The Fear Between Us: Ketika Kekuatan Cinta Menaklukkan Ketakutan yang Ada

"Sometimes reaching out and taking someone's hand is the beginning of a journey" (Vera Nazarian)

Judul buku: The Fear Between Us
Penulis: Tatiek Purwanti
Kategori: Novel
Penerbit: CV Jejak (Jejak Publisher)
Cetakan/Tahun Terbit:  Pertama/Januari 2018
Jumlah Halaman: 180 
Harga: Rp 50.000,00


Sebuah ketakutan kadangkala menguasai diri seseorang sehingga membuatnya benar-benar terpenjara tanpa mampu berbuat apa-apa. Tapi ternyata, kekuatan cinta yang hadir dan melawan ketakutan tadi berhasil memenangi dan mengambil alih penguasaan diri. 

Seperti yang dirasakan oleh Dania, perempuan muda yang ceria tapi punya ketakutan akan terbang, karena mengidap Aviophobia. Dan Randy, laki-laki yang penuh semangat menjalani hidup tapi takut pada cinta, lantaran menderita Philophobia. Dimana keduanya bertemu dan nyatanya mampu menaklukkan phobia itu. 

Demikian cerita Dania-Randy yang dikemas apik oleh Tatiek Purwanti dalam novel berjudul The Fear Between Us yang diterbitkan Jejak Publisher ini.

Kisahnya diawali dengan pengenalan sosok Dania pada bagian pertama bukunya. Gadis yang digambarkan lincah dan energik ini baru saja menyelesaikan kuliahnya di jurusan Desain Komunikasi Visual di sebuah PTN di kota Malang. Ia kembali ke rumah orang tuanya, pemilik toko kain Afranida di Pasar Pakisaji Kabupaten Malang untuk selamanya. Meski sejatinya ia sendiri tak sepenuhnya yakin akan keputusannya. Sementara Randy digambarkan sekilas lewat mobil tua yang dikendarai yang bagian belakangnya bertuliskan Randy Tailor.

Tatiek Purwanti

Kemudian kisah bergulir pada penyebab Dania sampai mengidap Aviophobia yang membuatnya (kemungkinan besar) tidak akan bisa menghadiri pernikahan sahabatnya, Aleyda, di Palembang. Kegusaran hati Dania ini ditanggapi Aleyda dengan menyemangati bahwa Dania sebenarnya telah melawan ketakutannya. Hanya saja, Dania memang memerlukan bantuan seseorang untuk mendampinginya menaklukkan phobia-nya. Ide tersebut dianggap tidak tepat saat ini bagi Dania karena belum terpikirkan olehnya.

Tentang Randy, wirausahawan muda yang juga pelanggan toko kain Afranida dan memiliki sebuah usaha konveksi di desa Pandanwangi. Dikisahkan ia hidup bersama ibunda tercinta dan meneruskan usaha almarhum ayahnya yang seorang penjahit. Dan, mempekerjakan 3 orang karyawan penyandang disabilitas serta karyawati yang seorang janda mati.

Randy mengabdikan hidupnya untuk usaha Randy Tailor yang dimilikinya. Juga berbagi pada sesama lewat open library yang dibuka di teras belakang rumahnya, gratis tiap Minggu sore untuk anak-anak di sekitarnya. Kesemuanya sebagai pelarian akan Philophobia yang dideritanya. Sebuah ketakutan yang mendera sejak 10 tahun silam setelah sebuah peristiwa kegagalan cinta yang hampir menghancurkan hidupnya.

Nyatanya, Dania dan Randy ditakdirkan berjumpa dan merasakan sesuatu saat pertemuan itu. Sebuah cinta pada pandangan pertama. Meski Dania mengingkarinya karena merasa bukan saat yang tepat untuk menghadirkan rasa itu lantaran masih banyak hal yang harus dipikirkan. Sebaliknya Randy merasa kehadiran Dania sebagai kunci pembuka Philophobia yang dideritanya.


Lalu bagaimana kelanjutan kisahnya? Apakah keduanya berhasil melepaskan diri dari penjara ketakutan yang begitu menyiksa?

Akankah Dania akhirnya memilih Randy menjadi seseorang yang akan membantunya menaklukkan phobia-nya? Ataukah menyambut tawaran orang tuanya yang menawarkan seseorang yang lain, Sultan, anak Haji Ridwan yang tak hanya setampan Kang Dong Won tapi juga lulusan dari Monash University?

Lalu bagaimana dengan Randy, siapkah ia membuka hati untuk Dania atau malah menerima kembali Puspa yang telah membuatnya terpenjara dalam Philophobia?

Dengan alur sederhana dan gaya bahasa yang mudah dicerna, novel ini berhasil menghibur pembaca dengan mengangkat tema yang belum banyak diulik oleh penulis lainnya, yaitu tentang phobia. Pembaca mendapatkan suguhan cerita cinta yang dikemas dalam balutan nilai-nilai Islami meski tetap ada keromantisan dalam bentuk quote, puisi dan diksi yang apik di sana-sini.

Selain itu, unsur lokalitas yang ditonjolkan melalui latar cerita, tradisi dan budaya, obyek wisata, event yang terselenggara dan lainnya, membuat pembaca seakan berada di dalam cerita, sukses diwujudkan pula oleh penulisnya.

Juga, beberapa pesan kebaikan yang ingin disampaikan penulis yang terkemas rapi tanpa kesan menggurui. Mulai dari kehangatan keluarga, gaya hidup sehat, nilai agama, semangat menghebat, book lovers, pacaran halal pasca pernikahan, kesetiaan, makna pernikahan dan beberapa pesan bermakna lainnya.

Novel setebal 180 halaman ini tak memerlukan penafsiran berat sehingga pas untuk dinikmati sekali duduk sambil rehat. Meski ada beberapa istilah bahasa Jawa yang disisipkan, pada bagian akhir novel telah dilengkapi dengan arti. Berikut juga dilampirkan sumber bacaan untuk quote dan puisi yang disertakan.

Hanya sayangnya, bagian dari phobia yang diderita tokohnya kurang diulas dengan tuntas, Sejauh mana ketakutan ini memengaruhi keseharian Dania yang ceria dan seberapa cinta benar-benar dibenci oleh Randy. Jika ini dieksplor lagi dengan lebih jeli lewat dialog, peristiwa yang menimpa atau monolog dari tokohnya tentu akan membuat rasa penasaran pembaca terjawab akan apa itu Aviophobia dan Philophobia.

Jejak Publisher

Dan akhirnya, novel bergenre amore yang keren ini sukses membuat saya tersenyum lega di akhir kisahnya. Saya merasa terhibur setelah membacanya pun terinspirasi akan pesan yang disampaikan penulisnya. 

Yang pasti, setelah membacanya, membuat saya ikut bangga, seorang Ibu Rumah Tangga pun bisa menekuni passion menulis yang dimiliki hingga membuahkan novel secantik ini. Bravo Mbak Tatiek Purwanti!


Selamat Membaca,

Dian Restu Agustina

28 comments:

  1. Seru ya kayaknya, dua orang punya pobhia bisa bersama, sudah lama banget gak pernah baca kisah-kisah kayak gini, rindu me time baca buku :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. ayo baca Mbak..novel cinta bikin awet muda hihihi:)

      Delete
  2. DKV di salah satu PTN di Malang
    hmmm mengingatkanku pada seseorang :)

    ReplyDelete
  3. Catet dulu mbak Dian, buat refrensi kalau nanti pas sudah punya waktu luang dan butuh bahan bacaan bagus

    ReplyDelete
  4. Matur nuwun sanget -sekali lagi- atas izinnya dalam meramaikan blog Mbak Dian ini. Noted untuk kritikannya :) Saya mengakuinya, Mbak, hehe... Harusnya emang bisa lebih tebal dari 180 halaman ya. Semoga suatu hari nanti saya bisa nulis novel lagi yang agak tebal. Aamiin... *elus2 dek Akmal :D

    ReplyDelete
  5. Zaman belum nikah, saya sering banget baca novel percintaan begini.
    Tapi sekarang udah jarang bangeett. Sampe lupa kapan terkahir kali beli novel.
    Ahhh jadi pingin lagi.
    Makasihh resensinya Mbak. Jadi penasaran gimana endingnya (",)

    ReplyDelete
  6. Wahhhh... Dulu sering rela ga tidur biar bisa baca novel mbak... Sekarang baru buka aja dah ketiduran. Wkwkwk... Noted mbak. Semoga ibu rumah tangga seperti saya juga bisa melahirkan karya... Pengenn deh perpustakaan keluarga yang ada pojok novel kaya gitu, dan antologi karya ibu-ibu semua... Terimakasih reviewnya mbak!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin..saya saja juga baper Mbak..Semoga kita juga bisa bikin buku solo ya nanti :)

      Delete
  7. Unik,kedua tokoh ceritanya sama-sama punya phobia ...
    Pemilihan kesamaan ketakutan ke 2 tokohnya ini jadi bikin orang penasaran kira-kira gimana endingnya.

    Good story.

    ReplyDelete
  8. Harganya cukup terjangkau dan isi ceritanya pasti menarik, salut dah dengan yang nulisnya.

    kekuatan cinta memang tidak ada habisnya, misalnya cinta ngeblog, maka bawaanya pgennn nulisss terusss.... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener, makanya kalau sudah cinta , nulis pun enggak ada bosennya :D

      Delete
  9. Kebetulan minggu ini lagi cari buku baru buat dibaca, novelnya menarik neh dan aku banget hahahah

    ReplyDelete
  10. Salah satu pakdeku itu takut banget terbang :( sampai sekarang. Bahkan nggak mau nginep di hotel kalau di lantai 3 ke atas. Lantai 2 masih mau...

    ReplyDelete
  11. aih novel cinta-cintaan biasanya bikin hari ikut berbunga-bunga....

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, biar bunga di hati enggak layu jadi musti baca yang berbunga-bunga begini hihihi

      Delete
  12. hallo mba dian, ternyata suka baca novel yang romance2 juga hihihi.
    tapi aku udah lama banget ga baca novel :(
    kangen rasanya untuk bisa baca novel lagi , semoga suatu saat nanti bisa baca novel lagi :)

    ReplyDelete
  13. Hmmm jadi pinisiriiin nih ama bukunya hehe..

    ReplyDelete
  14. Aku suka penulisnya, beliau orang ramah banget dan rendah hati. Kata-kata di setiap tulisan yang jadi ciri khas beliau yang banyak puitis menurutku, aku juga suka ��. Keren bunda review bukunya. Aq harus belajar nih dari bunda ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, diksinya oke nih..alur cerita enggak kemana-mana mudah dicerna, pemilihan kata oke punya:)

      Delete