Serunya Perjalanan Selama 36 Jam Bersama Bayi 2,5 Bulan


Travel changes you!

Saya setuju sekali dengan kutipan itu. Sebuah perjalanan memang bisa merubah cara pandang seseorang. Membuat orang lebih mensyukuri apa yang dipunyai. Menumbuhkan penghargaan pada keanekaragaman yang ada di sekitarnya. Memberikan pelajaran hidup yang tidak akan didapatkan dari bangku sekolah mana saja. Dan, membuat diri lebih mau terbuka menerima segala perbedaan yang ada di dunia.

Maka, tak heran jika ada orang yang baperan, mudah marah dan selalu berpikiran negatif, sering dikatai "kurang piknik!"πŸ˜€

Nah, apakah travel juga banyak merubah saya? Tentu saja iyaa..!

Lantaran pada setiap perjalanan yang saya lakukan, selalu ada tambahan pengalaman. Hal ini membuat saya semakin hari menyikapi segala sesuatu dengan pikiran yang lebih terbuka dari sebelumnya.

Lalu, manakah diantara perjalanan itu yang paling seru?

Hmm, sebenarnya sih hampir semua seru ya....! Tapi yang paling seruuuu adalah saat saya sekeluarga berangkat ke Amerika pada tahun 2009. Dimana suami saya mendapatkan bea siswa untuk menempuh program MBA di sana. 

Setelah melewati berbagai proses seleksi selama beberapa bulan yang melelahkan, pengumuman final keluar di saat saya sedang hamil 5 bulan. Perasaan bahagia campur bingung pun melanda! Karena berarti usia si baby baru sekitar 2 bulan ketika berangkat nanti.

Riskan sekali membawa bayi umur sekian dalam perjalanan panjang by plane selama puluhan jam. Apalagi saya harus melakukan persalinan secara sesar karena didiagnosa plasenta previa. Tapi, kalau saya musti nyusul sendiri nanti, berarti juga lebih repot lagi. Bawa seorang bayi dan kakaknya yang masih balita. Belum lagi barang bawaannya. Halah, membayangkan saja pusing kepala saya! Hadeeh, musti gimana ya? Hiks!

Akhirnya, setelah dipertimbangkan sana-sini, saya dan suami pun memutuskan berangkat bersama dan menghadapinya dengan senyum ceriaaaa! Masa iya sudah dapat rejeki 2 tahun bisa sekolah dan tinggal di Amerika enggak ada rasa syukurnya...Ya, enggak?

Jadilah pulang dari rumah sakit, dua minggu kemudian saya sudah wara-wiri sana-sini. Mengajak si Adik urus paspor, wawancara visa Amerika, belanja segala keperluan dan berbagai urusan lainnya. Memang, semuanya diurus sendiri oleh suami dan saya membantu sebisanya.

liputan6
ikut acara pengajian di bulan kedua kedatangan di Amerika
Hingga, di satu malam, saya, suami dan dua anak kami sudah berada di kursi penumpang ekonomi pesawat Singapore Airlines untuk terbang dari Bandara Soekarno Hatta menuju George Bush Intercontinental Airport di Houston, TX. Untuk selanjutnya akan menuju New Orleans, kota tempat Tulane University, kampus yang dituju suami nanti.

Kami berangkat dari rumah di Jakarta Barat dengan memakai taksi. Bersama seorang balita berusia 4,5 tahun, bayi berumur 2,5 bulan dan barang bawaan 2 koper besar, 2 ransel, 1 tas laptop dan 1 tas bayi.

Sebelumnya, saya memastikan bayi saya sehat dan diijinkan terbang oleh dokter anak. Juga, memeriksakan kondisi saya pasca operasi sesar yang Alhamdulillah oke-oke saja. Syukurnya pula produksi ASI lancar jaya hingga saya merasa lebih yakin kalau semua akan baik-baik saja. Pokoknya Bismillah dah bekalnya...

Perjalanan pertama, Jakarta-Singapura, relatif aman. Pesawat yang nyaman dan badan yang masih segar membuat kami masih merasa enjoy di perjalanan.

Sayangnya, karena kami harus menunggu segala dokumen selesai dan baru bisa pesan tiket, maka enggak bisa memilih tempat duduk lagi di semua penerbangan ini. Biasanya penumpang yang membawa bayi akan ditempatkan di kursi deretan paling depan dan akan diberikan bassinet (tempat tidur lipat untuk bayi berbentuk kotak yang dapat ditempelkan di dinding depan tempat duduk). Tapi karena beberapa kursi yang dimaksud sudah fully booked, jadilah saya dapat kursi deret belakang sehingga di sepanjang perjalanan si Adik saya gendong saja.

Transit di Singapura selama 2 jam, kami pakai untuk meregangkan badan dengan berjalan-jalan di bagian dalam Changi Airport yang keren itu. Saya yang sedari tadi menggendong si Adik, meluruskan badan dengan melakukan senam ringan. (Pegel juga tangan euyy!) Dia juga saya rebahkan di kursi tunggu yang empuk itu.

liputan6
Berburu salju ke Minneapolis, MN
Selanjutnya, perjalanan kedua. Singapura-Moscow selama sekitar 10 jam pun siap di depan mata. Separuh dari rute ini adalah saat malam hari (waktu Jakarta). Sehingga dua anak saya lebih banyak tidurnya daripada terjaga. Lumayan, Ibunya bisa ikutan merem juga.

Meski waktu tidur, saya berusaha tetap makan setiap dibagikan makanan. Karena saya enggak mau nanti produksi ASI jadi berkurang. Setiap si Adik mulai rewel langsung saya kasih ASI. Alhamdulillah, mudah dan murah!

Tapi, itu kadang enggak mempan sesekali. Sepertinya dia kecapekan juga dengan posisi tidurnya. Meski mendapat kursi dengan 3 dudukan, karena si Mas tidurnya bergaya ala-ala akhirnya saya dan adiknya yang sering ngalah akan tempatnya. Dipisahkan lorong, suami ada di deretan tengah dan sesekali akan memangku si Adik menggantikan saya.

Saya kadang juga menggendong si Adik dan berjalan-jalan atau berdiri di sekitar toilet dimana ada ruang untuk sekedar mengayun-ayun dia dan berdendang kecil untuknya.

Syukurlah, semua cabin crew sangat membantu. Saya secara berkala ditanya apakah baik-baik saja. Juga apakah mau camilan ini itu. Busui dengan balita dan bayi ini, merasa diperlakukan istimewa jadinya. Meski berada di kelas ekonomi tapi layanan berasa di kelas bisnis saja. Heuheu, thank you cabin crew!

walt disney orlando
World Disney Orlando - Florida
Sementara, saat si Mas juga mulai rewel juga, tugas Bapaknya lah yang ngajak jalan-jalan dia. Boring juga dia meski inflight entertainment menyediakan pilihan beragam movies, TV, music, games tersaji di depannya. Maklumlah, kalau moda pesawat memang banyak mati gayanya. Beda dengan berkendara dengan mobil misalnya. Kita bisa rehat singkat di rest area untuk makan, sholat sembari istirahat. Lha ini pesawat, enggak ada haltenya, terus mau berhenti dimana yaaa..hahaha.

Dan, akhirnya sampailah kami di Demodedovo Airport, Moscow. Sejenak saya terpana dengan bandaranya yang berkesan kaku dengan wajah-wajah orang yang tegang tanpa senyuman. Pemeriksaan keimigrasian yang ketat membuat kami tak mungkin berpikir lagi untuk sekedar melangkahkan kaki kesana-sini. Padahal penginnya sih foto-foto yaa...Karena ini pertama kali kami menginjakkan kaki di Rusia, meski hanya untuk transit saja.

[Oh ya, FYI saat itu adalah era digicam dan DSLR camera. Foto kenangan yang disimpan di laptop dan hard disk suami, hilang semua saat laptopnya enggak nyampe waktu pindahan balik ke Indonesia dan hardisknya pun rusak juga. Hanya beberapa foto yang tersisa, hiks! Juga, belum booming ponsel cerdas berkamera canggih seperti sekarang. Sehingga selfie atau wefie belum semudah saat ini....Ya sudahlah, memang belum rejeki!πŸ˜€]

Enggak terasa 2 jam masa transit berjalan begitu cepat. Mengharuskan kami berempat segera menuju pesawat untuk melanjutkan perjalanan. Meninggalkan Moscow yang bikin mellow, karena enggak tahu kapan lagi bisa disambangi. Bye-bye Moscow....! See you another time!

golden gate California
Golden Gate, California
Selanjutnya, Moscow-Houston ditempuh selama sekitar 11 jam. Karena kurang tidur dan hayati yang sudah lelah, saya pun merasa ASI jadi berkurang sekali. Akhirnya kurang 2-3 jam sampai Houston si Adik mulai rewel. Dengar adiknya rewel, si Mas jadi tertular juga. Membuat saya dan bapaknya pun sibuk menenangkan mereka.

Hingga ada pasangan muda yang duduk persis di belakang saya, memakai bahasa Rusia memanggil pramugari dan protes akan tingkah anak kami. Dari mimik mukanya dia nampak sebal dan kesal. Dia pun ngomel panjang lebar ke mbak pramugari yang mendengarkan dengan sabar.

Coba saya ngerti bahasa Rusia, bakal saya jelaskan ke dia "Kami sudah terbang selama lebih dari 24 jam, jadi tolong maklumi anak-anak ini!" hihihi...

Gondok juga rasanya, karena mereka beberapa kali protes ke cabin crew yang lewat. Dan pramugari/pramugara menyampaikan ke saya, "Mohon ditenangkan anaknya ya Bu". Mereka juga menawarkan apa yang bisa mereka bantu. Saya beberapa kali minta maaf ke pasangan itu. Hmm, bisa jadi mereka sedemikian terganggu karena belum pernah merasakan bagaimana susahnya mengasuh anak itu...(Ini berat, kalian belum tentu kuat! kwkwk)

Syukurnya penumpang lainnya, bersikap biasa saja. Bahkan ada beberapa nampak tersenyum tulus menyemangati saya.

Sesampainya di George Bush Intercontinental Airport, saya pun menghela napas lega. Alhamdulillah akhirnya sampai juga di Amerika...Yeayyy!

Dengan langkah gegap gempita (seperti menang perang saja) saya, suami dan dua anak kami pun mengantri di imigrasi. Antrian yang panjang tak membuat surut semangat. Pikir kami, toh sudah di sini...hihi

Washington DC
Tapi ternyata perjuangan belum berakhir pemirsaaa...!!

Pada saat di depan loket, kami langsung "digiring" ke ruang khusus.

Ya, officer yang bertampang jauh dari ramah, meminta kami memasuki ruangan tertentu. Dimana di situ sudah ada beberapa orang yang dianggap "mencurigakan" oleh pihak berwenang.

Jadi, kami dianggap termasuk yang harus mendapatkan pemeriksaan khusus. Bisa saja, karena secara kasat mata, saya mengenakan hijab. Kemudian keterangan di dokumen menunjukkan beragama Islam. Dan, negara asal Indonesia. Atau, memang begitu prosedur pemeriksaannya, saya enggak paham juga. Kata petugasnya sih pemeriksaan ini random. Tapi ya sudahlah, namanya juga tamu ya harus patuh pada aturan tuan rumah, kan?

Oh ya, pemeriksaan ini cukup lama, sehingga mulailah rewel lagi anak-anak saya. Untungnya saya bawa snacks di ransel yang belum sempat saya makan saat di pesawat. Jadilah kami ngemil ini. Meski petugas di belakang meja yang sedang memeriksa suami nampak enggak setuju saya makan di situ, saya cuek saja. Laper, kok!

Setelah semua dokumen berstatus confirmed dan distempel, kami pun berlari-lari hendak mengambil bagasi. Nampak dari jauh dua koper besar itu teronggok sabar menunggu pemiliknya. 

Setengah menyeretnya, kami pun menuju terminal domestik untuk selanjutnya mengarah ke gate pesawat ke New Orleans. 

Tapi kami dihalangi lagi. Seorang officer yang memeriksa luggage tag, menghentikan langkah kami.

Lagi, kami harus memasuki ruangan khusus dimana di situ koper diminta dibuka kode pengamannya.

Kemudian dia memeriksa koper kami yang isinya cuma baju dan buku itu. Semua diperiksa, segala kantung yang ada dibuka dan sisi-sisi yang mencurigakan diraba. Pokoknya diadul-adul, hadeeh! Saya hanya bisa pasrah saja, sambil membayangkan betapa perjuangan saya kemarin saat ngepak-nya.. hahaha.

Saya melihat di ruangan yang sama, seorang ibu dengan Bahasa Inggris dialek Spanish, nampak sebal karena makanan bawaannya dibuang ke tong sampah oleh petugas. Memang ada beberapa aturan saat memasuki suatu negara, termasuk barang bawaan apa saja yang dilarang untuk dibawa masuk ke wilayahnya.

[Belakangan saya dapat cerita dari teman, ada yang baru balik mudik, bawa rendang 5 kg. Ketahuan saat pemeriksaan, kemudian dibuang oleh petugasnya. Hiks sayangnya..]

Setelah itu, ransel, tas bayi, tas laptop juga tak luput diperiksa. Akhirnya saat semua dianggap oke-oke saja, kami pun diijinkan melanjutkan perjalanan.

Kami harus berlari karena waktu yang sudah hampir mendekati batas check in! Padahal suami sudah memberi jeda cukup lama saat memesan connecting flight ini. Tapi siapa sangka butuh waktu berjam-jam di pemeriksaan imigrasi.

Nyaris saja!!

Las Vegas, Nevada
Dan, kami berempat pun akhirnya bisa duduk di kursi penumpang Delta Airlines dengan rute Houston - New Orleans dengan durasi perjalanan satu jam. 

Di Louis Amstrong International Airport, New Orleans, kami dijemput oleh Mas Andi dan keluarga. Seorang mahasiswa asal Indonesia, kakak angkatan suami saya yang sudah dikontak lewat email sebelumnya. 

Di perjalanan, kami diajak mampir sebentar ke Walmart Supercenter untuk disarankan membeli bahan makanan, alat masak dan peralatan makan. Selanjutnya diantar ke penginapan yang telah kami pesan.

Alhamdulillah, perjalanan selama 36 jam yang bikin lumayan jumpalitan akhirnya sampai di tujuan dengan aman.

Kami pun tinggal di penginapan ini selama sebulan. Karena suami harus mengurus surat lapor diri ke pihak universitas, mendapatkan surat domisili, mencari tempat tinggal, membuka rekening bank dan beberapa urusan terkait kependudukan.

Sementara saya, menjaga dua anak di kamar Sun Suite Hotel, sebuah motel yang berukuran 4x6 meter persegi. Yang syukurnya menyediakan kompor, kulkas, teko pemanas air, TV, microwave dan kopi serta roti gratis sepanjang hari di lobby. Selain itu ada laundry coin machine yang membuat saya enggak perlu bingung lagi dengan masalah cuci-mencuci.

Hanya pusingnya, dua anak yang belum ngerti ini masih jetlag sampai berhari-hari. Karena perbedaan waktu antara Jakarta dan New Orleans adalah 12 jam, maka siang malam mereka kacau jadinya.

Mereka akan tidur dari pagi sampai jelang malam. Dan terbuka lebar matanya dari malam hingga esok paginya...Hhhh, wayangan semalaman!

Gateway Arch, St Louis
Akhirnya dimulailah petualangan hidup saya sekeluarga di Amerika. Karena status suami sebagai mahasiswa yang punya libur semester dan didasari niat mumpung tinggal di Amerika. Kami pun sukses melakukan road trip ke 48 negara bagian dalam beberapa kali perjalanan. Karena rasanya sayang jika pulang hanya bawa dollar yang sejatinya saat itu kalau ditukarkan ke rupiah bisa untuk beli rumah. Kami lebih memilih pulang ke Indonesia membawa tabungan secukupnya dan pengalaman dengan berwisata selama di sana.

Nah, buat teman-teman yang masih merasa kalau wisata itu buang-buang uang saja, cepat hapus pikiran yang demikian. Karena begitu banyak manfaat yang bisa kita dapatkan dengan melakukan sebuah perjalanan. Enggak harus jarak jadi ukurannya karena yang utama adalah makna perjalanannya.

Karena seperti sebuah kutipan menyatakan, jika dunia ini diibaratkan sebuah buku, maka orang yang enggan melakukan sebuah perjalanan itu hanya membaca satu halaman saja. Nah, masak sih buku setebal 400 halaman misalnya, kita hanya baca bagian depannya saja? Macam mana pula kita bisa ngerti isinya!

Balik ke Indonesia! Daaag Amerika!

So, Let's Work-Save-Travel and..Repeat!😍😍



Happy Traveling,

Dian Restu Agustina





Artikel ini diikutkan dalam Blog Competition liputan6.com "Traveling Seru yang Paling Berkesan Buatmu"





Variasi Bekal Sekolah Selain Nasi




Jreng..jrenggg!

Tiap malam sebelum tidur, yang terlintas di angan saya adalah besok bikin sarapan apa. Terus lanjutannya, anak-anak bawa bekal apa yaa...

Hiks, emak-emak bangets kan, mau tidur saja masih mikirin masakan..πŸ˜€

[Eh, tapi ada enggak sih yang seperti saya, Temans?]

Tiap pagi memang saya disibukkan dengan bikin sarapan dan bekal sekolah anak. Dulu, bekal suami juga. Tapi, kini karena si Bapake kadang tak di satu lokasi, sehingga enggak mungkin nenteng kotak makan kesana-sini, jadi enggak bawa bekal sendiri lagi.

Oh ya, biasanya saya bangun pukul 4 pagi yang ditandai dengan berbunyinya alarm ponsel yang sudah di set weekday (kalau weekend molor sedikit lah...) 

Anak-anak saya, seperti anak sekolah di Jakarta lainnya memang masuk sekolahnya dari Senin sampai Jumat saja, sama dengan hari kerja Bapaknya. Jadi Sabtu-Minggu full bisa berkegiatan bareng keluarga.

Setelah bangun dan menunggu azan Subuh tiba, siap-siap dong masaknya (meski kadang nyuri waktu nengokin leppy dulu kwkwwk..)

Variasi bekal sekolah
bekal nasi, sayur sop, ikan goreng tepung, strawberry
Memang enggak perlu terburu-buru, karena bahan masakan sudah siap di kulkas dan tinggal dieksekusi. Karena saya belanja kebutuhan dapur memang per minggu lalu nambah beli di warung dekat rumah jika kurang ini itu. Dan, bamer dan baput biasanya sudah dikupas duluan. Kalau perlu bumbu lengkap tinggal blender. Biasanya kalau pagi sih, no uleg! Uleg-menguleg hanya saat waktu masaknya longgar. Pokoknya sarapan dan bekal biasanya bikinnya cepat, meski kadang juga menu "berat". Tapi itu sih seringnya sudah dimasak hari sebelumnya.

Juga untuk perbekalan ini karena anak-anak sudah terbiasa tidak harus nasi jadi ya makin mudah saja. Yang penting komposisi gizinya seimbang dan mencukupi. Bisa saja bekal nasi diganti roti, ubi atau mie. Diselang-seling saja biar mereka juga enggak bosan makannya.

Untuk si Mas yang sudah SMP dan pulang lebih sore, bekal saya bawakan untuk sekali makan saja. Lantaran saya sudah kasih kepercayaan uang jajan mingguan yang bisa dia kelola untuk kebutuhannya. Jadi dia biasa beli di kantin sekolah saat istirahat kedua, sekalian rame-rame makan sama teman. Tapi, saya juga selalu awasi dengan menanyakan tiap hari dia jajan apa tadi. Yang penting kantin sekolahnya Insya Allah bersih dan terawasi kualitas makanannya. Karena pihak sekolah menerapkan aturan untuk para pengisi kios di kantin ini.

Sementara si Adik yang masih SD dan pulang lebih cepat, saya bawakan bekal untuk dua kali istirahat. Yang satu makanan berat, satunya camilan sehat. Dia saya beri uang, ditaruh di tas hanya untuk jaga-jaga saja. Siapa tahu ketinggalan pensil dan harus beli di koperasi. Atau mungkin dia pengin beli  es krim sesekali. Tapi, dia memang tidak terbiasa jajan.

Nah, beberapa variasi bekal sekolah selain nasi yang saya bawakan untuk mereka, diantaranya:
  • Mie Goreng
bekal sekolah anak

Mie ini berbahan mie telor dan ditambahkan sawi sebagai sayuran dan telor sebagai sumber proteinnya. Jika sedang punya bakso, sosis atau ayam biasanya saya tambahkan juga (ini Ibuknya pas enggak punya stok jadi yang ada saja ya Le, hehe). Bumbu yang diperlukan hanya bawang putih dan bawang merah yang ditumis hingga harum dan kecoklatan. Kemudian masukkan telor dan orek kasar. Lalu masukkan mie yang telah direbus setengah matang dan tambahkan sawi. Beri garam, merica dan kecap manis sebagai penyedap rasa. Aduk rata hingga mie berwarna coklat tua.

Dan, menemani mie goreng ini, saya sertakan buah nanas dan melon untuk pendampingnya. 
  • Ubi Jalar
Variasi Bekal Sekolah

Masa kids jaman now doyan ubi sih?

Doyan saja, asal diolah disesuaikan dengan lidah mereka. Seperti bola-bola ubi ini yang saya buat dan anak-anak sukai. Jadi ubi jalar dikukus dulu (biasa hari sebelumnya sudah saya kukus dan masuk kulkas). Lalu haluskan ubinya. Tambahkan sedikit tepung tapioka dan margarine. Beri secukupnya gula dan garam. Bentuk bulat-bulat dan goreng hingga berwarna coklat. 

Sebagai pendamping bola-bola ubi, saya sertakan sosis, buah nanas dan pudding. 
  • Roti
bekal sekolah anak

Berikutnya bekal roti. Ini paling praktis karena rotinya enggak perlu beli...hihihi

[Kalau bisa bikin sendiri malah lebih hemat dan hebat!]

Misalnya, menu burger mini ini. Tinggal ditambahkan selembar keju, selada, tomat dan daging patty (kadang saya beli, kadang bikin sendiri dari daging giling). 

Sebagai teman, disertakan buah melon dan nanas.

[Kok melon dan nanas melulu?]

Jangan protes yaaa...hahaha. Memang beli nanas dan melonnya utuh, yang segede gaban, terus potong-potong dan masuk kulkas. Bisa untuk stok buah 2-3 hari untuk orang serumah....Murah dan mudah!]

Sebenarnya ada juga pisang di rumah (biasanya saya beli sesisir). Tapi anak-anak protes, kalau bawa pisang kadang benyek, jadilah jarang bawa, makan pisangnya di rumah saja.

bekal sekolah anak

Atau variasi roti lainnya, seperti: yang sisi kanan ini. Bekal si Mas, roti isi selai kacang. Oh ya, jangan tanya kalau masalah selai ke anak sulung saya ini. Karena dulu dia TK-nya di Amerika, jadi dia makan peanut butter (selai kacang) itu kayak makan camilan. Kalau enggak disembunyikan sebotol besar itu 2-3 hari bisa dihabiskan. Diambilin pakai sendok sudah kayak makan apalah..Makanya harus disimpan. Khawatirnya kandungan gula dan kacang yang kebanyakan bakal bikin dia kegemukan. (Lagian harganya kan juga lumayan..kwkwkw)

Nanti dia saya tanya, mau diisi apa rotinya, apa daging patty atau selai. Karena dia katanya siang pengin jajan sate Padang di kantin sekolah, jadi rotinya saya isi selai kacang saja. 

Sebagai penyerta: buah melon, strawberry dan plum. 

[Plum?]

Jadi kalau pas lagi ngemol ada diskonan buah apa, itu yang saya beli biasanya. Misalnya plum ini, anak-anak sudah tahu rasanya saat kami di Amerika, eh ndilalah sedang separuh harga, jadi tigapuluhan ribu sekilo. Ya sudah, beli saja sebagai pemuas rasa rindu akan rasanya. 

Sementara, kotak yang kiri, itu untuk si Adik. Menunya nasi dan wortel, kentang, daging yang berkuah kari. (Cara masaknya, lain kali yaaa...hahaha, biar enggak terlalu panjang ini ceritanya).

Pilihan bekal lainnya, misalnya: spaghetti, macaroni schootel,muffin, kebab, talam jagung, nagasari, pancake, kue apem, bolu kukus.....Banyaaaak, pokoknya yang berbahan jagung, tepung beras, tepung gandum dan sumber karbohidrat lainnya. 

Nah dengan membawakan bekal selain nasi, paling tidak anak-anak tahu beraneka jenis makanan (karbohidrat) yang ada. Dan tidak bergantung pada nasi semata. Jangan sampai selalu merasa kalau belum makan nasi belum nendang rasanya (itu berat, biar angkatan kita saja yang merasakannyaπŸ˜€).

Juga diharapkan nantinya saat mereka harus pergi ke tempat yang jarang ada nasi (ke bagian Timur Indonesia atau ke luar negeri misalnya), mereka akan siap perutnya... 

Lalu, bagaimana denganmu, Temans? Punya variasi bekal apalagi selain nasi?


with heart,

Dian Restu Agustina


Warm Your Day at My Warm Day



Haiiii...

Hujan-hujan begini cari yang hangat-hangat cocok kali yaa....

Kini, begitu banyak pilihan makanan dan minuman yang mampu membuat badan hangat. Baik itu menu internasional maupun tradisional. Mau buat sendiri ataupun tinggal beli. Beraneka macam tersedia, tinggal tergantung selera mau bikin atau beli yang mana.



Diantaranya adalah menu-menu yang saya sekeluarga coba pada hari Sabtu malam lalu di My Warm Day Cafe & Brunch di Supermal Karawaci. Tepatnya di lantai Upper Ground 10AB.

Sejatinya sih kami tak berniat makan ke sini. Tapi berhubung putar dan putar lagi beberapa tempat makan kesukaan mengular antriannya. Maka ketika melihat penampakannya yang menggoda akhirnya beloklah ke MWD ini.

MWD

Tampilan depannya catchy dengan kursi dan sofa yang cozy dengan desain unik dan berwarna cantik. Ada pula hiasan mural di dinding yang menggambarkan keramaian disebuah kota besar. Bermakna sesibuk apapun warganya pasti mereka dapat berkumpul agar keakraban diantara mereka terus bertambah. Juga, banner di depan yang menyajikan opsi menu yang ditawarkan beserta harga terbaca yang terjangkau harganya. Membuat kami pun pilih masuk saja.

My Warm Day Indonesia

Benar juga, pilihan menunya banyaaak, sampai kami berempat bingung milihnya. Enggak heran rumah makan ini merupakan Cafe & Brunch nomor satu di Taiwan. Dimana ada sekitar lebih dari 1000 cabang telah ada di seluruh penjuru negaranya.

Oh ya, untuk menu utama didominasi oleh pilihan Omurice, Noddles, Hot Plate dan Hot Pot. Meski tersedia juga pilihan western dan menu lokal yang diselaraskan dengan semangat yang dipegang "rich and happy flavours". Dan sebuah slogan "the colourful taste of happiness".

Misalnya tersedia American Brunch dan Crispy Chicken Salad untuk Western Style. Dan ada Beef Rendang on Rice dan Spicy Matah Fish on Rice sebagai pilihan menu lokal.

 MWD Supermal Karawaci

Buku menu yang tebal dengan gambar yang oke dan bervariasinya pilihan menunya, membuat saya sekeluarga sempat kebingungan juga. Habis kayaknya enak semuanya hahaha.

Akhirnya setelah nanya-nanya ke si Mas Waiter, saya dan suami yang memang sedang flu dan pengin yang hangat, memilih Taiwan Famous Personal Hot Pot. Sementara si Mas maunya Fort Thick Beef Sandwich dan si Adik pilih Kids Hamburg Rice.

Untuk Taiwan Famous Personal Hot Pot yang dibandrol 55 ribu ini, pilihan kuahnya ada dua, kuah yang ada campuran susu (tidak pedas) dan kuah yang pedas. Dimana dalam satu porsi kita akan mendapatkan daging, bakso, jamur enoki, jagung, pokcoy, tofu dan beberapa jenis dumpling.


Pokoknya penuh di dalam potnya. Sampai kenyang banget rasanya. Apalagi penyajian langsung di atas kompor kecil yang terus menyala. Sehingga, hangat supnya pun makin terasa. Saya yang memilih kuah tak pedas menikmati dengan sedikit berkeringat. Apalagi suami yang memilih kuah pedas, sukses bertabur keringat! Hmm, Hot Pot yang hangat dan nikmat!


Sementara si Mas yang memilih Fort Thick Beef Sandwich pun nampak puas dengan makanan pilihannya. Menu seharga 59 ribu ini, terdiri dari sandwich dengan juicy beef patty yang dilengkapi dengan cheese dan irisan tomat dan disajikan bersama kentang goreng yang renyah dan tampilan yang indah.

MWD Indonesia

Lalu si Adik yang maunya paket kids meal, Kids Hamburg Rice, menyantap juicy Australian beef  yang disajikan bersama nasi, scrambled egg dan kentang goreng. Porsi yang lumayan banyak untuk ukuran anak-anak seharga 53 ribu ini, licin tandas dimakannya. Rasanya? Enak sih kata dia...Apalagi penyajiannya menarik, diletakkan di piring berbentuk pesawat, sehingga bikin anak pun makan dengan semangat.


Oh ya, semua makanan ini termasuk cepat penyajiannya, jadi kami enggak perlu nunggu lama, makanan sebentar saja sudah diantar.

Sedangkan untuk minuman, saya pesan Taiwanese Tea Latte yang dibandrol dengan harga 32 ribu. Minuman ini merupakan teh khas Taiwan. Perpaduan tea dan latte, di bagian bawah tea-nya sementara latte di atasnya. Sebelum minum aduk-aduk dulu biar kecampur. Rasanya manis, dingin dan segar karena ada aroma tea yang menenangkan. Dan, satu gelasnya lumayan banyak isinya.


Sementara si Bapake pesan Exotic Fruit Mocktea yang harganya 32 ribu. Minuman ini adalah teh dengan aroma buah yang disajikan dengan potongan lemon. Minuman ini berwadahkan gelas unik dengan penyajian yang cantik.

MWD Indonesia

Lalu si Mas memilih Oreo Dinosaurs yang berharga 39 ribu. Seperti milkshake yang diberi campuran oreo dengan topping whipping cream di atasnya dan taburan bubuk coklat dan oreo sebagai hiasannya. Kelihatan eneg sih sepertinya, dan kata si Mas memang iya, terlalu manis dan eneg diminumnya. Memang kami sekeluarga bukan penyuka yang manis-manis (karena merasa sudah manis xixixi)

MWD Indonesia


Dan, minuman punya si Adik, Frozen Kiwi berbandrol 38 ribu. Adalah jus kiwi dengan hiasan potongan buah kiwi di atasnya yang warnanya hijau menggoda dan rasanya....standar saja.


Oh ya, My warm Day selain di Supermal Karawaci juga berlokasi di:
  • Lippo Mal Puri (Ground Floor No. 83-85)
  • Mal Ciputra Jakarta (Lower Ground No. 51)
Sayangnya yang di Supermal Karawaci ini lokasinya kurang terlihat sehingga Sepertinya bukan jalan utama yang orang akan melewatinya. Padahal tempatnya asyik buat minum, makan, ngobrol sembari menghangatkan badan bersama keluarga dan teman.

Kalau mau coba ada beberapa program yang diadakan oleh My Warm Day untuk menarik minat pengunjung agar datang, diantaranya: 
  • Regram & Get 15% discount (food only)
  • Buy any drink and choose any milk tea series for free (every 1st day every month)
  • Pemberian voucher untuk pembelian dengan jumlah tertentu

Overall, My Warm Day recommended buat tempat makan atau sekedar nongki-nongki nyruput teh atau kopi. Karena rasanya lumayan dan harganya cukup terjangkau untuk ukuran restoran. Apalagi tempatnya sungguh cozy. Beberapa sudut bahkan pas sekali untuk selfie....!

Ketjeee!

MWD Indonesia

See you next post!

Dian Restu Agustina




Frozen Choco Banana


Are your kids craving for something sweet? 

Here is an easy-to-make snack for them: Frozen Choco Banana

They can try making this snacks theirself.  They are yummy and of course healthy.

But, why bananas?


Bananas are a highly nutritious energy packed fruit. Your child can be highly benefited from this fruit. Bananas are sweet and creamy and they are available throughout the year. As they ripe, the bananas become sweeter and softer.

Have a quick look at the amazing health benefits of bananas for kids:
  • Rich in fibre
  • Easy to digest
  • Good for heart
  • Full of nutrients
  • Regulate blood pressure
  • Good for growing bones and improving eyesight
  • Prevent anaemia
  • Increase brain power
(Hmm, no wonder, bananas is one of America's favorite snacks)

Bananas can be introduced in your children’s diet from a very early stage. They can be a very nutritious baby food.  After 5 years onward, your child can be given 4 to 5 ripe bananas in a day. They can be given with every meal. Bananas are the healthiest of all fruits. The high level of antioxidants present in bananas protects your child against all kinds of chronic diseases. And, bananas are available at all seasons.

If you want to elevate the mood of your child, just give one banana. It will immediately relax your child.It does not involve lot of work in peeling. Bananas can be mashed and given to your child. They can also be given in the form of banana shakes, cupcakes or any kind of dessert. 

Then, let's make it!

All you need:

bananas
skewers
chocolate (melted)
chocolate meises

How to do:

Peel the banana then put them on skewers.


Dip the bananas into melted chocolate


Roll the bananas in the sprinkles of chocolate meises


Freeze the bananas for about 30 minutes until they set.


And yes! Your frozen choco bananas are ready! Enjoy!


Happy Cooking,

Dian Restu Agustina

Parenting With Love
Mengarahkan Anak untuk Menjaga Diri Terhadap Ancaman Kekerasan Seksual


Hai..Hai..Jumpa lagi!

Setelah beberapa hari rehat lantaran flu berat, senang hati saya akhirnya bisa kembali berbagi di sini.

Alhamdulillah, pada hari Selasa yang lalu, saya berkesempatan hadir di acara seminar yang diadakan oleh SDI Al Azhar 8 Kembangan dengan tema:
"Parenting With Love ~ Mengarahkan Anak untuk Menjaga Diri Terhadap Ancaman Kekerasan Seksual" 
Dimana seminar ini menghadirkan pemateri seorang psikolog ternama di Indonesia yang juga Dosen Universitas Indonesia dan konsultan Multiple Intelligence, Dr. Rose Mini A Prianto, M.Psi atau yang lebih akrab disapa Bunda Romi.

Seminar yang dimulai pada pukul 8 pagi ini, merupakan agenda rutin dari sie Pendidikan Jam'iyyah (Komite Sekolah) SDI Al Azhar 8 Kembangan. Dan merupakan kegiatan yang dibuka untuk umum secara gratis.

SDI AL Azhar 8 Kembangan

Setelah acara pembukaan lebih kurang 1 jam lamanya, Bunda Romi memulai sharingnya dengan ice breaking mengundang seorang volunteer ke depan.

Kepada Ibu yang membantu, Bunda Romi mendelegasikan pertanyaan ke peserta "Apa hal yang selalu dirasakan dan diberikan pada sesama setiap harinya?"

Setelah beberapa jawaban terlontar, seorang peserta menjawab: "Cinta!". Dan, jawaban itu benar adanya. Akhirnya, kedua Ibu tadi mendapatkan hadiah buku karya Bunda Romi. (Yang lain? Harap beli sendiriii...πŸ˜ƒ!)

Gambar: sumber
Lalu, sebuah gambar ditampilkan di layar. Awalnya nampak enggak jelas gambarnya itu apa. Terlihat sebuah botol dengan bagian dalam ada gambaran seperti bayangan. Lalu, Bunda Romi meminta Ibu-Ibu untuk menebak apakah gerangan itu.

Beragam jawaban pun terlontar. Ada yang bilang itu sosok laki-laki dan perempuan yang sedang berpelukan (ehem..ehem). Ada yang berfilosofi itu adalah ilustrasi kasih sayang. Ada yang melihat itu gambar seorang bayi (what? bayiiii?). Lalu, ada yang merasa itu sebuah pesan di dalam botol (pasti yang jawab ini sudah pernah nonton film Message in a Bottle..hehe). Dan ada pula yang beranggapan itu adalah ikan di dalam botol.

Dan ternyata jawaban terakhir yang hampir benar. Gambar tersebut merupakan penampakan 9 ekor lumba-lumba.

Kok bisa? Yuk ah, coba kita perhatikan baik-baik yaaa!

Wah, memang benar, ternyata ada 9 lumba-lumba di sana...!

Gambar: sumber
Dari sini bisa ditarik kesimpulan, bahwa: satu hal, seringkali dipersepsikan/dipresentasikan terlalu jauh oleh seseorang. Begitu juga kejadian yang terjadi di masyarakat. Masing-masing orang bisa saja mempersepsikan dengan cara pandang yang terlalu dalam/berlebihan (alias lebay), padahal sebenarnya hal itu biasa atau sederhana saja dan sebaliknya.

Lalu, Bunda Romi menyajikan gambar kedua: sebuah bagian tubuh yang berambut...

Gambar: sumber
Saat ditampilkan gambar di atas, beberapa peserta terdengar cekikikan karena gambar itu sekilas seperti (maaf) organ intim perempuan. Tapi, ternyata oh ternyataaaa, itu adalah gambar ketiak yang diambil dari sudut tertentu.

Dari sini Bunda Romi mengingatkan bahwa: sesuatu bisa saja dipersepsikan/dipresentasikan berbeda oleh setiap kepala. Itulah sebabnya, kadangkala ada yang menganggap satu hal itu A sementara yang lain berpikir kalau itu B.

Ini ketiak yaaa!
Lalu Bunda Romi mengajak Ibu-Ibu untuk meninjau lagi beberapa beberapa kasus yang terjadi di masyarakat sebagai berikut:
  • Kasus 1 (Januari 2018 - kompas.com)
Jagat maya digegerkan dengan tersebarnya video mesum yang melibatkan dua anak di bawah umur dengan seorang perempuan dewasa yang berdurasi sekitar 1 jam. Anak-anak yang diperkirakan masih berusia SD itu diperintahkan berbuat tidak senonoh oleh seorang pria yang merekam adegan tersebut.
  • Kasus 2 (Januari 2018 - metrosindonews.com)
Seorang penjual kue M (49) diringkus lantaran melakukan kekerasan seksual terhadap bocah lelaki berusia 12 tahun di Kapuk Muara, Jakarta Utara. kepada orang tuanya si anak bercerita menjadi korban kekerasan seksual dengan diiming-imingi uang 20 ribu. Setiap pulang sekolah korban sudah ditunggu di ujung jalan setelah itu dibawa ke kontrakan pelaku.
  • Kasus 3 (2016 - jatengtribunnews.com)
Bermula dari mengerjakan tugas sekolah di warnet, seorang pelajar SMP di Semarang mengaku diberi video porno oleh penjaga warnet. Sehingga menjadikan ia ketagihan pergi ke warnet dan suka mengakses situs dewasa.

[Astaghfirullah...!! Semoga kita semua dijauhkan dari hal-hal yang demikian..Aamiin]

Bunda Romi

Nah, dari berbagai kasus kekerasan seksual yang terjadi di masyarakat tersebut, berdasarkan evaluasi para ahli, ternyata ditemukan ketidaktahuan akan definisi kekerasan seksual pada korban atau keluarganya.

Banyak yang tidak mengira jika yang menimpa dirinya atau anak mereka, termasuk dalam kategori kekerasan seksual.

Lalu, sebenarnya apa yang dimaksud dengan kekerasan seksual itu?

Kekerasan Seksual: kontak/bentuk perilaku seksual yang tidak diinginkan yang biasanya disertai tekanan fisik dan psikologis.

Misalnya, adanya pukulan atau ancaman: "Awas kalau bilang Mamamu, nanti...!" atau "Awas kalau lapor orangtuamu, nanti bakal tumbuh tanduk di kepalamu...!" dan lainnya.

Lalu apa yang dapat kita lakukan sebagai orang tua yang pastinya tidak bisa selama 24 jam membersamai anak-anak kita? 

Caranya dengan memberikan filter/kemampuan menolak pada anak-anak kita dengan memberikan pendidikan seks secara dini, yakni:
  • Mengenalkan nama-nama bagian tubuh
Mengajari anak nama bagian tubuh mereka sedini mungkin dan menyebut nama bagian pribadi dengan benar. Misalnya: tidak menyebut penis dengan "pisang/burung" atau vagina dengan "bagian bawah" dan lainnya.

Saat anak sudah cukup mengerti, ajak berdiri di depan cermin, dan dengan tanpa busana tunjukkan nama-nama bagian tubuhnya. Dan, usahakan sejak bayi anak dimandikan oleh orang tuanya sendiri. Kemudian saat sudah cukup usianya, ajarkan pula toilet training sesegera mungkin sehingga mereka mandiri dan bisa melakukannya sendiri tanpa bantuan orang lain.
  • Menekankan bagian-bagian tubuh yang tidak boleh dipegang dan dilihat oleh orang lain
Tidak boleh sembarang orang menyentuh dan melihat bagian tubuh, terutama bagian pribadi (dada sampai lutut).

Biasakan ganti baju di tempat tertutup. Misalnya, saat mau mandi juga harus lepas baju di kamar mandi, bukan nglepasnya dimana, mandinya di mana. Juga saat ingin BAK dan BAB, ajarkan selalu dilakukan di tempat tertutup.

Bunda Romi

  • Katakan TIDAK saat....
Tekankan pada anak untuk mengatakan "TIDAK" jika bagian pribadinya disentuh orang lain. Begitu juga jika ada yang meminta membuka baju di depannya, baik secara langsung maupun melalui video call/sosial media.


  • Tidak semua bagian tubuh anak boleh difoto
Jangan mengambil foto anak saat tidak berbusana/berpakaian minim. Tekankan juga pada anak bahwa tidak ada yang boleh mengambil foto bagian pribadinya. 

Jadi, hindari memotret anak saat enggak pakai baju, saat mandi atau berpakaian renang yang minim...Lalu mengunggahnya ke sosial media. Ingat, predator anak di luar sana akan senang karenanya dan bisa menyalahgunakannya!
  • Ajari anak bagaimana cara menghadapi situasi yang mengarah pada kekerasan seksual
Katakan "tidak suka" atau "tidak mau", segera beritahu orang tua/guru, pergi menjauh, berteriak keras dan membela diri.

Maka, untuk alasan apapun jangan pernah menakut-nakuti anak tentang satpam, hansip, polisi dan lainnya. Dan, kenalkan sistem pengamanan ini agar saat dibutuhkan mereka bisa mencari bantuan
  • Yakinkan pada anak bahwa ia bisa mempercayai orang tuanya untuk bercerita jika ia mengalami kekerasan seksual
Orang tua sebaiknya tidak menutup diri dan menganggap obrolan seputar bagian pribadi anak adalah hal tabu.

Tempatkan diri sesuai situasi. Kadang di level yang lebih tinggi sebagai orang tua yang harus dihormati. Kadang juga berbincang serasa berteman dengan anak kita meski tetap ada rasa hormat di sana. Dengan demikian tak pernah ada rasa malu/takut/kekhawatiran jika anak ingin "buka-bukaan" dengan apa yang dirasakan, terutama menyangkut masalah seksual.
  • Sepakati kode isyarat rahasia dengan anak
Ketika anak sudah cukup besar, orang tua dan anak dapat menyepakati kode tertentu untuk mengisyaratkan ketika mereka mencurigai gerak-gerik seseorang atau mendapatka perlakuan yang tidak diinginkan.

[Seperti saat kasus artis Manohara yang mendapatkan KDRT dari suaminya, Ibunya tahu dari isyarat yang dikirimkan putrinya].
  • Tekankan pada anak bahwa itu juga berlaku untuk anak lain
Agar anak dapat segera melapor saat melihat anak lain menjadi korban. Sehingga setiap anak bisa saling menjaga temannya.

Bunda Romi

Setelah mengenalkan pada anak akan apa itu kekerasan seksual dan cara pencegahannya, Bunda Romi lalu mengingatkan, sebagai orang tua juga perlu belajar tentang orientasi seksual.

Dulu penyimpangan orientasi seksual dianggap sebuah penyakit, tapi beberapa waktu terakhir sudah dianggap sebagai sebuah pilihan hidup. Bahkan di beberapa negara sudah ada legalitasnya.

Lalu, hal apa saja yang bisa memengaruhi penyimpangan orientasi seksual ini?
  • Faktor Keluarga
1. Pola asuh orang tua yang tidak seimbang
Salah satu orang tua sangat menunjukkan kedekatan secara afeksi dan emosi, hangat, sangat dekat dengan anak. Sementara yang satunya sangat otoriter, tidak hangat, sering menghukum, tidak dekat dengan anak.

Maka hindari selalu menakuti-nakuti anak akan Ayahnya, seperti:"Awas nanti Ayah marah!" atau "Nanti Ibu bilang Ayah" dan lainnya. Karena khawatirnya ini akan merenggangkan hubungan Ayah-Anak dan anak jadi bersikap negatif pada Ayahnya

2. Sikap orang tua terhadap lawan jenis
Ibu yang sangat dingin atau menjaga jarak dengan laki-laki atau sebaliknya. Atau orang tua terlalu melarang anak untuk berteman dengan lawan jenisnya.

Biarkan anak-anak bermain dengan teman yang sejenis maupun berlainan jenis kelamin.

[Bunda Romi pernah menangani kasus anak perempuan SMP yang punya pacar perempuan, ternyata setelah ditelusuri, ibunya beberapa kali kawin cerai. Sehingga membuat si anak benci laki-laki.]

3. Hubungan orang tua yang tidak harmonis
Pertengkaran yang terus-menerus yang didengar anak, KDRT dan perceraian.
  • Faktor Lingkungan Sosial
1. Anak dihambat melakukan aktivitas sesuai jenis kelaminnya
Anak perempuan terlalu didorong untuk berkegiatan maskulin dan anak laki-laki yang terlalu didorong melakukan aktivitas feminin.

2. Kekerasan seksual yang dialami semasa anak-anak
Yang biasanya dilakukan orang terdekatnya: ART, sopir, keluarga atau kerabat dekat.
  • Faktor lainnya selama anak beranjak dewasa
1. Pilihan pribadi
Individu mengidentifikasikan sendiri preferensi seksualnya.

2. Faktor pembelajaran
Terbiasa tinggal diantara orang-orang yang menyukai sesama jenis.

Bunda Romi

Bunda Romi pun mengakhiri materinya dengan pertanyaan, "Jadi, menjadi orang tua itu susah atau mudah?"

"Suusaaaah...!" Ibu-Ibu kompak menjawab.

Karena menjadi orang tua itu tidaklah mudah, juga enggak ada sekolahnya, maka kita musti terus belajar dan menambah pengetahuan sesuai dengan perkembangan jaman, begitu Bunda Romi menyemangati.

Caranya: dengan belajar dari orang tua/guru agama kita, banyak membaca tentang materi pengasuhan anak, mengikuti seminar/kajian terkait, belajar dari pengalaman...dan terutama belajar dari guru terbaik kita sepanjang masa: ANAK kita.

Bunda Romi, Ibu seorang putri (sebenarnya punya 5 anak, tapi yang 4 meninggal dunia), juga mengingatkan, setiap anak itu istimewa. Jadi biarkan mereka tumbuh dan berkembang sesuai keunikan yang dimilikinya dengan tanpa adanya paksaan. Dan berikan dukungan serta dorongan sesuai dengan minat dan kemampuan.

Itulah kenapa anak kita sendiri adalah guru dalam pola pengasuhan yang kita terapkan. Karena masing-masing orang tua tentu mempunyai pola yang berbeda disesuaikan keistimewaan masing-masing anaknya.

Selain itu, sesuaikan juga pengasuhan dengan usia anak. Dengan memerhatikan Tugas Perkembangan Anak sesuai usianya. Di sana kita bisa punya acuan untuk usia sekian maka perkembangannya adalah yang demikian, dan seterusnya.

[Jadi jangan stres sendiri beranggapan anak enggak bisa melakukan, padahal memang kemampuan kognitifnya masih belum sampai ke usia perkembangan]

Berikutnya, dibukalah sesi tanya jawab. Diantaranya:

T: Anak SMP (laki-laki) bilang ke Ibunya kalau ingin punya pacar. Bagaimana cara menyikapinya?

Si Ibu selama ini membujuk agar enggak pacaran dulu dengan mengatakan: kalau gadis SMP yang cakep bisanya kalau sudah besar jadi jelek, begitu juga sebaliknya..Jadi enggak usah sekarang, nanti saja tunggu mereka besar!

(Semua peserta tertawa dengan saran yang diberikan si Ibu penanya. Tapi benar juga, dulu saya pas SMP item kusem. Sekarang?... masih item juga.. πŸ˜€)

Jawab: Bunda Romi menyarankan untuk mengajak anak diskusi dan buat perbandingan untung rugi punya pacar. Misalnya, jika dia punya jadwal futsal dengan teman-temannya, maka akan berkurang waktu hang out bareng genk futsalnya karena harus menemani pacarnya kemana-mana. Lalu, harus setiap waktu membalas pesan/panggilan dari sang pacar sehingga waktu main game-nya akan berkurang. 

Juga tawarkan ke anak untuk mengikuti kegiatan positif agar punya lebih banyak teman dengan harapan bertemu banyak karakter sehingga ia jadi tahu bermacam orang.

T: Saat Ibu masuk ke kamar anak (laki-laki), langsung si anak menutup laptopnya yang sebelumnya terbuka. Bagaimana cara menyikapinya?

Jawab: Semakin besar anak kita, berikan ruang yang cukup untuk mereka, begitu Bunda Romi mengingatkan. Privasi wajib dimiliki untuk pembentukan kepribadian dan menanamkan kepercayaan pada anak. Aturannya, jika memasuki kamar anak, mintalah ijin dulu dengan mengetuk pintu. Biarkan mereka menjawab dan siap dengan kedatangan kita. Tapi, tetap tanamkan juga ke anak bahwa kita percaya pada mereka. Terus ingatkan akan nilai dan norma kebaikan yang dipegang keluarga.

Tak perlu selalu menjadi polisi atau detektif yang memata-matai setiap gerak-geriknya. Justru perlakuan seperti itu akan membuat anak lari dan tak lagi percaya pada orang tuanya sendiri.

T: Anak (perempuan) ingin sekali kuliah di luar negeri. Si Ibu mendukung, Ayah melarang dengan alasan khawatir jika terjerumus pergaulan bebas dan lainnya.

Jawab: Menurut Bunda Romi, jika orang tua sudah menanamkan kepercayaan, kemampuan untuk menjaga diri dan kemandirian pada anak, maka tak ada alasan untuk menolak. Diskusikan semua baik suka maupun dukanya jika bersekolah jauh dari orang tua.

[Jika si Ayah tetap melarang juga: ajak ke psikolog saja yaa....begitu imbuhnyaπŸ˜€]

T: Anak (perempuan) kelas 2 SD kurang di pelajaran Matematika. Di les-in Matematika oleh Ibunya malah selalu menangis saat belajar/berangkat les. Tapi, anak ini hobi dan unggul dalam menari dan menyanyi.

Jawab: Bunda Romi yang sudah berpuluh tahun menggeluti profesi psikolog mengatakan, sampai saat ini belum ada penelitian yang membuktikan bahwa kemampuan Matematika seseorang di masa sekolah akan membuat seseorang unggul saat dewasa/di dunia kerja. Intinya tiap anak itu punya kelebihan dan kekurangan. Dukung kelebihannya agar berkembang optimal dan tentang kekurangan enggak apa-apa jika nilainya rata-rata saja (misalnya nilainya standar KKM di sekolah)

Akhirnya, Bunda Romi yang nampak masih awet muda di usia 58 tahun ini pun menutup seminar dengan ajakan pada para orang tua untuk lebih peduli lagi pada isu kekerasan seksual pada anak ini. Karena anak adalah amanah yang dititipkan Allah SWT pada kita. Tentunya menjadi tanggung jawab kita untuk mengasuh, membimbing dan mendidiknya dengan sebaik-baiknya. Agar kelak mereka tumbuh besar menjadi insan yang saleh/salihah dan bisa menjadi pembawa kebaikan bagi agama, keluarga, dan sesamanya. Aamiin.

Jadi, yuk semangat menjadi orang tua yang lebih baik lagi!😍



Happy Parenting - Happy Sharing,

Dian Restu Agustina

Dapat Undangan Pernikahan? Berikut 10 Etika yang Sebaiknya Diperhatikan!

"A Gloomy Guest Fits not a Wedding Feast"

Halo..Hola..!

Lagi musim apa nih di tempat teman-teman? Musim rambutan, durian apa nikahan? #eh! Kwkwwk..! 

Sepertinya kalau nikahan enggak ada musimnya yaaa. Kecuali bagi sebagian suku Jawa yang biasanya tidak menggelar hajatan pada bulan Suro (pada penanggalan Jawa). Memang menurut kepercayaan Jawa, di Bulan Suro (Muharam), tidak boleh ada perayaan pesta dan hura-hura. Karena bulan ini adalah saat untuk menyucikan jasmani dan rohani menuju dimensi spiritualitas yang lebih tinggi dalam diri. Sehingga pada bulan Suro ini, masyarakat Jawa ditabukan untuk mengadakan hajatan. 

Sementara, bulan Besar (Dzulhijjah) dianggap bulan yang baik untuk mengadakan pesta. Sebab Besar mengandung arti kaya dan mendapat kebahagiaan. Maka tak heran ketika bulan Besar ini tiba, undangan pun akan berdatangan. Bahkan kadang satu hari bisa dua atau tiga orang yang menggelar hajatan. 

Namun kini, tak semua orang menjalankan hal ini. Dengan alasan semua bulan sejatinya baik untuk melangsungkan perhelatan. Tapi, bagaimanapun kita tetap harus menghargai nilai-nilai yang dianut sebuah kepercayaan.

Oh ya, ngomong-ngomong kalau dapat undangan, teman-teman punya persiapan tertentu enggak sih untuk menghadirinya? 

[Lah, memang ada gitu yaa, hal yang musti diperhatikan saat datang ke kondangan?]

Ada dong...! Di semua tempat dan waktu, hendaknya memang kita selalu memerhatikan etika dan kesopanan. Termasuk saat mendatangi sebuah undangan. Diantaranya dengan menjadi tamu yang menyenangkan serta tahu aturan. 

Tips Kondangan

Nah, beberapa etika yang sebaiknya diperhatikan ketika datang ke undangan pernikahan diantaranya:
  • Perhatikan Undangan
Well, buat yang masih single, jika di undangan ditulisnya cuma nama kita, ya berarti cuma kita sendiri yang diundang. Jadi hindari bawa pasangan, kawan apalagi nyewa teman kencan. πŸ˜€(ingat porsi katering untuk resepsi di gedung, dihitungnya per orang Bro, jadi kalau nambah lagi bisa-bisa berkurang jatah orang lain lho! ).

Kalau memang takut nyasar atau enggan datang sendirian, datang saja bersama teman-teman yang juga diundang. 

Begitu juga buat yang sudah berkeluarga. Kalau bisa, datang berdua dengan pasangan saja dan anak-anak dititipkan ke kakek-nenek atau tetangga.

*Kecuali jika si empunya hajat masih saudara atau teman dekat kita. Jika perlu lebih baik bilang dulu.
  • Bawa Bingkisan
Karena pernikahan adalah hari istimewa yang dijalani seumur hidup sekali. Maka pantas kiranya jika kita memberikan hadiah untuk mempelai yang sedang berbahagia. "Amplop" menjadi pilihan termudah untuk sebuah hadiah. Besarannya bisa disesuaikan dengan kemampuan kita. Tapi, tak menutup kemungkinan jika kita ingin memberi kado yang tak biasa. Misalnya sebuah tas rajut hasil karya sendiri atau voucher perjalanan ke sebuah destinasi.

Oh ya, jika kadonya itu besar ukurannya, lebih baik tidak dibawa ke tempat pesta melainkan dikirimkan lewat pos/kurir/diantar langsung ke rumah saja. Karena berat, Ciin! Kamu enggak akan kuat! Lagian, enggak lucu kalau ada kado meja setrikaan di tempat penerima tamu... kwkwkw.
  • Pakaian Tak Berlebihan
Saat datang ke kondangan, memang semestinya kita berpakaian pantas untuk sebuah helatan dan tak sekedar baju keseharian. Meski demikian, jangan juga mengenakan busana yang berlebihan sehingga seperti menyaingi mempelai perempuan(kecuali jika datang ke pernikahan mantan #eh πŸ˜€). 

Lebih baik kenakan pakaian sewajarnya. Seperti pakai batik, misalnya. Karena selain batik berkesan elegan, beragam Model Baju Batik pun kini tersedia.
  • Jangan Tanya-Tanya Pengantinnya
Jika ternyata kebingungan dengan lokasi resepsi, waktu acaranya atau hal lain yang berkaitan dengan undangan, hindari tanya-tanya ke pengantinnya saat hari H. Kalau pun bingung dengan alamat lengkapnya, tak perlu kirim pesan via WA atau telpon untuk menanyakannya.

[Hadeeh, hari gini, masih bingung masalah lokasi! Makanya pakai aplikasi!]

Cari saja di maps dengan tempat tertera atau tanya ke teman yang juga dapat undangan yang sama. Ingat, yang diurusi mempelai bukan hanya kita. Kasihan kalau mereka ikutan disibukkan dengan urusan tamu undangan di saat lagi deg-degan ngapalin "Saya terima nikahnya...dengan mas kawin..." 
  • Ambil Jatah Souvenirmu
Saat di meja penerima tamu, biasanya setelah menuliskan nama, kita akan diberi souvenir oleh petugasnya. Atau biar tamunya enggak ribet bawa, kadangkala akan diberi kupon untuk ditukarkan souvenir saat pulangnya. Dan, aturannya adalah: satu souvenir untuk satu undangan. Enggak lebih! Jadi, meski kotak tissue yang dipajang nampak unyu-unyu atau boks perhiasan kelihatan imut berkilauan, hindari untuk meminta, "Mbak, boleh nambah satu enggak souvenirnya?"

["Bu, ini pesannya cuma 500 biji, pas untuk 500 undangan di sini.!"jawab si Mbak dalam hati...hihihi]


Tips Kondangan
Datang berdua ke undangan pernikahan teman
  • Bersikap Sopan
Meski sang mempelai perempuan adalah teman cekikikan sejak SMP dulu atau mempelai laki-laki adalah anggota se-geng futsal kita, tetaplah berlaku sopan sepanjang acara. Bukan teriak-teriak menggoda dengan kalimat tak pantas. Atau berbicara kesana-kemari keras-keras. Apalagi sampai ikutan sumbang suara yang secempreng kaleng rombeng di panggung hiburannya. Ingat pernikahan adalah acara suci yang hendaknya dihormati dengan bertingkah laku sopan dan elegan. 
  • Hindari Comot Sana-Sini
Kini, begitu banyak dekorasi unik dan cantik menghiasi sebuah pesta. Ada rangkaian bunga segar nampak menawan di meja prasmanan. Atau manik-manik yang digantungkan di beberapa spot pepotoan. Meski semua itu tampak menggoda, hindari untuk mengambilnya. Karena bagaimanapun itu adalah bagian dari dekorasi ruangan yang bisa saja dimiliki oleh pihak jasa penata ruangnya. Lagian, tindakan comot sana sini itu melanggar kesopanan dan termasuk t i n d a k a n  p e n c u r i a n! Hiiiii!
  • Enggak Usah Kerajinan
Walaupun tersedia makanan berlimpah, enggak perlu bantu-bantu membersihkan dengan memasukkan ke tas tangan. Meski kelihatannya bersisa, siapa tahu masih ada tamu yang belum tiba. Lagi pula, kan sayang-sayang tas yang dibeli dari Jual Tas Wanita yang cuantiik itu, Sis...! Nanti kalau ketumpahan bumbu sate Padang gimana? 😁Makanya, kalau sudah kenyang ya pulang dan enggak usah punya niat bebungkusan.
  • Boleh Pepotoan tapi Ingat Posting Belakangan 
Saat kondangan, pasti kita bakal banyak jumpa saudara atau teman, lalu pepotoan. Belum lagi selfie, wefie atau pose di instagrammable spot yang cantik di sana sini. Meski demikian, tunda dulu menyebarkannya ke berbagai akun sosial media. Hindari sibuk sendiri dengan ponsel kita dan makan sepuasnya berbaurlah dengan tamu lainnya. 
  • Cukup Sekali Salaman
Kalau tadi sudah salaman, enggak perlu naik lagi ke pelaminan buat pamitan atau mau wefie-an. Apalagi kalau undangan yang antri salaman masih mengular. Kalau ingin mengucapkan wedding wishes dan ucapan terima kasih, bisa by email atau berkirim pesan via WA saja beberapa hari setelah pesta atau besok-besok saat kita jumpa mempelainya.

Tips Kondangan
Datang berempat ke undangan saudara dekat
Akhirnya, selamat menghadiri undangan pernikahan dan bergembiralah dalam acara dengan penuh sukacita tanpa meninggalkan etika.πŸ’•πŸ’•


Selamat Kondangan!

Dian Restu Agustina