Gundala dan Kelahiran Pahlawan Super Indonesia



Berlalu dari Agustus, bulan kemerdekaan, masih banyak PR saya sebagai orang tua yang mesti dituntaskan. Diantaranya menanamkan rasa bangga berbangsa Indonesia pada anak-anak saya. Memang selama ini saya dan suami termasuk tipikal yang "Cinta Indonesia". Dalam artian kami selalu berusaha mengedepankan rasa cinta tanah air pada anak-anak baik melalui teladan maupun didikan agar mereka bangga akan negaranya dimana saja mereka berada. 

Beberapa hal sederhana diantaranya: mengajak menonton siaran langsung upacara Detik-Detik Proklamasi setiap tanggal 17 Agustus di TV, mengikuti kegiatan peringatan HUT RI terutama di lingkungan rumah, mengajak traveling mengunjungi berbagai tempat indah mapun bersejarah di Indonesia dan mengenalkan segala yang "berbau" budaya Indonesia di tengah gempuran beraneka budaya mancanegara.

Nah, kebetulan saya membaca info tayangnya film Gundala pada 29 Agustus 2019 di seluruh bioskop di Indonesia. Sebuah film pahlawan super Indonesia yang disutradarai dan ditulis oleh Joko Anwar. Di mana film tersebut diproduksi oleh Screenplay Films dan Legacy Pictures, bersama dengan pemilik hak cipta Gundala, Jagat Sinema Bumilangit yaitu Bumilangit Studios. Dan dibuat berdasarkan pada cerita karakter pahlawan super Indonesia tahun 1969 Gundala yang dibuat oleh Harya Suraminata.


Gundala dan Kelahiran Pahlawan Super Indonesia




Membaca ini saya pun langsung menjadwalkan akhir pekan mesti mengajak anak-anak menontonnya. Karena bagi saya, menonton film Indonesia bisa menjadi salah satu sarana untuk mengenal lebih dalam negeri ini bagi generasi milenial.

And, here we are...Saya bertiga dengan anak-anak nonton Gundala yang meski punya kekurangan tapi membuat saya bangga menyaksikannya.

Etapi.., kok cuma bertiga, Bapake kemana? Lagi mencintai Indonesia dalam bentuk berbeda haha. Tepatnya lagi mendaki Gunung Sindoro 3153 MDPL bareng teman-temannya alumni FE UI.😀

Yo wis..yuk, kita simak review film Gundala versi saya!


Data Film GUNDALA



GUNDALA

Sutradara: 

Joko Anwar 

Pemain:

Abimana Aryasatya  ... Sancaka / Gundala
Bront Palarae ... Pengkor
Tara Basro ... Wulan (Merpati)
Ario Bayu... Ghani Zulham
Lukman Sardi ... Ridwan Bahri
Pritt Timothy ... Pak Agung
Aqi Singgih ... Ganda Hamdan
Donny Alamsyah ... Fadli Aziz
Tanta Ginting ... Ito Marbun
Dhimas Danang ... Hasbi
Rio Dewanto ... Ayah Sancaka
Marissa Anita ... Kurniati Dewi (Ibu Sancaka)
Muzakki Ramdhan ... Sancaka (kecil)
Putri Ayudya ... Rahayu
Zidni Hakim ... Dirga Utama
Cecep Arif Rahman ... Swara Batin
Hannah Al Rashid ... Cantika
Asmara Abigail ... Desti Nikita
Della Dartyan ... Nila Umaya
Kelly Tandiono ... Mutiara
Daniel Adnan ... Tanto Ginanjar
Cornelio Sunny ... The Painter
Willem Bevers ... Plantation Worker
Sujiwo Tejo ... Ki Wilawuk
Pevita Pearce ... Sri Asih

Produser:

Wim Berlinawan ... associate producer
Andi Boediman ... executive producer
Bismarka Kurniawan ... producer 
Wicky V. Olindo ... producer
Daiwanne Ralie ... associate producer
Robert Ronny ... executive producer
Sukhdev Singh ... producer

Tahun/Genre/Durasi:
2019 ‧ Drama/Laga ‧ 2 j 3 m

Bahasa: Indonesia
Musik: Aghi Narotama; Bemby Gusti; Tony Merle
Perusahaan produksi: Screenplay Films, Legacy Pictures


Blurb Film GUNDALA


Sancaka hidup di jalanan sejak ditinggal ayah dan ibunya. Menghadapi hidup yang keras, Sancaka belajar untuk bertahan hidup dengan tidak peduli dengan orang lain dan hanya mencoba untuk mendapatkan tempat yang aman bagi dirinya sendiri. 

Ketika situasi kota semakin tidak aman dan ketidakadilan merajalela di seluruh negeri, Sancaka harus buat keputusan yang berat, tetap hidup di zona amannya, atau keluar sebagai Gundala untuk membela orang-orang yang ditindas.



Gundala dan Kelahiran Pahlawan Super Indonesia


Latar Belakang Film GUNDALA


Film Gundala diadaptasi dari 'Gundala Putra Petir'. Di mana saya lansir dari Wikipedia, adalah tokoh komik ciptaan Hasmi yang muncul pertama kali dalam komik "Gundala Putra Petir" pada tahun 1969

Lokasi cerita di komiknya sendiri sering digambarkan di kota Yogyakarta meskipun dalam filmnya pada tahun 1981 diceritakan berada di Jakarta. Gundala adalah karakter komik yang sangat populer di Indonesia pada masanya selain Si Buta dari Gua Hantu, Godam, Aquanus, Mandala, Sri Asih, dan Maza

Nah, karakter Gundala diciptakan oleh Harya Suraminata (Hasmi) didasarkan pada perkembangan komik asing yang makin membumi di negeri ini, 

Kemudian, Hasmi membuat 'Gundala' dengan kearifan lokal.  Yang mana Hasmi terinspirasi dari tokoh legenda Jawa, Ki Ageng Selo, sosok sakti yang mampu menangkap petir dengan tangannya. Sedangkan nama 'Gundala' sendiri diambil dari bahasa Jawa 'Gundolo' yang artinya petir



Gundala dan Kelahiran Pahlawan Super Indonesia


Apa Kurangnya Gundala?


Pertama saya akan mengulas kekurangan dari film ini dulu ya..

Kok jeleknya duluan sih

Ya enggak apa-apa, jadi kita melihat enggak bagusnya dulu, biar jadi pertimbangan perlu nonton atau enggak gitu. 😀

Siip? Yuk mari...:

  • Ingat, Gundala bukan film anak-anak (di bawah usia remaja) yaa...

Karena, adegan laga, plot cerita dan masalah kehidupan yang diangkat terlalu berat untuk konsumsi mereka. Bahkan rating usia Gundala yang 13+ sepertinya juga terlalu "memaksa". Saya saja kaget awalnya dan beberapa kali harus menjelaskan singkat ke anak-anak di sepanjang filmnya. Apalagi buat si Adik yang memang baru berusia 10 tahun. 

Tema kesemena-menaan terhadap buruh, kesenjangan sosial antara si miskin dan si kaya, ketidakberdayaan anggota Dewan pada Mafia, kurang tegasnya penguasa, penindasan pada kaum yang lemah dan sebagainya sepertinya lumayan berat dicerna para remaja.

Sebelumnya sih saya kira, masih oke buat usianya. Biasanya kalau film 13+ saya hanya membolehkan si Mas yang nonton. Yang salah memang saya sih yaa...Sebaiknya memang menonton sesuai usia. Tapi sepulang nonton saya tanya si Adik apa dia takut, katanya waktu pukul-pukulan sih iya, cuma kalau sama ceritanya dia sukaaa😀

  • Bersiaplah dengan cerita yang berbeda dengan komiknya

Jadi buat yang sudah membaca komik Gundala Putra Petir bersiaplah untuk menerima kenyataan bahwa versi film berbeda dari bukunya. Misalnya, jika di komik tidak diceritakan tentang asal-usul Gundala, di film dikisahkan masa kecil tokoh utama film ini yang bernama asli Sancaka. 

  • Ada logika yang dipaksakan dan susah untuk diterima

Beberapa kejadian seperti ada yang enggak nyambung gitu dengan kejadian sebelumnya. Sehingga bisa saja penonton mengalami "blank", lho ini tadi siapa ya. Mengapa ada tokoh ini jadinya. Kenapa tiba-tiba sudah lompat ke sini. Dan seterusnya...

Kek-nya sih memang sengaja dibuat begitu. Pasalnya film ini memang direncanakan berlanjut ke sekuel Jagat Sinema Bumilangit berikutnya seperti komiknya yang jadi beberapa seri.

  • Beberapa scene membosankan karena diulik secara berlebihan

Jadi ada masa di mana saya merasa ini kok lama banget di sini ya, sampai bosan dan nengok jam. Misalnya ada dialog yang terlalu panjang. Atau adegan yang durasinya kelamaan.

Tapi lagi-lagi ini sepertinya karena pengin mengenalkan secara mendalam pada penonton agar nanti di masa depan enggak kebingungan.

  • Efek yang belum optimal

Untuk sebuah film laga, efeknya masih kurang greng menurut saya. 

Meski untuk ukuran film Indonesia sudah bagus sih, karena hal ini nanti ujung-ujungnya ke masalah pembiayaan filmnya, jadi ya mesti dimaklumi. Semoga saja di sekuel berikutnya akan lebih baik lagi jika yang perdana ini booming filmnya. 


  • Ending yang menggantung

Karena Gundala adalah film perdana dari Jagat Sinema Bumilangit maka jangan berharap endingnya akan happy seperti yang diharapkan saat kita nonton film biasa.. Pasalnya akhir cerita pasti dibikin penasaran dengan harapan kita akan menonton kelanjutannya nanti.







Gundala dan Kelahiran Pahlawan Super Indonesia



Lalu Bagusnya Gundala Dimana?


Nah, kalau jeleknya saja yang diceritakan enggak fair. Mosok film sudah dibikin dengan biaya 30 milyar, melibatkan 1800 pemain dan berlokasi syuting di 70 lokasi yang berbeda di Indonesia disebut biasa saja?

Gundala bagus kok, karena:
  • Bernilai moral kemanusiaan

Melalui adegan, kisah juga dialognya, film menyajikan banyak sisi humanis yang mengingatkan untuk memanusiakan orang lain dan tidak hanya mementingkan diri sendiri saja.

  • Mengingatkan untuk peduli pada sesama

Saat ini kepedulian pada sesama makin berkurang di kalangan generasi muda, bahkan kita sendirinya. Maka film Gundala yang mengangkat tema penindasan, kemiskinan, ketidakadilan ini kembali menyadarkan kita untuk lebih peduli dan membuka hati untuk segala masalah yang ada di kanan dan kiri pun yang menimpa negeri ini.

  • Patriot yang membanggakan

Setelah sekian lama dibuai oleh deretan pahlawan superhero kelahiran Holywood maka Gundala hadir membanggakan Indonesia dengan menjadi patriot yang  bisa jadi teladan bagi anak mudanya. Yang pastinya pahlawan yang akan mengedepankan kearifan lokal dan nilai-nilai luhur kebangsaan dalam gaya milenial.

  • Pemain dengan akting yang memuaskan

Karakter cerita yang kuat, tak akan hidup tanpa akting pemain yang hebat. Maka, Gundala patut ditonton karena deretan pemeran telah memainkan tokohnya dengan memuaskan. Bahkan Sancaka (Gundala) kecil dan beberapa pemeran yang terbilang baru mampu mengimbangi akting Abimana Aryasatya (Sancaka / Gundala) juga Bront Palarae (Pengkor)

  • Lokasi asli yang lekat dengan kehidupan sehari-hari

Senangnya nonton Gundala akan mendapati berbagai lokasi yang dekat dengan kehidupan keseharian masyarakat Indonesia. Jadi ada tempat syuting di rumah petakan, pasar, pabrik, perlintasan kereta, pelabuhan...dan semua itu beneran, bukan di studio yang dibuat ala-ala.

  • Ada selipan drama dan komedinya

Jadi meski Gundala ini berkategori action alias film laga, di beberapa adegan dialog kita akan dapati candaan yang bikin tertawa. Juga dibumbui kisah dramatik yang bisa (sedikit) menguras air mata.

  • Pertarungan keseharian

Jika di adegan laga superhero luar butuh peralatan, tidak demikian dengan Gundala. Pertarungan tangan kosong yang sesekali dibumbui pedang, pisau atau tongkat mendominasi laga di film ini.

Jadi memang "Indonesia banget" ..!


Gundala dan Kelahiran Pahlawan Super Indonesia


Baiklaaah, sekian dulu reviewnya.

Penasaran dengan filmnya?

Semoga reviewnya bisa jadi bahan pertimbangan teman-teman untuk menonton Gundala nantinya.😍




Love

Dian Restu Agustina


#ODOP
#EstrilookCommunity
#Day1




55 comments:

  1. Wah anakku yg 8th kira2 masih safe gak ya mb nonton film ini? Banyak adegan laganya gak mb?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin didampingi bisa, tapi tergantung anaknya si..sebaiknya sesuai usia saja

      Delete
  2. Saya galfok sama tiketnya hehehe. Itu puri indah mall Jakarta barat kah? Kalau iya, berdekatan rumah kita berarti Bun hehehehe. Bisa meet up lah kapan-kapan 😁💓

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh ya, saya di Joglo, Jakarta Barat Bun..kalau nonton biasa ke sini hihihi
      Yuk meet up kita

      Delete
  3. Wahh jadi mikir mau nonton bawa anak nih..
    Anaknya ketiganya masih di bawah 10 tahun
    Nonton berdua pak su sajalah

    ReplyDelete
  4. Wah jadi inin menonton nih
    Langsung nonton trealernya ah

    ReplyDelete
  5. Akhirnya, terjawab sudah arti nama Gundala, ternyata dari bahasa jawa, to. Kemarin baca review teman-teman memang banyak yang menyarankan untuk tidak membawa anak-anak.

    ReplyDelete
  6. Puingiiinnn nonton GUNDALAAAA
    Siap2 agendakan sama bocil nih Mba
    Apalagi kalo lihat review yg banyak recommend nih pilem, jadi mupeng
    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    ReplyDelete
  7. Lagi pada rame film ini ya Mba.
    Rame karena memang lagi tayang, rame karena banyak yang pro dan kontra karena banyak yang bilang film ini ngga ramah untuk anak-anak, rame karena yang pro bilang kan udah ada tulisannya "R13+" kenapa masih bawa anak?
    Hmmm, aku cukup apresiasi sih sama film ini terlepas dari pro dan kontranya. Dan kalau bisa jujur, aku juga tim pro film Gundala heheheh

    ReplyDelete
  8. Gundala adalah film layar lebar yg saya liat waktu kecil dulu, boleh lah dilihat lagi untuk menggali kenangan hehehe

    ReplyDelete
  9. Saya sejak minggu lalu diajak krucil nonton film Gundala, Mbak. Hanya belum sempat, karena di Kebumen belum ada bioskop hahaha. Harus ke Purwokerto atau Yogya.

    Namun dengan biaya 30 milyar, melibatkan 1800 pemain dan 70 lokasi berbeda, film ini patut saya apresiasi. Apalagi tujuannya mengangkat tokoh super hero asli Indonesia.

    ReplyDelete
  10. Aku juga sudah nonton Gundala, mbak. Alur ceritanya lumayan bagus sih kalau menurut saya, berasa ada hawa-hawa film Batman karyanya Nolan di sini. Walaupun banyak kekurangan, salah satunya kalau berantem berasa slow gitu gerakannya ya, hehehe, tapi salut deh sama Gundala. Ini bisa jadi awal kemajuan film Indonesia untuk bisa sekelas film-film Marvel atau DC. Saya ga sabar nunggu film selanjutnya, secara si Sri Asih udah nongol dua kali di Gundala.

    ReplyDelete
  11. Cinta Indonesia banget nih ya mbak. Saya malah belum nonton krena lagi jauuh dari Mall. Tapi mungkin bisa nanti ya liat sekuelnya biar filmnya jga bisa lebih matang dan bagus. Hihi

    ReplyDelete
  12. Beberapa tipikal film Joko Anwar banyak dialog dialog yang cukup lama dan membosankan, menurutku ya.

    Perolehan penonton Gundala ini sudah dia atas 700rb dan sudah mendekati 1 juta. Kalau lihat animo penonton bakalan tembus 1 juta sih...

    Aku belum nonton. Belum sempat. Tapi baca review ini jadi pengen nonton apalagi lihat deretan pemainnya...

    ReplyDelete
  13. Aku udah nonton filmnya nih, kalau untuk aku sih bagus banget deh ceritanya, tapi tidak dsarankan utuk anak2 ya, banyak adegan berantem dengan senjata yang bikin ngilu ish.....tapi aku bangga Indonesia punya film superhero yang keren.

    ReplyDelete
  14. Detail banget reviewnya, suka deh. Aku belum nonton nih, masih maju mundur nontonnya, coba ah suruh suami baca, nanti dia yg menentukan mau nonton apa tidak, hehehe

    ReplyDelete
  15. aku belum nonton film ini, karena gak ada temennya buat nonton juga. Tetapi katanya yang sudah nonton filmnya emang keren kayak kamen Rider versi Indonesia

    ReplyDelete
  16. Baca ini sambil takut kena spoiler soalnya aku mau nonton akhir pekan ini. Review nya pada bagus ya

    ReplyDelete
  17. Tak sengaja saya nyimak program TV pas bintang tamunya Abimana dan Bront Palarae beberapa hari yg lalu. Jadi ngeh kalau ada film Gundala. Menurut Abimana sih film ini film keluarga, gitu. Nasib Sancaka kecil dan Pengkor kecil hampir sama tapi pas dewasa jadi dia pribadi yang berbeda.

    Eh, ternyata kurang cocok untuk anak-anak, ya. Mungkin yg dimaksud adalah kehangatan keluarga menentukan masa depan anak kali, ya :D

    Dan saya semakin penasaran setelah Mbak Dian bikin review-nya spt ini. Hiks. Hanya bisa penasaran dan kayaknya nunggu tayang di iflix/netflix. Sabaaar.

    Btw, review-nya keren. Anti bocor bingung spoiler :) Sip.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Typo, hihi..
      Maksudnya, review- nya anti bocor bin spoiler, gitu.

      Delete
  18. Belum sempat nonton huhuhu tapi udah baca review manteman yang sebagian besar bilang kalau film ini sangat layak tonton. Baiklah, Demi Mendukung berkembangnya perfilman lokal

    ReplyDelete
  19. Kalau teman saya yang sudah nonton fix memasukkan film ini kategori dewasa.. Hihi. Karena katanya ada adegan yang lumayan keras, adegan di jalan atau gimana gitu. Tapi secara keseluruhan dia bilang lumayan...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, karena anak saya sudah remaja satunya maka saya ajakin nonton ternyata memang remaja pemula masih belum masuk keknya

      Delete
  20. Review filmnya lengkap Mba.. Pokoknya kita bangga dengan film hasil bangsa sendiri, Cinta Indonesia deh, semoga perfilman Indonesia terus berkembang dan lebih baik lagi

    ReplyDelete
  21. Reviewnya mantap mba.. Keren hasil karya film Indonesia

    ReplyDelete
  22. Banyak yang bilang film ini bituh pendampingan orangtua jika akan ditonton anak-anak. Ya karena kan film superhero pastinya banyak adegan berkelahi. Tapi terlepas dari itu semua, aku bangga Indonesia bisa produksi film superhero yang memiliki unsur pesan moral yang baik kayak gini. Terutama tentang rasa kepedulian

    ReplyDelete
  23. Ini film pas muncul thriller nya, back soundnya lagu the end of the world, lagu kesukaan saya :)

    Pingin nonton tapi karena dsini gak ada bioskop nunggu versi online atau netflix,, hehe

    ReplyDelete
  24. Wah, saya melewatkan ini dan nonton film Bumi Manusia. Duh, kayaknya seru juga film Gundala ini. Memang film yang tayang di bioskop pasti ada pro dan kontranya. Suka deh baca reviewnya, lengkap.

    ReplyDelete
  25. Jarang nonton film di bioskop si mbak. Soalnya jarang keluar rumah jalan-jalan. Tapi e tapi.. reviewnya bagus. Lengkap juga, makasih rivewnya..

    ReplyDelete
  26. Wahhhh... ini film zaman saya kecil dlu. Superhero Indonesia pertama. Ketauan deh angkatan berapa hehehee...
    Kebetulan saya suka dengan akting Abimana dalam setiap film² yg dia mainkan. Jadi meskipun belum nonton, saya yakin Abimana berhasil memerankan karakter Gundala dengan pas *sok tau saya ya mbak kwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, saya juga merasa Abi pas memainkan peran Gundala ini

      Delete
  27. Aduh saya kalau review film trua ada bahas ending dan endingnya sad atau gantung, langsung dicoret.. xixixi.. aoalnya saya ga suka jenis film ending begitu. Efeknya ke pikiran dan suasana hati saya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lha, piye mau selesai Mbak..ini kan serial super hero, baru satu dikenalin yang lain belum..
      Ya endingnya pasti gantung dunk!
      hehe

      Delete
  28. Tumbenan Joko Anwar bikin film action, biasanya bikin film horror. Tapi overall oke ya mbak film ini?

    ReplyDelete
  29. Saya juga sudah nonton film ini dan over all saya suka

    ReplyDelete