Review Buku: "70 Tahun Prof. Jimly Asshiddiqie: Nyantri dan Membina YPI Al Azhar"
Akhir bulan lalu, anak saya mengikuti Forum Silaturahmi Nasional (Silatnas) ke-2 OSIS-MPK SMP-SMA Islam Al Azhar Tahun 2026 yang diselenggarakan di Puncak, Bogor.
Acara yang berlangsung selama tiga hari ini memiliki 6 pilar tujuan khusus, yakni:
- Tali Silaturahmi: memperkuat ikatan antar pengurus OSIS se-Indonesia
- Profesionalisasi: meningkatkan standar dalam berorganisasi
- Kepemimpinaa: pengembangan keterampilan manajerial dan kepemimpinana
- Komunikasi: peningkatan kemampuan komunikasi dan retorika publik
- Kreativitas: peningkatan kreativitas dan keterampilan kolaborasi
- Sinergi Visi Misi: memadukan arah OSIS SMP dan SMA Islam Al Azhar sesuai keterkinian
Sebuah buku yang merupakan bagian dari dokumentasi dan catatan historis atas dinamika, pemikiran, kontribusi, peran dan keberhasilan Prof Jimly Asshiddiqie yang bermula sebagai marbot, nyantri, hingga menjadi Ketua Pembina Yayasan Pesantren Islam (YPI) Al Azhar.
Melalui perjalanan hidup Jimly Asshiddiqie, para siswa dapat belajar tentang pentingnya integritas, kerja keras, adab, keilmuan, dan semangat pengabdian. Buku ini juga menunjukkan bahwa kepemimpinan besar lahir dari proses belajar, organisasi, kedekatan dengan masjid, dan kepedulian terhadap umat serta bangsa.
Selain memperkuat rasa bangga sebagai bagian dari YPI Al Azhar, buku ini dapat menjadi motivasi bagi peserta Silatnas ke-2 OSIS-MPK SMP-SMA Islam Al Azhar untuk aktif berorganisasi, berpikir luas, menjaga persatuan, dan terus berkarya demi masa depan Indonesia yang lebih baik.
Potret Lengkap Seorang Santri, Intelektual, dan Negarawan
Ada banyak buku biografi tokoh nasional yang berisi deretan jabatan, penghargaan, dan pencapaian akademik. Namun buku 70 Tahun Prof Jimly Asshiddiqie: Nyantri dan Membina YPI Al Azhar menawarkan sesuatu yang lebih dalam dari itu. Buku ini bukan sekadar catatan perjalanan hidup Jimly Asshiddiqie, tetapi juga refleksi tentang nilai, pengabdian, spiritualitas, dan kepemimpinan.
Sejak halaman awal, pembaca akan merasakan bahwa buku ini ditulis bukan hanya untuk mengenang usia 70 tahun Prof. Jimly, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan keluarga besar YPI Al Azhar terhadap sosok yang dianggap memiliki kontribusi besar bagi dunia pendidikan, dakwah, dan kebangsaan.
Buku ini terasa hangat, personal, dan penuh rasa hormat. Di dalamnya, pembaca tidak hanya menemukan Prof. Jimly sebagai pakar hukum tata negara atau mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, tetapi juga sebagai seorang santri, aktivis masjid, anak guru dari Palembang, hingga pembina umat yang tetap dekat dengan lingkungan pendidikan Islam.
Perjalanan Hidup yang Disusun dengan Nuansa Reflektif
Salah satu kekuatan buku ini adalah cara penyusun menghadirkan perjalanan hidup Prof. Jimly secara bertahap dan manusiawi. Pembaca diajak menyusuri kisah masa kecilnya di Palembang sebagai anak bungsu dari 12 bersaudara dalam keluarga sederhana yang dekat dengan dunia pendidikan dan agama.
Dari sana terlihat bagaimana karakter disiplin, kerja keras, dan semangat belajar mulai terbentuk. Buku ini tidak menggambarkan Prof. Jimly sebagai sosok yang langsung sukses sejak muda. Justru pembaca diperlihatkan berbagai proses yang perlahan membentuk dirinya.
Ada kisah tentang bagaimana beliau aktif berorganisasi sejak madrasah, bekerja sebagai penerjemah di Kedutaan Pakistan dan Mesir, hingga perjuangannya menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Bagian-bagian ini membuat buku terasa lebih dekat dan inspiratif karena perjalanan hidupnya tampak realistis dan penuh perjuangan.
Yang menarik, pengalaman hidup Prof. Jimly tidak hanya dipotret dari sisi akademik dan karier, tetapi juga dari sisi spiritual dan sosial. Buku ini menegaskan bahwa kepemimpinan dan intelektualitas beliau lahir dari lingkungan organisasi, masjid, dan kedekatannya dengan para ulama.
Pertemuan dengan Buya Hamka Menjadi Titik Penting
Salah satu bagian paling berkesan dalam buku ini adalah kisah pertemuan Jimly muda dengan Buya Hamka di Masjid Agung Al Azhar.
Di sinilah pembaca mulai memahami mengapa kata menjadi sangat penting dalam judul buku ini. Hubungan Prof. Jimly dengan Buya Hamka digambarkan bukan sekadar hubungan murid dan guru, tetapi proses pembentukan karakter dan visi hidup.
Lingkungan Masjid Agung Al Azhar menjadi ruang pembelajaran yang sangat berpengaruh bagi perjalanan hidupnya. Melalui organisasi Youth Islamic Study Club (YISC), asrama masjid, dan interaksi dengan tokoh-tokoh Islam, Prof. Jimly ditempa menjadi pribadi yang memiliki integritas, keberanian berpikir, dan semangat pengabdian.
Buku ini juga memperlihatkan bagaimana estafet pembinaan berlanjut dari Buya Hamka kepada K.H. Hasan Basri. Dari kedua tokoh itulah Prof. Jimly belajar bahwa ilmu, kepemimpinan, dan moralitas tidak boleh dipisahkan.
Tidak Hanya Biografi, tetapi Juga “Majelis Kesaksian”
Hal yang membuat buku ini sangat menarik adalah adanya bagian Pendapat dan Pandangan. Puluhan tulisan dari pembina, pengurus, akademisi, kepala sekolah, civitas akademika, hingga rekan-rekan Prof. Jimly membuat buku ini terasa seperti sebuah “majelis penghormatan” yang penuh ketulusan.
Melalui tulisan-tulisan seperti:
- Guru Kehidupan,
- Merekat Umat Memajukan Bangsa,
- Keteladanan dalam Menyatukan Perbedaan,
- Cahaya Penuntun Generasi Menuju Masa Depan Penuh Harapan,
- hingga Inspirasi Kepemimpinan Berbasis Nilai,
pembaca dapat melihat bagaimana Prof. Jimly dipandang oleh banyak orang dari berbagai latar belakang.
Menariknya, sebagian besar tulisan tidak hanya membahas kecerdasan atau kiprah kenegaraan beliau, tetapi juga keteladanan pribadi yang sederhana dan membumi. Banyak penulis menggambarkan Prof. Jimly sebagai sosok yang:
- rendah hati,
- komunikatif,
- terbuka terhadap gagasan,
- konsisten menjaga integritas,
- dan mampu menyatukan perbedaan.
Nuansa inilah yang membuat buku terasa lebih emosional dibanding biografi formal pada umumnya.
Potret Intelektual Muslim yang Tetap Membumi
Buku ini juga berhasil menunjukkan bahwa Prof. Jimly bukan sekadar tokoh hukum yang hidup di ruang akademik dan ketatanegaraan. Ia tetap hadir sebagai bagian dari keluarga besar Al Azhar dan dunia pendidikan Islam.
Beberapa tulisan menyoroti perannya dalam memperkuat tata kelola yayasan, mendorong inovasi pendidikan, hingga menggagas konsep Al Azhar Global School. Namun di balik gagasan besar itu, banyak penulis justru mengenang kesederhanaan dan kedekatan beliau dengan masyarakat.
Ada yang menyebut beliau sebagai sahabat, guru, pembina, bahkan sosok ayah. Hal-hal kecil seperti cara beliau berdialog, mendengar pendapat orang lain, dan menyampaikan gagasan besar dengan bahasa sederhana menjadi bagian yang membuat sosoknya terasa hidup di dalam buku ini.
Bahasa Formal yang Sarat Makna
Secara penulisan, buku ini memang menggunakan gaya bahasa formal dan dokumentatif. Bagi sebagian pembaca muda, beberapa bagian mungkin terasa cukup serius dan padat. Namun justru di situlah kekuatan buku ini.
Bahasa yang formal membuat buku terasa seperti arsip penting perjalanan pemikiran dan pengabdian Prof. Jimly di Al Azhar dan Indonesia. Di sisi lain, banyak bagian yang tetap terasa reflektif dan menyentuh, terutama ketika membahas proses hidup, perjuangan, dan hubungan beliau dengan masjid.
Buku ini tidak hanya mengajak pembaca mengenal sosok Prof. Jimly, tetapi juga mengajak merenungkan bagaimana tokoh besar sebenarnya dibentuk: oleh keluarga, organisasi, guru, lingkungan masjid, dan konsistensi belajar sepanjang hidup.
Karenanya, buku 70 Tahun Prof Jimly Asshiddiqie: Nyantri dan Membina YPI Al Azhar sangat layak dibaca oleh:- keluarga besar Al Azhar,
- mahasiswa hukum,
- aktivis organisasi,
- pendidik,
- hingga generasi muda yang sedang belajar tentang kepemimpinan dan pengabdian.
Di tengah era media sosial yang serba cepat dan penuh pencitraan, buku ini menghadirkan teladan tentang proses panjang membangun karakter dan integritas.
Penutup
Pada akhirnya, buku ini bukan hanya tentang seorang Jimly Asshiddiqie. Buku ini adalah kisah tentang bagaimana ilmu, iman, organisasi, dan pengabdian dapat berjalan dalam satu garis lurus.
Dari Palembang menuju Jakarta, dari santri masjid menjadi negarawan, perjalanan Prof. Jimly menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati bukan dibangun oleh popularitas semata, melainkan oleh akhlak, ketekunan, dan konsistensi memberi manfaat bagi umat dan bangsa.
Dan mungkin, itulah alasan mengapa buku ini terasa lebih dari sekadar biografi: ia adalah kumpulan jejak keteladanan yang ingin diwariskan kepada generasi berikutnya.
Salam
Dian Restu Agustina



.png)
Posting Komentar untuk "Review Buku: "70 Tahun Prof. Jimly Asshiddiqie: Nyantri dan Membina YPI Al Azhar""