Mencetak Anak yang Taat pada Allah (Pengajian Akbar Ustad Subhan Bawazier)






Assalamualaikum...

"Al Ummu Madrasah Al-Ulaa..Ibu adalah madrasah (sekolah) pertama bagi anak-anaknya!" Begitu Ustad Subhan Bawazier memulai tausiahnya pada Pengajian Akbar "Mencetak Anak yang Taat pada Allah" hari Rabu, 9 Januari 2019 yang diselenggarakan oleh Jammiyah SDI Al Azhar 8 Kembangan, Jakarta Barat.

Sebuah peringatan untuk semua hadirin yang mayoritas adalah Ibu untuk mengingat bahwa sosok Ibu punya peran pertama dalam pendidikan anak-anaknya. 

Namun tak hanya Ibu seorang yang berperan karena Ayah juga dibutuhkan ada dalam proses pengasuhan. Selanjutnya kedua orang tua berkewajiban mendidik anak-anak mereka dan menyempurnakan usaha ini dengan mengirimnya untuk menuntut ilmu pada seorang guru.


Mau Anak Taat? Doa dan Usaha!


Selanjutnya, Ustad mengingatkan, sesuai dengan tema tentang keinginan orang tua akan anak yang taat, maka sebenarnya yang harus dibahas dulu adalah ortu.

Karena...

Anak adalah hasil didikan dari orang tuanya. Maka, jika pun orang tua senantiasa meminta "Rabbi habli minash shalihin" (Wahai Rabbku, berilah aku keturunan yang saleh), itu akan sia-sia belaka jika hanya sekedar pinta tanpa diiringi usaha.

Sebabnya...

Takdir itu terjadi karena adanya hukum sebab-akibat. Misalnya, orang tua ingin anak yang saleh, sudah berdoa mati-matian, tapi baik Ayah maupun Ibu tidak memberikan keteladanan..., ya susah bakal kejadian!

Maka...

Mari kita runut dulu waktu, jauuuh sebelum kita menjadi orang tua. Ketika masih jomblo, kita meminta didekatkan jodoh juga pengin segera menikahinya. Tapi, keinginan itu  seringkali tidak diiringi persiapan ilmu berumah tangga. Buktinya ketika sudah menikah dan ada konsekuensi punya anak ternyata kita tidak siap dengan risikonya.

Misalnya, saat hamil..mengeluh panjang kali lebar kali tinggi. Kemudian ketika mengalami kesakitan saat melahirkan, sambatnya dari A sampai Z ke teman-tetangga-saudara yang ada. Terus saat anak agak besar, kesahnya pun bertambah pula,"Duh, ini anak mbangkang-nya, pengin balikin ke perut lagi deh rasanya"🙈

Nah...

Inilah yang disebut kurang berilmu dalam berumah tangga. Karena jika cukup ilmunya pasti segala permasalahan tentang anak ini akan dijalani dengan ikhlas hati.

Tidak Ada yang Bisa Mengubah Takdir Kecuali Doa


Lalu bagaimana jika orang tua sudah taat, anak sudah didik dengan baik tapi tetap saja tidak bisa seperti yang kita inginkan.

Ingat...

Semua anak itu dilahirkan dengan baik. Hanya bedanya, misalnya dari sisi akademis, ada yang gampang menangkap dan mempelajari sesuatu dan ada yang slow learners. Nah...,anak yang lebih lama untuk belajar inilah yang memang butuh kesabaran ekstra.

Juga saat anak kita jauh dari harapan, misalnya, sudah remaja diminta segera salat sulitnyaaa...Belum lagi, diingetin ortu maunya ngajak berantem melulu...Juga, syusaah dikasih tahu!

Tapi...

Jangan pernah putus asa. Karena bukan hanya kita saja yang mendapat ujian perihal anak ini. Bahkan Nabi Nuh, Nabi Yaqub..dan banyak orang tua lainnya pun mendapatkan ujian yang sama. Maka teruslah berusaha dan berdoa karena tak ada yang bisa mengubah takdir kecuali doa.


SDI Al Azhar 8 Kembangan

10 Karakter Pendidik yang Sukses


Maka...., apa saja karakter yang dibutuhkan untuk menjadi pendidik yang sukses:


1. Ikhlas

Kita musti ikhlas mendidik anak karena Allah. Dan keikhlasan ini diiringi dengan melakukan kebaikan di mata Allah. Buang syirik dan tegakkan tauhid. Ingatlah jika ilmu itu adalah cahaya Allah. Dan cahaya ini enggak bakal datang pada orang yang berlumur kenistaan.


2. Takwa

Takwa dengan menjalankan perintah-Nya (dengan berdasar ilmu dan bukan ikut-ikutan semata), serta menjauhi larangan-Nya. Berlandaskan takwa saat menjalani hidup dari masalah satu ke lainnya. Karena orang yang bertakwa akan diberi solusi-Nya.

Jadi doakan anak lagi dan lagi. Jika ternyata semua usaha dan doa sudah dijabani dan tak ada solusi, maka kita tinggal berserah diri "Hasbunallah Wani'mal Wakil Ni'mal Maula Wani'man Nasir" (Cukuplah Allah sebagai penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung)


3. Ilmu

Jadilah generasi yang berilmu sebelum beramal karena ilmu mendatangkan kesempurnaan. Berikan ilmu yang berkah sehingga bertambahlah kebaikan bagi diri anak-anak kita apabila mereka mengamalkan ilmu yang diperolehnya.



4. Tanggung Jawab


Mendidik dengan penuh tanggung jawab dengan berpegang pada ilmu agama. Misalnya: ketika mengajarkan anak salat berikan dasar hukumnya dan segala yang berkaitan dengannya, tentu dalam bahasa yang bisa dimengerti anak-anak kita.


5. Sabar dan Tabah

Kejiwaan masing-masing anak itu tidaklah sama maka diperlukan kerjasama anatar orang tua dan guru dalam mendidiknya. Meski perjuangan ini dibutuhkan kesabaran dan ketabahan yang luar biasa. Tapi hendaknya orang tua selalu ingat bahwa derajat tertinggi orang tua di mata Allah adalah saat mendidik anak-anak mereka.



6. Lemah Lembut dan Tidak Kasar


Seorang yang kasar mulutnya biasanya karena setan betah tinggal di sana. Maka selalulah menjaga kebersihan mulut baik bersih yang sebenarnya dengan rajin menggosok gigi juga "bersih" dengan berkata-kata baik. Ingat jika pendidik berkata-kata dengan baik maka anak akan mencontohnya.


7. Penyayang

Didik anak dengan sifat penyayang sedari kecil. Misalnya jika punya anak 3 dan salah satunya bermasalah, maka omelin secara terpisah. Jangan di depan saudara lainnya agar tidak jatuh harga dirinya.

Juga sayangi mereka dengan adil tapi bukan pukul rata melainkan pas sesuai kebutuhannya. Contohnya: ada 3 anak dan seloyang roti. Jangan berikan dalam porsi yang sama besar tapi beri si sulung porsi terbesar sesuai muatan perutnya dan si bungsu porsi terkecil agar bisa dihabiskannya.

Biasakan saling bertukar hadiah dengan saudara, menghormati yang tua, menyayangi yang muda...Insya Allah mereka bakal akur sampai tua!


8. Lunak dan Fleksibel

Bersifat lunak dan fleksibel pada anak. Misalnya, saat bermain dengan mereka kita pura-pura kalah untuk membangun kedekatan dan menguatkan rasa percaya dirinya.


9. Tidak Mudah Marah

Jangan menyelesaikan masalah dalam keadaan marah. Lebih baik tenangkan diri dulu dan redam emosi. Jika sudah, ajak bicara baik-baik anak kita.


10. Dekat tapi Wibawa

Ada saatnya kita dekat serasa berteman dengan anak tapi ada waktu tertentu kita musti tegas pada mereka. Contohnya: saat main-main bersama, begitu dengar azan langsung tegas kita ajak untuk menunaikan salat.


SDI Al Azhar 8 Kembangan

Q & A


Berikut pertanyaan yang diajukan jamaah pada Ustad Subhan Bawazier:

Q: Bagaimana menjelaskan pada anak yang merasa takut dengan kiamat?
A: Teknik penyampaiannya yang diubah. Berikan penjelasan lewat cerita atau gambar tentang macam-macam kiamat dan berbagai ilmu terkaitnya dengan bahsa mereka

Q: Saat suami membutuhkan kita dan anak juga sama, mana yang didahulukan?
A: Suami

Q: Saat suami membutuhkan kita padahal kita bersiap salat, pilih mana?
A: Salat

Q: Bagaimana cara mendisiplinkan salat anak?
A: Beri teladan. Orang tua disiplin dulu baru anaknya didisiplinkan

Q: Bagaimana kalau suami berkeinginan untuk poligami?
A: Poligami itu solusi bukan tujuan, kalau tidak mampu ya jangan!

Q: Bagaimana berdamai dengan orang tua yang sudah meninggal?
A: Sudah damai pasti..kan sudah meninggal. Ikhlaskan dan doakan!

Q: Bagaimana jika orang tua hanya menyerahkan pendidikan anak ke guru saja?
A: Ingat..orang tua pendidik utama dan sekolah hanya penyempurna. Sehingga orang tua dan guru harus bekerja sama

Q: Apakah sama kedudukan Ibu Kandung dan Ibu Tiri?
A: Sama! Sama-sama harus dihormati

Q: Bagaiman jika orang tua kita masih non-Muslim?
A: Tugas kita sebagai anak adalah berbakti bukan memberikan hidayah. Doakan saja mereka.

Q: Bagaimana jika orang tua bercerai dan mendidik kita untuk membenci salah satunya?
A: Ingat..tidak ada bekas orang tua dan bekas anak. Mereka berdua tetap orang tua kita

Q: Bagaimana kiat mendidik anak remaja?
A: Ajak ngobrol, jadikan teman


SD Islam Al Azhar 8 Kembangan


Dan..akhirnya pengajian akbar bersama Ustad Subhan Bawazier pun berakhir dengan ditutup ajakan agar para orang tua dan guru yang hadir untuk bertekad dan semangat mendidik anak-anak kita agar menjadi generasi penerus yang Rabbani. Semoga bisa...!! Aamiin!


Yuk, semangat menjadi orang tua yang lebih baik lagi!!



Wassalamualaikum,

Dian Restu Agustina





































14 comments:

  1. Jadi belajar lagi, ini, Mba....terima kasih sudah berbagi. Ilmunya mantap, jawaban beliau juga lugas dan bikin kita manggut-manggut, yaa...

    ReplyDelete
  2. Wah, tidak mudah marahnya itu yang masih berat ya Mba? Apalagi aku pada dasarnya emosional orangnya.. hehehe

    ReplyDelete
  3. Whaa terima kasih sudah sharing ini. Jadi adil itu belum tentu sama untuk ukuran jumlah, nominal, atau semacamnya ya antara anak si kakak dan adik.

    Aku kok jadi senyum2 sendiri yang baca pura2 ngalah, kadang suka kebawa situasi nih, aku yang menang, pantes si anak jadi uring2an, siip deh next pura2 ngalah klo main sama anak.

    ReplyDelete
  4. Duh, itu sifat pendidik itu yang susah ditanamkan pada diri kita sebagai orangtua ya Dian, masih perlu belajar banyak jadi orangtua yang baik dan benar :-)

    ReplyDelete
  5. Ikhlas.. makjleb banget mba. Indeed, jadi orgtua khususnya ibu itu dituntut bgt keikhlasannya :')
    Dan setuju, dlm berumah tangga juga harus punya ilmu jg krn 'kebelet' aja XD

    ReplyDelete
  6. Masih harus banyak belajar sebagai orang tua
    Makasih banyak sharingnya mba
    Super lengkap

    ReplyDelete
  7. insyaAllah terus belajar setiap harinya menjadi orangtua yg baik agar anak2 bisa mencotoh ya mba

    ReplyDelete
  8. Masih belajar jg nh mba untuk selalu menjadi lebih baik, untuk diri sendiri dan juga orang lain. Baik sikap maupun perilaku

    ReplyDelete
  9. Masyaallah.. Jazaakillahu khairan sudah diresumekan. Pengen banget datang ini .g nyempet! Kesimpulannya orangtua adalah teladan pertama anak, ya mbak.

    ReplyDelete
  10. Masih perlu banget nih belajar menjadi orang tua sekaligus pendidik yang baik. Tegas namun tetap wibawa itu loh, yang kadang agak-agak sulit. Harus belajar lebih baik lagi. Makasih mbak dian.

    ReplyDelete
  11. Ya Allah, bener banget, nggak ada yang bisa rubah takdir kecuali doa. Bacanya jadi semangat, aku juga pengen anak soleh dan solehah, semoga bisa dengan doa, amin.. amin.. Memang harus ada usaha dari orangtuanya. agar anaknya bisa soleh dan solehah

    ReplyDelete
  12. Tetap ya sabar dan ikhlas kunci hidup nyaman menjalani semuanya , mendidik anak pun harus dengan ikhlas . Setuju banget ...

    ReplyDelete
  13. anak jadi tanggungjawab kita dalam mendidik ya bun, salah mendidik bisa berabe banget. tipsnya sangat bermanfaat. makasi ilmunya ya...

    ReplyDelete
  14. lengkap banget pembahasannya mbak Dian, makasih udah sharing. Sampai Q and A-nya juga dituliskan :D
    Ya semua ortu pasti kepengen punya anak2 yg taat sama Allah dan ortu, moga anak2 begitu ya aamiin

    ReplyDelete