Peluncuran Buku Melati di Taman Keberagaman

Kepemimpinan Perempuan dalam Merawat Kebinekaan


 


"Anda lebih baik mendidik sepuluh perempuan ke dalam praktik prinsip-prinsip liberal daripada mengorganisasi seribu orang di atas panggung intoleransi dan kefanatikan" - Susan B. Anthony



Kutipan Susan B. Anthony di atas menunjukan bahwa betapa kuatnya peran perempuan dalam sebuah perubahan. Salah satunya adalah peran mereka dalam merawat kebinekaan.

Perempuan memiliki insting dan passion keibuan yang memungkinkannya lebih mudah untuk menjalani tugas-tugas merawat kebinekaan, menjaga keberlangsungan hidup, mereda konflik, dan memelihara perdamaian.

Secara praktis, buku Melati di Taman Keberagaman: Praktik Kepemimpinan Inklusif di Indonesia dan Australia membahas tentang bagaimana kita memahami pentingnya keberagaman dan inklusi dalam kepemipinan perempuan, yakni dengan mengidentifikasi cara-cara guna meningkatkan keterampilan kepemimpinan yang efektif dan mampu memengaruhi perubahan dengan studi kasus di dua negara, yaitu Australia dan Indonesia. 

"Kita ingin agar perempuan Indonesia melek kepemimpinan, memiliki leadership literacy, karena kepemimpinan bukan hanya milik mereka yang duduk di posisi puncak. Nilai-nilai kepemimpinan ada di setiap diri kaum perempuan. Memahami potensi diri, berani bersikap, bersuara, merebut peluang yang ada. Jangan lagi ada Pelor (Pelaku Teror) diantara kita. Mari bersama mengembangkan dan mempromosikan program-program kebinekaan secara lintas, terintegrasi baik melalui pribadi, komunitas maupun organisasi," demikian Mathilda AMW Birowo berucap tentang latar belakang penulisan bukunya.



Mathilda AMW Birowo



Data Buku


Judul:
Melati di Taman Keberagaman
Praktik Kepemimpinan Inklusif di Indonesia dan Australia 


Penulis:
Mathilda AMW Birowo

Penerbit: Grasindo (PT Gramedia Widiasarana Indonesia)
Terbit: 2019
Editor: Linda Irawati
Penata Isi: Numuh Albar
Desain Kover: Raysa Kania
Tebal:  305 halaman
ISBN: 978-602-05-22-166
Genre: Referensi
Harga: 135.000 (P Jawa)


Mathilda AMW Birowo


Daftar Isi:

Jendela 1 Kepemimpinan Perempuan: Peran, Tantangan dan Peluang
Jendela 2 Keberagaman dan Inklusi dalam Kepemimpinan
Jendela 3 Kepemimpinan Efektif dalam Memengaruhi Perubahan 
Jendela 4 Berpikir dan Bekerja secara Politis
Jendela 5 Program Pendampingan dan Pelatihan untuk Generasi Berikut
Jendela 6 Teknik Pemberdayaan: Keterampilan Komunikasi, Kerja Sama. dan Negosiasi 
Jendela 7 Mengembangkan Program Strategis dalam Mempromosikan dan Mendukung Pluralisme Agama
Jendela 8 Menyikapi Isu-lsu Terkini: Perdagangan Manusia, Penghayat Kepercayaan, Kaum Difabel
Jendela 9 Keseimbangan Hidup untuk Kepemimpinan yang Berkelanjutan dan Efektif

(Oh ya, jangan khawatir ya, meski tema dan isi nampak berat, tapi sejatinya bahasa di buku ringan dan keseharian sifatnya. Lesbih pada pengalaman sehari-hari penulis saat mengikuti kegiatan Leaderhip Course for Multi-faith Women Leader from Indonesia))

Mathilda AMW Birowo


Tentang Penulis Buku Melati di Taman Keberagaman


Mathilda AMW Birowo
(Public Relations Specialist)


Meningkatkan kapasitas kepemimpinan perempuan Indonesia melaluj keterampilan berkomunikasi dan pendekatan inklusif adalah semangat di balik penerbitan buku ini.

Setelah lebih dari 25 tahun menggeluti bidang public relations di kelompok perusahaan media, multinasional, dan perbankan, saat ini ia fokus dalam memberikan konsultasi dan edukasi terkait pengembangan pribadi, corporate communication, dan kepemimpinan.

Keaktifannya di berbagai organisasi profesi dan perempuan, seperti Persatuan Bank Swasta Nasional (PERBANAS), Forum Komunikasi Humas Perbankan (FORKAMAS), Persatuan Hubungan Masyarakat (PERHUMAS), dan Wanita Katolik RI melengkapi kiprahnya di bidang pendidikan saat ini.


Mathilda AMW Birowo
Mathilda AMW Birowo

Penghargaan Indonesia Wonder Women 2014 dari Universitas Indonesia diberikan dalam kontribusinya mengembangkan program Corporate Social Responsibility dengan mengoordinasi pembangunan Laboratorium Minibanking Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (sekarang vokasi) dan Laboraturium Boursegame di Program Magister Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis.

Perhatiannya terhadap peran perempuan dalam turut merawat kebinekaan telah membawanya ke Australia mengikuti Leadership Course for Multi-Faith Women Leaders from Indonesia di Deakin University, Melbourne. Bersama 26 pemimpin organisasi dan Perguruan Tinggi berbasis agama lainnya, mereka terpilih melalui seleksi Australia Awards Indonesia 2018.

Pengalamannya di bidang komunikasi dan leadership ini dibagikan kepada seluruh kaum muda khususnya perempuan dalam bentuk tulisan-tulisan di media cetak dan lima buku yang telah diterbitkan oleh Gramedia. la juga telah diperbantukan selama tiga tahun sebagai konsultan komunikasi di Kementerian Komunikasi dan Informatika (KOMINFO) RI.

Saat ini, ia menjadi dosen Ilmu Komunikasi di Multimedia Nusantara dan Universitas Indonesia. Selain itu, menjadi fasilitator untuk pelatihan yang diselenggarakan oleh Pusat Pendidikan dan Latihan KOMINFO, Gramedia Academy dan kursus Membangun Rumah Tangga Keuskupan Agung Jakarta.


Mathilda AMW Birowo



Peluncuran Buku Melati di Taman Keberagaman



Apabila kita melihat kondisi saat ini, buku karya Mathilda AMW Birowo ini sangat relevan untuk Indonesia masa kini. Bahkan Presiden Jokowi dalam pidato kenegaraannya di DPR pada tanggal 16 Agustus 2019 menyebutkan secara tegas bahwa ada tiga hal yang menjadi krusial di negeri ini yaitu menguatnya sikap intoleran, radikalisme dan terorisme.

Untuk itulah Grasindo mempersembahkan rangkaian acara untuk memeringati Hari Kesaktian Pancasila dan Sumpah Pemuda yaitu Talkshow "Kepemimpinan dalam Merawat Kebinekaan" dan Peluncuran Buku "Melati di Taman Keberagaman - Praktik Inklusif di Indonesia dan Australia".


Mathilda AMW Birowo
Prof. Dr.Soenaryati Soenaryo (mewakili tokoh Supah pemuda Soenaryo)


Tidak hanya menghadirkan Mathilda AMW Birowo sebagai penulis buku, acara ini juga menghadirkan dua narasumber lain, yaitu:
  • Prof Dr. Musdah Mulia - Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP)
  • Hermien Kleden - Senior Journalist & Media Mentor
Bertempat di Gedung Perpusnas RI acara pada hari Rabu, 30 Oktober 2019, berlangsung dengan hangat dan khidmat yang juga dihadiri oleh perwakilan dari ahli waris tokoh Sumpah Pemuda dan Kesaktian Pancasila, para tokoh Perempuan Lintas Agama (Pelita: perwakilan Muslimat NU, Perhimpunan Pemuda Hindu, perwakilan Nasyiatul Aisyiyah, Paguyuban Sosial Marga tionghoa Indonesia, perwakilan Umat Budha Indonesia, dan lainnya), Kedubes Australia, Perpusnas, Kominfo dan tamu undangan lainnya.


Mathilda AMW Birowo

Mathilda AMW Birowo:


Mengapa perempuan sering kali dikecualikan dalam arus keutamaan kepemimpinan?

Kepemimpinan seperti apa yang berpeluang di tengah masih timpangnya kesetaraan?Bagaimana perempuan berperan penuh dalam menghadapi isu radikalisme?

Apa yang dimaksud dengan istilah 'kepemimpinan perempuan' inklusif dan transformatif. Perubahan struktural apa yang diperlukan agar perempuan terwakili lebih baik dalam posisi kepemimpinan?

Beberapa pertanyaan tadi barangkali hanya sebagian kecil dari hal-hal yang akan kita jelajahi dalam buku yang bercerita tentang kunjungan studi banding bersama ke Australia, negeri yang dikenal dengan multikulturalnya, yang penulis lakukan beberapa waktu lalu.

Dilengkapi dengan konsep dan teori kepemimpinan efektif dalam memengaruhi perubahan, dalam kunjungan tersebut, program-program strategis untuk mempromosikan dan mendukung pluralisme serta meningkatkan partisipasi perempuan di ranah publik dikembangkan.

Bersama 27 pemimpin perempuan lintas organisasi berbasis agama, dalam buku ini, saya mengajak untuk melihat bahwa untuk merawat kebinekaan di Indonesia, tidak harus melalui karya-karya besar. Kita dapat memulainya dari lingkungan terkecil, yakni keluarga dan komunitas akar rumput. Saya percaya karya besar berawal dari langkah kecil yang berkesinambungan.


Prof. Dr. Musdah Mulia:


Perempuan Indonesia yang jumlahnya setengah dari total penduduk atau sekitar 130 juta jiwa atau setara dengan total penduduk lima negara di ASEAN sungguh merupakan aset bangsa yang sangat potensial.

Hal itu jika mereka mencintai kebinekaan, mengerti dengan baik esensi ajaran agama mereka, serta menghayati sepenuhnya konsep NKRI dan ideologi negara, Pancasila. Sebaliknya, mereka akan jadi kelompok rentan dan menjadi arus utama penyebaran ideologi radikalisme agama yang bukan tidak mungkin akan menjadi batu sandungan yang amat berbahaya bagi kemajuan dan kejayaan NKRI.

Kalau perempuan bisa direkrut menjadi pelaku aksi radikalisme dan terorisme seharusnya lebih mudah mengajak mereka menjadi agen perdamaian. Sesuai kodratnya, perempuan lebih mudah direkrut menjadi agen perdamaian (agent of peace). Karena secara alami perempuan diciptakan dengan sebuah rahim untuk merawat keberlangsungan kehidupan manusia.

Perempuan memiliki insting dan passion keibuan yang memungkinkannya lebih mudah untuk menjalani tugas-tugas merawat kebinekaan, menjaga keberlangsungan hidup, mereda konflik, dan memelihara perdamaian.

Kehadiran perempuan yang mampu mengedepankan model kepemimpinan yang sejuk dan mengutamakan cara-cara damai, sarat dengan nilai-nilai empati, passion dan penghargaan terhadap mereka yang berbeda, terutama mereka yang termarjinalkan merupakan keniscayaan.

Hanya dengan cara itu, kita dapat mewujudkan cita-cita para pendiri bangsa, Indonesia yang maju di atas prinsip Bhinneka Tunggal Ika.

"Pertama, keberagaman Indonesia tidak hanya tentang agama saja tapi juga suku bangsa, bahasa, budaya, misi, visi maka itu semua mestinya diajarkan sejak dini dan diterima dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, tokoh-tokoh pendiri negeri ini tidak menjadikan Islam sebagai konstitusi, tapi Pancasila adalah konstitusinya. Ketiga, kepemimpinan perempuan harus lebih mengedepankan keberagaman dan nilai-nilai kebinekaan. Dan itu harus dimulai dari keluarga. Ajarkan ke anak -anak tentang keberagaman, bahwa diantaranya, kita memilih agama karena ini benar menurut kita. Tapi orang lain juga beranggapan sama. Maka mari kita hargai dengan kata kunci saling menghormati," begitu tegas Prof Musda.


Mathilda AMW Birowo



Ibu Hermien Kleden:


Daya tahan, daya tembus, kekuatan perempuan itu luar biasa. Sejak lahir kita diciptakan untuk menjalani berbagi peran maka tak heran jika sejatinya kekuatan perempuan itu nyata ada. Yang kita butuhkan hanya berani menjadi diri sendiri. Jalani peran multitasking ini dengan menghormati pilihan setiap perempuan. Sementara untuk peran di kancah politik sendiri sebenarnya perempuan Indonesia sudah lebih beruntung dibandingkan negara-negara di Asia misalnya. Karena porsi perempuan di legislatif dan eksekutif sudah nyata ada.

Bagaimana perempuan dengan sosial media? Ingat jika sosmed itu lahan tak bertuan. Maka jangan menjadikan lahan ini sebagai publikasi urusan pribadi. Lakukanlah kurasi, ingat self editing sangatlah penting. Juga, kalau mau membawa cerita orang lain, mohon ijin dulu kepada yang bersangkutan. Karena sekali keluar akan menjadi milik publik yang enggak bisa lagi ditarik. Akurasi ada di kontrol media, sementara di sosial media kontrol ada pada diri kita.

Kemudian, kaitannya dengan ketidaksetaraan yang sering diterima perempuan, kembalikan pada attitude kita. Punyai ketegasan agar orang memperlakukan kita sebagaimana mestinya.


Mathilda AMW Birowo


Sekilas Tentang Grasindo



Gramedia Widiasarana Indonesia atau Grasindo didirikan tahun 1990. Awalnya, Grasindo memilih berkecimpung di dunia pendidikan, bergerak di bidang penerbitan buku-buku teks atau pelajaran untuk taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah lanjutan tingkat pertama, sekolah menengah umum, dan perguruan tinggi. Namun kini, Grasindo telah mengembangkan diri dengan menerbitkan buku-buku motivasi, flksi, dan nonfiksi. Jangan lupa untuk mengikuti media sosial milik Grasindo yaitu @grasindo id (Instagram dan Twitter) dan juga Grasindo Publisher (Facebook, Youtube) untuk mendapatkan info terbaru mengenai buku, promo dan berbagai acara menarik dari Grasindo.


Mathilda AMW Birowo


Kesimpulan


Buku ini benar-benar bisa menjadi referensi tentang keberagaman Indonesia. Membacanya kita akan menjadi sadar bahwa begitu besar peran perempuan dalam menjalani tugas merawat kebinekaan, menjaga keberlangsungan hidup, mereda konflik dan memelihara perdamaian. Peran perempuan sangat kuat dalam sebuah perubahan.

Maka, mari kita bersama menjalani peran ini dengan sebaik-baiknya. Hormati keberagaman, sebarkan misi kebinekaan, kuatkan keberlangsungan nilai-nilai persatuan, bantu redakan konflik, dukung perdamaian dan jadilah agen perubahan keberagaman.

Jika perempuan bersatu, pasti Indonesia akan lebih maju!!💖




Salam "Bhinneka Tunggal Ika"


Dian Restu Agustina

17 comments:

  1. Buku yang menarik ini. Perdamaian dan pluralism dilihat dan dikuatkan dari sisi perempuan.
    Apalagi di media sosial, penggunanya juga banyak yg perempuan. Jika tidak hati hati, yg diposting bisa malah mempeekeruh suasana. Memperuncing perdebatan. Bener juga ya, jika wanita bersatu, negara kita akan damai dan lebih maju.
    Harus segera dicari nih bukunya

    ReplyDelete
  2. Betul sekali Mbak, perempuan itu sejatinya memang kuat, karena dituntut untuk menjalankan peran dalam banyak hal, namun harus hati-hati dan pintar membawa diri, karena tegaknya peradaban salahsatunya ada ditangan perempuan, bagaimana kita kelak bisa menghasilkan generasi-generasi yang tak hanya cerdas namun juga memiliki sikap & cara berpikir yg baik

    ReplyDelete
  3. Sepertinya menarik nih buku :' secara yang nulis jugaaaa orang keren :D

    Btw, saya sudah ngikutin grasindo sejak lama, dulu sempet ngirim naskah ke sana, tapi ditolak karena disaat bersamaan, grasindo lebi memilih nerbitin buku-buku perihal UN gitu :D

    ReplyDelete
  4. Pelor, nempel banget dikepalaku. Pas lihat daftar isi, kesannya berat gitu isinya. Tapi,kembali ke pelor tadi bahwa wanita harus terus menggali diri, memaksimalkan setiap potensi diri. Rasanya terlalu berharga jika wanita hanya berhenti menjadi kelompok pelor. Nah buku ini sangat bisa ya dipakai untuk memberikan pandangan bagaimana seharusnya perempuan itu

    ReplyDelete
  5. Keberagaman penting dalam hal wawasan dan ilmu ya mbak, kalau soal ibadah dan prinsip kembali ke pribadi. Karena sering salah orang menafsirkan hal tersebut selama ini

    ReplyDelete
  6. Betul sekali agaknya sekarang kita lagi krisis toleransi. Nggak bisa beda dikit. Kondisi kaya gini yang bikin suasana gampang menegang. Efeknya ke keamanan dan stabilitas negara juga. Buku ini kayanya layak dibaca untuk membuka mata dan hati kita juga ya untuk melihat perbedaan bukan sebagai ancaman tapi justru kekayaan. Mungkin kalau sudah baca bukunya jadi lebuh jelas nih pesannya.

    ReplyDelete
  7. Aku kok nyes baca artikel mb Dian. Setengah penduduk Indonesia itu perempuan. Betapa peranan perempuan penting banget u menjaga persatuan dan perdamaian. Semoga buku ini banyak yg baca dan menginspirasi kita semua.

    ReplyDelete
  8. Yuni akui, yuni lebih suka fiksi. Namun, baca tulisan Mbak Dian, yuni pikir buku ini worth it untuk masuk wihslist apa yang ingin yuni baca dah. Jangan lupa, perempuan itu nantinya menjadi madrasah awal sebuah generasi. Hehehe

    ReplyDelete
  9. Got it. Perempuan mengemban misi mulia. Terima kasib ulasannya mbak dian. Ringan, tegas, lugas, mencerahkan

    ReplyDelete
  10. Perempuan punya kemampuan multi tasking, dan mengemban misi mulia

    ReplyDelete
  11. Peranan perempuan memang gak bisa dipandang sebelah mata, secara penduduk Indonesia lebih banyak wanitanya, jadi seharusnya juga dibekali pengetahuan leadership agar bisa menjadi duta semangat pluralisme di masyarakat

    ReplyDelete
  12. Berbicara mengenai perempuan dan kebhinekaan memang seluas itu ya mbak,,, Peran perempuan memang krusial dan tak bisa lepas dalam menjaga keutuhan negara yang berkonstitusi pancasila ini. Apalagi ketika perempuan berperan menjadi seorang pemimpin....

    ReplyDelete
  13. Peran perempuan memang tidak bisa dipandang sebelah mata. Perempuan mengemban misi yang mulia. Ah sepakat sekali.Tapi memang sejatinya setiap orang, setiap jiwa adalah pemimpin untuk dirinya sendiri, ya.

    ReplyDelete
  14. Bukunya judulnya keren, dengan ulasan yg keren juga. Pas banget dengan kondisi terkini yg butuh pencerahan kembali terkait Bhinneka Tunggal Ika. Beruntung nya Mbak Dian bisa hadir di sana :)

    ReplyDelete
  15. sayangnya masih banyak orang yang meragukan kepemimpinan seorang perempuan ya mbak. Padahal sekarang ini perempuan kan derajadnya sudah sama seperti lelaki. Hanya saja dari sudut pandang saya sih perempuan kalau jadi pemimpin masih mengedepankan perasaan. hehe. kayaknya saya wajib baca buku iniiih

    ReplyDelete
  16. Isi bukunya menarik banget, Mbak. Apalagi tema leadership perempuan adalah tema yang kusukai. Setuju banget bahwa kita harus punya ketegasan agar orang tidak memperlakukan kita sewenang-wenang.

    ReplyDelete