Mari Cintai Negeri dengan Gemar Membaca dan Menulis Sejak Dini!



Sabtu pagi, awal Juli 2009, kami bersiap menuju Jefferson Parish Library, setelah sebelumnya mengecek kalender kegiatan perpustakaan yang berlokasi di kota Metairie ini. Sebuah  wilayah sub urban, yang  berjarak sekitar 8 mil (13 km) dari pusat kota New Orleans, di negara bagian Louisiana. Kami sekeluarga pindah ke sini dalam rangka bea siswa yang didapat suami untuk menempuh program MBA di Freeman School of Business, Tulane University of New Orleans.

state map Louisiana, United States
Karena saat itu si sulung, Mas, masih berusia 4 tahun, maka belumlah masuk usia wajib untuk bersekolah di sana. Memang, batas usia untuk masuk grade Kindergarten di Elementary School/SD adalah 5 tahun. Jadi, kami musti mencarikan kegiatan untuk si Mas, karena biaya bersekolah di play group/PAUD mahal sekali! (Hiks, nggak mampu..πŸ˜”maklum di sana jadi mahasiswa, bayaran PAUD-nya dollar pula!). Untunglah, berdasarkan info teman sesama orang Indonesia, saya mengenal Jefferson Parish Library ini. Sebuah perpustakaan tingkat kecamatan yang membuat saya terkesima ketika pertama kali mengunjunginya.

Jefferson Parish Library
Jefferson Parish Libraryperpustakaan milik pemerintah Jefferson Parish (secara administratif, Metairie masuk ke parish/kota Jefferson), menempati bangunan 2 lantai dengan posisi gedung berada di tengah-tengah lahan parkir yang sangat luas. Koleksi buku dibagi berdasarkan kategori usia pembacanya, yaitu: anak, remaja dan dewasa. Di setiap area tersedia ruang baca yang luas dan nyaman. Selain itu, tersedia juga beberapa ruang belajar, 2 ruang pertemuan besar, area koleksi DVD, coffe shop, gift shop, Wi-Fi gratis, unit komputer yang terkoneksi dengan internet, printer, check out self kiosk dan boks pengembalian buku mandiri. Berbagai kegiatan untuk segala usia juga ada, seperti reading time, DIY, craft, teen club, book club, dan lainnya. Fasilitas didukung oleh staf dengan layanan prima, digital library dan masih banyak lagi. Pokoknya super komplit!

Dan, semua layanan itu free! #eh nggak deng.. Kopi dan souvenirnya bayaaar!πŸ˜€

Nah, selain fasilitas yang wah, pengunjungnya pun jumlahnya melimpah. Setiap ke sana selalu ramai yang datang, bahkan susah cari parkir kalau sedang ada agenda kegiatan yang menarik atau musim liburan. Dari balita, remaja berambut gaya ala-ala, mahasiswa, ibu-bapak dengan anak-anaknya, opa-oma,...yang berkulit putih, hitam, sawo matang,...semuanya ada dengan satu tujuan utama:...MEMBACA!

Saya sampai berandai-andai, coba semua buku di situ dalam Bahasa Indonesia, pasti saya baca sehari satu. Tapi, karena dalam bahasa Inggris ya terpaksa mimpi itu saya telan kembali (alasaaaan..!). Tapi, paling tidak, untuk buku koleksi di area anak dan remaja saya lancar bacanya. Berarti nggak parah juga Inggris saya kan yaak!πŸ˜†

Terus kalau mau pinjam buku, bagaimana? Mudah saja! Bikin kartu anggota cukup pakai kartu identitas, lalu temui petugas. Dan, jadilah kartu yang bisa dipakai untuk peminjaman buku dengan jumlah tak terbatas. Belum lagi, akses digital library dari kepemilikan kartu anggota ini, yang memudahkan kita mengakses e-book, memesan duluan buku yang baru datang atau memperpanjang masa pinjaman. 
Kartu anggota Jefferson Parish Library milik saya

Bukan hanya soal kegemaran membaca warga Amerika di perpustakaan yang bikin saya terheran-heran. Karena, mereka juga terbiasa membaca di mana saja. Saya sering menemui orang membaca di ruang tunggu, di taman, di pantai, di angkutan umum atau di warung kopi! Di banyak tempat, buku biasa ada menemani! Dan jangan bayangkan bukunya tipis seratusan halaman saja. Bukunya tebal macam novelnya Harry Potter yang ratusan/ribuan halaman banyaknya. 

Oh ya, selain meminjam di perpustakaan, mereka juga hobi membeli buku baru di toko buku atau toko online. Selain itu, buku bekas juga jadi prioritas untuk dibeli saat ada garage sale. 

Pembelian buku juga dipermudah antara lain lewat sekolah. Seperti di sekolah si Mas, tiap awal bulan dibagikan flyer berisi daftar buku (anak) yang bisa dipesan lewat sekolah bulan itu. Pembayaran secara tunai lewat guru kelasnya. Dan, harganya jauh lebih murah daripada buku aslinya yang didisplay di toko buku. Jadi sepertinya ini versi generik, setelah sekian waktu buku dijual dengan "harga asli"nya. Dan, tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, saya pun sering memesan beberapa tiap bulannya.

Oh ya, untuk kegiatan membaca, di tingkat Kindergarten (SD ada 6 tingkat: Kindergarten-Grade 5, sekolahnya dari pukul 08.30-15.00), setelah makan siang dan istirahat main, ada story telling yaitu pembacaan buku cerita oleh guru kelas lalu lanjut tiduuur siang. Yakin deh puleees semua itu anaknya, karena didongengi dulu...😍

Ya, membaca, memang sepertinya sudah menjadi budaya warga Amerika. Meski ternyata, berdasarkan peringkat tingkat literasi dunia /The World Most Literate Nations Ranks 2016, yang menyurvei dan mendapatkan data literasi yang relevan di 61 negara, Amerika hanya menduduki peringkat ke-7. Terus bagaimana dengan budaya baca di Finlandia yang menempati posisi pertama ya? Sementara, mau tahu nggak, Indonesia nomor berapa? 60 saudara-saudara!


Peringkat Literasi Dunia 2016

"Reading gives us someplace to go when we have to stay where we are"

 

Padahal membaca itu, segudang manfaatnya. Diantaranya dengan membaca kita bisa:
  • Melalang buana tanpa perlu pergi kemana-mana.
  • Tahu banyak ilmu tanpa harus bertemu guru.
  • Memperkaya kosakata sehingga lebih percaya diri saat bicara dan menuliskannya
  • Melatih kemahiran berpikir dan menganalisa sehingga bisa membantu mengembangkan karakter diri kita
  • Menajamkan fokus dan konsentrasi
  • Meluaskan wawasan dan pemahaman
  • Bisa tertawa lepas hingga duka pun terbebas
  • Ikut menangis sedih saat baca kisah duka hingga membuat rasa empati dan simpati pun terjaga
  • Menjauhkan lupa
  • Mengurangi beban jiwa. 
Jadi, sayang sekali jika kita tak membaca, bukan?

Nah. lalu apa yang bisa dilakukan untuk membudayakan membaca?
  • Kenalkan buku sejak dini
Kenalkan anak pada buku sejak usia dini. Sekarang begitu banyak buku bantal/buku kain/soft book yang beredar di pasaran. Memang mungkin harganya agak mahal daripada buku kertas, tapi buku jenis ini yang paling aman untuk bayi. Karena anti robek dan bisa dicuci. Jadi jangan cuma beli aksesoris bayi unyu-unyu, buku bayi juga perlu..πŸ˜‰

buku kain/buku bantal/soft book
  • Rangkul anak dan bacakan buku
Untuk anak usia balita, rangkul atau pangku lalu bacakan buku. Selain untuk menguatkan kedekatan, mengenalkan huruf sambil menunjuk dengan jari tangan, mendengarkan dengan lebih jelas pengucapan kata yang benar juga nantinya akan meningkatkan rasa percaya diri anak untuk membaca dengan suara keras.

pangku dan bacakan buku
  • Mulailah dengan buku cerita bergambar
Anak-anak sangat tertarik dengan warna. Maka, untuk pemula pilihlah buku anak yang banyak gambarnya. Lewat ilustrasi ini, kita bisa memancing anak dengan mengembangkan cerita juga menanyakan pertanyaan yang berkaitan dengan gambar. Misalnya, untuk gambar kucing, setelah membaca tulisan k u c i n g di bawah gambar, coba tanyakan: bagaimana suaranya kucing? berapa kakinya? Lalu hitung bersama!

Juga, saat membaca, ekspresikan cerita melalui suara dan gaya sehingga anak pun tertarik untuk mendengarkan sampai cerita berakhir. Jika ternyata, sebelum buku selesai anak sudah bosan, jangan paksakan untuk tetap duduk diam. Biarkan mereka berlarian dulu, tapi tetap lanjutkan membaca dan buat mereka tertarik lagi untuk mendengarkan dengan tanpa paksaan.

Selain itu, audio book pun bisa jadi pilihan untuk menarik minat baca anak. Dengan bentuk audio/suara yang berisi narasi, akan melatih anak untuk mendengarkan dan berlatih mencerna informasi.

baca yuk baca...!
  • Tak harus beli baru, pinjam saja buku
Buku tak harus beli baru. Kini perpustakaan daerah di Indonesia pun sudah memiliki koleksi buku yang bisa dipinjam warga setempat. Atau kita bisa juga pergi ke gerai buku bekas yang biasa ada untuk mendapatkan bacaan yang diinginkan. Sedangkan, untuk anak usia sekolah bisa meminjamnya di perpustakaan. Ide yang lain, bertukar buku dengan teman, selesai baca kita bisa kembalikan. Dan, tolong jangan didiamkan atau malah dihilangkan yaa...!

perpustakaan sekolah
  • Jadikan buku sebagai hadiahmu
Selama ini hadiah untuk kelahiran bayi biasanya adalah paket perlengkapan bayi, kado untuk anak diidentikkan dengan mainan, bingkisan bagi remaja putri aksesoris warna-warni dan hadiah untuk ibu biasanya baju atau sepatu. Nah, kenapa nggak membudayakan buku saja sebagai hadiah untuk semua peristiwa istimewa.

Seperti di Finlandia, buku dijadikan bagian dari baby gift yang diberikan oleh pemerintah ke setiap calon ibu, siapapun itu, selama hampir 80 tahun terakhir. Hadiah ini terdiri dari baby box yang bisa dipakai untuk tidur si bayi, perlengkapan bayi dan ibu serta buku untuk bayi dan ibu. Tidak heran kalau tingkat kematian bayi Finlandia terendah di dunia dan peringkat pertama minat bacanya!

baby box di Finlandia
  • Jadikan membaca bagian dari gaya hidup kita 
Jika mau anaknya gemar membaca, orang tua musti mencontohkannya. Kalau lihat ibunya baca buku, ayahnya pun sama, anak-anak pasti tertarik juga untuk membaca buku miliknya. Untuk menarik minat anak, selain buku bisa juga bahan bacaan lainnya seperti majalah, koran, tabloid...yang penting baca!

Siapkan berbagai tema khususnya bacaan yang sesuai dengan minat anak. Misalnya anak yang suka bola, berikan bacaan yang bertema bola demikian juga anak yang hobi menggambar, siapkan buku bertema sesuai. 

Jadwalkan waktu tertentu sebagai acara membaca buku. Tak hanya dibaca tapi juga saling menceritakan dan mendiskusikan isi buku kepada anggota keluarga lainnya.

Jadikan kunjungan ke perpustakaan atau toko buku sebagai bagian dari kegiatan mingguan atau bulanan. Dan, bebaskan tiap anggota keluarga membeli satu atau dua buku per bulannya, misalnya.

Sediakan selalu waktu untuk membaca setiap harinya dan pastikan ada bacaan di tas kita. Sehingga saat kita sedang menunggu, kita bisa membaca untuk membunuh waktu.

buku cerita, majalah, tabloid, komik...yang utama baca!

Lalu bagaimana dengan MENULISMenulis kaya manfaat, diantaranya:
  • Menjaga ingatan
Dengan menulis kita bisa meminimalisir kepikunan. Karena aktifitas berpikir yang ada pada proses menulis akan mengoptimalkan ingatan.
  • Berbagi pengetahuan dan kebaikan
Dengan membagikan ide, gagasan atau pandangan yang positif lewat tulisan, kita bisa menyebarkan pengetahuan dan berbagi kebaikan pada sesama.
  • Alat komunikasi
Menulis merupakan alat komunikasi efektif yang bisa menjangkau semua kalangan dengan jumlah dan waktu yang tak terbatas.
  • Pereda beban jiwa 
Menulis membuat kita bisa menuangkan apa yang yang ada di pikiran. Sehingga berkuranglah beban yang teremban.
  • Sumber penghasilan
Honor menjadi endorse, content writer, copywriting, freelance writer, blogger, honor pemuatan karya di media, hadiah pemenang lomba. Semua bisa jadi sumber penghasilan dari menulis. Padahal nulisnya sambil selonjoran kaki di rumah, ngemil mie goreng sambel matah, ada notif transferan terkirim sudah..#eh πŸ˜‚)


Kalau kamu sudah menulis belum? (ayo, nulis dong!πŸ˜‰)

Nah, nyambung cerita yang tadi yaa... selain membaca, warga Amerika juga terbiasa untuk menulis sejak dini. Buku TK anak saya, lebih banyak berisi perintah menjelaskan sebuah gambar dalam bentuk tulisan. Meski calistung bukan jadi pelajaran wajib di tingkat TK tapi menceritakan kembali dalam versi lisan maupun tulisan dipentingkan. 

si Mas jawabnya ngasal karena belum lancar bahasa Inggris😁
Untuk anak yang lebih besar, tes dalam bentuk uraian juga dikedepankan. Juga tugas membuat ringkasan buku yang dibaca, review buku baru, karangan tema tertentu...Pokoknya lebih banyak nulisnya daripada soal pilihan ganda. Akhirnya anak-anak di sana tak hanya berani bicara tapi juga menuliskan apa yang ada di kepala. Pengalaman Bapaknya, di kelas MBA, tugas-tugas yang berupa diskusi dan esai lebih dominan, baik yang dikerjakan sendiri maupun tugas kelompok. Dan, dosen dengan teliti mengomentari dengan membubuhkan revisi berupa coretan di sana-sini.


Sepertinya, dari sinilah mengapa ada fakta bahwa Amerika menduduki peringkat kedua jumlah buku terbit per-tahunnya di dunia, seperti yang disebutkan di wikipedia. Sementara Indonesia ada di.... nomor 18! (horeeee...😎). - Meski tidak ada data terbaru, bisa saja jumlahnya lebih dari itu-  Jadi budaya menulis di Indonesia nggak buruk-buruk amat kan ya..? 

Nah, sebenarnya apa upaya untuk meningkatkan minat menulis ini, baik sejak usia dini maupun bagi diri kita sendiri?



ANAK-ANAK

Yuk menulis...πŸ˜‰
  • Kenalkan pada anak berbagai tema bacaan untuk memperkaya kemampuan bahasa. 
  • Sediakan sudut khusus di ruangan untuk tempat menulis yang nyaman. 
  • Beri ragam alat tulis untuk menghindari kebosanan, misalnya pensil warna, crayon, cat air, kertas/buku tulis warna-warni dan lainnya. 
  • Agendakan waktu agar bisa menulis setiap hari.
  • Beri kebebasan apa yang ingin dituliskan. Biarkan minatnya berkembang. Karena mereka akan menulis dengan lancar jika itu berkaitan dengan apa yang digemarinya.
  • Beri penghargaan atas apa yang telah mereka kerjakan. Misalnya letakkan tulisan hasil karyanya di pigura atau dipajang di atas meja kerja. Atau minta mereka membacakan hasil tulisan saat acara kumpul keluarga.
Oh ya, kegiatan membaca dan menulis ini, menjadi salah satu cara untuk mengurangi ketergantungan gadget bagi kedua anak saya. Karena, bagaimanapun kita juga harus mendidik anak sesuai dengan jamannya. Gadget tetap boleh, asal ada aturannya. Untuk lebih lengkapnya baca di Tips Mengatasi Kecanduan Gadget pada Anak.

DEWASA

baca, baca dan.. baca😎

  • Baca, baca dan baca..!
Dengan banyak membaca maka perbendaharaan kata yang kita miliki akan bertambah sehingga saat ingin menuliskan apa yang ada di pikiran, kita akan tahu kata padanan. Selain itu, banyak membaca juga membuat kita mempunyai referensi untuk memperkaya materi tulisan.
  • Sediakan waktu 
Karena kemahiran akan dihasilkan dari latihan yang berkesinambungan. Jadi jangan pernah bosan untuk berlatih menulis, menulis dan menulis!
  • Jadikan rutinitas
Menulis setiap hari di buku harian, status sosial media atau blog akan membiasakan kita mengeluarkan apa yang ada di kepala, sehingga lama-lama menulisnya jadi lancar jaya.
  • Mintalah kritik dan saran
Jangan segan meminta kritik dan saran dari sesama penulis dan pembaca tulisan. Tak perlu kecewa atau marah dengan pedasnya kritik dan saran ini, karena semua itu untuk memperbaiki tulisan kita di kemudian hari.
  • Gabung ke komunitas
Bergabung dan aktif di komunitas menulis baik online maupun offline agar kita bisa mendapat informasi seputar kepenulisan, bersilaturahmi dengan yang berhobi sama dan memotivasi diri lewat pencapaian anggota lainnya.
  • Tantang diri sendiri
Tantang dan uji diri sendiri dengan mengikuti berbagai lomba kepenulisan yang ada, juga kirim karya ke media. Dari sana kita bisa mengukur sejauh mana kemampuan kita, juga menjadikan kita mengerahkan segala potensi diri karena biasanya tulisan untuk lomba/media kita istimewakan usahanya daripada sekedar tulisan biasa.
  •  Ikuti kursus menulis
Kini, begitu banyak pelatihan menulis diadakan baik online maupun offline baik berbayar maupun gratisan. Ikuti mana yang sesuai dengan waktu kita. Selain tambah ilmu, kita juga akan punya banyak teman baru...Asyik, kan!
  • Segera Menulis
Ayo, ambil penamu dan segera tulis karyamu! Cepat nyalakan komputermu dan mulailah mengetikkan tulisanmu. Semakin ditunda semakin lama lahirnya karya. Yuk, mulailah sekarang juga! (Jangan mager aah...apalagi baper..Yuk cus kepo-in saja tulisan teman biar semangat makin menggebu untuk menghasilkan karyamu..😍)

Baca, baca dan baca! Karena membaca banyak manfaatnya.

Tulis, tulis dan tulis! Karena menulis tak hanya banyak membawa kebaikan tapi juga membuatmu meninggalkan jejak pada kehidupan.

Jika kita memulai saat ini, dari diri sendiri, dari rumah kita, lalu menularkan virusnya ke siapa saja, pasti akan menguatlah budaya membaca dan menulis di Indonesia! Sehingga nanti akan tumbuh generasi penerus yang lebih cerdas dan berkualitas. Insya AllahπŸ’–

Bagaimana dengan teman-teman? Punyakah pendapat lain, ide atau saran untuk membudayakan membaca dan menulis di Indonesia? 

Silakan tuliskan di kolom komentar yaaa...Terima kasih πŸ’•

Salam,

Dian




Tulisan ini diikutkan dalam Postingan Tematik (PosTem) Blogger Muslimah Indonesia


#PostinganTematik  #BloggerMuslimahIndonesia

86 comments:

  1. Semoga banyak generasi sekarang yang gemar membaca :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya..semoga:). Jika kita semua berusaha membudayakannya, pasti bisa!

      Delete
  2. Saya senang ke Toko buku Mbak Di...bisa berjam-jam dulu waktu belum menikah hahaha..sekarang mah eBook, PDF, kalo terpaksa beli buku diktat buat ngajar hiks. Rindu baca bukuπŸ˜‚

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menyesuaikan dengan jaman kalau itu Mbak Dira :D
      Meski kini semua jadi praktis..e-book, PDF, e-magazine, e-paper...Tapi, menikmati aroma kertas dari buku yang kita baca itu ...bikin rindu.

      Delete
  3. Wah, seru banget ya mba pengalaman membudayakan membacanya. Tulisannya lengkap kap kap!

    ReplyDelete
  4. Pantasan di amerika dan di negara negara eropa, maju dan berkembang, saya tertarik dengan kegiatan disekolah dimana guru membacakan buku ke murid- murid, dulu pernah ikut pengarahan dari kepala sekolah anak saya, katanya membacakan buku cerita keanak anak sama dengan belajar selama sepuluh hari

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak..di sana ada jam khusus untuk mendongeng. Kalau di TK, mereka makan siang bersama, terus keluar main, balik kelas dibacakan cerita..Sudah dalam posisi di sleeping bag masing-masing (bawa sleeping bag ke sekolah, Senin dibawa, Jumat dicuci ke rumah)...Setelah itu tidur siang...Jadi di sekolah 6,5 jam termasuk tidur siang juga :D

      Delete
  5. di sini juga sama mbak. semua hobi membaca dan menulis. baca wa dan nulis status...hihihi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak..Indonesia juga nggak kalah kok..peringkat pertama malah..untuk pengguna media sosial terbanyak di dunia ..kwkwkw

      Delete
  6. Mari budayakan membaca. Saya pun mencoba menanamkan gemar membaca pada anak saya sejak dini... Nice share mbak Dian.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salut, Mas...semoga nanti jadi terbiasa membaca ya putra/i nya.:)

      Delete
  7. Peringkat 60 sekarang kita? Lumayan naik, dulu 61 ��
    Dan dari ratusan negara, kita menempati 1/4 nya yakan?
    Semoga semakin meningkat, karena orang Indonesia bisa lebih hebat ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan Mbak..Itu ada di data yang saya link...Yang disurvey hanya 61 negara dan Indonesia di peringkat 60 :D

      Iya, pasti bisa:)

      Delete
  8. Aiih, aku merasa cemburu dengan perpustakaan di luar negeri. Begitu terawat, aksesnya mudah. Dan orang-orang yang datang kesana itu nggak dicap "kutu buku". Semoga pemerintah Indonesia bisa mulai memperbaiki perpustakaan yang ada, ya. Biar masyarakatnya makin semangat baca :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak Lulu..mungkin sarana prasarana untuk perpustakaan Indonesia sudah mendukung, sistemnya saja yang perlu dibenahi. :)

      Semoga nanti bisa lebih baik lagi..:)

      Delete
  9. Keren banget tulisannya mba.. pangling sya waktu pertama kali lihat penampakan perpustakaanya.. itu baru perpus kecamatan y mba, aplgi yg lainya, trus bleh minjam buku berapapun..mungkin selagi bsa diangkut ke rumah, diangkut itu mba hehe. Keren pokoknya tulisan mba.. Maasya Allah..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Mbak Syafni...:)

      Saya pas pertama ke sana kalap..langsung pinjam belasan buku..Eh, ternyata juga nggak sanggup bacanya hahaha..akhirnya beberapa saja, karena rata-rata kami berkunjung seminggu dua kali.

      Delete
  10. Saya selalu salut dengan orang yang bepergian jauh, lalu menuliskan kisahnya. Mbak Dian lah salah satunya. Jadi nambah info tentang budaya baca tulis di Amerika, nih.
    Btw, tips untuk anak saya mirip2 yang ditulis mbak Dian, walopun belum bisa menjalankannya semua. Lha tips-nya luengkap, rek πŸ˜ƒ
    Terima kasih atas tulisan ciamiknya.
    Jadi tahu juga, ternyata mbak Dian suka ngemil mie goreng rasa sambal matah, hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Mbak Tatiek...Sayangnya dulu pas kejadian nggak langsung ditulis, karena belum punya bloh kwkwkw..
      Untuk tips buat anak kondisinya disesuaikan saja, Mbak..saya juga masih berusaha untuk anak-anak saya..belum bisa semua :D
      Iya..saya ngemilnya mie..hihihi

      Delete
  11. Selalu suka dengan program pendidikan di negara maju. Kapan Indonesia seperti itu? Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga suatu hari nanti Mbak..

      Jika kita berusaha pasti bisa...:)

      Delete
  12. Infonya lengkap banget, jadi membayangkan kapan ya perpustakaan di Indonesia seperti itu? pasti betah berlama-lama di sana.
    Info soal menulis juga pas banget nih pingin ngajarin anak-anak suka nulis juga mulai sekarang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih, Mbak...
      Iya,,jadi baper sama perpusnya yaaaa
      Semoga nanti di Indonesia bisa :)

      Delete
  13. Ck..ck..ck perpustakaannya bagus, rapi, bersih dan komplit tuh lihat dari fotonya. betah kayaknya seharian baca buku di sana ya mbak. Memang betul, biar suka membaca, anak2 kita kasih buku cerita bergambar dulu, nanti minta membacanya akan tumbuh deh. Aku cuka nih cerita mbak Dian. Nice story!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih, Mbak Nurul..
      Benar, kalau untuk anak pengenalannya bisa sekalian mewarnai, menggambar, bermain saja:)

      Delete
  14. Wah mb Dian, saya sedang mencari artikel seperti ini, thanks for sharing ya mbak 😊

    ReplyDelete
  15. Yg pasti klo untuk anak2 semua dimulai dari orangtua, esp.ibu yg sepanjang hr ad dsamping mereka. Artiny, seorg ibu hrs lbh prepare sblm ad d predikat itu. Dann..cara yg paling simple ya berkomunikasi sm mereka krn menulis itu sama sj dg bercerita hanya saja mediany tulisan.

    Sy tertarik sama sistem pendidikan USA yang sifatny lebih memacu kreativitas anak sejak dini, seperti contoh soal bergambar di atas, mungkin itulah yg membuat orang2 dsana lebih kreatif dbanding negeri kita (sorry to say). Klo anak2 d negeri kita kan, yg dikedepankan angka2, trus soal2 yg sifatny text book,mkny byk anak yg frustasi dg beban kerja yg seperti itu. Hrsny kan belajar itu hrs menjadi hal yg menyenangkan jd anak2 sukaa

    Awesome!!tulisan mb sangat inspiratiff

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih, Mbak:)

      Memang, untuk pengajaran kreativitas di sana benar-benar bikin mupeng..tak hanya secara formal di sekolah, tapi kegiatan informal di seperti kids club di library penuh dengan kegiatan craft, telling story, dll yang memacu kreativitas anak sejak dini.

      Delete
  16. Baca buku di perpustakaan salah satu cita-cita saya. Plus kalau diizinkan bisa berkililing dunia, kepengen banget berkunjung ke perpustakaan di berbagai negara. Kepengen baca juga buku-buku dari bahasa asli mereka :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin...Semoga apa yang dicita-citakan tekabul ya Mbak:)

      Delete
  17. Semoga suatu saat kami bisa merasakan membaca di sana juga dan di negara-negara lainnya. Jadi kepikiran mengulas perpustakaan juga.. hee.. TFS ya mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga ya Mbak..Aamiin:)

      Ayo, Mbak ulas tentang perpus..Btw, perpus ini jadi salah satu faktor yang dinilai dalam pemeringkatan literasi sebuah negara lo..Jadi tolak ukurnya:)

      Delete
  18. cara nulis si mbak termasuk unik ya.. awalnya agak pusing bacanya lama lama asyik.. infonya juga mantap.. makasih mbak.. ntar tipsnya saya praktekkan ah insya allah kalau udah punya anak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih , Mbak..maaf kalo pusing duluan hehehe

      Semoga bermanfaat pada saat yang tepat:)

      Delete
  19. perpustakaan selengkap itu? duh rasanya pengin kemah aja di sana :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. kwkwkw..iya ya, mbak..kalau perlu sangu camilan sekalian :D

      Delete
  20. Wah, banyak informasi yang didapat dari artikel ini. Alhamdulillah. Dan saya, walaupun malu menuliskan bahwa Indonesia ada di peringkat ke-60, mau gak mau menuliskan juga, hiks...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Mbak..
      Iya Mbak..dari 60 Insya Allah bisa merangkak naik lagi nanti...Semangat kita!!:)

      Delete
  21. Wah, menarik sekali pengalaman Mba selama di sana. Jadi ikut membayangkan suasana perpustakaan di sana... Hehehe

    ReplyDelete
  22. Sharing pengalamannya mbak Dian keren banget. Seolah ikut berada di sana. Hehe.
    Perpustakaannya keren banget. Postingannya menarik, terimakasih sharingnya :)

    ReplyDelete
  23. Budaya baca masyarakat Indonesia memang memprihatinkan ya ...
    Semoga ke depannya, literasi bangsa ini bisa lebih baik lagi, tentunya dengan sarana dan pra sarana yang memadai. Seperti perpustakaan yang menarik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Perpustakaan memang dijakdikan salah satu indikator untuk nilai literasi sebuah negara, Mbak. Iya benar, solusinya antara lain ya perbaikan perpustakaannya

      Delete
  24. Mupeng sama perpustakaannya... Enak bisa baca gratis seharian gitu

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya..udah gratis nyaman pula ruang bacanya :D

      Delete
  25. Aku ngiler ih sama perpustakaannya, Mbak. Kalau aku di sana, betah kali ya. Lupa mau jalan-jalan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihihi..iya, jalan-jalan jadi belakangan karena mahal ongkosnya...jadi mending baca-baca buku aja sayaaa

      Delete
  26. Mbakyu, aku baru berkunjung kamari. Kok mirip2 ya ide kita, wkwkwk... Sayangnya di kita perpustakaan masih kurang menarik. saya ingat betul waktu ke Singapura, betah berjam-jam di National Library. Adem, nyaman dan bukunya melimpah. Oh, semoga suatu saat nanti negeri kita punya juga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya..kita sehati sepertinya BukNaj :D
      Siip..semoga nanti negeri ini punya perpustakaan selayaknya yang kita impikan...Aamiin:)

      Delete
  27. Keren ni info perpustakaan di LN nya.

    ReplyDelete
  28. senangnya bisa nyicip perpusnya Amerika yang bagus-bagus dan ramah anak. Kalau gini ga hanya anak yang betah, orang tua juga suka main di situ.

    Salam,
    Helenamantra dot com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak..anak-anak betah banget waktu itu..lumayan jadi hiburan murmer pergi ke perpustakaan:)

      Delete
  29. Alhamdulillah, di sini anak-anak juga suka sekali jika diajak ke perpustakaan negeri. Selain rak-rak penuh dengan buku, ada juga playground buat si balita. Udah gitu, penjaganya juga ramah anak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, Mbak..Jadi nggak susah ngenalin baca ke anak ya kalau didukung antara lain oleh perpustakaan :)

      Delete
  30. Hal yang membuat miris adalah Orang tua di sekitar tempat tinggal saya lebih suka memberikan gadget atau mainan modern pada anaknya, hampir tidak ada yang ingin memberikan buku sebagai teman kala senggang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waktu ini tetangga saya, anaknya khitan, kasih goodie bag ke anak-anak buku cerita Islami dan snack, Mbak..
      Atau mungkin bikin perpustakaan rumahan juga ide bagus tuh:)

      Delete
  31. Berharap akan segera ada perpustakaan senyaman itu di Bandung...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah... akhirnya bisa tampil juga komennya. Sudah berkali-kali saya mampir dan coba meninggalkan jejak di sini, ternyata masalahnya blogspot lebih welcome sama akun G+ :D

      Delete
    2. Ya, Allah..maaf ya Mbak..memang rencana mau nambahin komen dari Facebook..Tapi belom bisa-bisa saya settingnya..kwkwkwk..lola nih saya..Nanti saya set deh..Makasih banyak masukannya :) lope..lope..

      Delete
  32. komplit, kereeen... salam kenal mba:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih, Mbak...
      Salam kenal juga yaaa:)

      Delete
  33. Mbak, tahu gak survei literasi negara-negara di dunia itu metodologinya gimana.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di atas link data sudah saya sertakan, Mbak. Dari situ metodologi surveynya:) Lengkapnya di webcapp(dot)ccsu(dot)edu/?news=1767&data

      Delete
  34. baca, baca, baca. tulis, tulis, tulis. publish, publish, publish.

    setuju mbak. saya ini lagi mulai jadi ibu baru lagi. program untuk si dedek kali ini adalah mengenalkan buku.

    kalo saya ajak baca buku, dedek keliatan hepi n semangat. sekarang baru mau 4 bulan umurnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siip! Selamat mengenalkan buku buat dedeknya, Mbak..:)

      Delete
  35. Waaaah.... Jadi pengen ke Amerika... Beda banget dengan di Indonesia ya Mbak...

    Thanks for sharing :)

    ReplyDelete
  36. Menjadikan aktivitas membaca sebagai gaya hidup itu masih sulit, ya mbak? Apalagi sekarang godaan gadget itu lho... ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener benget,,kita saja tergoda apalagi anak kita , hiks! Mungkin yang penting tetap seimbang porsinya, kalau gadegtnya untuk namabah pengetahuan dengan baca e-book atau pengetahuan yang berguna, ya nggak apa-apa:)

      Delete
  37. keren sekali perpustakaannya.

    TFS Mba... saya sedang mulai lagi untuk membiasakan mmebaca di rumah setelah lama off :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sip Mbak..Yuk sama-sama semangat lagi kitaaa :)

      Delete
  38. Seru banget ya kalo ngintip negara maju. Semoga nanti Indonesia pun bisa terus berbenah kualitasnya. Aamin.

    Mbak, aku reshare data ranking itu yaa... Makasih mbak Dian.

    ReplyDelete
  39. Perpusnya keren. Tapi jauh πŸ˜–

    ReplyDelete
  40. Aku kepingin bisa stroy telling, lebih ngena untuk anak-anak balita sepertinya y

    ReplyDelete
  41. Tulisannyan lengkap sekali Mbak, keren. Banyak ya manfaat membaca itu selain untuk anak-anak, untuk kita orang tuanya pun sama sangat bermanfaat.

    ReplyDelete
  42. Suka kalo lihat perpus yg lengkap gitu

    ReplyDelete
  43. Whee, tulisannya meriah. Saya selalu suka dengan tulisan kisah teman di negeri orang.. dan ngomongin perpus, berharap sangat di sini kelak ada perpus yg nyaman, lengkap plus kece macam di kota besar atau luar negeri... perpus sini masih sedikit, pula kesannya masih serius.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sudah ada ,..di Jakarta Perpusnas yang baru..semoga di daerah banyak menyusul nanti :)

      Delete