When Life Gives You Lemons, Make Lemonade!


"Selama bertahun-bertahun, kupikir aku telah berhasil menghapus memori tentang Emak begitu saja. Entah mengapa aku benar-benar ingin menghapusnya. Namun kini, kenangan itu, meski kecil-kecil, terpecah-pecah, tersebar-sebar, perlahan mulai bertautan kembali. Kali ini setelah Emak pergi, tak kubiarkan pecahan-pecahan itu menghilang lagi." (hal ix)


Judul: Ketika Emak Memakai Celana Dalamku (When Mother Wore My Underpants)

Penulis: Ahmad Zaenudin 

Penerbit: Indie Book Corner

Cetakan: 1/2017 

Halaman: xii+188

Bahasa: Indonesia & Inggris 

ISBN: 978-602-3092-73-4

Harga: Rp 65.000,00

Hidup sering tak memberi kita banyak pilihan. Terkadang begitu banyak hal yang membuat kita merasa, sepertinya begitu sulit menjalaninya. Tapi, apakah yang menimpa kita itu sudah yang paling berat diantara yang lainnya? Ataukah sebenarnya, yang kita hadapi tak ada apa-apanya dibandingkan apa yang menimpa orang lain di sekitar kita. Lalu, bagaimana kita menyikapi masalah itu? Biasanya dengan berduka, bukan? Tapi sesekali, kenapa tak mencobanya dengan tertawa!

Adalah sebuah buku "Ketika Emak Memakai Celana Dalamku" yang menelaah beragam kisah. Dimana sesudah membacanya akan menyadarkan kita bahwa di saat sebuah masalah ada, sejatinya ada dua hal yang menyertainya yaitu air mata dan tawa.

Penulis menceritakan 10 kisah dalam buku dwi bahasa ini, atas dasar kisah nyata yang dihadapi. Kisah yang bisa saja membuat kita tertawa membaca kejenakaan tokoh utamanya dan sekaligus berurai air mata ketika membayangkan sulitnya hidup yang dilakoninya. (Jujur, saya saja nangis saat membacanya...😢)

Ya, sepenggal kenangan penulis akan tokoh Emak, ibu yang melahirkan dan membesarkannya. Sesosok perempuan yang unik dan nyentrik. Yang sejatinya, ketika kisahnya dicerna membuat kita merasa betapa kenestapaan mendera hidup sang Emak. Namun, lantaran cerita disampaikan secara ringan, dalam versi keseharian, maka pembaca pun dibuat tertawa meski dalam hati miris juga. 

Emak, ibu 6 orang anak yang berhasil menempa penulis menjadi sosok yang kini berani menghadapi hidup apapun yang terjadi. Meski tak berpendidikan tinggi, tak punya harta untuk membekali, tak juga ada cukup kebaikan untuk dijadikan teladan. Tapi, Emak yang apa adanya, disadari atau tidak telah meninggalkan kenangan yang meski buram tapi menurut penulis patut untuk dibagikan.

Sepuluh cerita di dalam buku ini masing-masing memang berdiri sendiri sebagai kisah penuh hikmah. Tapi satu sama lain punya benang merah. Sebuah pesan tersampaikan: jika hidup memberimu kepahitan tak musti membuatmu terpuruk dan makin memburuk. Semestinya cari sesuatu yang bisa membuatnya paling tidak menjadi ramuan jamu. Hingga meski asalnya pahit tapi ia bisa berasa manis dan akan menyegarkan dan menyehatkanmu. Yup! When life gives you lemons, make lemonade!


Diantaranya pada cerita: "Ketika Emak Memakai Celana Dalamku". Dikisahkan setahun setelah sunat, barulah penulis mengenal apa itu celana dalam. Itupun atas bantuan dermawan yang memberikan bantuan dana pendidikan kepadanya. Akhirnya dimilikilah 3 buah celana dalam yang tentu saja tak mencukupi jumlahnya di kala musim penghujan tiba. Satu hari, saat yang dua masih basah di tiang jemurannya, harusnya masih ada satu yang kering tersisa. Tapi entah kenapa tak ditemukannya. Padahal ia harus segera berangkat ke sekolah. Di tengah kebingungan, akhirnya ada jawaban. Celana itu nantinya telah molor jadi ukuran kesekian.

Kisah tersebut menghadirkan kepahitan sekaligus kegelian yang pada akhirnya membuat pembaca merasa begitulah memang hidup jika diceritakan. Kadang bisa membuat tawa membahana dan di saat yang sama hati terasa getir saat mendengarnya.

Apakah cerita itu lucu? Iyaaa! Miris? Pasti! Bahkan bikin nangis! Mengingat kelimpahan yang orang sekitar punyai, masih ada yang mengalami kisah seperti yang si tokoh cerita alami.

Beberapa kisah lain juga membuat pembaca mengembara pada bayangan ketangguhan sosok Emak yang meski bukanlah Ibu yang dikategorikan sempurna tapi senyatanya membuat kita bisa meneladaninya. Bahwa menjalani hidup tak perlu seberat itu. Juga hidup tak seharusnya membuat kita melulu menangis tersedu. Emak mencontohkan bahwa diantara tangisan ada tawa lebar yang harusnya bisa dikembangkan. Emak benar-benar hidup untuk saat ini, living in the very real moment. Emak yang hidup tanpa membebani diri pada penyesalan tentang masa lalu pun khawatir sekali tentang masa depan. Ia jalani saja kehidupan dengan menebas segala kekacauan yang datang. Pola hidup versi Emak yang bisa jadi obat mujarab untuk bahagia. Karena meminta kita segera move on dari kenangan dan tak perlu terlalu stres memikirkan hal yang ada di depan. 

Dan akhirnya saya pun merekomendasikan buku ini untuk siapapun, khususnya yang saat ini sedang terpuruk. Karena, kisahnya bisa membuat kita banyak bersyukur pada-Nya. Membuat kita sadar bahwa memang Tuhan hanya akan memberikan beban pada hamba yang kuat menanggungnya. You're given this life because you are strong enough to live it! Seperti penulis yang di masa kecilnya bersama Emak dan 5 kakaknya harus berbagi rumah tanpa kunci pintu, tapi akhirnya bisa meraih apa yang dicita-citakannya. Bisa mengirimi Emak foto wisuda dari satu kampus di Australia, kartu pos bergambar Tembok Besar Cina, foto berlatar Hagia Sofia, surat berstempel negara India dan kisah dari hampir separuh tempat indah dunia yang didatanginya.

Membuat saya setelah selesai membaca, kembali ke pengantar awal dari penulis, mengapa sampai membuat buku yang dipersembahkan untuk sang Emak. "Semua hal tentang Emak yang membuat aku merasa, berkewajiban membawa memori itu untuk selamanya. Dan takkan membiarkan pecahan memori itu pergi begitu saja." (hal ix).

Oh ya, karena buku ini dwibahasa, maka bisa juga dibaca oleh yang bukan pembicara bahasa Indonesia. Atau, bisa untuk menjajal kepiawaian Bahasa Inggris kita saat membaca versi terjemahannya. Karena setelah satu cerita dimuat dalam Bahasa Indonesia, pada lembaran berikutnya ada versi terjemahan dalam Bahasa Inggrisnya. Kereeen, bukan?



Bagaimana, kamu penasaran ingin membacanya? Silakan pesan saja buku bagus ini di www.bukuindie.com. Atau kamu mau berdiskusi dengan penulisnya yang saat ini berdomisili di Perth, Australia? Bisa kontak di emailnya: ahmad_zaenudin@hotmail.com. 

Yakin deh, setelah baca buku ini ada banyak hal yang bisa menginspirasi dan memotivasi diri! Juga mengingatkan kita untuk bersyukur karena firman-Nya: "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?" (QS Ar-Rahman) memang sangat benar adanya.

Selamat membaca!💗





Happy Sharing - Happy Reading!


Dian Restu Agustina






30 comments:

  1. Menarik sekali mbak, memang seperti itulah hidup ketika diceritakan, benar sekali...hiks

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, ya kan..kalau lagi diceritakan rasanya beda..kadang hal yang sedih malah jadi bikin ketawa begitu juga sebaliknya:)

      Delete
  2. di balik kisah unik itu sering ada pengajaran yang terkira dari seorang ibu
    menarik mbak bukunya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mas..begitu banyak Ibu luar biasa di luar sana yang kisahnya patut diteladani pun dibagikan ke sesama.

      Delete
  3. Kisah tentang ibu memang selalu mengharu biru. Duh, bisakah sosok saya kelak dituliskan oleh anak sedemikian mendalamnya? 😧 Buku temannya keren, Mbak 👍 Wong Kediri jebule podo pinter nulis 😊 Jadi mupeng pengen punya, hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak..Sosok Ibu memang tak ada habisnya untuk diceritakan dan dikenang :)
      Semoga kita juga bisa menjadi Ibu yang kelak dikenang secara indah oleh anak-anak kita..Aamiin:)

      Apa iya orang Kediri pinter nulis ya..hahaha

      Delete
  4. Kisah nyata itu selalu menarik...mungkin karena pas dibikin pake hati ya. Hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, nulis pakai hati dan tetesan air mata..jadilah jleb jadinya:)

      Delete
  5. Baik buruknya ibu kita, selalu ada yg bisa diteladani ya mba..semoga kita saat ini sebagai ibu juga nantinya akan menorehkan kenangan yg indah buat anak2 kita ❤️

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin..semoga. Karena tak ada yang lebih membahagiakan kita selain dikenang segala kebaikan yang ada:)

      Delete
  6. Wah saya jadi penasaran ama sosok emak dan anaknya. Harga bukunya berapa mba ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada infonya di atas Mbak, 65 ribu belum ongkir..Langsung ke web penerbitnya yaaa:)

      Delete
  7. Huhuuu..dari judulnya bikin geli, tapi ternyata ada kiah-kisah kehidupan yang tersirat ya.Ah, sosok Emak/Ibu emang tak lekang oleh waktu, apalagi setelah menjadi Ibu, berasa deh pengorbanannya, hiks.
    jadi penasaran dengan kisah semuanya..

    Btw, salam kenal ya Mba Dian ..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya..Mbak..ternyata kisahnya bikin tersedu-sedu..Ketje nih buku:)

      Salam kenal juga yaaa...

      Delete
  8. makasi mba referensi bukunya keren bikin mupeng.. saya juga tertarik dwibahasanya..sklian belajar bahasa inggris.hihihi ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dwi bahasanya benar-benar keren Mbak, sampai pakai penerjemah orang Australia katanya...bukan sekedar translate Google

      Delete
  9. Seertinya saya akan membaca hidup saya sendiri di buku ini. Ingat masa kecil yang seru (baca: susah) dengan 4 saudara. Makasih sharingnya, mbak. Harus beli nih saya.

    ReplyDelete
  10. Mbak, bukunya keren banget, eh emak yang keren yang selalu menyemangati anak anaknya dalam keterbatasan, balasannya ya menjadikan anak anak yg luar biasa. Jadi pingin baca keseluruhan bukunya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak...Emaknya yang luar biasa...anaknya pusn istimewa

      Delete
  11. Penasaran deh bukunya ceritanya sarat makna. Baca cerita inspiratif atau semacam cerpen kadang seakan nyata ya mba

    ReplyDelete
  12. Ketika emak memakai celana dalamku, wah judul bukunya agak aneh ya dibacanya, jd penasaran kenapa bisa. Kisah tentang emak/ibu/mama dll memang selalu punya kesan tersendiri bagi anak2nya ya mbak. Btw keren deh bukunya dibikin dwibahasa gitu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, dwibahasa karena rencana dijual secara indie juga di Australia

      Delete
  13. Senang ya bisa selalu membaca buku, selalu ada hikmah yang bisa kita petik. Saya juga berusaha untuk tetap membaca buku meski suka molor kelarnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak..saya lagi tergetin diri seminggu satu buku..Insya Allah:)

      Delete
  14. Bagaimanapun keadaan Emak, ia selalu sempurna sebab cintanya...😍 Ah, jadi pengen punya buku ini juga. Makasih, Mbak Dian udah ngereview buku keren ini... 😉

    ReplyDelete
  15. Waaaah....belum jd beli buku yang ituu sdh mupeng yg inih. Xziizizi....ini gara2 mba dian. Gara2 mba dian! Hahahaha

    ReplyDelete