7 Persiapan Sebelum Anak Dikhitan





"Buk, Aku Mau Khitan...!"


"Buk, libur Desember nanti aku mau sunat (khitan)"
"Serius?"
"Iyaa....cuma aku yang belum sunat lho..temanku udah semua"
"Beneran mau sunat nanti Desember? Di Jakarta apa di Kediri?"
"Di Kediri aja Buk, sama kayak Mas dulu.."

Itulah percakapan saya dengan si bungsu pertengahan tahun lalu. Waktu itu dia baru pulang dari rumah temannya karena diundang tasyakuran khitan. Dan sesampainya di rumah dia pun mengutarakan keinginannya.

Saya pun menyampaikan ke suami dan setelah berdiskusi kami pun berniat memenuhi permintaannya: khitan di Kediri bulan Desember nanti.

Tapi ternyata rencana tak semulus yang saya kira. Karena khitan si Adik kali ini sungguh berbeda dengan khitan Mas-nya. 

Penuh drama!!

Nangis saat tidur (puls ngelindur) -tiap malam- sampai hari kelima, jalan rada-rada sampai berhari-hari dan menolak untuk berkegiatan padahal sejatinya sudah baikan dan entah kenapa jadi manja sekali. Hiks

Hm..saya pun mengevaluasi diri, jangan-jangan karena saya kurang persiapan ya? Merasa sudah mengkhitankan anak kedua kalinya jadi saya leha-leha dan santai saja. Padahal beda metode ternyata beda perawatannya. Dan ada banyak faktor seperti fisik dan psikis si anak yang ikut mempengaruhinya.

Duh!!


Sahabat Khitan Kediri
bersama Dokter Tegar dari Sahabat Khitan Kediri

Persiapan Berkhitan


Jadi sebenarnya apa saja yang musti dipersiapkan sebelum anak berkhitan?

1. Siapkan Mental Anak

(Ini tidak berlaku jika khitan dilakukan waktu bayi atau anak memang pada usia yang belum mengerti)

Nah, karena si Adik berusia 9 tahun saat berkhitan, dan dia sendiri yang "minta", maka saya anggap sama seperti saat Mas-nya, dia sudah siap sedia.

Ternyata oh ternyata saya belum sounding lagi dan lagi kalau khitan itu begitu dan begini. Akhirnya menjelang hari H dia sepertinya sedikit ragu lagi. Dia nanya sama sepupu-sepupunya khitan itu sakit enggak, metodenya apa dan lainnya. Dia juga kepo apa yang dilakukan dokter nanti terus berapa hari baru boleh pergi..dst..dll.

Saya waktu itu, sempat ragu dan nanya ke dia lagi:

"Jadi kan mau khitan sekarang, Dik?"
"Iya, Buk..jadi"

Moral of the story: dari niatan, ulangi lagi dan lagi sampai menjelang hari H bahwa hukum khitan menurut Islam itu apa, nanti diapain saja, setelahnya boleh ini enggak boleh itu dulu, dan semua info terkaitnya. Jangan bosan mengulang, karena kalau cuma sekali dua dikasih tahunya dia bisa lupa akhirnya terjadilah drama korea!🙈


2. Pertimbangkan Metodenya

Saat ini metode khitan banyak sekali. Semua ada lebih kurangnya. Yang paling utama jika berkhitan ke dokter biasanya akan disesuaikan dengan kondisi si anak. Metode tertentu bisa jadi cocok untuk si A tapi belum tentu sesuai dengan si B.

Nah, jaman anak sulung saya yang khitan saat usia 10 tahun, dokter menyarankan metode smart klem. 

Salahnya yang saya sounding ke adiknya hanya metode ini saja dan menjanjikan ke dokter yang sama. Tapi, rencana tinggal rencana, dokter di Rumah Khitan yang dekat tempat tinggal Orang Tua saya ini ternyata tutup selama libur Desember kemarin karena Beliau pergi umroh. Duh..akhirnya, kakak saya mendaftarkan ke Rumah Khitan lainnya dengan dokter yang berbeda.

Saat di Kediri, si Adik yang sudah membayangkan tempat dan metode yang sama dengan kakaknya sempat nanya juga. Meski sesudah dijelaskan dia bisa paham.

Cuma imbasnya: dia jadi nanya mulu, bandingin metode ini itu...Dan saya sendiri yang merasa enak-enakan dengan perawatan metode jaman Mas-nya jadi kaget juga karena perawatan pasca khitan-nya, karena enggak sama metodenya, jadi berbeda.

So, the point is: pelajari dan pilih metode terbaik sesuai saran dari ahli!

Dataran Tinggi Dieng
Yeaay, aku sudah khitan!



3. Tanyakan Detilnya

Sebelum hari H biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan awal untuk melihat kondisi fisik si anak. Nah, di sini tanyakan apa saja yang berkaitan dengan khitan yang mengganjal di hati kita. 

Baik tentang metode, kelebihan dan kekurangan, perawatan pasca khitan juga yang utama apa saja yang musti dipersiapkan saat hari H tiba.

Saya yang sebelumnya sudah kontak dengan dokternya lewat aplikasi WA nanya-nanya juga karena saat itu posisi masih di Jakarta dan belum sampai ke Kediri.

Alhamdulillah dokternya baik dan membantu sekali. 

Tapi...ternyata saya enggak kepikiran kalau beda metode beda penanganan pasca khitan. Dengan metode yang berbeda dengan kakaknya, si Adik jadi lain penanganannya. Nah, saya terlanjur sounding ke anaknya metode penanganan si kakak.

Tahu sendiri kan, kalau anak sekarang banyak pertanyaan...Kalau pun enggak puas dia bakal googling sendiri cari jawaban hihihi

Dan akhirnya, saya pasca hari H jadi musti jawab lagi dan lagi kenapa begitu dan kenapa begini...Maka, nanti siap-siap stok ekstra sabar saat anak dikhitan ya Buuibuu..!😁


4. Sediakan Waktunya

Saya dan suami selalu mengambil masa libur sekolah untuk mengkhitankan anak-anak kami. Pertimbangannya tentu agar tidak mengganggu kegiatan belajarnya. Lagian saat libur jeda waktu cukup untuk persiapan, hari H khitan dan perawatan pasca khitan.

Tapi...sounding jauh-jauh hari juga ke si anak, ini berarti saat libur karena khitan dia sementara belum boleh pergi-pergi. Nah, karena si Adik kemarin saya khitan di rumah Mbahnya di Kediri maka di saat yang sama sepupunya yang juga sedang liburan rombongan jalan-jalan dan pergi berenang. Sementara yang khitan cuma stay di rumah saja. Alhasil, dia pun protes dan ngungkit-ngungkit kalau belum liburan.

Jadilah pas jalan pulang ke Jakarta kami sempatkan liburan dadakan ke Dataran Tinggi Dieng biar dia enggak complaint lagi.

Anak senang, Emak tenang!😍


Dataran Tinggi Dieng
yang sunat pengin yang hangat



5. Selalu Ada di Sampingnya

Drama di Adik dimulai sesampai di rumah saat obat biusnya habis dan membuat dia jejeritan merasakan keanehan, katanya sih perih, gatal atau apalah (you know, karena saya perempuan enggak pernah merasakan dong apa yang dia rasakan). Belum lagi lihat bagian yang dikhitan masih ada sisa darah yang mengental....Tambah kenceeeng dah nangisnya.

Di sini saya jadi menarik kesimpulan, pantesan di beberapa suku, misalnya Sunda dan Betawi rata-rata anak laki-laki dikhitan saat bayi. Saya enggak akan ngomongin manfaat medisnya karena kurang mengerti. Tapi logikannya makin kecil anak kan belum ngerti mengapa begitu mengapa begini. Jadi kemunginan ada drama, kecil kayaknya, karena bayi bisanya kan cuma nangis saja.

Sementara di suku Jawa, umumnya anak dikhitan saat  pra-remaja. Ponakan saya semua khitan saat lulus SD atau sudah SMP. Jadi mereka lebih siap secara psikologis sehingga enggak cengeng lagi.

Maka, enggak heran usia si Adik yang 9 tahun itu tanggung. Diajak ngomong belum semua bisa dicernanya, nangis-nangis juga masih ada. Jadi ya gitu deh...sunatnya pun jadi ada drama.

Jadi, tepatnya usia berapa khitan itu ya?

Kalau dari pengalaman saya, kalau mau masih kecil saja sekalian atau saat jelang remaja. Di usia tanggung boleh saja asal si anak sudah disiapkan kondisinya terutama sisi psikis untuk mengantisipasi ketidaksiapan dia sejak dini.

Nah, berapapun usianya, anak butuh didampingi di saat pentingnya ini. Jadi lebih baik Ayah dan Ibu bergantian ada di sisinya tertama saat hari H dan saat perawatan pasca khitannya. Sehingga dia merasa ada dukungan penuh dari kita. Kalau perlu siapkan dulu hadiah istimewa untuk menghibur hatinya.

Seperti di dokter tempat anak saya khitan kemarin, setelah khitan anak langsung dihadiahi mobil-mobilan. Paling tidak ini untuk mengalihkan rasa tidak nyamannya pasca dikhitan.


6. Siapkan Anggaran

Biaya khitan bervariasi tergantung metodenya. Kami memilih mengkhitankan anak-anak di Kediri karena setiap libur sekolah kami memang selalu pulang kampung ke Madiun (Ibu Mertua saya) dan ke Kediri (Orang Tua saya). Di Kediri, sepupunya enggak beda jauh usianya dan banyak kerabat juga tinggal di sini. Jadi banyak saudara datang menghibur hingga yang khitan jadi senang hati.

Biaya khitan di Rumah Khitan di Kediri di kisaran 1 juta-2,5 juta. Tidak beda jauh dengan di Jakarta. Dan karena saya dan suami memang berniat tidak bikin hajatan maka tidak ada undang-mengundang. Ibu saya hanya membuatkan selamatan saja (nasi brokohan) saat hari H tiba untuk dimakan bersama saudara.


7. Doa Terbaik Untuknya

Last but not least, semua tips di atas tentu sebagai hamba-Nya musti diawali dengan doa. Pastikan kita orang tua siap lahir batin, jiwa raga, berserah pada Allah Azza Wa Jalla, akan mengkhitankan anak kita. Sehingga Insya Allah semua proses akan berjalan dengan lancar jaya.

Alhamdulillah Dokter Tegar dari Sahabat Khitan Kediri juga memberikan nasihat sebelum, saat hari H dan saat kami datang untuk kontrol pasca perawatan. Diantaranya:

"Dik, kalau laki-laki sakitnya bisa dibilang cuma sekali lho..ya saat khitan ini. Coba tanya sama Ibuknya, perempuan itu berkali-kali lho sakitnya. Karena setiap menstruasi dan terutama saat melahirkan perempuan itu kesakitan."

(Si Adik manggut-manggut - Si Ibuk mesem-mesem seneng..)


Candi Arjuna Dieng
yang khitan sudah segeer bener diajak liburan


Nah, teman-teman yang punya anak laki-laki dan belum dikhitan, itulah tadi beberapa tips yang bisa jadi pertimbangan. Mungkin ada yang punya pengalaman atau tips tambahan saat mengkhitankan putra tercinta? Silakan bagi di kolom komentar ya....

Terima kasih sudah membaca dan semoga bermanfaat informasinya!



Happy Parenting


Dian Restu Agustina





56 comments:

  1. wuaaaa aku kok jd deg2an ya.. tp anak laki ku kalau denger kata sunat malah jadi takut, karena sering ditakutin sama tantenya, kalau ngompol nanti disunat ya dipotong -_-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aduh ..jangan mbak, nanti jadi dah sugesti kalau sunat sakit. Luruskan dulu arti dan tujuannya ya..sejak dini. Teman anakku, semua keluarga sudah kumpul, batal karena anaknya pas di klinik jejeritan enggak karuan dan enggak mau sama sekali. Jadi pulang dah. Batal!

      Delete
  2. Ini manfaat banget mbak Dian, anak saya tuh bolak balik nanya kapan dia disunat.
    Emak sampai bosan jawabnya.
    Anak saya baru 8 tahun sih, kayaknya makin drama juga tuh, dia ga kuat sakit soalnya.

    Mungkin tahun depan deh baru sunat.
    Duh mamaknya deg2an :'D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siyap-siyaaap.
      Tapi tiap-tiap anak berbeda sih Mbak Rey. Semoga Darrel termasuk tipe yang no drama yaaa:)

      Delete
  3. Iya mba, rerata klo di jawa itu praremaja ya khitannya, mau nangis atau rewel juga malu. Anakku cewe nih, dua keponakanku cowo usia 8&6 tahun, kemungkinan bentar lagi khitan, sip infonya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak..kalau di Jawa agak gedean, jadi mau nangis gengsi hihihi

      Delete
  4. Wah aku udah lewat masa ini hehehe soalna anakku yang laki pas bayi kemarin usia 6 bulan alhamdulilah no drama makanya klo aku pribadi mending pas Bayi deh :D

    ReplyDelete
  5. Wah, tips bagus. Saya juga masih aisa 1 nih. Semoga ga ada drama apa2. Dan anaknya happy2 aja. Ilmu nih

    ReplyDelete
  6. Keponakan cowok khitannya juga di kampung halaman, kata ibu bapaknya lebih seru di kampung, hehehe.
    Kalau di Yogya sini ada kampung yang terkenal sebagai tempat sunat, Bogem. Tetap laku walau ada sunat modern.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak..ponakannu dari pihak suami semua di Bogem. Kalau di keluargaku ke dokter semua heheh

      Delete
  7. Kita sebagai emak Hampir selalu menyamakan kondisi anak. Padahal anak mempunyai sifat berbeda-beda. Ini juga sering saya lakukan pada anak-anak saya yang kebetulan cowok semuanya.
    Berguna sekali untuk saya karena yang kecil juga belum Sunat, biar tidak ada drama korea mantuk ya...😊😊😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bener bangets..perasaan mereka sama, padahal beda orang ya...Emak-emak jadi kena drama deh

      Delete
  8. Baca pengalaman mbak Dian bikin jadi deg-degan ya. Saya juga punya anak laki-laki. Sekarang usianya masih tiga tahun. Beberapa tahun kedepan akan melalui hal serupa seperti anandanya mbak Dian. Sharingnya bermanfaat mbak buat referensi :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Insya Allah enggak apa-apa Mbak..sounding aja jauh-jauh hari

      Delete
  9. Anakku dua laki-laki udah gak sabar denger mereka minta dikhitan, selama ini ditanya pasti geleng-geleng dia. Terima kasih mba sharingnya bermanfaat sekali untuk saya ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. SAma-sama Mbak..Memang lebih baik anak yang minta jadi sudah siap dia

      Delete
  10. Waaa aku belom punya anak cowo..deg2an banget rasanya liat anak persiapan mau di khitan gitu...

    ReplyDelete
  11. Wah aku ikut ngerasa ngilu jadinya. Mba Dia itu proses penyembuhannya berapa lama atau tergantung keadaan anaknya? Wah kebayang ya dramanya apalagi ibunya yang kudu stok sabar banget ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenarnya sama waktunya, cuma si Adik ini rada-rada...hahaha. Beda sama Masnya yang lebih mandiri di usia yang sama. Mungkin karena enggak punya adik dia

      Delete
  12. hmm, Ini juga sering saya lakukan pada anak-anak saya yang kebetulan cowok semuanya.
    Berguna sekali untuk saya karena yang kecil juga belum Sunat, biar tidak ada drama korea mantuk ya...������

    ReplyDelete
  13. wah pinter udah berani di khitan. usia nya berapa bun?
    sembuhnya berapa lama bun? aku jadi deg2an punya anak cowo juga. hehe..

    ReplyDelete
  14. Iya, banyak banget metode sunnat yang semakin hari semakin "nggak" terasa sakit seperti dulu. yang paling banyak itu sunnat laser.

    Ingat waktu si kecil sunnat, waktu disuntikkan obatnya, ihhh semua orang ditendangi. ahhhhh

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, ini sunat laser mbak
      ini juga dipegangi kakinya ,mbak kwkwk

      Delete
  15. pas ini buat kakak aku tulisannya hehe, dia punya anak cowo juga belum sunat. Galau terus mau sunatan kapan heu. Makasih bun sharingnya, nanti saya kasih tau tulisan ini ke dia, biar persiapan dulu hehe. sip.

    ReplyDelete
  16. Alhamdulillah anak sholeh, anak pinter. Sama ya mba sekitar 2 jutaan juga. Btw nasi brokohan itu apa? Nasi besek?

    ReplyDelete
  17. Tinggal satu anak nih yang belum khitan. Sounding sejak tahun-tahun lalu. Mudah-mudahan tahun bisa anaknya sudah siap.

    ReplyDelete
  18. musim liburan, musim khitanan, gak terhitung udah berapa undangan di liburan ini.
    Di tempat saya, ada anak yg pas mau khitan melarikan diri (kebetulan khitan massal) antara lucu dan kasian.
    Kasihan, karena anak2 yg takut dikhitan ini sebelumnya ditakut-takuti. Seneng banget kalau nemu bocah yang udah siap dan tangguh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak..kasihan kalau ditakut-takuti begitu, trauma jadinya

      Delete
  19. Keponakanku juga udah minta disunat. Dan info ini penting banget buatku karena keponakanku itu udah kayak anakku sendiri. Terimakasih tipsnya, Mbak Dian.

    ReplyDelete
  20. Bekal banget nih buay aku yg pnya anak laki2 meski bbru setahunan mba. Dulu ga kepikiran khitan sejak kecik, yawis sekalian nnti usia tanggung lah 😅 aku blm ada ilmu sama sekali soal ini tp jd tercerahkan 😍

    ReplyDelete
  21. Kedua putraku sudah disunat beberapa tahun yang lalu. Si sulung saat berumur 7 tahun dan si nomor dua saat berumur 12 tahun. Alhamdulillah, semuanya lancar dengan menerapkan beberapa tips sebagaimana disebutkan di atas.

    ReplyDelete
  22. Anakku 8 tahun udah mulai minta khitan karena teman2nya udah banyak yg khitan. Tapi kok rasanya aku belum siap dg segala drama yg ada. Kayanya yg butuh persiapan mental bukan anaknya tapi ibuknya juga :))

    ReplyDelete
  23. Baiknya...sudah menyediakan hadiah mobil2an bagi anak yg dikhitan. Setidaknya anak senang dan menjadi salah satu kenangan manisnya. Btw...saya jadi mikir gimana nanti kalau anak saya khitan. Bener, enak saat liburan sekolah biar masa penyembuhan di rumah saja. Aman

    ReplyDelete
    Replies
    1. seneng banget mbak dapat mainan...hehehe
      iya pas liburan aja, aman

      Delete
  24. Duh aku nih dari Rayyan bayi masih galau sampai sekarang nggak sanggup lihat dia di khitan. Lagi nyiapin mental banget hahah. Penuh drama banget pasti ya mbak ...

    ReplyDelete
  25. Tadinya si Najib udah mau dikhitan. Dia kan pernah ISK, Mbak. Diduga karena ada sumbatan di "itu"nya. Tapi setelah gejala itu nggak terjadi lagi, aku jadi malah belum merencanakan lagi. Penginnya agak gedean gitu, ya paling nggak seumuran Mas gitu. Tapi mulai sekarang aku malah dah sounding. Pokoknya agak gedean sedikit adik di-khitan. Tapi kalau badannya panas karena "itu"nya sakit ya langsung khitan ya. Dianya hooh hooh aja. Katanya enak nanti duitnya banyak. Matengane, ajarane sepupu-sepupune iki. Wkwkwkwkwk

    ReplyDelete
  26. Alhamdulillah, selamat mbak dian udah melakukan salah satu kewajiban orang tua kepada anak laki=lakinya. Dulu Yuan disunat usia 18 bulan karena ISK mbak. Kepikiran Aylan aja nih, mudah2an dua tahun nanti dia bisa disunat deh. Lebih sehat juga

    ReplyDelete
  27. Aku belum kebayang nih kalau punya anak cowok terus di khitan bakalan gimana. Tapi makasih mbak sharingnya. Jadi ilmu buatku nanti kalau punya anak cowok.

    ReplyDelete
  28. Jalan-jalan dimana ini Mba? Kelihatannya seru dan hawanya dingin. Sehat selalu ya buat anaknya.

    ReplyDelete
  29. Salah satu yang bikin lega kalau punya anak laki-laki adalah saat udah selesai dikhitan hehehe. Waktu anak saya dikhitan juga sempat ada drama. Tapi, lebih karena kesalahan dokternya yang kayaknya terburu-buru. Baru aja selesai disuntik bius udah langsung 'dikerjain'. Padahal biasanya kalau dibius kan tunggu beberapa saat dulu sampai terasa kebal kulitnya. Jadi, aja anak saya langsung menjerit dan ngamuk. Padahal pas disuntik bius dia gak nangis sama sekali

    ReplyDelete
  30. waaaaa yang dikhitan langsung semangatttt ya Bun diajakin liburan! Selamatttt uda gedeee nihh, makin rajin sholat, makin sayang sama Ayah Bunda

    ReplyDelete
  31. artikel ini mengingatkan itu kalo anakku yg sekarang masih balita nantinya juga akan beranjak dewasa dan harus dikhitan.. dan waktu berlalu sangat cepat, tau2 dia nanti udah gede aja, berasa kayak baru kemarin nyanyi cicak2 di dinding bareng dia..

    ReplyDelete
  32. well noted semua mba Dii, salam ke dede ya mba. Aku sedikit manggut-manggut nih pas bacanya karena baru ngeh dengan penjabaran semuanya, karena adik kandung juga lingkungan yang banyak perempuannya hehe

    ReplyDelete
  33. Khitan anak pertama dulu Saya cuma persiapan mental si anak dan biaya. Lainnya Saya pasrah ayahnya. Tapi untuk anak kedua musti Saya persiapkan semuanya. Makasih sharing tipsnya, sangat bermanfaat :)

    ReplyDelete
  34. Anak saya perempuan semua sih... Tapi liburan kemarin, keponakan saya yang laki-laki juga dikhitan dan memang persiapannya heboh banget ya... Kakak saya sampai bikin hajatan 2x. Tapi tiap orang tua mungkin punya cara yang beda untuk "ngeramein" acara khitan anaknya sih,hehe

    ReplyDelete
  35. Jadi ingat sama ponakan yang mengambil kesempatan dalam kesempitan, pas dikhitan karena semua dituruti dan Dimanja akhirnya keenakan udah sembuh pun masih bilang sakit wkwkwkwk.
    Di Jawa memang SMP biasanya baru khitan ya mbak, di Riau anak-anak umur 9 tahunan biasanya memang sudah mulai khitan. Ni si Sulung juga udah ngorder dari sekarang kalau udah kelas 3 mau khitan. Emaknya yang gak yakin....

    ReplyDelete