Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengunjungi Lawang Sewu di Libur Natal dan Tahun Baru

Menginap di PO Hotel Semarang mempermudah saya, Suami dan si Bungsu mengunjungi (lagi) Lawang Sewu pada libur Natal dan Tahun Baru yang lalu. Berada di jalan yang sama dengan hotel tempat kami menginap, dengan berjalan kaki santai 10 menit saja, sampailah kami di gedung megah berarsitektur art deco, yang digunakan Belanda sebagai Kantor Pusat Kereta Api (Trem) atau Nederlandsch Indische Spoorweg Maschaappij (NIS).

Berlokasi di Komplek Tugu Muda, bangunan karya arsitek Belanda Prof. Jacob F. Klinkhamer dan B.J. Queendag ini menurut sejarah dibangun sejak tahun 1903, kemudian diresmikan pada tanggal 1 Juli 1907. Di masa pendudukan Jepang, bangunan ini sempat digunakan sebagai kantor militer dan penjara bawah tanah. Setelah kemerdekaan, gedung ini berganti fungsi beberapa kali sebelum akhirnya dipugar dan dibuka untuk destinasi wisata.

Lawang Sewu, berasal dari bahasa Jawa "Lawang" (pintu) dan "Sewu" (seribu), yang berarti "bangunan berpintu seribu". Meskipun jumlah aslinya sih cuma 928 pintu dan jendela, dengan pintu sebenarnya hanya 429 saja. Tapi, karena banyaknya jendela tinggi besar yang terlihat seperti pintu, membuat masyarakat menyebutnya Lawang Sewu.


Tentang Lawang Sewu 

Sebagai bangunan bersejarah di Semarang, Jawa Tengah, yang kini dikelola sebagai museum oleh PT KAI Wisata, Lawang Sewu adalah saksi sejarah lokasi Pertempuran Lima Hari di Semarang pada Oktober 1945 antara pemuda Indonesia melawan tentara Jepang.

Berada di Jl. Pemuda 160, Semarang, Lawang Sewu sangat mudah dijangkau, sebab dekat dengan Simpang Lima, Kota Lama, dan pusat keramaian kota Semarang lainnya.

Dulu, beberapa cerita mistis berkembang dari kisah masyarakat, pengalaman pengunjung, hingga liputan media, terutama sebelum Lawang Sewu dipugar seperti sekarang. Misalnya, banyak orang mengaku melihat sosok perempuan bergaun putih gaya Belanda di jendela lantai dua, yang sering disebut “Noni Belanda Lawang Sewu".

Juga, karena banyaknya pintu dan jendela, beberapa pengunjung dulu mengaku merasa “tersesat” meski ruangan sebenarnya sederhana. Mereka merasa berjalan berputar-putar ke tempat yang sama, atau melihat pintu “bergoyang” sendiri. 

Adanya ruang bawah tanah yang dahulu dipakai sebagai penjara air zaman Jepang - tempat penyiksaan dan tempat persembunyian, kabarnya sering terdengar suara orang menangis, muncul bau anyir atau lembap mendadak, juga bayangan bergerak tanpa wujud jelas, sosok “penghuni” yang diyakini bekas tahanan Jepang. 

Atau, ada penampakan sosok tentara Belanda atau Jepang dimana sebagian penjaga malam pernah berkisah melihatnya berpatroli, berada di dekat ruang bawah tanah, yang biasanya muncul menjelang tengah malam.

Nah, kisah-kisah ini makin terkenal sejak ada liputan media dan masuk program TV uji nyali yang menjadikan Lawang Sewu ternama sebagai tempat yang berhantu.

Lawang Sewu Dulu dan Kini

FYI, ini adalah kunjungan kedua kali kami, meski saat ini tanpa si Sulung -yang sedang kuliah- menyertai. Saya senang dengan perkembangan Lawang Sewu setelah lebih dari satu dekade berlalu. Dulu Lawang Sewu itu identik dengan bangunan yang horor, gelap, kurang terawat, dengan fungsi wisata masih abu-abu. Kini, Lawang Sewu lebih rapi, terang, bersih, edukatif dengan museum heritage yang profesional dan ramah keluarga.

Ya, Lawang Sewu dulu dan kini itu:

1. Kondisi Bangunan

Dulu, banyak bagian gedung yang kusam dan belum sepenuhnya direnovasi, pencahayaan minim, terutama di koridor dan ruang bawah tanah, sehingga kesan gelap dan “angker” lebih dominan. 

Kini, sesudah bangunan dipugar total, jadi jauh lebih rapi, bersih, dan terawat dengan pencahayaan terang dan nyaman untuk wisatatawan, sehingga kesan heritage dan estetis lebih menonjol daripada mistis.

2. Konsep Wisata

Dulu, Lawang Sewu lebih dikenal sebagai bangunan angker untuk wisata horor, dimana pengunjung datang untuk “uji nyali” atau sekadar melihat bangunan tua ini, sebab minim narasi sejarah yang tersusun rapi.

Kini, gedung difungsikan sebagai museum perkeretaapian dan situs heritage resmi yang berfokus pada edukasi: sejarah kolonial, arsitektur, dan perkeretaapian, jadi cocok untuk keluarga, pelajar, dan wisata sejarah.

3. Fasilitas Wisata

Dulu, fasilitas terbatas: toilet, area informasi, rambu-rambu, pemandu, ruang pameran, belum banyak dan layak.

Kini, fasilitas lengkap: ruang pamer museum, informasi sejarah terpajang rapi, pemandu resmi, area foto tematik, area event, bazaar, dan festival, dengan lingkungan luar juga lebih tertata dan nyaman.

4. Ruang Bawah Tanah

Dulu, keadaannya gelap, lembap, dan minim keamanan. Jadi daya tarik wisata horor.

Kini, akses dibatasi untuk alasan pelestarian dan keamanan, fokus wisatanya bukan horor, tapi edukasi sejarah, ruang bawah tanah menjadi bagian cerita, bukan area eksplorasi bebas.

5. Pengalaman Wisata

Dulu, banyak area kurang tertata, kesan bangunan tua lebih dominan, sehingga pepotoan kurang maksimal.

Kini, spot foto instagramable lebih banyak, koridor terang dan bersih, sangat fotogenik.

6. Karakter Pengunjung

Dulu, didominasi wisatawan dewasa dan penggemar wisata mistis, kurang cocok untuk anak-anak.

Kini, banyak dikunjungi keluarga, pelajar, dan rombongan sekolah, suasana jauh lebih ramah anak.


Lawang Sewu Pilihan Tepat Destinasi Wisata Keluarga

Nah, menurut saya, Lawang Sewu sangat cocok sebagai destinasi wisata keluarga, terutama jika kamu dan keluargamu senang dengan wisata sejarah, arsitektur, dan pengalaman edukatif.

Ya, Lawang Sewu itu:

1. Edukatif: menyimpan banyak cerita sejarah tentang masa kolonial, perkeretaapian, dan perjuangan bangsa. Ini bisa jadi pengalaman belajar yang asyik di luar kelas.

2. Strategis: lokasinya di pusat Semarang, dekat dengan area lain seperti Simpang Lima dan Kota Lama, jadi bisa dibuat rencana jalan-jalan seharian.

3. Instagramable: arsitektur unik dan koridor panjang memberi banyak latar foto menarik — seru untuk anak muda dan orang tua.

4. Nyaman: rute di area utama tidak terlalu panjang atau berat — cocok untuk semua usia, termasuk anak kecil dan lansia (meskipun ada beberapa area naik tangga).



Ke Lawang Sewu di Libur Natal dan Tahun Baru Itu, Seru!!

Setelah mengunjungi area sekitar satu jam lebih lamanya dengan ditemani pemandu Lawang Sewu, saya dan keluarga pun pulang dengan hati senang. Meski kami batal ikutan tur ruang bawah tanah, karena harus waiting list sekitar 90 menit. Padahal waktu mau ikutan aslinya antara penasaran dan deg-degan...Maklumlah, meski sudah enggak horor lagi, tapi ini kan bekas penjara bawah tanah, Gaes. Tetap aja walau dengan rules & safety yang ada, tetap dagdigdug jugaaa. Untung aja batal ya hahaha 

Well, Lawang Sewu cocok banget untuk destinasi wisata keluarga, terutama kalau kamu ingin pengalaman yang seru, dan ingin aktivitas yang: ringan, edukatif, penuh sejarah, dan instragamable.

Oh ya, agar kunjunganmu makin nyaman, berikut tips liburan ke Lawang Sewu, yaitu: datang pagi atau sore karena Semarang tuh terik di siang hari, sediakan waktu 1-2 jam buat eksplorasi, perhatikan anak-anak/lansia di area tangga karena cukup tinggi, bawa air minum dan kipas sebab cuaca panaaas, sewa pemandu untuk tahu kisah sejarah Lawang Sewu, pastikan HP/kameramu siap buat banyakin stok foto/video untuk kontenmu!💗



Happy Traveling


Dian Restu Agustina





Dian Restu Agustina
Dian Restu Agustina Hi! I'm Dian! A wife and mother of two. Blogger living in Jakarta. Traveler at heart. Drinker of coffee

13 komentar untuk "Mengunjungi Lawang Sewu di Libur Natal dan Tahun Baru"

  1. Ternyata abis dari semarang ya. Tahu gitu kusamperin deh ke hotel. Semarang itu emang unik deh

    BalasHapus
  2. MasyaAllah 11 tahun kemudian Kak Dian dan keluarga kembali traveling ke Lawang Sewu. Berasa banget pastinya ya perubahannya, apalagi kesan yang timbul syukurnya makin lebih baik.
    Daku belum pernah ke sana Kak, baru menyimak dari ulasan dan media sosial aja hehe

    BalasHapus
  3. Ahhh jadi pengen kesana juga. Apalagi cocok untuk foto-foto trus post di instagram. Belum pernah kesana diriku 😅

    BalasHapus
  4. Cerita tentang Lawang Sewu selalu menarik karena sejarah dan atmosfernya kuat. Aku suka sudut pandang yang nggak cuma fokus ke mistisnya, tapi juga nilai sejarah dan perjalanan bangunannya

    BalasHapus
  5. Wah seru banget ya setelah bertahun tahun bisa kembali ke sana. Versi anak-anak kecil dan versi anak-anak udah besar pasti vibes nya terasa berbeda

    BalasHapus
  6. Bener mbaaa lawang sewu yang sekarng jauh lebih bagus dan bener2 cocok buat tempat wisata sejarah...aku sendiri baru sekali dan rasanya ingin kesana kembali karena waktu itu aku tanpa pemmandu dan rasanya akan lebih komplit kalo bisa menggunakan pemandu dan ikut tour bawah tanah ya mbaa :)

    BalasHapus
  7. Ngliat foto di Lawang Sewu versi lama dan baru, bertanya2: itu emak bapaknya vampir ya? Yang bertambah usia keknya anaknya aja haha kidding mbaakk :D
    Aku belum pernah nih mbak ke Semarang, tapi udah ancer2 kalau ke sana kudu ke Lawang Sewu, karena emang gedung itu ikon-nya Semarang ya :D
    Syukurlah banyak perubahan ke lebih baik ya di sana. Mungkin karena juga orang2 makin sadar untuk menjaga bangunan heritage :D
    Pengelolanya berusaha banget menghilangkan kesan horor, tapi gimana caranya supaya dikenal sebagai wisata edukasi sejarah ya.
    Asyik kalau ada guide-nya mbak, jadi bisa dapat banyak info yang valid ya. Itu bayar lagi atau udah termasuk fasilitas yang didapatkan kalau berkunjung ke sana?

    BalasHapus
  8. wisata yang beneran saksi sejarah sih, termasuk sejarah perjalanan keluarga, transformasinya itulooo bikin terharu. bakal jadi cerita yang gak bisa dilupakan ini tuh

    BalasHapus
  9. Bangunan lama yang aestetik dan penuh cerita ya Mbak. Aku sudah pernah ke sana, tapi pengin ke sana lagi, Mbak, he he he. Terutama karena belum pernah kutulis di blog, hanya ditulis di hati dan ingatan 😁😁

    BalasHapus
  10. wah lucu banget mbak ada foto waktu ke lawang sewu pertama kali dan foto sekarang. lawang sewu ini salah satu wishlist aku banget sebenarnya semoga nanti kesampaian bisa jalan-jalan ke semarang

    BalasHapus
  11. Cuma sering dengar nama Lawang Sewu ini dan lihat foto-foto di internet. Baca ulasannya mbak Dian gini jadi berasa ikut traveling ke sana, dan aihh itu vibes historicnya cakep banget

    BalasHapus
  12. Lucu bisa bikin kayak before after gitu fotonya mba. Seru ya makn di kawang sewu. Kalau ke Semarang emang wishlist wajib sih

    BalasHapus
  13. Ternyata menginap di PO Hotel strategis banget ya, cuma jalan kaki 10 menit sudah sampai. Patut saya pertimbangkan hotel ini kalau lagi jalan-jalan ke Semarang. Foto-fotonya juga bagus, bangunan art deco Lawang Sewu memang nggak pernah gagal buat jadi latar foto. Memang ya bangunan tua tuh kalau dibersihkan dan dirawat, kesan seremnya jadi hilang berganti jadi estetik.

    BalasHapus