Kenangan Masa Kecil yang Tak Terlupakan





"Some days I wish I could go back in life, not to change anything, but to feel a few things twice"


Teman..

Kadangkala, saya pengin balik ke satu waktu saat kecil dulu, di mana masa itu sungguuuh berkesan dan tak terlupakan.

Dan rasa itu biasanya hadir saat diri lagi galau bin melow. Kok enak ya kayaknya dulu itu, yang dipikirin cuma: gimana caranya biar bisa lompat tali sampai setinggi kepala. Atau mau kemana lagi besok waktu main sepeda. Juga, besok ke sekolah rambutnya mau dikepang satu atau dua..

Ya, semua hal sederhana yang saat itu sudah bikin sangat bahagia!

Saya, meski bukan terlahir dari keluarga berada, Alhamdulillah melalui masa kecil yang menyenangkan sekali. Terlahir sebagai bungsu dari 6 bersaudara perempuan semua, meski tak berlebihan tapi hidup kami berdelapan tak kekurangan.

Kalau saya ingat lagi, Bapak yang guru, mulai dari guru SD - kepsek SD - guru SMA - pensiun kepsek SMA, menafkahi kami dengan hanya mengajar saja. Selain ngajar di sekolah negeri tempatnya bertugas, juga nyambi di sekolah swasta. Pokoknya dari pagi sampai sore hari...ngajar ke sana-sini.🙈

Ibuk, Ibu Rumah Tangga, membantu dengan berjualan kayu bakar (jaman itu masih banyak yang masak pakai kayu). Lalu ganti jualan minyak tanah dan terima pesanan jajanan/masakan.

Dan Alhamdulillah, berkat kerja keras Beliau berdua kami keenam putrinya bisa Sarjana semua...

Tapi, jangan tanya kesederhanaan kami saat itu. Tas, sepatu dan baju dibeli saat perlu. Juga printilan lain biasa dipakai turun temurun. Kalau ada buku dan peralatan yang bisa dipakai anak berikutnya berarti enggak perlu beli baru.

Lalu baju, sering dijahit Ibuk sendiri. Jadi berenam seragam kain dan modelnya. Keperluan pribadi juga sama. Misalnya pembalut, beli satu pack besar (hmm, sekarang masih ada enggak ya🙈), bedak juga beli yang refill plastik besar. Juga yang lainnya.

Pokoknya yang diutamakan adalah biaya sekolah kami, untuk yang lain musti dihemat sana-sini!

Tapi jangan kira saya merasa seperti enggak tercukupi,... Lantaran, meski kondisi kami seperti itu, Bapak Ibuk masih bisa ngajak kami jalan-jalan, jajan juga ngasih hadiah sebagai penghargaan.

Saya ingat kalau lebaran atau liburan, kami berdelapan naik bis ke rumah Budhe di Madiun, Bulik di Surabaya, Paklik di Lumajang atau pergi berwisata ke beberapa tempat di Kediri dan sekitarnya. Perginya kalau enggak naik angkutan umum ya naik mobil sewaan. Yang jelas jadwal jalan-jalan ini selalu ada...., maka jangan heran kalau saya suka jalan juga, keturunan ini kayaknya hahaha

Kemudian, tentang rumah yang kami tinggali...

Awal menikah Bapak Ibuk ikut Mbah Putri (Ibuknya Bapak yang menjadi janda sejak Mbah Kung meninggal dunia saat Bapak masih kecil). Lalu, setelah saya lahir, Bapak Ibuk beli rumah sendiri. Dulu, rumah itu hanya punya 3 kamar. Jadi satu kamar untuk Bapak Ibuk dan 2 kamar untuk kami berenam. Ukuran kamarnya 2x2,5 meter dan diisi ranjang besi bertingkat untuk bertiga. Sumpek? Enggak tuh, rasanya saat itu lapang-lapang saja...hahaha. Syukurnya satu demi satu Mbak  saya kuliah ke Surabaya, sehingga rumah agak lapang jadinya...😁

Dan, karena banyak saudara - apalagi perempuan semua, bikin saya yang terlahir paling muda jadi paling gampang kerjaannya.

Gimana enggak enak coba, mau ke sumur dah ada yang cuci baju, ke dapur dah ada 2 orang yang masak, begitu juga masalah cuci piring dan bebersih rumah...Sudah ada yang ngerjain semua.

Terus saya ngapain coba? Nyapu halaman dan nyiram bunga....saja! Eh enggak ding, juga wara-wiri disuruh ke warung beli itu ini hihihi.

Jadi tentang belanja ke warung ini ada kejadian lucu. Saat itu, saya lagi sibuk main bekel atau apa saya lupa. Terus Mbak saya manggil minta dibelikan garam atau apalah ke warung tetangga. Nah, saya pun langsung cusss..naik sepeda ke sana. Baliknya, saya lupa kalau tadi naik sepeda dan jalan kaki ke rumah dengan tanpa dosa.

Sampai agak siang, Mbak saya nanya sepeda di depan kemana ya...Lha, saya baru ingat itu sepeda parkir syantiik tadi di depan warung tetangga. Buru-buru balik ke sana, untung itu sepeda disimpenin sama yang punya warung yang keheranan ini sepeda siapa parkir di sini dari tadi hihihi. Duh, syukur waktu itu masih banyak orang jujur, coba kalau enggak dah raib tuh sepeda dibawa orang kemana.🙈

Enggak itu saja, sepertinya meski di rumah ramai tapi kami enggak pernah berantem-beranteman atau engkel-engkelan enggak jelas gitu. Yang ada kami berenam waktu sudah besar dan punya ukuran badan yang hampir sama jadi saling tukeran baju, tas atau sepatu. Bahkan sekarang kalau lagi ngumpul dan naksir baju atau tas yang dipakai langsung main kasih atau tuker aja. Meski enggak bisa lagi ke semua karena ukuran badan sudah berbeda, ada yang M, L dan XL jadi enggak bisa ngasal lagi tukerannya hahaha.

Selain pakaian dan printilan perempuan, masalah makanan juga sama. Dulu, seingat saya kalau makan, sering kami makan di wajan...What? Iya di wajan...Jadi ceritanya, Ibuk tuh kalau masak Bandeng bumbu Bali enaaaaak sekali. Nah, karena anak banyak, itu bandeng terbatas jumlahnya jadi bumbunya yang dilebihkan. Nah, daripada sayang bumbunya kebuang, kami pun naruh nasi di situ dan makan rame-rame. Wah, padahal cuma nasi sama bumbu dan cuilan ikan bandeng saja, tapi rasanya kok ya mantaaaap jiwa!

Oh ya, semua kegilaan itu biasa kami lakukan berenam plus Ibuk kadang ikut serta. Kalau Bapak? Banyakan kerja dan tidur saat tiba di rumah. Paling baca buku atau ngobrol jika perlu. Mungkin sudah capek dan berisik denger kami bertujuh perempuan ribut ngomongin ini itu ...😁

Hm...kalau diingat ternyata memang banyak happy-nya masa kecil saya. Sepertinya harta benda bukan ukuran bahagia. Karena bahagia itu bagaimana kita dan lingkungan menyikapi apa yang dimiliki dengan rasa syukur yang tiada henti.

Jujur nulis ini jadi pengingat bagi diri saya sendiri. Saya jadi bertanya-tanya, bahagiakah anak-anak saya saat ini? Karena ternyata masa kecil yang bahagia itu akan terbawa sampai kita tua dan tiada nanti.

Puji syukur tiada henti saya panjatkan atas karunia orang tua dan keluarga yang semuanya saling menyayangi dan rukun hingga kini. Sekarang, Bapak 80 tahun dan Ibuk 73 tahun, Alhamdulillah sehat dan memberi banyak teladan yang kini lebih kurangnya bisa saya terapkan saat mendidik anak-anak. Mbak-mbak saya dari dulu sampai sekarang saling menjaga, mendukung, menyayangi satu sama lain sehingga meski berjauhan saya enggak merasa sendirian.

Alhamdulillah untuk semua...

Kini doa saya semoga juga bisa memberikan kebahagiaan yang sama bahkan lebih untuk kedua anak saya. Aamiin

Nah, kalau teman-teman bagaimana? Punya masa kecil yang bahagia atau sebaliknya. Bahagia atau tidak semoga kita bisa mengambil hikmahnya ya!

Insya Allah!😍


ultah nikah emas Bapak Ibu pada tahun 2013




Salam bahagia,

Dain Restu Agustina





















9 comments:

  1. Kalau sekarang ninggal sepeda di depan warung begitu. Bisa ilang dalam sekejap. Ditinggal beli aja bisa ilang, apalagi ditinggal pulang.

    ReplyDelete
  2. Haha iya mbak, enaknya punya saudara perempuan gitu, apalagi klu yg sebodi baju, tas, sendal dan perintilan lainnya bisa saling tukar gitu. Saya juga bersaudara, perempuan semua

    Wah meski bersaudara perempuan semua tp setelah berkeluarga keturunannya kebanyakan laki2 ya😅

    ReplyDelete
  3. Aduh mbak bayanginnya enak banget berenam cewe semua mana yg paling bungsu lagi..tapi ada fase rebutan remote ga mbak? Kok saya ada ya..hehehe..semoga kompak selalu yaaa keluarga besar ini..saya bertiga cewe semua aja adaaaa aja yg bkin berantem dlu.

    ReplyDelete
  4. Wah seru banget sodaranya 6 semuanya cewe, jadi partner semua saling jaga dan bantu. Semoga semuanya selalu asa dalam kebahagiaan

    ReplyDelete
  5. Alhamdulillah mba, biarpun hidup pas-pasan tapi saya pun bahagia ketika kecil. Tapi ada pertanyaan sekaligus pernyataan mba yg jleb banget. Apakah anak-anak saya bahagia saat ini? Huhu...jgn2 mereka g bahagia krn emaknya sering ngomel. Padahal tiap kenangan di masa kecil akan sangat diingat sampai kita dewasa.

    ReplyDelete
  6. Dulu mah main bekel sama galaksin, alhamdulillah indah masa kecil saya. kalau main sepeda di parkir depan warung, sekarang udah digondol ya, Mba😅

    ReplyDelete
  7. Wah rame ya Mbak Dian, satu rumah 7 orang perempuan. Pasti kangen suasana masa lalu yang begitu ramai.
    Saya dulu juga suka main bekel, congklak...����

    ReplyDelete
  8. Kalau lihat foto masa kecil lucu dan bikin ngakak terus ya. Aku juga merasa lucu melihat foto sendiri.

    ReplyDelete
  9. Saya udah nebak di foto awal kalo Mbak Dian tuh yg dikucir dua :)
    Duh, baca ini kok ya saya mellow. Kangen juga dengan masa lalu. Alhamdulillah, keluarga kami pun berbahagia walaupun sederhana. Memang, kebahagiaan anak akan berefek pada masa remaja sampai tuanya. Biasanya jdi gak neko2 karena sudah cukup kasih sayang.
    Salam hormat untuk Bapak dan Ibu-nya Mbak Dian yg sudah mendidik anak2 hebat :)

    ReplyDelete