Menikmati Pura Ulun Danu Beratan dan Kebun Raya Bali yang Menawan

"Perjalanan akan membuatmu tidak dapat berkata-kata, lalu mengubahmu menjadi pencerita" (Ibnu Batutta - musafir abad ke-14)
Setelah menikmati indahnya Pantai Lovina, saya dan keluarga pun melanjutkan perjalanan di hari kedua di Pulau Dewata. Agak melenceng dari rencana semula, yang seharusnya bisa lebih pagi agar bisa sightseeing di area Singaraja, kami pun langsung bertolak ke Kintamani dengan singgah terlebih dahulu di Bedugul.

Perjalanan ini akan melewati "jalan cacing" begitu sebut suami saya setelah melihat gambar di layar GPS Garmin yang terpasang di mobil. Pasalnya, rute Singaraja-Bedugul memang harus melewati pegunungan dengan kelokan tajam. Jadi diperlukan kehati-hatian saat mengemudikan kendaraan. Bahkan di beberapa tempat ada yang diselimuti kabut tipis yang bisa menghalangi jarak pandang pengemudi.

Jadilah, sopir tembak macam saya nyerah! Duduk manis di samping sopir utama saja lah..hahaha


Kondisi jalanan inilah yang membuat jarak sepanjang sekitar 30 km harus ditempuh selama satu jam lebih. Bukan saja karena medan dengan tanjakan, tikungan dan turunan yang bikin harus lebih waspada. Tapi juga lantaran kemacetan yang terjadi saat mendekati tempat wisata Danau Beratan.

Danau Beratan, tujuan kami ini adalah sebuah danau  yang terletak di Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali. Berada paling timur di antara 2 danau lainnya, yakni, Danau Buyan dan Danau Tamblingan dan terletak di ketinggian 1240 Meter di atas permukaan laut.


Suhu di sini dingin, dimana saat malam hari bisa mencapai 18 derajat Celcius dan 24 derajat Celcius pada siang hari. Luas danaunya kurang lebih 275,6 Hektar dengan kedalaman 22 sampai 48 meter. Dan merupakan danau terbesar kedua di Bali setelah Danau Batur.

Keindahan Danau Beratan makin lengkap karena ada sebuah pura di tengahnya yaitu Pura Ulun Danu Beratan. Sebuah pura yang dibangun oleh I Gusti Agung Putu pada Tahun Saka 1556 (1634 Masehi).

Danau Beratan

Pura ini adalah tempat suci yang digunakan oleh umat Hindu di Bali maupun di Indonesia untuk memuja Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Tri Murti (Brahma, Wisnu dan Siwa). Khususnya untuk memohon kesuburan, kemakmuran, kesejahteraan manusia dan kelestarian alam.

Kawasan daya tarik wisata Danau Beratan ini, memang menjadi salah satu destinasi yang wajib dikunjungi wisatawan di Bali. Tak heran, kepadatan lalu lintas pun terasa saat menuju ke sana. Sehingga saya menjadi bagian dari antrian panjang yang terjadi di 2 kilometer menjelang lokasi. Hiks!

Danau Beratan

Untung saja, hati terhibur melihat sisi kanan dan kiri. Dimana perumahan penduduk yang berarsitektur Bali yang unik dan cantik bikin mata jadi segar-segar saja. Belum lagi sambil menikmati penjor di depan rumah mereka. Pelengkap mebanten (persembahan) pada Hari Raya Galungan - Kuningan yang jatuhnya hampir bersamaan dengan Idul Fitri 1439 H, yaitu pada Rabu 30 Mei - Sabtu 9 Juni 2018 lalu.

Di kepadatan jalanan menjelang lokasi, nampak banyak kendaraan yang parkir di luar area, di kiri dan kanan jalan yang ada. Lantaran tempat parkir di dalam memang terbatas dan ternyata penuh dengan bis dan kendaraan lainnya.

Danau Beratan

Tapi syukurlah di sepanjang jalan, berjaga Polantas yang siap sedia mengatur dan mengurai kemacetan. Acung jempol untuk Polda, jajaran pemerintahan dan masyarakat Bali semua, yang makin hari makin siap dalam menyambut dan melayani wisatawan di wilayahnya.

Lanjut lagi...., setelah membayar karcis parkir sebesar 5 ribu rupiah dan membeli tiket masuk di loket seharga 20 ribu per orang, kami pun memasuki area di tengah ramainya wisatawan. Padaaat pengunjungnya!!

Danau Beratan

Dan, begitu memasuki gerbang masuknya, saya terpana dengan perubahan tempatnya. Kini area wisatanya diperluas dan dipercantik lagi. Sangat berbeda dibandingkan belasan tahun silam saat saya beberapa kali ke sini ketika tinggal di Denpasar, Bali.

Semuanya terawat dan ada tambahan beberapa bangunan baik permanen maupun sementara, juga ditambahkan taman. Apalagi saya berkunjung bertepatan dengan diselenggarakannya Ulun Danau Beratan Art Festival IV, pada 13 Juni - 1 Juli 2018. Dimana puncak acara adalah pada 24 - 26 Juni 2018. Pantas saja baik Wisatawan Mancanegara maupun Nusantara tumplek bleggg ada di sana.

Saking ramainya sampai-sampai mau cari spot foto saja sampai kesulitan saya...Hiks!

Danau Beratan

Setelah nyempil biar dapat latar menawan untuk pepotoan, kami pun berkeliling ke area yang buka dari pukul 5 pagi sampai 7 malam ini.

Saya sedikit bercerita ke anak-anak apa yang pernah saya baca tentang candi air seperti ini yang merupakan tempat pemujaan untuk Dewi Danu, sang dewi pemberi kesuburan. Danau Beratan ini memang menjadi sumber irigasi bagi perkebunan buah dan sayur di sekitar tempat ini.

Danau Beratan

Udara yang sejuk, tanah yang subur dan air yang melimpah membuat wilayah ini cocok untuk menanam sayur dan buah. Tak heran jika di Bedugul akan banyak ditemui sayuran segar dan buah-buahan khas tanaman pegunungan. Yang hasil panennya bisa kita dapatkan di Pasar Candi Kuning yang terletak tak jauh dari Danau Beratan ini.

Danau Beratan

Tapi, harusnya datang ke sini itu pagi-pagi (pengalaman saya dulu pernah menginap di hotel di dekat sini). Karena kita akan bisa menikmati pemandangan matahari terbit yang muncul perlahan dari balik perbukitan yang membuat kabut di atas danau pun angkat kaki.

Indah sekaliii!!

Dan, keindahan inilah yang menginpirasi saya, menuliskan sebuah cerpen yang dimuat di NOVA yang berlatarkan Danau Beratan dalam cerita Kembar Buncing. 😍

Danau Beratan

Selain bangunan tempat persembahyangan bagi Agama Hindu, di lokasi ini juga terdapat sebuah stupa Budha. Stupa ini dibangun bersamaan dengan komplek pura di Pura Ulun Danu Beratan Bali. Sebuah stupa yang memiliki makna adanya keselarasan dan harmoni beragama. Dimana stupa dibangun dengan posisi menghadap ke Selatan dan berlokasi di luar area utama komplek Pura Ulun Danu Beratan.

Tak hanya itu, obyek wisata ini juga dilengkapi sarana rekreasi air seperti speed boat keliling danau, sepeda air, berfoto dengan binatang unik, kandang rusa dan area bermain anak. Jadi, jika sudah puas wefie sana-sini bisa sekalian coba aneka kegiatan ini. Biar puas capeknyaaa...😀

Danau Beratan

Kalau sudah puas menikmati danau dan bermain bersama keluarga dan lapar pun mendera, bisa langsung ke restoran yang ada di dalam area kawasan. Atau membeli cendera mata di deretan kios souvenir yang ada.

Dan bagi teman-teman Muslim jika ingin mencari rumah makan Muslim pun tak perlu khawatir. Di seberang lokasi wisata ada sebuah rumah makan yang lumayan rasanya. Namanya Warung Muslim Taliwang Bu Hj Marfu'ah.

Pura Ulun Danu Beratan

Menunya endesss...meski buat lidah Jawa saya, sambelnya kurang ada manisnya #teteup. kwkwkw. Karena hanya asin dan pedes saja seperti masakan Bali dan Lombok pada umumnya. Tapi menu yang lain oke punya kok..

Sedangkan harganya...enggak mahal juga! Apalagi ada tercantum harga tertera. Seringkali kita temui, rumah makan di tempat wisata tak mencantumkan harga dan ujung-ujungnya kita shock saat membayarnya. Dikemplang! Hadeeeh! Makanya biar sedikit mahal, mending pilih tempat makan yang pasti-pasti saja seperti ini.

Pura Ulun Danu Beratan

Pilihan menunya pun lengkap, buat anak-anak ada pilihannya. Tempatnya dua lantai dengan kapasitas tempat duduk yang lumayan banyak. Tersedia pula toilet bersih dan mushola. Juga ada aneka camilan sebagai buah tangan.

Kami memilih menu Taliwang paket, sate, rawon, soto, Taliwang porsi dilengkapi 4 nasi dan 4 buah minuman. Semuanya habis 193 ribu rupiah.

Warung Muslim di Danau Beratan

Oh ya, waktu menunggu makanan pun enggak lama. Padahal saat saya di situ, pengunjungnya ramainyaaa...Tapi karena pelayannya banyak, jadi perut enggak perlu kelamaan nunggunya.

Karena perut sudah kenyang dan hati senang sudah berkunjung ke Pura Ulun Danu Beratan, maka tiba saatnya kami melanjutkan perjalanan ke Kebun Raya Bali.

Danau Beratan

Menjelang arah ke Kebun Raya Bali yang jauhnya sekitar 3 km dari Pura Ulun Danu Beratan ini, akan kita temui Pasar Candikuning yang terletak di sisi kanan jalan.

Tapi, meski mupeng habis, lihat dari luar kios buah, sayur segar juga aneka jajanan yang menggoda iman. Dan lirikan mata si Bapake yang nampak keberatan,...jadi skip dulu ke pasarnya. Karena perjalanan masih jauh pemirsaaah..hahaha

Oh ya setelah pasar akan ada patung jagung dan dua belokan ke kanan. Yang satu menuju Kebun Raya Bali dan yang lain ke perkampungan. Kami sempat salah belok di sini hihihi. Jadilah muter balik lagi dan ke jalan satu lagi menuju kebun botani yang terletak di wilayah Candikuning, Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali.

Kebun Raya Bedugul

Kebun yang merupakan kebun raya pertama yang didirikan oleh putra bangsa Indonesia ini pengelolaannya dilakukan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Dan secara struktur organisasi, kebun raya ini berada di bawah pembinaan Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor.

Kebun raya ini didirikan pada 15 Juli 1959. Dan pada awalnya bernama, Kebun Raya Eka Karya Bali dan hanya diperuntukkan bagi tumbuhan runjung (tumbuhan berdaun jarum). Seiring dengan perkembangan dan perubahan status serta luas kawasannya, kebun yang berada pada ketinggian 1.250–1.450 m dpl ini kini menjadi kawasan konservasi ex-situ bagi tumbuhan pegunungan tropika Kawasan Timur Indonesia. Dan luas kawasan Kebun Raya yang semula hanya 50 ha  pun diperluas menjadi 157,5 ha.

Kebun Raya Bedugul

Begitu memasuki Candi Bentar yang menjadi gerbang utama Kebun Raya, kita akan mendapati loket pembelian tiket. Tiket masuk adalah sebesar 11 ribu/orang. Dan untuk kendaraan dikenakan biaya masuk 12 ribu rupiah.

Untuk mobil diperkenankan masuk ke lokasi dan berkeliling ke area Kebun Raya. Sedangkan motor atau bis hanya bisa sampai di tempat parkir saja.

Kebun Raya Bedugul

Setelahnya ketika memasuki area Kebun Raya, hawa sejuk pun menerpa. Adeeeem melihat hijaunya pepohonan dan rumput luas yang terhampar. Ada beberapa kendaraan yang parkir di sepanjang jalan di area dalam juga rombongan yang bersantai di lapangan hijau atau bale bengong yang ada.

Memang Kebun Raya Bali ini bisa dijadikan tempat acara baik keluarga maupun perusahaan dan komunitas dengan aturan tertentu. Acara family gathering atau field trip sekolah biasanya yang sering diadakan di sini.

Kebun Raya Bedugul

Mereka bisa mengadakan acara di lapangan rumput yang ada. Luasan yang cukup untuk sekalian melakukan beragam permainan. Atau juga untuk keluarga bisa juga setelah berkeliling area Kebun Raya, bercengkerama di rerumputan yang terawat rapi ini.

Jika perut keroncongan, pengunjung juga tak perlu khawatir. Karena ada kafe yang menjual makanan dan minuman di dalam area. Tapi lebih baik memang bebekelan sendiri, bawa rantang dan tikar sekalian. Karena tempatnya memang recommended buat piknik.


Kebun Raya Bedugul

Oh ya, ketika menyusuri jalan masuk Kebun Raya kita akan mendapati beberapa patung yang menghiasi bundaran jalannya. Ini instagrammable spot buat para penyuka pepotoan. Selain itu ada beraneka koleksi Anggrek, tanaman obat, Kaktus, dan masih banyak yang lainnya. Pokoknya kalau mau buat kunjungan penelitian atau belajar enggak bakal kelar seharian.

Tapi enggak perlu khawatir, ada penginapan jika memang wisatawan ingin bermalam di Kebun Raya Bali, yakni di Guest House Etnobotani.

Meski, yang mau seharian saja tanpa menginap pun sudah bisa datang ke Kebun Raya sejak jam buka pada pukul 8 pagi dan tutup pada pukul 6 sore.

Kebun Raya Bedugul

Kemudian kita pun bisa menikmati keindahan pemandangan Danau Beratan dari ketinggian di Kebun Raya Bali ini, yaitu di sisi lake view. Dari sini nih..danaunya terlihat kereeen bangets!

Oh ya, anak-anak pun bisa dibawakan bola atau mainan lainnya kalau ke sini. Dan biarkan mereka lari-lari sepuas hati di hijaunya rumput. Meski tetap harus hati-hati karena kontur Kebun Raya yang berbukit dan miring, khawatir mereka terguling dan terperosok ke arah yang dalam.

Kebun Raya Bedugul

Oh ya, di dalam kompleks Kebun Raya juga ada taman yang khusus menjadi konservasi tanaman yadnya atau untuk upacara masyarakat Hindu di Bali.

Kebun yang luasnya sekitar tiga hektare itu dikembangkan sejak tahun 1995 dan baru pada tahun 2015 menyelesaikan bangunan yang berada di tengah areal taman. Ada sekitar 213 jenis tanaman yadnya yang ada di taman yang luasnya sekitar empat hektare itu. Di antaranya pohon andong, pisang hitam, cemara geseng dan bambu kuning. Dan masyarakat bisa meminta ke sini dengan perijinan bagi yang sulit mendapatkan bahan upacara.

Kebun Raya Bedugul

Hanya sayangnya, di tengah hijaunya pepohonan dan sejuknya udara sekitar Kebun Raya, saya menemui sampah yang menggunung selesai helatan sebuah acara. Juga anak-anak yang dibiarkan orang tuanya makan snack kemudian membuang sampahnya kemana-mana. Duh, kezeeel lihatnya!

Belum lagi, toilet yang tak menyediakan air yang layak. Juga kebersihannya yang jauh dari standar. Semoga ke depan hal seperti ini dibenahi lagi oleh pihak pengelola.

Dan, kunjungan saya sekeluarga di Bedugul pun harus berakhir di Kebun Raya. Selanjutnya kami akan melanjutkan perjalanan ke Kintamani. Tapi sebelum pergi dari sini, saya sempat bernostalgia dulu dengan suami.

Kebun Raya Bedugul

Ceritanya waktu pedekate pada tahun 2001, suami (masih calon waktu itu) mengunjungi saya di Bali dan kami pergi ke Kebun Raya Bedugul ini.

Seingat kami, dulu ada bale bengong di sini..

Lha kemarin.. Itu bale sudah dipindah tempatnya, berubah jadi bangunan entah apa.. Jadilah kami nostalgia di sini saja, di atas bangku potongan pohon sambil merasa dunia milik berdua... hahaha

👨Dulu ada bale bengong di sini... Kok jadi gini? "

👩"Iyaaa ya, dulu di sekitar sini kok.. Jadi beda ya?"

👨"Iya, itu bangunan baru, dulu enggak ada itu...!"

👩"Ya sudah.. foto di sini saja *pasrah!"😬😂

Oh, ya beberapa tips berkunjung ke Pura Ulun Danu Beratan dan Kebun Raya Bali, diantaranya:
  • Sunrise Pura Ulun Danu Beratan itu baguuuus bangets. Jadi kalau mau hunting sunrise ya lebih baik nginapnya musti di sekitar situ. Atau pagi-pagi buta sudah berangkat dari Denpasar (50 km/1,5jam). Kalau dari Singaraja berisiko, khawatirnya dini hari jalanan masih berkabut.
  • Tujuan pertama ke Pura Ulun Danu baru ke Kebun Raya. Pulangnya mampir dulu ke pasar Candikuning buat belanja sayuran, buah-buahan dan aneka penganan.
  • Bawa senjata perpiknikan: tikar, makanan, minuman, camilan, panci, wajan, mainan, buku bacaan dan jangan lupa baju hangat karena kadang udaranya bisa duuiingiiin.
  • Lebih baik sedia payung sebelum hujan. Di daerah sini curah hujan tinggi
  • Hati-hati jika membawa kendaraan sendiri (motor/mobil) karena jalanan menuju arah pegunungan banyak tikungan tajam (terutama dari arah Singaraja)
  • Perbekalan anak: baju ganti karena pasti baju kotor buat berguling-guling di rumput, minyak kayu putih biar badan hangat dan lotion anti serangga untuk menghindari gigitan nyamuk dan sebangsanya.

Okey dokey..sekian dulu, terima kasih sudah membaca. Please, tunggu kelanjutan ceritanya!!

Oh ya, kalau ke Bali jangan lupa mampir juga ke Pura Ulun Danu Beratan dan Kebun Raya Bali yaaa...😍



See You,

Dian Restu Agustina



Lovina - Sebuah Permata di Bali Utara


Waktu menunjukkan pukul 19.30 WITA saat saya dan keluarga memasuki kawasan wisata Lovina. Sebuah daerah tujuan wisata yang terletak sekitar 9 km di sebelah Barat Singaraja, ibukota Kabupaten Buleleng, Bali Utara.

Ketenangan terasa saat kendaraan kami melewati jalanan. Suasananya nampak tak seramai kawasan wisata di Bali bagian Selatan. Memang, wisatawan lebih banyak berpusat di sisi Selatan Pulau Seribu Pura ini. Mereka rata-rata tiba dan menginap di sana dan sebagian saja yang singgah ke area Singaraja.


Saya sendiri, meski pernah tinggal selama 8 tahun di Bali, baru sekali mengunjungi kawasan ini. Karena itulah saya dan suami pun membuat itinerary, pertama kali akan datang ke sini setelah menyeberangi Selat Bali.

Perjalanan dari pelabuhan Gilimanuk di Kabupaten Jembrana, ke Singaraja di Kabupaten Buleleng ini,  kami tempuh selama lebih dari satu jam lamanya. Jarak sejauh 80 km dijalani dengan melewati suguhan pemandangan hutan di Taman Nasional Bali Barat, perkampungan penduduk di sepanjang jalan dan pesisir pantai Utara Bali yang masih alami.

Cantik sekaliiii!

Pantai Lovina

Pun, di saat memasuki kawasan yang mulai ada penginapan untuk para wisatawan, keramaian yang sangat tak nampak di sini. Hanya sesekali terlihat wisatawan asing yang sedang berjalan di sisi trotoar, menikmati minuman di resto yang ada di kiri dan kanan atau sedang berada di dalam kios yang menjajakan aneka kerajinan tangan. 

Sampai ketika GPS pengarah tujuan menandakan telah sampai di lokasi penginapan, saya beberapa saat sempat terpana.

Lovina Beach

Sebuah bangunan tua mengusung kekhasan gaya tradisional Bali dari masa awal sebelum desain berkembang dengan pesatnya, dengan kokoh nampak di depan mata.

Hanya ditandai dengan penanda sederhana bertuliskan "Lovina Beach Hotel" yang ada di sisi jalan raya dan di atas bangunan utamanya.

Lovina Beach

Sesudahnya, memasuki lokasi, kami disambut dengan tempat parkir kendaraan yang tidak terlalu luas di halaman depan. Maklum, sebagian besar wisatawan bisa jadi datang menggunakan pesawat atau rombongan bus jika mengunjungi Bali. Dan tidak banyak yang seperti kami yang memakai kendaraan pribadi.

Pantai Lovina

Setelah memarkir kendaraan, kami disambut oleh staf penyambut tamu di lobby yang menawarkan bantuan untuk membawakan barang. Lalu, saya dan suami check in dulu di front office. Kami memesan 2 kamar tidur di sini dan memilih kamar yang bersisian letaknya. Pemesanan kamar sebelumnya sudah kami lakukan via situs layanan pemesanan perjalanan online dengan harga 300 ribuan/kamar/malam.

Lovina Beach

Sementara itu, seorang petugas lainnya tiba di lobby membawa welcome drink untuk kami yakni 4 gelas orange juice sebagai sambutan selamat datang.

Segaaar! Sesegar senyum para karyawan hotel yang ramah saat melayani kami tadi.

Oh ya, pada saat check in, saya sekalian menanyakan ada tidaknya paket Dolphin Tour pada petugas Kantor Depan. Dan ternyata pihak hotel memiliki beberapa Outdoor Acitivities diantaranya: Dolphin Tour, Snorkeling, Diving, Waterfall Trekking, Water Sports dan Lovina Tours.

Jika berminat tinggal pesan ke Reception Staff, bayar cash dan tunggu waktunya. Mudaah saja!

Lovina Beach Hotel

Karena Lovina identik dengan lumba-lumba, maka saya pun mengambil paket Dolphin Tour untuk sekeluarga. Petugas memberitahu akan ada yang menjemput ke kamar besok pagi sebelum pukul 6. Memang menyaksikan lumba-lumba di laut lepas ini musti pagi-pagi sekali, begitu info yang pernah saya baca.

Lovina Beach

Setelah selesai dengan semua urusan administrasi, kami pun menuju kamar yang sudah disiapkan. Bentuknya bangunan lama, berupa bungalow dengan satu atau dua lantai yang dilengkapi tangga kayu di bagian luarnya.

Pantai Lovina

Bungalow dengan dua lantai merupakan kamar hotel yang terpisah dan masing-masing memiliki teras tempat menikmati taman yang indah. Bahkan dari kursi teras kamar, saya bisa memandang pantai Lovina yang jauhnya hanya beberapa langkah. Vitamin Sea yang sempurna dengan deburan ombak yang tenang dan birunya lautan benar-benar menjadikan segar pikiran...!!

Alhamdulillah!!

Bahkan, saya sampai enggak kepikiran saat si Mas laporan: "Buk, WiFi nya lelet...!" kwkwkw

Di sini, lupakan dulu WiFi dan TiVi!...Just enjoy The Vitamin Sea!😍

Pantai Lovina

Oh ya, kamar yang kami pesan adalah tipe Standard Room with hot/cold shower and air conditioned. Yang satu dilengkapi dengan double bed dan yang lainnya bertipe twin bed. Ada beberapa lemari dan laci-laci penyimpanan barang. Juga 2 botol mineral water sebagai complimentary.

Pantai Lovina

Untuk kamar mandinya, tersedia bathtub dan shower dengan air panas/dingin dan perlengkapan standar lain yang bersih meski nampak tua usianya. Tersedia juga sabun/odol/sikat gigi serta ada 2 handuk bersih yang melengkapi.

Pantai Lovina

Setelah bebersih badan, karena belum makan malam, kami pun keluar berjalan kaki di sekitar hotel untuk mencari tempat makan. Dan ternyata, di sekitarnya lengkaaap semua ada. Minimarket bertebaran, ATM, rumah makan dan toko-toko kerajinan. Meski beberapa sudah tutup karena hampir jam 9 malam.

Trotoarnya pun walking friendly...Sesekali kami juga berpapasan dengan wisatawan mancanegara yang sedang menikmati malamnya.

Dan setelah berjalan beberapa lama, perut kami pun akhirnya terisi di salah satu gerai waralaba fried chicken yang ada.

Pantai Lovina

Kembali ke penginapan, di tengah rasa capek yang mendera setelah perjalanan selama sekitar 14 jam dari Pulau Jawa, kami berempat pun enggak pakai lama segera dibuai mimpi. Hingga pagi, di saat sang Surya masih menutup mata, pintu kamar diketuk oleh petugas yang membangunkan kami untuk segera menuju pantai dan mengikuti tur lumba-lumba.

Sunrise Lovina Beach

Keluar dari kamar, kami disambut pantai yang masih remang-remang. Mentari pun masih malu-malu menampakkan diri. Kami mendatangi Pak Made yang telah siap dengan jukungnya (perahu tradisional khas Bali) bernama Lestari. Ia mengulurkan 4 buah jaket pelampung untuk keselamatan diri kami. Setelahnya, dengan dipandu olehnya sebagai bendega (pengemudi jukung), kami menaiki perahu bermesin itu menuju tengah lautan. 

Lovina Beach

Jangan tanya rasanya, antara takut, ngeri dan doa yang tiada henti..hihihi. Sebabnya adalah perahunya yang kencang, goyang kiri kanan dan makin menjauhi tepian. Hiks!

Sampai-sampai saya pegangan maksimal di dinding perahu dan khawatir saat mau ini itu. Untunglah, perhatian saya teralihkan dengan pemandangan indah matahari yang terbit di ufuk Timur.

Cantikyaaa!

Lovina Beach

Juga, setelah suasana makin terang, barulah saya tenang. Ternyata ada puluhan perahu lainnya di sekitar kami, haduh..aman..aman, banyak teman kwkwkw. Masing-masing perahu itu ada yang berpenumpang 2, 4 atau 6 orang tergantung pada kapasitasnya. Banyak wisatawan mancanegara juga. Tapi satu hal yang membuat saya bersyukur, dari awal Pak Made sudah memberi jaket keselamatan untuk dikenakan. Karena saya lihat tidak semua perahu dilengkapi itu.

Pantai Lovina

Setelahnya, kami berputar-putar di sekitar area tempat menunggu munculnya lumba-lumba. Dan ketika kemudian ada teriakan dari wisatawan yang menyaksikan kawanan ikan berjenis mamalia ini, semua pun mengarahkan pandangan ke lokasi sumber suara. Beberapa kali terlihat kawanan lumba-lumba  - 4 sampai 6 ekor - muncul dan meliukkan badan di atas permukaan laut untuk menghirup oksigen dari udara ke paru-paru mereka. Sesekali juga ada ikan terbang yang melompat ke udara. Begitu terus sampai beberapa kali pemandangan menakjubkan ini terjadi.

Dolphin Tour

Hanya sayangnya memang munculnya hanya beberapa detik saja dan belum tentu di dekat perahu kita. Sehingga kalau mau ambil gambar memang... syusyaaahnya. Jadilah gambarnya direkam saja di kepala kwkwkw

Tapi pengalaman ini benar-benar. mengesankan. Mengingat selama ini saya hanya menemui lumba-lumba di Gelanggang Samudera atau beberapa sirkus yang ada.

Jadi saat melihatnya berada di depan mata dan di habitat aslinya....Masya Allah Tabarakallah...!

Pantai Lovina

Setelah sekitar satu jam di lautan dan puas menyaksikan lumba-lumba dengan lekuk cantiknya, kami pun ditawari Pak Made untuk pergi sekalian ke akuarium laut yang letaknya tak jauh dari situ. Dengan tambahan biaya 100 ribu, kami pun berperahu menuju sisi lain pantai Lovina dan menikmati ikan-ikan yang bisa dilihat dengan mata telanjang dari atas perahu. Beberapa wisatawan bahkan saya lihat turun dan masuk ke air laut yang memang berada di pantai yang dangkal. Nampak hijaunya koral dan ikan berwarna-warni yang berenang di sela-selanya.

Cantiknyaa...!

Rasanya, kalau enggak ingat perut yang belum diisi, mager buat pergi dari sini hihihi. 

Lovina Beach Hotel

Akhirnya sekitar pukul 8 pagi, kami pun kembali menepi. Alhamdulillah hotel ini berada persis di tepi pantai sehingga memudahkan untuk segera kembali ke kamar dan bebersih sebentar. Enggak perlu lama-lama mandinya, karena perut sudah keroncongan dibawa jumpa si lumba-lumba...

Jadi kilat saja mandinya, langsung cusss ke restoran buat sarapan.

Sejarah Lovina

Oh ya Lovina Beach Hotel ini bukanlah hotel biasa, tapi ada nilai sejarahnya. Inilah cikal bakal hotel pertama yang didirikan di kawasan Lovina. Tepatnya sudah ada sejak 1953 yang dirintis oleh Anak Agung Pandji Tisna yang juga perintis nama Lovina hingga ternama seperti saat ini. Dan, kini jasa AA Pandji Tisna, seorang penulis ternama pada jamannya, dikenang lewat monumen kecil yang didirikan di sisi belakang hotel ini.

Sejarah Lovina

Hotel dilengkapi juga dengan sebuah kolam renang yang bersih di antara taman dan deretan kamar yang letaknya bersisian dengan Permata Restaurant. Meski anak-anak enggan berenang karena kecapekan pagi-pagi sudah jadi nelayan. 😍

Jadi kami duduk-duduk sebentar di kursi yang ada di pinggir kolamnya saja.

Lovina Beach Hotel

Permata Restaurant yang berada di sebelah kolam renang adalah tempat untuk sarapan para tamu. Restoran ini menawarkan 4 menu pilihan yang rasanya lumayan.

Restoran juga buka untuk lunch dan dinner buat tetamu yang ingin menyantap sajian Nusantara atau Mancanagara tanpa perlu kemana-mana.

Lovina Beach Hotel

Pilihan menu sarapan ini dilengkapi dengan tea, coffe dan orange juice yang bisa diambil sendiri. Juga ada buah sebagai penyerta masing-masing menunya.

Makanan dinikmati sambil memandang lepas ke lautan yang ada persis di depan pandangan...What a great place!

Lovina Beach Hotel

Waktu sarapan dari pukul 07.30 sampai 10.00 pagi dengan sajian yang diantarkan ke meja sesuai pilihan kita. Pelayanan yang ramah dan cepat, membuat kenyang saya tak perlu tertunda lama.

Lovina Beach

Untuk menunya, pilihan si Adik adalah Toast with Eggs and Tomato Slices. Dimana dia mau telurnya dibuat sunny side up welldone alias telor mata sapi matang.

Sementara si Mas pengin French Toast with Honey yang saya tambahkan telur satu dari piring adiknya... Biar serumah makan telur semuaaa..😀

Tips ke Lovina

Sedangkan saya lebih pilih menu kenyang setelah sekitar dua jam berada di tengah lautan...Sepertinya lapar ini terasa berat sekali kalau belum dilawan oleh nasi..hihihi. Jadilah saya makan Nasi Goreng plus telor mata sapi.

Lovina Beach Hotel

Sedangkan suami pun setali tiga uang dengan saya, perutnya perlu diisi menu Nusantara dan bukan menu kebarat-baratan seperti selera anak-anak kami. Dan, dipilihnya Mie Goreng sebagai pengisi perut pagi ini.

Permata Restaurant

Dan, sarapan pun kami akhiri dengan kopi/teh/jus dan buah sebagai penutupnya. Alhamdulillah.

Tips Berkunjung ke Pantai Lovina

Selesai sarapan, kami berjalan kaki ke Dolphin Statue yang nampak dari kejauhan. Hanya terletak sekitar 300-an meter dari pintu belakang hotel. Dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki sambil menikmati sejuknya angin pantai di pagi hari.

Dolphin Statue ini adalah titik pandang yang menjadi pusat keramaian di kawasan ini. Dan biasa menjadi tempat untuk menikmati sunrise ataupun sunset di Lovina.

Dan benar saja, sudah ada beberapa rombongan wisatawan dengan menggunakan beragam kendaraan yang bergantian mengambil gambar di sekitar patung lumba-lumba yang ada.

Lokasi di sekitar Dolphin Statue ini bersih dan strategis sebagai tempat rehat sambil memandang lautan yang biru dan tenang.

Pantai Lovina Singaraja

Nampak pula puluhan wisatawan mancanegara yang baru turun dari kapal pesiar dan sedang merapat ke daratan menggunakan beberapa perahu kecil. Mereka disambut dengan tarian Bali dengan iringan musik gamelan juga pengalungan bunga sebagai penyambutan. Terlihat senyum bahagia mengembang di bibir mereka sebelum memasuki 4 bis wisata yang akan mengantarkan pelesiran di Singaraja dan sekitarnya.

Pantai Lovina

Dan, setelah puas menikmati suasana di Dolphin Statue ini - yang kata teman saya sunsetnya indaaaah sekali - kami pun beranjak kembali ke hotel lagi.

Benar-benar hotel yang strategis karena lokasinya sangat dekat dengat pusat pantainya. Meski untuk penyuka hotel berfasilitas itu ini Lovina Beach Hotel ini enggak pas untuk diinapi. Tapi, untuk liburan keluarga saya merekomendasikannya karena dekat kemana-mana. Bahkan untuk teman-teman Muslim, di dekat hotel juga ada Masjid Ukwatul Islam yang hanya berjarak sekitar 400 meter dari sana.


Akhirnya, selesai sudah kunjungan kami di Lovina, sebuah permata di Bali Utara. Sejatinya kami ingin menyambangi destinasi menarik lainnya di sekitar Singaraja. Tapi karena, kondisi suami yang lagi bermasalah dengan perutnya (kebanyakan sambel tumpang saat di Kediri dan pecel di Madiun...) akhirnya sisa hari kami pakai rehat singkat di kamar saja. Hingga waktu check out tiba pada pukul 12 siang.

Kami pun meninggalkan Singaraja untuk melanjutkan perjalanan ke Bedugul di hari yang sama untuk selanjutnya menginap di Kintamani.

(Untuk cerita selengkapnya, nantikan di postingan berikutnya yaa!!)


Oh ya, sedikit tips saat mengunjungi Lovina:
  • Pilih datang waktu sunrise atau sunset saat di Lovina. Karena kabarnya sama-sama indahnya.
  • Kalau mau menyaksikan lumba-lumba, lebih baik datang/menginap sehari sebelumnya. Karena lumba-lumba biasa terlihat di pukul 7 pagi. Jadi dari pukul 6 pagi wisatawan yang ikut Dolphin Tour ini sudah harus berangkat dari pantai
  • Pilih penginapan yang tidak jauh dari pantai sehingga memudahkan keberangkatan saat mengikuti Dolphin Tour ini
  • Untuk Dolphin Tour ini bisa juga pesan sendiri tidak harus dari penginapan
  • Jaga kebersihan dengan membuang sampah pada tempatnya. Karena beberapa kali saya menemui sampah plastik mengambang di lautan.
  • Sebaiknya isi perut sekedarnya dulu agar enggak masuk angin di tengah laut. Saya melihat beberapa anak-anak muntah/mabuk laut di atas jukung lainnya.
  • Jangan lupa minta jaket pelampung sebelum naik ke jukungnya untuk keselamatan kita
  • Saat menginap di Lovina, jika ada waktu ambil juga sightseeing tour atau aktivitas alam lain yang banyak ditawarkan. Tersedia juga penyewaan kendaraan jika diperlukan.

Lovina Beach Hotel

Finally, bye-bye Lovina...See you again next time!😍😘

Oh ya kalau Teman-Teman nanti ke Bali jangan lupa singgah juga yaaa ke siniiii!!


Love,


Dian Restu Agustina