Hadiah Sastra Rancage 2019




"Sastra selalu punya cara untuk mengalirkan dirinya


Demikian disampaikan oleh I Gde Agus Darma Putra, pria muda berusia 28 tahun yang juga adalah penerima Hadiah Rancage 2018 untuk Sastera Bali, saat menjadi salah satu pembicara di acara Penganugerahan Hadiah Sastera Rancage 2019, Kamis, 12 Sept 2019 di Perpusnas RI.

Nirguna adalah nama pena penulis ini. Di mana tahun lalu ia memenangi Hadiah Rancage melalui karya prosa liris dengan judul “Bulan Sisi Kauh" yang sekaligus menjadikannya peraih Sastera Rancage termuda.

Hebaaat, ya....





Sungguh saya ikut merasa bangga jadinya. Gimana enggak, di tengah maraknya gempuran budaya luar yang menghujani kaum muda Indonesia, ada secercah harapan akan pelestari sastra daerah khususnya sastra Bali di masa depan.

Dan..tentunya sebuah penghargaan terlepas dari nilainya, adalah salah satu faktor yang bisa menjadi pelecut semangat para sastrawan ini untuk berkarya.

Bersyukur, ada Yayasan Kebudayaan Rancage yang memprakarsai Hadiah Sastera Rancage bagi karya sastra daerah di Indonesia.  Di mana tahun ini penganugerahan Hadiah Sastera Rancage yang ke-31 kalinya dihelat di Perpusnas RI bertepatan dengan gelaran Perpusnas Expo yang diadakan pada 5 - 22 September 2019.

Musikalisasi puisi - Yayan Katho

Selayang Pandang Yayasan Kebudayaan Rancage



Adalah Ajip Rosidi, yang pada tahun 1989 dengan merogoh kantong sendiri menginisiasi pemberian Hadiah Sastera Rancage bagi karya (buku) satrawan Sunda yang diumumkan setiap tanggal 31 Januari.

Prakarsa dari seorang tokoh sastra terkemuka baik di lingkungan Sunda maupun nasional dan internasional ini, mendapat sambutan hangat dari masyarakat dan sejak saat itu hadiah diberikan setiap tahunnya.

Nah, selama 5 tahun pertama, hadiah dikelola dan didanai oleh Ajip Rosidi sendiri. Kemudian dengan mempertimbangkan keberlangsungannya maka pada tahun 1993 didirikanlah Yayasan Kebudayaan Rancage secara resmi.

Rancage, artinya "kreatif" dalam kosakata Sunda yang secara tepat mencerminkan jenis kegiatan yang didukung yayasan ini.




Yayasan ini berdiri sebagai lembaga nirlaba yang bergerak dalam bidang pemeliharaan, pengembangan dan pelestarian bahasa dan sastra daerah dengan kegiatan:


1. Hadiah Sastera Rancage 

Hadiah Sastera Rancage diberikan setiap tahun sejak 1989 sampai sekarang secara terus-menerus. Tahun pertama hanya diberikan kepada pengarang yang tahun sebelumnya menerbitkan buku karya sastra yang berkualitas. Lalu, tahun 1990 mulai diberikan juga kepada orang atau lembaga yang besar jasanya dalam mengembangkan dan mempertahankan bahasa ibunya. Jadi setiap tahun diberikan 2 bidang, satu untuk karya, satu lagi untuk jasa.

Kemudian dalam perkembangannya, Hadiah Sastera Rancage tidak hanya diberikan pada karya dan tokoh Sastera Sunda tapi juga Sastera Jawa (sejak 1994), Bali (sejak 1998), Lampung (sejak 2008), Batak (sejak 2015) dan Banjar (mulai 2019).

2. Hadiah Samsudi

Hadiah sastra yang diberikan kepada para pengarang bacaan anak-anak dalam bahasa Sunda. Nama "Samsudi" diabadikan dalam rangka menghormati almarhum Samsudi (1899-1987), seorang guru, pengarang cerita anak terutama dalam bahasa Sunda, penyusun buku pelajaran, pelukis dan pencipta lagu.

3. Hadiah Hardjapamekas

Hadiah yang diberikan sejak tahun 2008 untuk guru penagajar bahasa Sunda di tingkat SD, SMP dan SMA yang dinilai berprestasi dan berusaha terus menerus dengan berbagai upaya mengajarkan bahasa Sunda serta mengajak siswanya mencintai dan mempergunakan bahasa Sunda. Nama Hardjapamekas mengacu pada nama pendidik terkemuka R Sobri Hardjapamekas (1913-2005) yang mengemban profesi guru hingga akhir hayatnya.

4. Penelitian dan Penerbitan

Yayasan Kebudayaan Rancage dan The Toyota Foundation Tokyo melakukan penelitian dan penyusunan Ensiklopedi Sunda: Alam, Manusia dan Budaya pada tahun 2000.

Juga, memulai penelitian dan penyusunan Kamus Utama Bahasa Sunda (KUBS) pada tahun 2012 yang selesai tiga tahun kemudian

5. Konferensi dan Kongres

Yayasan Kebudayaan Rancage telah melaksanakan Konferensi International Budaya Sunda (KIBS I) dan KIBS II pada 2011. Juga menyelenggarakan Kongres Budaya Nusantara (KBDN) pada tahun 2016.

Penganugerahan Hadiah Sastera Rancage 2019 di Perpustakaan Nasional RI




Yeni Nurita, Kepala Bidang Layanan Koleksi Khusus Perpusnas RI

Pada tahun ini untuk pertama kalinya Yayasan Kebudayaan Rancage bekerja sama dengan Perpusnas RI menghelat acara Penganugerahan Hadiah Sastera Rancage di Ruang Teater Soekarman, Gedung Fasilitas Layanan Perpusnas, Jl. Medan Merdeka Selatan No. 11, Jakarta.

Yeni Nurita, Kepala Bidang Layanan Koleksi Khusus Perpusnas RI, menyatakan kegiatan ini merupakan dukungan dari Perpusnas RI terhadap Ajip Rosidi yang fokus mengembangkan literasi  dan kebudayaan Nusantara dalam upaya meningkatkan kecerdasan dan keberdayaan bangsa.

"Karena itu wajar rasanya jika Perpustakaan Nasional memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Bapak Ajip Rosidi dan tim dari Yayasan kebudayaan Rancage dengan turut andil dalam penyelenggaraan Anugerah Sastera Rancage ini," paparnya ketika menyampaikan sambutan.


Dewan Pembina Yayasan Kebudayaan Rancage, Erry Riyana Hardjapamekas

Saat ini, tercatat ada 650 bahasa daerah di Indonesia. Muncul kekhawatiran bahasa daerah akan punah karena penuturnya semakin berkurang. Yeri menyebut, penganugerahan ini merupakan respon atas kekhawatiran mengenai kemunduran penggunaan dan penutur bahasa daerah.

Karena penulis, budayawan, pegiat kebudayaan daerah, dan guru-guru bahasa daerah sesungguhnya adalah nasionalis sejati yang mewujudkan baktinya kepada bangsa dan negaranya dengan terus mengembangkan bahasa dan budaya ibu mereka. Apresiasi yang setinggi-tingginya perlu kita berikan,” tambahnya lagi.

Sementara Dewan Pembina Yayasan Kebudayaan Rancage, Erry Riyana Hardjapamekas menyebut para pengarang dalam bahasa daerah sejatinya merupakan pelestari bahasa ibu karena berhasil mendokumentasikan bahasa ibu.

Pada kesempatan ini kami mengetuk hati siapa saja untuk memberikan sumbangsih bagi kehidupan sastra daerah. Mari bergabung dengan kami untuk bersama-sama peduli dan mengapresiasi karya para pengarang bumi pertiwi sekaligus mempererat ikatan kebangsaan Indonesia yang kita cintai,” tuturnya.

Ada Keyakinan dan Harapan, Pesan dari Penganugerahan Hadiah Sastera Rancage 2019



Nah, dalam rangkaian penganugerahan Hadiah Sastera Rancage 2019 kemarin, diselenggarakan juga Seminar "Sastera Berbahasa Daerah dalam Perkembangan Literasi Nusantara".

Sebuah seminar, yang jujur, jadi membuka mata saya akan perjuangan sastra daerah yang selama ini terabaikan oleh banyak orang. Keempat pembicara mewakili daerah masing-masing mengulas tentang perkembangan sastra di daerahnya dengan segala suka dukanya.

Para pembicara adalah penerima Hadiah Sastera Rancage di tahun-tahun sebelumnya: I Gde Agus Darma Putra, Saut Poltak Tambunan, Dhanu Priyo Prabowo dan juri Hadiah Rancage untuk Sastera Sunda, Teddi Muhtadin.



  • I Gde Agus Darma Putra
Lahir dan tumbuh di lingkungan yang kental dengan budaya Bali khususnya sastra didukung latar pendidikan tinggi yang diselesaikannya di jurusan Sastra Bali di Universitas Hindu Dharma, membuat I Gde Agus Darma Putra tak kehilangan minat dan gairah untuk mempelajari dan menyalin karya sastra Bali dan Jawa Kuna yang di antaranya tertulis di daun lontar dari abad 18 dan 19.

Ia menilai minat anak muda untuk menulis dan mempelajari sastra Bali cukup baik. Mereka aktif di berbagai komunitas sastra daerah Bali juga aktif menulis di media online Suara Saking Bali setelah media cetak bertumbangan. Selain itu ada Penerbitan Gerip Maurip (Pustaka Ekspresi)

Sementara secara kuantitas, disebutkannya jumlah sastrawan di Bali masih cukup banyak. Hanya, penjualan buku terbit sastra Bali belum membahagia­kan.

Penjualan buku hanya terjadi antar penulisnya. Kalaupun ada pihak luar yang membeli, itu hanya dari beberapa golongan saja, seperti mahasiswa yang mau ujian skripsi, dosen yang sedang melakukan penelitian dan kalang­an komunitas,” keluhnya.

  • Saut Poltak Tambunan
Sementara, Peraih Hadiah Sastera Rancage 2018 untuk Sastera Batak, Saut Poltak Tambunan, mengeluhkan minimnya penulis sastra Batak yang telah diprakarsainya sejak tahun 2012 silam.

Padahal di satu sisi, minat baca sastra Batak terbilang tinggi. Ia menyebutkan bahwa karyanya, misalnya, Bangso Na Jugul Do Hami, laku keras hingga dua ribu buku terjual dalam hitungan bulan.

Orang Batak memiliki ke­percayaan bahwa menghargai bahasa daerah sebagai bentuk identitas mereka,” ujar Saut Poltak Tambunan.




  • Dhanu Priyo Prabowo
Lantas, bagaimana dengan kondisi sastra Jawa? Dhanu Priyo Prabowo, Penerima Hadiah Sastera Rancage 2014 mengungkapkan jumlah penulis sastra Jawa masih lumayan jumlahnya. Tapi senada dengan sastra Bali, minat baca dan belinya sepiiii..

Sedangkan untuk media, beberapa media berbahasa Jawa yang menerima karya sastra Jawa sampai saat ini masih ada meski jumlah oplah kian hari kian bikin resah.

  • Teddi Muhtadin
Kalau menurut jurinya bagaimana? Teddi Muhtadin, Juri Hadiah Sastera Rancage 2019 untuk Sastera Sunda, menyampaikan jika kondisi lesunya penjual buku sastra bisa membuat seniman terhambat kreativitasnya. Beberapa daerah memang pada tahun ini gagal mengirimkan sastrawannya lantaran jumlah peserta yang mengikuti kurang dari yang ditentukan oleh panitia, yaitu minimum lima orang.

Meski kalau untuk sastra Sunda bisa dibilang masih menggembirakan dengan 32 judul buku terbit per tahunnya.

Teddi kemudian menyarankan, untuk saat ini, harus ada profesi lain untuk menopang kreativitas kesusastraan.

Beberapa penulis merupakan guru, jurnalis,.... dan menjadikan itu pekerjaan utama. Atau bisa juga sastrawan menikah dengan pasangan yang mapan secara pekerjaan,” ujarnya bercanda.

Dikatakannya lagi, pekerjaan seni merupakan profesi yang berdaulat bila meminta bantuan dari pihak lain. Tapi, bisa jadi, kedaulatan itu direbut karena adanya kepenting­an dari pihak yang memberikan bantuan. Dan itu akan membuat diri jadi disetir hingga idealisme pun berakhir.

  • Ajip Rosidi
Hmm,..lalu bagaimana pendapat Sang Penggagas Hadiah Sastera Rancage?

Ajip Rosidi, mengatakan para seniman sebaiknya tidak usah berharap banyak pada pemerintah. Keterbatasan finansial untuk menerbitkan buku jangan jadi pembenaran bagi para penulis untuk menggantungkan nasib kepada pemerintah.

Kalaupun pemerintah mau bantu, jangan ikut terlibat menerbitkan buku. Biarkan itu dikelola oleh penerbitan profesional. Pemerintah tugasnya cukup membeli buku yang dikeluarkan penerbit. Kalau ikut menerbitkan, potensi korupsinya besar dari proyek tersebut,” tegas Ajip Rosidi.

Ajip kemudian mengajak para penulis untuk tetap optimis menatap masa depan kesusastraan dae­rah. Juga mengingatkan bahwa para penulislah yang jadi ujung tombak untuk menjaga peradaban. Kemudian Ajip juga mengajak para penentu kebijakan di daerah untuk meningkatkan kualitas tenaga pengajar sastra daerah di sekolah-sekolah agar siswa sebagai generasi penerus nanti bisa memiliki rasa peduli dan mencintai sastra daerah ini.


Keputusan Hadiah Sastera Rancage 2019




Kehadiran Hadiah Sastera Rancage memberikan harap­an akan keberlangsungan nasib sastra daerah, khususnya dae­rah yang mengikuti kompetisi ini. Keberadaan Hadiah Sastera Rancage mampu membangkitkan kembali gairah menulis dalam bahasa daerah. Di tengah hiruk pikuk masyarakat digital juga situasi sosial politik yang memanas, beberapa penulis masih menunjukkan kepeduliannya terhadap bahasa ibu.

Nah, sejak tahun 2004, telah diserahkan Hadiah Sastera Rancage berupa piagam dan uang Rp 5 juta. Sebuah jumlah yang sangat kecil apabila dibandingkan hadiah sastra atau lomba kepenulisan lainnya. (Misalnya saja Lomba Blog, hadiahnya Mobil, Motor, Laptop, Umroh, Traveling, Uang Jutaan Rupiah....!)

Bahkan hadiah untuk bidang jasa pun terpaksa ditangguhkan sejak tahun lalu karena alasan dana itu. (Sediiih...)

  • Ketentuan Hadiah Sastera Rancage
  1. Kelompok bahasa untuk hadiah Racage adalah bahasa daerah yang namanya tercantum dalam hasil pemetaan bahasa daerah Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan. Jadi di sini yang dinilai adalah buku yang ditulis dalam bahasa dialek sejajar dengan bahasa induknya. Contohnya: pemenang Rancage Sastera Jawa 2017 adalah roman Agul-agul Belambangan, karya Moh. Syaiful yang menggunakan bahasa Jawa dialek Using.
  2. Untuk menjaga mutu ditentukan batasan paling sedikit 5 buku dari penulis berbeda untuk masing-masing bahasa daerah. Jika pada tahun itu hanya terbit kurang dari 5 maka penilaian ditangguhkan ke tahun berikutnya.
  3. Yayasan Kebudayaan Rancage berusaha menelusuri keberadaan buku yang dikirim sebagai upaya agar buku itu benar-benar diedarkan pada masyarakat, tercatat dan tersimpan di perpustakaan dan bukan dicetak untuk keperluan Hadiah Sastera Rancage belaka. Juga, buku punya ISBN yang dapat ditelusuri dari laman ISBN di Perpusnas RI.


  • Penerima Hadiah Sastera Rancage 2019
Meski jumlah keseluruhan buku sastra daerah yang terbit tahun 2018 mencapai 110 judul, tahun ini Hadiah Sastera Rancage hanya memberikan tiga hadiah untuk Sastera Sunda, Jawa dan Bali serta satu hadiah Samsudi. Beberapa buku ditangguhkan untuk penilaian di tahun depan karena belum memenuhi ketentuan jumlah minimal.

Hadiah Sastera Rancage 2019 dianugerahkan pada:


1. Eris Risnandar - Sastera Sunda - kumpulan puisi "Serah"

Lahir di Sumedang, Jawa Barat, 3 Juli 1975. Alumnus Sastra Sunda Unpad Bandung. Banyak menulis cerpen, puisi, esai dalam bahasa Sunda dan bahasa Indonesia. Karya berupa carita pondok telah dibukukan dalam Ti Pulpen Tepi ka Pajaratan Cinta (antologi bersama, 2002), Heulang Nu Ngajak Bengbat (2004). Juga kumpulan puisi, Serah, terbit 2018. Kini bekerja sebagai guru basa Sunda di SMA Negeri 9 Cirebon


2. Sunaryata Soemardjo - Sastera Jawa - novel "Tembang Raras ing Tepi Ratri"

Lahir di Nganjuk, Jawa Timur, pensiunan PNS yang kini tinggal di lamongan. Menulis puisi, cerpen, cerbung dalam bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Karyanya sering dimuat di Panjebar Semangat, Jaya Baya dan Radar Bojonegoro. Novelnya berbahasa Jawa diantaranya: Amrika Kembang Kopi (2012), Purnama Kingkin (2014), Esem ing Lingsir Sore (2017) dan Tembang Raras ing Tepis Ratri (2018)


3. I Ketut Sandiyasa - Sastera Bali - kumpulan cerpen "Kupu-kupu Kuning Ngindang di Candidasa'

Guru SDN 5 Bugbug, Karangasem, Bali. Altif di sanggar Burat Wangi dan Suara Saking Bali. Sejak 2009 rajin menulis dalam bahasa Bali dan bahasa Indonesia berupa puisi, cerpen, opini dan esai budaya yang dimuat di Bali Post dan berbagai media. Cerpen Ngantiang Ujan dan Karang Suwung terpilih dalam antologi bersama "Ngantiang Ujan". Sedangkan buku kumpulan cerpennya Kupu-kupu Kuning Ngindang di Candidasa terbit tahun 2018.


4. Ai Rohmawati - Hadiah Samsudi - cerita anak "Pohaci Nawangwulan"

Lahir di Garut, 6 September 1986. Karyanya berupa cerita pendek dalam bahasa Sunda dimuat di Pikiran Rakyat, Mangle, Cupumanik, Galura, Giwangkara, Jaleuleu dan Kandaga. Beberapa kali menjadi juara lomba menulis carita pondok di Himpunan Mahasiswa Pendidikan Basa jeung Sastra Sunda UPI, juara II lomba Karya Ilmiah UPI (2007), juara Nulis Surat ka Gubernur Tingkat Jawa Barat (2007). Karyanya cerita anak dalam bahasa Sunda diterbitkan pada tahun 2018. Sekarang mengajar di MAN 1 Garut Jawa Barat.


Perpusnas Expo





Selamat untuk para pemenang, semoga Hadiah Sastera Rancage yang diberikan mampu memberikan suntikan motivasi untuk berkarya lebih baik lagi!

Semoga Yayasan Kebudayaan Rancage terus diberikan kemampuan untuk mewujudkan kecintaan dan apresiasi terhadap para pengarang yang menghasilkan karya sastra terbaik dalam bahasa daerah. Semoga juga Hadiah Sastera Rancage, penanda kepedulian dan apresiasi terhadap kecintaan para pengarang terhadap bahasa daerahnya masing-masing, sebagai pendokumentasi bahasa ibu dan pelestari sejati bahasa daerah, akan terus berkesinambungan hingga nanti.

Nah, buat pengingat saya dan teman-teman, yuk kita melestarikan bahasa dan sastra daerah dengan cara kita masing-masing. Misalnya dengan mempelajari bahasa daerah kita (siapa tahu banyak lupanya kek saya🙈), mengajari anak bahasa daerah (meski susah, khususnya di Jakarta yang enggak ada pelajaran bahasa daerah), membeli buku/majalah berbahasa daerah, membaca versi online karya sastra daerah, menyumbangkan tenaga, waktu, dana untuk kegiatan terkait....Atau kalau bisa, menulis karya sastra berbahasa daerah kita? Yuk, ah!

Kalau bukan kita, siapa lagi coba? Kalau enggak kini, keburu punah nanti!💪💗


#ODOP
#EstrilookCommunity
#Day10



Salam Budaya


Dian Restu Agustina





16 comments:

  1. Waaahh, Alhamdulillah.... kalo banyak anak muda seperti ini, kita bisa tersengat optimisme menatap karya sastra kedaerahan di masa mendataaang!
    --https(dot)bukanbocahbiasa.com--

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Alhamdulillah, masih ada yang tertarik mempelajari

      Delete
  2. Kalau bicara sastra tuh sedikit ya peminat anak mudanya. Tapi baca tulisan Mba Dian jadi kagum, ternyata dugaan saya salah. Masih banyak yg peduli sama sastra daerah. Ayoo tetuskan!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak..semoga lebih maju lagi nanti ya dan enggak mati!

      Delete
  3. Ternyata acara ini sudah lama juga ya mbak, aku kira baru-baru ini saja. Ternyata sudah sejak 1989 diadakannya dan sampai sekarang, keren bisa bertahan terus seperti ini. Apalagi gak banyak orang sebenarnya suka membaca tentang sastra termasuk saya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak sudah 31 tahun..tapi ya gitu deh tetap kesulitannya di dana:(

      Delete
  4. Sumpah tulisannya menampar saya bolak balik nih. Saya juga suka bahasa daerah tapiiiiii mau dipraktekkan di mana coba

    Kalo di tempat kerja tentu saja pakai bahasa Indonesia dan di rumah yang beda suku pake dua bahasa tentu saja aneh
    .
    Jadi malah bahasa Inggris dan Indonesia saja yang digunakan. Baiklah Rancage ini mengilhami untuk melestarikan bahasa kita yang nyaris punah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga merasa tertampar, Mbak..apalgi suasana di situ guyub sekali, undangan mewakili berbagai institusi dan komunitas pemakai bahasa daerah berbeda

      Delete
  5. Pasti ini para penerimanya punya karya2 yang hebat, ya. Jadi penasaran seperti apa.

    ReplyDelete
  6. Dulu aku inget, pengen sekolah sastra, cuma dilarang orang tua. Ah, salut banget dengan cerita diatas masih banyak peminat sastra ini, terlebih buat anak muda agar terus melestarikannya ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak..salut untuk mereka yang mau bergelut di sastra daerah meski hasinya tak menjanjikan dari segi materi

      Delete
  7. Rancage ini bacanya gimana tah mbak...
    beneran Rancage, atau rankeg?

    maapkeun, saya baru dengar hal ini...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya kurang tahu, Mbak..saya orang Jawa.
      Kemarin sih biasa ejaannya, Ran-ca-ge...tapi "g" nya seperti dilafalkan mirip "k". Jadi saya dengarnya Ran-Ca-Ke

      Delete
  8. Saya dari dulu salut banget sama Penghargaan Rancage ini, sayang banget dari tahun ke tahun belum terlihat generasi penerusnya ya, semoga anak milenial yang baca ini pada mau nulis dengan bahasa daerah masing-masing ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lha, Mas Ali ga baca yaa...itu yang saya sebut di awal pemenangnya usia 27 tahun (tahun lalu). Pemenang tahun ini yang 2 orang usia juga awal 30-an. Itu dah lumayan lho. Masih ada dan semoga tambah banyak ke depannya.
      Kalau hadiahnya makin menggiurkan bisa saja banyak yang tertarik, kan?

      Delete