Mengatasi Anak Tantrum dengan Bijak



Satu waktu, saya ditelpon oleh guru Kindergarten anak saya. Dia bicara sangat cepat (untuk ukuran saya) dan dengan Bahasa Inggris berdialek khas orang Selatan -terutama New Orleans- yang banyak dipengaruhi budaya Perancis.

Nah, yang saya tangkap dari penjelasan Ms. Gatty ini, anak saya tadi di sekolah tantrum, nangis, teriak-teriak, ngambek...tapi "Everything's okay!" begitu dia bilang. Sisanya saya enggak ngeh banget, karena setelahnya dia juga sudahi bicara. Duh!

Memang di sekolah anak saya saat itu, Harold Keller Elementary School, meski sekolah negeri, wali kelasnya akan menelpon atau mengabari via email Orang Tua Murid kalau ada apa-apa. Karena saat itu (tahun 2009) memang belum marak WA dan aplikasi sejenisnya

Dan meski ini bukan kali pertama Si Mas dibilang tantrum oleh gurunya, karena saat masih playgroup di Jakarta, juga disebut sama, saya sempat was-was juga. Maklum kendala bahasa tentu akan membuat dia dan gurunya kebingungan saat tantrum ini terjadi lagi.

Syukurlah makin besar gejala ini pun memudar. Sehingga saya merasa lega dibuatnya.

Tapi apa sih sebenarnya tantrum itu dan bagaimana cara mengatasinya dengan bijak?

Yuk, simak hasil obrolan pada sesi "Tanya Dokter" yang saya ikuti di WAG HaloMoms bentukan Halodoc bersama dr Devi Anneta pada 4 Mei 2019 silam.



pic by pixabay



Apa sih Tantrum Itu?


Tapi, sebelumnya kita cari info tentang Tantrum ini yuks..!

Menurut informasi yang saya kutip dari Wikipedia, Tantrum (atau tantrum temper) adalah ledakan emosi, biasanya dikaitkan dengan anak-anak atau orang-orang dalam kesulitan emosional. Di mana biasanya ditandai dengan sikap:
  • keras kepala
  • menangis
  • menjerit
  • berteriak
  • menjerit-jerit
  • pembangkangan
  • mengomel marah
  • resistensi terhadap upaya untuk menenangkan
  • kekerasan (pada beberapa kasus) 
Juga selain kendali fisik bisa hilang, orang tersebut mungkin tidak dapat tetap diam dan bahkan jika "tujuan" orang tersebut dipenuhi dia mungkin tetap tidak tenang.

Sementara, mengutip dari laman Halodoc, Tantrum adalah ledakan emosi yang dirasakan oleh anak-anak atau orang dewasa yang memiliki masalah dalam emosional. Biasanya tantrum ditandai dengan sikap keras kepala, menangis dengan keras, marah-marah, dan sulit untuk menenangkan diri. 

Nah, tantrum pada anak merupakan hal yang umum terjadi. Di mana hal ini bisa dijadikan sebagai pengukur dari kekuatan pengembangan karakter pada anak-anak. Juga, tantrum ini biasanya muncul pada anak yang memiliki usia 15 bulan ke atas. Yang mana tantrum terjadi karena ketidakmampuan anak untuk menjelaskan apa yang menjadi keinginannya dengan kata-kata. Karena itu, emosi mereka meledak dan menjadi tantrum.


pic by pexels

Jenis-Jenis Tantrum


Nah, masih dari laman Halodoc, Tantrum terbagi menjadi 2 jenis, yakni:


1. Tantrum Manipulatif

Biasanya, tantrum manipulatif akan muncul jika keinginan anak tidak dipenuhi. Dengan kata lain, tantrum manipulatif adalah salah satu tindakan yang dilakukan oleh anak-anak ketika keinginannya tidak terpenuhi dengan baik. 

Ini adalah tantrum yang dibuat-buat oleh anak-anak untuk membuat orang lain memenuhi keinginannya. Perlu diingat, tantrum manipulatif tidak terjadi pada semua anak. Kebanyakan tantrum manipulatif muncul akibat adanya penolakan.


2. Tantrum Frustasi

Biasanya anak akan mengalami tantrum frustasi karena dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti kelelahan, kelaparan atau gagal melakukan sesuatu.




Mengatasi Anak Tantrum dengan Bijak


Nah, terkait dengan tantrum ini, HaloMoms, WA Group yang dibentuk dan dikelola oleh Halodoc, free untuk para Mommies yang concern terhadap kesehatan diri dan keluarga, menyajikan "Tanya Dokter" yang mengundang Dokter Devi Anneta. Seorang dokter yang sudah berpengalaman selama 25 tahun yang selain berpraktik di Halodoc juga praktik di Kimia Farma.

Dan berikut tanya jawab yang saya rangkum dalam M&D. 

M: Mommies 
D: Dokter Devi 


M: Anak saya perempuan usia 3,5 tahun, tantrum setiap permintaannya tidak dituruti. Ia mengamuk dalam waktu yang cukup panjang, bahkan pernah sampai memukuli dan meludah di baju ayahnya saat di gendong. Apakah wajar seperti ini? Apa mungkin ia meniru temannya? Dan kami kaget saat ia meludah padahal biasanya ia hanya nangis marah dan guling-guling. Dan apakah tantrum ini akan berlanjut sampai besar?

D: Kapan saja saat tantrumnya?

M: Saat di mall ia melihat sesuatu yang sangat ia suka atau melihat anak seumur dia memegang sesuatu. Jadi misal dia melihat anak punya mainan/skuter dia juga harus beli dan sama persis

D: Oke, Ananda Tantrum sejak satu setengah tahun yang lalu, ini memang usia yang normal terjadi Tantrum sampai batas toleransinya usia  5 tahun. Oh ya, selama ini apa yang sudah dilakukan ketika ananda tantrum?

M: Selalu digendong & mengalihkan perhatian ke yang lain, biasanya ice cream. Tapi saat umur 3 tahun sudah susah dialihkan. Tapi biasanya saat sudah dirumah ia akan menurut dan saat diajak ngobrol pun ia sudah mengerti. Nah yang jadi masalah saat ayahnya tidak bisa mengontrol emosi, biasanya ia akan marah juga melihat anaknya tantrum terlalu lama. Apakah ada cara yang efektif untuk membuat anak tidak tantrum, Dok?

D: Apakah diikuti apa yang diinginkan?

M: Seringnya saat bersama ayahnya selalu dituruti, Dok. Apakah hal tersebut berpengaruh?

D: Nah ini sangat berpengaruh, karena oleh anak dijadikan senjata untuk mendapatkan apa yang selalu dimaui

M: Iya Dok. Selalu yang jadi masalah saat ayahnya menuruti si kecil. Bahkan mainan yang ia sudah punya pun ia selalu meminta dan beberapa kali dibelikan. Tantrum seringnya jika pergi keluar rumah.

D: Ya betul bila di luar rumah memang diberikan waktu didiamkan beberapa menit saja untuk memberi pengertian bahwa tidak selalu harus dituruti

M: Dok, bagaimana kalau anaknya selalu tantrum di depan orang banyak, Dok? Sedangkan kalau cuma sama orang tua di rumah, lebih nurut

D: Cara yang mungkin bisa membantu adalah pola asuh dari kedua orang tua, ayah dan ibu berkolaborasi untuk membangun komunikasi yang efektif dengan anak. Kunci komunikasi adalah salah satu pola asuh yang sangat penting diaplikasikan dalam mengasuh buah hati

M: Dok,  izin bertanya. Kalo anak usia 10-21 bulan 'mengamuk' itu bisa disebut tantrum kah? Soalnya pernah dapat penjelasan selama masih di bawah 2 tahun bukan tantrum

D: Tergantung, Moms, bila anak sudah mulai mengerti pada kondisi lingkungan dan sudah punya kebutuhan dan keinginan bila mengamuk bisa dimasukkan tantrum. Memang anak umur yang disebutkan kadang bisa saja ngamuk karena lapar dan haus serta tidak nyaman dan mengungkapkan dengan sikap mengamuk bukan dimasukkan tantrum

M: Saya penasaran tentang ini, Dok, pola komunikasi efektif seperti apa yang harus orang tua lakukan terhadap anak? Kalau bikin kesepakatan, misal anak minta dibelikan mainan yang sudah dia punya enggak boleh diturutin, walaupun mau nangis kayak apapun, apakah termasuk?

D: Ini memang enggak mudah tapi pola ini harus dimulai dengan cara komunikasi sesuaikan dengan usia anak bila mungkin bekomunikasi dengan melakukan role play bersama anak. Misal ketika tantrum muncul contoh Moms usia 3,5 thn di atas peluk anak erat erat lakukan oleh Ayahnya jauhkan dari benda atau lingkungan yang membahayakan dirinya maupun orang lain bisikkan ditelinganya kata-kata membujuk kemudian ajak bermain peran karena suasana hati juga akan berubah ketika di tempat yang berbeda.

M: Dokter bilang batas toleransi anak tantrum itu 5 tahun. Jika sampai 9 tahun masih tantrum apakah itu normal? Nah menurut saya komunikasi dalam keluarga pun cukup. Kami sering mengobrol dan bercerita apapun dengan anak setiap hari dan ia mengerti bahwa yang ia mau tidak selalu diturutidan beberapa mainan ia sudah punya. Tapi saat keluar rumah ia akan seperti itu lagi Dok, tantrum dalam waktu cukup lama. Apakah tidak apa-apa jika didiamkan,  Dok?

D: Ya Mom ini bukan lagi masuk tantrum tapi sudah gangguan emosi remaja

M: Cara mengatasinya gimana, Dok? Harus dibawa ke dokter kah?

D: Bila sudah berlanjut dengan pola asuh yang sesuai usianya, Mom bawa konsultasi ke ahli psikologi anak

M: Dok, anak saya 1,5 tahun perempuan, sudah bisa marah kalau dilarang, kadang juga suka galak sama sepupunya kayak gemes gitu sih. Tapi saya khawatir takut terbawa sampai besar.

D: He..he..ini masih normal. Moms..Atasi dengan selalu enggak bosan-bosan Ibu dan Ayah komusikasi kasih pengertian. Sambil diawasi gemesnya enggak membahayakan dirinya dan sepupunya serta lingkungan

M: Kalau orang tuanya galak juga pengaruh ya, Dok ke anak?

D: Yup moms, sebaiknya galak diganti dengan ketegasan yang wajar, kalau galak terkesan berlebihan ya..

M: Mohon penjelasannya, apa sih tanda-tanda anak tantrum? Apa bedanya dengan aktif dan hiperaktif...?

D: Tantrum muncul sebagai akibat anak ingin meluapkan emosi namun enggak bisa ungkapkan lewat komunikasi, bila inginkan sesuatu. Anak hiperaktif biasanya karena adanya masalah tumbuh kembang. Dan aktif dan hiperaktif ada hubungannya dengan proses perkembangan syaraf pusat motorik.


pic by pexels


Jadi....


Tantrum pada anak memang terkadang merepotkan yaaa....

Tapi, di sini peran orangtua sangat dibutuhkan untuk membantu perkembangan dan karakter anak-anak kita ini.

Termasuk ketika menenangkan anak. Sebaiknya orang tua menghindari tindakan kekerasan pada anak agar anak merasa dihargai dan tantrumnya tidak menjadi-jadi. Apalagi orang tua adalah panutan utama bagi putra-putri, sehingga sebaiknya lakukan tindakan yang bisa dijadikan pelajaran dan teladan untuk mereka contoh nanti.

Baiklah, semoga sharing ini bermanfaat ya...Dan yuks tetap semangat menjadi orang tua terbaik untuk anak-anak kita!😍





Happy Parenting

Dian Restu Agustina





25 comments:

  1. Penting sekali pengetahuan seperti ini ya, Mbak, sebab tidak sedikit ortu yang justru panik ketika mendapati anaknya tantrum. Makasih ya, Mbak.

    ReplyDelete
  2. Memang harus ekstra sabar ya mbak. Anak sulung saya juga bisa jadi digolongkan trantrum karena suka meledak-ledak emosinya. Meskipun sdh dituruti masih juga blm bs tenang

    ReplyDelete
  3. Wah baru tau, kalau keras kepala masuk ke kategori tantrum.

    ReplyDelete
  4. Kerjasama antara orang tua (ayah ibu) ini harus kompak. Jangan ayah bilang tidak, tapi ibu bilang iya boleh. Anak malah makin merasa punya senjata.

    ReplyDelete
  5. Hihi pertanyaan masuk disini mba. Btw memang aku suka galau kalo anak tantrum yaa katanya under 2yo blm bs dibilangdtantrum tp lebih ke kurangnya kebutuhannya yg terpenuhi

    ReplyDelete
  6. Masalah anak yang tak pernah selesai deh tantrum ini. Alhamdulillah sih, 4 anakku tantrumnya masih bisa dikendalikan. Gak sampe jerit2 gimana. Paling pundung gak mau diajak bicara. Pandai-pandai merayu aja sesuai dengan sifat, minat, dan kesukaan mereka. :)

    ReplyDelete
  7. Ilmu tantrum ini bagus banget nih, apalagi buat aku yang anaknya masih piyik. Bisa jadi antisipask kalau nanti anak tantrum. Makasih ya mbak udah sharing.

    ReplyDelete
  8. Waah keren mba, kulwapnya dirangkum disini jadi semua orang bisa tahu apa itu tantrum..
    Kebetulan anakku, lagi sering banget tantrum manipulatif

    ReplyDelete
  9. Aku ikutan WAG halodoc ini mba.. Suka banget kemarin bs diskusi langsung sm dokternya. Kmrn anakq jg sempat tantrum, tyt solusinya simple kalo bs konsisten menerapkannya

    ReplyDelete
  10. kalau anakku yang bungsu seringnya tantrum manipulatif mbak ngeselin tapi tetap kudu sabar kan ya :)

    ReplyDelete
  11. Ledakan emosi itu ternyata bisa dirasakan oleh anak-anak ya. Paham daku, soalnya siswaku ada yang seperti itu

    ReplyDelete
  12. Mpo suka lihat di pasar ,anak tantrum karena keinginan tidak terpenuhi. Yang malu pasti mom gara gara omongan orang yang lewat depan sang anak "pelit amat, bukan dikasih aja itu mainan".

    Mulut kita yang suka usil bikin bimbang para mom yang anaknya sedang tantrum.

    ReplyDelete
  13. Memang mencegah anak tantrum sejak dini, tapi kalau sudah terlanjur bagaimana? Pengalaman saya megang anak kelas 2 dan 3 selama 4 tahun Alhamdulillah shock terapi guru tegas disiplin ternyata bagus juga, apalagi kalau ortunya sangat mau bekerja sama, malah lebih Deket sama gurunya daripada sama ortunya, bahkan manjanya hilang sama sekali

    ReplyDelete
  14. Ya ampun anakku banget ini kak, bener deh harus punya jalan keluar yang bener soalnya anak saat tantrum tuh makin-makin deh kalau diladenin jadi mending ikutin saran dr haloMom ini deh

    ReplyDelete
  15. Ya Allah mbak Dian, lengkap banget ulasannya. Halodoc ini ada WAG-nya ya? Kemarin aku enggak ikutan, ehehehe.

    Anakku jarang tantrum sih, asal diantisipasi terlebih dahulu. Tapi kalau pas ayah dan ibua lupa, bhaayyy

    ReplyDelete
  16. Eh baru tau ada WAG-nya jg. Gmn cara joinnya mbak?
    Anakku yang no 1 itu jarang tantrum depan umum, tapi begitu sampai rumah ngamuk, kalau yang no 2 mah dia ngamuk dilepasin aja -_-"
    Tapi skrng makin gede untungnya dah pd paham, ngamuknya di rumah, paling kubiarin aja sampai mereka puas ngamuk, baru kalau dah lega ditanya maunya apa

    ReplyDelete
  17. Memang kita harus tegas, mbak, tantrum manipulatif, kalau istilah aq sih 'anak sudah mengerti psikologi", jika dengan tantrum, maka keinginannya dituruti, maka lain kali tantrumnya akan lebih parah, itu pengalaman aq dengan anakku, mbak

    ReplyDelete
  18. Dulu anak ku yg kecil suka tantrum, tp sering aku cuekin dan mengalihkan perhatian nya dgn menawarkan hal2 lain, alhamdulillah sekarang gak suka tantrum lg .. Hihihi

    ReplyDelete
  19. Ilmu parenting yg sangat informatif. Kadang org tua tidak mengerti apa yg anak mau. Tp sya rasa keren banget gurunya smpe sepeduli itu

    ReplyDelete
  20. Sampai 5tahun ternyata ya mba. Kalau lebih malah ada yg salah di anak itu. Biasa kalau anak tantrum di mall, ku biarkan, biar dia tau kalau itu salah dan ga diulang

    ReplyDelete
  21. Anak tantrum ini memang harus pinter-pinter orang tuanya menangani. Kadang kalau aku sudah melihat gelagat mdnjurus ke tantrum suka mengalihkan dulu. Sampai akhirnya si anak luluh.

    ReplyDelete
  22. Aku suka lihat anak tantrum dan memang mengguncang perasaan ortunya ya. Kadang ada ortu yang emosional, kadang ada yang cuek, anak tantrum ini harus dihandle dengan bijak

    ReplyDelete
  23. Menghadapi anak tantrum ini orang tuanya kayaknya perlu kesabaran ekstra ya, mbak. Kadang malah orang tuanya yang nggak tahan lihat anaknya ngamuk terus akhirnya diturutin maunya anak

    ReplyDelete
  24. Mesti bersabar ya mbak, apalagi yg namanya anak2 yg blm paham banget mana yg baik dan yg gak baik. Balik ke kitanya sebagai orang tua yg mesti mengarahkan dan mengajarkan dgn sabar

    ReplyDelete