Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Masihkah Radio Menjadi Teman di Tengah Ramainya Media Sosial?

Pernahkah kita menyalakan radio bukan karena sedang ingin mendengarkan lagu tertentu, tetapi hanya karena ingin ada suara yang menemani?

Dulu, radio seperti teman yang selalu ada. Pagi-pagi sambil menyiapkan sarapan, di perjalanan sembari menyetir kendaraan, di rumah saat beberes, atau sekadar duduk santai, suara dari radio bisa mengisi suasana. Kita mungkin tidak mengenal siapa yang sedang berbicara di balik mikrofon, tetapi entah bagaimana suara mereka terasa akrab di telinga.
Bahkan, ada kalanya kita merasa seperti sedang diajak ngobrol oleh seorang teman dari ujung sana. 😍


Radio dan Kenangan yang Tidak Lekang

Saya termasuk orang yang mengalami masa ketika radio menjadi salah satu sumber hiburan yang beneran penting. Belum ada media sosial seperti sekarang. Enggak ada Spotify atau YouTube yang bisa dibuka kapan saja, apalagi TikTok dengan berbagai macam kontennya.

Kalau ingin mendengarkan musik sekaligus mendapatkan informasi atau hiburan, salah satu pilihannya adalah radio. Apalagi masa kecil saya habiskan di kampung halaman, Kota Kediri, yang di era tahun 80-an masih lekat dengan ritme hidup yang tenang, hangat, dan penuh keakraban. Ciri khas kota karesidenan di Pulau Jawa, jauh sebelum era gawai dan internet meramaikan keseharian masyarakatnya.

Membuat suasana malam atau sore hari di Kediri kurang lengkap tanpa mendengarkan siaran radio lokal. Sehingga penyiar radio menjadi ikon budaya pop lokal yang suaranya paling ditunggu-tunggu lewat acara permintaan lagu, menemani keseharian masyarakat sebelum era pemutar musik digital ada.

Menariknya, radio tidak hanya menyajikan lagu. Ada berita, informasi ringan, kuis, serial drama (Saur Sepuh, Tutur Tinular, Trinil, Misteri dari Gunung Merapi.....), sampai obrolan antara penyiar dan pendengar. Ada pula momen ketika kita menunggu lagu favorit diputar. Kalau beruntung, nama kita disebut ketika penyiar membacakan pesan atau salam dari pendengar.

Hal-hal sederhana seperti itu ternyata bisa meninggalkan kenangan. Apalagi saat menanti salam terkirim dari gebetan...😀
Radio memang tidak menawarkan gambar. Kita hanya mendengar suara. Namun, justru karena tidak ada visual itulah, imajinasi kita bekerja.

Ketika Penyiar Radio Terasa Seperti Teman

Well, ada sesuatu yang menarik dari seorang penyiar radio. Mereka berbicara kepada begitu banyak orang, tetapi cara berbicaranya sering kali terasa personal. Seolah-olah hanya kita yang sedang diajak berbincang.

Penyiar yang pandai membangun suasana bisa membuat pendengar tertawa, ikut berpikir, bahkan merasa ditemani ketika sedang sendirian.

Itulah salah satu kekuatan radio. Kita tidak perlu duduk diam di depan layar. Radio bisa menemani sambil kita melakukan aktivitas lain. Sedang masak? Radio bisa menyala.  Lagi nyetir? Radio menemani perjalanan. Sembari bebersih rumah? Suara penyiar dan lagu-lagu pilihan bisa membuat pekerjaan terasa lebih menyenangkan.

Mungkin itu sebabnya radio punya tempat tersendiri dalam kenangan banyak orang.

Dari Radio ke Podcast dan Media Sosial

Teknologi kemudian berkembang. Cara kita menikmati hiburan dan informasi pun ikut berubah. Kalau dulu harus menunggu jadwal acara radio, sekarang kita bisa memilih sendiri apa yang ingin didengarkan.

Podcast menjadi salah satu contohnya. Kita bisa mendengarkan obrolan dengan tema tertentu kapan saja. Mau sambil masak, olga, berkendara, atau menjelang tidur pun bisa.

Kemudian muncul berbagai platform video dan media sosial yang menawarkan sesuatu yang lebih lengkap. Tidak hanya suara, tetapi juga gambar dan interaksi. Sekarang, kita bahkan bisa menyaksikan seseorang berbicara secara langsung melalui fitur live.

Penonton dapat memberikan komentar dan mendapatkan respons secara langsung. Ada komunikasi dua arah yang terasa sangat cepat. Kalau dipikir-pikir, konsepnya memang sedikit mengingatkan pada radio.

Bedanya, kali ini pendengar tidak hanya mendengarkan. Mereka juga bisa melihat, berkomentar, memberikan tanda suka, bahkan ikut menentukan arah pembicaraan.

Radio TikTok, Versi Baru Teman di Dunia Digital?

Belakangan saya juga menemukan istilah radio TikTok. Tentu saja ini bukan berarti radio konvensional benar-benar berpindah begitu saja ke TikTok. Istilah tersebut lebih menggambarkan bagaimana platform digital kini bisa menghadirkan pengalaman seperti mendengarkan siaran radio.

Ada orang yang melakukan live berjam-jam, berbicara dengan penonton, memutar musik, menjawab komentar, atau sekadar menemani orang-orang yang sedang online.

Menariknya, interaksinya terasa lebih langsung.

Kalau di radio kita mengirimkan pesan dan berharap dibacakan oleh penyiar, di live streaming kita bisa langsung menuliskan komentar dan mendapatkan respons dalam hitungan detik. Tapi, sensasi ditemani itu sebenarnya masih sama.

Ada suara seseorang di sana, hangatnya obrolan, cerita yang seru. Ada orang lain yang hadir di waktu yang sama.
Teknologinya berubah, tetapi kebutuhan manusianya ternyata tidak terlalu berbeda.

Apakah Radio Masih Relevan?

Nah, di tengah begitu banyak pilihan hiburan, apakah radio masih relevan?

Menurut saya, radio tetap memiliki tempatnya sendiri. Radio tidak menuntut kita terus-menerus menatap layar. Kita bisa mendengarkan sambil melakukan berbagai aktivitas.

Selain itu, ada unsur kejutan yang menarik. Kita tidak selalu tahu lagu apa yang akan diputar berikutnya atau topik apa yang akan dibicarakan penyiar.

Sementara di media sosial, kita cenderung memilih sendiri konten yang ingin kita lihat. Keduanya memiliki pengalaman yang berbeda.

Radio memberikan pengalaman seperti ditemani tanpa harus terus melihat layar. Media sosial memberikan kesempatan untuk memilih sekaligus berinteraksi. Mungkin bukan soal mana yang lebih baik, tetapi soal kebutuhan kita pada saat itu.

Apalagi mendengarkan radio di tengah kemacetan Jakarta, memang punya sihir tersendiri. Di saat terjebak di jalur protokol atau tol dalam kota, radio berubah dari sekadar media hiburan menjadi teman seperjalanan yang sangat personal, sebab:
  • Efek "Teman Bicara": celoteh para penyiar lewat program morning show atau drive-time show sore hari dirancang untuk mencairkan suasana. Gurauan spontan mereka sering kali menjadi penyelamat stres di kala lampu merah tak kunjung hijau.
  • Kurasi Musik Tanpa Mikir: Berbeda dengan aplikasi streaming di mana kita harus terus memilih lagu, radio memberikan elemen kejutan. Sensasi menemukan lagu favorit yang tiba-tiba diputar di radio memberikan kepuasan yang berbeda.
  • Informasi Real-Time: Selingan berita terkini, dinamika politik, hingga pantauan lalu lintas langsung dari sesama pengendara membuat kita tetap terhubung dengan denyut nadi ibu kota tanpa harus sengaja membuka media sosial saat menyetir.

Jadi, meskipun lanskap media terus berubah, kehangatan suara manusia di balik mikrofon radio tetap tidak tergantikan oleh algoritma musik mana pun.

Teknologi Berubah, Kebutuhan untuk Ditemani Tetap Sama

Kalau dipikir-pikir, perjalanan dari radio ke podcast, YouTube, hingga TikTok sebenarnya menunjukkan satu hal sederhana.
Manusia senang ditemani. 
Kita senang mendengarkan cerita, bahagia menikmati suara orang lain, ingin terhubung, meskipun terkadang dengan orang yang sama sekali tidak kita kenal.

Dulu, teman digital itu mungkin bernama radio. Sekarang bentuknya bisa podcast, video, live streaming, atau media sosial.

Radio mungkin tidak lagi menjadi satu-satunya pilihan. Namun, suara seorang penyiar yang menemani perjalanan, lagu yang tiba-tiba mengingatkan kita pada masa lalu, atau obrolan sederhana yang terdengar dari speaker tetap memiliki tempat istimewa.

Sebab pada akhirnya, yang kita cari bukan sekadar suara. Kadang-kadang, kita hanya ingin merasa bahwa kita tidak sendirian.

Bagaimana menurut teman-teman?💗




Salam Bahagia


Dian Restu Agustina








Dian Restu Agustina
Dian Restu Agustina Hi! I'm Dian! A wife and mother of two. Blogger living in Jakarta. Traveler at heart. Drinker of coffee

1 komentar untuk "Masihkah Radio Menjadi Teman di Tengah Ramainya Media Sosial?"

  1. Ternyata ini yang dimaksud radio TikTok, ya. Lebih imersif sih karena bisa intip penampakan dan kasih respon.

    BalasHapus