Lisan Seorang Istri: Antara Nasihat, Keluhan, dan Doa
Selasa, 20 Oktober 2026, saya kembali meluangkan waktu untuk menimba ilmu dalam sebuah kajian khusus muslimah. Kali ini, kajian berlangsung di Masjid Al Ikhlas, Komplek Karang Tengah Permai, Tangerang, yang diselenggarakan oleh Majelis Taklim Al Ikhlas Karang Tengah Permai.
Kajian yang berlangsung pukul 09.00–11.00 WIB ini menghadirkan Ustadzah Hani Nurul Husna, Lc dengan tema Series Fiqih Pernikahan (Bagian 1): Lisan Seorang Istri, Antara Nasihat, Keluhan, dan Doa.
Mendengar temanya saja, rasanya sudah mengajak saya untuk bercermin. Sebab, sebagai seorang istri sekaligus ibu, tentu ada banyak hal dalam kehidupan rumah tangga yang ingin disampaikan. Kadang berupa nasihat untuk suami dan anak-anak, sesekali berupa keluhan karena lelah, dan tentu saja doa-doa yang diam-diam kita panjatkan untuk keluarga tercinta.
Namun, apakah selama ini kita sudah menggunakan lisan dengan sebaik-baiknya?
Pertanyaan sederhana ini menjadi salah satu pintu refleksi dari kajian yang saya ikuti.
Pernikahan Adalah Ibadah Terpanjang
Ustadzah Hani Nurul Husna mengawali kajian dengan mengingatkan bahwa pernikahan bukan sekadar menyatukan dua insan yang saling mencintai. Lebih dari itu, pernikahan merupakan ibadah yang membutuhkan niat, ilmu, dan ketakwaan.
Dalam perjalanan rumah tangga, usia pernikahan setiap pasangan tentu berbeda-beda. Ada yang baru beberapa tahun, ada yang sudah puluhan tahun, bahkan ada yang telah melewati setengah abad bersama pasangannya.
Namun, lamanya usia pernikahan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan sebuah rumah tangga. Hal yang lebih penting adalah bagaimana pasangan suami istri terus menjaga niatnya agar pernikahan menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Ustadzah mengingatkan tentang:
Surah Ar-Rum ayat 21 yang menjelaskan bahwa Allah menciptakan pasangan bagi manusia agar mereka memperoleh ketenteraman (sakinah), serta menjadikan di antara mereka rasa cinta (mawaddah) dan kasih sayang (rahmah).
Pernikahan juga bukan hanya menyatukan dua hati, tetapi mempertemukan dua keluarga besar. Ada perbedaan kebiasaan, karakter, dan cara pandang yang perlu dipahami bersama.
Kita pun menikah bukan dengan malaikat yang sempurna. Suami dan istri sama-sama memiliki kekurangan. Seiring bertambahnya usia, penampilan berubah, kesehatan mungkin menurun, dan kondisi kehidupan tidak selalu seperti saat awal menikah.
Justru di situlah cinta dan kasih sayang diuji.
Ketika pasangan mulai menua, ketika tubuh tidak lagi sekuat dahulu, atau ketika keadaan ekonomi berubah, apakah kita masih mampu memperlakukannya dengan baik? Apakah kita tetap ingin menjadi teman perjalanan yang saling menguatkan hingga akhir hayat?
Karena itu, tujuan pernikahan bukan sekadar hidup bersama, melainkan berusaha bersama untuk meraih rida Allah dan menjadikan rumah tangga sebagai jalan menuju surga.
Lisan Adalah Nikmat Sekaligus Amanah
Salah satu bagian kajian yang paling mengena adalah pembahasan tentang lisan.
Dalam Surah Al-Balad ayat 8–9, Allah mengingatkan tentang nikmat penglihatan dan lisan yang dianugerahkan kepada manusia. Mata, lisan, dan bibir bukan sekadar bagian tubuh, melainkan nikmat yang harus digunakan dengan penuh tanggung jawab.
Begitu pula dalam Surah Qaf ayat 18, Allah mengingatkan bahwa tidak ada satu kata pun yang diucapkan manusia melainkan ada malaikat yang mengawasi dan mencatatnya.
Masyaallah, jika dipikirkan, betapa banyak kata yang keluar dari mulut kita setiap hari. Ada ucapan yang menyenangkan hati orang lain, tetapi ada pula perkataan yang mungkin melukai tanpa kita sadari.
Kadang kita merasa hanya sedang bercanda. Kadang menganggap perkataan kita sekadar luapan emosi sesaat. Bahkan, bisa jadi kita sudah melupakan ucapan tersebut beberapa menit kemudian.
Namun, setiap perkataan tetap memiliki konsekuensi.
Dalam kehidupan rumah tangga, lisan bisa menjadi jalan hadirnya ketenteraman. Pujian yang tulus, ucapan terima kasih, permintaan tolong yang santun, dan kata-kata penyemangat dapat membuat pasangan merasa dihargai.
Sebaliknya, sindiran, hinaan, perbandingan dengan orang lain, dan kebiasaan menyalahkan dapat membuat hati pasangan terluka.
Ustadzah Hani Nurul Husna juga mengingatkan bahwa menjaga lisan bukan hanya berlaku ketika berbicara secara langsung. Tulisan dan unggahan di media sosial pun perlu dijaga. Jangan sampai persoalan rumah tangga diumbar menjadi konsumsi publik, apalagi ketika kita sedang dikuasai emosi.
Ada baiknya kita berhenti sejenak sebelum berbicara atau menulis sesuatu. Apakah perkataan ini benar? Apakah perlu disampaikan? Apakah caranya baik? Apakah ada manfaatnya?
Sebab, lisan yang terjaga bukan berarti kita tidak boleh menyampaikan pendapat. Kita tetap boleh berbicara, menasihati, dan mengungkapkan perasaan. Namun, semuanya perlu dilakukan dengan ilmu, adab, dan tujuan yang baik.
Nasihat: Mengajak, Bukan Menyalahkan
Bagian pertama dari tema kajian adalah nasihat.
Sebagai istri, tentu kita ingin suami menjadi pribadi yang lebih baik. Kita ingin pasangan semakin dekat dengan Allah, lebih rajin beribadah, bertanggung jawab terhadap keluarga, dan menjadi teladan bagi anak-anak.
Akan tetapi, niat baik tidak selalu menghasilkan respons yang baik apabila disampaikan dengan cara yang kurang tepat.
Bayangkan ketika kita berkata, “Abang tuh dari dulu susah banget disuruh ke masjid!”
Mungkin maksudnya ingin mengingatkan. Namun, kalimat tersebut bisa terdengar seperti tuduhan dan membuat suami merasa direndahkan.
Akan berbeda rasanya jika kita berkata, “Mas, besok Subuh kita berangkat ke masjid bersama, yuk. Aku senang kalau kita bisa sama-sama membiasakan diri beribadah.”
Pesannya sama-sama mengajak kepada kebaikan, tetapi cara penyampaiannya lebih lembut.
Ustadzah Hani Nurul Husna menekankan pentingnya memilih waktu yang tepat untuk memberikan nasihat. Jangan menyampaikan sesuatu ketika pasangan sedang lapar, kelelahan, kurang tidur, atau baru pulang bekerja dan membutuhkan waktu untuk beristirahat.
Perhatikan pula pilihan kata dan nada bicara. Nasihat sebaiknya disampaikan dengan tulus, bukan dengan maksud memenangkan perdebatan atau membuktikan bahwa diri sendiri paling benar.
Ada satu hal yang juga menarik untuk direnungkan: sebelum menasihati pasangan, kita perlu bersedia menasihati diri sendiri.
Sudahkah kita menjadi contoh dalam hal yang ingin kita sampaikan? Jika menginginkan suami dan anak-anak lebih dekat dengan Al-Qur'an, apakah kita juga terus berusaha memperbaiki hubungan dengan Al-Qur'an?
Dalam kajian ini, Ustadzah mengingatkan doa Nabi Musa dalam Surah Taha ayat 25–28:
Rabbi syrah li sadri, wa yassir li amri, wahlul 'uqdatan min lisani, yafqahu qauli.
Artinya, “Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku.”
Doa ini bisa menjadi pengingat ketika kita hendak membicarakan sesuatu yang penting dengan pasangan. Memohonlah kepada Allah agar hati dilapangkan dan perkataan kita dapat dipahami dengan baik.
Sebab, tujuan nasihat dalam rumah tangga bukanlah membuat pasangan merasa kalah, melainkan membantu satu sama lain menjadi pribadi yang lebih baik.
Keluhan: Boleh Lelah, Boleh Menangis, tetapi Jangan Putus Asa
Bagian kedua membahas keluhan, sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari seorang istri.
Rutinitas rumah tangga terkadang terasa tidak ada habisnya. Belum selesai memasak, sudah ada cucian. Rumah baru saja dibersihkan, anak-anak kembali membuatnya berantakan. Belum lagi berbagai urusan keluarga yang membutuhkan perhatian.
Ada kalanya kita merasa lelah, ingin didengarkan, atau sekadar ingin seseorang memahami apa yang sedang kita rasakan.
Apakah mengeluh berarti kita tidak bersyukur?
Menurut pesan yang disampaikan dalam kajian, kita perlu membedakan antara mengungkapkan kesulitan untuk mencari pertolongan dan keluhan yang berujung pada keputusasaan atau menyalahkan Allah.
Merasa lelah adalah manusiawi. Menangis ketika menghadapi persoalan juga bukan berarti kita tidak sabar. Kita tidak harus berpura-pura kuat setiap saat.
Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kita menyampaikan keluhan dan kepada siapa kita mengadukannya.
Ustadzah Hani Nurul Husna mengajak jamaah merenungkan kisah Haulah binti Tsa'labah yang diabadikan dalam Surah Al-Mujadilah ayat 1. Ayat tersebut mengingatkan bahwa Allah mendengar pengaduan seorang perempuan mengenai persoalan rumah tangganya.
Dalam Surah Yusuf ayat 86, Nabi Ya'qub juga menyampaikan: Innama asyku batstsi wa huzni ilallah. Artinya, “Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.”
Dua ayat ini menjadi pengingat bahwa Allah mengetahui kesedihan yang mungkin tidak mampu kita ceritakan kepada siapa pun.
Ketika hati terasa berat, kita bisa mengambil wudu, menunaikan salat, lalu bersujud dan menyampaikan segala keresahan kepada-Nya. Tidak perlu menunggu sampai masalah menjadi begitu besar untuk mulai berdoa.
Lalu, bagaimana jika kita membutuhkan seseorang untuk mendengarkan keluhan?
Tentu kita boleh berkomunikasi dengan pasangan dan meminta bantuan. Sampaikan kebutuhan secara jelas tanpa merendahkan atau menuduh.
Daripada berkata, “Abang tuh enggak pernah peduli sama aku!”
Kita bisa mencoba mengatakan, “Akhir-akhir ini aku merasa cukup lelah mengurus pekerjaan rumah. Bisa enggak, Mas, kita mencari cara supaya pekerjaan ini lebih ringan?”
Kalimat kedua memberikan gambaran tentang apa yang dirasakan sekaligus membuka ruang untuk mencari solusi bersama.
Bisa jadi solusinya adalah berbagi pekerjaan rumah, sesekali membeli makanan, menggunakan jasa laundry, atau mengatur kembali rutinitas keluarga. Hal-hal sederhana seperti ini pun dapat membantu pasangan saling memahami.
Tentu, suami bukan satu-satunya tempat untuk menyampaikan semua persoalan. Ketika menghadapi masalah yang berat, kita dapat mencari bantuan dari orang tepercaya atau tenaga profesional yang sesuai, dengan tetap menjaga privasi dan kehormatan keluarga.
Ustadzah Hani Nurul Husna juga mengingatkan agar kita berhati-hati ketika mencurahkan masalah rumah tangga kepada orang lain, terutama jika tidak memiliki batasan yang jelas. Jangan sampai niat mencari tempat bercerita justru membuka persoalan baru.
Dan yang paling penting, jangan menjadikan media sosial sebagai tempat meluapkan emosi hingga membuka aib pasangan dan keluarga.
Sabar bukan berarti tidak pernah merasa lelah. Sabar adalah tetap berusaha menghadapi keadaan dengan cara yang diridai Allah, tanpa kehilangan harapan kepada rahmat-Nya.
Doa: Senjata Hati Seorang Istri
Bagian ketiga yang dibahas adalah doa.
Jika nasihat merupakan ikhtiar untuk mengajak pasangan kepada kebaikan dan keluhan menjadi cara menyampaikan kebutuhan, maka doa adalah bentuk penyerahan harapan kepada Allah.
Ada banyak hal yang ingin kita perbaiki dalam rumah tangga. Kita ingin suami menjadi pribadi yang saleh, anak-anak tumbuh menjadi generasi yang berakhlak baik, rezeki keluarga diberkahi, dan hubungan suami istri senantiasa dipenuhi kasih sayang.
Namun, perubahan tidak selalu terjadi sesuai keinginan dan waktu yang kita harapkan.
Karena itu, selain berusaha berkomunikasi dengan baik, kita perlu terus mendoakan pasangan.
Doa tidak harus selalu panjang. Tidak harus menggunakan kalimat yang indah. Kita bisa berdoa dengan bahasa yang kita pahami, mengungkapkan apa yang menjadi harapan, dan memohon pertolongan Allah dengan penuh kerendahan hati.
Salah satu doa yang diingatkan dalam kajian ini terdapat dalam
Surah Al-Furqan ayat 74: Rabbana hab lana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a'yunin waj'alna lil-muttaqina imama. Artinya, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”
Betapa indahnya doa ini. Kita tidak hanya memohon agar pasangan menjadi penyejuk hati, tetapi juga agar anak-anak menjadi kebahagiaan bagi keluarga. Kita pun memohon agar seluruh keluarga dapat tumbuh menjadi orang-orang yang bertakwa.
Doa seorang istri bukan sekadar permintaan agar suami berubah sesuai keinginannya. Lebih dari itu, kita juga memohon agar Allah memperbaiki diri sendiri, melembutkan hati, meluruskan lisan, dan membimbing seluruh anggota keluarga menuju kebaikan.
Mungkin ada kebiasaan suami yang belum berubah. Mungkin ada persoalan yang belum menemukan jalan keluar. Namun, ikhtiar tetap perlu berjalan, disertai doa dan kesabaran.
Kita tidak pernah tahu doa mana yang akan menjadi jalan datangnya pertolongan Allah. Karena itu, jangan lelah berdoa untuk pasangan, anak-anak, orang tua, dan seluruh keluarga.
Doakan kebaikan bagi kehidupan dunia sekaligus akhirat. Sebab, tujuan akhirnya bukan hanya memiliki rumah tangga yang nyaman, melainkan keluarga yang bersama-sama berusaha meraih rida Allah dan surga-Nya.
Menjaga Lisan, Merawat Cinta
Dari kajian pagi ini, saya kembali diingatkan bahwa lisan seorang istri memiliki peran besar dalam kehidupan rumah tangga.
Lisan bisa menjadi sarana menyampaikan nasihat, mengungkapkan keluhan, sekaligus memanjatkan doa. Ketiganya merupakan bagian dari kehidupan yang wajar, tetapi perlu ditempatkan dengan tepat.
Nasihat membutuhkan ilmu dan adab. Keluhan membutuhkan kejujuran, komunikasi, dan ikhtiar mencari solusi. Sementara itu, doa membutuhkan ketulusan dan keyakinan bahwa Allah Maha Mendengar.
Saya pun merasa bahwa menjaga lisan bukan hanya tugas seorang istri. Suami juga memiliki tanggung jawab yang sama. Keduanya perlu saling menghormati, tidak menghina, tidak merendahkan, dan tidak menjadikan kekurangan pasangan sebagai bahan ejekan.
Rumah tangga yang baik bukan berarti tidak pernah mengalami perbedaan pendapat. Bukan pula berarti seorang istri harus selalu diam ketika lelah atau terluka.
Justru, suami dan istri perlu belajar menyampaikan perasaan dengan sehat, mendengarkan tanpa buru-buru menghakimi, dan mencari jalan keluar bersama. Jika terjadi kekerasan atau persoalan serius yang membahayakan, menjaga lisan tidak berarti harus memendam masalah atau menghindari pertolongan. Mencari perlindungan dan bantuan yang tepat tetap penting.
Pada akhirnya, pernikahan adalah perjalanan panjang untuk saling membantu dalam ketaatan. Kita tidak hanya ingin menemani pasangan selama hidup di dunia, tetapi juga berharap dapat berkumpul kembali di surga-Nya.
Semoga Allah membimbing kita agar lebih bijak menggunakan lisan. Semoga setiap nasihat yang kita sampaikan menjadi jalan kebaikan, setiap keluhan mengantarkan kita pada solusi, dan setiap doa menjadi penguat langkah dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Dan, semoga rumah tangga kita senantiasa diliputi sakinah, mawaddah, dan rahmah.
Aamiin ya Rabbal 'alamin.💖
Salam
Dian Restu Agustina


Posting Komentar untuk "Lisan Seorang Istri: Antara Nasihat, Keluhan, dan Doa"