Jodoh Pasti Bertemu




Yup,benar....! Judul tulisan ini terinspirasi dari lagunya Uda Afgan, yang bertajuk sama. Ditulis dalam rangka ulang tahun ke-15 pernikahan saya dan suami. Lha, sudah 15 tahun ternyata, kok nggak terasa ya..haha!😀Ya, lima belas tahun! Ibarat manusia, dia sedang menginjak masa remaja. Saat godaan kiri kanan meraja, emosi berkuasa, keegoisan sulit dikalahkan dan meski tampak luar sudah dewasa tapi pikiran kanak-kanak masih nyata ada.

Menikah memang bukanlah satu perjalanan yang mudah. Ada pasangan yang dalam hitungan bulan sudah menyerah kalah. Tapi banyak pula yang bertahun-tahun tetap awet bertahan hingga maut memisahkan. Lalu apa sebenarnya yang menyebabkan sebuah pernikahan tak lagi bisa dipertahankan? Apakah tak ada kebahagiaan di sana? Ataukah lantaran hawa nafsu yang dituruti hingga nalar, logika, mata hati menjadi tertutupi? Ah, tak perlu menghakimi. Tentu semua pasangan pasti punya alasan tersendiri sebelum memutuskan.

Angka usia pernikahan sebenarnya bukanlah ukuran dikatakan bahagia atau tidak. Karena setiap pernikahan mempunyai permasalahan yang berbeda. Seperti seorang insan, pernikahan pun tak luput dari kelebihan dan kekurangan. Ada yang diberi kecukupan harta tapi belum diberi keturunan. Yang lain, diberi kemudahan mempunyai buah hati namun dari sisi rezeki masih harus berat mencari. Sementara lainnya, uang berlimpah, punya anak mudah, tapi ternyata diuji dengan sakit yang tak kunjung reda yang menimpa anggota keluarganya. Ya, memang Tuhan selalu adil memberikan bumbu-bumbu kehidupan untuk kita, bukan?

Nah, sebelum ke tahap pernikahan, kita biasanya mengalami fase kehidupan yang dimulai dari lahir, sekolah, bekerja lalu menikah. Tapi bisa jadi urutannya tak sempurna seperti ini. Itu adalah tahapan fase kehidupan yang diimpikan oleh para dara dan jejaka. Meski ternyata kadang meleset dari angan-angan. Ada yang setelah tamat sekolah, belum sampai bekerja, jodohnya sudah datang. Sementara ada pula yang sudah selesai kuliah dan telah mapan bekerja tapi tak kunjung dekat jodohnya. Atau belum sampai keturutan selesai kuliahnya ternyata malah menikahnya duluan.

Dulu, saat tamat kuliah dan lanjut bekerja, saya bercita-cita untuk meniti karir dulu dan menunda pernikahan sampai batas usia yang saya inginkan. Tapi, ternyata niatan saya tak sejalan dengan kehendak Tuhan. Saya dipertemukan dengan laki-laki yang kini menjadi pendamping hidup saya dalam momen yang tak pernah saya duga. 

Waktu itu saya lagi semangat-semangatnya bekerja di restoran waralaba ternama, untuk wilayah Bali melalui program Management Trainee. Berada di bawah divisi Operation Department yang berkantor pusat di Jakarta, yang merekrut lulusan sarjana berbagai ilmu untuk menjadi staf manajemen restorannya. Karirnya dimulai dari posisi Trainee Manager, Junior Manager, Assistant Manager, dan seterusnya. Sebuah karir yang menantang bagi saya mengingat saat itu cukup sulit mendapatkan pekerjaan karena krisis moneter yang melanda Indonesia. Oh ya, kenapa Bali? Karena saya memang tinggal di sana sejak kuliah di Universitas Udayana. 

Nah, satu ketika saat mudik lebaran, saya pulang ke kampung halaman di Kediri, Jawa Timur. Tanpa janjian (saat itu belum ada WA, FB dan teman-temannya yaaa...😊), sahabat saya semasa SMA datang bersilaturahmi ke rumah orang tua saya. Dia teman sebangku saya saat SMA kelas 3, teman main, belajar dan curhat-curhatan. Dia datang diantar kakak lelakinya yang saat itu baru saya tahu karena meski sering ke rumah mereka, saya belum pernah jumpa lantaran si Mas ini kuliahnya di Universitas Indonesia. Tak perlu banyak waktu kami bertiga pun sudah akrab bercerita. Si Mas ini bekerja di Bengkulu dengan posisi yang lumayan mapan di perusahaan leasing ternama.

Lalu, sepulang mudik, ternyata pertemuan itu berlanjut dengan perbincangan antara saya dan si Mas melalui SMS, telepon, surat, email (kini jadi kangen model komunikasi seperti ini ...hihihi). Intinya dia ingin serius dengan hubungan kami. Akhirnya kami pun melakukan pendekatan secara jarak jauh lantaran panjangnya jarak yang harus ditempuh.

Saya yang punya cita-cita mencapai puncak karya, sebenarnya jadi maju mundur cantik juga rasanya. Di satu sisi saya melihat keseriusan seorang pria yang ingin mengajak saya membina rumah tangga, di sisi lain ego saya kekeuh ingin menunda demi sebuah jabatan yang jadi impian. Aaah,...bingung dah!

Dalam hitungan bulan berkomunikasi jarak jauh, tanpa pernah bertemu, akhirnya si Mas pun tak mau buang waktu. Dia mendatangi saya ke Denpasar dan langsung menyampaikan niatan untuk meresmikan hubungan ke jenjang pernikahan. Dia merasa sudah saatnya dan tak perlu lagi menunda. Saat itu dia baru saja berpindah ke pekerjaan yang lebih mapan dan menjanjikan. Makanya dia berani untuk bilang saat ini atau tidak sama sekali... hihihi.

Saya gelagapan. Akhirnya hanya dalam hitungan jam (dia dua hari saja di Denpasar), setelah berbagai doa yang saya panjatkan tanpa mengabari orang tua saya, saya pun bilang "Ya"...

Kami pun membuat rencana. akan janjian untuk menghadap orang tua saya untuk mengutarakan hal ini. Dan ketika saya pulang sekitar dua bulan kemudian, Ibu saya ngomel nggak karuan. Beliau khawatir saya mendadak mengambil keputusan. Jangan-jangan dia bukan orang yang tepat untuk saya. Juga harusnya saya konsultasi dulu. Ah, pokoknya saya habis dimarahin Ibu. Bapak yang seperti biasa tak banyak bicara hanya diam dan meredakan kemarahan Ibu dengan mengatakan tunggu saja dulu.

Dan, tibalah si Mas duduk sendirian di ruang tamu rumah Bapak Ibu. Setelah dijamu seperti layaknya tamu dan berbincang panjang lebar (dengan muatan interogasi dari Ibu), dia pun dengan tegas menyampaikan niatnya untuk meminta kepada orang tua saya ingin menjadikan saya istrinya. Dan, di luar dugaan, Ibu yang menjawab duluan, kalau Beliau mengijinkan. Bapak pun menambahkan hal yang sama. Sementara, rencana sampai di situ saja, pihak keluarga yang akan melanjutkan tahapannya. Saya kembali bekerja lagi di Bali, si Mas pun sama, balik ke Pangkalan Brandan untuk berkarya.

Selanjutnya, keluarganya datang dari Madiun untuk melamar. Saya kembali pulang namun tidak dengan dia, lantaran keinginan menghemat jatah cuti untuk pernikahan.

Hingga tibalah hari H ketika kami bersanding di pelaminan. Seminggu sebelumnya ada drama saat permohonan kepindahan saya ke Medan tidak dikabulkan oleh perusahaan dikarenakan tidak ada posisi yang sesuai (diminta untuk menunggu). Saya baru mengajukan resign lima hari sebelum hari H dengan linangan air mata sedih yang bercampur rasa bahagia karena akan segera mengakhiri masa kesendirian. Saat saya sampaikan berita ini ke calon suami pun, dia dengan tegas bilang kalau saya tak perlu risau jika ternyata harus kehilangan pekerjaan. Karena setelah menikah nanti dialah yang akan bertanggung jawab untuk menafkahi keluarga kami. 

Dengan perasaan campur aduk akhirnya kami sah menjadi suami istri. Berarti secara fisik kami hanya bertemu tiga kali, sebelum akhirnya bersanding resmi. Rasanya seperti mimpi. Belum lagi, hari kelima saya langsung diboyong ke tempat tugasnya di Pangkalan Brandan, Sumatera Utara.
Kalau mengingatnya kadang saya masih tak percaya. Sepertinya semua sudah diatur oleh-Nya. Siapa sangka saya beripar dengan teman sebangku saat SMA. Siapa mengira kalau sebelumnya saya dan suami bisa dipertemukan oleh Tuhan dengan jalan seperti ini. 

Kini, 15 tahun sudah kami tempuh perjalanan ini. Suka duka kami alami, tawa dan air mata pun menghiasi. Berjuang di awal pernikahan dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan, sampai sekarang yang Alhamdulillah diberi-Nya kelebihan. Juga, diambilnya titipan-Nya kembali (anak sulung meninggal saat umur 13 hari), sampai diberi ganti 2 putra yang menjadi penyejuk hati. 

Lalu, apakah sudah selesai perjuangan ini? Tentu belum! Di depan sana masih banyak persimpangan yang harus dilewati, tikungan tajam yang musti ditaklukkan, belum lagi jurang menganga di kiri kanan yang membutuhkan kehati-hatian saat menyeberang.

Tapi kami tetap berusaha dan berdoa, semoga bisa terus melewatinya, tumbuh dewasa berdua, menua bersama, menjalani pernikahan yang sakinah, mawaddah, warahmah, hingga tiba saatnya Tuhan memisahkan saat memanggil kami pulang pada-Nya.

Dan, di penghujung cerita, saya percaya bahwa jodoh itu seperti halnya kelahiran dan kematian yang sudah digariskan Tuhan dari saat kita diciptakan. Jadi, jemputlah jodoh dengan doa dan ikhtiarmu, karena kalau jodoh pasti akan bertemu. Insya Allah! 😍





4 comments:

  1. So sweet :) Aku jadi inget pas mau nikah itu ketemu 3 kali juga. Kenal lewat hp, bulan berikutnya ketemu lgs nglamar ke Ibuku, Ketemu lagi karena aku ada tugas ke Jakarta. Ketemu lagi di Masjid mau akad nikah. Hihihi ... Happy enipersery ya, Mbak. Aku baru separuhmu, harus banyak berguru padamu :)

    ReplyDelete
  2. Wow..lebih singkat lagi...Alhamdulillah. Semoga terus samara, sebumi sesurga..Aamiin:)

    ReplyDelete
  3. Ternyata kisah LDR dengan ending bahagia itu ada kenyataannya juga xixixi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Insya Allah ada mbak.. Bukan di sinetron semata hahaha :D

      Delete