Ucapkan Selamat Tinggal pada Ketiak Hitam dengan 6 Pemutih Ketiak Berikut Ini !!




Genks,...

Dirimu, suka sebel enggak sih sama warna ketiakmu? Kalau saya, bete banget kalau keinget. Sebabnya, makin ke sini makin menghitam nih warna ketiak saya. Hiks, enggak seperti duluuu kala...!

Mengunjungi Danau Maninjau yang Memukau



Trip Minangkabau Part 4

Saya terbangun dan segera menarik selimut lagi di tengah dinginnya pagi. Tapi, sepertinya rencana saya untuk merem sesi kedua batal begitu saja saat Uni Novia Syahidah Rais - owner Moztrip mengingatkan kalau pagi ini kami akan memulai perjalanan lebih dini.

Berkunjung ke Lembah Harau dan Istano Basa Pagaruyung




Trip Minangkabau part 3

Setelah sampai di Padang, berlabuh di Payakumbuh dan esoknya singgah di Kelok Sembilan, saya bersama-teman-teman MozTrip akhirnya melanjutkan perjalanan menuju Lembah Harau.

Berlabuh di Payakumbuh dan Terkagum-kagum Akan Jembatan Layang Kelok Sembilan



Trip Minangkabau Part 2

Setelah sampai di Padang dan mengunjungi Masjid Raya Sumatera Barat, Pantai Air Manis dan merasakan makanan khas Minang yang bener-bener nendang, saya dan rombongan pun bertolak menuju Kota Payakumbuh.

Padang, Saya Datang!!



Trip Minangkabau Part 1


Pesawat Batik Air yang saya tumpangi selama sekitar 1 jam 40 menit dari Bandara Soekarno-Hatta Jakarta akhirnya mendarat dengan mulusnya di Bandar Udara Internasional Minangkabau (BIM). 

"Raising Children in Digital Era" Bersama Elizabeth T Santosa dan SIS Bona Vista


"Gadget bukan monster. Jangan cuma lihat sisi negatifnya. Karena gadget juga banyak manfaatnya untuk perkembangan anak kita. Bijaklah menyikapi dan bukannya anti!" (Elizabeth T Santosa)

Mbak Lizzie, begitu Beliau biasa disapa. Seorang psikolog anak dan remaja, penulis buku, pembicara di beraneka seminar parenting dan media, dosen, aktivis KPAI dan ibu 3 orang putri, mengucapkan kalimat di atas dengan tegas!!

Pernyataan itu disampaikan di acara Mom Blogger Gathering yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan bersama SIS Bona Vista dan membuat saya speechless dibuatnya. Rasa galau, khawatir, cemas, ragu, bingung pun membuncah di kepala.....


Sisihkan Gadget, Yuk Kita Sundate!



"A Happy Family is Heaven on Earth"
Saya bergegas menutup pintu pagar saat anak-anak sudah bersiap untuk diantar. Cuss...butuh waktu sekitar 15 menit untuk menempuh perjalanan sekilo meter setengah dari rumah ke sekolah. Jalanan yang super padat jelang pukul 06.30 saat bel berbunyi di sebagian besar sekolah di Jakarta, membuat saya harus gerak cepat agar anak-anak enggak terlambat. 

Demikian juga suami saya yang dari pukul 05.30 pagi sudah jalan kaki ke halte bis pengumpan dan akan menumpang bis Trans Jakarta untuk menuju ke kantornya.

SELISIK 2018 | Menyiapkan Sumber Daya Manusia untuk Menghadapi Era Industri Terkini


Halo hola...

Temaaan, boleh ya kalau kali ini saya ngobrolin hal yang seriusan..?

Sekali-kali dong ah, meski saya Ibu Rumah Tangga boleh ngrumpiin masalah berat juga. Tapi bukan beratnya rindu lho yaaa...πŸ˜€

Ini tentang beratnya tantangan yang dihadapi dalam mewujudkan Making Indonesia 4.0

Making Indonesia 4.0?? Apa tuh?? Indonesia dibikin jadi apa?? Kok ada angkanya?? 

Surya Taman Wisata - Wahana Rekreasi yang Asri di Kota Kediri 



Suatu siang saat Ramadan silam...

Panas membara melanda kota kelahiran saya, Kediri tercinta. Si Mas mulai rewel enggak betah di rumah dan ribut minta pergi berenang. Adiknya pun seia sekata, ngajak ngadem ke kolam renang katanya.

NATUR 
#KuatDariAkar, Lawan Rontok, Rambut Lembut dan Mudah Diatur


"Invest in Your Hair. It Is The Crown You Never Take Off"
Muka saya bersungut-sungut dengan bibir cemberut ketika diminta Mbak Nies, kakak ketiga saya, duduk diam membelakanginya. Sementara rambut saya yang terurai panjang, tebal dan hitam sudah siap sedia jadi "korban".

Mbak Nies akan ngomel panjang lebar sembari mengoleskan lendir lidah buaya ke seluruh bagian kepala dan rambut saya. Tak lupa, dia juga akan memijat lembut kulit kepala saya dengan jemarinya.


Tips OOTD yang Enggak Perlu Biaya Gede


"Being yourself is the prettiest thing a person can be"

Hmmm, mau ikutan pasang foto OOTD (Outfit Of The Day), tapi berasa enggak pede. Lantaran pakaian yang dipunya rasanya enggak sekeren punya tetangga di dunia maya....

Ingin juga pakai tagar #OOTD buat ngiklanin produk yang dijual, tapi enggak yakin karena barang kita bukan yang berharga mahal!

Atau maksud hati niru gaya selebriti yang posenya ketje badai, tapi apa daya barang yang kita punya belinya di I-Te-Ce..!

Terus harus gimana yaa??

Barang mahal perlu modal. Padahal penginnya gaya tetap maksimal...!


Rokok - Sebuah Ancaman Bagi Kelompok Rentan



Di dekat tempat tinggal saya di Jakarta Barat, ada sebuah komplek sekolah swasta yang mempunyai 2 jenjang, SMP dan SMK.

Lokasi sekolah ini beberapa ratus meter saja jaraknya dari rumah saya, sehingga setiap antar jemput anak atau mau pergi, saya pasti melewati sekolah ini. 

Dan, setiap hari itu pula saya merasa miris sendiri melewati anak-anak yang duduk di sekitar menunggu jam masuk sekolah berdentang. Pasalnya, beberapa dari mereka sepagi itu sudah asyik ngobrol sambil ditemani sebatang rokok yang terselip di bibirnya. 

Padahal, itu baru jam 6 pagi!

Dan mereka sudah meracuni diri dengan benda yang manfaatnya sungguh diragukan ini. Sampai saya kepikiran, mereka itu tadi sudah sarapan belum yaa? Atau memang rokok yang jadi menu sarapannya?

Hadeeehh!


Sampah di Sana-Sini Jadi Penoda Keindahan Pantai di Bali


Halo Hola!

Saya dan keluarga, menggunakan kendaraan pribadi saat traveling ke Bali di bulan Juni. Karena, perjalanan ini memang sepaket dengan mudik lebaran ke tempat mertua di Madiun dan orangtua saya di Kediri. Hal ini membuat perjalanan dari Jakarta ke Bali pun enggak terlalu terasa jauhnya. Lantaran saya singgah di beberapa tempat dulu sebelumnya.

Lalu, sudah puas belum setelah 5 hari berwisata di Bali?

Beluuuuum!! πŸ˜€

Maunya datang lagi dan lagi nanti! hihihi


Launching dan Review Buku Mona Ratuliu: Digital ParenThink - Tips Mengasuh Kids Zaman Now



"Setelah lulus SD, Mima saya izinkan menggunakan smartphone. Ternyata sejak itu dia sibuk sendiri dan mulai tidak suka berkegiatan selain aktivitasnya mengutak-atik smartphonenya. Dari situ saya tahu bahwa ketika Mima memiliki smartphone sendiri, risikonya terlalu besar. Akhirnya saya mengambil keputusan untuk menghentikan penggunaan smartphone padanya dan mengganti dengan ponsel biasa..." (Mona Ratuliu)

Jlebbbb!!πŸ˜‘


Saya dan Makna Kata Merdeka




"....Indonesia Raya, Merdeka Merdeka...Tanahku negeriku yang kucinta, ...Indonesia Raya, Merdeka Merdeka...Hiduplah Indonesia Raya!"

Saya masih mendendangkan syair lagu kebangsaan Indonesia Raya dengan khidmatnya. Sementara, bulir-bulir air mata menetes di pipi diiringi isak yang tak terbendung lagi. Dan ternyata saya tak sendiri. Di sekitar, saya dengar lagu karya WR Soepratman ini disuarakan dengan gemetaaar....

Suasana begitu syahdu. Hampir tak ada suara lain selain lirik bernada semangat kebangsaan yang mengalun mengiringi bendera merah putih yang dikibarkan oleh tiga orang teman. Bendera sederhana yang berukuran sedang saja dengan tiang besi biasa. Petugasnya pun hanya berpakaian keseharian dengan merah dan putih warna nuansanya. Peserta upacara pun sama, semua berbusana tema Hari Merdeka. Tak ketinggalan warna merah putih ini juga mendominasi hiasan tempat upacara dalam aneka balon, pita dan bendera.

Jangan bayangkan saya sedang berada di sebuah lapangan dengan susunan upacara yang dengan matang direncanakan. Bukan pula dilengkapi formasi petugas yang rapi jali layaknya pasukan pengibar bendera alias paskibra yang asli.

Arti Kemerdekaan Bagi Saya

Ya, saya hanya mengikuti upacara pengibaran bendera sederhana yang diadakan di halaman belakang sebuah rumah tinggal di kawasan Mandeville, negara bagian Louisiana di Amerika.

Saat itu, tepatnya hari minggu, tanggal 22 Agustus 2010, selang 5 hari dari tanggal 17 Agustus dimana diperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI.

Memang, peringatan musti dimundurkan, diambil pada hari Minggu, agar masyarakat Indonesia yang tinggal di sekitarnya bisa menghadiri acara itu.

Akhirnya, sekitar 70 orang, pria, wanita, tua muda, bisa mengikuti rangkaian kegiatan dari upacara pengibaran bendera, beraneka lomba dan ditutup dengan makan siang bersama.

Sebuah peringatan yang idenya murni dari teman-teman dan didanai sendiri secara mandiri. Maka tak heran jika suasana begitu haru....Bahkan dari barisan ibu-ibu, terdengar suara sesenggukan selama menyanyikan lagu.


Arti Kemerdekaan Bagi Saya

Hal ini wajar, mengingat sebagian besar hadirin adalah warga Indonesia yang sedang menempuh studi (seperti suami saya), pekerja yang bekerja temporary di sini ataupun mereka yang sudah menetap di Amerika karena bekerja atau ikut suami yang warga sana.

Semua peserta upacara dengan latar belakang berbeda, hanyut dalam rasa rindu akan tanah air tercinta yang berada ribuan kilometer jaraknya. Memaknai Hari Merdeka dengan berkumpul bersama saudara sebangsa dan setanah air dengan gembira.

Tapi sebenarnya, sudahkah saya, peserta upacara dan teman-teman  yang sedang membaca artikel ini merasa sudah merdeka juga?

Sejatinya, apa makna merdeka bagi kita? Apakah dengan tinggal di negeri yang sudah 73 tahun merdeka sudah pasti rakyatnya merasakan kemerdekaan juga..?

Arti Kemerdekaan Bagi Saya

Hmm..pertanyaan yang bisa saja mendapatkan jawaban yang berbeda-beda dari masing-masing kita.

Baiklah, sebelum menjawabnya, yuk mariii coba kita gali dulu arti kata merdeka menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia!

Kata merdeka, pada KBBI memiliki 3 arti, yakni:
  • bebas (dari perhambaan, penjajahan); berdiri sendiri
  • tidak terkena atau lepas dari tuntutan
  • tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu; leluasa

Nah, dari tiga arti itu, mari kita coba telaah satu per satu:

BEBAS

Merdeka berarti bebas. Dan, benar adanya jika kita warga Indonesia sudah bebas dari penjajahan. Setelah para pahlawan berhasil mengusir Belanda yang betah sekali selama 3,5 abad hahahihi mengusai negeri tercinta ini. Juga memaksa Jepang yang 3,5 tahun sok-sokan jadi tuan, untuk angkat kaki kembali menikmati matahari terbit di negerinya sendiri.

Tapi, apakah semua warga sudah bebas murni dari penjajahan di era merdeka ini? Sepertinya belum. Karena masih ada istri yang "dijajah" suaminya (atau sebaliknyaπŸ˜‘). Ada atasan yang jadi penjajah bawahannya. Juga, banyak pekerja yang bekerja bagai budak di rumah majikannya...Ah, kalau begini sepertinya memang kita belum sepenuhnya merdeka!

LEPAS

Merdeka itu artinya lepas. Dimana memang benar adanya, Nusantara sudah lepas dari belenggu penjajahan bangsa lain yang mengambil paksa kekayaan tanah air tercinta. Yang menjadikan rakyat Indonesia matian-matian bekerja paksa untuk kemakmuran negeri mereka. Dan menindas negara kita agar menuruti semua aturan yang ditentukannya.

Namun, sudahkah kita semua lepas dari belenggu penindasan yang sesungguhnya? Coba kita amati dengan seksama, bisnis ritel yang dikuasai asing, misalnya. Atau industri hiburan yang didominasi tayangan dari negerinya Kim Kardashian, drama Korea juga sinetron India....Sementara orang Indonesia memilih untuk bikin "drama" di sosial media. Hiks! Jadi, sudah bisakah itu dikatakan lepas dari belenggu? Sepertinya sih masih jauh dari itu!


LELUASA

Merdeka itu maknanya leluasa berbuat atau bertindak dengan sesuka hati. Dan, memang bebar adanya, sejak diproklamasikan kemerdekaan oleh proklamator kita Soekarno-Hatta, Indonesia sudah leluasa untuk menentukan sendiri nasibnya. Tak perlu lagi minta ijin sama Kompeni untuk memilih apakah mau bikin Undang-Undang yang begitu atau begini. Juga, leluasa memutuskan apa yang terbaik buat kesejahteraan rakyatnya.

Tetapi, nyatanya rakyat Indonesia kini belum seleluasa itu. Warga miskin belum leluasa memanfaatkan fasilitas kesehatan yang memadai. Pendidikan murah yang berkualitas belum leluasa dinikmati oleh generasi penerus bangsa ini. Dan, sarana prasana belum leluasa dirasakan rakyat di seluruh pelosok negeri. 


Arti Kemerdekaan Bagi Saya

Ups...πŸ’¬

Jadi sebenarnya sudah merdeka belum kita?

Kalau saya yang ditanya sih, akan menjawab SUDAH!

Saya sudah MERDEKA!!


Karena makna merdeka menurut saya adalah, jika saya:

  • Bebas menjadi diri sendiri
Saya bukan tipikal pengagum seseorang secara berlebihan. Saya bukan anggota Aytinglicious, Slankers atau Afganisme. Juga bukan pecandu sesuatu, misalkan merek baju, tas atau sepatu tertentu, hingga menghalalkan segala cara untuk mendapatkan itu

Saya memilih menjadi diri sendiri, dengan gaya yang sampai kini pun saya enggak yakin berkiblat kemana. Pun, untuk hobi yang saya pilih untuk ditekuni. Ketika saya memutuskan untuk serius nulis, saya tetap membawa gaya penulisan saya. Saya enggak mau niru siapa-siapa, karena masing-masing kita punya gaya bercerita yang personal sifatnya. Dan, ini semua, artinya merdeka bagi saya!
  • Bebas berekspresi
Kini, saya bisa mengekspresikan apa isi kepala melalui tulisan, foto maupun video di akun sosial media dan rumah maya yang saya miliki. Bagi saya, ini adalah sebuah kemerdekaan. Karena saya jadi bebas beropini, berimajinasi, berkreasi serta berbagi informasi pada sesama yang membutuhkan.
  • Bebas menentukan pilihan
Sebagai warga negara, beda dengan jaman dulu, kini saya bebas mau pilih partai berwarna merah, kuning, hijau atau biru. Enggak ada yang memaksa pun mengancam hidup saya. Bahkan berbeda pilihan dengan tetangga, teman bahkan pasangan pun sah-sah saja. Berarti, ini merdeka juga, kan?

Arti Kemerdekaan Bagi Saya
Panitia peringatan HUT RI ke-65, tahun 2010 

  • Bebas menjalani hidup
Enggak kebayang andaikata saya tinggal di negara yang gaya rambut, warna baju bahkan senyum warganya diatur, seperti di Korea Utara. Hadeeeh! Bisa-bisa hidup yang sudah berat ini semakin terasa gawat. Terbayang tekanan hidupnya, pasti warbiyasaaah! 

Alhamdulillaaaah, saya tinggalnya di Indonesia. Dimana kalau mau pakai baju warna-warni bagai pelangi juga monggo saja. Juga, meski harga telur naik turun bikin helaan napas memanjang saat belanja sayur, tapi enggak ada yang ngatur harus tersenyum datar atau lebar di akun sosial media saya.

  • Bebas dari ketergantungan
Saya bukan perokok, peminum alkohol atau pengguna obat terlarang. Saya juga tidak sedang kecanduan game online, judi online, belanja online dan perilaku impulsif lainnya. Dan ini semua, merdeka juga artinya bagi saya! 

  • Bisa mengalahkan diri sendiri
Sejatinya penjajah utama kita adalah diri kita sendiri. Seringkali kemalasan datang membayangi di setiap langkah kaki. Kekhawatiran acapkali memburu saat kita ingin menjadi diri yang lebih baik dari dulu. Dan, ketakutan mendatangi sehingga membuat kita memutuskan mundur dan bahkan pergi. Saya merasa merdeka karena makin hari telah bisa mengalahkan diri untuk menjadi lebih baik lagi. 

Bukankah, pepatah mengatakan: menaklukkan banyak orang belum tentu disebut sebagai pemenang, tetapi mampu mengalahkan diri sendiri, itulah yang disebuat penakluk gemilang?

Arti Kemerdekaan Bagi Saya
Peringatan HUT RI ke-64, tahun 2009 di Fontainebleau State Park, Mandeville, LA


Akhirnya, bagi saya, sebenarnya MERDEKA itu maknanya kita sendiri yang ciptakan. Tak perlu menjadikan standar kemerdekaan orang lain ke diri kita. Karena situasi dan kondisi yang berbeda. 

Juga, jangan terus menjadikan ukuran kemajuan bangsa lain yang sudah ratusan tahun merdeka sebagai pembandingnya. Ingat jika kita masih dalam proses menuju ke sana.

Jadi, daripada terus-terusan membandingkan, lebih baik jadikan acuan untuk menyemangati diri agar bangsa kita bisa sampai di titik yang sama atau bahkan menyalipnya.

Yuk, terus semangat menebar manfaat!

Mari jadi warga negara yang tak hanya ingat hak tapi juga sadar akan kewajiban demi mendukung suksesnya pembangunan dan kemajuan Indonesia!

Nah, kalau bagi teman-teman apa makna kemerdekaan?

Makna kata merdeka
Juara bertahan lomba makan kerupuk tingkat RT


Salam Merdeka!!

Dian Restu Agustina



























Review Buku: Jadi Ibu Terbaik Siapa Takut?





Judul Buku: Jadi Ibu Terbaik Siapa Takut?
Penulis: Srie Ningsih
Kategori: Non Fiksi (Parenting)
Penerbit: Bitread Publishing
Terbit: 2018
Jumlah Halaman: 178
ISBN: 978-602-5804-069
Harga: Rp 61.000,00

"Ibu adalah segalanya - dia adalah hiburan dalam kesedihan kita, harapan dalam penderitaan dan kekuatan dalam kelemahan. Dia adalah sumber cinta, kasih sayang, simpati dan ampunan. Orang yang kehilangan ibunya telah kehilangan jiwa murni yang selalu memberkati dan melindunginya." (Kahlil Gibran - hal 149)

Srie Ningsih


Seorang perempuan, setelah menikah akan berubah statusnya dari gadis menjadi seorang istri. Dimana perubahan status ini acapkali memerlukan waktu tersendiri untuk beradaptasi. Baik itu dengan laki-laki yang menjadi pasangan hidupnya, keluarga besar suami yang kini menjadi keluarga barunya dan segala hal tentang pernak-pernik rumah tangga lainnya.

Kemudian, jika Allah berkehendak, tak lama status istri itu bertambah lagi dengan status baru, yaitu menjadi seorang Ibu. Dan,...tantangan dari sebutan baru ini, makin banyaaak pasti!!

Diantaranya, jika perempuan ini bekerja di luar rumahnya, maka ia harus pintar-pintar membagi waktu agar bisa mengurus rumah tangga dengan tetap profesional pada pekerjaannya. Sedangkan jika ia bekerja di rumahnya, tentunya akan berhadapan dengan segambreng pekerjaan di keseharian yang rasanya seperti tak ada habis-habisnya. πŸ˜‘

Lalu, sulitkah itu? Tentuuuu...!!

Tapi jika semua ini dijalani dengan keikhlasan hati, mendapat dukungan full dari suami, juga disertai semangat untuk terus meningkatkan kualitas diri, Insya Allah semua akan berjalan dengan baik dari hari ke hari. 😍

Srie Ningsih

Apalagi di era digital seperti sekarang ini, para ibu tak perlu pusing lagi jika ingin mempelajari beraneka ilmu pola asuh anak alias parenting. Karena, banyak buku dan majalah yang mengupasnya, berjuta informasi terbagi secara online di gawai kita, bertaburan tayangan ada di layar kaca, juga beragam pelatihan, seminar dan diskusi tersedia melengkapinya. Itu semua masih ditambah lagi dengan begitu banyaknya komunitas ibu-ibu yang bisa menjadi tempat untuk bertukar pikiran dan berbagi pengalaman sehingga seorang ibu tak lagi merasa sendirian.

Nah, melengkapi buku-buku parenting yang sebelumnya telah ada, hadir sebuah buku yang layak jadi tempat berburu ilmu bagi para ibu.

Buku itu berjudul "Jadi Ibu Terbaik Siapa Takut?" karya Srie Ningsih yang diterbitkan oleh Bitread Publishing baru-baru ini.


Srie Ningsih

Sebuah buku setebal 178 halaman yang mengupas beragam sisi kehidupan perempuan yang awalnya didominasi urusan domestik saja sedangkan kini sudah berkembang dengan pesatnya sehingga bisa berkarya di semua lini kehidupan masyarakat yang ada.

Sehingga, penulis yang memakai istilah ibu yang bekerja di rumah dengan sebutan Ibu Rumah Tangga Murni dan ibu yang bekerja di luar rumah dengan Ibu Rumah Tangga Bekerja, menjabarkan beberapa alasan kenapa seorang ibu memilih salah satu diantaranya.

Karena bagi penulis, apa pun pilihannya, keduanya sama baiknya. Sama-sama memiliki konsekuensi yang musti dihadapi dan mempunyai dampak positif maupun negatif baik bagi diri sendiri, suami, anak dan  masyarakat sekitarnya.

Juga, kedua pilihan memerlukan persiapan yang matang diantaranya: persiapan mental dan keyakinan, fisik, visi, pengaturan waktu, kreatifitas, kemampuan berkomunikasi dan masih banyak lagi.

Srie Ningsih

Buku ini juga menjabarkan tentang tips untuk menjadi Ibu Terbaik yang berperan tak hanya sebagai Menteri Pendidikan, Manajer, Menteri Keuangan, Psikolog, Sahabat, Dokter, Koki, Baby Sitter, Sopir/Ojek, Bodyguard, Tukang dan peran lainnya di rumahnya.

Selain itu, secara tuntas juga ada serangkaian langkah yang dituliskan berdasarkan pengamatan, penelitian dan pengalaman penulis dalam menjalani kehidupan rumah tangga secara mandiri.

"Seorang Ibu tidak pernah berpikir apa yang dia dapatkan dari anak-anaknya, tapi dia selalu bertanya, apa yang bisa dia berikan untuk anak-anak dan keluarganya." (Srie Ningsih - hal 42)

Uniknya lagi, dalam buku bersampul dominasi warna biru ini, ada beberapa cerita dari para ibu hebat baik dari Indonesia maupun Mancanegara yang berbagi pengalaman bagaimana mereka melakoni peran sebagai Ibu dengan segala tantangannya.

Misalnya, ada Tri Veterani, seorang Ibu yang juga pramugari maskapai penerbangan yang berkedudukan di Jeddah, Arab Saudi. Dimana dikatakan, ia sangat bersyukur dengan kemudahan teknologi saat ini yang sangat membantunya untuk berkomunikasi dengan keluarga meski terpisah ribuan kilometer jaraknya. (hal 138)

Srie Ningsih

Ada juga, Manikarori Rosky di Kuala Lumpur yang menyampaikan bagaimana ia bangun lebih pagi agar bisa menyiapkan sarapan dan pergi ke kantor dengan LRT serta menyerahkan pengurusan domestik pada asisten rumah tangga yang bekerja secara part time. Tapi, ia masih bisa membimbing sendiri anaknya belajar, berbisnis online dan belajar menulis.(hal 140)

Tak ketinggalan pula kisah dari negeri sendiri, dimana ada Dwi Astuti yang tinggal di Tangerang dan berprofesi sebagai guru. Ia tidak memiliki asisten rumah tangga, sehingga pekerjaan sehari-hari disiasati dengan melibatkan anak-anak untuk bersama-sama menyelesaikannya.(hal 141)

Kemudian agar seimbang, ditampilkan pula pendapat anak-anak tentang ibunya, diantaranya, Chusnul, 17 tahun, yang curhat: memang anak butuh materi, tetapi hati mereka jauh lebih butuh sentuhan dari ibunya. Anak juga ingin bercerita tentang harinya yang lelah, tapi saat anak ingin bercerita sang ibu masih sibuk bekerja dan akhirnya si anak memendam perasaannya sendiri. (hal 151)

Srie Ningsih

Lain lagi dengan komentar  Edwina, 19 tahun, yang beranggapan Mamanya super banget. Meski saat kecil memang sedih kalau ditinggal Mamanya bekerja, tapi ia merasa bangga punya Mama bekerja dan berpengalaman banyak. Ia juga merasa Mamanya selalu ada saat ia membutuhkannya, bahkan ketika ia tinggal jauh dari rumah untuk kuliah Mamanya selalu rutin meluangkan waktu untuk mengunjunginya. (hal 153)

Sementara, tanggapan anak yang ibunya bekerja di rumah misalnya disampaikan oleh Fachrurozi, yang mengatakan ia bahagia dapat melihat senyum indah Mamanya di setiap hari karena Mamanya selalu ada menemani. (hal 154)

Lalu, buku ditutup oleh penulisnya dengan bahasan Ibu Juga Manusia. Dimana, dikatakan bahwa dalam pengabdian untuk orang-orang tercinta, tentu seorang ibu masih punya banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Bahkan kadang sikap kondisionalnya pasti ada dan tidak luput dari salah dan khilaf yang tidak disengaja. Tapi hal ini manusiawi karena nyatanya Ibu Juga Manusia.

Juga, ibu rumah tangga murni maupun bekerja masing-masing punya tugas dan tanggung jawab yang harus diselesaikan. Sehingga apapun pilihan, yang paling penting lakukan semua tugas dengan sebaik mungkin dan penuh tanggung jawab. (hal 175)

Srie Ningsih

Sungguh, buku ini lengkap mengulas tentang apa dan bagaimana menjadi Ibu Terbaik bagi anak-anaknya. Penjabaran disertai alasan, referensi penelitian, pengamatan dan berdasarkan pengalaman, yang bisa jadi bahan acuan bagi ibu-ibu untuk menjadi Ibu terbaik disesuaikan dengan pilihan masing-masing, apakah menjadi Ibu Rumah Tangga Murni ataukah Ibu Rumah Tangga Bekerja.

Lay out yang simpel dengan tulisan rapi nyaris tanpa kesalahan pengetikan membuat buku nyaman dibaca kapan dan dimana saja.

Hanya saja, barisan kata-katanya tidak diselingi tampilan ilustrasi, gambar, foto atau pemakaian huruf yang berbeda. Coba ada, pasti saat baca lebih enak rasanya.πŸ˜‰

Akhirnya, buku ini recommended jadi bacaan bagi calon ibu, ibu baru maupun yang sudah lama menjadi ibu. Karena berisi banyak informasi yang berguna untuk lebih memantaskan diri menjadi ibu yang lebih baik lagi.

Nah, yang ingin memiliki atau memberi kado istimewa untuk istri, silakan langsung pesan buku ke penulisnya di akun FB Srie Ningsih yaaa..

Jadi Ibu Terbaik, Siapa Takut?

Srie Ningsih


Happy Mommy, Happy Family


Dian Restu Agustina














Pantai Pandawa dan Keseruan yang Enggak Ada Habisnya!


Temans,

Sekedar pengumuman, ini adalah lanjutan cerita saya, saat liburan ke Bali di bulan Juli. Jadi jangan bosan yaa, karena ceritanya memang belum habis-habis juga hahaha...

Then mengingatkan saja, saya dan keluarga awalnya sampai di Lovina, lanjut ke Bedugul, terus nginep di Kintamani , lalu ke Pura Besakih (ini skip dulu ceritanya πŸ˜€) dan terakhir stay di Jimbaran.

Nah, itinerary yang padat ada saat di Jimbaran ini. Karena saya tak hanya ingin berwisata saja, tapi juga ingin bernostalgia ke kampus tercinta dan tempat bekerja.

Tujuannya sih bukan hanya untuk mengenang mantan masa lalu, tapi lebih pada ingin menunjukkan anak-anak akan riwayat sang Ibu.😍


Umiversitas Udayana

Nah, tujuan awal yang terjadwal di hari pertama adalah: Kampus Universitas Udayana tempat saya menuntut ilmu jaman unyu-unyu dulu. Gimana enggak unyu coba, sudah 24 tahun yang lalu lho ternyata.

Yups, saya masih ingat saat tahun 1994, dijemur di depan rektorat bareng sekian ribu mahasiswa baru.

Jadi, saya sudah t-u-a berarti! Hiks!

Ah, abaikan usia, semangat yang paling penting! Apalagi kalau untuk urusan traveling! kwkwkw

Nah setelah puas bernostalgia di Kampus Udayana, di cerahnya udara Bali, kami langsung cuss ke next destinasi, Pantai Pandawa yang terletak di Desa Kutuh, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali.



Sejatinya saat pertama browsing lokasinya, saya agak enggak percaya. Dulu, jaman tinggal di sekitar Kampus Udayana-Bukit Jimbaran, saya dan teman-teman sering jalan-jalan ke pantai di sekitar. Saya ragu apakah yang saya kunjungi waktu itu adalah Pantai Pandawa ini. Karena dulu daerah Ungasan ini areanya berbukit kapur, panas, kering dan tandus. Sehingga kalau mau ke pantai musti mendaki bukitnya dulu. Karena pantai yang indah berada di balik bukit itu.

Maka, ketika GPS kami sudah mengarah ke lokasi dan kendaraan mulai memasuki gerbang masuknya, saya pun terperangah jadinya...

Masya Allah, ini dulu bukit kapur lho....! Bukitnya sekarang dibelah jadi jalan. Sehingga akses ke pantai pun mudah, mulus dan langsung tembus!

Kereeen!

Pantai di Bali


Pantai di Bali


Sesampainya di gerbang yang bangunannya diselaraskan dengan warna perbukitan, saya membayar tiket masuk sebesar 8.000/orang dan 5.000 untuk biaya parkir kendaraan.

Berdasarkan keterangan singkat yang ada pada tiketnya, ternyata Pantai Pandawa dinamai begitu karena dilatarbelakangi sejarah warga sekitarnya.

Disebutkan bahwa dulunya kawasan Pantai Pandawa dikenal dengan nama Pantai Penyekjekan. Perubahan nama menjadi Pantai Pandawa dilandasi pada spirit dari kisah pengasingan Panca Pandawa selama 12 tahun ke hutan dan goa gala-gala. Kisah ini sejalan dengan perjuangan kehidupan masyarakat adat Kutuh yang selama kurun waktu 1997 dampai 2010 membelah tebing untuk melepaskan diri dari keterpinggiran dan keterasingan kehidupan.

Akhirnya, mulai tahun 2012 kawasan ini dinyatakan sebagai kawasan wisata untuk dapat dikunjungi oleh masyarakat umum. Dengan penamaan Pandawa pada pantainya, diharapkan spirit cahaya perjuangan Panca Pandawa yang telah menyinari kehidupan masyarakat Adat Kutuh dapat bermanfaat juga untuk dunia.

Begitu cerita yang tertulis di balik tiketnya.

Salut buat semangat warga Desa Kutuh, yaa! Hebaat!

Pantai Pandawa Bali


Pantai di Bali

Pantai Pandawa


Setelah menyusuri jalanan yang membelah perbukitan dan melewati proyek pembangunan di sisi kiri kanan, nampaklah mata saya ke birunya lautan di kejauhan.

Dari atas, air laut yang tenang nampak luas terbentang setelah saya melewati tulisan besar penanda PANTAI PANDAWA.

Sesudah melewati kelokan pertama, saya menjumpai deretan pahatan patung besar di dalam cekungan-cekungan yang dibuat di sisi kiri. Keenam patung tersebut secara berurutan diberi penjelasan nama Dewi Kunti, Dharma Wangsa, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa.

Lalu pengunjung akan diarahkan turun ke parkiran yang luas dengan beberapa balai tempat bersantai. Di sisi tempat parkirnya, saya menjumpai sebuah mercusuar yang berpapan nama Papan Suar Pandawa milik Dirjen Perhubungan Laut, Kementerian Perhubungan.



Pantai Pandawa Bali

Pantai Pandawa Bali

Menuju ke pantai, sebelum memasuki areanya, terlihat berjajar penjual makanan dan minuman serta souvenir yang menempati kios-kios yang tertata.

Di depan deretan warung itu, ada berbaris kursi pantai yang bisa disewa dengan biaya 50 ribu/3 jam. Jika ingin sunbathing, cukup tutup payung yang berada di atas kursinya.

Tapi jika sudah merasa hitam (seperti saya) lebih baik tetap dibuka payungnya. Karena khawatirnya pulang liburan para tetangga enggak ngenali lagi nanti...hihihi.

Lalu setelah itu, sampailah kaki saya di pasir putih Pantai Pandawa yang lembuuuut teksturnya. Arah pandang menyapu luas ke seputaran, mengelilingi semua sudut, lalu memandang jauh ke arah samudera seraya mengirup udara segarnya.....!!

Aahh, Bali memang pantainya juwaraaa! Bikin segar jiwa raga!

Dan di saat sedang terbengong-bengong mensyukuri lukisan Illahi, saya ditawari main kano oleh seorang bapak yang menenteng life vest di tangannya.

Sewa kano ini biayanya 50 ribu/jam sudah termasuk pelampung yang disediakan. Satu kano maksimal bisa untuk 3 orang. Tapi, melihat saya datang berempat bersama dua anak, kata si Bapak sih bisa saja berempat juga..

Pantai Pandawa Bali


Pantai Pandawa Bali

Pantai Pandawa Bali

Akhirnya kami berempat main kano, bergantian mendayung ke arah gugusan karang yang ada sekian puluh meter dari pinggir pantai.

Oh ya, Pantai Pandawa ini relatif aman karena letak bibir pantai yang enggak langsung berhadapan dengan ombak. Sebab ada gugusan karang yang membuat ombak pecah saat belum sampai ke pantai.

Tak lama, capek dayung, saya memilih minggir dan menunggu sambil santai di pinggir pantai. Sementara anak-anak dan Bapaknya main kano sepuasnya.

Beberapa pengunjung nampak ada yang berkano juga, bermain air, atau sekedar duduk-duduk menikmati hembusan angin dari arah lautan. Suasana memang belum terlalu ramai karena hari masih pagi. Jadi pengunjung belum sesak sekali.

Pantai Pandawa


Pantai Pandawa Bali

Pantai Pandawa Bali

Puas main kano dan lanjut main air di laut, anak-anak maunya saya ajak pulang. Karena sebenarnya, Pantai Pandawa jadwalnya dikunjungi paling lama dua jam saja.

Tapi apa daya, aura cantiknya, desir halus ombak dan suasana nyaman membuat hati enggan pergi. Sehingga bikin anak-anak, saya dan suami masih betah di sini. Jadilah, kami lanjutkan dengan bermain pasir sambil bebaringan plus jejemuran..πŸ˜€

Dalam rangka main pasir ini, dari Jakarta saya memang sudah sedia beach toys set buat si adikbiar setiap ke pantai enggak beli lagi (Ibuk irit ini kwkwk).

Tapi kalaupun kelupaan bawa peralatan, mainan ini bisa dibeli di deretan kios yang ada di sini.

Pantai Pandawa Bali

Pantai Pandawa Bali

Pantai Pandawa Bali


Makin siang, ketika sang surya makin terik sinarnya, akhirnya anak-anak (dan Bapaknya) mau mentas juga.😁

Karena stock baju bersih yang habis dan masih di laundry di penginapan tadi, maka saya pun membelikan dulu anak-anak baju di kios yang ada di situ.

Sekalian beli baju, kami duduk-duduk sambil makan mie, rujak buah dan minum es kelapa muda...Segarnya!!

Oh ya, harga makanan dan minuman standar saja, enggak mahal untuk ukuran tempat wisata. Bajunya murah juga. Enggak pakai nawar, satu stel celana pantai+kaos Bali untuk si Adik 50 ribu. Sedangkan untuk si Mas dan Bapaknya masing-masing 70 ribu.

Di beberapa warung ini juga tersedia toilet jika ingin membilas diri. Sedangkan pancuran bilas untuk umum ada di depan deretan warung.


Dan ketika, pengunjung yang datang makin ramai saja, sementara perut sudah kenyang terasa, akhirnya saya dan keluarga pun beranjak dari Pantai Pandawa.

Puas rasanya! Bahkan, ketika sampai di Jakarta dan anak-anak ditanya, saat ke Bali paling suka kemana, mereka kompak jawabnya: Pantai Pandawa!

Nah, berikut tips jika ingin mengunjungi Pantai Pandawa ini:

  • Pantai Pandawa terletak di sisi Utara pulau Bali, dimana dengan arah menyerong kita bisa menikmati sunrise yang (kabarnya) cantik sekali. Sayang memang saya enggak sempat menikmatinya, karena pergi sama anak-anak dan Bapaknya sulit buat pergi pagi-pagi sekali.
  • Kalaupun enggak lihat sunrise, datang di pagi/sore hari, karena agak siang matahari terik di sini
  • Ingat bawa baju ganti karena kalau enggak masuk ke air: r-u-g-i!
  • Sewa kano saja dan puas-puasin dayung sini sana. Tapi, jangan lupa pakai pelampungnya dan jangan terlalu jauh mendayungnya.
  • Pepotoan dengan beragam posisi karena viewnya cantik dari semua sisi
  • Jika ajak anak-anak, bawa peralatan bermain pasir
  • Kalau mau jejemuran, tabir suryanya jangan kelupaan
  • Makanan dan minuman terjangkau harganya, jadi enggak bawa perbekalan pun enggak apa-apa.
  • Coba beli rujak dan es kelapa muda... Segarnyaaa!
  • Meski ada life guard yang berjaga, lebih baik tetap berhati-hati semua dan awasi selalu anak-anak kita.
  • Hati-hati ambil spot selfie. Pose di atas bukit berbatu memang oke punya, tapi nyawa taruhannya!
  • Beli souvenir di kios yang ada di Pantai Pandawa, murah meriah..Kalau enggak bawa baju ganti, beli saja di sini.
So, jika teman-teman lagi butuh the real Vitamin Sea saat ke Bali, datang saja ke Pantai Pandawa ini!😍

Pantai Pandawa Bali


Selamat Berwisata,


Dian Restu Agustina