Ancaman Resistensi Antibiotik

(Kulwap MoM ACADEMY Bogor Bersama Andhika Yoan Dirgantara Putri - S.Si., APt)








Dulu, jaman anak masih satu, saya dipenuhi kekhawatiran yang berlebihan saat dia sakit. Maklum saja, karena bayi pertama saya meninggal dunia, maka saat anak kedua ada, saya seperti trauma akan kehilangan dia. Ketika dia rewel sedikit langsung saya bawa periksa. Mana kebetulan pula saat itu saya sekeluarga tinggal di rumah dinas perusahaan di mana lokasi rumah saya hanya berjarak sekitar 500 meter saja dari RS yang ada. Jadi ya gitu deh, anak sakit langsung ke dokter. Apalagi sulung saya dulu itu sudah menampakkan gejala alergi dan asma sejak bayi. Jadi sebentar-sebentar batpil, demam, juga sesak napasnya.

Nah, jadilah ia seringkali mengonsumsi obat-obatan, termasuk antibiotik. Ini terjadi hingga kami pindah ke Jakarta pada dua tahun usianya. Dia sudah enggak ASI, lebih kuat, makan cukup,..dan rumah sakit lumayan jauh🙈 Jadi kalau sakit dicoba pakai obat bebas dulu yang umum dosisnya, jika masih enggak berkurang baru ke dokter saya bawa. Tapi teteup, ada antibiotik selalunya di sana. Saya yang awam tentang obat, membiarkan saja hingga saat adiknya lahir dan ditangani dokter anak yang berbeda yang ternyata bertipe enggak gampang kasih antibiotik. Akhirnya saya pun beralih langganan ke dokter anak ini untuk kedua anak saya. Alhamdulillah kini, mereka jarang sekali diresepkan antibiotik, kecuali hanya jika perlu saja. 

Hm..memang antibiotik itu enggak boleh ya? Kalaupun boleh untuk diagnosa yang seperti apa? Bagaimana dengan saran penggunaannya? Apakah ada aturan baku tertentu? Lalu, apa akibatnya jika aturan tidak dilakukan?

Nah, kegalauan banyak orangtua akan antibiotik inilah yang menginspirasi Mothers on Mission (MoM) ACADEMY, sebuah komunitas yang beranggotakan para Mommies dari berbagai wilayah di Indonesia, mengadakan Kuliah WhatsApp (Kulwap) yang bertema Ancaman Resistensi Antibiotik. Narasumber Kulwap adalah seorang Pharmacist & Medicine Expert Andhika Yoan Dirgantara Putri - S.Si., APt dan dimoderatori oleh Mom Ellga Yuthysa dari MoM ACADEMY Bogor.


Profil Narasumber





Nama: Andhika Yoan Dirgantara Putri (Menikah, Ibu dua anak)

Experience: 
2018 – Now Apoteker • Apoteker Penanggung Jawab • Clinic Medica 46 BNI
2016 – 2018 Apoteker • Apoteker Penanggung Jawab • Guardian Gajah Mada Plaza
2012 – 2016 Claim Analyst • Senior Assistance • PT.Prudential Life Assurance

Education:
Institut Sains dan Teknologi Nasional, Jakarta 
• Program Studi Apoteker (2011 – 2012)
• S1 Farmasi (2006 - 2011).

Introduction:
Perkenalkan saya Andhika Yoan Dirgantara Putri, biasa dipanggil Yoan. Saya seorang Apoteker yang bekerja di salah satu klinik swasta di Jakarta. Bekerja, Bercerita, Berbagi dan Mengkaji ilmu lebih banyak lagi merupakan aktifitas menarik dalam hidup saya, didampingi dua putra yang sangat aktif saat ini tidak menyurutkan niat saya untuk tetap beraktifitas. Dewasa ini pengetahuan tentang obat semakin merambah luas namun terkadang ironisnya sering disalahgunakan atau kurang tepat guna. Sebagai Apoteker yang terus belajar saya mencoba untuk selalu mengkaji dan berbagi informasi mengenai obat-obatan kepada orang terdekat saya dan pasien yang saya temui tentunya. Banyak terkadang yang benar-benar kurang paham mengenai penyimpanan, cara penggunaan dan dosis obat. Oleh karena itu melalui kulwap kali ini saya ingin berbagi informasi mengenai obat-obatan terutama Antibiotik yang sudah tidak asing lagi, semoga dapat bermanfaat untuk kita semua.


Apa Itu Antibiotik



Mungkin buat Moms semua udah enggak asing ya dengan kata Antibiotik ini, apalagi sekarang pola pengobatan penyakit apapun selalu dikaitkan dengan Antibiotik. Nah kali ini saya ingin sedikit berbagi informasi mengenai Antibiotik.

Tak kenal maka tak sayang, kita kenalan yuk apa sih yang dimaksud dengan antibiotik dan resistensi???






Antibiotika adalah segolongan molekul, baik alami maupun sintetik, yang mempunyai efek menekan atau menghentikan suatu proses biokimia pada organisme, khususnya dalam proses infeksi oleh bakteri

Fakta antibiotik :

  • Obat yang umum digunakan di masyarakat (hampir setiap kasus penyakit apapun menggunakan antibiotik)
  • Sering sekali penggunaannya tidak tepat (misalnya cara minum antibiotik dan biasanya apabila penyakit sembuh antibiotik sisa tidak dihabiskan)
  • Pemberian obat antibiotik yang tidak optimal (terkadang pola peresepan antibiotik sering diberikan pada penyakit yang seharusnya bisa disembuhkan tanpa antibiotik)

Coba Moms perhatikan ya…

Kira-kira antibiotik apa saja yang sudah pernah Moms konsumsi selama ini??? Dan terutama yang sudah pernah dikonsumsi anak-anak kita…





Perkembangan dunia Farmasi saat ini melahirkan berbagai jenis Antibiotik, contohnya sebagai berikut ;

Coba perhatikan dan amati dari berbagai jenis antibiotik ini kira-kira sudah ada berapa jenis yang pernah dikonsumsi, 2 jenis? 3 jenis? Atau bahkan lebih dari 5 jenis antibiotik? Ini sangat menghawatirkan loh Moms…

Karena disetiap jenis dan golongannya akan mempengaruhi proses penyembuhan pada penyakit setelahnya... Apabila kita tidak mengkonsumsinya dengan tepat guna!

Semakin banyak varian yang Moms konsumsi semakin tinggi resiko resistensi apabila tidak dikonsumsi dengan tepat dan HABIS !!!





Setiap kasus penyakit tentunya tidak semua dapat disembuhkan oleh Antibiotik karena tidak semua penyakit disebabkan oleh BAKTERI beberapa penyakit disebabkan oleh VIRUS yang justru tidak akan dapat diberantas dengan pemberian ANTIBIOTIK, sering salah kaprah dalam masyarakat awam bahwa antibiotik dapat mempercepat penyembuhan dalam semua kasus penyakit,

Dalam beberapa kasus konsumsi obat terkadang kurang tepat, contoh misalnya :

"Setiap flu atau batuk dan pilek selalu minum obat antibiotika. Padahal, penyakit influenza tak butuh antibiotik hanya makan yang benar dan istirahat yang cukup,"

"Atau saat diare akut yang mana tidak ada darah di fesesnya"

Nah saat ini, penggunaan antibiotik yang kurang tepat menyebabkan resistensi….

Seharusnya penyakit-penyakit tersebut dapat diobati dengan obat spesifik saja tanpa tambahan antibiotik.





Resistensi Antibiotik



Apa itu Resistensi?

Resisitensi adalah keadaan dimana bakteri yang dulunya bisa dimatikan dengan antibiotk tertentu, kemudian tidak dapat dibunuh dengan antibiotik tertentu.

Perhatikan penyebab resistensi:
  1. Penggunaan antibiotik yang salah (seperti tidak tepat pemberian, tidak tepat konsumsi dan tidak tepat dosisnya)
  2. Resep antibiotik berlebihan (seperti kasus contoh diatas, apabila penyebabnya virus seharusnya tidak perlu diberikan antibiotik)
  3. Cara minum antibiotik yang kurang tepat (pola waktu makan biasanya yang menjadi patokan padahal bukan seperti ini caranya)
  4. Lalai dalam menghabiskan antibiotik (sering sekali kita diperingatkan orang apotek di instalasi farmasi apabila kita dapat resep antibiotik pasti mereka tadak lupa mengingatkan bahkan diberikan tulisan di etiket obatnya bahwa antibiotika HARUS HABIS namun sering kita abaikan)




Contoh kasus resistensi 

"Jika di Thailand tercatat ada 38 ribu kematian per tahun akibat resistensi antibiotika. Padahal penduduknya hanya 70 juta orang disana. kemungkinan kasus resistensi antibiotika di Indonesia mencapai 130 ribu per tahun ,"

Resistensi terhadap antibiotik ini tak boleh dipandang sebelah mata. Selain biaya perawatan yang lama dan biaya yang tak murah, kematian pun bisa mengincar mereka yang resisten terhadap antibiotik.

Oleh karena itu, perlu adanya peningkatan efektivitas pengawasan obat dan makanan baik dari sisi tenaga medis maupun pasien. Dari sisi tenaga medis, mereka perlu mengedukasi pasien tentang penggunaan antibiotik. Ini sangat perlu, mengingat presentase masyarakat yang sadar akan kesehatan tergolong kecil yakni 15-20 persen saja. 

Edukasi ini, misalnya dalam hal penggunaan antibiotik sesuai dengan anjuran dan harus habis dalam jangka waktu tertentu.

Coba cermati dengan baik ya Moms, apalagi penggunaan antibiotik pada anak. Kemungkinan masa hidup anak kita akan lebih panjang, bagaimana jika sejak kecil sudah resisten terhadap antibiotik??? Ini akan berpengaruh pada masa depan nya nanti. Jika anak kita sakit dikemudian hari dan sudah tidak mempan dengan antibiotik tertentu maka akan terus bertambah variasi dosis dan jenisnya. Apabila nanti sudah resisten dengan berbagai antibiotik karena pola pemberian kita yang salah dapat meningkatkan resiko kematian, karena sudah tidak dapat disembuhkan dengan antibiotik apapun penyakitnya.





Cara Konsumsi Antibiotik



Salah satu yang sering salah kaprah saat mengkonsumsi antibiotik adalah aturan minumnya, Bagaimana cara konsumsi antibiotik yang benar?

Apabila diberikan 3 x 1 sehari dalam resep ---> cara meminumnya adalah:

24 jam (dalam sehari) dibagi 3 waktu = selang 8 jam sekali

Misal awal minum antibiotik di jam 7 pagi maka minum berikutnya di jam 7 + 8jam = 15 ( atau jam 3 sore) 
Dan kemudian aturan minum berikutnya +8 jam = 23 (atau jam 11 malam)

Terapkan cara tersebut pada antibiotik yang diresepkan/diberikan dokter 2 x sehari atau 1 x sehari (dosis tunggal). Pada antibiotik yang diberika 2 x 1 sehari maka (24 jam dibagi 2 = setiap/selang 12 jam diminum nya). Begitupun yang satu kali sehari usahakan di jam yang sama di hari berikutnya

Cermati cara konsumsinya terutama di waktunya, usahakan tetap tertib dalam waktu yang sama di setiap harinya, karena obat memiliki masa serap dan lepas dalam tubuh yang konstan sehingga hasil yang didapatkan pun optimal dan mencegah resistensi tentunya.

Jangan gunakan waktu makan sebagai patokan, karena terkadang kita lalai dengan waktu makan kita bisa mundur atau maju. Sehingga konsumsi antibiotik tidak optimal.





Selain aturan konsumsi Antibiotik, yang harus diperhatikan dalam penggunaan Antibiotik antara lain sebagai berikut:

  • Kita jangan pernah sungkan menanyakan kepada tenaga medis/dokter apa diagnosa penyakitnya dan apakah pemberian antibiotik karena adanya infeksi BAKTERI?!
  • Jika diberikan resep antibiotik maka harus diminum sampai HABIS atau minimal 3 hari berturut-turut untuk mencegah resistensi
  • Jika pada anak diberikan antibiotik dalam kemasan sirup dan sudah dilarutkan maka harus HABIS dikonsumsi dalam waktu maksimal 1 minggu, jika lewat dari itu harus segera DIBUANG jangan pernah disimpan


Selalu ingat 5T agar terhindar dari resistensi Antibiotik

Selain itu, yang terpenting adalah menjaga gaya hidup sehat, misalnya dengan mengkonsumsi makanan sehat, istirahat dan olah raga yang teratur untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit, sehingga otomatis konsumsi antibiotik dapat dikurangi.

Kemudian, menjaga pola hidup bersih (higienitas) misalnya mencuci tangan dengan baik sebelum dan sesudah makan, setelah bekerja dan setelah keluar dari toilet.

Mari kita budayakan diri GEMA CERMAT (Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat) agar kita dapat terlindungi dari efek dan resiko resistensi antibiotik maupun kesalahan penggunaan obat.

Sekian Kulwap yang saya sampaikan kali ini, semoga bermanfaat bagi Moms semua yang telah berkenan meluangkan waktu malam ini menyimak sharing saya tentang “Ancaman Resistensi Antibiotik” .

Jangan lupa diterapkan ya Moms dikehidupan sehari-hari terutama pada anak kita saat menerima resep Antibiotik dari Dokter.

Jika ada yang kurang dipahami dan kurang jelas silahkan bisa mengajukan pertanyaan, saya harap Moms semua sudah sangat berhati-hati terkait konsumsi antibiotik ini agar kedepannya mengurangi kasus resistensi dan tentunya resiko kematian akibat resistensi antibiotik ini.






Question & Answer


Question

Perkenalkan saya Ratna, asal Semarang

Sebelumnya saya mengucapkan terimakasih kepada Mom Yoan. Alhamdulillah materinya luar bisa, menambah pengetahuan saya mengenai bagaimana frekuensi penggunaan antibiotik yang paling tepat guna menurunkan resiko bahayanya resistensi antibiotik. Pertanyaan saya :

1. Bulan lalu anak saya sakit flu, batuk, radang tenggorokan, oleh dokter diberikan antibiotik. Kebetulan dokter tersebut sudah 2x saya kunjungi dan alhamdulillah cocok di anak saya. Tetapi setelah saya tahu bahwa ternyata antibiotik ini hanya bisa membasmi bakteri, bukan untuk infeksi virus, kemudian kenapa dokter tersebut selalu memberikan antibiotik dengan keluhan sakit yang sama (batuk, pilek, radang tenggorokan)?

2. Apakah benar, Antibiotik akan berdampak buruk pada organ tubuh, salah satunya terhadap saluran cerna anak? Bagaimana pengaruhnya?


Answer

Alhamdulillah ya Moms sudah cocok dengan satu dokter, memang sebaiknya kita berobat pun dengan dokter yang sama karena beliau tentu punya record medis kita.. sudah mengetahui riwayat sebelumnya. 

1. Nah pada kasus kali ini, bisa saja bakteri yang dimaksud terindikasi di radang tenggorokannya.. Bisa saja terinfeksi bakteri sehingga dokter pun meresepkan antibiotik pada kasus tersebut. Namun jangan sungkan ya Moms jikalau berobat untuk menanyakan diagnosa penyakit kita untuk memastikan bahwa memang kita terinfeksi bakteri. 

Untuk kasus flu, benar adanya karena infeksi virus. Oleh sebab itu ada baiknya apabila anak Moms sakit flu, batuk pilek tanpa sesak di istirahatkan dirumah saja, dan tentunya diberikan obat flu yang ringan bisa dibeli di apotek terdekat. Tanpa harus diberikan antibiotik 

2. Setiap obat memiliki kegunaan dan efek samping, tak terkecuali antibiotik. Efek samping antibiotik terjadi sebagai bentuk reaksi yang muncul secara tidak terduga saat mengurangi atau menambah dosis, mengonsumsi antibiotik bersamaan dengan obat tertentu, atau menggunakannya dalam jangka waktu lama. Gangguan pencernaan merupakan efek samping antibiotik yang paling sering terjadi. Gejala gangguan saluran cerna akibat penggunaan antibiotik, meliputi diare, mual, muntah, dan kram perut. Efek samping ini lebih sering terjadi pada penggunaan antibiotik golongan penisilin, cephalosporin dan fluoroquinolone.

Apabila moms menemukan gejala seperti yang saya sebutkan diatas, segera konsultasikan ke dokter yang sama, bisa jadi tidak cocok antibiotiknya atau ada reaksi dengan obat pendampingnya sehingga menimbulkan efek samping


Question

Nama : Rizza, Domisili : Batam

Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh Mom Yoan. Terima kasih atas sharingnya yang sangat bermanfaat. Ternyata saya salah dalam menggunakan antibiotik selama ini. Pertanyaan saya adalah: bila seandainya anak terlanjur memperlihatkan gejala resistensi antibiotik, apa langkah selanjutnya yang bisa kita lakukan untuk mengoreksi atau memperbaiki keadaan ini? Terima kasih.


Answer

Walaikumsalam wr wb. Jika sudah terlihat indikasi resisten terhadap antibiotik tertentu maka jika sakit selanjutnya, komunikasikan dengan dokter yang memeriksanya. Berikan informasi bahwa antibiotik A sudah tidak mempan di anak saya, sehingga nanti pasti dokter akan meresepkan antibiotik variasi lain yang tentunya diatas golongan antibiotik yang telah resisten. Nah, apabila diberikan antibiotik baru yang lebih tinggi golongannya tentunya. Maka Mom Rizza harus mengkonsumsinya sesuai aturan pakainya dan jangan lupa untuk dihabiskan. Jangan pernah disisakan lagi ya Mom. Dan harus benar-benar diperhatikan jam minum antibiotiknya. Agar apabila selanjutnya sakit dengan gejala yang sama, antibiotik tersebut masih ampun dan dapat menyembuhkan.


Question

Nama : Fia, Domisili : Bekasi

Sebelum bertanya, saya sampaikan terimakasih kepada moderator dan Mom Yoan. Ilmunya sangat bermnfaat, banyak yang saya baru pahami. Terutama waktu yang tepat saat minum antibiotik, yang selama inj salah kaprah. Lalu, bagaimana dampaknya untuk kesehatan kita jika tidak sesuai waktu anjuran minum antibiotik? Lalu bagaimna cara mensiasati waktu minum antibiotik untuk anak dennan dosis 3x1?


Answer

Sama-sama Mom Fia, semoga ilmunya bermanfaat dan dapat diaplikasikan di kehidupan sehari-hari ya. Baik, dampaknya tentu resisten Mom...Memang tidak tampak ekstrem pada kesehatan kita, yang kita tahu kita sudah sembuh dengan antibiotik tersebut. Namun Jika kita sakit dikemudian hari, kemungkinan sudah tidak mempan dengan antibiotik tersebut sehingga akan terus bertambah variasi dosis dan jenisnya. Apabila nanti sudah resisten dengan berbagai antibiotik karena pola minum kita yang salah dapat meningkatkan resiko kematian, karena sudah tidak dapat disembuhkan dengan antibiotik apapun penyakitnya.

Pertanyaan berikutnya bagaimana mensiasatinya jika diberikan 3x1 pada anak? Kita harus belajar disiplin Mom. Apalagi buat anak ya. Bisa disesuaikan dengan kegiatan kita dan anak Mom. Coba perhatikan slide presentasi saya di atas.


Question

Nama: Linda Suci F, Domisili: Cikarang

Hai Mom Yoan...terimakasih atas sharing ilmu yang sangat bermanfaat untuk kami semua. Pertanyaan: 
  1. Penggolongan antibiotik diatas berdasarkan apa ?
  2. Apabila terlewat minum antibiotik pada sesi minum obat harus bagaimana? 
  3. Adakah efek samping antibiotik jika di minum dalam keadaan perut kosong? Misal pada kondisi anak maunya hanya ASI sedang tidak mau makan

Answer

Hai Mom Linda...Sama-sama Mom...Semoga bermanfaat

  1. Penggolongan antibiotik yang saya jabarkan di atas memang tidak sesuai urutan pada teori aslinya. Saya hanya memberikan contoh jenis 2 antibiotik mom ygan biasa diresepkan dokter. Jika berdasarkan golongannya, sebagai contoh antibiotik digolongkan berdasarkan mekanisme kerjanya, struktur kimianya, daya kerjanya, spektrum kerjanya dan berdasarkan penyakitnya
  2. Apabila terlewat harus segera diminum Mom dan selanjutnya patokan waktu setelahnya misal +8jam untuk antibiotik 3x sehari. Sesuai anjuran resep dan tergantung penyakit serta jenis antibiotiknya Mom, ada antibiotik yang memang harus diminum setelah makan seperti Amoxycillin dan golongan penisilin lainnya. Sedangkan ada antibiotik yang justru harus diminum sebelum makan disaat perut kosong, seperti antibiotik pada penderita TBC yaitu rifampicin. Oleh karena itu jika dapat antibiotik perhatikan dan tanyakan cara minumnya kapada tenaga medis/apoteker yang ada. Apakah harus setelah makan atau sebelum makan. Karena tiap antibiotik berbeda.
  3. Untuk anak yang sedang ASI, masih diperkenankan minum antibiotik tanpa makan. Karena ASI salah satu sumber makanan yang dapat memberi perlindungan di perutnya


Question


Nama : Maya, Domisili ; Bogor

Benarkan resistensi antibiotik ada hubungannya dengan penyebab autoimun? Waktu saya kecil, saya sering diberi antibiotik dan seingat saya tidak pernah habis, jadi kalau dilihat sudah sembuh ya berhenti pula obat+antibiotiknya. Dan efeknya sekarang sistem imun saya seperti menyerang diri saya sendiri, saya jadi sering sakit, dan memang saya penderita AI. Mohon penjelasannya.


Answer

Salah satu faktor pemicu autoimun adalah genetik, di mana orang dengan riwayat keluarga autoimun berisiko lebih tinggi mengalami hal serupa. Selain genetik, infeksi bakteri dan virus juga memperbesar potensi autoimun. Kaitannya dengan penggunaan antibiotik yang tidak optimal bisa jadi pemicunya, namun sampai saat ini belum ditemukan penelitian atas resisten antibiotik menyebabkan autoimun. Penyakit autoimun bisa dikendalikan dan diringankan gejalanya dengan pengobatan tepat. Semakin cepat penyakit didiagnosis, semakin cepat pula pemulihan pasien. Semoga pengobatannya lancar ya Mom.


Question

Perkenalkan nama saya Amalia dari Bekasi. 

Sebelumnya saya ucapkan terimakasih atas sharing bermanfaatnya. Pertanyaan saya, saya punya balita di bawah 2 tahun, waktu bapil seringkali di bawa ke dokter dan diberi antibiotik berupa puyer pernah, sirup pernah. yang lebih seringnya salah pemberian baik dosis berkurang karena anaknya misal muntah setelah di beri obat atau waktu pemberiannya yang salah. 

Jika kondisinya sudah terlanjur seperti itu, apa sebaiknya saya ulangi pemberian antibiotiknya karena anaknya muntah (otomatis ada obat yang keluar)? Dan jika waktu pemberiannya dalam satu hari misal tidak tepat, apakah harus kita hentikan pemberian antibiotiknya atau minimal 3 hari pemakaian atau tetap harus di habiskan?


Answer

Ya pastinya ya balita selalu dengan kasus yang sama saat minum obat. Nah apabila kita tahu dalam kandungan obat puyer/syrup nya terdapat antibiotik baiknya diulang pemberiannya mom agar obat yang di cerna optimal. Tentunya harus diteruskan dong Mom pemberiannya... Sesuai dengan waktu dan dosisnya. Jadi diteruskan hingga habis ya mom antibiotiknya. Atau minimal 3 hari berturut-turut Mom, setelah itu bisa dibuang dan jangan disimpan. 




Penutup

https://www.instagram.com/gemacermat


Silahkan buat Moms semua disini untuk follow akun tersebut karena Insya Allah bermanfaat memberikan informasi-informasi akurat seputar obat-obatan.

Terimakasih saya ucapkan juga kepada semua Moms yang tiada hentinya selalu haus informasi dan haus ilmu. Karena sejatinya kita sebagai manusia harus belajar dan belajar agar terus bermanfaat. Semoga ilmu yang kali ini saya jabarkan dapat diaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari.

(Andhika Yoan Dirgantara)





Baiklah, semoga sharing Kulwap dari MoM ACADEMY ini bermanfaat ya teman-teman.

Yuk, kita lebih berhati-hati dalam pemakaian Antibiotik ini demi mencegah terjadinya resistensi!💖




Salam Sehat


Dian Restu Agustina





17 comments:

  1. Heu heu, aku nih msh suka nyimpen antibiotik yg gak dihabiskan terutama pas anak-anak sakit. Tq mb penjelasannya, mulai sekarang kudu disiplin supaya bakteri dan penyakit gak resisten.

    ReplyDelete
  2. Masya Allah, informasinya lengkap banget, serasa membaca risalah doktor.

    Dan antibiotik adalah obat yang paling sering tersisah di rumah, makasih sharingnya ya mbak.

    ReplyDelete
  3. terima kasih bnyak ulasannya kak. Jadi nambah ilmu lagi, terutama ttg antibiotics^^

    ReplyDelete
  4. Aku belum jadi Mommy... :")))

    Tapi bolehlah Bu, aku jadi bisa belajar dunia parenting untuk diterapkan jika bermain dengan adik2ku atau ponakan2ku.

    Terima kasih udah berbagi hasil kulwapnya Bu. Wah, bahkan hasil Tanya Jawab dibikin lengkap kap kap haha meski panjang jang jang dg kalimat pembuka pertanyaan dari si penanya. Hm, sebenernya saya punya pertanyaan: bagaimana konsumsi antibiotik kalau sedang puasa?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini bisa untuk kita juga Mbak
      Kan dokter meresepkan antibiotik untuk segala usia?
      Kalau dosis saat puasa silakan ditanyakan pasa saat konsultasi ke dokternya

      Delete
  5. Wah, Mba. Baru tahu ada aturan jamnya untuk minum antibiotik. Catat ah. Biasanya ya tiga kali sehari itu sesudah makan aja. Enggak tahunya ada jamnya gitu ya? Terima kasih sharingnya Mba. Sangat bermanfaat.

    ReplyDelete
  6. Nah, iya, kadang sebagai ortu suka cemasan, anak sakit cepet diberi obat antibiotik. Padahal belum tentu tubuh butuh antibiotik juga. Siap tahu infeksiny Karena virus. Sekarang saya lagi coba kembali ke pengobatan alami dengan menggunakan bahan atau rempah yang tersedia di rumah biar minim risiko ke anak.

    ReplyDelete
  7. Aku juga mbaa, berusaha nerapin RUM ke anak bayi. Jadi lebih tenang aja pas dia demam dan bapil. Yang jelas-jelas karena virus jadi ngga ngefek walau dikasih antibiotik juga. Akhirnya lebih fokus mastiin dia nyaman, peluk, gendong, elus-elus, dan minum yang banyaaak biar nggak dehidrasi.

    ReplyDelete
  8. Alhamdulillah dapet ilmu tentang parenting dan obat²an,,
    Saya juga sering nyisain antibiotik,, hehe
    Lengkap banget infonya mba
    Trimakasih udah sharing :)

    ReplyDelete
  9. makasih sharingnya mbak bermanfaat sekali. Saya sebenarnya juga jarang memberikan antibiotik kepada anak karena itu tadi ancaman resistensi. Dan kadang kalau batpil ringan saja saya kasih penambah daya tahan tubuh biar gak banyak masuk obat.

    ReplyDelete
  10. Peringatan banget buatku yang sering telat waktu ngasih antibiotiknya.Mana anak-anak susah pula kalau udah bau-bau antibiotik. Itu juga yang bikin aku jadi rewel kalau berobat. Harus tanya betul penyebabnya, kalau bisa menghindari antibiotik ya nggak tak tebus resep antibiotiknya.

    ReplyDelete
  11. Aku sekarang juga ati-ati banget buat konsumsi antibiotik. Terutama ke anak. Kasihan juga kalau dikit-dikit antibiotik.

    Tentang aturan 3x1 yang diminum tiap 8 jam itu aku baru tahu waktu kena mastitis. Bidan yang kasih tahu. Sebelumnya ya ikutin jadwal makan. Padahal waktu pulang dari RS, dikasih jadwal minum obat juga sama perawatnya. Ternyata artinya itu.

    ReplyDelete
  12. Aku juga ngeri sama resistensi antibiotik. Cari dokter anak yang pegang prinsip RUM, ke dokter kalau memang home treatment sudah tidak ampuh lagi, terima antibiotik kalau sudah hasil lab keluar positif bakteri.

    ReplyDelete
  13. Nah jadi memang kita yang harus cerewet ya Mbak, detail menanyakan tentang sakitnya, supaya tahu perlu tidaknya memberikan antibiotik buat anak kita.

    ReplyDelete