Review Buku: Bersepeda ke Hatinya





Roda sepeda
Tak akan menyerah
Pada panjangnya perjalanan
Selama dia
Tetap dikayuh

(Wedha)


Sebuah harapan seringkali kita hempaskan lantaran enggak yakin bakal kesampaian. Tak banyak orang yang memiliki kesabaran untuk meraih mimpi yang diyakini. Jarang pula yang mau bersabar pun terus berusaha agar tercapai apa yang dingini. Ya, kesabaran dalam berusaha dan doa adalah dua kunci utama untuk menggapai asa. Sayang, dua hal ini pula yang sering diabaikan hingga di tengah jalan keputusasaan pun meraja. 

Sebuah buku, "Bersepeda ke Hatinya" karya Denik, bisa menginspirasi pembacanya, untuk selalu sabar saat punya cita-cita pun memanjatkan doa untuk mewujudkannya. 

Lalu apa kaitannya dengan sepeda yang adalah "pasangan jiwanya"? Hmmm...

Memang, selalu ada hal unik dan menarik soal Denik!
Tak percaya? Mari kita ulas bukunya....



Denik Bersepeda ke Hatinya

Data Buku "Bersepeda ke Hatinya"


Judul: Bersepeda ke Hatinya
Penulis: Denik

Pcnyunting: Nurma Desty Anggraeni
Penata Letak: Febriani Tabita Dara Ninggar
Pendesain Sampul: Hanung Norenza Putra

Penerbit: Ellunar Publisher
Email: ellunar.publisher@gmail.com
Website: www.ellunarpublisher.com
Bandung; Ellunar, 2020 

Halaman: vi+76 hlm., 14,8 x 21 cm 
ISBN: 978-623-204-357-2
Cetakan pertama, Februari 2020
Harga: Rp 75.000,00


BLURB



Denik memiliki beberapa sosok idola. Mulai dari seniman, penulis, penyanyi, juga kepala daerah. Orang-orang yang cukup sulit untuk ditemui, Apalagi keinginan untuk berjumpa dengan mereka tidak sendirian. Melainkan harus bersama "pasangan jiwa"nya yaitu sepeda, Tentu bukan hal mudah membawa-bawa sepeda menjumpai idola. Namun selagi masih ada di dunia ini, apa sih yang tidak mungkin. Kuncinya sabar dan kencangkan doa.

Denik Bersepeda ke Hatinya



Profil Penulis "Bersepeda ke Hatinya"



Denik, mantan guru TK yang kemudian mengajar les privat dan pekerjaan freelance lainnya. Alumni Kelas Literasi Media dari Aksara Institute dan alumni Bimtek Penulis Sejarah Kemendikbud ini tinggal di Kreo, Tangerang. Awal terjun ke dunia penulisan dengan mengirimkan puisi dan cerpen ke majalah sekolah serta majalah remaja. Kemudian aktif menulis di blog. Beberapa tulisannya di blog pernah meraih penghargaan. Di antaranya juara III Lomba Ramah Difabel yang diselenggarakan oleh Rumah Blogger Indonesia, artikel terpilih dalam Gramedia Blogger Competition tentang kebudayaan. Penghargaan dari Museum Perumusan Naskah Proklamasi sebagai juara blog on the spot dalam Jelajah Rengasdengklok. Artikel favorit dari KOMIK Kompasiana. Postingan tematik terpilih dari Komunitas Blogger Muslimah serta memenangkan lomba fiksi mini dari Komunitas Fiksiana Community. Denik yang memiliki hobi berenang, bersepeda dan bermotor ini telah menulis beberapa buku, di antaranya:

Love Pasta (antologi)
Backpacker With Kebaya (buku duet),
Ode to Roy (antologi)
Its Me (antologi)
Sinema Indonesia, Apa kabar? (Antologi) 


Jika ingin mengenal perempuan yang gemar berkain dan kebaya ini bisa follow: 

IG: @denik.erni | Kompasiana: Denik13 | Blog: catatandenik13.blogspot.com


Denik - Bersepeda ke Hatinya


Review Buku: Bersepeda ke Hatinya



Buku yang bersampul dominan warna putih dengan ilustrasi merah cerah ini tidaklah terlalu tebal. Memuat 76 halaman sehingga bisa kita selesaikan membaca dalam sekali duduk saja. Temanya ringan, keseharian, bercerita tentang pengalaman penulisnya menemui sosok idola dengan cara yang tak biasa.

Ada 9 cerita yang dikisahkan dalam buku terbitan Ellunar Publisher ini. Kesemuanya sejalan dengan tema menceritakan kisah penulis dengan "pasangan jiwanya" berkelana menemui idola di tengah teriknya surya dan hujan yang mendera.

Penulis menyajikan dalam untaian kalimat penuh semangat sehingga saat membaca saya pun jadi tertular energi positifnya. Bahkan kadang sempat terlintas dalam pikiran, ini idenya anti mainstream banget sih...Yang mungkin enggak terpikir orang oleh Denik dilakukan. Seperti ketika ia memutuskan menempuh perjalanan Tangerang - Serang untuk mengikuti perayaan ke-30 tahun novel Balada Si Roy karya Gol A Gong, penulisnya yang bermukim di sana. Kebayang enggak tuh, ke Serang naik sepeda!! Kalau bukan Denik siapa lagi yang nekad seperti ini!

Tapi sungguh kenekadan yang memang enggak main-main. Karena justru tekad kuatlah yang membuatnya bisa mewujudkannya. Mengikuti acara perayaannya, memberi kejutan untuk Gol A Gong pun menaklukkan keraguan bahwa Serang tidak bisa ditempuh dengan sepeda dari Tangerang!

Hingga di akhir perjalanan terurailah puja-puji: "Dengan mengucap syukur Alhamdulillah yang tiada putus akhirnya saya tiba di rumah tepat pukul 18.30 WIB. Saya menuntaskan perjalanan ini tanpa halangan sedikit pun. Bahkan SiMas sejak keberangkatan sampai kembali ke rumah tidak mengalami bocor ban satu kali pun. Alhamdulillah terima kasih Mas Gong. Lewat Roy saya mampu menorehkan catatan sejarah dalam hidup ini. Perjalanan ini pun semakin menguatkan keimanan saya kepada-Nya. Bahwa tanpa perlindungan-Nya saya tak akan mungkin tiba dengan selamat dan menggoreskan kisah ini dengan pena." (hal 29)

Sungguh sesuai dengan apa yang Denik yakini:

"Namun saya selalu optimis dan memiliki keyakinan bahwa selama kita masih di dunia, apa sih yang tidak mungkin? kuncinya sabar dan kencangkan doa. Sebagai seorang muslimat itulah senjata kita. Doa. Addua'u syaiful muslimin. Doa adalah senjatanya umat muslim. 'Bukanlah Allah sendiri telah berjanji, Berdoalah kamu kepada-Ku. Niscaya akan Aku kabulkan'" (hal v)



Denik - Bersepeda ke Hatinya




Akhirnya menurut saya buku ini pas dibaca di saat kita memerlukan motivasi untuk meraih harapan dan impian. Pun cocok buat siapa saja agar merasa ingat jika kesabaran dan doa akan membuat asa kita jadi nyata.

Terima kasih Mbak Denik untuk 9 kisah indahnya. Lain kali agak nambah ceritanya baru dibikin buku ya #eh. Soalnya baca 76 halaman itu kuraaang, karena cepat kelarnya hahaha...

Dan, ditunggu karya selanjutnya yaaa!!💖


Denik - Bersepeda ke Hatinya



Happy Reading


Dian Restu Agustina


















4 comments

  1. Terima kasih Mba atas reviewnya.

    ReplyDelete
  2. Menarik sekali Mbak bukunya, apalagi ini kisah nyata ya dan dilakukan oleh seorang perempuan, satu kata ... keren. Memberikan motivasi bagi kita semua, untuk selalu oprimis. Jadi penasaran sama bukunya.

    ReplyDelete
  3. Saya malah terkunci dengan kalimat di pict pertama. "Kuncinya sabar dan kencangkan doa". Memang semua hal mustahil bisa terwujud dengan usaha yang kuat, dan semua hanya dapat tercapai ketika sudah pertaruhkan sabar dan doa sebagai penutup semua ikhtiar.

    ReplyDelete
  4. Wow, menjelajah bersama si belahan jiwa. Btw, di buku gak diceritain ya mengapa mba Denik memilih sepeda sebagai soulmate-nya?

    ReplyDelete