Mitos dan Fakta tentang Pernikahan Bahagia

Mitos dan Fakta tentang Pernikahan Bahagia! Ada ya? Sebelumnya, saya mau cerita, bulan depan saya dan suami akan genap menjalani 18 tahun pernikahan. Suatu bilangan masa yang ternyata sudah banyak angkanya. Suka duka lumayan kenyang kami rasakan. Hingga sampai di titik ini, syukur selalu saya dan suami ucapkan tiada henti. 

Tapi, apakah pernikahan kami selalu indah? Tentu tydaaac! Serupa dengan pernikahan lainnya, ada banyak drama menghiasi... Beneran tak seindah bayangan pernikahan di masa gadis saya!😁

Well, sebelum berumah tangga, pria maupun wanita pasti punya impian bagaimana idealnya sebuah pernikahan bahagia. Harapannya, sesudah menikah, semua akan menjadi indah. Namun ternyata, pernikahan bagai sebuah jalan berliku, yang kadang menyempit, adakalanya melebar, seringkali lurus, lain kali menemui tikungan. Juga pemandangan di kiri kanannya suatu waktu bakal indah memesona, lain kali akan ada jurang curam menganga.

Nah, segala hal indah yang dibayangkan calon pasutri ini, bisa jadi adalah mitos tentang pernikahan, yang ternyata berbeda dengan fakta sebenarnya.


Mitos dan Fakta Pernikahan Bahagia


Lalu, manakah yang merupakan mitos dan mana pula yang fakta? Berikut beberapa tips tentangnya!


Mitos: pasangan pasti mengerti maksud saya, tanpa saya perlu mengatakannya

Fakta: pasangan bukanlah seorang paranormal yang (katanya) bisa membaca pikiran/menebak perasaan. Misalnya, saat istri lagi kesal karena suami lupa janji, lalu ia marah tak tentu arah. Saat ditanya kenapa, jawabannya gapapa, bikin suami bingung sendiri. Maka, daripada menggerutu, menunggu sambil mulut maju, berharap suami tahu isi hatimu, lebih baik bilang terus terang! Karena pernikahan tidak akan membuat pasutri otomatis tahu apa yang dipikirkan pasangan.


Mitos: kita bisa mengubah kebiasaan buruk pasangan

Fakta: kebiasaan buruk pasangan bisa berubah atas dasar kemauan, bukan karena paksaan. Kalau dari sananya sudah sembrono, susah untuk mengganti jadi teliti. Jadi perlu kesabaran istri, jika suami suka menaruh barang sembarangan, sementara sang istri rapi sekali. (Atau ini berlaku sebaliknya untuk kasus saya haha)


Mitos: pernikahan akan bahagia selamanya

Fakta: pernikahan yang berjalan sempurna, bahagia selama-lamanya, adalah pernikahan Cinderella dan pangeran tampan dari negeri dongeng. Kenyataannya, pasutri akan menemui beragam masalah, karena adanya perbedaan latar belakang, masalah ekonomi, intervensi keluarga besar, cara pandang berbeda dalam pengasuhan, dan lainnya. Semua itu adalah ujian pernikahan, yang jika pasutri bersabar dan teguh menghadapinya, Allah akan mengangkat derajat keduanya.


Mitos: anak akan merekatkan hubungan pasutri

Fakta: kelahiran anak (pertama) kadangkala malah bisa merenggangkan ikatan erat pasutri, karena membuat perhatian tercurah pada anak, sehingga pasangan terabaikan. Belum lagi masalah keintiman pasutri pasca persalinan. Bahkan perbedaan pola pengasuhan, bisa memicu perselisihan. Yang terpenting adalah tetap mempunyai waktu berdua, sehingga keintiman tetap terjaga. Ingat, prioritas pertama adalah pasangan, baru anak. Karena, jika hubungan pasutri kurang harmonis, bisa berdampak ke perlakuan buruk kita pada anak.


Mitos: dalam pernikahan bahagia, tidak akan pernah ada pertengkaran

Fakta: sebahagia apapun pernikahan pasti akan dihiasi perselisihan baik kecil maupun besar. Nah, yang perlu diingat saat pasutri bertengkar adalah: hindari caci maki yang menyakiti hati dan jauhi KDRT. Selain itu jaga rahasia rumah tangga, jangan sampai tersebar kemana-mana, apalagi sampai tjurhat masalah berat di sosial media. Jika perlu, cari bantuan misalnya pada orang tua, pemuka agama atau KUA.


Mitos: perselingkuhan dalam pernikahan hanya akan dialami pasutri yang hubungannya lemah

Fakta: perselingkuhan bisa menggoda kesetiaan siapa saja, terutama yang punya masalah dengan ketidakpuasan pada pasangan, hubungan jarak jauh, perbedaan prinsip hidup, masalah keturunan, faktor ekonomi, adanya godaan pria/wanita lain, dan lain-lain. Untuk menghindari, dibutuhkan kekuatan iman pasutri, sehingga pernikahan bisa dipertahankan.


Mitos: pernikahan menjadikan pasutri harus berbagi dalam semua hal

Fakta: pasutri terdiri dari dua individu yang masing-masing punya kepribadian, kegemaran, bakat, minat, yang bisa berbeda. Jadi, tidak perlu memaksa diri menyamai pasangan. Juga, beri keleluasan pada pasangan untuk menekuni hobi dan mempunyai waktu untuk diri sendiri, agar potensinya berkembang dan demi keharmonisan hubungan.


Mitos: cinta akan terus berbunga selama pernikahan

Fakta: seiring berjalannya waktu, cinta pada pasangan bisa memudar. Perlu usaha dari pasutri agar cinta tetap terawat bahkan meningkat. Lebih perhatian pada pasangan, hargai dan bangun komunikasi, saling memberi pujian dan selalu punya waktu untuk berdua, bisa jadi solusinya.


Mitos: pernikahan=menambah masalah

Fakta: justru salah satu pemecah masalah hidup adalah dengan menikah. Misalnya, masalah ekonomi. Pernikahan akan membuka pintu rejeki. Karena setelah menikah, kita jadi lebih giat bekerja untuk menafkahi keluarga. Menikah juga menjadikan hidup lebih teratur, terencana dan bermakna.


Mitos: pernikahan rentan perceraian

Fakta: perceraian itu adalah perkara halal yang dibenci oleh Allah. Adanya ketidakharmonisan, perselingkuhan, kurangnya kebersamaan, masalah keuangan,..... diantaranya bisa menjadi penyebab terjadinya perceraian. Hukum cerai adalah makruh dan terlarang, namun bisa berubah pada hukum lainnya, tergantung pada kondisi rumah tangga tersebut. Bisa menjadi haram, boleh, sunah bahkan wajib. Tetapi, sebelum memutuskan bercerai hendaknya pasutri mempertimbangkan dulu baik-baik, bagaimana dampak buruknya bagi anak. Apakah itu satu-satunya jalan keluar, lalu sudahkah masing-masing instropeksi diri dan berusaha keras memperbaiki hubungan.

Jika memang perceraian adalah pilihan terbaik, hendaknya semua diakhiri dengan baik seperti saat mengawali pernikahan dulu. Tetap jalin silaturahim dengan mantan pasangan dalam kapasitas ia adalah ayah/ibu dari anak kita. Jangan pisahkan mereka! Ingat, yang ada adalah mantan suami/istri, tidak ada mantan anak! Dan, yang terpenting pula, tidak perlu menjelek-jelekkan mantan pasca perceraian, karena berarti kita membuka aib diri sendiri. Segera Move On ! Ada kehidupan baru yang mungkin lebih baik, yang memang ditakdirkan Allah untuk kita. 



 Tetap semangat!!

signature-fonts

No comments