Resensi Buku: Perempuan Menjahit Hujan



Judul : Perempuan Menjahit Hujan
Nama Penulis : Titik Kartitiani
Penerbit : Kosa Kata Kita
Tahun Terbit : Cetakan pertama, Juli 2017
Jumlah Halaman : XV+131 halaman
ISBN : 978-602-6447-23-4
Harga Buku : Rp 50.000,00


"Bagi perempuan itu, setiap tubuh adalah sebuah semesta yang unik, dicipta tak pernah sama persis. Ukuran, lekuk tubuh, model dan arah jahitan akan berbeda, Tak heran jika baju karya perempuan itu seperti kulit yang diciptakan pas hanya untuk menempati satu tubuh. Tidak pernah kodian, tidak pernah massal dan dikerjakan tanpa menipu roh waktu. Sesungguhnya hanya orang-orang bodoh yang merasa bisa  menipu waktu, karena pasti ia kalah dan menyandang predikat pecundang." (hal 34)

Sebuah cerita fiksi, bisa membawa tafsiran makna yang berbeda pada pembacanya. Sebab, tak ada yang mengharuskan mereka mempunyai persepsi yang sama. Memang seperti itulah sejatinya fiksi disikapi. Dan sebagai karya imajinasi, menulis fiksi memerlukan kepiawaian tersendiri dalam menyelipkan pesan moral pada kisah yang disajikan. Nilai moral ini bisa terangkai dalam jalinan cerita yang menarik, plot yang apik, dan tokoh yang berjiwa. Sehingga menjadi tantangan tersendiri bagi penulisnya, agar pembaca tak hanya menangkap nilai moral yang disampaikan tapi sekaligus terhibur dengan kisah yang disuguhkan.


Adalah sebuah buku, "Perempuan Menjahit Hujan", karya Titik Kartitiani yang tak hanya bisa jadi hiburan tapi juga sarat dengan pesan kebaikan. 

Sekumpulan 16 cerita pendek dalam buku ini, meski masing-masing berdiri sendiri, tapi membawa satu misi tentang nilai-nilai kearifan hidup yang kian hari kian ditinggalkan. 

Penulis membebaskan pembaca berimajinasi dan berpersepsi di setiap akhir ceritanya. Dengan gaya penyusunan gagasan yang tidak beraturan dan berbumbu kejutan, terjalin cerita yang melukiskan pemikiran penulisnya tentang berbagai masalah di sekitarnya.

Meski, kebebasan kreativitas penulisannya kadang melampaui batas logika sehingga bisa menyulitkan pembaca memahaminya. Tapi, tentu saja tak membuat pesan yang ingin disampaikan sulit untuk dicerna. Karena, penulis langsung menyentuh ke pemikiran alam bawah sadar pembaca, hingga merasa "Jlebbb!" dibuatnya.

Seperti pada salah satu kisah berikut:

Gadis Kecil yang Menanam Gerimis


"Bagi para pejalan, kebun hujan nyaris seperti mitos. Keberadaannya seakan hanya eksis dalam benak masing-masing. Seperti sensasi. Bagi lelaki itu kebun hujan adalah jalan pembebasannya. Tempat ia menemukan dirinya. Layaknya slogan para pejalan: kami pergi menjelajah dan mendaki, bukan mencari kebanggaan diri. Kami pergi mencari diri sendiri." (hal 10)

Dikisahkan seorang pria muda yang sedang dalam perjalanan mendaki gunung api teraktif di dunia yang berdialog dengan gadis kecil yang menanam gerimis. Ya, gadis yang dengan telaten menanam bulir biji gerimis serta menggantinya dengan bulir baru jika gagal berkecambah. Kemudian, merawatnya agar tumbuh sempurna. Sehingga kelak akan menghasilkan buah tanpa warna, berupa hujan yang basah dan segar. Padahal nun jauh di Ibukota, gerimis yang pecah menyentuh tanah, dikecam ribuan warga lantaran menyebabkan basah, banjir dan macet dimana-mana.

Ada makna yang lugas tersampaikan pada cerita, jika gerimis tak seharusnya diiringi tangis. Hujan mestinya dimaknai sebagai perenungan, lantaran hujan itu adalah berkah, bukan sebab sebuah masalah. Sebuah sindiran yang ditujukan pada kebanyakan dari kita yang menghujat hujan ketika banjir tiba. Tanpa berusaha mengingat apa yang telah dilakukan pada alam milik-Nya...😐

Di sini, penulis dengan apik  merangkai cerita yang berlatar belakang meletusnya Merapi di tahun 2010 silam. Diantaranya, tentang kegagalan menyikapi sebuah bencana yang terjadi. Dimana (seperti biasa) televisi menayangkan beragam wawancara tentang korban bencana dan reporternya bertanya tentang perasaan mereka. Menunjukkan betapa ketidakpekaan telah subur dan terpelihara di tengah ketidakpedulian manusia menempatkan apa yang pantas untuk ditanyakan. Atau, pemimpin negeri yang kunjungannya ke lokasi kadang malah merepotkan pemerintah setempat dan para pengungsi. Sementara, pendaki muda yang diceritakan di awal dan ternyata jadi salah satu korban letusan yang tidak ditemukan, terabaikan. Aaahh...!

Sungguh sebuah kisah satire yang dikemas penulis dalam jalinan  kata yang mengalir, dalam dan indah.



Dan, masih ada 15 cerita lainnya yang membuat kita terbang mengelana pada beragam kenyataan yang mungkin luput dari penginderaan. Penulis berusaha menggugah kepekaan hati yang tak lagi peduli pada-Nya, sesama, alam sekitarnya, negeri bahkan pada diri sendiri melalui buku ini.

Misalnya pada kisah tentang "Perempuan Menjahit Hujan", yang mewakilkan keserakahan manusia dalam mengeksploitasi hutan, hingga saat hujan terjadi longsor yang menghancurkan peradaban di sekitarnya.

Lalu, "Lelaki Berparas Hujan", yang tajam mengupas kerakusan banyak petani kini dalam mengolah sawah. Alam dipaksa bekerja lebih dari kemampuannya, dicekoki aneka ragam bahan kimia pun melupakan kuasa Sang Pencipta.

Juga, "Requiem Ingatan" yang bercerita tentang cinta dalam diam seorang lelaki pada sang istri, yang luput terucap dan tersikap sampai istrinya pulang ke keabadian.

Dan, beberapa kisah indah lainnya yang sangaaat menggugah...!

Ya, penulis menyajikan beraneka cerita yang kaya nuansa yang tentu saja didasarkan pada latar belakang Ilmu Pertanian yang dulu dipelajarinya. Pun, ketajaman tulisan selama menjadi wartawan maupun penulis fiksi di Jaya Baya, Flona, Garden, Ide Bisnis, Femina, Sinar Harapan, Suara Karya, NatGeo Indonesia, Intisari dan juga beberapa portal online lainnya. Pantas saja cerita yang ditampilkan dalam bukunya penuh warna.

Yang menarik, ada pengantar dari Seno Gumira Adjidarma yang menyebutkan bahwa "Semua cerita dalam buku ini dapat menjadi persoalan yang diharapkan oleh pembaca yang tidak akan cukup puas menerima dunia ini sebagaimana adanya, tanpa persyaratan sama sekali." (hal xii)

Oh ya, tersaji pula dalam buku, 17 ilustrasi artistik karya Idrus bin Saleh, seorang pegiat Komunitas Kanot Bu di Banda Aceh yang merancang sampul dan mengawal tiap cerita.

Dan akhirnya, jika kamu juga berminat untuk membaca buku bagus ini, silakan pesan langsung ke penulisnya di nomor kontak WA 0812 1619 705 atau berkunjung di blognya Titik Kartitiani.




Selamat membaca!πŸ’š

Dian Restu Agustina



21 comments:

  1. Woww kata pengantarnya dari Seno gumira ajidarma.. pasti bukunya sastra abis😍😍😍 suka reviewnya. Makasih infonya mbaπŸ˜‰

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak..sealiran sama SGA gitu lah..Keren ini! :)

      Delete
  2. Judulnya saja sudah menggelitik ya mbak, terlebih ketika mbak Dian menceritakan sebagian isinya tentang kesalahan menyikapi bencana dan itu benar banget, ya.. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya ..banyak kejadian faktual yang dikemas dalam kisah yang bernas di cerpen ini, Mbak:)

      Delete
  3. Aku paling kesulitan menulis dengan gaya yang "sastra" banget kayak di cerpen itu Mbak Dian. Suka kagum aja sama orang-orang yang bisa menulis dengan gaya seperti itu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup, nulisnya susah, saya juga terkagum-kagum ini..hihi
      Tapi bacanya senang:)

      Delete
  4. Baca judulnya sudah bikin penasaran. Diksi yang dipakai keren banget. Hebat banget penulisnya. Salut!

    ReplyDelete
  5. Terima kasih info bukunya mbak.
    Nampaknya ini ceritanya dalam banget ya, bikin merenung gtu :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya..kisah keseharian yang bikin diri bisa sadar diri:)

      Delete
  6. jadi penasaran sama isi bukunya nih.

    ReplyDelete
  7. Wah Mba, kayaknya koleksi bukunya banyak ya. Kayaknya kalau mau cari buku-buku bagus. Saya tanya ke Mba aja ya ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe ayuk main sini Bun..ada buku-buku..Sekarang lagi luang waktunya, anak-anak sudah besar jadinya bisa sering baca buku :D

      Delete
  8. Bisa dipesan di mana bukunya mba? Penasaran dgn gaya bahasanya. Pengen belajar iih..

    ReplyDelete
    Replies
    1. silakan pesan langsung ke penulisnya di nomor kontak WA 0812 1619 705 atau berkunjung di blognya Titik Kartitiani, mbak:)

      Delete
  9. Wah, ikut penasaran sama bukunya. Diksi judul cerpen-cerpennya keren.

    ReplyDelete
  10. Cerpen satire memang selalu mak jlebb endingnya. Kalau biasa baca Kompas Minggu, mungkin sepengalaman saat mencernanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Mbak..kisah satire yang bikin kita tersindir habisss :)

      Delete
  11. Sastra satire, kudu dalam kondisi siap untuk membaca.

    ReplyDelete