Cerpen Saya Dimuat Di Tabloid Nova




Alhamdulillah, cerpen saya berjudul Kembar Buncing dimuat di Tabloid Nova edisi 6 - 12 Februari 2017. 

*Kembar Buncing : anak kembar dengan jenis kelamin berbeda, laki-laki dan perempuan - Bahasa Bali

Ceritanya tentang Ardiyanti dan Prajaya yang bertemu, berteman, lalu saling jatuh cinta tanpa tahu mereka berdua bersaudara (kembar buncing). Juga, kisah perjuangan hidup Sang Ibunda, Sukermi.

Bagi yang ingin mengirimkan karyanya ke Tabloid Nova, berikut persyaratannya :

1. Tema : Seputar wanita dan keluarga
2. Panjang cerpen tidak ada ketentuan ( cerpen saya sekitar 8500 karakter)
3. Kirim ke email : nova@gramedia-majalah.com , sertakan biodata singkat dan nomor rekening
4. Masa tunggu (saya) sekitar dua bulan
5. Honor 400 ribu - infonya ( belum pajak ) 

Selamat Berkarya !

Berikut ceritanya  :



KEMBAR BUNCING

Ardiyanti

Wednesday, rather cloudy, 10 – 15 C. Begitulah ramalan cuaca yang terpampang di layar ponselku. Sebuah informasi yang tak boleh dilewatkan sebelum pergi. Kuraih tas, menuju pintu dan mengunci. Tepat pukul sepuluh pagi, aku keluar dari apartemen yang kusewa selama seminggu. Dingin menggigit. Kukatupkan kancing coat yang belum menutup sempurna. Kususuri Boulevard du Montparnasse menuju Rue du Depart. Lalu, lurus ke Avenue du Maine dan menyeberang ke kanan, ke arah Rue du Commandant Rene Mouchotte. Di sisi kiriku menjulang bangunan hotel yang jadi tempat tujuanku, yaitu sebuah konferensi yang akan dimulai pukul sebelas nanti. Kutahan mata agar tetap terbuka. Masih ngantuk sekali rasanya. Masih jetlag. 

Kuhampiri meja resepsionis.

“Bonjour Madame!”sapa pria muda bermata biru dengan senyum ramah.

“Bonjour, Ardiyanti Nugraha, Indonesia,” kubalas senyum itu seraya menyebut nama dan asalku. Dia pun mencari nama yang tertera di seminar kit, ketemu dan mengulurkannya.

“ S’il vous plait !“

“Merci!”

Prajaya

Kulirik arloji yang melingkar di tanganku, pukul setengah enam pagi. Masih ada tiga puluh menit lagi untuk persiapan, sebelum restoran buka, tepat pukul enam. Administrasi pagi sudah kuselesaikan. Aku keluar dari ruang manajemen dan berjalan ke arah depan. Kulihat Denny sudah menyalakan grill dan sibuk dengan persiapan bahan-bahan untuk menu sarapan. Di konter, Atik sedang menyiapkan kas register. Sementara, Ade merapikan meja kursi di lobby. 

Aku berjalan ke sekeliling restoran. Kuedarkan pandangan. Belum banyak kesibukan berarti. Terminal keberangkatan internasional memang biasa ramai di malam hari. Apalagi Rabu bukan hari yang sibuk seperti Sabtu atau Minggu. Huh! Masih delapan jam lagi. Telepon dari Meme pagi tadi telah mengusik konsentrasiku. Meme memintaku pulang hari Sabtu depan. Penting katanya. Kebetulan memang itu jadwal liburku. Yang jadi pikiranku sekarang, kurasakan ada nada cemas di suaranya. Ah, semoga Meme baik-baik saja. 

Ardiyanti

Bandara Changi. Masih sejam lagi sampai waktu transitku usai. Aku sudah tidak sabar untuk pulang. Bergelung sendiri di kasurku yang wangi. Seminggu berada di Paris benar-benar menguras energiku. Sebenarnya konferensi yang kuikuti tiga hari saja jadwalnya. Aku menambah masa tinggalku agar aku sempat menikmati Paris yang romantis. Kedinginan dalam antrian lift menuju puncak Menara Eiffel. Seharian menyelami karya seni di museum teramai di dunia, Louvre de Musee. Itu pun aku hanya bisa memasuki beberapa departemen saja, saking banyaknya koleksi. Aku juga sempat menyambangi jalanan yang tersohor di seantero bumi, Champ-Elysees, meski pulangnya tak menenteng apa-apa. Aku memang suka menjelajah berbagai tempat tapi bukan untuk belanja.

Di tengah kebosanan menunggu, ingatanku melayang ke masa kecilku yang menyenangkan. Aku anak satu-satunya di keluargaku. Meskipun begitu, aku tidak dimanja. Sebagai pekerja di jaringan hotel ternama, Papa harus pindah-pindah lokasi kerja. Beruntungnya aku bisa belajar di sekolah dengan fasilitas kelas satu . Cerita hidupku mulus sampai lulus sekolah. Lalu, bersama beberapa teman, aku mendirikan biro perjalanan. Kupikir-pikir, sepertinya Tuhan selalu memberiku potongan harga. Sehingga aku tak harus membayar hidupku dengan harga semula. Semua nyaris sempurna. Termasuk Prajaya. Sosok lelaki Bali yang sederhana. Yang selalu sabar mendengarku bercerita. Kami berjumpa saat aku lebih asyik dengan bukuku daripada menyentuh makan siangku, di sebuah restoran di bandara. Prajaya bekerja di restoran itu. Suatu siang ia menyapaku. Ternyata kami sama-sama penyuka buku. Akhirnya kami sering melewatkan waktu makan siang bersama. Sampai kini, kami hanya berteman, meski aku berharap lebih. Sabtu nanti, saat orang tuaku di sini, aku ingin mengenalkannya. Mama dan Papa datang dari Jakarta karena ingin mengajakku ke Bedugul untuk sebuah urusan penting. Meski perasaanku mengatakan ada sesuatu yang mereka sembunyikan. Entah itu apa!.

Prajaya

Motor kupacu meninggalkan ramainya jalanan di Tuban, menyibak kepadatan lalu lintas Sunset Road, melewati Mengwi, terus ke Kerobokan, dan berlanjut ke Utara, menuju Bedugul. 

Kami duduk berdua. Meme tak banyak berkata sedari tadi. Seperti ada selaksa beban di benaknya. Ia pura-pura sibuk. Tangan terampilnya merangkai ceper, dibubuhinya dengan beras, porosan, tebu dan pisang, sampiah uras, bunga, kembang rampai dan lepa. Sebuah Canang Sari. 

“Me..”

“Istirahatlah dulu! Nanti akan ada tamu.”

Tanpa membantah kutinggalkan perempuan yang membesarkanku seorang diri. Pikiranku melayang ke masa lalu. Masa yang kuhabiskan berdua saja bersama Meme. Aku tak pernah mengenal sosok Bapa. Saat aku masih dalam kandungan, Bapa yang seorang kuli panggul di Pasar Badung, meninggal karena tertimpa tumpukan beras. Setelah melahirkanku, Meme pulang ke kampung Bapa dan mengerjakan sepetak kebun warisan dari mertuanya untuk menyambung hidup. Juga mengasong jaje di wisata Danau Beratan. Sepulang sekolah aku membantu Meme menjual jagung rebus, souvenir juga menjadi calo penyewa sampan dan mendayungnya untuk wisatawan yang ingin mengitari danau. 

Saat sepi, aku sering duduk di tepian Danau Beratan. Memandang kabut tipis yang perlahan menyapu pepohonan, lalu menyelimuti sekitar Pura Ulun Danu Beratan dengan bias putihnya. Nampak bagian bawah pura tergenang luapan air danau, sementara di tengah-tengah berdiri megah pura dengan gugusan menara bertingkat yang seolah-olah berada di atas danau. Indah! Sungguh pesona luar biasa untuk dinikmati sambil melepas pandangan jauh ke tengah danau dengan hamparan airnya yang jernih.

Kadang aku sedih kalau ingat tak punya Bapa. Tapi, Meme membuatku lupa dengan kegetiran hidup. Ketegarannya memacu semangatku untuk belajar dan meraih impian. Aku bisa terus sekolah dan kini menjadi manajer restoran siap saji di Bandara Ngurah Rai Bali. 

Aku bahagia. Terlebih kini ada seseorang yang selalu membuatku tersenyum yaitu Ardiyanti. Awalnya. beberapa kali aku melihatnya sedang makan siang di tempatku bekerja. Ia adalah pemilik biro perjalanan yang ada di samping restoranku. Kuperhatikan ia lebih serius menyimak bacaannya daripada makanan di mejanya. Satu waktu aku memberanikan diri menyapa. Dan, sejak saat itu ia menjadi teman yang menyenangkan untuk bercerita. Ia punya banyak kisah yang membuatku betah. Kami hanya berkawan. Ia bagai bintang yang sulit kuraih.Dan, saat ini aku tak punya nyali lebih. Mungkin nanti. 

Sukermi

Aku sudah mengabarinya dan ia bisa pulang hari Sabtu ini. Sudah saatnya ia tahu. Sebuah rahasia yang kusimpan sepanjang usianya. 

Aku membesarkannya seorang diri. Dengan sejuta cibiran. Tapi aku tak gentar. Aku tak ingin ia bernasib sama dengan Bapanya yang meninggal saat aku hamil tiga bulan. Bapanya kuli panggul di pasar Badung. Sementara aku jadi pembantu di rumah keluarga Nugraha, sampai aku melahirkan bayi kembar. Kembar buncing, laki-laki dan perempuan. Saat itu yang kuingat, awig-awig di kampungku menyebutnya manak salah. Sebuah aib yang menjadikan orang tua dan bayinya harus hidup di pengungsian dan dilarang pergi ke pura sampai batas waktu tertentu. Belum lagi hukuman yang ditimpakan ke warga kampungku.

Aku kebingungan. Apalagi, tak ada lagi suami disisiku. Akhirnya kuserahkan bayi perempuanku pada Pak Nugraha dan istrinya yang saat itu belum dikaruniai keturunan. Lalu, aku pulang ke kampung suamiku bersama bayi laki-lakiku. Sampai satu waktu, aku ingin menjenguk lagi bayiku, ternyata keluarga Nugraha telah pindah entah kemana. Aku kehilangan jejak. Hingga tempo hari, seseorang mengetuk pintu rumahku. Ia utusan Pak Nugraha yang katanya telah mencariku sejak sekian lama. 

Kini, dua anak kembarku sudah berada di sini.

Epilog

Bale daja. Prajaya diam. Di benaknya ada seribu tanya kenapa tamu yang datang adalah Ardiyanti dan orang tuanya. Ardiyanti bingung, rahasia apa sebenarnya yang hendak disampaikan orang tuanya di rumah Prajaya. Sementara, Sukermi terpaku memandang Ardiyanti tanpa kedip. 

“Prajaya, ini saudara kembarmu,” ucapnya.

Prajaya membeku. Ardiyanti membatu. Sukermi lega.


****
Kembar buncing : anak kembar dengan jenis kelamin berbeda, laki-laki dan perempuan, Manak salah : sebutan di Bali (dulu) untuk kelahiran bayi kembar laki-laki dan perempuan keturunan masyarakat kebanyakan , Ceper : alas dari canang yang terbuat dari janur dan berbentuk segi empat, Porosan : sebentuk kecil daun janur kering yang berisi kapur putih, Sampiah uras : rangkaian janur berbentuk bundar, Lepa : boreh miyik/lulur yang harum, Jaje : kue, Paon : dapur, Awig-awig : aturan yang dibuat oleh desa/banjar adat sebagai pedoman hidup turun-temurun warganya, Bale Daja : bangunan untuk tempat tidur dan tempat menjamu tamu yang berkunjung








14 comments:

  1. Bagus ya cerpennya... Begitu menikmatinya saya kira bakal panjang eh udah epilog dan tehenti... Ya udah sampai disini aja??? Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Mbak Intan...Iyaaa, karena cerita pendek jadi ada batasan jumlah karakter. Biasanya persyaratan panjang cerpen di media cetak sekitar 9.000 karakter. Jadi cuma sampai di situ saja ceritanya. Biar pembacanya yang melanjutkan sendiri sesuai imajinasi...hihihi

      Delete
  2. Keren Mba... jadi pengen miksi jugak hihihihi...
    #ngumpulinnyali

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi ayo Mbak Bety..pasti bisa..wong non fiksinya aja sudah jago gitu lo...Kalau perasaan lagi mendayu-dayu pas buat miksi dulu #kompor

      Delete
  3. Keren mba Dian. Enak bacanya. Baru tahu kembar buncing hehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Mba Fitri...Iyaaa...hihihi, ini oleh-oleh pernah tinggal di Bali, jadi tahu kembar buncing

      Delete
  4. Bagus Mba, jadi pengen coba juga nih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Mba..ayo dicoba aja. Cerpen ini mengendap lama, saya permak sedikit terus dikirim..eh layak muat ternyata..nggak ngira juga :)

      Delete
  5. Terima kasih infonya mbak, fiksinya keren. Salam kenal dari Bandung ☺

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama. Salam kenal juga Mbak Ane Fariz..Terima kasih :)

      Delete
  6. kerem ini, Mbak. Nambah wawasanku juga. Hmmm. Adat bisa sangat kejam ya? Melahirkan bayi kembar beda kelamin itu kan takdir...knapa dikucilkan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak..begitulah berbagai mitos berkembang bahwa kelahiran itu adalah sebuah kutukan bagi warga adat setempat. Tapi kini, hukuman ini sudah nggak berlaku lagi...Berkat pola pikir yang lebih logis, warga sadar memang itu kuasa Tuhan :)

      Delete
  7. sebuah hal yang membanggakan, menjadi penulis karyanya bisa dimuat di tabloid, kalau saya mimpi bisa membuat buku he...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mas..secara media cetak itu susah tembusnya ya lega bisa dimuat di sana :) Saya juga masih mimpi punya buku sendiri hihihi...Selama ini baru antologi. Btw, terima kasih sudah singgah.

      Delete