Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Review Buku: Pulih karena Journaling dan Kucing

Belakangan ini, isu kesehatan mental semakin sering dibicarakan. Banyak orang mulai mencari cara sederhana untuk menjaga kewarasan di tengah hidup yang terasa melelahkan. Ada yang memilih berjalan-jalan, mendengarkan musik, berkebun, hingga menulis jurnal atau journaling.

Menariknya, aktivitas journaling ternyata menjadi salah satu cara yang juga dilakukan oleh Emmy Herlina dalam menghadapi berbagai luka emosional di hidupnya. Pengalaman itulah yang kemudian dituangkan dalam buku "Pulih karena Journaling dan Kucing - Sebuah Kisah tentang Kesembuhan dan Cinta".

Sebuah buku setebal 166 halaman yang bukan sekadar bacaan tentang teknik journaling saja, tapi lebih terasa seperti ruang curhat yang hangat, jujur, dan penuh refleksi tentang proses seseorang berdamai dengan dirinya.


Tentang Buku

"Pulih Karena Journaling dan Kucing" diterbitkan pada Januari 2026 oleh Penerbit FBM Solusindo. Buku ini lahir dari pengalaman penulis mengikuti Challenge 20 Hari Journaling Jadi Buku.

Awalnya, bagi Emmy Herlina, ini hanyalah tulisan pribadi yang tidak ingin dibaca siapa pun. Namun, perlahan ia memberanikan diri membagikan sebagian isi jurnalnya kepada pembaca. Dari situlah lahir buku yang berisi memoar kehidupan, refleksi kesehatan mental, praktik journaling, hingga kisah hangat bersama kucing-kucing peliharaannya.

Bagi saya, hal paling menarik dari buku ini adalah keberanian penulis untuk tampil apa adanya. Emmy tidak berusaha terlihat sempurna. Ia justru memperlihatkan sisi rapuhnya sebagai manusia yang pernah merasa marah, kecewa, kehilangan, dan kelelahan menghadapi hidup.

Ketika Journaling Menjadi Tempat Pulang

Salah satu bagian yang paling membekas adalah ketika penulis menceritakan perjuangannya menghadapi gangguan kecemasan (Anxiety Disorder) dan depresi sedang. Ia menuliskan bagaimana luka batin yang dipendam akhirnya berubah menjadi sakit fisik seperti vertigo dan insomnia.

Di titik itulah journaling menjadi ruang aman baginya. 

Melalui tulisan-tulisannya, Emmy belajar jujur terhadap emosi yang selama ini dipendamnya. Ia tidak hanya menulis tentang rasa syukur dan kebahagiaan, tetapi juga kemarahan, kehilangan, bahkan rasa kecewa terhadap hidup.

Menurut saya, pesan ini terasa penting sekali. Banyak orang sering merasa harus terlihat kuat sepanjang waktu, padahal menerima bahwa diri sedang tidak baik-baik saja juga bagian dari proses pulih.

Buku ini juga menjelaskan bahwa journaling tidak harus rumit. Tidak perlu buku mahal atau alat tulis estetik terlebih dahulu. Bahkan menggunakan buku tulis bekas pun tidak masalah. Yang paling penting adalah keberanian untuk menuliskan apa yang benar-benar dirasakan. Untuk itu, pada setiap bagian buku disediakan lembar jurnal yang bisa diisi pembaca untuk berefleksi sesuai tema.

Penulis juga membagikan beberapa jenis journaling, termasuk gratitude journal atau jurnal syukur. Pembahasannya ringan dan mudah dipahami, sehingga cocok untuk pembaca yang baru ingin mulai menulis jurnal.

@dianrestuagustina review buku: "Pulih karena Journaling dan Kucing" karya Emmy Herlina #journaling #bookreview #CapCut ♬ Books! Books! - Emily Arrow
Kehangatan dari Kucing-Kucing Kesayangan

Sesuai judulnya, buku ini juga dipenuhi kisah tentang kucing-kucing peliharaan penulis: Kali, Otih, dan Koko.

Awalnya saya mengira bagian tentang kucing hanya menjadi pemanis cerita. Ternyata tidak, karena kehadiran mereka justru terasa sangat emosional dan bermakna.

Bagi Emmy Herlina yang telah menulis 17 buku solo sebelum buku ini, kucing-kucing tersebut bukan sekadar hewan peliharaan, tetapi teman yang selalu hadir tanpa menghakimi. Mereka menjadi penghibur di saat penulis merasa sedih, cemas, dan kehilangan semangat.

Sebagai pembaca, saya bisa merasakan bagaimana hubungan manusia dengan hewan peliharaan memang sering kali menghadirkan ketenangan yang sulit dijelaskan. Ada rasa nyaman sederhana yang muncul hanya dari keberadaan mereka.

Bagian ini membuat buku terasa lebih hangat dan tidak terlalu berat meski membahas tentang kesehatan mental.

Gaya Penulisan yang Personal dan Mengalir

Buku ini menggunakan gaya bahasa yang ringan dan mengalir seperti membaca diary atau mendengarkan teman bercerita. Tidak ada istilah psikologi yang terlalu rumit, sehingga pembaca bisa menikmati isi buku dengan nyaman.

Karena sangat personal, beberapa bagian mungkin terasa emosional bagi pembaca yang pernah mengalami luka serupa. Namun justru di situlah kekuatan buku ini. Tulisan Emmy Herlina terasa tulus dan tidak dibuat-buat.

Meski begitu, pembaca yang mencari buku psikologi dengan pembahasan ilmiah dan sistematis mungkin akan merasa buku ini lebih dominan sebagai memoar reflektif dibanding buku panduan kesehatan mental.


Penutup

Well, Buku "Pulih Karena Journaling dan Kucing" adalah buku yang hangat, jujur, dan penuh empati. Buku ini mengingatkan bahwa proses pulih tidak selalu harus besar dan sempurna. Kadang, langkah kecil seperti menulis jurnal, mengungkapkan rasa syukur, atau ditemani kucing kesayangan sudah cukup membantu seseorang bertahan melewati hari-hari sulitnya.

Melalui buku ini, Emmy Herlina seolah ingin mengatakan bahwa kita tidak pernah benar-benar sendirian dalam menghadapi luka hidup.

Buku yang cocok dibaca oleh pencinta buku self-healing, pemula yang ingin belajar journaling, pecinta kucing, maupun siapa saja yang sedang belajar berdamai dengan dirinya sendiri.💕


 


Salam


Dian Restu Agustina





Dian Restu Agustina
Dian Restu Agustina Hi! I'm Dian! A wife and mother of two. Blogger living in Jakarta. Traveler at heart. Drinker of coffee

Posting Komentar untuk "Review Buku: Pulih karena Journaling dan Kucing"