NOKEN ~ Warisan Budaya Takbenda Dunia dari Papua



"We are all different, which is great! Because we are all unique and without diversity life would be very boring"

Halo Hola!

Bagaimana awal tahunnya? Semoga semangat masih 100% membara untuk mencapai segala cita-cita ya....

Nah, mengawali tahun ini, saya masih membayar hutang postingan yang seharusnya dituliskan tahun lalu. Berhubung Desember kemarin saya benar-benar hectic, jadi artikel ini baru ditulis di Januari. Hiks!

Tapi, enggak apa-apa, daripada liputannya saya simpan sendiri, lebih baik dibagikan di sini. Karena materinya memang kereeen sekali.

Baiklah, masih dari acara Pekan Warisan Budaya Takbenda Indonesia (Intangible Cultural Heritage) yang berlangsung pada 28 November 2018 sampai dengan 2 Desember 2018 di Museum Nasional Jakarta.


Warisan Budaya Takbenda Indonesia
para pembicara pada Seminar Keris dan Noken

Sebuah acara yang diselenggarakan oleh Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya Dirjen Kemendikbud bekerjasama dengan Museum Nasional. Di mana saya menghadiri Workshop Tari Saman pada sesi pagi, kemudian dilanjutkan Seminar Keris dan Seminar Noken di siang dan sore hari. 

Dan...ini dia cerita tentang Noken - Warisan Budaya Takbenda dari Papua yang disampaikan oleh pemateri Bapak DR. Yophie Septiady, ST, MSI. Seorang pengajar dari Universitas Indonesia, penulis buku, peneliti dan tim ahli Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Warisan Budaya Benda dan Takbenda


Tapi...

Sebelumnya kita bahas dulu kedua istilah itu. Berikut saya sadur dari website Kemendikbud:

Kedua frasa di atas adalah terjemahan yang umum dipakai untuk istilah dalam bahasa Inggris tangible heritage dan intangible heritage.

Untuk menerjemahkan kata heritage, sebelumnya umum digunakan kata benda cagar budaya (BCB), misalnya bisa kita lihat pada judul Undang-undang No. 5/1992 tentang Benda Cagar Budaya. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang, misalnya, bagaimana dengan pantun? Syair? Tari-tarian? Jelas-jelas merupakan warisan budaya yang penting, namun di mana aspek 'kebendaan'-nya? Apakah merupakan bagian dari entitas yang dilindungi dalam Benda Cagar Budaya?

Oleh karena itu digunakan istilah yang lain, ialah Warisan Budaya yang dibedakan menjadi:

Warisan budaya benda adalah warisan budaya yang bisa diindera dengan mata dan tangan, misalnya berbagai artefak atau situs yang ada di sekitar kita. Termasuk di dalamnya tentu saja misalnya candi-candi dan arsitektur kuno lainnya, sebilah keris, gerabah/keramik, sebuah kawasan, dll.

Warisan budaya takbenda, merupakan warisan budaya yang tak bisa diindera dengan mata dan tangan, namun jelas-jelas ada di sekitar kita.


sumber: CNN Indonesia


Lalu, bagaimana kita akan menggolongkan musik-musik Nusantara, misalnya? Alat musiknya jelas-jelas merupakan benda cagar budaya, barangkali. Namun bagaimana dengan komposisi bunyinya? Bagaimana dengan khasanah nilai yang terdapat di dalamnya? Hal ini tentu merupakan sebuah warisan budaya yang hanya bisa diindera dengan telinga dan akal budi.

Juga. bagaimana halnya dengan batik, keris dan wayang, yang mendapat pengakuan sebagai warisan budaya takbenda dari UNESCO?

Sementara setiap batik kuno, keris kuno, dan wayang kuno tentu saja merupakan kategori warisan budaya benda, tak setiap helai batik atau sebilah keris wayang dan selembar wayang merupakan BCB, benar kan? Namun tetap saja ada nilai-nilai budaya yang melekat dalam setiap helai batik/wayang/keris.

Dalam batik, tak hanya sekedar mengenai proses dari membuat pola di atas selembar kain berwarna putih kemudian digambar dengan lilin dan dicelup ke dalam pewarna hingga selesai, namun ada banyak pengetahuan yang terjalin di dalamnya: sejarahnya, persebarannya di seluruh Nusantara, motif yang bermacam-macam, dst,

Dalam keris, tak hanya sekedar mengenai sebuah senjata penusuk (dagger) yang memiliki wilayah persebaran hingga ke luar wilayah Indonesia, namun juga ada teknik-teknik khusus dalam membuat sebilah keris (bukan hanya sekedar menempa sebilah besi) serta nilai-nilai penghargaan dalam tiap bilah keris yang dianut secara umum oleh kebudayaan-kebudayaan lokal di seluruh Nusantara.

Dalam wayang, bukan hanya sekedar seperangkat boneka dari kulit (atau kayu), namun juga ada berbagai cerita, pakem, gending, dan lain-lain, yang masih hidup hingga saat ini.

Singkatnya, batik, keris dan wayang diakui sebagai warisan dunia oleh UNESCO bukan karena wujud fisiknya, melainkan karena nilai-nilainya. Nilai-nilai dalam batik, keris dan wayang masih hidup hingga kini dalam bangsa kita, para pewaris budaya Nusantara.

Noken dan Papua


Nah, sebelum mengulik Noken sebagai Warisan Budaya Takbenda yang diakui oleh UNESCO pada 2012 silam, yuks...kita bicara dulu tentang Papua yaa.

Ya, Papua yang merupakan salah satu pulau di Indonesia yang mempunyai sekitar 250 kelompok suku bangsa dengan 300 bahasa lokal yang ada. Di mana pada umumnya, masyarakat Papua hidup sederhana dengan memanfaatkan unsur alam sekitarnya secara tradisional. 

Dan, salah satu karya budaya yang memanfaatkan unsur alam itu adalah NOKEN.

Noken Papua
Apa itu Noken?

Karena beragamnya bahasa daerah yang ada, maka istilah Noken pun disebut secara berbeda-beda oleh masing-masing suku bangsa. Misalnya: 
  • Su menurut bahasa suku Hugula
  • Jum dalam bahasa suku Dani
  • Sum menurut suku Yali
  • Inokenson atau Inoken menurut suku Biak
  • Agiya diucapkan oleh suku Mee
  • Ese disebut oleh suku Asmat
  • Dump sebutan dari suku Irarutu
  • Rotang/Aderi/Kaketa menurut suku Serui
  • Kangke/Koroboi sebutan dari Suku Tabi/Sentani
  • Eyu/Yuta menurut suku Ayamaru/Maybrat, Ayvat
  • Qya qsi, Qya quer, Iquiyabos begitu disebut oleh suku Tehit
  • Kwok menurut suku Moi
  • Naya sebutan dari suku Moli

Wowwww!! Banyak sekaliiii!

Nah, persebaran Noken ini di beberapa daerah di Pulau Papua yakni: Provinsi Papua (Jayapura, Paniai, Wamena, Merauke, Biak, Nabire) serta Provinsi Papua Barat (Sorong, Manokwari, Bintuni)

Sejarah Noken


Noken Papua
DR Yophie Septiady, ST, MSI

Sampai saat ini, menurut Pak Yophie, belum diketahui secara pasti mengenai sejarah Noken ini. Tapi menurut beragam kegunaan dan fungsi dalam upacara adat maupun pemakaian di keseharian, dapat diperkirakan Noken telah dikenal masyarakat Papua sejak kurun waktu yang lama. 

Banyak informasi menyebutkan bahwa sejak dulu Noken juga digunakan untuk berbagai keperluan sehari-hari. 

Sementara jenis Noken menurut fungsinya terbagi menjadi dua:

⟹ Noken yang berukuran besar biasa dipakai untuk membawa hasil kebun, hasil laut, kayu, bayi, hewan kecil, belanjaan dan digantung di rumah sebagai wadah menyimpan barang atau sebagai "almari" makanan.

⟹ Noken yang berukuran kecil dipakai untuk membawa barang pribadi seperti uang, sirih, makanan, buku dan lainnya. 

Pembuatan Noken


Warisan Budaya Takbenda
perempuan Papua sedang membuat Noken


Sedangkan untuk bahan baku Noken, bermacam-macam tergantung tempat suku itu berada. Yang tinggal di pedalaman memakai bahan serat pohon, kulit kayu (melinjo) dan akar pohon yang dirajut. Sementara suku yang tinggal di pantai akan memakai daun pandan laut yang dianyam.

Kemudian, proses pengolahan untuk mendapatkan kulit kayu sendiri termasuk rumit dan butuh waktu. 

Pohon paling tidak harus berusia 1-3 tahun. Setelah pohon ditebang dan dibersihkan ranting, daun dan dipotong bagian pucuk pohon maka kulit bisa dipisahkan dari batangnya. Setelahnya dilakukan perendaman kulit kayu dan serat pohon  serta pengeringannya. Dan, akhirnya siaplah bahan dan para "mama-mama" pun segera merajutnya.

Tak heran jika harga Noken itu jutaan yaaa!!

Selanjutnya, bentuk, pola dan warna Noken dibuat oleh masing-masing suku di Papua. Sehingga menunjukkan keanekaragaman budaya yang ada. Noken merupakan identitas budaya masyarakat Papua secara keseluruhan. Noken yang dipakai seseorang bisa menunjukkan daerah asalnya. Juga kepala suku kadangkala memakai Noken dengan pola dan hiasan khusus untuk menunjukkan status sosial pada orang yang memahaminya.

Warisan Budaya Takbenda
Pembuatan Noken


Fungsi Noken


* Fungsi Noken terhadap tubuh

Noken berfungsi sebagai penghangat tubuh, pakaian dan penutup kepala atau topi dan perhiasan tubuh - seperti digunakan selayaknya tas.


* Noken adalah life-cycle suku-suku di Papua

Noken digunakan sebagai "mahar" dalam pernikahan, membawa bayi, penyimpan benda pusaka dan investasi anak (saat butuh biaya sekolah anak, dll bisa dijual)


* Noken dan Pendidikan anak di Papua

Dalam tradisi orang Papua, anak yang mulai berjalan diberi Noken ukuran kecil oleh ibunya yang berisi makanan seperti ubi. Sehingga membentuk kebiasaan bagi anak untuk membawa keperluannya sendiri atau untuk membantu sesama saudara atau temannya. Dan untuk membentuk kebiasaan itu, maka Noken selalu ada di dekat anak-anak Papua.


* Noken sebagai simbol kesuburan perempuan Papua

Filosofi ini identik dengan bentuk dan sifat elastis Noken yang dapat menyesuaikan dengan apa yang dibawanya seperti kandungan perempuan yang mengandung janin kecil hingga tumbuh besar dan siap dilahirkan.

Selain itu, pada masa lalu, saat menginjak akil balik, seorang gadis harus dapat merajut Noken. Jadi Noken dipakai sebagai penanda bahwa gadis itu telah menginjak masa usia subur dan siap untuk disunting laki-laki. 

Dan hasil rajutan Noken dari seorang gadis dapat menjadi petunjuk kepada pemuda apakah gadis itu pandai mengurus rumah tangga.


* Noken adalah alat komunikasi dan interaksi sosial suku-suku di Papua

Seperti untuk: melamar perempuan, pengangkatan kepala suku, menyambut tamu yang dihormati, alat perdamaian dari perselisihan antar suku dan tanda persahabatan.


Anak-anak Papua dengan Noken mereka (sumber: Pak Yophie) 


Manusia Noken


Noken melambangkan kemandirian seperti terlihat pada berbagai benda di dalamnya yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. "Manusia Noken" adalah yang selalu bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. 

Dengan berbagai barang di dalam Noken, orang Papua berbagi dengan sesama. Dalam hal ini Noken dimaknai sebagai "rumah berjalan" karena di dalamnya berbagai kebutuhan yang menjamin kelangsungan hidup dapat dipenuhi.

Dan dari kajian lingkungan, Noken sangat peduli dan menjaga keteraturan lingkungan terutama untuk membatasi limbah yang mencemari lingkungan seperti penggunaan kantong plastik yang tak terkira bahayanya.

Lantaran Noken dapat dipakai berulang-ulang, berhari-hari, bertahun-tahun bahkan diwariskan dari generasi ke generasi.

We-Oo-We!!

Hm...sementara semua orang heboh go green..go green..kurangi pemakaian tas plastik, sejak beberapa generasi orang Papua sudah melakukan ini! Bangga sekali!

Noken Warisan Budaya Takbenda


Warisan Budaya Takbenda
piagam UNESCO

Maka, untuk melestarikan keberadaan Noken, pemerintah Republik Indonesia bekerja sama dengan komunitas Noken Papua dan lembaga swadaya masyarakat mendaftarkan Noken sebagai hasil karya tradisional yang bersifat adiluhung kepada UNESCO.

Dan usulan tersebut akhirnya dibahas oleh Komite Warisan Budaya Takbenda dan pada tanggal 4 Desember 2012, UNESCO menetapkan Noken sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia.

Dengan demikian penetapan tersebut merupakan kepastian hukum yang menjamin pelestarian Noken di masa depan.


Keberlangsungan Noken


Tetapi, sayangnya keberlangsungan Noken sedang terusik karena:


  • Para pengrajin Noken mengalami kesulitan dalam memasarkan hasil produksinya. Hal ini disebabkan banyak orang Papua yang kini lebih senang mengenakan tas dari luar Papua daripada memakai Noken.
  • Berkurangnya jumlah pengrajin Noken di sebagian daerah di Papua karena mereka kesulitan mendapatkan bahan baku kulit kayu yang memerlukan waktu lama untuk diolah menjadi benang. Sehingga banyak yang beralih ke bahan baku lain seperti benang plastik atau benang manila buatan pabrik yang lebih mudah diperoleh.  
  • Anak-anak sekolah di Papua kini cenderung sibuk belajar di tempat yang jauh dari kampungnya. Sehingga membuat mereka tidak sempat belajar membuat Noken dari orang tuanya.


Noken Papua


Nah untuk itulah sosialisasi tentang Noken seperti dalam Seminar Noken ini penting sekali. Sehingga ada persebaran informasi di masyarakat demi didapatkan dukungan untuk pelestarian Noken ini.

Syukur-syukur jika ada waktu dan rejeki bisa membeli Noken di komunitas Papua yang ada atau berkunjung langsung ke sana.

Mungkin kita juga bisa membantu pemasarannya atau mempelajari cara pembuatannya. Kenapa tidak?

Karena, kepedulian dari berbagai pihak memang diperlukan agar warisan budaya tetap terjaga dari generasi ke generasi. Jangan sampai tradisi yang telah diturunkan oleh nenek moyang kita berhenti begitu saja di era kita. Kearifan yang ditanamkan melalui berbagai warisan budaya yang ada sungguh patut diteladani dan diwariskan lagi ke anak cucu kita nanti.

Jadi, yuk makin peduli dengan budaya bangsa sendiri. Karena kalau bukan kita yang peduli, siapa lagi?😍




Salam Budaya Indonesia,

Dian Restu Agustina



81 comments:

  1. Kita justru belajar banyak dari mereka ya, tentang menghargai alam, ramah lingkungan, dsb. Noken ini hanya ada di papua atau sudah dipasarkan ke luar daerah juga ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dijual di Papu juga di komunitas Papua yang ada misalnya di anjungan Papua TMII

      Delete
  2. Kereen ya Noken, bisa awet hingga diturunkan dari generasi ke generasi. Saya baru tahu nih tentang Noken.

    ReplyDelete
  3. Waah, baru tahu ada kegiatan ini, hiks, terlewat, padahal seru, yaa...

    Tentang nokennya, walaupun sekilas berupa barang, tapi ternyata filosofinya sungguh mendalam ya, hingga dimasukkan ke warisan budaya takbenda.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak..nilai filosofisnya yang tinggi dikaji badan dunia UNESCO dan akhirnya layak ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda

      Delete
  4. Aku baru tahu lho ternyata noken ini adalah tasnya orang Papua. Ternyata namanya bisa berbeda-beda juga ya mba. Semoga kebiasaan merajut noken dan penggunaan plus pemasaran noken ini bisa lestari dan berkelanjutan ya mba Dian 😉.

    Mungkin tas semacam noken ini baik untuk dipasarkan di Bogor mba. Warga Bogor kan kan lagi diet kantong plastik. Hehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin
      Iya cocok buat yang diet kantong plastik ini hihi

      Delete
  5. Ternyata noken awet yah, bisa sampai diturunkan. Biasanya kalau rajutan kan cepat bodol. Ternyata kuat, malah bisa dijual bila membutuhkan biaya.
    Keren infonya Mbak....

    ReplyDelete
    Replies
    1. dari kulit kayu melinjo mbak -kebanyakan- jadi memang kuat sekali, sehingga harganya jutaan

      Delete
  6. Baru tau itu Noken ya mbak namanya. Sering liat dari film dokumenter, orang papua pake tas di kepala. Semoga bisa bergerak lagi yaa pemasarannya, agar lebih dikenal luas juga.

    ReplyDelete
  7. Oh keren juga ya mba. Awalnya kukira ini akan jadi warisan benda loh karena berwujud. Ternyata takbenda ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tradisi yang diturunkan yang dinilai Mbak jadi bukan bentuk fisiknya tapi makan dan filososfisnya

      Delete
  8. Pengetahuan baru nih. Dengan harga jutaan begitu pasti kualitasnya tinggi sekali ya. Sayang banget kalau para pengrajin aslinya berkurang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak..bahan baku susah didapat, pengolahan ribet jadi banyak yang cari praktisnya..sehingga dijual pun lebih murah dan lebih laku

      Delete
  9. Baru tahu apa itu noken. Sayang banget ya kalau sampai tergerus zaman. Ini udah ada yg jual online kah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. ada mbak. cuma enggak disebutkan oleh pembicara kemarin dimana. Kalau info ada di anjungan Papua TMII atau komuntais Papua yang ada

      Delete
  10. Wow, noken ini dicantelkan di kepala ya, mb. Kebayang betapa beratnya kalo dipake membawa kayu berat, dll. Duh, wanita Papua sungguh perkasa.

    ReplyDelete
  11. Aku pernah baca satu novel tentang "Tanah Tabu", novel itu bercerita kehidupan sehari-hari hingga masalah yang dihadapi masyarakat Papua. Dalam novel itu aku baru tahu kalau Noken tidak hanya untuk membawa barang atau hasil kebun, tapi juga bayi dan babi kecil, persis seperti penjelasan Mbak Dian. Reflekku langsung merinding, membayangkan betapa kuat leher perempuan Papua. Nice sharing, Mbak.

    ReplyDelete
  12. Bangga dengan kearifan warisan budaya bangsaku.

    ReplyDelete
  13. Wag, bangga jadi orang Indonesia. Kagum dengan orang Papua. Jadi pengen punya hihihi

    ReplyDelete
  14. Keren ya. Itu kalau dijadikan produk fashion pasti cakep. Di Jogja tempat ayam aja bisa jadi tas fashion di H&M.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu dia..butuh investor untuk peningkatan produksi dan pembinaan pengrajin ya Mbak

      Delete
  15. Selalu bangga dengan Indonesia yang kaya akan budaya. Nokeen, wow banget aku speechless bacanya, bangga dan kagum sama merekaaa!!

    Aku jadi pengen punya Noken nih,

    ReplyDelete
  16. Indonesia memang keren ya mom, kebudayaan kita beragam, termasuk Noken yang hanya Indonesia yang punya.
    Semoga generasi penerus bisa menjaga dan melestarikan budaya yang ada di Indonesia.

    ReplyDelete
  17. Unik sekali ya Noken ini, saat lihat gambar saya pikir ini kain biasa. Eh ternyata tas. Pembuatannya cukup rumit ya, budaya Noken ini semoga bisa terus terjaga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya semacam tas tapi bukan..tepatnya alat pembawa barang-barang
      Aamiin

      Delete
  18. Keren banget ulasannya mbak, lengkap, berurut, saya kudu belajar nih cara menulis liputan sama mbak dian

    ReplyDelete
  19. Wah ini akau baru tahu tentang Noken, dari fungsinya sampe bahannya yang dari kulit pohon ya mba pantesan harganya juga mahal emang rumit banget sih menurut aku

    ReplyDelete
  20. Keren mesti ulasan mb Dian. Lengkap dan runut gampang dipahami. Dulu saya pernah punya noken dari akar tumbuhn. Gak beli sih dikasih sm kakak yg tugas di Merauke. Pokoke mb Dian blogger andalan dan idola deh..sukses y mb..

    ReplyDelete
  21. Saya pernah punya noken, hadiah dari teman kantor yg asli orang papua. Juga patung asmat & huasan telur kasuari. Semua itu hadiah waktu saya menikah dr teman2 papuan.tapi sayangnya semua benda tsb diberikan ke teman suami & di.orang jepang.

    Sebenarnya saya ga rela memberikan kpd orang jepang tsb, tp karena ada kejadian yg diluar nalar membuat saya merelakannya.
    Jadi patung asmat & noken yg aku punya ternyata dibuat oleh orang yg sama. Pembuatnya sudah meninggal & kata ustadz dia ikut dipatung tsb, sedihnya anak bungsu saya selalu menangis & ketakutan aetiap melihat patung tsb.
    Dan ternyata pembuatnya itu berpakaian adat papua dan membuat anak saya takut.
    Akhir ya benda tsb dipajang diruang kantor suami, demi anak aku relakan dibawa pulang teman suami ke jepang.
    Dulu saya setiap minggu pasti tugas ke papua & kondisinya memprihatinkan. Aslinya warga.papua itu pemalas, mereka hanya mabuk2an sampai geletakan dijalan.
    Aku senang melihat kemajuan papua sekarang..hehhe..maaf Mba Dian, saya jadi ngecap.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih banyak info dan ceritanya Mbak Srie..saya senang sekali
      Semoga Papua jadi lebih baik kini

      Delete
  22. Wah, terjawab sudah mengapa kok Noken & keris masuk ke dalam budaya tak benda. Mengingat betapa kedeenya hatiku yg tiba2 mendengar suara glodhag2 dr dlam lemari terus tiba2 di dalam lemariku uda mincul sebilah keris, yg kata orang pinter, itu keris pengen oengen ikut di rumahku... Duh meeinding deh. Sampai sekarang juga masih ada itu kerisnya. Mau gak percaya begini an jg gimana, aku ngalami sendiri.

    ReplyDelete
  23. Wah, baru beneran ngeh tentang Noken setelah baca ini. Filosofinya bagus, ya. Hampir sama kayak Wayang kulit nih, diakui UNESCO.
    Tapi jadi PR besar ya, Noken mungkin terhambat pelestariannya karena hal2 di atas. Makasih infonya, Mbak :)

    ReplyDelete
  24. Terjawab akhirnya tas tersebut bernama Noken, baru tau klo harganya jutaan. Ga heran sih karena prosesnya emang lama dan buatnya ga sebentar.

    ReplyDelete
  25. Seneng banget bisa mampir ke postingan ini karena aku baru tahu Noken setelah baca postingan ini. Ulasannya juga lengkap banget. Nice info, Mbak Dian.

    ReplyDelete
  26. Saya kenal noken sekedar sebagai sesuatu yang khas dari papua. Ternyata informasinya banyak dan lengkap. Makin kagum sama bangsa ini

    ReplyDelete
  27. Jadi pengen coba pakai noken mba..semoga bisa langsung ke papua 😁

    Salut banget sama warga papua yang masih melestarikan kearifan lokal sampai saat ini

    ReplyDelete
  28. Awalnya aku nggak ngerti maksudnya takbenda itu apa? Karena tulisannya disatuin juga dalam penulisannya. Aku baru tahu kalau batik, keris itu ternyata disebut takbenda ya. Aku baru tahu juga tentang noken ini dan trnyata ukuran dan bahannya juga beda-beda ya

    ReplyDelete
  29. Wah aku baru tau itu namanya noken mba dan ternyata masuk takbenda ya? Karena itu sebuah budaya. Semoga terus kestari warisan benda maupun takbenda di Indoensia krn bener2 harta berharga yg jarang ditemujan d negara lain.

    ReplyDelete
  30. Baru tau nihhh tentang Noken. Indonesia itu memang kayaaa rayaaaaaa ya mba! Gak abis-abis kalo mau dieksplore budayanya

    ReplyDelete
  31. mom dian kemaren warisan tak benda bahas tari saman gayo, sekarang papua. sungguh aku mendapat ilmu baru soal pulau terujung ini yang selama ini bikin penasaran.

    ReplyDelete
  32. Salut banget ya dengan warga Papua bisa menciptakan noken dengan karya tangan sendiri. Dan mereka tetap menggunakan noken sebagai tempat apa saja dan selalu dibawa kemana-mana.

    ReplyDelete
  33. aku baru tau kalau tas ini namanya noken.. jadi ingin punya satu..

    ReplyDelete
  34. Warisan budaya seperti Noken memang harus dilestarikan, apalagi memiliki filosofi indah untuk perempuan yang akil baliq, yaitu harus bisa merajut 👍

    ReplyDelete
  35. Aku baru tau kalau tas yang sering dibawa di kepala orang papua itu namanya Noken. Fungsi dan filosofinya banyak yaa.. apalagi dibuatnya dari kulit kayu, udah bahannya susah didapat, proses pembuatannya harus sabar, keren bangeet.

    ReplyDelete
  36. Keren banget ya Indonesia. Banyak ragam budaya yang sangat seru buat dipelajari. Contohnya Noken ini. Aku taunya cuma tas biasa aja, sebagai oleh-oleh, gataunya merupakan warisan budaya juga. Keren..

    ReplyDelete
  37. Hoh, ini penyebutannya Noken ya. Aku paling suka nih bebelian tas model gini kalau lagi ke daerah atau biasanya nunggu acara pameran budaya di JCC pasti banyak bertebaran kain dan tas-tas dari daerah yang bagus-bagus.

    ReplyDelete
  38. Pernah ketemu org Papua, waktu itu dia certa noken itu ibarat rahim ibu yang bikin nyaman, makanya anak2 suka digendong di dalam noken. Kalau skrng katanya jg sbg simbol kekayaan gtu ya, soalnya harganya mihil hehe.

    ReplyDelete
  39. aku ga nyangka harganya bisa jutaan. :o. tapi kalo memang ini bisa dipakai sampai diwariskan segala, dan dgn segala fungsi dan filosofinya, wajar sih kalo sampe semahal itu :D. duuuh aku mah mau banget punya kalo ada kesempatan beli..

    ReplyDelete
  40. Baru paham saya warisan budaya tak benda, ternyata dibagi-bagi ya. Budaya Noken ini mirip budaya di suku Sasak, di mana seorang gadis baru dianggap siapmenikah jika sudah bisa menenun kain.

    ReplyDelete
  41. Aku denger istilah noken itu gak lama biz pilpres 2014. Konon, menurut sumber, pilpres d Papua pake noken. So, aku beranggapan noken itu semacem sistem pemilihan alternatif selain vote ato musyawarah.

    Ternyata ada wujudnya!

    ReplyDelete
  42. Aku baru tau lebih banyak soal Noken ini ya pas baca blognya mbak Dian. Informatif banget! Jadi pengen tau sejarah dan latar belakang warisan budaya di Indonesia. Pasti banyaaak sekaliiii.

    ReplyDelete
  43. Semoga Papua tetap jadi bagian dari Indonesia ya dengan semakin banyak perhatian dan literasi tentang Papua.

    ReplyDelete
  44. Sayang banget kalau perajin noken mulai sedikit ya? Moga ada kelompok2 yg bikin semacam gerakan pelestarian noken gtu, dengan cara belajar cara bikinnya, dll. Noken ini padahal banyak dicari org asing lho...

    ReplyDelete
  45. Masyaa Allah mbak, ini sih mestinya dilestarikan agar anak cucu kita tidak hanya mendapat ceritanya aja namun juga meliht secara langsung. Keren ya salah satu bahan bakunya dari kulit kayu melinjo

    ReplyDelete
  46. Acara seperti ini bagus banget dan musti sering diadakan buat mengulik banyal hal tentang budaya negara kita yg banyak banget ini. Aku jadi tahu nih, ternyata namanya Noken ya, kalau lihat orang Papua d tv atau media cetak, cuma penasaran apa namanya dan ternyata penting sekali. Makasi Mba Dian sharingnya :)

    ReplyDelete