya bukan orang yang benar-benar saya kenal di dunia nyata. Teman-teman ini saya kenal dari komunitas menulis yang saya ikuti atau mempunyai kesamaan hobi khususnya di bidang literasi. Selain itu, banyak juga yang merupakan teman, meski tak kenal benar di dunia nyata, tapi kami berlatar belakang kota, almamater, tempat tinggal atau tempat kerja dan kegiatan yang sama. Kemudian, sebagian kecil lagi adalah teman yang bukan kategori dari kesemua opsi tadi, yaitu penggemar tulisan-tulisan saya. Semacam fans lah #halah 😁


Nah,  diantara ratusan sampai ribuan orang yang menjadi "teman" kita itu, siapa saja sebenarnya yang benar-benar teman? Pertanyaan yang sulit mendapat jawaban. Karena di tengah hiruk pikuk media sosial, kita sejatinya makin individual dan kesepian. Buktinya saat di tempat keramaian interaksi dengan orang terdekat malah berkurang. Saling tegur sapa dengan yang duduk di sebelah kita hampir tak ada. Yang ada, malah kita sedang bercanda dengan teman dunia maya yang bisa jadi berada ribuan mil dari tempat kita.

Belum lagi jika ternyata teman online yang kita miliki, tak semuanya membawa kebaikan bagi diri. Mereka yang harusnya bisa mengisi kekosongan pada jiwa kita, nyatanya malah membuat kita menjadi bersikap negatif bahkan berpikiran sempit.

Memang, definisi teman di era media sosial tak semudah yang kita kira. Berkenalan dan berteman dengan siapa saja bahkan dengan orang yang tidak pernah kita jumpa sebelumnya tentulah tak sama dengan bertemu muka lalu menjabat tangannya. Jika kenal lewat jumpa, tentu kita bisa menilai meski sekilas saja tentang siapa dan bagaimana karakter seseorang. Sementara di dunia maya, paling banter yang bisa kita lakukan adalah "screening" lewat profile picture-nya, bio data atau status-statusnya . Dan kesemuanya itu bisa saja palsu. Artinya ada yang bukan sebenarnya, dilebih-lebihkan atau mengandung kebohongan.  Don't trust everything you see, even salt looks like sugar!



Nah kembali ke pertemanan tadi. Orang yang kita add atau confirm, kemudian tak lantas benar-benar menjadi teman. Biasanya yang selanjutnya menjadi "teman" adalah yang mempunyai kecocokan dengan kita, diantaranya kesamaan minat dan pandangan. Misalnya, saya berteman lebih intens di dunia maya dengan sesama pegiat literasi. Kami saling menyemangati diri,  berdiskusi, berbagi informasi bahkan saling memberikan kritik dan saran. Dan, ini menjadikan pertemanan makin hangat dan menguat.

Teman-teman dunia maya yang jauh di mata tapi dekat di hati seperti ini, perlu "dirawat" juga. Seperti halnya di dunia nyata, mereka juga perlu disapa dengan memberikan jempol tangan, komentar, simpati, menjawab pertanyaan, juga ucapan dan pujian atas sebuah kesuksesan.


Logikanya, jumlah teman semestinya bertambah dari hari ke hari. Tapi nyatanya beberapa pengguna media sosial malah melakukan pengurangan pada jumlah temannya. Kadangkala alasan tertentu membuat kita terpaksa melakukan seleksi itu. Berbagai alasan ketidakcocokan menjadikan kita mengevaluasi teman dan akhirnya berakhir pada tombol UnfollowUnfriend atau yang paling parah Blocking. Unfollow jika kita masih ingin berteman, tapi tak mau mengikuti lagi aktivitas media sosialnya. Unfriend ketika kita tak hendak berteman dengannya di jagad maya. Blocking apabila kita memang tak mau lagi berurusan apapun dengannya di media sosial. 


"Bersih-bersih" pertemanan oleh pengguna media sosial dengan melakukan unfollow, unfriend dan blocking biasanya didasari beberapa alasan. Diantaranya jika teman tersebut berkriteria sebagai:
  • King of Hoax: suka menyebar link berita tanpa memeriksa ulang kebenarannya. Tak pernah ada  "saring dulu, baru sharing"!  
  • Over Fanatik: anggota pasukan pembela ajaran, tokoh, paham tertentu sampai-sampai rela berkorban apapun demi itu.
  • Queen of Complaint: ada saja yang dikeluhkan, ya ini,  ya itu. Sepertinya hidupnya yang paling susah. Dan, media sosial adalah tong sampah. Kita yang baca sampai ikut illfeel dan bad mood gara-gara baca statusnya. Kalau ngeluh sana dong di pojokan, biar semua nggak ikut-ikutan..Some people need to realize that Facebook is a social network not a diary!
  • Games Player: nggak semua pengguna media sosial suka main game online. Jadi, kalau bolak balik diajakin bisa jadi ada yang kesal juga.  Ajakin itu ngopi dimana gitu .. 
  • Kepedean: status dan linimasanya penuh dengan foto selfie diri sendiri dari berbagai sisi. Atau mesra bareng pasangan dari beragam sudut pandang. Boleh-boleh saja pajang foto,  tapi isi juga linimasa dengan hal-hal berguna yang bisa bermanfaat bagi teman lainnya 
  • Hakim Berjalan: semua dikomentari buruk, disalahkan, dijelek-jelekkan..serasa dia yang paling sempurna di dunia
  • Rumah Kosong: punya akun media sosial, tapi tak pernah ada penghuninya. Nggak pernah bikin status, nggak mau menyapa orang atau berkomentar, ditegur di wall-nya nggak ada jawaban. Kemana orangnya ini ya..? Mungkin memang nggak ada kuota atau bisa saja memang nggak hobi berteman di dunia maya.
  • Eksis Habis: semua kegiatan dikabarkan di akun media sosialnya. Sepertinya ponsel memang selalu ada di genggamannya. Tak terpisahkan! Dari bangun tidur sampai tidur lagi, seluruh teman jagad mayanya tahu apa yang dilakoni. Don't give them the privilige of knowing everything about you. Just because is not posted in social media doesn't mean is not happening!
  • Tag sana-sini tanpa permisi: nge-tag teman tentang barang jualan, informasi yang belum tentu disukai atau dilibatkan dalam percakapan yang teman tak mengerti. Lebih baik sebelum nge-tag kita permisi dulu atau kalau perlu japri satu-satu. Please, use tagging permission rules! Tag bisa diatur, caranya baca di sini yaaa: 
  • Tak Jelas Identitas: lupa siapa dulu yang add, saya atau dia yaaa...Setelah dilihat-lihat sepertinya identitasnya nggak jelas. Dia ada di friend list tapi sama sekali tak berinteraksi dengan kita...Ah, teman masa gitu? Roses are red, Facebook is Blue. No mutual friends listed, Who are you?
  • Haters: berteman tapi komentarnya nylekit di kolom komentar. Nadanya mengejek, menjelekkan atau menyakiti hati. 
  • Stalkers: penguntit yang selalu ada di tiap status kita dengan candaan yang kadang tak ada hubungannya. Atau memakai jalur pribadi untuk hal yang tak ada manfaatnya. 
Nah, jika ternyata kamu tak nyaman berteman dengan orang yang berkriteria seperti di atas, sah-sah saja jika melakukan unfollow, unfriend atau bahkan blocking. Toh, kita berteman di media sosial dengan tujuan ingin mendapatkan kebaikan bukan malah ketidaknyamanan. Sudah begitu banyak drama di keseharian kita, tak perlu kiranya menambah drama di dunia maya, bukan begitu?💞
"Good coffe is a pleasure, good friends are a treasure!"

Love,

Dian Restu Agustina 


*all pictures by pixabay.com



#ODOPOKT20
Tulisan ini diikutsertakan dalam Program One Day One Post Oktober 2017
Blogger Muslimah Indonesia


18 comments:

  1. Betul...udah banyak drama di kehidupan nyata, gak perlu nambah drama di dunia maya, deh! Buat pusing aja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak..sudah cukup Drama Korea saja, nggak bikin pusing kepala hahaha.:D

      Delete
  2. aku dulu juga unfollow seseorang gara2 suka ngomongin politik jelang pilpres kemaren

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama Mbak, waktu itu aku juga unfollow beberapa..soalnya sudah bikin panas mata dan telinga :D

      Delete
  3. Ngomongin politik gak berkesudahan, sebar berita hoax, belum lagi share gambar kecelakaan yang berdarah-darah itu. Sukseslah kena remove. Hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya..betul..remove sajaa..kita mau yang aman tentram damai sentosa saja:)

      Delete
  4. Beberapa teman yang akhirnya saya unfoll karena meninggal, dan bikin status yang panas. Hidup sudah banyak drama tak perlu menambah beban. Tapi ada juga yang rumah kosong saya biarkan. Mungkin suatu saat saya perlu bersih-bersih pertemanan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak..status panas ini yang bikin hati jadi bukannya meluas malah gundah..ya, lebih baik memang di unfollow..

      Delete
  5. pernah ingatceramah ustd saat saya ikut pengajian, perempuan itu setelah menikah apalagi iang IRT hanya suaminya yang menjadi temannya. sekarang teman saya di dunia nyata memang benar-benar nggak ada, karena jarang keluar rumah juga sih, sama tetangga hanya say hello saja, nah, banyaknya teman di dumay, sejak ikutan training, namun ada beberaoa jug ayang nggak saya kenal, sy add, taoi jika statusnya udah lebay dan alay, saya unfollow saja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak..saya berteman di dunia nyata juga nggak banyak sekarang. Hanya tetangga dan sesama orang tua murid saja..
      Benar, untuk yang alay bin lebay saya juga pernah unfollow

      Delete
  6. Unfriend orang rese pernah, unfollow gegara dianya over fanatik juga pernah. Haishh, capek baca statusnya tiap kali lewat beranda. Setelah diunfoll udah gak lewat lagi. Lega deh... Kalo yang eksis abiz masih saya diemin, gak saya like. Lama2 klelep juga, hihi... Yang sering muncul jadi statusnya teman2 yg sering saya like dan komen.
    So, saya sih oke aja dengan warna-warni pertemanan di medsos asal masih di dalam batas kewajaran. Kadang yg kurang wajar terlewatkan karena saya bisanya onlen hanya di jam tertentu saja, sih. *elus2 anak

    ReplyDelete
  7. Iya, Mbak..beragam alasan ya..
    saya juga nggak selalu unfoll dicuekin aja, kalau ada hubungannya sama kita baru..:)

    ReplyDelete
  8. Terima kasih sudah mengingatkan untuk merawat pertemanan, Mba :). PR besar buat saya, nih.

    ReplyDelete
  9. saya unfriend yang tidak masuk edge rank dan target market ... hehe, ternyata banyak jenis friendlist yang lainnya ya, informasinya keren.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak disesuaikan tujuan bersih-bersihnya..:D

      Delete
  10. Sempet pengen unfollow kawan di FB. Karena suka bikin status kasar ( akibat politik dan over fanatik ). Tapi aku punya trik yang kupikir lebih baik buatku, mb. Aku follow banyak orang yang aku suka. Nah, akhirnya status temenku ini tenggelam juga. Dan aku punya pandangan baru di banyak hal

    Nah, justru cara paling sadis aku lakuin ke grup WA keluarga besarku. Ada om, tante sama saudara sepupuku. Buat aku kan keluarga adalah tempat kembali berkumpul. Lah kok pembicaraan panas gara-gara politik dan over fanatik. Ya udah, aku keluar aja. Sampai ditanya mamaku. Kujawab aja, aku gak suka suasana grup kayak gitu. Aku pengen ngademin diri. Mama cuman bilang " Ya udah " hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Good step Mbak..:)

      WA? Saya ada left grup. Alumni sekolah. Yang berbaris gambar tak sopan, bicara vulgar terus pada mojok ngobrol yang jorok"...hhh..Nggak ingat umur apa.
      Selain itu biasa saya tetap stay di situ, tapi hanya sekedar numpang nama :D

      Delete