Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Belajar Mendidik Anak Tanpa Marah, Karena Menjadi Ibu Juga Perlu Banyak Belajar

Menjadi ibu ternyata bukan hanya soal bagaimana merawat dan membesarkan anak. Ada bagian lain yang tidak kalah penting, tetapi sering kali justru menjadi tantangan: bagaimana mengendalikan emosi ketika menghadapi tingkah anak.

Saya pun merasa topik ini sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Namanya juga ibu, ada kalanya sudah lelah, pekerjaan rumah belum selesai, pikiran sedang penuh, lalu anak melakukan sesuatu yang menurut kita “kok susah sekali dibilangin”. Rasanya ingin langsung ngegasss saja!

Padahal setelah marah, sering kali yang datang justru penyesalan.

Hal inilah yang menjadi salah satu pembahasan menarik dalam Kajian Muslimah “Cara Cerdas Mendidik Anak Tanpa Marah” yang saya hadiri di Masjid At Tawwab, Larangan, Tangerang pada Kamis, 27 Agustus 2026

Kajian yang diselenggarakan oleh PTA KB-TK Al Bayan Islamic School ini menghadirkan Ustaz Aswan (Asep Wawan Sopian), dai muda asal Bandung yang juga dikenal sebagai motivator, trainer, dan penulis. Kajian berlangsung terbuka untuk umum dalam suasana yang hangat dan khidmat.

Bagi saya, tema kajian ini menarik karena mendidik anak tanpa marah bukan berarti menjadi orang tua yang selalu lembut dan membiarkan semua perilaku anak. Justru kita diajak belajar tegas tanpa kehilangan kendali.



Marah Itu Manusiawi, Tetapi Perlu Dikendalikan

Salah satu hal yang cukup “menampar” saya dari kajian ini adalah ketika Ustaz Aswan mengajak para ibu untuk jujur: siapa yang merasa dirinya pemarah?

Tentu saja banyak tangan yang terangkat, termasuk sayaaa....

Saya rasa hampir semua ibu pernah berada di posisi itu. Bukan berarti kita tidak sayang kepada anak. Justru terkadang karena terlalu sayang, terlalu ingin anak menjadi baik, kita bisa kehilangan kesabaran ketika anak melakukan sesuatu yang tidak sesuai harapan.

Namun, marah yang tidak terkendali bisa membawa konsekuensi.

Ustaz Aswan mengutip perkataan Ali bin Abi Thalib bahwa marah itu “awaluhu jununun wa akhirohu nadamun”—awal dari marah adalah hilangnya akal dan akhirnya adalah penyesalan.

Kalimat sederhana ini terasa sangat relevan.

Saat marah, kita bisa mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin kita katakan. Bisa membentak, memaki, atau melakukan tindakan yang setelah emosi mereda justru membuat kita merasa bersalah.

Masalahnya, penyesalan memang datang belakangan, sebab yang datang di awal itu pendaftaran.
Karena itu, yang perlu dipelajari bukan bagaimana tidak pernah marah, tetapi bagaimana mengendalikan diri ketika marah mulai muncul.

Jangan Dilampiaskan, Jangan Juga Dipendam

Ada satu pesan yang menurut saya penting untuk diingat: amarah tidak sebaiknya langsung dilampiaskan, tetapi juga bukan berarti harus dipendam terus-menerus.

Ustaz Aswan menjelaskan tentang kondisi yang disebut sebagai “banjir emosi”, yaitu ketika kekesalan dan kemarahan terus ditumpuk hingga akhirnya seseorang tidak mampu lagi menahannya dan emosi meledak.

Saya jadi teringat bahwa terkadang kita sebagai ibu memang suka mengatakan, “Sudahlah, sabar dulu.”

Sabar, sabar, dan sabar.

Tetapi kalau semua kekesalan hanya ditumpuk tanpa dikelola, pada satu titik bisa saja meledak menjadi kemarahan yang jauh lebih besar. Lalu bagaimana cara mengendalikannya?

Dalam kajian tersebut, kami diajak mempraktikkan beberapa cara sederhana.

1. Saat Marah, Ingat Allah Terlebih Dahulu

Cara pertama yang disampaikan adalah membaca ta'awudz: A'udzubillahi minasy-syaithanir-rajim.

Ketika sedang marah, terutama kepada anak, jangan langsung ngomel, membentak, atau bahkan bikin status di media sosial. Berhenti sebentar dan berlindunglah kepada Allah.

Saya pikir ini sederhana, tetapi justru karena sederhana itulah mungkin bisa mulai dilatih. Bayangkan ketika anak melakukan sesuatu yang membuat kita naik darah.

Daripada spontan berkata, “Kamu tuh yaa.....hhhhh!” Coba berhenti sebentar. Tarik napas. Kemudian ucapkan ta'awudz.

Ada jeda antara emosi dan respons. Jeda kecil itulah yang mungkin menyelamatkan kita dari perkataan yang nantinya akan disesali.

2. Istighfar Saat Emosi Mulai Naik

Cara kedua adalah memperbanyak istighfar. Astagfirullahaladzim.

Bukan sekadar mengucapkannya dengan lisan, tetapi juga berusaha menghadirkan hati untuk mengingat Allah.

Ustaz Aswan menjelaskan bahwa istighfar menjadi salah satu cara untuk mengingat Allah ketika emosi sedang muncul. Ia juga mengingatkan bahwa zikir jangan hanya berhenti di lisan, tetapi diharapkan sampai ke hati.

Buat saya, ini menjadi pengingat bahwa ternyata pengendalian emosi juga erat kaitannya dengan hubungan kita kepada Allah.

Ketika hati sedang penuh, mungkin yang kita butuhkan bukan hanya melampiaskan kekesalan, tetapi justru kembali mengingat siapa yang seharusnya menjadi tempat kita meminta pertolongan.

3. Wudhu dan Mengubah Posisi Tubuh

Cara berikutnya yang juga menarik adalah berwudu ketika marah.

Dalam materi kajian, kami diajak mengingat bahwa ketika marah, salah satu cara untuk membantu mengendalikan diri adalah berwudu. 

Selain itu, posisi tubuh juga perlu diubah. Jika sedang marah dalam keadaan berdiri, cobalah duduk. Jika masih marah, berbaring.

Kedengarannya sederhana, tetapi sebenarnya masuk akal. Ketika kita memberi kesempatan kepada tubuh untuk berhenti sejenak, kita juga memberi ruang kepada pikiran untuk tidak langsung bereaksi.

Jadi, kalau anak sedang membuat kesal dan emosi mulai naik: jangan langsung meledak. Duduk. Berwudu. Tenangkan diri. Setelah itu baru pikirkan apa yang perlu dilakukan.

Tegas Tidak Sama dengan Marah

Ini bagian yang menurut saya sangat penting bagi orang tua. Mendidik anak tanpa marah bukan berarti menjadi orang tua yang tidak boleh tegas.

Anak tetap perlu aturan. Anak tetap perlu diarahkan. Bahkan ada kondisi ketika orang tua perlu menunjukkan ketegasan. Yang perlu dikendalikan adalah nafsu amarahnya, bukan tanggung jawab orang tua untuk mendidik anak.

Dalam kajian tersebut dijelaskan bahwa ada bentuk kemarahan yang masih diperbolehkan ketika ekspresi, kata-kata, dan cara penyampaiannya tetap terkendali dan tidak menyakiti anak.

Saya suka dengan gagasan ini. Karena terkadang kita menganggap pilihan hanya dua: membiarkan anak atau memarahinya.

Padahal ada pilihan ketiga: tegas tetapi tetap tenang.  Misalnya daripada berteriak, “Kamu jangan gitu!”

Kita bisa mengatakan dengan suara tegas, “Ibu enggak suka kamu lakukan itu. Tolong berhenti dan dengerin Ibu.”
Pesannya tetap sampai, tetapi tanpa harus membuat anak merasa direndahkan.

sumber foto: IG @pta_kbtk_albayan


Hati-Hati dengan Bentakan dan Kata-Kata

Ada pula bagian kajian yang membuat saya kembali berpikir tentang bagaimana selama ini orang tua berbicara kepada anak.

Ustaz Aswan menjelaskan bahwa kemarahan yang diekspresikan dengan wajah garang, suara tinggi, dan bentakan perlu dikendalikan. Lebih jauh lagi, beliau mengingatkan agar orang tua tidak mengeluarkan sumpah serapah atau kata-kata buruk kepada anak, sesedih atau semarah apa pun kita.

Kata-kata seperti “bodoh”, “tolol”, “gila”, atau mendoakan sesuatu yang buruk jangan sampai menjadi bagian dari komunikasi kita dengan anak.

Saya rasa ini bukan hanya berlaku kepada anak kecil. Anak kita mungkin sudah besar, bahkan sudah remaja atau dewasa, tetapi kata-kata orang tua tetap memiliki tempat tersendiri di dalam hatinya.

Bukankah kita juga masih mengingat kata-kata orang tua kita dulu? Ada yang masih terngiang sampai sekarang—baik kata-kata yang menyenangkan maupun yang pernah menyakitkan.

Karena itu, kalau sedang marah, mungkin kita perlu belajar mengganti kalimat. Daripada mengatakan: “Dasar anak malas!”

Lebih baik: “Ibu kecewa kamu belum selesaikan tanggung jawabmu.”
Masalahnya tetap dibicarakan. Tetapi harga diri anak tidak perlu dihancurkan.

Tiga Cara Mengikat Hati Anak

Selain membahas kemarahan, kajian ini juga memberikan satu materi yang menurut saya sangat menarik: bagaimana mengikat hati anak.

Menurut Ustaz Aswan, ada tiga keterampilan yang perlu dimiliki orang tua untuk memperkuat ikatan dengan anak, yaitu memasak, memijat, dan mendengarkan.

1. Memasak

Masakan ibu ternyata bisa menjadi salah satu hal yang dirindukan anak ketika jauh dari rumah. Saya rasa banyak yang bisa merasakan hal ini.

Mau makan di restoran mahal atau mencoba berbagai makanan kekinian, ada kalanya tetap saja yang dicari adalah masakan rumah. Bukan karena masakannya selalu sempurna, tetapi karena ada rasa “pulang” di dalamnya.

2. Memijat dan Sentuhan

Sentuhan juga memiliki peran dalam hubungan orang tua dan anak.

Dalam kajian, Ustaz Aswan menjelaskan pentingnya sentuhan yang sesuai untuk anak. Untuk anak laki-laki, misalnya, tepukan di pundak dapat menjadi bentuk penghargaan dan dukungan. Sementara untuk anak perempuan, usapan di punggung dapat menjadi bentuk kasih sayang ketika ia sedang sedih atau emosional.

Saya jadi teringat, ketika anak masih kecil, memeluk dan mencium mereka terasa begitu mudah. Tetapi ketika anak semakin besar, bentuk kedekatan itu bisa berubah.

Mungkin tidak lagi mau dipeluk seperti dulu, tetapi sentuhan kecil seperti menepuk pundak, mengusap punggung, atau menggenggam tangan tetap bisa menjadi bahasa kasih sayang.

3. Belajar Mendengarkan

Yang ketiga justru tampaknya sederhana, tetapi menurut saya paling sulit: mendengarkan. Anak berbicara, orang tua jangan buru-buru memotong. Anak bercerita, jangan langsung sibuk dengan HP.

Berikan perhatian penuh.

Dalam kajian, kami diingatkan bahwa ketika sedang berinteraksi dengan anak, sebaiknya memberikan totalitas perhatian, termasuk menyimpan HP dan benar-benar mendengarkan.

Saya rasa ini menjadi tantangan tersendiri di zaman sekarang. Kadang secara fisik kita memang berada di rumah bersama anak, tetapi pikiran ada di mana-mana. Anak sedang bercerita, tangan kita masih memegang HP. Anak merasa sedang didengarkan, padahal mungkin sebenarnya tidak.

Padahal bisa jadi, suatu hari nanti ketika anak menghadapi masalah yang lebih besar, orang pertama yang ia cari adalah orang yang selama ini mau mendengarkannya.

Kajian yang Tidak Hanya Memberi Ilmu, tetapi Juga Mengajak Bercermin


Menjelang akhir kajian, kami diajak melakukan semacam refleksi. Mata ditutup, napas diatur, kemudian kami diminta mengingat kembali berbagai masalah, emosi, kemarahan yang pernah dilakukan kepada anak, pasangan, bahkan orang tua.

Bagian ini terasa cukup mengharukan. Ketika membayangkan kembali wajah anak, mungkin ada kejadian-kejadian yang membuat kita sadar bahwa ternyata selama ini kita belum menjadi ibu yang sesabar yang kita bayangkan.

Begitu pula ketika mengingat suami dan orang tua. Ada kata-kata yang mungkin pernah terucap karena emosi. Ada suara yang pernah meninggi. Ada sikap yang setelah dipikirkan kembali sebenarnya tidak perlu dilakukan.

Dan akhirnya kami diajak untuk mengembalikan semuanya kepada Allah: ikhlas, pasrah, dan rida, sambil memohon agar kemarahan dan emosi negatif diangkat dari hati.
Buat saya, inilah bagian paling dalam dari kajian hari itu. Karena ternyata belajar mendidik anak tanpa marah bukan hanya tentang teknik menghadapi anak. Ini juga tentang belajar memperbaiki diri sebagai orang tua.

Menjadi Ibu yang Lebih Sabar Itu Sebuah Proses

Pulang dari kajian ini, saya merasa mendapat pengingat bahwa menjadi ibu tidak pernah selesai proses belajarnya. 

Anak bertumbuh, situasi berubah, tantangan pun berganti. Yang perlu terus dilatih adalah diri kita sendiri. Ketika marah, belajar berhenti. Ketika emosi naik, belajar membaca ta'awudz dan istighfar. Kalau perlu, berwudu dan mengubah posisi tubuh.

Dan yang paling penting, belajar menjaga lisan. Karena anak mungkin lupa mainan apa yang pernah kita belikan. Bisa jadi ia lupa makanan apa yang pernah kita masak. Tetapi kata-kata orang tua yang menyakitkan bisa tersimpan jauh lebih lama di dalam ingatannya.

Saya pun pulang dari kajian ini bukan dengan merasa sudah menjadi ibu yang sempurna. Justru sebaliknya, saya semakin sadar bahwa masih banyak yang perlu saya perbaiki. 

Saya semakin menyadari bahwa belajar menjadi ibu bisa datang dari mana saja. Bukankah menjadi ibu memang sebuah proses belajar yang tidak pernah selesai?

Selain kajian dan buku, saya juga senang mendapatkan inspirasi dari tulisan teman-teman sesama blogger. Salah satunya dari Teh Okti,  Kreator Digital Cianjur yang  dalam banyak tulisannya Blogger Cianjur ini berbagi pengalaman dari sudut pandang yang bernas dan cerdas.

Semoga ilmu yang saya dapat hari itu tidak berhenti sebagai catatan di buku atau artikel di blog ini saja. Semoga bisa benar-benar dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Karena pada akhirnya, mendidik anak tanpa marah bukan berarti tidak pernah marah. Tetapi belajar agar ketika marah, kita tetap menjadi orang tua yang mampu mengendalikan diri.
Dan semoga kita semua diberi kemampuan untuk menjadi orang tua yang tegas tanpa menyakiti, lembut tanpa memanjakan, serta mampu menjadi tempat pertama bagi anak untuk merasa aman, didengar, dan dicintai.

Aamiin. 🤍




Salam


Dian Restu Agustina
















Dian Restu Agustina
Dian Restu Agustina Hi! I'm Dian! A wife and mother of two. Blogger living in Jakarta. Traveler at heart. Drinker of coffee

Posting Komentar untuk "Belajar Mendidik Anak Tanpa Marah, Karena Menjadi Ibu Juga Perlu Banyak Belajar"