Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Review Buku: "Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Berikutnya"

Buku bertajuk "Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Berikutnya" mengunci mata saya. Membuat tangan ini meraihnya dan memasukkannya ke tas belanja. Hari itu, saat menemani si Bungsu ke toko buku, judul tak biasa yang disandang buku karya dr. Andreas Kurniawan, Sp.KJ. ini membuat saya kepo. Judulnya yang unik, membujuk pikiran saya untuk meyakini kalau isinya pasti menarik. 

Buku berkategori self improvement ini, diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2025, dan berada di jajaran rak buku best seller di toko Gramedia. Tak hanya judul, cover buku pun tak kalah istimewa. Sampulnya menampilkan sesosok perempuan yang sedang duduk santai di sofa sambil memegang semangka dengan latar rak buku dan tanaman bunga matahari. 

Ternyata penjelasan cover ini di-spill juga di sampul belakangnya. Bahwa sosok perempuan itu awalnya ingin menjadi bunga matahari jika ia berkesempatan untuk dilahirkan lagi. Yang kemudian, keinginan ini direvisi, kalau ia mau jadi pohon semangka saja.

Sebuah cover buku yang meski secara visual nampak biasa tapi dalam maknanya, yang sukses mencerminkan tema yang disandangnya yakni tentang kekecewaan, penyesalan, dan ketidaksempurnaan.

Berisi banyak dialog antara seorang dokter (dr. Andreas Kurniawan, Sp.KJ), dengan pasien perempuan yang bernama Lalin, buku mengeksplorasi cara menemukan makna dan kebahagiaan dalam hidup dan menantang anggapan bahwa seseorang harus selalu bahagia atau mengikuti jalan konvensional untuk merasa tercukupi. 

Saya larut dalam kisahnya, padahal awalnya saya kira buku psikiatri ini isinya bakal psikiatri sekali. Tapi ternyata penyajiannya ringan dan mudah dicerna!


Alasan Buku "Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Berikutnya" Layak Dibaca 


Buku "Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Berikutnya" didasarkan pada pengalaman nyata dr. Andreas Kurniawan Sp.KJ sebagai seorang psikiater, yakni seorang dokter spesialis yang mendalami ilmu kesehatan jiwa dan perilaku atau psikiatri.

Berakar dari interaksi dan sesi konsultasi Dokter Andreas dengan seorang pasien perempuan bernama Lalin yang awalnya mengungkapkan keinginan untuk menjadi bunga matahari di kehidupan berikutnya, lalu merevisinya menjadi pohon semangka. 

Kisah Lalin bersama dengan pengalaman lain, baik dari praktik maupun obrolan santai, menjadi inspirasi utama Dokter Andreas, psikiater yang di media sosialnya menampilkan persona "psikiater yang suka bercanda" .

Saya larut dalam kisahnya, karena mungkin saya termasuk dalam "kalian yang sering dituduh kurang bersyukur, yang suka duduk di kursi minimarket di akhir hari, yang ingin belajar menanam bunga matahari, dan tentunya yang masih mencari arti dari kata kebahagiaan", seperti yang tercantum dalam cover belakang buku ini.😀

Nah, menurut saya, buku ini menarik karena:

1. Temanya Kekinian

Mengangkat isu-isu universal seperti kekecewaan, penyesalan, dan perasaan tidak berdaya yang sering dialami banyak orang sekarang, sehingga pembaca dapat terkoneksi secara emosional dengan isinya 

2. Penyembuhan Diri Tanpa Menggurui

Menyajikan konsep penyembuhan diri secara ringan, reflektif, dan tanpa kesan menggurui, membuatnya mudah dicerna. Membaca dialog antara Lalin dengan dokter Andreas, membuat pembaca merasa sedang "dipukpuk" atau diberi pelukan emosional.

3. Makna di Balik Hal Sederhana

Awalnya, Lalin ingin menjadi bunga matahari (yang indah dan menarik perhatian), tetapi kemudian memilih pohon semangka. Semangka adalah tanaman yang merambat di tanah dan tidak tinggi, tetapi memberikan manfaat (berisi 90% air dan terasa manis). Ini mengajarkan bahwa seseorang tidak harus menjadi sesuatu yang sempurna (tinggi, menarik hati) untuk menjadi berarti atau memberi manfaat bagi sesama.

4. Berdamai dengan Ketidaksempurnaan

Mengajarkan pentingnya berdamai dengan ketidaksempurnaan. Kita tidak perlu menunggu menjadi sempurna untuk memulai atau menjalani hidup dengan bahagia, kita bisa menemukan kedamaian di tengah kekacauan yang ada.

Well, buku yang cocok bagi mereka yang sedang merasa lelah, mempertanyakan tujuan hidup, atau sedang berjuang dengan penyesalan di masa lalu.



"Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Berikutnya", Kalau Kamu Ingin Menjadi Apa?

 
Well, dr. Andreas Kurniawan, Sp.KJ. yang adalah psikiater lulusan Universitas Indonesia, memiliki minat pada ilmu perilaku dan public speaking, dengan tujuan menyebarkan kesadaran kesehatan mental di Indonesia. Pengalaman pribadi kehilangan ayah dan anaknya membuatnya mendalami psikoterapi untuk kedukaan dan kehilangan. 

Selain menulis buku, beliau juga memandu sebuah podcast populer bernama "Ruang Tunggu" bersama istrinya, Sora Tan. Podcast ini membahas keresahan dan isu kesehatan mental sehari-hari, menyediakan ruang aman untuk berdiskusi dan berbagi cerita.

Buku "Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Berikutnya" ini berbasis esai reflektif dari pengalaman pribadi, sehingga dampaknya sangat bergantung pada pengalaman dan keterhubungan emosional pembaca. 

Jadi, kalau misalnya saya tersentuh selama membacanya, dirimu belum tentu....Sebab, apa yang menyentuh bagi satu orang mungkin terasa kurang relevan atau kurang berbobot bagi orang lainnya.
 
Namun, bahasanya yang ringan dan kemampuannya untuk menemani serta memvalidasi perasaan pembaca mampu membantu, meskipun mungkin ada ekspektasi yang berbeda terkait kedalaman filosofi yang disajikan oleh penulis bukunya.

Seperti sebuah kelegaan yang saya rasakan ketika membaca sampai di akhir cerita: 

Lalin, lahir dua puluh empat tahun lalu, mulai sakit delapan tahun lalu, tapi baru benar-benar hidup lagi beberapa minggu lalu, setelah menemukan kutipan dari seorang filsuf stoik bernama Marcus Aurelius.
Think of yourself as dead. You have lived your life.
Now, take what's left and life it properly (hal 176)
Ya, Marcus Aurelius, sang kaisar bijak Romawi dan filsuf Stoik legendaris yang mengajak kita melakukan lompatan kesadaran: bahwa satu-satunya cara menjalani hidup dengan sepenuhnya adalah menyadari bahwa sebagian dari kita sudah mati, bukan secara fisik, namun secara waktu. 

Kita acap kali hidup seakan waktu yang tersisa tak terbatas. Kita menunda, merasa ragu, menahan mimpi seolah hari esok dijamin tiba. Marcus mengajak kita untuk membalikkan perspektif, membayangkan bahwa kamu sudah mati, hidupmu telah berlalu, sehingga apapun yang tersisa sekarang adalah bonus, karenanya layak dijalani dengan kesungguhan dan keberanian.

Well, meski saya mesti ingatkan sebelumnya, kalau kamu nanti membaca "Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Berikutnya" jangan kaget jika isinya kurang runtut, yang membuatmu harus ekstra memahami konteks. Juga, narasi reflektifnya memerlukan perenungan mendalam, kurang cocok untuk dirimu yang menginginkan plot kilat.

Nah, sekarang jawab ya....!

Seandainya terlahir kembali di kehidupan berikutnya, kamu ingin menjadi apa? 

Dilahirkan dengan gender berbeda, menjadi hewan atau tumbuhan, terlahir menjadi orang lain yang punya profesi tak sama: dokter, guru, presiden, content writer / SEO content writer, atau ingin menjadi diri sendiri tetapi dengan pengalaman dan pengetahuan yang lebih baik lagi dari saat ini?💖


Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Berikutnya 

Penulis: dr. Andreas Kurniawan, Sp.KJ 
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama 
Tahun Terbit: Februari 2025 
ISBN: 978-602-068-127-6 
Jumlah Halaman: 224 halaman
Harga: Rp 97.000




Salam

Dian Restu Agustina




.
Dian Restu Agustina
Dian Restu Agustina Hi! I'm Dian! A wife and mother of two. Blogger living in Jakarta. Traveler at heart. Drinker of coffee

22 komentar untuk "Review Buku: "Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Berikutnya""

  1. Aduh, aku belum terbayang mau jadi apa dikehidupan berikutnya mbak, apalagi di suruh menjawab dengan cepat.

    Judul bukunya lumayan panjang, dan membuat orang penasaran. kenapa pengen jadi tanaman, pohon semangka pula. Tapi ternyata ada filosofinya juga pohon semangka ya, walau tumbuh merambat di atas tanah, dahannya lemah, tapi mampu menghasilkan buah yang besar, manis dan segar

    BalasHapus
  2. Tadinya saya kira buku filosofi atau minimal novel filsafat. Tetapi ternyata hasil karya seorang spesialis SP.Kj. Keren sih, jadi pengen beli jg.

    BalasHapus
  3. Bener juga sih. Tema-tema tentang kekecewaan, penyesalan, dan perasaan tidak berdaya tuh emang kayak related banget dengan banyak orang.

    Aku nggak heran kalau kemudian banyak orang akan merasa tertarik membaca buku ini.

    Apalagi judulnya juga unik banget. Coba deh bayangin! Siapa yang kepikiran buat jadi pohon semangka di kehidupan berikutnya?

    Meskipun semangka itu mungkin sangat bermanfaat dengan banyaknya kandungan air di dalamnya.

    BalasHapus
  4. Wah belum sempat baca buku "Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring", Mbak Dian nemu buku dr Andreas Kurniawan: Seorang Wanita yang ingin Menjadi Semangka di Kehidupan Berikutnya
    Judulnya unik-unik ya? Dan isinya bikin makjleb, karena related banget dengan kehidupan kita
    Sip beli dua buku ini ah

    BalasHapus
  5. Wah, buku ini sudah dikeranjang Mbak Di.. cuma belum di check out². Aku suka banget sama premisnya dan tentunya judulnya tuh heartwarming. Jadi inget salah satu buku penulis korea I want to die but i want to eat tteopokki. Judulnya sederhana tapi isinya reflektif malah jauh dari kesan psikiatri banget..❤️❤️❤️

    BalasHapus
  6. Wah tulisan di buku nya puitis dan penuh makna banget ya, imajinasinya bikin pembaca ikut merenung pelan-pelan.

    BalasHapus
  7. Narasumber atau true story yang inspiratif. Walau penderita psikiarti tapi cita-citanya cukup bagus ya ingin menjadi pohon semangka.
    Mengandung air dalam arti hal penting dalam kehidupan dan manis (bisa tentang kebaikan) tentunya sangat utama. Sederhana tapi memiliki nilai filosofis yang tinggi

    Kalau terlahir lagi, (hehe, seperti kisah drama pendek di aplikasi saja) saya pasti nya ingin tetap jadi diri sendiri aja

    BalasHapus
  8. Membaca judulnya saja sudah bikin penasaran, apalagi filosofi pohon semangka yang ternyata punya makna mendalam soal kebermanfaatan tanpa harus terlihat "tinggi". Rasanya buku ini seperti pelukan hangat buat kita yang sering merasa burnout atau kurang bersyukur. Kutipan Marcus Aurelius di akhir itu benar-benar jadi reminder telak. Kalau boleh memilih, di kehidupan berikutnya saya ingin tetap menjadi diri sendiri, namun dengan hati yang lebih lapang.

    BalasHapus
  9. Wah saya pengen tetap menjadi diri sendiri kak. Yang Lebih bermanfaat bagi sekitar. Yang Lebih dulu sadar bahwa diri ini adalah Seorang yang diwajibkan Allah untuk berdakwah dalam arti luas.
    Berbuat baik Adalah bagian dari dakwah.

    BalasHapus
  10. penasaran banget sama bukunya, aku kayaknya perlu follow medsos dokter ini, seru kayaknya ya bahasannya psikiater dan pastinya nambah ilmu kejiwaan nih

    BalasHapus
  11. Pengen jadi seseorang yang lebih baik lagi pokoknya hehe, pertama baca judulnya aku nebak ini isinya tentang apa ya yg berhubungan dengan semangka, ternyata bagus bgt mengajarkan kita untuk tidak harus selalu menjadi sesuatu yang sempurna untuk menjadi berarti atau memberi manfaat bagi orang lain. Aku jadi kepengen punya bukunya Mba

    BalasHapus
  12. Ah ya, sering ketemu buku ini di Gramedia, tapi aku belum tamatin buku satunya yang juga tentang kehilangan itu jadi aku belum beli dan baca.
    Nggak tahu kenapa buku2 ini terasa berat bagiku, ditambah mataku plus *alesan haha.
    Hihi bener kudu dibaca alon2, gak cocok buat yang pengen baca satu buku langsung selesai.
    Kalau ditanya mau jadi apa di kehidupan selanjutnya, kyknya aku milih nggak usah hidup lagi gpp, hahaha. Dunia selesai, maunya selesai juga, tamat wkwk,
    Tapi emang yaaa, kadang orang kalau ditanya ada aja keinginannya mau jadi apa lagi.
    Mungkin inilah bentuk kekecewaan kita pada kehidupan sekarang.
    Tapi andai dikasi kesempatan hidup lagi tentu saja maunya sih jadi lebih baik dalam segala hal yang terjadi di kehidupan sekarang. Cuma nggak kepikiran mau jadi benda, maunya tetep jadi manusia berakal dan bisa berbuat sesuatu *uhuks.

    BalasHapus
  13. Judul bukunya unik sekali sampai aku pun berpikir, “kenapa pohon semangka ya?” dan setelah baca penjelasan Mbak Dian, makna filosofisnya terasa dalam banget

    BalasHapus
  14. Judulnya memang menarik banget. Dulu aku pernah lihat iklan buku ini dan aku memang salah paham. Kukira fiksi. Rupanya berdasarksn kisah nyata. BTW dokternya eksentrik.

    BalasHapus
  15. Saya sangat terkesan dengan cara Mbak Dian mengemas pemikiran tentang eksistensi melalui narasi yang begitu mengalir. Imajinasi menjadi pohon semangka yang tumbuh di tanah yang tepat dan memberikan kesegaran adalah sebuah metafora yang sangat cantik.

    BalasHapus
  16. Aku baru beli buku dr. Andreas yang satunya lagi mbak dan buku Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Berikutnya, belum kesampaian ku beli.

    Beruntung, aku mampir ke blog ini dan baca. Ternyata emang keren karya beliau, maka tak heran kalau best seller. Membuka paradigma dan memperluas wawasan banget ini sih bukunya.

    BalasHapus
  17. jadi penasaran, apa alasan memilih menjadi pohon semangka ya? apalagi yang nulis psikiater ..pasti pesannya dalam banget

    BalasHapus
  18. Saya belum tau mau menjadi apa. Tapi, buku yang seorang pria itu aja udah lama saya masukin keranjang. Eh, sekarang udah ada ini yang sama menariknya. Beli sekaligus aja kayaknya menarik hehehe.

    BalasHapus
  19. Metaforanya unik dan ngena. Ada keinginan sederhana untuk hidup tenang tanpa terlalu banyak tuntutan

    BalasHapus
  20. Kayaknya aku familiar sama covernya, tapi belum tau isinya. Untung aja mbak spill isinya, jadi masuk wishlist buat dibaca nih.

    BalasHapus
  21. Penasaran deh sama isi bukunya. Kebetulan aku juga suka gitu, kalau ada judl yang menarik tertarik buat beli. Kalau buku self improvement biasnya aku baca pelan, entah itu alurnya runut atau tidak. Bahkan aku baca berulang.

    BalasHapus
  22. Menarik sekali bagaimana buku ini berangkat dari pengalaman nyata seorang psikiater, namun dikemas dengan ringan dan penuh empati. Kisah Lalin serta potongan-potongan cerita dari ruang praktik membuat pembaca merasa dekat, seolah sedang bercermin pada diri sendiri. Kutipan di bagian akhir benar-benar “kena”, terutama bagi mereka yang sering dianggap kurang bersyukur, tapi diam-diam sedang berjuang memahami arti bahagia. Buku ini memang tampak layak dibaca, bukan hanya untuk memahami kesehatan jiwa, tapi juga untuk berdamai dengan diri sendiri.

    BalasHapus