Mengunjungi Museum Bank Indonesia






Di hari terakhir ajang BI Netifest, seluruh finalis diajak ke Malam Penganugerahan Pemenang Video & Blog Competition yang bertempat di Museum Bank Indonesia, di kawasan Kota Tua Jakarta. Sebagai bintang tamu hadir Sheila On Seven yang menghibur semua finalis dan undangan acara. Tapi sebelum acara puncak, para finalis mengunjungi dulu area Museum Bank Indonesia dan mengenal lebih dekat tentang sejarah dari bank sentral negeri ini.

Maka, berangkat sekitar pukul 4 sore dari Hotel Aryaduta Jakarta, saya dan teman-teman finalis lainnya menuju ke lokasi dengan menggunakan beberapa bis yang sudah disediakan panitia. Sesampainya di sana, kami dibagi menjadi beberapa kelompok yang masing-masing dipandu oleh guide dari Museum BI dan mengelilingi seluruh area ruangan tanpa terkecuali.

Yang menarik, di awal tur, si Mbak guide yang memandu rombongan dengan semangat dan interaktif ini menyampaikan, "Jauh sebelum menjadi museum, tempat ini dulunya adalah rumah sakit bernama Binnenhospital yang dibangun pada awal abad ke-18. Lalu ditinggalkan pada 1780 lantaran fasilitas rumah sakit dipindahkan ke area Sawah Besar, Jakarta Pusat. Kemudian bangunan ini dijual ke firma dagang Mac Quoid Davidson & Co pada 1801"

Lalu...tiba-tiba ada sese-Mas finalis nyeletuk, "Kamar mayatnya sebelah mana dulu, Mbak?"

Yang dijawab si Mbak guide, "Jangan khawatir, bangunan rumah sakit itu sudah dihancurkan kok. Karena setelahnya, bangunan dibeli oleh De Javasche Bank (DJB) yang dibentuk pada 1828 dan berperan sebagai bank sirkulasi milik Hindia Belanda yang bertanggung jawab mengurus Gulden Hindia Belanda. Jadi, bangunan rumah sakit yang dibeli dihancurkan pada awal abad ke-20 kemudian didirikan bangunan baru. Maka sekarang sudah enggak ada lagi ruangan bekas kamar mayatnya!"

Meski mendengar jawaban itu saya merasa lega, tapi di belakang bisik-bisik masih terdengar, "Bangunannya sih sudah hancur, tapi kalau rumah sakit ya teteup, riwayat pasien yang meninggal di sini pasti ada!"

Duh!! Semua auto berkelompok, enggak mau jauh-jauh dan ketinggalan di belakang! Mana waktu sudah jelang Maghrib itu huhuhu...🙈












Museum Bank Indonesia - Perpaduan Eropa dan Jawa Klasik

Belanda yang menjajah Indonesia begitu lama memang banyak meninggalkan benda cagar budaya diantaranya bangunan di kawasan Kota Tua, Jakarta. Berbagai bangunan ini selain memiliki arsitektur menawan juga punya nilai sejarah tinggi. Salah satunya gedung Museum Bank Indonesia yang berlokasi di Jalan Pintu Besar Utara No. 3, Jakarta Barat ini.

Adalah G. Vissering, Presiden Direktur DJB yang baru menjabat saat itu, meminta arsitek Eduard Cuypers datang ke Hindia Belanda pada 1909. Tujuannya untuk mendirikan biro arsitek Eduard Cuypers & Hulswit, sekaligus merancang renovasi gedung DJB di Batavia serta kantor-kantor cabang DJB di berbagai daerah di Indonesia.

Nah yang menarik adalah, sang arsitek dalam membangun tidaklah hanya membuat gedung yang megah namun juga memberikan sentuhan lokal Indonesia pada detail bangunannya. Misalnya, pada langgam hias Kepala Kala yang ada di atas jendela dormer, area innercourt Museum BI. Di mana ukiran diadopsi dari motif yang ada di Candi Borobudur sebagai representasi budaya Jawa klasik. Tapi, meski Cuypers mengadopsi budaya lokal, ia tidak sepenuhnya meninggalkan romantisme gaya Neo Klasik, sehingga gedung DJB masih mengguratkan gaya Eropa yang kental.

Lalu, ada yang unik lagi, adanya Dewa Hermes di kaca patri di dalam gedung DJB yang dipercaya sebagai dewa pelindung perdagangan dalam mitologi Yunani. Hermes, anak Zeus dan Maia, di lingkaran dewa-dewa Olimpia merupakan dewa termuda kedua setelah Dionysus.

Gambar Dewa Hermes ini ada di rongga tangga Museum Bank Indonesia dan di bawahnya terdapat tulisan "DE JAVASCHE BANK OPGERICHT ANNO 1828" yang artinya De Javazche Bank didirikan pada 1828.

Di bawah gambar Dewa Hermes terdapat tiga kaca patri dalam ukuran yang lebih kecil dengan tiga lambang penting dalam perdagangan Pulau Jawa. Yakni tiga lambang kota: Soerabaja, Batavia, Samarang. Ya, Surabaya dan Semarang adalah dua kota pertama tempat DJB membuka cabang.









Lahirnya Bank Indonesia Sebagai Bank Sentral 



Pada 19 juni 1951 pemerintah Indonesia membentuk Panitia Nasionalisasi DJB di mana ada perwakilan yang dikirimkan ke Belanda untuk mengatur pembelian saham DJB yang diperdagangkan di Bursa Efek Amsterdam. Pada 3 Agustus 1951, pemerintah mengajukan penawaran kepada para pemilik saham DJB dan dalam waktu dua bulan hampir seluruh saham DJB bisa terbeli.

Naisonalisasi ini kemudian ditindaklanjuti dengan pengubahan lembaga bank sirkulasi menjadi bank sentral dengan nama Bank Indonesia pada 1 Juli 1953. Ditandai dengan diterbitkannya Undang-Undang pokok BI dan kedaulatan Indonesia di bidang ekonomi dan moneter. Yang mana fungsi bank sentral yang sebelumnya tidak dilakukan secara memadai kini dapat dilaksanakan oleh BI.

Direktur BI saat itu, Mr. Lukman Hakim menjelaskan bahwa tidak akan ada perubahan apapun baik dari sisi orgnisasi maupun pekerjaan sehari-hari. bahkan karyawan Bank Indonesia sebagian besar adalah orang Belanda eks pegawai DJB. 

Sehingga pada tahun pertama berdirinya BI ini, hanya 12,5% orang Indonesia yang bekerja di manajemennya karena masih sangat kurangnya putra bangsa yang terampil dalam pekerjaan di bidang perbankan. 

Nah, pemakaian gedung sebagai kantor BI tidak berlangsung lama karena pada tahun 1962, BI pindah ke gedung baru sehingga bangunan ini tidak dipakai lagi. Hingga Gedung BI Kota, nama yang biasa disematkan pada bangunannya, ditetapkan Pemerintah sebagai bangunan cagar budaya sesuai SK Gubernur Provinsi DKI Jakarta no.475 tahun 1993.









Latar Belakang Pendirian Museum Bank Indonesia



Pelestarian gedung BI Kota sejalan dengan kebijakan Pemerintah DKI Jakarta yang mencanangkan daerah Kota Tua sebagai salah satu daerah historis di Jakarta. Sebagai salah satu pelopor revitalisasi gedung-gedung bersejarah di Kota Tua, BI bermaksud untuk turut menyajikan pengetahuan terkait peran BI dalam perjalanan sejarah bangsa, termasuk memaparkan latar belakang kebijakan BI yang diambil dari masa ke masa.

Hal inilah yang antara lain menjadi pertimbangan munculnya gagasan akan pentingnya keberadaan Museum Bank Indonesia. Menyadari pentingnya sejarah tentang BI maka pada 21 Juli 2009 gedung ini diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudoyono sebagai Museum Bank Indonesia. 

Di mana tujuan pendirian Museum Bank Indonesia adalah: guna menunjang pengembangan kawasan Kota Tua sebagai tujuan wisata di DKI Jakarta, maka sangat tepat apabila gedung BI Kota yang telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya oleh pemerintah, dimanfaatkan menjadi Museum Bank Indonesia.










Adapun tujuan dari pendirian dan pemeliharaan Museum BI ini adalah sebagai berikut:


1. Sarana Komunikasi Kebijakan BI

Museum BI memiliki fungsi untuk mensosialisakan berbagai kebijakan yang dikeluarkan BI sehingga masyarakat dapat lebih mudah mengetahui dan memahami kebijakan BI terkini.

2. Tempat Mengumpulkan, Menyimpan, Dan Merawat Benda Numismatik Ataupun Dokumen Bersejarah BI

Beragam bentuk benda numismatik ataupun dokumen yang bernilai sejarah dalam perjalanan bank sentral Indonesia akan dikelola dan disajikan secara lengkap dan runtut, sehingga mudah dipahami oleh berbagai lapisan masyarakat

3. Sarana Rekreasi Literasi Yang Menghibur/ Edutaiment (Education-Entertaiment)

Museum BI juga bertujuan sebagai sarana edukasi yang menghibur bagi masyarakat dengan menyediakan fasilitas pengetahuan kebanksentralan berbasis teknologi terkini.


Denah, Program dan Fasilitas Museum Bank Indonesia






Program Utama Museum Bank Indonesia

  • Jelajah Museum
Program yang ditujukan bagi pengunjung rombongan untuk menambah wawasan dan pemahaman mengenai peran, fungsi, dan kebijakan-kebijakan Bank Indonesia, serta informasi koleksi numismatik dan arsitektur gedung. Surat permohonan kunjungan dapat dikimkan melalui email ke Museum BI

  • Seminar
Forum ini diselenggarakan untuk mendiskusikan topik tertentu mengenai berbagai isu termasuk ekonomi, sejarah, seni, heritage, dan budaya.

  • Pameran Temporer
Pameran diselenggarakan secara temporer dengan mengusung berbagai tema antara lain numismatik, seni, budaya, dan industri kreatif.

  • Kegiatan Interaktif dan Edukasi Tematik
Kegiatan edukasi rutin diadakan untuk memperingati hari-hari besar antara lain HUT RI, Hari Pahlawan, dan Hari Ibu. Kegiatan ini diisi dengan seminar, workshop, kuis, pertunjukan, dan perlombaan.

  • Museum BI Goes To School (MGTS)
Kegiatan edukasi berupa pameran, pertunjukan, dan games yang dilaksanakan di sekolah/perguruan tinggi terpilih di berbagai wilayah di Indonesia. 



Fasilitas Museum Bank Indonesia

Museum BI pertama kali dibuka untuk umum pada tanggal 15 Desember 2006 oleh Gubernur Bank Indonesia, Burhanuddin Abdullah, selanjutnya diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono pada 19 Juli 2009 dengan menambahkan dan menyempurnakan tata pamer, serta menerapkan teknologi multimedia interaktif. 

Nah, beberapa fasilitas yang ada diantaranya:


  • Ruang Penitipan Barang
Ruang ini terletak di lobby utama. Sebelum jelajah museum, pengunjung harus menitipkan tas dan barang bawaan lainnya disini, sesuai peraturan pengunjung tidak boleh membawa tas dan barang bawaan lainnya pada saat memasuki ruang tata pamer Museum BI.
  • Ruang Auditorium
Ruang ini digunakan bagi pengunjung rombongan, ataupun komunitas, sebagai tempat penyelenggaraan berbagai kegiatan seperti seminar/workshop/diskusi, dan edukasi.publik.
  • Kios Cenderamata
Pengunjung dapat membeli berbagai cenderamata yang berkaitan dengan Museum Bank Indonesia, seperti gantungan kunci berbentuk koin gobog, kaca patri, kaos, dan masih banyak lagi.
  • Ruang Serbaguna
Terletak di lantai dasar, berbagai event seperti workshop, bazar, diskusi, ramah tamah dan masih banyak lagi diselenggarakan di ruangan ini.
  • Ruang Temporer
Beragam pameran tematik dan bazar diadakan di ruang ini pada periode waktu tertentu.
  • Kafe
Pengunjung dapat bersantai sambil menyantap makanan dan minuman yang dijual di kafe Museum BI. Kafe ini berlokasi di lantai 1 dan dapat diakses dari luar melalui pintu masuk samping Museum BI.
  • Masjid
Pengunjung dapat beribadah di masjid yang bersih sekali baik tempat wudhu maupun bagian dalamnya
  • Area Parkir
Pengunjung tidak perlu khawatir memarkir kendaraan mereka, baik motor, mobil hingga bus dengan lahan parkir yang cukup luas di halaman belakang Museum BI ini.





Fakta Unik Museum Bank Indonesia



Oh ya, beberapa fakta unik disampaikan oleh pemandu saat memandu finalis BI Netifest berkeliling ruangan Museum BI ini yakni:

  • Ada Wastafel di Dalam Lemari
Keberadaan wastefel kuno di ruang direksi, bukan karena gedung ini sisa rumah sakit. Konon keberadaan wastafel ini terkait dengan wabah kolera yang pernah melanda Batavia. Hampir sebagian besar korbannya adalah warga Eropa. Untuk mengantisipasi penularan kolera, direksi DJB kemudian menyediakan wastafel di ruang-ruang pimpinan yang letaknya cukup tersembunyi. Yakni berada di salah satu bilik lemari panjang yang berfungsi juga sebagai pembatas antar ruangan direksi. Wastafel ini digunakan untuk mencuci tangan setelah bertemu orang agar terhindar dari wabah kolera. Di Batavia, kolera memang sulit diatasi mengingat buruknya sanitasi lingkungan dan kebersihan perorangan yang rendah kala itu.

  • Beberapa Benda Disesuaikan dengan Orang Belanda

Misalnya ada gantungan jas di dinding yang tingginya hampir 2 meter. Tak heran karena memang orang Belanda yang menjadi pekerja bank rata-rata punya tinggi badan lebih dari orang Indonesia. Ketinggian lemari-lemari buku pun sama, bentuk meja dan kursi juga lebih jumbo ukurannya. Kesemua perkakas dan peralatan yang dilengkapi juga manekin bule Belanda membuat kita merasa layaknya suasana Eropa jaman dulu kala

  • Pintu Besi yang Kuat Sekali

Di Museum BI ada brankas penyimpanan yang dulunya dipakai menyimpan uang dan barang berharga sekarang diperuntukkan sebagai ruang pajang uang kuno dan barang berharga. Di sini ada pintu besi (yang terbuka terus posisinya - dilarang ditutup) saking beratnya dan hanya bisa ditutup oleh tiga orang dewasa. Pintu ini teruji kekuatannya, dengan jenis yang sama di kantor Bank Indonesia di Banda Aceh, saat tsunami pintu tetap utuh hanya merembes sedikit air di sekitar pintunya saja. Padahal saat Tsunami Aceh kantor BI yang di sana terendam air sampai beberapa hari

  • Replika Emas Devisa Negara


Di Museum Bank Indonesia juga dipertunjukkan tumpukan emas yang merupakan replika cadangan devisa yang dimiliki Indonesia berupa emasyang beratnya 13,5 kg per batang. Nilai emas ini setara dengan uang sekitar Rp 7 milyar dan yang asli tersimpan di luar negeri

  • Tampilan Museum BI Kekinian

Semua tampilan disajikan menarik dengan tambahan audio visual. Ruang pertama memamerkan rute perdagangan awal lengkap dengan foto dan biografi pedagang terkenal. Ada juga contoh rempah-rempah dan berbagai barang yang diperdagangkan lengkap dengan penjelasan dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Selain dilengkapi dengan permainan cahaya, lampu sorot, dan latar belakang musik keroncong, pengunjung juga dapat memutar bola dunia, menonton video di layar sentuh, dan mendengarkan klip audio pidato bersejarah. Benar-benar wisata edukasi digital yang pas buat mileial.

  • Berbagai Pengetahuan Seputar Keuangan Negara Komplit Ada
Untuk memperkenalkan peran Bank Indonesia terhadap sejarah Indonesia, seperti kebijakan moneter dan sistem pembayaran yang berubah dari waktu ke waktu. Museum Bank Indonesia juga menyediakan pengetahuan tentang sejarah mata uang dan perdagangan di Indonesia dari era pra-kolonial hingga sekarang, yang tersaji dengan tampilan audio visual. Ada juga fakta dan koleksi benda-benda bersejarah pada periode sebelum berdirinya Bank Indonesia, seperti kerajaan nusantara dan koleksi mata uang lama sejak abad ke-14 dari seluruh dunia. Yang menarik, beberapa seragam dari jaman penjajahan dan perjuangan kemerdekaan Indonesia dikemas apik dalam kotak kaca yang diberi lampu, kemudian diletakkan di ruang yang gelap. Sungguh sajian sebuah museum yang enggak akan membosankan.






Info Museum Bank Indonesia


Waktu Kunjungan *)
​Selasa - Jumat : 08.00 - 15.30 WIB
Sabtu - Minggu : 08.00 - 16.00 WIB

Tur dengan Pemanduan:
Selasa - Minggu:
08:00, 09:00, 10:00, 13:00 dan 14:00 WIB

*) Senin & Hari Libur Nasional Tutup

Alamat Museum
Jl. Pintu Besar Utara No.3 Jakarta Barat, Indonesia
Telp. 021-2600158 ext. 8111
Whatsapp: +6281291573940
Email : museum@bi.go.id

HTM:Rp.5.000,00

Tiket gratis diberikan untuk:
Pelajar/Mahasiswa yang menunjukan identitas Kartu Pelajar/Mahasiswa
Pengunjung rombongan yang telah mendaftar dan mendapatkan konfirmasi dari Museum Bank Indonesia
Anak-anak sampai dengan usia 3 (tiga) tahun



Well, Museum Bank Indonesia, sebuah museum yang dikemas modern untuk menghilangkan kesan gelap maupun suram yang identik dengan museum-museum lainnya di Indonesia. Jadi mari kita kunjungi untuk mempelajari lebih dalam tentang sejarah bidang keuangan dan perbankan negeri sendiri. Agar makin mengerti dan menghargai arti perjuangan para pendahulu kita dan menjaga nila-nilai luhur kemerdekaan yang diwariskannya.💖



Museum Bank Indonesia
FB: Museum Bank Indonesia | IG: @museum_bi | Twitter: @MuseumBI





referensi: pemandu Museum Bank Indonesia, Majalah Bank Indonesia, www.bi.go.id






Salam Damai


Dian Restu Agustina




12 comments:

  1. Eh benar lho ini: "Bangunannya sih sudah hancur, tapi kalau rumah sakit ya teteup, riwayat pasien yang meninggal di sini pasti ada!"

    Hehehe tapi kan ya namanya berwisata bekelompok pula yang seperti itu lewaat hehehe.

    Wisatanya asyik ya, bisa sekalian berwisata edukasi literasi keuangan juga.

    ReplyDelete
  2. murah ya masuk 5rb, di situ juga kita bisa tahu perubahan mata uang dinar ke kertas juga ya mba? hehe

    ReplyDelete
  3. Wah, baca cerita Mbak Dian ini, saya langsung flashback saat ke sana, Mbak.
    Jadi keren memang museum ini. Kita seakan masuk ke lorong waktu dan emngikuti perjalanan perbankan di Indoensia ya, Mbak. Termasuk saya yerkejut saat ada jejeran telepon yang berbunyi sendiri hahaha.
    Saya juga suka lemari kacanya yang bisa ditarik ke samping, Mbak. Besok kalau ke Jakarta, saya mau main lagi ke sini.

    ReplyDelete
  4. Sekarang dioramanya makin bagus dan banyak di maket-maket kaca ya mba. Zaman saya dulu pas masih 2011 masih belum sebanyak itu. Makin keren deh Museum BI sekarang.

    ReplyDelete
  5. MasyaAllah jadi pengen ke sini.Biaya masuknya terjangkau banget ya mbak. cocok banget untuk mengenalkan literasi finansial untuk anak-anak.

    ReplyDelete
  6. Aku pernah beberapa kali kesini dan memang tempatnya strategis ya. Deket dengan stasiun dan halte transjakarta. Gampang deh aksesnya

    ReplyDelete
  7. Aku baru tau mba, museum bank Indonesia ini letaknya di wisata kota tua .
    Udah gitu murah amat tiket masuk ya.. beneran ini buat edukasi. Pas banget kalo bawa anak-anak ya..

    ReplyDelete
  8. Bukanya siang aja ya Mba? saya catat ah info yang paling bawah, penting banget tuh :D
    Ini cocok banget dijadikan destinasi wisata sama anak, biar mereka bisa lihat langsung sejarah yang mereka pelajari.

    Btw fasilitasnya juga lengkap banget nih, pokoknya pas deh buat wisata family :D

    ReplyDelete
  9. Aku belom pernah kesana mbak...ke musium BI ini bagus banget ya mbak tempatnya jadi pengen main kesana akuh... penasaran soalnyaaa

    ReplyDelete
  10. Wah, seru ya. Dulu sempat ingin ikut lomba blog BI tapi nggak jadi. Kalau jadi finalist lomba dapat undangan mengikuti acara yang menarik ini ya padahal..

    ReplyDelete
  11. Setahun lalu aku kesini juga sampe nyasar dong di dalam.. Kepisah dari rombongan karena asyik foto2. Trus nyasar. Astaga gede banget ini museum ya. Tapi keren bangunannya, masi arsitektur kolonial gt

    ReplyDelete
  12. Wah baru tahu kalau dulu bangunan ini adalah Rumah sakit. Belajar sejarah memang menyenangkan ya? AKu pernah mebgunjungi museum ini tapi secara virtual aja (lewat tayangan tipi hehe). Semoga pas wabah virus mereda bisa ke sana. Aku suka bangunan2 tua itu kek gtu mbak :D

    ReplyDelete