Review Buku Makamkan Ibu di Samping Ayah: Tentang Luka Keluarga yang Tak Pernah Sederhana
Makamkan Ibu di Samping Ayah adalah salah satu buku yang termasuk kategori kedua.
Novel karya Kalis Mardiasih ini bukan sekadar bercerita tentang sebuah keluarga yang retak karena perceraian. Lebih dari itu, novel ini mengajak pembaca melihat bahwa di balik sosok seorang ibu yang tampak kuat dan seorang ayah yang terlihat gagal, ada manusia-manusia yang juga menyimpan luka, penyesalan, ego, dan cinta yang tak pernah benar-benar selesai.
Data Buku
Judul: Makamkan Ibu di Samping AyahPenulis: Kalis MardiasihPenyunting: Amanatia JuandaPenerbit: Shira MediaTahun terbit: 2026Jumlah halaman: viii+142 halaman.
Tentang Penulis
Nama Kalis Mardiasih tentu sudah tidak asing bagi pembaca yang mengikuti isu perempuan dan kesetaraan gender. Ia dikenal sebagai penulis, esais, sekaligus aktivis yang konsisten menyuarakan hak-hak perempuan, keberagaman, dan kemanusiaan melalui tulisan maupun media sosialnya.Melalui novel Makamkan Ibu di Samping Ayah, Kalis membawa kepekaan sosial dan keberpihakannya pada sisi kemanusiaan ke dalam sebuah kisah keluarga yang terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Sinopsis Singkat
Kisah ini berpusat pada Bu Indah dan tiga anaknya: Aji, Vikra, dan Lini.Bertahun-tahun setelah bercerai dari Pak Rukma, Bu Indah tiba-tiba menyampaikan keinginan yang mengejutkan: kelak ia ingin dimakamkan di samping mantan suaminya.
Permintaan itu membuka kembali luka lama yang selama ini berusaha dikubur oleh anak-anaknya. Mereka mulai mempertanyakan apa sebenarnya yang terjadi di masa lalu. Mengapa Ayah pergi? Benarkah Ibu yang selalu tampak kuat tidak pernah menyimpan penyesalan?
Semakin mereka mencari jawaban, semakin mereka menyadari bahwa hidup tidak pernah hitam dan putih.
Bu Indah: Sosok Ibu yang Sulit Dicintai, Tapi Juga Sulit Dibenci
Bagi saya, tokoh yang paling kuat dalam novel ini adalah Bu Indah.Ia cerdas, mandiri, pekerja keras, dan tampak selalu ingin menang. Namun, di balik semua itu, ia menyimpan rasa takut yang besar: takut dianggap gagal, kehilangan penghormatan, dan takut terlihat lemah.
Selama membaca, saya beberapa kali merasa kesal pada Bu Indah. Cara ia mengatur anak-anaknya, menolak bantuan, dan selalu ingin benar terkadang terasa melelahkan.
Namun, ketika lapisan demi lapisan hidupnya mulai terbuka, saya justru merasa iba. Ternyata, menjadi ibu tidak otomatis membuat seseorang sempurna.
Seorang ibu tetaplah manusia yang tumbuh dari pengalaman, trauma, dan luka masa lalu yang belum selesai.
Tentang Anak-anak yang Mewarisi Luka
Aji, Vikra, dan Lini tumbuh dengan cara yang berbeda dalam menghadapi perceraian orang tua mereka.Aji menjadi sosok yang berusaha memikul tanggung jawab. Vikra tumbuh dengan rasa tidak percaya pada hubungan karena sejak kecil ikut menyaksikan keretakan orang tuanya. Sedangkan Lini memilih menjadi penghubung, mencoba memahami semua pihak meski hatinya sendiri sering kali terluka.
Mereka bertiga menunjukkan satu hal yang sangat nyata: luka keluarga tidak pernah benar-benar hilang. Ia bisa diwariskan dalam bentuk ketakutan, kemarahan, atau kesulitan mencintai.
Namun, luka itu juga bisa diputus. Dan justru tokoh Lini yang memberi harapan bahwa seseorang dapat memilih jalan yang berbeda dari generasi sebelumnya.
Bagian yang Paling Membekas
Ada satu pesan yang terus terngiang setelah membaca novel ini:
Kita tidak pernah benar-benar mengetahui seluruh kisah orang tua kita.
Sebagai anak, sering kali kita hanya melihat mereka dari sudut pandang kita sendiri. Kita mengingat kesalahan mereka, kemarahan mereka, atau keputusan yang menyakiti kita.
Padahal, sebelum menjadi ibu dan ayah, mereka pernah menjadi anak yang terluka, seseorang yang gagal mencintai, atau seseorang yang pernah sangat kecewa.
Kesadaran itulah yang perlahan tumbuh dalam diri Aji, Vikra, dan Lini. Dan mungkin, tumbuh juga dalam diri pembaca.
Ada satu pesan yang terus terngiang setelah membaca novel ini:
Kita tidak pernah benar-benar mengetahui seluruh kisah orang tua kita.
Sebagai anak, sering kali kita hanya melihat mereka dari sudut pandang kita sendiri. Kita mengingat kesalahan mereka, kemarahan mereka, atau keputusan yang menyakiti kita.
Padahal, sebelum menjadi ibu dan ayah, mereka pernah menjadi anak yang terluka, seseorang yang gagal mencintai, atau seseorang yang pernah sangat kecewa.
Kesadaran itulah yang perlahan tumbuh dalam diri Aji, Vikra, dan Lini. Dan mungkin, tumbuh juga dalam diri pembaca.
Gaya Penulisan Kalis Mardiasih
Salah satu kekuatan Kalis Mardiasih adalah kemampuannya menulis emosi yang rumit dengan bahasa yang sederhana.Ia tidak menghakimi tokoh-tokohnya. Tidak ada karakter yang sepenuhnya baik, dan tidak ada yang sepenuhnya jahat.
Bahkan ketika membahas isu yang berat seperti perceraian, kesehatan mental, trauma masa kecil, perselingkuhan, hingga hubungan ibu dan anak, Kalis tetap menuliskannya dengan lembut dan manusiawi.
Sebagai pembaca, saya merasa bukan sedang membaca kisah orang lain. Meski berasal dari keluarga cemara, saya seperti sedang diajak mengintip luka-luka yang mungkin juga ada dalam keluarga saya sendiri.
Buku Ini Cocok untuk Siapa?
Jika kamu menyukai novel keluarga yang emosional, penuh refleksi, dan dekat dengan realitas kehidupan, Makamkan Ibu di Samping Ayah pas jadi bacaan.
Bukan hanya bercerita tentang cinta antara suami dan istri, novel ini berbicara tentang bagaimana manusia bertahan dengan luka. Tentang ego yang terlambat disadari, penyesalan yang tak sempat diucapkan, dan tentang memaafkan, meski tidak pernah benar-benar mengetahui seluruh kebenaran.
Pada akhirnya, saya sampai pada satu kesimpulan sederhana setelah membaca novel ini:
Mungkin yang paling sulit dalam hidup bukanlah memaafkan orang tua. Melainkan menerima bahwa mereka, sama seperti kita, hanyalah manusia yang sedang belajar menjalani hidupnya.
Jika kamu menyukai novel keluarga yang emosional, penuh refleksi, dan dekat dengan realitas kehidupan, Makamkan Ibu di Samping Ayah pas jadi bacaan.
Bukan hanya bercerita tentang cinta antara suami dan istri, novel ini berbicara tentang bagaimana manusia bertahan dengan luka. Tentang ego yang terlambat disadari, penyesalan yang tak sempat diucapkan, dan tentang memaafkan, meski tidak pernah benar-benar mengetahui seluruh kebenaran.
Pada akhirnya, saya sampai pada satu kesimpulan sederhana setelah membaca novel ini:
Mungkin yang paling sulit dalam hidup bukanlah memaafkan orang tua. Melainkan menerima bahwa mereka, sama seperti kita, hanyalah manusia yang sedang belajar menjalani hidupnya.


Posting Komentar untuk "Review Buku Makamkan Ibu di Samping Ayah: Tentang Luka Keluarga yang Tak Pernah Sederhana"