Hutan Sumber Pangan Anugerah dari Tuhan






Dari balik jendela, saya melihat Ibu menyerahkan selembar uang pada nenek itu. Tak lama setandan pisang pun berpindah ke tangan Ibu. Mbah Nah, sang nenek pun berlalu dengan rona bahagia tergambar di muka. Dimiringkannya rinjing kosong yang tadi berada di punggungnya. Ternyata memang tak salah harapannya. Pisang yang dibawa dengan berjalan kaki dari rumahnya di lereng perbukitan gugusan Gunung Wilis, akhirnya terjual habis. Yang terakhir, Ibu sayalah yang membelinya semua. Pelanggan setia yang tak pernah menolak apapun yang dijualnya. Mbah Nah, setiap minggu memang selalu datang membawa sesuatu. Pisang, singkong, ubi jalar, nangka, sukun, daun ubi, daun pakis, jambu, rebung, mangga podang, petai, ontong, lamtoro, daun lompong dan aneka bahan pangan lainnya. Dia berjalan kaki dari kampung ke kampung untuk menawarkan dagangannya. Termasuk ke kampung saya, di mana Ibu selalu menyambutnya dengan sukacita. Bagaimana enggak senang Ibu melihatnya datang, bahan pangan yang dibawanya selalu segar karena memang baru saja dipanen dari hutan.


Pisang Hasil Pangan dari Hutan


Kota Kediri
Kota Kediri dibelah sungai Brantas berlatar Gunung Klothok - gugusan Pegunungan Wilis. (sumber gambar: radarkediri jawapos com)


Saya lahir dan besar di Kota Kediri, Jawa Timur. Kota yang dibelah oleh Sungai Brantas dan berada di antara lembah kaki gunung berapi yang sedang beristirahat, Gunung Wilis. Meski tidak tinggal di dekat hutan, saat kecil saya masih merasakan rimbunnya hutan yang menyelimuti kawasan ini. Hingga udara yang sejuk - bahkan cenderung dingin - juga segar belum tercemar, masih bisa saya nikmati. Dan yang paling menyenangkan, bagi keluarga saya hutan menjadi sumber pangan. Bahan pangan dari hutan rutin datang, baik yang langsung bisa dikonsumsi atau nantinya diolah oleh Ibu menjadi sajian yang lezat sekali.

Ibu memang sosok yang selalu membantu. Masih tersimpan dalam kenangan saat Mbah Nah datang, Ibu pasti membeli apa yang dia bawa. Kadangkala membeli secukupnya, lain hari diborongnya semua. Ya, keluarga kami memang sederhana. Dengan enam anak dan hanya Bapak yang bekerja, tentu Ibu mesti pandai menyiasati. Hampir semua makanan yang tersaji di meja adalah hasil olahan sendiri. Maka, ketika ada penjual yang datang dengan membawa bahan pangan segar dengan harga yang lebih murah dari harga pasar, sungguh sayang untuk diabaikan.

"Kasihan Mbah Nah, sudah tua masih jualan. Lagian, kalau kita bagi-bagi rejeki, akan berlipat yang kita dapat nanti," begitu alasan Ibu. Ah, Ibu memang selalu begitu, penuh welas asih.

Dan belakangan saya baru tahu, semua bahan pangan yang dibawa Mbah Nah itu diperoleh dari hutan yang ada di dekat kampungnya. Mbah Nah, menanam singkong dan memanen saat waktunya tiba. Di lain hari, ia memetik daun pakis, daun ubi, daun lompong dan dedaunan lainnya untuk dijual jadi sayuran. Tak hanya itu, sukun, nangka, pisang juga buah-buahan lain pun tak akan dilewatkan. Mbah Nah, mengonsumsi sendiri bahan pangan ini dan menjual sebagian besarnya lagi. Kadang ia juga membeli hasil panen tetangga untuk dijualnya kembali. Ia memang sudah tinggal sendiri, begitu yang saya tahu dari Ibu. Anak-anaknya sudah berkeluarga dan tinggal terpisah dari Mbah Nah. Karena tak ingin merepotkan mereka, maka bercocok tanam dan mencari sumber pangan di kawasan hutan menjadi pilihannya. Sungguh, Mbah Nah sosok perempuan yang tangguh!

Nah, diantara olahan Ibu itu, yang paling saya suka adalah yang berbahan pisang. Memang, setiap ada pisang tak mesti diolah, lebih sering dimakan begitu saja, sama enaknya. Tapi, kadangkala agar bervariasi sekaligus buat kudapan di sore hari Ibu memasaknya menjadi getuk, pisang goreng, kolak, nagasari, kue mata roda, bolu, keripik dan lainnya. Semuanya lezat hingga enggak pakai lama bakal tandas dari meja. Saya tahu, selain karena tangan Ibu yang memang ahli dalam mengolahnya, itu semua karena pisang yang dipakai memang bagus kualitasnya. Ya, hanya gedang (pisang) yang mateng uwit (masak pohon) dan bukan mateng imbon (masak karena diperam) yang dijual Mbah Nah. Hingga, rasanya pun lebih enak dan enggak ada sepet-sepetnya. Maka tak heran, olahan pisang bikinan Ibu selalu juwaraaa. Apalagi Getuk Pisangnya!


Getuk Pisang, Makanan Khas Kediri yang Ngangeni!



getuk pisang Kediri
sumber gambar: kediri kota go id


Gethuk Gedang atau Getuk Pisang adalah makanan khas Kediri yang bagi saya sungguh ngangeni. Pembuatan dan pengolahan camilan tradisional ini diyakini sudah berlangsung secara turun-temurun dan diwariskan lintas generasi. Kini selain sebagai jajanan khas, Getuk Pisang menjadi salah satu buah tangan andalan bagi wisatawan yang mengunjungi Kota Tahu ini. Tak heran, karena Getuk Pisang memang sangat istimewa. Lantaran bahan, pengolahan, penyajian maupun cita rasanya berbeda dari getuk biasa. Yang bikin istimewa Getuk Pisang ini diantaranya:

  • Bahan

Tidak seperti getuk pada umumnya yang terbuat dari singkong atau ubi, Getuk Pisang sesuai dengan namanya terbuat dari pisang. Pisang yang dipilih, biasanya juga pisang tertentu saja yakni jenis Rojo Nongko (Raja Nangka). Karena memiliki cita rasa yang khas, berbeda dengan pisang pada umumnya. Meski jika tak ada, juga bisa memakai jenis pisang lainnya. Memang rasa manis dan asam yang melekat dan tekstur yang agak keras membuat pisang Raja Nangka ini tidak lembek ketika dikukus nanti. Hingga Getuk Pisang yang sudah matang akan pas hasilnya saat dinikmati. Selain itu, pisang Raja Nangka, jika dikukus berubah merah keunguan warnanya. Sehingga tanpa penambahan pewarna, jenis ini sudah menghasilkan warna alami yang menjadi warna khas olahan Getuk Pisang. Sedangkan untuk tingkat kemanisan, pemilihan pisang Raja Nangka membuat tidak perlunya penambahan gula yang berlebih ataupun pemanis buatan. Karena rasa manis Getuk Pisang sebagian besar akan didapatkan dari pisangnya.

  • Pembungkus dari Alam

Nah, jika getuk berbahan singkong setelah diolah tak perlu pembungkus, Getuk Pisang memerlukan daun pisang sesudah dikukus. Jadi adonan getuk yang masih panas dibungkus daun pisang dengan bentuk memanjang seperti lontong, dipadatkan, kemudian disemat dengan lidi di kedua ujungnya. Oh ya, sebelumnya, untuk memudahkan saat membungkus, daun pisang ini dibakar dulu beberapa detik agar lentur teksurnya. Sehingga ketika dipakai membungkus bisa padat dan rapi hasilnya.

  • Cara Pengolahan

Sementara untuk pengolahan, jika getuk yang lain setelah bahan dikukus, ditambahkan bahan lainnya kemudian bisa disajikan, kalau Getuk Pisang setelah proses mengukus, bahan ditumbuk halus lalu dilanjutkan dengan membungkus.  Pertama, pisang dikupas, dikukus dan ditambahkan gula dan garam, lalu dihaluskan. Setelahnya, adonan dibungkus dan dipadatkan dengan menggunakan daun pisang. Getuk Pisang akan dipotong saat sudah dingin dan mengeras hingga siap untuk dinikmati berteman teh atau kopi.

  • Cita Rasa Alami

Getuk Pisang tidak memerlukan bahan pewarna ataupun pengawet buatan. Untuk warna cantiknya cukup berasal dari pisang Raja Nangka yang memang jika dikukus berwarna asli merah keunguan. Rasa manisnya juga, berasal dari pisangnya. Aroma khas daun pisang sebagai pembungkus pun menambah wanginya. Selain itu proses mengukus pisang juga ketebalan daun pisang sebagai pembungkus menjadikan Getuk Pisang awet bertahan selama 2-3 hari. Atau jika mau lebih tahan lama setelah dibungkus, kukus lagi, hingga bisa awet 4-5 hari atau masukkan lemari pendingin untuk menambah usia. Hingga tanpa pemanis dan pengawet buatan, Getuk Pisang pun bercita rasa alami.



Pisang Raja Nangka
sumber gambar: Facebook - Pasar Pisang

Pisang Raja Nangka
sumber gambar: Facebook - Pasar Pisang


Jadi, saya selalu merasa happy saat melihat setandan pisang Raja Nangka ada di dapur Ibu. Karena itu artinya kemungkinan besar Ibu akan membuat makanan kesukaan saya, Getuk Pisang. Memang, Ibu memasak getuk ini hanya jika Mbah Nah mengantar pisang Raja Nangka dan mesti banyak pula jumlahnya. Karena prosesnya yang panjang, maka bikinnya pun sekalian, begitu alasannya. Meski kadang jika enggak ada pisang jenis ini dari Mbah Nah, saat ingin bikin Ibu membeli di pasar. Biasanya terjadi jika ada saudara jauh yang datang dan Ibu ingin memberikan buah tangan istimewa khas kampung halaman. Tapi, jika pisangnya beli dari pasar rasanya jadi berbeda. Pisang Raja Nangkanya bukan masak pohon hingga hasilnya tak semanis biasanya. Meski, kalau sudah tersaji saya sih enggak peduli hihihi😁

Ya, saya memang yang pertama makan dulunya, tentu setelah membantu ini itu. Meski, karena saya anak bungsu, saya jarang menjadi asisten utama Ibu. Maklum saja ada 5 kakak perempuan di atas saya yang pastinya lebih bisa. Juga, dapur kami tidaklah cukup jika kami ada di sana semua. 

Tapi, kendati jarang langsung membantu, saya masih ingat Ibu membuat Getuk Pisang dengan bahan dan cara sebagai berikut ini:


Bahan:

Pisang Raja Nangka
Gula Pasir
Garam

Cara Membuat:

Kupas pisang dan kukus
Setelah matang campur dengan gula dan beri sedikit garam
Haluskan adonan (bisa diuleni, ditumbuk atau digiling)
Saat masih panas dikemas dengan daun pisang
Biarkan dingin dan mengeras
Potong-potong saat akan disajikan



Getuk Pisang
UMKM Getuk Pisang (sumber: kedirikota go id)

Getuk Pisang
sumber gambar: kedirikekinian com


Nah, yang saya ingat, Getuk Pisang buatan Ibu itu pas komposisi rasanya, pun tepat kepadatannya. Saya yakin jika bukan karena faktor pisang yang berkualitas tentu Getuk Pisang ini tak mungkin sempurna. Memang pisang masak pohon lebih bagus daripada mateng imbon. Selain itu, pisang masak pohon punya kandungan gizi yang lebih tinggi. 

Perbedaan kandungan gizi antara pisang masak pohon dan masak imbon diantaranya terletak pada bentuk karbohidratnya. Bentuk karbohidrat dalam pisang yang belum masak sempurna adalah sukrosa. Sementara karbohidrat pisang masak pohon berbentuk fruktosa, jadi lebih manis rasanya. Oleh sebab itu, pisang yang dipotong sebelum masak memerlukan waktu untuk proses perubahan biokimia. Maka tak heran jika pisang yang dipotong terlalu muda, rasa buahnya kurang manis karena proses biokimianya berlangsung tidak sempurna. Selain itu sebelum buah masak, kalium masih aktif melakukan metabolisme karbohidrat. Jika dipanen pada kondisi ini, maka struktur kimia dalam jaringan buahnya lebih sedikit dan struktur kimianya masih labil. Tapi bila dipanen saat sudah masak, struktur kimianya mapan dan kandungan kaliumnya telah banyak. Sementara kandungan vitamin C yang penting untuk menambah daya tahan tubuh dan vitamin E yang membantu regenerasi kulit kita, misalnya, struktur kimianya belum sempurna pada pisang yang belum masak, hingga kandungannya lebih rendah.


Pisang - Kaya Manfaat dan Mudah Didapat




Manfaat Pisang



Pisang, buah favorit saya, memang banyak khasiatnya. Berbagai kandungan bermanfaat ada di dalamnya, diantaranya:


Karbohidrat

Karbohidrat adalah salah satu sumber energi utama bagi tubuh. Pisang bisa menjadi pengganti energi yang hilang setelah kita beraktifitas, berolahraga misalnya. Tak hanya itu, pisang juga bisa menjadi energi cadangan yang biasanya habis sebelum jam makan tiba.

Vitamin C

Pisang kaya akan vitamin C. Pada satu buah pisang terdapat sekitar 10 mg vitamin C. Artinya setara dengan 15 persen dari kebutuhan vitamin C harian bagi tubuh kita. Dan, vitamin C ini bisa menjadi peningkat sistem kekebalan tubuh kita.

Potassium

Pada pisang juga ada kandungan potassium. Satu buah pisang berukuran sedang mengandung potassium sebanyak 400 mg. Potassium adalah zat yang bisa menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh kita. Potassium juga bisa mencegah kram otot setelah berolahraga.

Serat

Tubuh memerlukan serat untuk membantu melancarkan pencernaan. Nah, serat ini bisa kita dapatkan diantaranya dari pisang. Satu buah pisang mengandung 3 gram serat yang bisa membuat perut terasa kenyang lebih lama.

Vitamin B6

Vitamin B biasanya didapatkan dari produk hewani. Tapi, vitamin B6 yang disebut dengan pyridoxine bisa didapatkan dari pisang. Vitamin ini digunakan tubuh untuk menumbuhkan sel-sel baru. Bahkan, 35 persen kebutuhan harian tubuh akan vitamin B6 kita bisa dipenuhi dengan satu buah pisang!

Mangan

Pisang juga mengandung mangan. Mangan adalah mineral yang dibutuhkan tubuh untuk kesehatan tulang dan membantu proses metabolisme. Tubuh orang dewasa setiap hari memerlukan mangan sebanyak 1,8 hingga 2,3 mg. Nah, kebutuhan mangan itu bisa kita penuhi dengan mengonsumsi pisang.

Lain-lain

Selain kandungan-kandungan yang sudah disebutkan di atas, pisang juga mengandung nutrisi lain, seperti magnesium, kalsium, fosfor, vitamin A, vitamin E, folat, karoten, dan asam amino. Hanya saja, kandungannya tidak sebanyak kandungan zat yang disebutkan sebelumnya.


Tuh, sekarang sudah tahu, kan, apa saja kandungan yang ada di dalam pisang?
Jadi kalau dirimu masih enggak mau makan pisang, rugiii!!😁

Apalagi selain sehat dan kaya manfaat, pisang juga mudah didapat! Di kios buah kaki lima, di pasar, abang sayur yang lewat, sampai di supermarket terdekat...pisang ada! Dengan harga yang enggak bakal menguras kantong kita. Bahkan bisa juga didapat dari kebun sendiri jika kita menanamnya. Meski, memang mayoritas pisang yang dijual sekarang ini masak imbon bukan masak pohon. Juga, buah-buhan yang lain umumnya adalah hasil peraman dan  bukan lagi hasil segar dari kebun atau hutan. Belum lagi tambahan zat kimia yang saat ini diberikan, tak seperti dulu, sayur dan buah tumbuh dan dirawat dengan cara-cara alami.

Hari gini bisa mendapat bahan pangan dari hutan seperti saat saya kecil dulu memang susah. Jangankan di Jakarta tempat tinggal saya sekarang, di Kediri saja sudah jarang. Seperti saat saya tanyakan ke Ibu, apakah masih ada yang datang menjual bahan pangan dari hutan seperti Mbah Nah yang datang ke rumah....

Kata Ibu, setelah Mbah Nah, memang enggak ada lagi. Kabarnya sejak ia makin renta, akhirnya dirawat anaknya dan tak lagi bercocok tanam maupun jualan. Jika pun ada penjual lainnya, yang dibawa enggak sesegar yang dibawa Mbah Nah. Pasalnya, hutan yang ada sudah banyak beralih fungsi. Belum lagi kejadian kebakaran hutan di lereng Gunung Wilis yang hampir tiap tahun terjadi. Pun pembangunan pemukiman, tempat wisata, infrastruktur jalan dan sarana penunjang lainnya yang akhirnya menggerus hutan itu sendiri. Sediiih!!😭


Hutan Sumber Pangan Penunjang Kehidupan




Hutan Indonesia
sumber: pixabay com

Ketika hutan sebagai sumber pangan ditebang, keanekaragaman hayati pun berkurang.
Masyarakat papa makin tak punya, budaya setempat pun sirna. Suhu yang melaju mendorong terjadinya kebakaran, musim kemarau yang panjang, meluasnya banjir dan munculnya aneka hama penyakit yang menyerang hewan ternak dan tanaman. Pihak yang paling terdampak adalah masyarakat miskin yang berpenghidupan dari lahan yang sebelumnya berhutan atau pertanian tadah hujan. Kejadian ini juga akan dirasakan wilayah teririgasi yang rentan akan banjir dan kekeringan, karena mengakibatkan pendangkalan waduk serta berkurangnya kemampuan penampungan.

Hutan memang mempunyai peran penting dalam menunjang kehidupan dan perkembangan peradaban manusia. Peran penting tersebut tercermin dalam bentuk interaksi manusia dan hutan yang berlangsung sejak awal peradaban hingga saat ini dan diperkirakan terus berlangsung di masa nanti. Sementara, pemanfaatan hutan sebagai sumber pangan ini berbeda antara negara maju dengan negara berkembang, seperti Indonesia. Di negara-negara maju yang mengkonversi sebagian besar hutannya untuk lahan pertanian (dan kegiatan lain), hutan yang masih ada tidak lagi dimanfaatkan sebagai sumber pangan. Sedangkan, di Indonesia, yang memiliki lahan pertanian terbatas, hutan tetap menjadi salah satu sumber pangan bagi sebagian masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitarnya.

Sayangnya saat ini Indonesia menghadapi tantangan signifikan dalam pencemaran udara dan eksploitasi sumber daya hutan dan mineral yang tidak terkendali. Di mana kegiatan ini mengancam akses terhadap air, memperburuk kejadian kebakaran hutan (El Nino) juga tanah longsor dan banjir (La Nina). Indonesia juga berkontribusi pada emisi gas rumah kaca. Di saat bersamaan, dengan sejumlah besar pulau yang memiliki ketinggian rendah, Indonesia sangat rentan terdampak perubahan iklim,  seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya durasi musim kemarau, dan cuaca ekstrim yang menyebabkan bencana lain. Di mana tingkat kerentanan yang tinggi ini berpotensi secara negatif menimbulkan dampak terhadap keamanan ekonomi, pangan dan energi di seluruh negeri.

Padahal sejumlah penelitian menunjukkan bahwa 25% dari pendapatan masyarakat yang tinggal di dalam atau di sekitar hutan berasal dari sumber daya hutan. Angka ini bisa lebih tinggi dengan pendekatan pengelolaan multifungsi yang menargetkan semua sumber penerimaan potensial dari hutan. Dan nilai penerimaan ini dapat saja menjadi jauh lebih tinggi juga berkelanjutan untuk generasi mendatang. Apalagi, Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia, yang mengalokasikan 63% atau seluas 120,6 juta hektar daratannya, sebagai Kawasan Hutan. Sedangkan sisanya sekitar 37% merupakan Areal Penggunaan Lain (APL). Di samping itu, ada sekitar 5,3 juta hektar dari perairan wilayah Indonesia telah ditetapkan sebagai Kawasan Konservasi Perairan. Dengan total luasan, sampai dengan Desember 2017, kawasan hutan dan kawasan konservasi perairan sekitar 125,9 juta hektar.

Deforestasi, perubahan permanen dari areal berhutan menjadi areal tidak berhutan sebagai akibat dari kegiatan manusia menjadi-jadi. Padahal hutan adalah sumber daya serbaguna yang menghasilkan beragam jenis barang dan jasa. Yang mana secara alami, hutan menghasilkan buah-buahan, biji-bijian, umbi-umbian, pati-patian dan sayur-sayuran sebagai sumber pangan nabati, dan satwa liar sebagai sumber pangan hewani. Memang saat ini, semua hutan tanaman yaitu hutan tanaman industri, hutan tanaman rakyat, hutan desa, hutan kemasyarakatan dan hutan tanaman HHBK menghasilkan pangan atau (sebagian) arealnya dikelola untuk pangan. Meskipun demikian, kontribusi hutan sebagai sumber pangan belum terlihat nyata karena pangan dari hutan belum sepenuhnya dimasukkan sebagai hasil hutan. Belum lagi berkurangnya luasan yang mengakibatkan turunnya sumber pangan.


Langkah Restorasi Hutan Sebagai Sumber Pangan







Melansir hasil survei Global Forest Watch, pada tahun 2018 dunia kehilangan 3,6 juta hektar hutan hujan primer. Luasan seukuran negara Belgia ini mengiringi kisah sukses Indonesia yang disebutkan mengalami penurunan tingkat kehilangan hutan yang signifikan dalam dua tahun berturut-turut. Walau tingkat kehilangan hutan absolut tetap tinggi (340.000 hektar/840.000 hektar pada 2018), sepertinya Indonesia menunjukkan bergerak ke arah yang benar.

Nah, sejumlah hutan hujan tropis utuh dengan tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi yang memiliki peran penting di dunia berada di Indonesia. Hutan ini merupakan sumber mata pencaharian berkelanjutan dan menjadi akar identitas budaya bagi masyarakat adat di wilayahnya. Hutan dan lahan gambut Indonesia juga menyimpan karbon yang sangat besar, sehingga memegang peran penting dalam upaya dunia untuk memerangi perubahan iklim.

Maka,  program perlindungan dan pemulihan hutan mesti terus digencarkan. Mengingat hutan punya banyak manfaat, diantaranya:


Secara Langsung

  1. Hutan berfungsi sebagai paru-paru dunia. Satu pohon dewasa dengan daun lebatnya bisa menghasilkan oksigen untuk kebutuhan 10 orang. Maka, tanpa hutan, tak akan ada kehidupan
  2. Hutan menjadi tempat bermukim ratusan juta orang di dunia. Mereka hidup dan bermata pencaharian dari hutan.
  3. Hutan merupakan sumber obat-obatan. Beraneka hasil hutan menjadi bahan baku industri farmasi
  4. Hutan berperan menahan angin, sehingga tanaman yang rentan angin bisa terlindungi. Pun penyerbukan tanaman bisa terbantu.
  5. Hutan akan mencegah banjir dan tanah longsor. Akar pohonnya akan menahan air saat hujan lebat


Secara Tidak Langsung

  1. Hutan akan menyejukkan udara. Biaya konsumsi listrik untuk pendingin udara pun bisa ditekan karenanya, suhu menjadi sejuk dan segar.
  2. Hutan berfungsi mendinginkan suhu bumi. Pohon-pohonnya akan menyerap CO2 yang merupakan salah satu penyebab perubahan iklim
  3. Hutan berperan sebagai habitat bagi berbagai jenis keanekaragaman hayati yang membantu manusia bertahan hidup
  4. Hutan berperan dalam membuat hujan
  5. Hutan berperan untuk menyimpan air tanah: air hujan akan diserap juga disimpan sebagai air tanah untuk kebutuhan minum, sanitasi dan irigasi.




Oleh karena pentingnya hutan, maka setidaknya ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk pelestarian hutan ini, yakni:

  1. Perpanjangan moraturium hutan dan lahan: pemerintah memperluas moraturium ekspansi lahan perkebunan dan pertanian ke wilayah hutan dan lahan 
  2. Penyelesaian konflik yang berkaitan dengan hutan dan lahan: melakukan rekonsiliasi klaim masyarakat atau pemegang konsesi kehutanan sehingga segera bisa dilakukan pemulihan
  3. Skema pembiayaan yang disesuaikan dengan keberhasilan pemulihan: memberikan penghargaan ke daerah yang sukses melakukan program pemulihan dengan memberikan dana bantuan
  4. Meningkatkan kualitas sektor pertanian: peningkatan kemampuan petani dan mempermudah akses ke pasar
  5. Peningkatan upaya ketahanan pangan: hutan utuh membantu memastikan curah hujan yang memadai bagi pertanian, sementara sistem wanatani menyediakan makanan bergizi untuk dikonsumsi.
  6. Koordinasi lintas sektoral sehingga tak ada kebijakan yang bertabrakan
  7. Edukasi dan sosialisasi meluas ke seluruh lapisan masyarakat akan kampanye pelestarian hutan
  8. Melakukan kegiatan keseharian yang bisa mengurangi penggerusan hutan, berprinsip 5R: Reduce, Reuse, Recycle, Recovery, Repair. Misalnya: dari kertas beralih ke paperless, memakai serbet sebagai pengganti tisu, menggunakan tas belanja pakai ulang, membawa tempat makan/minum sendiri
  9. Bebaskan hutan dari sampah
  10. Melakukan segala upaya untuk pencegahan kebakaran


Hutan Sumber Pangan Anugerah dari Tuhan


sumber gambar: Facebook WALHI


Hutan sumber daya alam anugerah dari Tuhan yang tak terhingga nilainya bagi manusia. Tak hanya yang tinggal di dalam dan sekitarnya saja, masyarakat yang tinggal jauh dari hutan dan di perkotaan juga memerlukan komoditi dan jasa sumber dayanya. Ya, kontribusi hutan sungguh besar untuk keberlangsungan hidup manusia. Maka, menjadi kewajiban kita semua untuk berusaha menjaga, melindungi dan melestarikannya. Karena keberadaan hutan layak diperjuangkan untuk kehidupan mendatang. Apalagi berkaitan dengan pangan, karena hutan dan pangan itu bergandengan tangan. Lebih dari itu, bagi kita bangsa Indonesia, hutan-hutan kita dan keanekaragaman hayati serta budaya yang bersumber daripadanya, yang terhampar dari Sabang sampai Merauke merupakan anugerah Tuhan dan identitas terkuat bangsa ini. Maka jika bukan kita yang melestarikan hutan ini siapa lagi? Dan kalau tidak saat ini apa harus menunggu sampai hutan habis nanti? 

Lalu, caranya bagaimana?

Mudah saja, sosialisasi dan edukasikan ke sesama melalui berbagai media tentang kampanye pelestarian hutan kita. Juga kita bisa ikut serta mendukung program-program mengemuka dari WALHI, pun bisa berdonasi!

Ya, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) merupakan sebuah organisasi gerakan lingkungan hidup terbesar di Indonesia. Dengan jumlah anggota sebanyak 487 organisasi dari unsur organisasi non pemerintah dan organisasi pencinta alam, serta 203 anggota individu yang tersebar di 28 propinsi di Indonesia. Sejak tahun 1980 hingga saat ini, WALHI secara aktif mendorong upaya-upaya penyelamatan dan pemulihan lingkungan hidup di Indonesia. WALHI bekerja untuk terus mendorong terwujudnya pengakuan hak atas lingkungan hidup, dilindungi serta dipenuhinya hak asasi manusia sebagai bentuk tanggung jawab Negara atas pemunuhan sumber-sumber kehidupan rakyat.

WALHI menyadari bahwa perjuangan tersebut dari hari kehari semakin dihadapkan dengan tantangan yang berat, terutama yang bersumber pada semakin kukuhnya dominasi dan penetrasi rezim kapitalisme global melalui agenda‐agenda pasar bebas dan hegemoni paham liberalisme baru (neo‐liberalism), dan semakin menguatnya dukungan dan pemihakan kekuatan politik dominan di dalam negeri terhadap kepentingan negara‐negara industri atau rejim ekonomi global. Rezim kapitalisme global menempatkan rakyat, lingkungan hidup dan sumber-sumber kehidupan rakyat, bahkan bumi sebagai tumbal akumulasi kapital. Eksploitasi dan pengerukan sumber daya alam yang tiada habisnya yang berujung pada krisis lingkungan hidup, telah mempengaruhi tatanan kehidupan ekonomi, sosial dan budaya dan pada akhirnya meningkatkan ancaman kerentanan keselamatan dan kehidupan seluruh warga negara, baik di perdesaan maupun perkotaan.

Maka, di tengah tantangan perjuangan penyelamatan lingkungan hidup dan sumber-sumber kehidupan rakyat yang begitu berat, dibutuhkan gerakan sosial yang kuat dan luas untuk secara bersama-sama memperjuangkan keadilan ekonomi, sosial dan ekologis untuk generasi hari ini dan nanti. WALHI memastikan dirinya menjadi bagian utama dari gerakan ini. 

Saya juga, memastikan diri untuk menjadi bagian dari gerakan ini. Saya ingin hutan di kawasan kota kelahiran saya, Kediri, bisa lestari. Juga hutan di kawasan lain di seluruh penjuru bumi. Saya yakin jika kita bersama-sama melakukannya pasti akan terwujud hutan yang lestari untuk keberlangsungan generasi dan hutan kembali menjadi sumber pangan bagi masyarakat kini dan nanti.

Jadi, teman-teman mau bergabung juga, kan? 💖




"The world's forests are a shared stolen future that we must put back for our children's future" (Desmond Tutu)



be human and love nature


Dian Restu Agustina





Artikel ini diikutsertakan dalam Forest Cuisine Blog Competition 
#PulihkanIndonesia #RimbaTerakhir #WALHIXBPN #HutanSumberPangan #BlogCompetitionSeries



Referensi: 
visi dan misi - walhi.or.id 
menlhk.go.id/site/download/status hutan dan kehutan indonesia 2018
forestnews.cifor.org/48851/makanan berkualitas dari hutan
cifor.org/publications/pdf_files/brochures/BCIFOR1101I.pdf
simlit.puspijak.org/files/buku/hutantanaman.pdf
lingkunganhidup.co/manfaat-hutan-bagi-manusia-dan-lingkungan
bobo.grid.id/read/08682464/apa-saja-kandungan-yang-ada-di-dalam-pisang
wri-indonesia.org/id/blog/5-langkah-perencanaan-untuk-melindungi-dan-merestorasi-hutan-indonesia





Masuk jadi 30 Finalis!!

30 comments

  1. Hidup dekat dihutan emang enak. Semua makanaan serba langsung dari alam. Beruntung sekali ya
    Wah Mbah Nah beruntung juga ya, punayay pelanggan setia.
    Getuk pisang, saya belum pernah mencobanya.

    ReplyDelete
  2. Dulu ak pernah makan gethuk pisang tp skrg udh langka y mba jd udh gk nemuin lg aplg d jkt

    ReplyDelete
  3. baru tah ada gethuk pisang ,m jd peansaran

    ReplyDelete
  4. Wah, ternyata juga asli Kediri to. Tossss mbak.

    ReplyDelete
  5. Duh aku suka banget sama pisang mba. Jadi pengen icip gethuk pisang, belom pernah coba mba. Maunya ke Kediri langsung. Hihi.

    Keren banget programnya WALHI, melestarikan hutan dengan cara berdonasi. Pengen gabung deh.

    ReplyDelete
  6. Ngiler sama getuk pisangnya...udah lama banget terakhir makan getuk pisang oleh2 tetangga plng mudik

    ReplyDelete
  7. Aku pernah dibikinin Gethuk Pisang ini sama Bude pas mudik, dapet panen pula si pisang nih,ahh memang sumber pangan ini anugerah banget , banyak mengandung vitamin pulak ya.

    ReplyDelete
  8. Hutan itu sebenarnya ibarat guardian angel untuk manusia. Hutan dengan segala isinya, merupakan sumber bahan pangan dan penyokong kebutuhan hidup manusia. Hanya saja kadang manusia kurang bijaksana dalam memanfaatkannya. Deforestasi dan eksplorasi mineral yang mengharuskan penebangan besar-besaran sungguh membuat kondisi bumi makin menderita.

    ReplyDelete
  9. aku kayaknya waktu kecil pernah dikasi oleh2 getuk pisang. seingatku rasanya enak. wah udah lama banget ga makan getuk pisang lagi

    ReplyDelete
  10. Belum pernah nyobain nih getuk pisang, pengen deh...
    Pisang memang favorit dan kaya manfaat ya...

    ReplyDelete
  11. Pohon pisang banyak banget manfaatnya. Dari batang, buah, hingga daun semua bisa dimanfaatkan. Makanan dari pisang juga biasanya enak-enak

    ReplyDelete
  12. aku kayaknya pernah deh makan gethuk pisang ini, dan salut sama betapa kayanya pisang ini, bisa diapain aja pisang ya

    aku paling suka pisang karena kaya serat dan enak rasanya

    ReplyDelete
  13. Mba Dian Kediri mana aslinya?
    Kalo omku di Kediri Jl. KH Ahmad Dahlan (depan IKIP PGRI)
    Ke Kediri memang kurang lengkap, kalo ngga makan gethuk pisang ini.
    Khasiat banyaaakk, rasa endeusss
    Bangga dgn SDA hutan Indonesia!!

    ReplyDelete
  14. Waduh jadi pingin nyobain getuk pisang, soalnya aku suka pisang dan sedih di Tangerang harga pisang mahal banget, tapi pisang memang enak dibuat makanan apa saja yah, karenanya kelestarian hutan harus kita jaga terus agar tetap menghasilkan pangan yang bermanfaat untuk kita dan makhluk hidup lainnya.

    ReplyDelete
  15. Waduh, saya baru tahu dengan getuk pisang ini. Tahunya getuk singkong aja. Enak kayaknya ya getuk pisang ini. Ngomong-ngomong soal pisang, kebetulan ini buah yang selalu ada di rumah. Anak-anak dan suami gak pernah bosan. Kadang pisang tanduk, kadang pisang raja, kadang pisang ambon, kadang pisang muli. Dimakannya bisa langsung, dibikin pisang keju, pisang kremes, atau pisang goreng.. Alhamdulillah deh kalo banyak manfaatnya. :)

    ReplyDelete
  16. Aku belum pernah makan getuk pisang. Enggak pernah kepikiran juga kalau pisang bisa dibuat getuk. Pisang Raja Nangka itu memang pisang terenak sih menurut saya. Dan saya juga setuju banget, pisang yg matang di pohon itu rasanya lebih nikmat ketimbang pisang imbon.

    Tentang Hutan di Indonesia, sudah seharusnya kita saling menjaga karena hutan itu sangat bermanfaat. Baik untuk sumber pangan bagi masyarakat sekitar juga merupakan hal penting bagi bumi ini.

    ReplyDelete
  17. Gethuk gedhang kayaknya enak banget tuh mbak, saya belum pernah cobain. Di tempat saya paling mentok pisang ya cuma direbus atau digoreng aja kalau di desa. Kalau daun pakis itu enaknya disayur apa sih mbak? Saya belum pernah makan sayur dari daun pakis soalnya.hehe

    ReplyDelete
  18. Aku doyan gethuk pisang ini. Apalagi aku memang suka banget olahan pisang. Pisang ini diapain aja enak

    ReplyDelete
  19. Selama ini saya baru ngerasai getuk singkong. Penasaran gimana rasanya getuk pisang ya...
    Alhamdulillah Indonesia banyak hutan, sehingga sumber pangan selalu tersedia

    ReplyDelete
  20. Sewaktu sering main ke hutan ,saya suka menjumpai rapsberry atau arbei yang tumbuh liar di jalur trekking. Rasanya senang dan seru aja kalau ternyata banyak makanan yang bersumber dari hutan.

    ReplyDelete
  21. Kita yang tinggal di Indonesia ini harusnya banyak banyak bersyukur yaa karena udah dikasih hutan yang luas gitu. Yang pastinya banyak sekali manfaatnya. Salah satunya ya sebagai sumber pangan.

    ReplyDelete
  22. Hooo Mbak Dian dari Kediri. Waktu kecil aku sering makan gethuk pisang. Baca ini kebayang enaknya tapi sekarang udah jarang yang bawain oleh-oleh gethuk ini. Kalau dari Kediri biasanya terkenal tahu sama ayam panggang buatan saudara.

    Oh ya, bahas tentang hutan, aku sendiri belum pernah tinggal dekat hutan tapi ku suka jalan-jalan di pegunungan yang masih hijau. Udaranya sejuuuk. Gak kebayang kalau deforestasi terus terjadi. Gersang dong. Manusia yang berulah, manusia juga yang menuai akibatnya.

    ReplyDelete
  23. Di Bontang dulu ada namanya kampung pisangan, dulunya di sana hutan pisang. Asli, waktu aku kecil di sana banyak banyak banget pisangnya. Tapi sekarang udah nggak ada lagi, diganti ama permukiman. Tinggal namanya aja buat kenangan, kampung pisangan.

    ReplyDelete
  24. Di tempat saya, beberapa area hutan sayang mulai untuk perumahan dan pabrik. Semoga dengan event ini pemangku kebijakan dan masyarakat makin peduli dng manfaat hutan ya mbak

    ReplyDelete
  25. Aku suka sekali dengan pisang. Dibikin cake, kolak, ataupun olahan lainnya. Tapi belum nyoba yang getuk pisang.

    ReplyDelete
  26. Pisang kepok sama raja nangka itu paling enak digoreng, dikukus atau dibikin beragam panganan endess lainnya. Kalo untuk buah aku paling sukak pisang ambon sama pisang mas yang mungil tapi muanis pol.

    Eniwe.. pisang diapain jugak aku dukaaas. Kecuali dijus ding. Hehehe

    ReplyDelete
  27. Aaah iya getuk pisang. Dulu adiknya nenek kalo habis pulang dari rumah istrinya di Kediri, sering bawa oleh-oleh getuk pisang.

    ReplyDelete
  28. Jaman dulu gak banyak kasus malnutrisi salah satunya karena fungsi hutan sebagai sumber pangan belum tergeser. Kalau sekarang susah juga karena hutam ditanami tumbuhan bakal bahan baku produksi. Jenis pangan olahan juga makin banyak akibatnya orang jaman now jarang yang tahu sumber oangan alternatif dari hutan. Semoga dengan adanya campaign ini masyarakat lebih teredukasi.

    ReplyDelete
  29. Jadi makin bangga dengan Kediri berkat mb dian,
    Sedih sekali mb dian ke depannya hutan Kediri semakin berkurang akibat pembangunan bandara hiks hiks. Satu lagi, buah khas Kediri yang mungkin akan sulit dtemui akibat itu smua adalah mangga podang

    ReplyDelete
  30. Semoga hutan kita bisa kembali asri ya mbak Dian, sedih saat tahu banyak hutan berkurang karen pembangunan #PulihkanIndonesia banyak manfaat dari hutan. Smg makin banyak yang melestarikan hutan Indonesia

    ReplyDelete