Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Munggahan di Saoeng Pete Cina Tangerang

Sebelum Ramadan, ada tradisi yang dilakukan oleh sebagian besar warga lokal di sekitar tempat tinggal saya, munggahan namanya. Dulu awal tinggal di Joglo, Jakarta Barat ini, saya kira ini tradisi Betawi, eh ternyata bukan.

Munggahan adalah tradisi yang berasal dari masyarakat Jawa Barat, khususnya dalam budaya Sunda yang sudah menjadi kebiasaan turun-temurun untuk menyambut bulan puasa. Biasanya dilakukan dengan berkumpul, makan bersama, dan saling bermaafan. 

Meski begitu, tradisi serupa juga ada di berbagai daerah lain di Indonesia, seperti yang diceritakan juga oleh teman blogger saya Mba Maria, Blogger Surabaya. Di sebagian Jawa Timur dan Jawa Tengah, masyarakat menyebutnya dengan megengan. Tradisi berkumpul bersama keluarga, menikmati hidangan, membaca dzikir dan tahlil (selamatan) untuk mendoakan anggota keluarga yang telah meninggal dunia, melakukan ziarah kubur dan mengadakan sedekah ke tetangga, masjid atau mushala dengan kue tradisional: kue apem sebagai ciri khasnya. 

Namanya berbeda-beda, tapi esensinya sama: menyambut Ramadan dengan mempererat silaturahmi dan membersihkan hati.

Nah, dalam rangka menyambut Ramadan, saya dan bestie eks TK Quba pun memanfaatkan kesempatan baik ini,  dengan melakukan tradisi munggahan sekaligus kocok arisan bulan Februari. Yang dapat arisan dua teman kami yang akhirnya memilih tempat maksi di Saoeng Pete Cina, yang berada di seberang CBD Mall Ciledug, Kota Tangerang untuk event munggahannya.

Meski ternyata di luar prediksi, rumah makannya ramai sekali, karena banyak yang punya maksud dan tujuan yang sama, silaturahmi sebelum bulan puasa tiba.




Tentang Saoeng Pete Cina


Awalnya, saya bingung saat lihat alamatnya. Sambil nginget-inget, memangnya di daerah situ ada resto itu...Hm, dulu banget ketika anak-anak masih kecil, saya sering ke mall ini, tapi sayangnya kini sudah sepiii, jadi enggak pernah main ke sini lagi.

Eh ternyata memang ini agak masuk dari jalan posisinya, berada di belakang ruko-ruko CBD tepatnya. Posisi strategis untuk belasan saung yang ada dengan tempat duduk lesehan atau kursi dan meja. Juga membuat parkiran luas tersedia. 

Meski, sempat heran ketika menilik review dan membaca banyak yang mengulas soal menu, kok rendah rating-nya, ya.

Cuma, karena kedua teman yang dapat arisan memilihnya jadi ya pasrah aja, dilarang protes, wong datang tinggal makan, yekan? 😀

Langsung saja, di hari-H, sesampai di tekape, saya menemui resto yang ramai, hampir tak ada kursi tersisa. Oh ya mereka tidak menerima reservasi saat itu ya, kami diminta datang langsung, jadi siapa cepat dia dapat. 

Teman yang narik arisan sudah sampai duluan, sedang memesan dan satunya jagain beberapa meja yang berhasil didapatkan. Pesan makanan mesti antri panjaaaang, demikian juga saat bayar karena makanan harus dibawa dalam antrian, belum lagi bawa sendiri ke tempat duduk yang agak jauh juga. 

Jadi semrawut sih ini.... Sepertinya mereka belum siap dengan sistem pemesanan yang sekarang diterapkan, saat ramai mungkin kurang tenaga kerja, juga sepertinya masih buruk pembagian job desc-nya. Pokoknya sistemnya belum rapi...

Sayang sekali, padahal ada belasan saung yang bisa menampung keluarga atau rombongan hingga 10-15 orang untuk lesehan, belum lagi puluhan meja dan kursi tipe duduk manis saat makan. 

Hm, jadilah saya menemukan jawaban kenapa rating di Google jelek, karena ini ternyata. Semoga ke depan ini bisa diperbaiki karena seenak apapun makanannya kalau pelayanan mengecewakan, pelanggan bakal enggan kembali lagi.

Okeee, balik ke Saoeng Pete Cina lagi yang menonjolkan tempat makan dengan suasana tradisional yang sesuai namanya dikelilingi pepohonan Pete Cina (lamtoro), yang bikin kulineran jadi sejuk dan nyaman.

Lalu, soal menu...

Saya datang sudah dipilihin menu oleh teman, yaitu: 
  • Ayam Bakar 
  • Ikan Nila Bakar
  • Pecak Ikan Mujair
  • Tumis Cumi
  • Ayam Kremes
  • Jengkol Goreng
  • Bakwan Jagung
  • Es Teh Manis
Setelah saya mencoba semua menunya, saya merasa cocok dengan rasanya. Secara umum, menunya tuh bumbunya meresap, medok, sehingga rasanya mantap!

Saya suka ayam bakarnya, cocok kalau ini paling banyak dipesan karena memang enak, dengan harga yang terjangkau pula (ukuran mini 39K/ekor, ukuran besar 47K/ekor). Ini bisa untuk makan bareng berteman nasi bakul 25K (untuk 5 orang) dan sayur tumis mulai 10K. Atau bisa pesan ikan goreng/bakar mulai 21K sudah sama nasi dan lalapan. Sementara untuk minuman mulai dari 4K (teh tawar hangat).

Terjangkau, kan? 

@dianrestuagustina #munggahan ♬ suara asli - جولي نو فترا Julino Putra
Cara Mempertahankan Bisnis Restoran di Tengah Tingginya Persaingan


Well, saya rasa jika Saoeng Pete Cina konsisten pada rasa makanan sambil meningkatkan pelayanan, bakal bisa bertahan lama di tengah persaingan bisnis restoran yang saat ini makin tinggi...

Memang ya persaingan bisnis restoran sekarang rasanya makin "ramai", ya. Kadang bukan cuma soal siapa yang paling enak, tapi siapa yang paling konsisten dan paling diingat pelanggan.

Dari yang saya lihat, kunci pertama tetap soal rasa. Pelanggan boleh datang karena penasaran, tapi mereka akan kembali kalau makanannya memang enak dan rasanya stabil. Jadi, menjaga kualitas itu wajib, bukan pilihan.

Selain itu, restoran juga perlu punya ciri khas. Entah itu menu andalan, suasana tempat, atau bahkan cara melayani pelanggan. Di tengah banyaknya pilihan, orang butuh alasan sederhana: "Kenapa harus makan di sini lagi?"

Hal lain yang enggak kalah penting adalah pelayanan. Kadang hal kecil seperti senyum, sapaan hangat, atau pelayanan yang cepat justru bikin pelanggan merasa nyaman dan akhirnya jadi langganan.

Di era sekarang, mau enggak mau juga harus adaptif. Aktif di media sosial seperti Instagram atau TikTok bisa jadi cara efektif untuk tetap "terlihat" di tengah persaingan. Enggak harus ribet, yang penting konsisten dan relatable.

Terakhir, yang sering dilupakan: hubungan dengan pelanggan. Mendengarkan feedback, menjaga komunikasi, dan memberi perhatian kecil bisa membuat mereka merasa dihargai.

Pada akhirnya, cara mempertahankan bisnis restoran itu bukan tentang jadi yang paling sempurna, tapi tentang konsisten, adaptif, dan tetap punya "rasa" yang bikin orang ingin kembali.

Gimana menurut teman-teman?💖




Salam

Dian Restu Agustina












Dian Restu Agustina
Dian Restu Agustina Hi! I'm Dian! A wife and mother of two. Blogger living in Jakarta. Traveler at heart. Drinker of coffee

11 komentar untuk "Munggahan di Saoeng Pete Cina Tangerang"

  1. Begitu scroll menu di Saoeng Pete Cina, ada bakwan. Hum...langsung favorit deh. Plus ada menu serba bakar tuh memang luar biasa. Bener nih, aku juga sempat kecewa dateng ke suatu tempat yang pelayanannya lelet, dan apesnya aku baca review di Google, bintang 2 dong, ya pas nunggu makananan engg dateng-dateng, alasannya ya itu lelet.
    Tau gitu kaaan, baca review dulu, supaya engga kesel...

    BalasHapus
  2. Sekarang bisa ditambah dengan konsistensi dan pergerakan sisi sales and marketing yang meluas Mbak. Efeknya ternyata cukup hit untuk bisnis jasa dan pelayanan, termasuk kuliner atau restoran. Konsumen seringkali tergoda dengan gegap gempitanya media sosial. Setidaknya di tahap awal. Masalah nanti mereka akan kembali atau tidak jadi urusan belakang. Begitulah hebatnya efek dunia digital.

    BalasHapus
  3. Paling jengkel datang ke sebuah resto yang pelayanannya buruk atau lelet. jadi inget, pernah buka puasa bersama dan... kita pulang minuman belom datang juga!
    Nah .. untung mbak Dian si paling positif yaa, jadilah tulisan kece seperti ini!

    BalasHapus
  4. Betul sekali, resto sekarang ini persaingan ketat jadi mesti go show dengan rasa makanan yang enak, variatif, tempat dan lokasi nyaman, layanan oke punya, serta gencar berpromosi lewat media sosial dan blog atau website juga.

    Nah, sama atasi komplain dengan tepat. Supaya kalau ada yang kecewa tidak berlarut dan nggak kasih review buruk, butuh manager yang pinter komunikasi.

    Lihat dari menu-menu Saoeng Pete Cina, menarik banget sih. Bikin ngiler dan laper.

    BalasHapus
  5. Di Madura namanya megengan, kakak. kirain ciri khas dari tempat makan ini tuh apapun menu yang dipesan akan disandingin sama pete cina gitu. Hehehe...

    BalasHapus
  6. wah senengnya bisa munggahan bareng teman-teman
    karena makna munggahan kan emang bermaaf-maafan dengan teman dan kerabat sebelum memasuki bulan suci Ramadan, bonusnya makan-makan :D

    BalasHapus
  7. Munggahan di Jawa juga sama istilahnya. Intinya kumpul silaturahmi sebelum mulai bulan puasa. Btw, itu menunya keliatan enak-enak banget ya, menggugah selera.

    BalasHapus
  8. seru banget munggahan bareng besti ya, Mbakkk. Setuju banget kalau mempertahankan bisnis restoran itu bukan tentang jadi yang paling sempurna. Namun, perlu konsisten dan punya "rasa" yang bikin orang pengen balik lagi :)

    BalasHapus
  9. Seru banget ya kak, maaih kompak dengan sesama ortu murid meski anaknya udah gede-gede. Btw Saoeng Pete Cina sebenarnya enak ya kak jadi tempat kumpul arisan, namun semoga ke depannya lebih baik dan gercep pelayanannya,
    Soalnya sayang aja, rasa makanannya udah mantab.

    BalasHapus
  10. Jujurly, saya suka banget pete china. Sejak kecil sudah familiar dengan hasil alam satu ini. Kadang bapak bawa sekarung dari ladang, dan menjualnya ke pasar.

    BalasHapus
  11. Kalau makan di resto ini pas bulan puasa pastinya bikin emosi naik ya karena layanan yang kurang memuaskan. Tapii kalau citarasa makanannya enak pake banget, mungkin boleh dipertimbangkan ya bisa datang lagi di saat lagi sepi :)

    BalasHapus