Tak Ada Libur Hari Raya di Amerika








Sekitar bulan Agustus 2017 saya mendapat pesan pribadi dari seorang teman dunia maya, Efa Refnita. Mbak Efa yang sedang bermukim di Australia mengajak saya untuk ikut serta dalam proyek antologi buku cerita anak dengan tema Ramadan di luar negeri. Beliau rupanya tahu dari media sosial kalau saya pernah tinggal di Amerika, maka saya diajak gabung dalam proyek ini. 

Rencananya, penulis menceritakan pengalaman Ramadan penduduk setempat berlatar tempat yang pernah ia kunjungi/tinggali. Dan proyek ini akan melibatkan 25 penulis dengan latar 25 Negara dan 5 benua yang berbeda.


Buku Ceria Ramadhan di 5 Benua - 25 Negara



Penerbit Ziyad



Nah, saya yang sudah lama sekali enggak nulis cerita anak awalnya maju mundur juga. Tapi karena DL longgar, dijadwalkan terbit di Ramadan 2018 maka akhirnya tawaran itu saya iyakan.

Long short story buku akhirnya terbit dengan judul Ceria Ramadhan di 5 Benua - 25 Negara dan membuka masa Pre Order pada Maret 2018 dengan harga 79.000 dari harga asli 99.000.

Oh ya, info PO pernah saya tulis di artikel ini .

Kemudian, ketika buku launching ternyata hasilnya sungguh menggembirakan dan di luar dugaan. Buku yang diterbitkan Penerbit Ziyad dan dijual di Gramedia dan toko buku lainnya ini bisa tembus pada 20.000 eksemplar pertamanya. Kemudian lanjut ke 10.000 yang kedua sehingga pihak penerbit yang membeli dengan jual putus akhirnya memberikan bonus kepada kami penulisnya. Alhamdulillah.

Tapi masalah bonus bukan yang utama karena buku bisa tembus ke posisi penjualan best seller dan hampir cetak 30.000 eksemplar sungguh bagi kami merupakan capaian yang warbiyasaaah!

Padahal dari awal sampai akhir para penulis yang kesemuanya perempuan dan pihak penerbit hanya terhubung melalui email dan media sosial.

Saya sendiri bisa menjual sekitar 700 buah buku pada masa PO 1 di mana kebanyakan yang membeli reseller yang menjual kembali buku itu. Cerita yang saya dan teman-teman tulis ternyata membuat banyak orang tua penasaran dan ingin putra-putri mereka membaca kisah Ramadan di berbagai Negara di dunia. Sungguh terharu saya jadinya...

Memang cerita yang saya tuliskan didasari kisah nyata meski saya bumbui fiksi di sana-sini. Lantaran saya memang mengalami sendiri saat tinggal di Amerika semuanya baik-baik saja terutama berkaitan dengan perlakuan yang saya alami sebagai Muslim di sana.

Oh ya, saya tuliskan juga satu pengalaman di blog ini dalam artikel Jumatan di Masjid Parkirnya di Gereja.

Nah...berikut ini adalah cerita yang saya tulis di buku  Ceria Ramadhan di 5 Benua - 25 Negara yang judulnya Tak Ada Libur Hari Raya di Amerika .

Oh ya, ini adalah naskah asli yang saya kirimkan ke pihak penerbit dan ada tambahan ilustrasi dan ada sedikit revisi pada buku terbitnya. Misalnya penerbit memakai kata Ramadhan sementara saya memakai Ramadan berpegang pada KBBI.


Jadi, selamat menikmati....:



Penerbit Ziyad



Tak Ada Libur Hari Raya di Amerika



Sambil menguap lebar-lebar, Maher meletakkan piring dan sendok di meja makan. Ayahnya sedang menata makanan di dekatnya. Sementara Ibunya, sibuk memasak di dapur. Masih pukul 3.30 pagi waktu kota New Orleans. Pagi ini, Maher dan keluarganya sedang bersiap untuk makan sahur di bulan Ramadan. Dan karena sudah dijalani sebulan lamanya, Maher merasa sudah terbiasa. Seperti tadi, ia tidak merepotkan Ibu lagi. Ia sudah terbangun sendiri pada pukul 3 pagi. Lalu mengambil air wudu dan salat Tahajud dulu. Kemudian, ia ke dapur untuk membantu Ibu.

Maher memang tidak akan mendengar seruan sahur ataupun azan berkumandang di kota tempatnya tinggal. Tak seperti cerita Ayah dan Ibunya yang lahir dan besar di kota Islamabad, Pakistan. Kata mereka, suasana Ramadan begitu meriah di sana. Ada suara sirine terdengar untuk membangunkan orang saat makan sahur. Juga kumandang azan ketika waktu salat tiba. Maher membayangkan betapa menyenangkan seandainya itu terjadi di sini.

Tapi, di Amerika yang Islam bukanlah agama sebagian besar penduduknya, tentu hal itu tidak mungkin terjadi. Meskipun demikian, Maher merasa lega karena di sekolah ia tidak berpuasa sendirian. Di kelasnya, grade 3 Harold Keller Elementary School, ada 7 temannya yang beragama Islam yang saat ini juga sedang berpuasa. Ada Bilali, Fazlur, Ommaya, Ayub, Fatima, Farah dan Adi. Mereka semua lahir di Amerika, kecuali Adi yang baru pindah dari Indonesia. Karena punya teman barengan berpuasa, Maher jadi lebih semangat rasanya. Ia bersama teman-temannya, biasa salat Zuhur berjamaah di kelas mereka, saat waktu istirahat tiba. Lalu, mereka akan pergi ke perpustakaan sekolah dan membaca buku hingga bel masuk berbunyi.

Maher memang sudah terbiasa belajar berpuasa sejak kecil. Dulu, Ibu membolehkannya berbuka jika ia merasa tak kuat lagi berpuasa. Hingga tahun lalu, ia bisa berpuasa sampai Magrib selama sebulan penuh. Sehingga, saat Idul Fitri tiba, Ayah menghadiahinya satu set peralatan olahraga baseball. Yaitu, tongkat pemukul, bola dan sarung tangannya. Sejak lama Maher memang menginginkannya. Karena, ia memang menyukai olahraga baseball serta menjadi anggota tim di sekolahnya. Selama ini ia ingin memiliki peralatan sendiri. Jadi, hadiah itu membuat Maher merasa senang sekali. Tetapi, Ayah mengingatkan bahwa berpuasa Ramadan itu bukan untuk mengejar hadiah yang dijanjikan. Melainkan merupakan kewajiban bagi umat Islam untuk dijalankan karena merupakan salah satu Rukun Islam.

“Maher, ayo habiskan dulu makan sahurmu!” ucap Ibu lembut mengingatkannya. Maher pun mengambil Khajla, camilan yang terbuat dari bihun yang dipanggang. Makanan asal Pakistan yang sering dimasak Ibu saat Ramadan.
“Lalu sudahi sahurmu, waktunya sebentar lagi habis!” ujar Ibu lagi sambil mengangkat Salma, adik Maher yang sedari tadi tertidur di sofa. Maher pun bergegas menyudahi makannya.

Lalu, menyusul Ayahnya yang sedang membaca.
“Yah, ini hari terakhir Ramadan, bukan?” tanyanya.
“Iya, kenapa Maher?”
“Berarti besok Idul Fitri. Aku nggak libur di sekolah, Yah. Jadi bagaimana dong salat Iednya?” tanya Maher sedih.
“Ayah sudah menulis surat ijin pada guru kelasmu, Ms. Gatty. Memberi tahu kalau kamu besok tidak masuk sekolah karena akan melaksanakan salat Idul Fitri. Nanti kamu bawa suratnya ya. Enggak usah khawatir Maher, pasti diijinkan!” hibur Ayah.
“Ya, tapi Maher sedih. Kenapa hari raya kita, di Amerika tak ada perayaannya. Enggak ada liburnya pula!”
“Maher, karena di Amerika umat Islam jumlahnya nggak banyak. Maka, hari raya Idul Fitri enggak dijadikan hari libur. Beda misalnya dengan di Pakistan, negara tempat Ayah dan Ibu berasal. Di sana mayoritas penduduknya Muslim. Jadi Idul Fitri ditetapkan sebagai hari libur nasional.”
“Oh gitu ya, Yah!”
“Iya, tapi kamu nggak perlu bersedih. Karena kita tetap bisa merayakannya bersama saudara-saudara Muslim kita yang ada di sini.”
“Iya, Yah!”
“Ok, then let’s do our Subuh pray! Oh ya, nanti malam kita ke masjid dan berbuka puasa terakhir di sana, ya!”
“Horaay. Thank you Ayah!” seru Maher riang.

Setelah salat Subuh, Maher belajar mengaji bersama Ayah. Lalu mandi dan bersiap pergi ke sekolah. Maher berangkat ke sekolah naik school bus. Bus ini akan menjemput para siswa di depan rumah mereka. Karena keluarga Maher tinggal di apartemen, maka bus berhenti di depan apartemen mereka. Ada sekitar 16 anak yang sekolah di tempat yang sama. akan menaikinya. Biasanya bus tiba pukul 07.30. Dan, bel sekolah nanti akan berbunyi pukul 08.30.

“Maher, sudah siap? Ayo kita turun!” panggil Ibu sambil menggendong Salma.

Keluarga Maher tinggal di lantai 3 sebuah gedung apartemen berlantai 4 di wilayah Metairie, di pinggiran kota New Orleans. Tak lama kemudian bus datang. Maher dan teman-temannya berbaris tertib menaiki bus. Mereka akan belajar di sekolah sampai pukul 14.30 nanti. Dan, bus akan mengantar mereka pulang kembali.

Sore harinya, Ayah Maher pulang lebih cepat dari biasanya. Ayah memang berencana mengajak mereka sekeluarga untuk berbuka puasa di masjid Abu Bkar Al Siddiq. Masjid ini berada di wilayah Kenner. Jauhnya sekitar 10 km dari rumah Maher. Mereka memang tak selalu bisa pergi berbuka bersama atau salat Tarawih di sana. Karena Ayah yang seorang sopir taksi harus bekerja sampai malam hari. Sehingga Maher pun merasa senang sekali bisa ke sana lagi.

Masjid itu terletak berdekatan dengan beberapa tempat ibadah agama lain. Bahkan, Ayah Maher memarkir kendaraan di halaman sebuah gereja saat tiba di sana. Lain waktu, di hari Minggu, penganut agama lain itu memarkir kendaraan di halaman masjid mereka. Benar-benar cermin kerukunan beragama.

Begitu sampai, Maher membantu Ibu membawa makanan pembuka puasa yang tadi dimasaknya. Malpuas namanya. Yaitu, makanan berbuka puasa khas Pakistan yang terbuat dari tepung, pisang yang dihaluskan, air dan susu. Maher sudah membayangkan rasanya saat mencium bau harumnya. Pasti enak sekali, pikirnya.

Yang membuat Maher senang juga, ia akan berjumpa dengan beberapa teman sekolahnya. Dan, akan mencicipi berbagai makanan berbuka puasa dari berbagai negara. Ya, masing-masing keluarga memang akan membawa makanan untuk disantap bersama-sama. Sistem potluck ini namanya.

Seperti si Ommaya yang keturunan Turki. Ibunya akan memasak Gullac, kue yang terbuat dari susu dan buah delima. Atau Fatima yang kakek neneknya dari Maroko. Ibunya akan membawa Chebakia, kue goreng berbentuk mawar yang dilelehi madu dan wijen. Dan ada Adi yang akan membawa makanan khas Indonesia, kolak namanya. Ada potongan pisang berkuah santan yang manis rasanya. Ah, enaknya!

Waktu berbuka pun tiba. Setelah membatalkan puasa dengan air dan kurma, mereka semua akan salat Magrib berjamaah. Lalu dilanjutkan dengan menikmati makanan yang dibawa tadi. Setelah itu, salat Isya pun dilaksanakan dan dilanjutkan dengan dua kali ceramah. Dalam Bahasa Inggris dan Bahasa Arab. Lalu acara diakhiri dengan lantunan takbir untuk menyambut hari raya Idul Fitri. Meski agak ngantuk Maher mengikuti semua acara itu dengan gembira.

Dalam perjalanan pulang, Ayah mengajaknya mampir membeli Sno-ball. Es khas New Orleans yang terbuat dari serutan halus es yang diberi sirup perasa di atasnya. Maher memilih rasa cotton candy untuk sirupnya, Ayah memilih rasa coffe dan Ibu lebih suka blueberry. Sedangkan Salma yang baru terbangun dari tidurnya, dibelikan rasa tutti frutti. Maher menikmati kesegaran Sno-ball sambil mengucap Alhamdulillah karena puasanya bulan ini selesai sudah.

Esok harinya, hari raya Idul Fitri pun tiba. Maher dan keluarga akan salat Ied di The Pontchartrain Centre. Mereka berangkat pagi-pagi dari rumah, karena salat Ied akan dimulai pukul 07.30. Setelah memakai pakaian yang bersih dan wangi, Maher sarapan Kheer, bubur nasi manis Pakistan buatan Ibu. Sedap sekali rasanya!

Perjalanan ke tempat salat Ied berjarak sekitar 15 km dari rumah Maher. Sampai di sana sudah ramai orang datang. Di pintu masuk ada petugas yang membagikan goodie bag untuk Maher dan Salma. Isinya beraneka snack, candy dan mainan. Maher dan Salma senang sekali menerimanya. Terdengar suara takbir berkumandang di ruangan yang luas itu. Setelah tiba waktunya, salat Ied pun dimulai dan dilanjutkan kotbah dalam Bahasa Inggris.

Ketika sudah selesai semua, mereka saling bersalam-salaman sambil mengucapkan “Eid Mubarak!”. Maher dan keluarga tidak langsung pulang. Mereka akan menuju rumah Paman Omar, kakak laki-laki Ayah. Mereka akan merayakan Idul Fitri dengan makan bersama keluarga besar Ayahnya di Amerika. Ibu sudah siap membawa beignet, donat khas New Orleans untuk dibawa ke tempat acara. Donat ini tidak berbentuk bulat berlubang tengahnya seperti donat biasanya. Tapi bentuknya kotak atau persegi. Lalu akan disajikan dengan taburan gula halus nanti. Hmm, yummy!

“Eid Mubarak, Ayah, Ibu, Salma!” salam Maher ceria di dalam mobil mereka.
“Eid Mubarak, Maher! Bagaimana, kamu tetap senang bukan meski hari raya nggak ada liburnya?” tanya Ayah menggoda.
“Senang. Yah! Nggak libur nggak masalah. Yang penting Maher sudah berhasil puasa selama sebulan, Alhamdulillah!” Maher ceria menjawabnya.
“Nah, gitu dong!” Ayah berucap lega.
“Ini hadiah dari Ayah dan Ibu buatmu,”ujar Ibu sambil mengulurkan sebuah bungkusan.
“Hore, terimakasih Yah, Bu!” Maher tak sabar langsung membukanya.

Sebuah baju renang lengkap dengan kacamata dan peralatan latihan. Maher senang sekali menerimanya.
“Ibu akan mendaftarkan kamu ke kelas berenang minggu depan. Berenang adalah salah satu olahraga yang dianjurkan oleh Rasulullah selain memanah dan berkuda. Jadi kamu rajin berlatih nanti ya, biar mahir berenangnya, agar tubuhmu sehat selalu!” jelas Ayah.
“Siaaap, Yah, Bu, Alhamdulillah. Terimakasih ya..!” sambut Maher dengan gembira meski tak merasakan libur di hari raya.


Penerbit Ziyad


Tradisi Ramadan yang Unik di Amerika


• Informasi tentang awal dan jadwal salat/puasa Ramadan disebarkan organisasi Muslim di Amerika lewat internet (email, media sosial) dan pesan berantai di telepon seluler/HP.

• Karena tidak akan terdengar suara azan, maka Muslim Amerika biasanya mencetak waktu salat yang diterbitkan organisasi Islam di Amerika atau menyetel alarm waktu salat/berbuka puasa di HP mereka.

• Semua kegiatan berlangsung seperti biasa. Jadwal sekolah dan jam kerja tetap dan tak ada yang berubah.

• Tidak ada pasar Ramadan yang menjual beragam makanan pembuka puasa juga tayangan khusus Ramadan di televisi Amerika

• Masjid menyediakan kurma dan air minum untuk berbuka puasa. Juga makanan khas dari berbagai negara yang merupakan sumbangan dari jamaahnya.

• Tradisi buka puasa bersama diadakan dengan sistem potluck, masing-masing orang membawa makanan untuk dinikmati bersama-sama.

• Acara berbuka puasa kadang juga mengundang masyarakat non-Muslim setempat.

• Acara buka puasa bersama juga biasa diadakan di restoran halal atau taman.

• Tidak ada libur resmi di hari raya Idul Fitri baik untuk siswa sekolah maupun pekerja.

• Salat Idul Fitri biasa diadakan di masjid (jika masjidnya besar) atau gedung pertemuan (convention centre)

• Saat hari raya Idul Fitri anak-anak mendapatkan hadiah dari orang tua atau kerabat dekatnya


Fakta Amerika





Amerika Serikat mempunyai luas wilayah 9.372.610 km². Secara Astronomis Amerika Serikat terletak di antara 24° LU - 49° LU dan 30° BB - 66 ° BB. Dengan luasnya yang besar dan keadaan geografis yang beragam, Amerika memiliki berbagai tipe iklim, yaitu kutub, subtropis dan gurun.

Letak geografis Amerika di belahan bumi bagian Utara mengakibatkan empat rotasi cuaca: Fall atau musim gugur (23 September – 20 Desember), Winter atau musim dingin (21 Desember – 20 Maret), musim semi (21 Maret – 20 Juni) dan musim panas (21 Juni – 22 September) Cuaca ekstrem sering terjadi di negara-negara bagian yang berbatasan dengan Teluk Meksiko yang rentan terhadap badai. (sebagian besar tornado di dunia terjadi di Amerika).

Kondisi seperti ini menjadi tantangan tersendiri bagi Muslim di Amerika saat menjalankan puasa Ramadan. 3. Lama Waktu Puasa di Amerika Teman-teman Muslim kita di Amerika, berpuasa selama sekitar 16-18 jam tergantung musim yang sedang berlangsung dan letak daerahnya.

Jika Ramadan jatuh pada musim panas, maka hari yang panjang dengan terik matahari yang menyengat pun harus dijalani. Karena saat musim panas, matahari terbit lebih cepat dan terbenam lebih lambat. Maka puasanya lebih panjang lamanya.(bisa sampai 18 jam) Berbeda dengan ketika Ramadan tiba pada musim dingin. Waktu siang yang lebih pendek akan membuat lama puasa lebih singkat waktunya.(sekitar 16 jam). Meski cuaca dingin akan menjadi tantangan tersendiri.


Kuliner Khas Berbuka di Amerika



tak ada hari raya di amerika
Beignets New Orleans (pic by: bokktrib dot com)


Dengan banyaknya warga Muslim dari berbagai negara dan budaya di Amerika, beragam jenis makanan dihidangkan dalam setiap potluck Ramadan. Jadi selama bulan Ramadhan di Amerika, kita mungkin bisa keliling dunia melalui beragam hidangan. Namun yang terpenting, di tengah kesibukan, keragaman bangsa dan budaya, serta kondisi cuaca di Amerika, cicip mencicip makanan dari berbagai negara selama Ramadan dapat dilihat sebagai cara untuk merayakan persatuan dalam Islam. 


Tips Sukses Ramadan di Amerika


1. Hidupkan suasana Ramadan di rumah dengan cara membuat dekorasi bernuansa Ramadan. Buat sendiri rangkaian huruf "Happy Ramadan", gambar masjid, kaligrafi dan lainnya.

2. Tempelkan jadwal Ramadan di tempat yang gampang dilihat seluruh anggota keluarga, misalnya di dinding kulkas. Simpan juga jadwalnya di gadget kita. Set alarm harian untuk mengingatkan waktu salat.

3. Buat jadwal harian selama Ramadan. Jadwal sahur, buka puasa, salat Tarawih, baca Quran, dengar kajian, dan lainnya.

4. Berbagi hidangan Ramadan. Jika ada makanan bisa kita sumbangkan ke masjid terdekat atau pada saudara Muslim lainnya.

5. Perdengarkan alunan ayat suci Alquran di rumah dan musik Islami agar terasa suasana Ramadannya.

6. Konsumsi cukup cairan agar terhindar dari dehidrasi

7. Bekali diri dengan informasi tentang Ramadan jika ada pertanyaan dari teman seputar Ramadan



Penerbit Ziyad



Dan, itulah isi buku Ceria Ramadhan di 5 Benua - 25 Negara yang bagian saya. Kalau mau baca lengkapnya silakan beli di Gramedia yaaa, masih ada kok tersedia.... 😍



Happy Reading,


Dian Restu Agustina


48 comments:

  1. Allhamdulillah bukunya sudah terbit ya mbak, jadi penasaran gimana sih serunya Ramadan di negeri orang. Kangen suara Adzan gak mbak waktu di sana?
    Paling berat ya kalau puasa di musim panas, tapi dengan niat Insya Allah semuanya kuat ya mbak. Aku belum pernah merasakan puasa di luar Indonesia mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak..enggak pernah dengar Azan..Hiks. Kangen benernya pas Ramadan dan Lebaran

      Delete
  2. Saya belum pernah merayakan lebaran di negeri orang. Apalagi di negara di mana muslim menjadi minoritas. Tapi, udah kebayang seperti apa itu kangennya dengan suara adzan, ta'jil yang dengan mudah didapat, hingga hidangan khas lebaran :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak. Makan takjil beraneka saat di buka puasa bersama pas pengajian warga Indonesia di akhir pekan saja

      Delete
  3. Bagus sekali karyanya, mbak. Berbakat sekali menulis cerita anak. Apalagi temanya juga unik. Tidak semua orang punya pengalaman demikian. Jadi tak heran yg baca sinopsinya makin penasaran buat beli *termasuk saya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Mbak..saya memang mengawali menulis dari cerpen terutama cerita anak

      Delete
  4. Aku kok jadi merinding ya dengan kisah di atas. Sepertinya biasa aja, tapi kalau dicermati lebih lanjut, betapa luar biasanya perjuangan puasa kaum muslim di tempat yang notabene mereka menjadi minoritas.
    Bandingin deh dengan di Indonesia, yang adzan berkumandang di mana-mana, penjual jajanan buka puasa ada di setiap sudut kota, tapi masjidnya lama kelamaan kosong ga ada yang tarawih. Padahal kalau di luar negeri, rindu banget kan ya untuk bisa tarawih berjamaah di masjid.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak..jadi minoritas membuat saya akhirnya bersyukur dengan apa yang dialami saat jadi mayoritas

      Delete
  5. Emang perempuan itu yang pertama dipikirkan pasti anak-anak ya. Sampai buat buku cerita tentang ramadhan di berbagai negara pun ditujukannya buat anak-anak. Salut buat yang punya ide dan juga para perempuan yang terlibat untuk mewujudkan ide tersebut.

    Bukan cuma anak-anak lho, saya juga penasaran sama isi buku selengkapnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak..yang punya ide perempuan-perempuan hebat ini:)

      Delete
  6. Sedih juga ya hari raya tetep harus sekolah atau kerja. Jadi ingat cerita beberapa teman yang tinggal di luar saat bulan puasa dan hari raya jauh dari keluarga dan tetap harus beraktivitas seperti biasa. Tapi mungkin disitulah terasa indahnya ya ..

    ReplyDelete
  7. Sama kayak Mba Myra aku belum pernah ngerasain puasa dan lebaran di negara orang, duh gak kebayang rutinitas di Jakarta bakal gak dilakuin selama di negara orang. Pasti kangen menu2 itu aku sih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya..kangen banget, masu masak sendiri kadang enggak nemu bahannya tapiiii

      Delete
  8. Saya kerap baca buku atau nonton film dengan latar New Orlean. Yang terakhir film "Deja vu". Alamnya indah juga, ya. Tak menyangka bahwa ada sisi lain dari kehidupan di sana yang mengakrabkan masyarakat muslim meski minoritas.
    Soal penulisan "Ramadhan" yang dipilih penerbit, hal ityu berkaitan dengan gaya bahasa selingkung, bahasa terpilih yang digunakan dalam lingkungan tertentu. Penerbit ingin konsisten menulis susuai bahasa asal meski dalam KBBi telah ada perubahan. Bagaimanapun, pengucapan "ramadhan" dan "ramadan" beda. Makanya penerbit lakukan proses selingkung dalam penerbitannya. Sebenatnya saya juga lebih nyaman dengan ramadhan, terpaksa memiringkan tulisannya, ha ha. Kalau tidak miring, yah, artinya lagi malas dan ikuti acuan KBBI agar tak membingungkan pembaca.
    Bahasa Indonesia tak mengenal pengucapan dha yang dibaca do, adanya da. Makanya huruf 'h' dihilangkan kala masuk ke dalam serapan bahasa Indonesia.
    Bentar lagi ramadhan, semoga bukunya kian laris, ya. Memang benar ada banyak orang tua yang ingin anak mereka tahu bagaimana kehidupan ramadhan di negara lain agar sang anak bisa lebih termotivasi ibadah ramadhannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak..memang benar New Orleans sering jadi setting film yaa
      Dan pemakaian kata Ramadhan itu benar adanya, selingkung. Memang di awal kesepakatan dnegan penulis pakai Ramadan tapi setelah terbit ternyata Ramdhan yang dipakai :)

      Delete
  9. Wah selamat ya Mbak Dian bukunya best seller. Baca ini saya jadi teringat keluarga kakak saya yang saat ini sedang menetap di Hawai, Amerika Serikat. Seperti inikah rasannya ramadhan di sana. Berpuasa sebagai warga minoritas pasti banyak tantangannya ya, mudah2an sebanding dengan berkah dan kebaikannya yang Inshallah lebih banyak. Ceritanya inspiring banget, jadi ngebayangin ponakanku yang sedang bersekolah di elementary School.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak..ini juga berlatar anak saya saat sekolah di sana. Temannya yang saya ceritakan ini :)

      Delete
  10. Wah bukunya menarik banget ini. Baru tahu kalau di Amerika gak ada libur khusus anak sekolah juga. Kalau puasa tetap pulang siang/sore dong yaa..

    Tp salut sama anak2 di sana ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tetap Mbak, bel sekolah Elementary 14.30. Sampai rumah school busnya jam 15.00-15.30

      Delete
  11. Wah keren banget bisa tembus 30 ribu eksemplar, mana buku tema Ramadan gini longlasting Mba, bertahan lama di toko buku..selamat ya..

    ReplyDelete
  12. waktu jadi minoritas di bali tahun 2004 rasanya sedih karena beda dengan di kampung halaman. lama2 biasa stl punya banyak teman muslim dan orang2 bali yg baik :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak..saya juga sudah biasa jadi minoritas, waktu di Bali 8 tahun jadi enggak kanget banget. Cuma ini di negara yang berbeda enggak cuma agama tapi juga banyak hal :)

      Delete
    2. jadi punya pengalaman berharga yg seru ya mbak :)

      Delete
  13. keren, mba...bukunya pasti bagus nih bisa sampe tembut 30rb buku, sukses terus ya, mba... :)

    ReplyDelete
  14. Masya Allah, saya jadi tertarik untuk berani menerbitkan buku.

    Meskipun hidup di Amerika, tetapi pas Ramadhan insya Allah di masjid sana ada kurma dan bahkan yang non-muslim pun ikut datang dalam acara buka puasa.

    Salat idul fitri sepertinya menarik juga ya, karena ada yang dilakukan di sebuah gedung. Semoga kita tetap istiqomah walau dimanapun tinggal. Aamiin...

    ReplyDelete
  15. Wah selamat ya atas kesuksesan bukunya. Tulisannya memang berbobot dan informatif sekali.

    ReplyDelete
  16. wahh keren mbak bukunya.. aku jg dapet cerita2 nih dr temen2 yang tinggal di Amerika dan sekitarnya.. bukan perkara gampang puasa disana.. Apalagi kalo pas jam siangnya lebih panjang..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya..kemarin saya pas summer, jadi lebih lama durasi puasanya:)

      Delete
  17. Duh, kebayang agak sedih juga, kalau Hari Raya tidak ada liburnya. Memang banyak tantangan tersendiri, kalau jadi minoritas ya, Mbak.
    Tapi jadi seneng sekali, kalau bisa berkumpul di luar negeri dengan kenalan dari tanah air ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak..tiap akhir pekan ada pengajian dan buka puasa bersama, buat obat kangen

      Delete
  18. Mantep banget mba, rasanya gimana ya pas hari raya tidak libur, aku mah pasti sedih banget. Keren bukunya ini.Mau baca nih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya sedih, pulang salat, ngumpul halal bil halal di rumah salah satu teman terus siang pulang..sudah.

      Delete
  19. Jadi ngerasain sahur sepi ya mbak, nggak ada patrol bangunin orang sahur di sana.
    Trus kalau mau idul fitri juga nggak ada macet orang mau pulkam, hehe.
    Cerita yang unik Mbak Dian.
    Saya syuka. ����

    ReplyDelete
  20. Iyaaaa makanya enak di Indonesia, banyak liburnya ya mbak. KAlaua di Amerika gk kyk di sini, gk ada hari besar keagamaan di,iburkan , ya mungkin natal aja :D
    Selamat atas bukunya ya mbak Dian, aku penasaran pengen baca nih, kapan2 kucari di gramed ya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makanya mesti bersyukur Indonesia banyak liburnya hahah

      Delete
  21. Wow... 30 ribu eksemplar mah banyak bangeeet. Selamat Mbak...

    Dulu di HK juga gak afa libur hari raya ummat Islam, tapi setelah diperjuangkan oleh teman teman yang tinggal di sana, sekarang sepertinya sudah ada.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak..di Amerika ada kota tertentu yang Muslimnya banyak yang memberikan libur. Tapi bukan libur nasional

      Delete
  22. selamat ya mbak atas pencapaian yang luar biasa pada penjualan bukunya. pasti seneng banget ini bisa berbagi cerita ramadhan di luar negeri ke orang lain

    ReplyDelete
  23. Wah seru banget mbak bisa ikutan kolaborasi menulis begini. Tapi memang muslim disana bukan mayoritas, karena sepupu yang kebetulan bekerja disana pulang ke Indo kalau hari raya itu sudah mengajukan unpaid leave dulu sama kantornya. Karena dia biasa pulang sebulan. Jadi cuti lainnya dia pergunakan untuk diakhir tahun.

    ReplyDelete
  24. Waah...serunya Ramadan di New Orleans.
    Anak-anak jadi lebih paham mengenai perbedaan budaya dari keadaan yaa, kak.

    Saluut banget.

    ReplyDelete
  25. Wah, jadi bersyukur ya tinggal di Indonesia. Gak hanya banyak libur tapi hari raya disambut luarbiasa spesial

    ReplyDelete