Healthy Food, Healthy Lifestyle

 Bersama dr. Zaidul Akbar



Good Food is Good Mood


"Penyakit akan muncul dari mood yang naik turun. Mood bisa memengaruhi hormon, fungsi jantung dan pembuluh darah, irama tidur, fungsi imun di tubuh. Bahan baku mood ada di enzim. Mau good mood? Ya makanlah good food, itu kuncinya! Maka jaga 5 panca indera dari hal yang tak penting dan bikin mood bermasalah!"


Demikian Dokter Zaidul Akbar mengawali materinya dalam acara pengajian akbar yang bertema "Healthy Food, Healthy Lifestyle", Rabu 12 Februari 2020 di Aula SDI Al Azhar 8 Kembangan, Jakarta Barat

Acara yang "sehat sekali", karena tak hanya materinya yang membahas seputar kesehatan tapi juga snack yang dibagikan kepada peserta adalah rebusan camilan yang terdiri atas ubi jalar (putih-orange-ungu), jagung dan kacang tanah rebus yang diwadahi besek. Tak hanya itu bagi 50 peserta yang datang pertama akan mendapatkan goodiebag berupa rimpang-rimpangan untuk dibawa pulang. 

Dokter Zaidul lebih lanjut mengingatkan jika semua penyakit berat asal muasalnya dari pikiran. Maka sebaiknya jangan berlebihan saat memikirkan sesuatu. Pasalnya perubahan fisiologis hormonal akan memengaruhi fisiologis umum. Untuk itu mumpung sehat kuatkan iman, bertobat dulu sebelum berobat. Solusi spiritual digunakan dulu jika ada penyakit mendekat. Bersihkan penyakit hati baru hilangkan sakit badani. Caranya, perhatikan asupan makanan..Coz good food is good mood!


Ancaman Resistensi Antibiotik

(Kulwap MoM ACADEMY Bogor Bersama Andhika Yoan Dirgantara Putri - S.Si., APt)








Dulu, jaman anak masih satu, saya dipenuhi kekhawatiran yang berlebihan saat dia sakit. Maklum saja, karena bayi pertama saya meninggal dunia, maka saat anak kedua ada, saya seperti trauma akan kehilangan dia. Ketika dia rewel sedikit langsung saya bawa periksa. Mana kebetulan pula saat itu saya sekeluarga tinggal di rumah dinas perusahaan di mana lokasi rumah saya hanya berjarak sekitar 500 meter saja dari RS yang ada. Jadi ya gitu deh, anak sakit langsung ke dokter. Apalagi sulung saya dulu itu sudah menampakkan gejala alergi dan asma sejak bayi. Jadi sebentar-sebentar batpil, demam, juga sesak napasnya.

Nah, jadilah ia seringkali mengonsumsi obat-obatan, termasuk antibiotik. Ini terjadi hingga kami pindah ke Jakarta pada dua tahun usianya. Dia sudah enggak ASI, lebih kuat, makan cukup,..dan rumah sakit lumayan jauh🙈 Jadi kalau sakit dicoba pakai obat bebas dulu yang umum dosisnya, jika masih enggak berkurang baru ke dokter saya bawa. Tapi teteup, ada antibiotik selalunya di sana. Saya yang awam tentang obat, membiarkan saja hingga saat adiknya lahir dan ditangani dokter anak yang berbeda yang ternyata bertipe enggak gampang kasih antibiotik. Akhirnya saya pun beralih langganan ke dokter anak ini untuk kedua anak saya. Alhamdulillah kini, mereka jarang sekali diresepkan antibiotik, kecuali hanya jika perlu saja. 

Hm..memang antibiotik itu enggak boleh ya? Kalaupun boleh untuk diagnosa yang seperti apa? Bagaimana dengan saran penggunaannya? Apakah ada aturan baku tertentu? Lalu, apa akibatnya jika aturan tidak dilakukan?

Nah, kegalauan banyak orangtua akan antibiotik inilah yang menginspirasi Mothers on Mission (MoM) ACADEMY, sebuah komunitas yang beranggotakan para Mommies dari berbagai wilayah di Indonesia, mengadakan Kuliah WhatsApp (Kulwap) yang bertema Ancaman Resistensi Antibiotik. Narasumber Kulwap adalah seorang Pharmacist & Medicine Expert Andhika Yoan Dirgantara Putri - S.Si., APt dan dimoderatori oleh Mom Ellga Yuthysa dari MoM ACADEMY Bogor.


SCG SD Symposium Indonesia 2020: Circular Economy - Collaboration for Action








SCG SD Symposium untuk pertama kalinya digelar di Indonesia dengan tema Circular Economy: Collaboration For Action. Acara dihelat dengan tujuan untuk mendorong para pemangku kepentingan memahami dan menerapkan konsep ekonomi sirkular demi pembangunan yang berkelanjutan. Di mana SCG berkolaborasi dengan para pemimpin organisasi global dan pemerintahan membahas urgensi kolaborasi dalam menerapkan konsep ekonomi sirkular ini.

Ya, setelah saya menghadiri acara SCG Welcoming Circular 2020 pada 22 Januari 2020 lalu, akhirnya tiba juga di puncak acara Sustainable Development (SD) Symposium Indonesia 2020 pada 20 Februari 2020.

Bertempat di Hotel The Ritz Carlton Jakarta - Mega Kuningan, acara berlangsung sukses dengan menghadirkan sesi Opening & Inspiration Talk, Panel Discussion, Press Briefing dan Exhibition Tour. Sekedar mengingatkan, acara yang berlangsung dari pukul 8 pagi hingga 2 siang ini diinisiasi Siam Cement Group (SCG), sebuah perusahaan konglomerasi terkemuka di ASEAN.

Imunoterapi, Solusi untuk Kualitas dan Harapan Hidup Pasien Kanker yang Lebih Baik Lagi








Saya menatapnya dengan rasa duka luar biasa. Sungguh tak mengira, berselang enam bulan saja tak bersua perubahan fisiknya begitu nyata. Rambut yang habis, mata cekung, badan kurus, wajah pucat pasi...Sediiiih saya melihatnya! Tapi masih ada senyum merekah di bibirnya. Itu yang bikin saya malu untuk menangis di depannya. Yuli, sepupu sekaligus saudara sepersusuan saya terlihat tegar di tengah perjuangan melawan ganasnya kanker yang menyerang payudaranya. Ia terlihat begitu bersemangat di tengah kondisinya yang kurang sehat. Sementara jauh di Ibukota, saya sering mengeluh akan hal remeh-temeh yang kalau dipikir sebenarnya sepele saja. Obrolan singkat dengannya membuat saya kagum pada semangat begitu banyak penyintas kanker yang selama ini telah menapaki hari dengan berbagai proses penyembuhan yang dijalani. Semua tahapan yang sungguh menguras waktu, biaya, energi dan emosi.


Hotel Aryaduta Jakarta, Hotel Lama yang Masih Berjaya






"Di kamarmu enggak ada yang aneh, kan?"
"Enggak!"
"Beneran..memang aneh apaan?"
"Enggak sih, kirain..!"

Begitu obrolan saya berempat dengan teman yang beda kamar saat sarapan di hari kedua menginap di Hotel Aryaduta Jakarta untuk event BI Netifest 2020.

Sementara saat saya menjawab, Evi Syahida (Visya), teman sekamar saya hanya senyum-senyum dalam diamnya. Dan saya baru tahu arti senyumnya beberapa hari di WAG Kelas Blog kami, setelah sampai rumah masing-masing.

Ternyata oh ternyata beberapa teman mendapati hal horor saat menginap selama 4 hari 3 malam di hotel ini. Hm, benarkah? Kok saya enggak merasa sih? Atau karena saya terlalu bahagia sehingga mengabaikan segala rasa yang telah ada hahaha😁

Katanya pula, karena ini hotel tua ya gitu deh, jadi ada penampakan yang seharusnya enggak nampak atau sengaja menggoda agar tertampak. Tuh bingung enggak dirimu? kwkw

Jadi gini cerita lengkapnya....