Surya Taman Wisata - Wahana Rekreasi yang Asri di Kota Kediri 



Suatu siang saat Ramadan silam...

Panas membara melanda kota kelahiran saya, Kediri tercinta. Si Mas mulai rewel enggak betah di rumah dan ribut minta pergi berenang. Adiknya pun seia sekata, ngajak ngadem ke kolam renang katanya.

NATUR #KuatDariAkar, Lawan Rontok, Rambut Lembut dan Mudah Diatur

NATUR, #KuatDariAkar, Lawan Rontok, Rambut Lembut dan Mudah Diatur

"Invest in Your Hair. It Is The Crown You Never Take Off"
Muka saya bersungut-sungut dengan bibir cemberut ketika diminta Mbak Nies, kakak ketiga saya, duduk diam membelakanginya. Sementara rambut saya yang terurai panjang, tebal dan hitam sudah siap sedia jadi "korban".

Mbak Nies akan ngomel panjang lebar sembari mengoleskan lendir lidah buaya ke seluruh bagian kepala dan rambut saya. Tak lupa, dia juga akan memijat lembut kulit kepala saya dengan jemarinya.




Lain waktu, dia menggantinya dengan abu bakaran merang padi yang dicampur air dan dibiarkan kena embun semalaman. Air ramuan ini akan dibalurkan ke seluruh kulit kepala dan rambut, layaknya keramas memakai shampoo biasa. 

Dan,...masih ada beberapa "ramuan ajaib" lain yang dibuat Mbak Nies untuk merawat rambut, sampai saya lupa apa saja. Karena, meski sambil merengut, saya manut saja diapa-apain plus diomelin. Katanya, saya malas keramas lah, bau asem lah, jadi cewek jorok bener lah,....😝

Pikir saya waktu itu, enggak apa-apa kena omel. Toh, yang nyiapin ramuannya bukan saya. hahaha #jahatbenerrr

Ya, saya yang saat itu masih anak-anak "terpaksa" ngikut saja apa yang Mbak Nies minta. Memang, meski saya punya 5 kakak perempuan di rumah (saya 6 bersaudara perempuan semua), yang berambut panjang cuma ada 2, saya dan dia. Maka, dia yang waktu itu sudah SMA dan sudah lebih peduli dengan aneka macam perawatan diri, jadi "memaksa" saya mengikuti ritualnya.

Tapi ternyata dari keterpaksaan itu, saya merasakan hasil yang membanggakan. Rambut hitam dan tebal jadi andalan saya untuk tampil percaya diri sampai saat kuliah di Bali.

Nah, keadaan pun berubah ketika saya mulai ganjen saat jadi mahasiswi. Waktu itu, saya punya sahabat yang juga teman sekos-an yang berambut ikal. Entah kenapa kami-dua perempuan muda ini, sesuai perkembangan hormonnya, merasa tak puas dengan apa yang dimiliki. Saya iri dengan rambut ikalnya yang mlungker-mlungker cantik sekali. Sementara di matanya, rambut lurus saya begitu menggoda hati.

NATUR Hair Care

Akhirnya, satu hari kami berdua memutuskan ke salon kecantikan dan melakukan dua treatment yang berseberangan. Saya minta rambut "diombakin" (baca: keriting) dan dia minta rambut dilurusin.πŸ™ˆ

Kalau dingat-ingat sekarang, saya sendiri juga heran. Bener-bener kami ini enggak ada rasa syukurnya sama sekali, hihihi...

Apalagi keluar dari salon, kami malah jadi kelihatan "aneh". Gimana enggak aneh coba, biasa ngelihat rambutnya lurus eh jadi kruwel dan sebaliknya...Berasa enggak pantes blassss waktu ngaca! Hiks!

Tapi nasi sudah menjadi bubur, akhirnya enggak pakai lama, pas punya uang sisa, saya ke salon lagi untuk balikin rambut ke kondisi semula.

Dan, inilah awal bencana bagi rambut saya. Paparan zat kimia dari obat keriting dan pelurus tadi, sedikit banyak mulai merusak rambut saya. Apalagi selanjutnya, saat mulai bekerja, saya jadi terbiasa dengan yang namanya hair dryer, hair spray dan teman-temannya. Padahal, saya hampir tidak pernah merawat rambut seperti saat kecil dulu. (Ya iyalah, sudah jauh dari Mbak Nies gitu..huhuhu..)


Review NATUR

Lalu kondisi makin parah, ketika saya mulai mengenakan hijab. Seringkali setelah keramas, enggak pakai nunggu kering dulu, saya langsung tutupi brukut rambut dengan hijab. Atau, buru-buru saya keringkan dengan hair dryer karena mau cepat-cepat.

Andaikan bisa ngomong, ini rambut pasti sudah jejeritan nangis minta disudahi KDRT-nya (Kekerasan Dalam Rambut Tebal)

Belum lagi ketika angka usia bertambah dan menjalani kodrat Illahi, hamil-(tidak sempat menyusui)-hamil-menyusui-hamil-menyusui...

Terus..terus...karena saya tinggalnya di Jakarta yang tingkat polusinya bikin kondisi rambut lebih memungkinkan terpapar zat berbahaya..

Juga...faktor stres mikirin kamu, negara, harga telur dan kawan-kawan yang sudah seperti tanjakan tanpa turunan saja.

Alhasil, apa yang jadi kebiasaan buruk dan beberapa faktor lainnya pun memperparah kondisi rambut saya....Rambut rontok, bercabang, makin tipis dan kusam.😭

Dan saat ini terjadi, saya baru tersadar...Ya ampun sudah saya apain aja nih rambut yaaa? Nyeseeeel dan nyeseeeek jadinya!

Enggak mau berlarut-larut, saya pun ambil tindakan. Melakukan perawatan dengan membeli shampoo dengan beraneka kegunaan. Fokus saya adalah menguatkan akarnya sehingga rambut tebal bisa saya miliki lagi. Selain itu saya lengkapi juga dengan perawatan berupa conditioner, hair tonic dan hair mask yang biasanya memang tersedia sepaket dengan shampoo-nya.

Tapi ternyata, seringkali produk yang saya pakai ini dipakainya terasa panas di kulit kepala. Sepertinya keras gitu komposisinya. Jadi, meski harumnya semerbak mewangi, saya merasa tersiksa.... Kok, di kepala terasa panas begini yaaa..

Dan lagi, sesudah dipakai beberapa lama, kok rasanya enggak jrenggg terbukti hasilnya yaaa..

Tapi, berhubung saya ini sabar, rajin menabung dan suka menolong, maka saya tetap setia dan memakai saja set perawatannya...

Review NATUR

Sampai satu hari, saya mengikuti sebuah acara yang diselenggarakan oleh NATUR bersama Blogger Muslimah Indonesia.

Dari sini, saya jadi tahu ilmu merawat rambut yang baik dan benar dengan berpegang pada tujuan #kuatdariakar. Sampai-sampai sepanjang acara saya penasaran ingin segera mencoba set perawatan yang dibawakan pulang.

Set ini, terdiri dari shampoo, conditioner, hair tonic dan hair mask dari NATUR.

Lengkaaaap!

Akhirnya, sepulang dari sana, mumpung rambut lagi lepek karena dari siang sampai sore stand by di AkadeMIE Cafe tempat berlangsungnya acara, dan mumpung dapat produk gratisan pula, saya pun mencoba keramas dengannya.

Review NATUR
MC Acara, Mbak Iecha-Blogger Muslimah, Mbak Sarah-NATUR

Sebelumnya, Mbak Sarah, Brand Excecutive NATUR di awal acara sudah menggoda saya dan teman-teman yang hadir di sana, untuk mencoba mencium bau produk NATUR ini dengan membuka tutup botolnya.

Memang sih, jaman dulu kala, NATUR itu terkenalnya berbau jamuuu..Jadi mau beli tuh rasanya agak malas gituuuu.

Sudah seharian riweuh di dapur bergulat dengan bumbu yang baunya kurang lebih kayak jamu eh lah mosok ya rambutnya habis keramas baunya sama dapur enggak ada bedanya. hahaha

Mending pilih yang lain lah yaa..Yang harum mewangi sepanjang hari dan bikin hati suami enggak bisa pindah kemana-mana lagi hihihi.

Maka dari itu, saat diminta membaui harum shampoo NATUR dan teman-temannya, reaksi pertama saya ..
"Ah, masak ini NATUR sih. Sudah ganti selera rupanya dia. Sekarang nih, bau wanginya lembut dan enggak terlalu tajam. Pokoknya aroma jamu yang dulu begitu melekat pada NATUR sudah lenyap ditelan senyap! Yang ada tinggal wangi yang menenangkan hati saat nyium-nyium rambut sendiri."πŸ˜„

Review NATUR 

Kemudian...

Ketika, saya akhirnya mencoba, kesan pertama saat si shampoo menempel di kepala adalah, widihh..adem gini yaaak! Kulit kepala saya yang sudah merasakan beraneka brand dari yang ternama sampai terheboh iklannya pun, mungkin kalau punya aplikasi WA bakal kirim pesan ke saya: "Adeeem ini cuyy!"😁
NATUR - Natural Extract Shampoo - Aloe Vera Extract  ini di kemasannya menuliskan manfaat yang dipunyai, yakni: "Menutrisi dan Membantu Menjaga Kesuburan Rambut". 
Enggak heran lah, lha wong komposisinya saja mengandung bahan alami Aloe Vera extract yang berfungsi memberikan nutrisi pada rambut dan membantu menjaga kesuburan rambut sehingga rambut tampak sehat dan lebat.

Jadi tinggal dipakai shampoo-an lah: usapkan pada rambut dan kulit kepala yang basah. Pijat dengan lembut hingga menghasilkan busa lalu bilas hingga bersih.

Review NATUR

Oh ya, shampoo ini wujudnya berupa cairan yang berwarna bening kecoklatan dengan tekstur agak kental. Memang sih busanya enggak sebanyak shampoo biasanya. 

Tapiiii...yang perlu diingat, busa yang banyak means kandungan kimianya juga banyak. Kalau chemical ingridients-nya berlebihan, kan efek sampingnya bakal ada nantinya. Sehingga bisa jadi, bukannya bakal merawat, malah bikin kondisi rambut makin gawat!

Duh!

Nah, NATUR dengan bahan natural ini memiliki kandungan bahan kimia yang minimal. Maka, tak perlu heran dengan jumlah busanya yang pas-pasan. Toh, yang ingin kita ambil khasiatnya dan bukan busanya, kan? πŸ˜€

Review NATUR

Selanjutnya, jika sudah keramas, tahapan kedua perawatan adalah pengaplikasian conditioner. Dan yang saya coba adalah:
NATUR Conditioner - Moisturize & Nourish Hair Shaft, yang pada kemasannya tertera khasiatnya, yaitu: Melembutkan, Menutrisi & Menjaga Kesuburan Rambut.
Dimana, pada bagian belakang kemasan disebutkan bahwa varian ini merupakan perawatan rambut alami dengan Olive Oil dan Aloe Vera Extract yang membantu memberikan nutrisi pada helai rambut untuk menjaga kesuburan rambut sehingga rambut tampak lebat, halus, lembut, lembab serta mudah diatur.

Penampakan dari conditioner ini sendiri adalah berwarna putih dan agak kental . Sedangkan untuk cara pakainya adalah dengan mengusapkan NATUR Conditioner Olive Oil & Aloe Vera hingga merata pada helai rambut. Kemudian diamkan sekitar 5 menit, lalu bilas hingga bersih.


Jadi......yang perlu digarisbawahi yakni: conditioner dipakainya di helai rambut saja dan bukan di kulit kepala ya, pemirsaaah. Jangan sampai salah pakai! Karena kalau diusapkannya ke kulit kepala, bikin rambut jadi makin berminyak nantinya.

Dan, efek yang saya rasakan saat pertama kali menggunakan adalah....:

Pertama, saat baru diusapkan, lembut teksturnya terasa di tangan. Dan kekentalannya yang pas membuatnya mudah diaplikasikan ke seluruh helai rambut hingga merata.

Kemudian untuk wanginya, enggak beda jauh dengan shampoo-nya tadi. Harumnya soft dan enggak nyengak! Pokoknya wanginya enak!

Terus, ketika rambut sudah kering, memang rambut terasa lembut dan halus rasanya ketika dipegang. Yang ujung-ujungnya, rambut jadi mudah diatur meski sudah diajakin ke sumur dan ke dapur.

Sampai mikir nih saya, ini NATUR baru sekali pakai, sudah positif begini hasilnya. Terus gimana kalau digunakan seterusnya yaaa...πŸ˜€

NATUR Hair Care


Tapi, jangan berpuas diri dulu...

Next, saya menuju tahapan perawatan berikutnya! Dimana, saya mencoba varian:
NATUR - Natural Extract Hair Tonic - Aloe Vera Extract yang bermanfaat untuk Menutrisi dan Membantu Menjaga Kesuburan Rambut
Untuk hair tonic ini, pada kemasannya terdapat penjelasan: NATUR tonik rambut alami dengan Aloe Vera Extract yang memberikan nutrisi pada rambut dan membantu menjaga kesuburan rambut sehingga rambut tampak sehat dan lebat. Dengan sensasi wangi alami yang memberikan aroma kesegaran pada rambut.

Sedangkan untuk cara pakainya adalah dengan mengocok terlebih dahulu, lalu menuangkan secukupnya dan usapkan ke kulit kepala secara merata. Lalu, pijat kulit kepala secara lembut untuk melancarkan peredaran darah ke akar rambut.


Untuk hair tonic ini sendiri, warnanya coklat bening dengan tekstur encer. Yang memudahkan pengaplikasian ke kulit kepala. Wujud tonic yang pas tingkat keencerannya ini akan memudahkan cairan meresap ke kulit kepala sehingga segera bisa kita dapatkan khasiatnya.

Nah, saat pertama mencoba, yang bikin saya excited adalah tumben-tumbennya ada tonic yang adem saat nyentuh kulit kepala. Karena, biasanya tonic tuh, pertama nyentuh kulit sudah terasa nyossss, panass Boss!

Tapi, NATUR Hair Tonic ini enggak sama sekali...Yang ada, pertama nempel kepala langsung nyessss, bisa bikin tidur nanti malam makin pulesss...πŸ˜„

Usut punya usut hal ini disebabkan karena formula NATUR itu zero alcohol. Pantesan saya enggak ngerasa mak nyosss setelah memakainya.

Oh ya, jangan lupa ketika proses pijat memijat ini, mijitnya pakai bantalan jari ya, dan kalau bisa kuku tangan sedang enggak panjang. Khawatirnya kuku panjang selain akan melukai kulit kepala bakal bisa mengakibatkan produksi minyak makin banyak sehingga rambut lepek jadinya.


Nah, setelah pemakaian tiga rangkaian perawatan dari NATUR tersebut, jujur saya jadi kepincut.

Gimana enggak coba....Sudah bahannya alami, baunya wangi, enggak banyak kandungan yang bisa bikin rambut rusak, mudah dipakainya dan terbukti khasiatnya!

Kalau begini salah siapa coba, kalau nanti saya bakal mutusin pakai NATUR seterusnya...

Eitss...tapi, jangan dulu jatuh hati...! Masih ada satu produk yang musti saya coba, yaitu:
NATUR Hair Mask - Nutritive Treatment with Aloe Vera Extract & Olive Oil yang bermanfaat untuk menutrisi & menjaga kesuburan helai rambut agar tampak lebat & sehat. Menjaga kelembaban alami rambut. Dan menghaluskan & melembutkan rambut sehingga mudah diatur.

#KuatDariAkar

Oh ya, penampakan NATUR Hair Mask ini: putih, tekstur lembut dan agak kental serta wanginya teteup ..soft!

Sedangkan untuk cara pemakaiannya: setelah keramas, usapkan hair mask hingga merata pada rambut. Pijat batang rambut mulai pangkal hingga ujungnya. Diamkan selama 1-2 menit. Bilas hingga bersih. Dan gunakan satu kali seminggu atau sesuai dengan kebutuhan rambut kita.

Memang, hair mask ini sifatnya additional treatment bukan daily treatment. Karena fungsinya lebih ditujukan pada rambut yang sudah rusak. Sedangkan untuk perawatan sehari-hari pemakaian ketiga rangkaian, shampoo-conditioner-hair tonic NATUR tadi sudah mencukupi.

Nah.....

Akhirnya saya sudah mencoba rangkaian perawatan dari NATUR Hair Care.

Lalu, apakah saya puas dengan hasilnya?

Tunggu duluuuu...

Kita coba dulu selama dua minggu. Apakah nanti harapan sejalan dengan kenyataan...?? Akankah janji tak teringkari?? Dan, benarkah semua akan terbukti?? #halah


NATUR Hair Care

Dan...D U A  M I N G G U kemudian (jreeeng..jreng..)

Saya PUAS dengan rangkaian perawatan rambut NATUR Hair Care dan merekomendasikan pada teman-teman yang saat ini sedang mencari solusi untuk rambut rontoknya.

Lalu, saya juga memutuskan akan membeli lagi jika persediaan NATUR yang di rumah ini habis nanti.

Mau tahu alasannya?
  • NATUR #lawanrontok
Setelah memakai NATUR, rambut saya jadi berkurang rontoknya. Biasa ketika sisiran atau sesaat setelah keramas helaian rambut rontok akan kelihatan. Tapi ini, meski masih ada, sudah berkurang jumlahnya. Semoga nanti setelah rutin dipakainya, lama-lama normal kerontokannya.
  • NATUR bikin nyeeess bukan nyosss
Pikiran sudah sering panas baca timeline sosial media yang isinya eyel-eyelan, hujat-hujatan dan merasa kubunya paling benar...Jadi yang saya butuhkan adalah hair care yang bikin kulit kepala jadi nyesss bukan nyosss. Karena jika dingin kepalanya maka akan merembet pula pada ke-adem-an pikiran dan perasaan...#eaaa
  • NATUR bikin rambut enggak lepek
Meski saya tutupi dengan hijab, setelah seharian beraktifitas rambut saya enggak over minyaknya dan enggak lepek jadinya. Karena kadangkala shampoo tertentu bikin rambut berminyak  banget, sehingga pas buka kerudung sampai rumah, basah, lengket dan bauuu jadinya.
  • NATUR wangiiiiii
Produk perawatan rambut, wajah dan badan, acapkali ada yang wanginya tuh warbiyasaaah. Maksudnya gonjreeeeng banget sampai bikin kepala mumet.

Nah, NATUR wanginya soft, pas saja, enggak berlebihan. Bahkan bisa jadi aromaterapi bagi diri. Karena rambutnya harum, kita jadi suka nyium-nyium...Hm, apalagi bagi yang sudah punya teman tidur di sebelah. Wangi rambut dari NATUR bikin suami jadi penasaran bertanya-tanya, ini istriku pakai parfum apa yaaa...😍
  • NATUR hemat
Kenapa hemat? Karena bisa dipakai untuk orang serumah. Formulanya yang aman, cocok untuk segala usia (kecuali balita), baik pria maupun wanita. Jadinya pas banget buat saya, suami dan dua anak kami. Jadi hanya perlu beli satu merk shampoo saja untuk stock di kamar mandi....sudah! Enggak perlu nambah!
  • NATUR banyak pilihan
NATUR punya pilihan varian untuk kondisi rambut yang berbeda. Jadi kita tinggal sesuaikan saja. Misalnya untuk Natural Extract Shampoo saja ada 5 varian yaitu: Olive Oil & Vitamin E, Ginseng Extract, Tea Tree Oil Extract, Moringa Olifera Extract dan Aloe Vera Extract.
  • NATUR mudah dibeli
NATUR tersedia di minimarket dekat rumah, toko tetangga terdekat, supermarket, kios kosmetik dan online shopping yang ada. Tinggal pilih sesuai kebutuhan dan siap digunakan
  • NATUR terjangkau harganya
Untuk masalah harga, NATUR terjangkau dan berada di standar wajar dengan harga shampoo lainnya. Kalaupun sebagian dari kita merasa kemahalan pun bakalan worth it kok dengan manfaatnya.

NATUR Hair Care

Oh ya, ada juga lho saudara kandung dari NATUR Hair Tonic Aloe Vera Extract ini, yaitu: NATUR Hair Tonic Ginseng.

Dimana varian ini memiliki fungsi untuk membantu merawat kekuatan akar rambut dan kesehatan kulit kepala. Sehingga rambut tetap sehat dan kuat serta mengurangi rambut yang rontok.

Keunggulan NATUR Hair Tonic Ginseng ini sendiri diantaranya:

  • Tidak bau jamu
  • Telah teruji klinis selama 14 hari pemakaian dapat mengurangi rambut rontok hingga 90%
  • Tidak ada alkohol
  • TOP BRAND selama 2007-2017
Dan, untuk yang belum tahu wujudnya, ini dia penampakan NATUR Hair Tonic Ginseng:




Sementara itu, NATUR juga punya produk terbaruuuu..

Tadaaa...ini dia NATUR Hair Vitamin. Produk terbaru dari NATUR yang terdiri dari 2 varian:
  • Olive Oil dan Vit E : untuk rambut yang diwarnai
  • Aloe Vera & Pro Vit B% untuk semua jenis rambut
Sedangkan keunggulan Hair Vitamin ini, diantaranya:
  • Mempunyai 2 wangi: Sweet Vanilla dan French Rose
  • Tidak lengket
  • Bisa digunakan untuk kulit kepala
  • Berfungsi tidak hanya menutrisi rambut tapi juga menjaga kesuburan rambut

Wah, saya musti hunting segera nih produknya. Biar lengkaaap kaaap kaaap perawatan rambut saya!!

Jadi bagaiman teman-teman, mau coba NATUR juga seperti saya, enggak?

Atau masih penasaran dan mau kepoin infonya? Cusss ke akun sosial mediaNATUR saja ya:

Facebook: Back To Natur
Instagram: @backtonatur
Twitter: @backtonatur

NATUR | #KuatDariAKar, Lawan Rontok, Rambut Lembut dan Mudah Diatur!πŸ’–






Happy Hair, Happy Life 


Dian Restu Agustina









Tips OOTD yang Enggak Perlu Biaya Gede

Tips OOTD yang Enggak Perlu Biaya Gede. "Being yourself is the prettiest thing a person can be" Hmmm, mau ikutan pasang foto OOTD (Outfit Of The Day), tapi berasa enggak pede. Lantaran pakaian yang dipunya rasanya enggak sekeren punya tetangga di dunia maya....Ingin juga pakai tagar #OOTD buat ngiklanin produk yang dijual, tapi enggak yakin karena barang kita bukan yang berharga mahal! Atau maksud hati niru gaya selebriti yang posenya ketje badai, tapi apa daya barang yang kita punya belinya di I-Te-Ce..! Terus harus gimana yaa?? Barang mahal perlu modal. Padahal penginnya gaya tetap maksimal...!



Rokok - Sebuah Ancaman untuk Kelompok Rentan

Rokok - sebuah ancaman bagi kelompok rentan! Hmmm, kelompok rentan? Yup, di dekat tempat tinggal saya di Jakarta Barat, ada sebuah komplek sekolah swasta yang mempunyai 2 jenjang, SMP dan SMK.

Lokasi sekolah ini beberapa ratus meter saja jaraknya dari rumah saya, sehingga setiap antar jemput anak atau mau pergi, saya pasti melewati sekolah ini. 

Dan, setiap hari itu pula saya merasa miris sendiri melewati anak-anak yang duduk di sekitar menunggu jam masuk sekolah berdentang. Pasalnya, beberapa dari mereka sepagi itu sudah asyik ngobrol sambil ditemani sebatang rokok yang terselip di bibirnya. 

Padahal, itu baru jam 6 pagi!






Dan mereka sudah meracuni diri dengan benda yang manfaatnya sungguh diragukan ini. Sampai saya kepikiran, mereka itu tadi sudah sarapan belum yaa? Atau memang rokok yang jadi menu sarapannya?

Hadeeehh!

Saya pastikan sih dari seragamnya, anak-anak ini masih pada kisaran usia 13-18 tahun. Jenjang umur yang mustinya berada dalam tumbuh kembang optimal dari sisi kedewasaan.

#ruangpublikkbr

Sebagaimana yang disebutkan di Wikipedia, pada masa remaja, terjadi perubahan fisik yang cepat, pertambahan berat dan tinggi badan yang dramatis, perubahan bentuk tubuh, dan perkembangan karakteristik seksual. Pada perkembangan ini, pencapaian kemandirian dan identitas sangat menonjol seperti pemikiran semakin logis, abstrak, dan idealistis dan semakin banyak menghabiskan waktu di luar keluarga.

Nah, tentu sayang sekali jika di usia yang sedang segar-segarnya ini, mereka sudah terpapar benda yang jelas-jelas bikin rugi!

Tapi mau bagaimana lagi, rokok sampai kini menjadi benda yang sangat mudah didapatkan oleh mereka. Saya sering menjumpai di warung sekitar sekolah, anak-anak ini bisa membeli dengan bebasnya. Tinggal bayar pakai uang jajan, beli ketengan seharga seribu sampai dua ribu rupiah dan ...sudah! Rokok bisa dinikmati dengan gembira..!😒

Padahal, saya yakin dari penampakan sekolah dan siswanya, mereka ini berasal dari kalangan masyarakat ekonomi bawah yang pendapatannya tentu di angka yang pas-pasan atau bahkan kekurangan.

Hiks!

Sehingga saya yang notabene tinggal di lingkungan keluarga bukan perokok, dimana Bapak saya tidak merokok dan kini suami saya juga sama, menyayangkan sekali hal ini bisa terjadi.

Apalagi, kini saya memiliki anak berusia remaja yang tentunya sedikit banyak menimbulkan kekhawatiran di hati, jika dia terpengaruh oleh teman-temannya hingga mencoba merokok dan akhirnya jadi adiksi.

Duh, Astaghfirullah, jangan sampai ya Allah...!

#rokok50ribu

Dan......., mata saya pun semakin terbuka saat mengikuti Talkshow serial #RokokharusMahal dari Program Radio Ruang Publik KBR, yang disiarkan langsung dari Hotel Cemara, Menteng, Jakarta Pusat, pada hari Selasa, 14 Agustus 2018 silam.

Memang kelompok miskin, menjadi salah satu kelompok rentan yang mustinya dijauhkan dari rokok, begitu bahasan dari talkshow ini.

Dimana menurut  Dr Arum Atmawikarta, MPHManager Pilar Pembangunan Sosial Sekretariat SDGs Bappenas, kelompok rentan ini adalah kelompok miskin yang berpendapatan pada kuintil 1 dan kuintil 2 (kelompok miskin yang merupakan dua populasi terendah dalam skala pendapatan rumah tangga di Indonesia).

Jumlah mereka ini, berdasarkan hasil survei BPS adalah sekitar 9,7 %. Selain itu, yang dimaksud kelompok rentan ini juga adalah kelompok marginal lain yaitu yang tinggal di daerah yang sulit dan terpencil.

Nah, dalam acara yang dipandu oleh Don Brady ini, Dr Arum juga menyatakan, data BPS, secara konsisten menunjukkan bahwa ternyata pengeluaran dari kelompok penduduk miskin untuk rokok itu besar sekali. Dimana rokok ternyata berada di posisi kedua setelah beras dan ini konsisten dari tahun 2004 sampai 2018.

(Whaaaat? Oh eM Ji!!😱)

Dan, berdasarkan data SUSENAS (Survei Sosial Ekonomi Nasional), sampai sekarang, pengeluaran beras itu sekitar 22% sementara rokok sekitar 12-17%. (dengan jumlah konsumsi rata-rata 11 batang rokok per hari!!). Setelah itu baru pendidikan, sekitar 3% dan kesehatan yang sekitar 3% juga.

Berarti nih yaa..., jika pendapatan mereka 50 ribu rupiah per harinya, maka sekitar 11 ribu dari uangnya dibelikan beras, 7500 untuk rokok dan masing-masing 1500 untuk pendidikan dan kesehatan. Hmmm, coba yang 7500 ini dibelikan tahu, tempe, sayur, telur atau makanan sehat lainnya, tentu keluarga jadi lebih terpenuhi gizinya!

Kok saya jadi syeddiiih ya ngitungnya..! Hhhhhh..!

Tapi ngomong-ngomong, kenapa sih bisa begini? Kok angka belanja rokoknya bisa tinggi?

Sebabnya tak lain dan tak bukan, karena:
  • Akses rokok yang mudah
  • Harga rokok yang murah
Sehingga mudah sekali bagi kelompok rentan untuk mendapatkannya, termasuk anak-anak sekolah yang di dekat rumah saya.

Lalu, sebenarnya kategori umur berapakah yang termasuk kelompok rentan itu?

Menurut penjelasan Dr. Arum, indikator SDG’s atau Sustainable Development Goals  menyebutkan, kelompok rentan ini adalah anak usia di bawah 15 tahun. Dimana jika di usia ini mereka sudah mulai merokok maka cukup besar prevalansinya untuk merokok nantinya.

Jadi, kalau bisa, memang kita musti mencegah kebiasaan merokok ini sejak usia dini. Jangan sampai anak-anak terpapar dengan kebiasaan buruk ini. Karena kalau tidak, perilaku itu akan terbawa terus menerus sampai usia mereka tua dan akan sangat sulit sekali menghentikannya.

Hmm, bener banget ini, kalau sudah kadung...lebih susaaah nanti untuk membendung!

Kemudian, apa yang bisa dilakukan?

Kita bisa berusaha dengan:
  • Mengurangi iklan rokok di televisi. 
Tolong dong ditinjau lagi iklan yang bertaburan yang menyebutkan para perokok itu mempunyai energi yang kuat, aktif juga sukses. Kalau bisa dikurangi, ada pengaturan untuk jam penayangan atau bahkan dihilangkan sama sekali!

  • Mekanisme pengendalian harga
Dengan meningkatkan 10% harga rokok maka akan menekan jumlah perokok sekitar 16% pada penduduk miskin dan pada kelompok kaya bisa turun 7%. Mekanisme ini sendiri telah dilakukan di berbagai negara dan terbukti efektif keberhasilannya.


Ruang Publik KBR

Kemudian,    Dr. Abdillah Ahsan, Wakil kepala Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah FEB UI yang juga menjadi narasumber acara yang bisa disimak lewat 104 radio jaringan KBR, melalui aplikasi KBR Radio di Android dan iOS dan fan page Kantor Berita Radio KBR juga menambahkan beberapa hal.

Menurut Dr Abdillah, pemerintah sebagai mandataris rakyat bertugas mengemban keputusan rakyat yang ditulis di dalam konstitusi negara. Dan konstitusi mengamanatkan bahwa konsumsi rokok itu musti dikendalikan atau dikurangi. Karena tidak ada konstitusi yang mengamanatkan konsumsi rokok harus dinaikan!

Nah, lho!! Jadi.....??

Yup, ada 3 pijakan sebagai perintah bagi pemerintah untuk mengendalikan konsumsi rokok, yaitu:
  • UUD 1945: hak sehat adalah hak asasi bagi semua warga. 
  • UU Cukai: tarif cukai bertujuan untuk mengendalikan konsumsi. 
  • UU Kesehatan: rokok dan tembakau adalah barang yang adiktif, menimbulkan kecanduan dan harus dikurangi konsumsinya.
Tuh...Tidak ada sama sekali perintah untuk meningkatkan konsumsi rokok, kan?


sumber: FK Universitas Gadjah Mada


Jadi pemerintah itu harusnya satu tekat, bulat, yakin, dan pede dalam mengendalikan konsumsi rokok ini.

Karena sepertinya, saat ini pemerintah enggak yakin ketika hendak menaikkan tarif cukai. Pemerintah ragu saat mau melarang iklan rokok ditayangkan. Dan bahkan pemerintah sudah kena candu pendapatan lewat produksi rokok itu.

Lha, kalau begini terus kapan konsumsi akan turun yaaak?

Yang ada, pengendalian malah kurang optimal, sehingga konsumsi makin naik dan naik lagi....

Hingga bakal makin banyak perokok di negeri ini! Hiiiiii!! Ngeri! 

Habis gimana lagi, mendapatkan rokok di Indonesia itu sangat mudah dan harganya juga sangat murah. Sebungkus 15 ribu saja! Bisa dibeli ketengan pula!

Kalau uang saku anak sekolah seharinya 10 ribu, harga per batang seribu, ya pasti bisa dibeli ituu..!

Beda cerita jika pemerintah mau menaikkan harga rokok melalui peningkatan cukai yang setinggi-tingginya kemudian mengurangi juga aksesnya. Janganlah beli rokok sudah macam beli popok. Enggak pakai ditanya KTP-nya atau dilihat dulu yang beli siapa. Asal bawa uang, main dikasih saja sama penjualnya.

Duh, piye,..piye?

ruang publik KBR

Akses penjualan rokok seharusnya juga tidak sebebas sekarang ini. Karena kalau berpegang pada filosofi cukai pengendalian, konsumsi rokok harus disamakan dengan alkohol. Sehingga kalau penjualan alkohol dibatasi, seharusnya penjualan rokok pun sama.

Kemudian yang perlu diingatkan ke pemerintah juga, bahwa pertumbuhan ekonomi itu tidak boleh diserahkan kepada industri rokok. Pemerintah harus yakin, bahwa mengendalikan konsumsi rokok membuat masyarakat sehat dan hal ini berguna bagi perekonomian.

Karena, ekonomi harus bertumbuh secara berkualitas. Sebab masyarakat yang panjang umur dan sehat, akan produktif, dan menambah GDP (Gross Domestic Product).

Apalagi, kini kita sering dengar banyak terjadi kematian dini...

Enggak seperti jaman kakek nenek kita dulu, kematian di usia di bawah 60-70 bahkan kurang dari itu,  kini banyaaaak sekali. Dan dari semua itu penyebabnya adalah penyakit yang terkait dengan rokok!

Hiks!

Jadi nih, mustinya ada keyakinan bahwa pertumbuhan ekonomi, tidak boleh diserahkan kepada industri yang menyakiti tubuh masyarakat. Juga pemerintah harus lebih cerdas lagi menggali sumber-sumber pertumbuhan ekonomi yang sehat.

Ruang Publik KBR



Mestinya, menurut Dr. Abdillah, kita juga harus ingat bahwa cukai itu gunanya untuk membebani perokok supaya berhenti merokok. Ini yang harus diingat, bahwa aspek pengendalian harus lebih kuat daripada aspek penerimaan negara.

Kemudian, sebaiknya ada promosi kesehatan pada tingkat keluarga, yaitu supaya kepala keluarga tidak merokok. Atau jangan merokok di dalam rumah, karena dampaknya terutama kepada bayi, anak-anak dan ibu hamil besar sekali. Karena terbukti pada keluarga yang merokok, tingkat kematian bayi itu lebih tinggi dibandingkan dengan keluarga yang tidak merokok.

Lalu bantuan program pemerintah yang dikhususkan kelompok rentan dan kelompok miskin, semacam BLT (Bantuan Langsung Tunai), kalau bisa tidak digunakan untuk membeli rokok. Misalnya ada semacam peraturan peruntukan bantuan dimana syarat tidak merokok ada di dalamnya. Mungkin saat ini sudah ada, tapi sifatnya baru himbauan bukan larangan.

Hmmm....coba jika semua kepala keluarga yang mendapatkan bantuan mendengarkan yaa?

Tapi, kalau mau diulik lagi, apa saja sih sebenarnya dampak positif dan negatif pelarangan rokok ini?

Begini...

Awalnya, dulu kala produksi rokok memang belum tinggi. Lalu ketika produksinya sudah tinggi di beberapa negara, baru ketahuan lah dampak buruknya. sehingga kalau rokok mau dilarang pun sudah telaaaat.

Ruang Publik KBR

Akhirnya, solusinya apa?

Ya, satu-satunya menurut Dr. Arum adalah dengan mengendalikan dan menurunkan konsumsi rokok dengan berbagai kebijakan, diantaranya:
  • #RokokHarusMahal
Menaikkan harga cukai rokok supaya harga rokoknya mahal. Rokok harus tidak terjangkau oleh anak sekolah dan orang miskin. Uang beli rokok 15 ribu sehari itu berarti 450 ribu sebulan lho... Artinya sudah 6 jutaan setahun. Sehingga 10 tahun berarti 60 juta uang dibakar percuma!! Dan dapatnya apa coba? Rusak paru-parunya! Belum lagi kalau penyakit yang lain bermunculan juga. Bisa dibilang membeli rokok itu sama dengan membeli penyakit. Yang benar saja lah, masak penyakit dibeli!!
  • Iklan rokok harus dilarang
Sering enggak teman-teman mengamati kalau kini iklan rokok itu enggak etis. Masak disebutkan dan dituliskan besar-besar kalau harga rokok merk ini murah! Banyak lho kota yang sudah melarang iklan rokok dan PAD-nya itu justru lebih tinggi, karena spot-spot yang dikuasai oleh industri rokok, digantikan oleh barang-barang lain. Jadi kebijakan pelarangan iklan rokok ini sebenarnya tidak pelu menimbulkan kekhawatiran tersendiri.
  • Ada peringatan kesehatan bergambar dan kawasan tanpa rokok di berbagai tempat
Ruang Publik KBR


Lalu, keuntungan kebijakan pelarangan ini apa saja sih yaa?
  • Masyarakat hidup lebih sehat
  • Tidak ada pemborosan uang
Tapi, bagaimana dengan tenaga kerja industri rokok? Bagaimana dengan nasib mereka?

Yuks, kita ingat dulu, rokok itu, ada yang dibuat dengan mesin, ada juga yang dibuat tangan.

Saat ini, rokok buatan mesin jauh lebih laku daripada buatan tangan sehingga turunnya pekerja bisa saja disebabkan karena ada perubahan dari tangan ke mesin. Kalaupun ada dampaknya, harus ditangani bersama-sama oleh kementerian terkait.

Jadi, kalau ada penurunan tenaga kerja di rokok kretek tangan sebenarnya bukan gara-gara pengendalian rokok, tapi karena gara-gara pabriknya memang ingin pindah ke mesin.

Nah, dengan cukai rokok yang disebutkan mencapai 150 Triliun hasil dari rokok dibikin semurah-murahnya, tapi dengan konsekuensi semua anak dan orang miskin jadi bisa merokok yang ujung-ujungnya rusak jiwa raga...apa masih tega?

Coba yuk, dipikir...! Masih mau generasi penerus bangsa teracuni seperti ini? Enggak kan yaaa?

Ruang Publik KBR
sumber: Kemenkes RI


Kemudian, tindakan nyata apa yang bisa dilakukan? 
  • Mencegah
Mencegah konsumsi rokok bagi yang belum merokok. Oleh sebab itu, kalau bisa sih anak-anak yang di bawah 15 tahun tadi, presentasi merokoknya diturunkan. Jangan sampai yang muda-muda itu merokok. Jauhkan dan hindarkan!
  •  Memperkecil akses 
Misal, rokok hanya dijual di supermarket pada box khusus. Jadi kalau mau beli rokok itu, pembelinya ditanya usianya berapa dan diminta menunjukkan kartu identitasnya. Jangan sampai ada penjual rokok di sekitar kelompok-kelompok muda ini.
  • Membantu
Membantu orang yang sudah kecanduan rokok. Jangan teruskan budaya kalau kita memberi uang pada orang bilangnya untuk membeli rokok. Bilang, untuk beli beras ya..atau apalah, hal yang lain yang bermanfaat.

Kemudian, apa yang bisa disampaikan pada perokok yang teteup kekeuh merasa dengan merokok dia sudah menyumbang pada penerimaan negara?

Sejatinya ini bisa digabungkan: sehat sekalian menyumbang penerimaan negara,. Caranya dengan berhenti merokok, lalu produktif bekerja dan jika ingin menyumbang ya bayar pajak saja. Selesai perkara!

Jadi apa yang bisa saya dan teman-teman lakukan?

Yuks... kita terlibat aktif dalam kampanye pengendalian konsumsi rokok ini!

Caranya? Mudah sajaa....

Kuy, kita serukan dengan tagar: 

#Rokokharusmahal
#Rokok50ribu

Juga, mari bantu keluarga miskin dan anak-anak untuk berhenti membeli rokok, dengan menandatangani petisi #rokokharusmahal di Change.org

#RokokHarusMahal, sebuah petisi yang ditujukan kepada pemangku kebijakan agar membuat aturan untuk pengendalian konsumsi rokok ini.

Ingat, kontribusi kecil kita, akan menetukan masa depan bangsa!😍


Dan, saya sudah menandatangani petisinya!



Salam Sehat,

Dian Restu Agustina

Sampah di Sana-Sini Jadi Penoda Keindahan Pantai di Bali


Halo Hola!

Saya dan keluarga, menggunakan kendaraan pribadi saat traveling ke Bali di bulan Juni. Karena, perjalanan ini memang sepaket dengan mudik lebaran ke tempat mertua di Madiun dan orangtua saya di Kediri. Hal ini membuat perjalanan dari Jakarta ke Bali pun enggak terlalu terasa jauhnya. Lantaran saya singgah di beberapa tempat dulu sebelumnya.

Lalu, sudah puas belum setelah 5 hari berwisata di Bali?

Beluuuuum!! πŸ˜€

Maunya datang lagi dan lagi nanti! hihihi


Digital ParenThink - Tips Mengasuh Kids Zaman Now

Launching dan Review Buku Mona Ratuliu: Digital ParenThink - Tips Mengasuh Kids Zaman Now

"Setelah lulus SD, Mima saya izinkan menggunakan smartphone. Ternyata sejak itu dia sibuk sendiri dan mulai tidak suka berkegiatan selain aktivitasnya mengutak-atik smartphonenya. Dari situ saya tahu bahwa ketika Mima memiliki smartphone sendiri, risikonya terlalu besar. Akhirnya saya mengambil keputusan untuk menghentikan penggunaan smartphone padanya dan mengganti dengan ponsel biasa..." (Mona Ratuliu)

Jlebbbb!!



Jujur saat seorang Mona Ratuliu mengatakan kalimat itu, saya merasa malu! Saya yang memiliki anak hampir sepantaran dengan Mima, putri sulung Mona, ternyata selama ini lebih memilih menyayangi anak dengan cara yang tak seharusnya. Karena, ketika anak saya mulai tergantung pada smartphone-nya, saya belum bisa setegas itu bersikap padanya. Hiks!

Maka, ketika saya bisa hadir bersama teman-teman dari Mom Blogger Community dan mendengar langsung beraneka tips dari Mona Ratuliu berkaitan dengan cara mengasuh kids zaman now, hati saya langsung merasa wow!

Alhamdulillah! Benar-benar tambah ilmu dah...

panggung di Avenue of The Stars - Lippo Mal Kemang

Ya, Mona Ratuliu, seorang artis, istri dari Indra Brasco, yang juga Ibu dari 3 putra-putri, Davina Shava Felisa (Mima), Barata Rahadian Nezar (Raka), dan Syanala Kania Salsabila (Nala), memutuskan menulis buku setelah kebingungan menjadi orangtua di tengah zaman dengan perangkat teknologi yang kian maju.

Dan, setelah sukses menerbitkan buku berjudul ParenThink pada 2015 lalu, Mona Ratuliu kini kembali menyapa orangtua dengan buku terbaru. Masih seputar pola pengasuhan, Mona menitikfokuskan bahasan pada penggunaan gadget pada anak.

Digital ParenThink
registrasi undangan

Dan, buku kedua yang bertajuk "Digital ParenThink | Tips Mengasuh Kids Zaman Now" diluncurkan dalam sebuah acara yang dihelat pada hari Kamis, 16 Agustus 2018 di Avenue of The Stars, Lippo Mall Kemang, Jakarta Selatan.

Sebuah booklaunch yang seru habiss! 

Dimulai pada sekitar pukul 3 dan berakhir pada pukul 6 sore, Mona berhasil membuka mata Ayah Bunda dan undangan yang ada untuk tidak memberikan stigma negatif lagi pada anak-anak kita.

Disampaikannya bahwa julukan generasi micin, generasi nunduk dan istilah berkonotasi negatif lainnya hendaknya jadi penyemangat orangtua untuk menyelamatkan anak-anaknya.

Karena sejatinya jika ada pendampingan dan pengarahan, dunia digital akan sangat membantu orangtua dalam proses pengasuhan.

Lippo Mall Kemang
Undangan booklaunch

Acara booklaunch ini sendiri dihadiri oleh orangtua yang penasaran akan pola asuh yang tepat berkaitan dengan penggunaan gadget. Ada pula sharing dari undangan yang berbagi pengalaman seputar Digital ParenThink. Dan, dimeriahkan juga dengan penampilan musisi remaja Rafi Sudirman dan penyanyi cilik Naura

Pokoknyaaaa, sekitar 3 jam lama durasinya sampe enggak terasa... !!

Tak hanya itu, ada pula Novita Angie dan Ersa Mayorie yang berurutan memandu booklaunch yang meriah dan bertabur hadiah ini!

Buku DigitalParenthink
Mona - Angie

Mona Ratuliu, mengawali acara dengan curhatan bahwa betapa dulu, dia pernah merasa gagal menjadi Ibu.

Whaaaat? Benarkah?

Ya, Mona pernah berada pada masa dimana anak-anaknya seharian sibuk sendiri dengan gadgetnya. Sampai-sampai menemukan juga aktivitas anaknya berselancar di dunia maya yang bikin hampir copot jantungnya.

Nah, beraneka pengalaman dan pelajaran inilah yang membuatnya merasa sayang untuk menyimpan sendiri. Hingga Mona dengan seizin keluarganya pun memutuskan membagikan ceritanya kepada seluruh keluarga Indonesia lewat buku ini.

Digital Parenthink
Mona dan keluarga


Selanjutnya, Mona juga mengatakan bahwa dirinya termasuk orangtua yang agak kewalahan mengejar perkembangan teknologi. Sebagai manusia yang pernah hidup di era sahabat pena, koleksi prangko, koleksi kaset, telepon umum, wartel, mesin ketik, dan hal ‘vintage’ lainnya, sungguh Mona merasa bingung dengan zaman ini. Begitu aku figure publik kelahiran 1982 ini. 

Kebingungan Mona beralasan, dia bimbang antara memperbolehkan anak-anaknya bersentuhan dengan gadget atau tidak. Meski pada akhirnya anak-anaknya tak bisa menghindar dari perangkat teknologi mutakhir tersebut.

Buku Digital ParenThink
buku yang sudah ditandanatngani penulisnya, beli di sini dapat goodie bag pula!

Mona bercerita, anak pertamanya, Mima, berkenalan dengan gadget sejak kelas 4 SD dan Raka sejak usia lima tahun. Sejak saat itu anak-anaknya mengalami perubahan.

Mona juga mengatakan bahwa dia melengkapi bukunya dengan pengetahuan beberapa pakar di bidangnya masing-masing. Tak ketinggalan, kisah anak-anak yang sukses memanfaatkan gadget, seperti Naura (penyanyi), Naya (pengusaha slime), Keisya (sukses jualan pastry di Instagram), hingga Rafi Sudirman (pemusik).

Jelasnya, Digital ParenThink adalah buku panduan lengkap bagi orangtua dan anak milenial, begitu ungkap Mona.

Buku Mona Ratuliu
Mona-Ersa

Dalam acara, Mona juga mengundang para narasumber yang ikut ambil bagian berbagi pengalaman dalam bukunya. Diantaranya ada Rafi Sudirman dan Mamanya.

Rafi musisi remaja yang memanfaatkan dunia digital untuk belajar sendiri bermusik dan menciptakan aransemen lagu. Merupakan salah satu bukti bahwa jika penggunaannya tepat, gadget bisa bermanfaat.

Buku Mona Ratuliu
thank you flowers

Oh ya, dalam acara yang diselingi tanya jawab seputar buku dan pengasuhan di era digital ini juga disampaikan prinsip yang dijalankan oleh keluarga Mona-Indra, diantaranya: gadget itu milik orangtua, anak hanya pinjam untuk menggunakannya.

Kemudian, ada juga kesepakatan yang dibuat antara orangtua dan anak bahwa kesempatan bermain gadget diberikan asalkan kewajiban si anak sudah dijalankan. Dan proses penulisan buku yang selama 4 bulan plus 2 bulan setelahnya untuk mempercantik kemasan agar enak dibaca siapa saja dan enggak bosenin saat dibaca

Buku Mona Ratuliu
bersama teman-teman dari Mom Blogger Community


Nah, bagi yang penasaran dengan isi buku Digital ParenThink ini, berikut reviewnya:

Judul Buku: Digital ParenThink | Tips Mengasuh Kids Zaman Now
Penulis: Mona Ratuliu
Kategori: Parenting
Penerbit: Noura Publishing
Cetakan/Terbit: 1 / Juli 2018
Jumlah Halaman: 199
ISBN: 978-602-385-513-1
Harga: Rp 69.000,00


Buku Mona Ratuliu
sampul depan buku

Buku bertema parenting bertaburan. Seminar bermateri pola pengasuhan terkini diadakan di sana sini. Diskusi masalah bagaimana mendidik anak dengan cara terkini dihelat di berbagai tempat. Belum lagi beragam penelitian dan tayangan yang bisa diakses orangtua kapan saja dan dimana saja tersaji online dengan mudahnya ditonton atau dibaca!

Lalu, buat apa sih semua itu? Ngapain juga coba, susah-susah belajar jadi ortu? Kan bisa kita contoh saja pola asuh orangtua kita yang sudah terbukti sukses membesarkan kita? Tinggal copy-paste saja...!! Mudah!

Nah, Mona, menggaris bawahi alasan adaptasi pada pola pengasuhan di pembuka bukunya.

Zaman sudah berubah! Percepatan perubahannya pun ngebut sekali sehingga mau tidak mau. orangtua zaman sekarang musti pintar-pintar beradaptasi. (hal 2)

Buku Digital ParenThink
Didiklah anak sesuai zamannya!


Lalu, Mona juga mengingatkan bahwa perbedaan cara pandang antara orangtua dan anak-anaknya kini, diantaranya disebabkan mereka berbeda generasi.

Perbedaan generasi ini akhirnya memicu perbedaan kepercayaan, keyakinan, karier, keluarga, peran gender, lingkungan pekerjaan dan lainnya.

Selanjutnya dipaparkan pula karakteristik masing-masing generasi yang masing-masing punya kelebihan dan kekurangan.

Dimana, disimpulkan bahwa dengan bergantinya zaman, maka begitu banyak hal baru yang ada di keseharian yang membuat orangtua tak boleh berhenti belajar. Karena, jika berhenti berarti akan ketinggalan zaman.

Buku Digital ParenThink
generation gap

Kemudian, Mona merunut istilah gadget  mulai dari pengertiannya dan pengaruhnya pada perkembangan anak dengan menyertakan hasil penelitian terkait juga pengalaman dari guru dan orangtua mengenai anak-anak yang terkena dampak negatif dan merasakan dampak positif.

Diantaranya disampaikan bahwa ada beberapa aspek perkembangan anak yang akan terpengaruh oleh penggunaan gadget, yakni: perkembangan motorik, fisik, moral, sosial, bahasa, identifikasi gender, neurologi dan kognitif

Sedangkan jika penggunaannya sudah overdosis maka penggunaan gadget ini akan bisa memengaruhi: kesehatan fisik (mata, text neck) dan mental (terpapar konten pornografi)

Buku Digital ParenThink
screen time rules


Selanjutnya, Mona mengupas materi dari sisi orang tua zaman now berdasar diskusi bareng psikolog Elizabeth Santosa, yang memberi istilah sebagai lazy parents!

Sebab, ortu sekarang, maunya selonjoran, main hp, ngomel, enggak mau repot, tapi pengin anaknya pinter, hebat, bertanggung jawab, .....de el el. Mana mungkin terwujud, kalau ortu enggak mau usaha! (hal 69) #tutupmuka hiks

Tak sampai di situ, buku Digital ParenThink juga mengulas tentang "Membatasi Anak Bermain Gadget, Mungkinkah?"

Dimana di bab keempat buku ini disampaikan ciri deteksi dini anak yang adiksi pada gadget. Juga beberapa ide permainan menarik yang bisa dilakukan sebagai pilihan bermain seru tanpa gadget. Dan juga, beraneka cara yang bisa dilakukan orangtua untuk membuat kesepakatan dengan anaknya terkait penggunaan gadget.

Buku Digital ParenThink
kesepakatan ortu-anak

Kemudian, buku terbitan Noura Publishing yang bertebal 199 halaman ini juga memaparkan tentang tips bagi orangtua bagaimana caranya mendidik generasi yang tangguh yang tentu harus disesuaikan dengan tipe anaknya.

Dimana Mona lewat bukunya juga mengingatkan orangtua untuk bergaul lahir batin dengan anaknya dengan cara hadir sepenuhnya, melibatkan segala raga, segenap jiwa. (hal 129)

Tak lupa, disarankan agar orangtua menemani anak eksis di media sosial. Dimana hal ini didasari akan batasan umur yang sejatinya diterapkan bagi penggunanya.

Karena dikhawatirkan anak-anak yang masih di bawah batas usia belum bisa berpikir dan bertindak bijak saat menggunakannya diantaranya: mengumbar foto, status, komentar, data pribadi, mengaskses situs kekerasan atau pornografi, menjadi korban cyberstalking atau cyberbullying dan efek kecanduan. (hal 139)

Sekalian ada Dos and Dont's bermedia sosial!

Lengkaaaap, ada!

Buku Mona Ratuliu
batas usia pengguna sosial media


Nah, uniknya buku Digital ParenThink ini juga dilengkapi curhatan beberapa anak zaman now, di bab terakhir buku dalam bahasan "Aku Kids Zaman Now"

Dimana salah satunya, ada Mima, putri sulung Mona yang menyatakan bahwa menurutnya setiap orang harus mencoba at least seminggu tanpa smartphone dan coba melakukan hobi. Enjoy the moment, ngobrol, main bareng dan banyak lain. Believe me, it's worth it! begitu ungkap Mima. (hal 165)

Lalu ada Naura yang berhasil mewujudkan mimpi menjadi seorang penyanyi. Dimana sebelumnya lewat dunia digital lah dia termotivasi, memulai karir dan bisa sukses memanfaatkannya bagi perkembangan karirnya.

Buku Mona Ratuliu
sampul belakang buku

Lain lagi cerita Naya yang bisnis slime onlinenya berawal dari modal 50 ribu yang diberikan Bundanya dan kini telah beromset puluhan juta dan berpegawai 8 orang. Woow!

Kemudian Keshia yang sukses berbisnis pastry dan berkat promosi di media sosial kini omsetnya mencapai 200-300 juta per bulan. 

Rafi Sudirman juga tak ketinggalan menceritakan bahwa lewat gadget dia bisa menimba ilmu musik hingga kini sukses menjadi salah satu musisi muda berbakat di Indonesia.

Buku Mona Ratuliu
profil penulis

Finally, di akhir buku, Mona Ratuliu menyimpulkan bahwa jika dosisnya tepat maka gadget pasti bisa berdampak positif bagi anak. Pun, dia mengajak orangtua untuk mendampingi anak-anak tumbuh dan berkembang di era digital. Dan senantiasa yakin akan hal baik yang akan terjadi pada anak-anaknya.

Hmmm, benar-benar buku Digital ParenThink merupakan panduan lengkap bagi orangtua dan anak milenial....!!

Teman-teman ingin baca juga? Dapatkan di toko-toko buku di Indonesia yaaa!


Buku Digital ParenThink
Elva, saya dan Mona Ratuliu




Selamat Membaca dan Berjuang Bagi Kesuksesan Anak-anak Kita!


Dian Restu Agustina