Mengapa Pilih Punya Anak Dua?


Saat masih gadis, saya enggak punya bayangan mau punya anak berapa ketika married nantinya. Begitu juga ketika dilamar dan akhirnya menikah. Blass, enggak ada bayangan ke depan soal jumlah momongan. Hingga saat suami iseng bilang jika ia pengin punya anak 4, saya sih manggut-manggut saja. Karena dia juga enggak serius benar ngomongnya dan enggak ada kesan maksa. Maklum, kami lebih disibukkan untuk masa penyesuaian dikarenakan singkatnya waktu ketemuan, yang cuma 3 kali tatap muka sebelum akad nikah tiba!

Tapi meski, manggut-manggut, saya sempat jawab,"Enggak usah banyak-banyak ya...Biar enggak kayak kita, saudara banyak jadi semua mesti dibagi-bagi, enggak akan gede bagiannya nanti. Biar anak-anak bisa sekolah sampai tinggi!"

"Iya, aku juga enggak mau banyak anak seperti di keluargaku, kuatir jadi pilih kasih seperti orangtuaku!" timpal suami.



Dua Anak Lebih Baik


Kemudian, ketika di bulan kedua tetiba saya enggak mendapat haid, bingunglah saya, wah, cepet banget nih hamilnya. Padahal, jujur, selain adaptasi sama suami saya juga mesti menyesuaikan diri dengan status baru dari single menjadi istri, dari perempuan bekerja menjadi ibu rumah tangga dan dari Denpasar, Bali ke Pangkalan Brandan, Sumatera Utara! Tuh, ketemu berapa perkara saja hal yang mesti saya sesuaikan. Dan segera nambah satu, dari seorang perempuan menjadi seorang ibu! Huhuhu...

Plans vs Reality! What to Do When It All Falls Apart?


Seiring berjalannya waktu, di perantauan hanya berdua dengan suami dengan calon bayi di rahim ini membuat kami berdua tak pernah membahas lagi mau punya anak berapa nanti. Satu saja masih calon, mosok juga mau ngomongin yang ke sekian, yekan?

Nah, Qadarullah, bayi pertama saya ini meninggal, karena kurang sempurna sehingga enggak bisa bertahan hidup lama. Hanya 13 hari saja saya timang dan setelah kepergiannya, saya khusus terapi baik secara psikologi dan kandungan pada yang ahli. Setelah bisa kembali menata hati dan siap lagi, Alhamdulillah di bulan ke-8 dari melahirkan, saya hamil kembali.

Anak kedua ini, lahir lancar dan Alhamdulillah sehat. Meski ada drama, sempat ada tindakan dari dokter yang menangani, tapi semua berakhir bahagia. Dan karena saya ingin fokus dulu, maka sepersetujuan suami, keinginan menambah anak lagi pun kami tunda. Ini mengingat jarak kehamilan dan melahirkan saya antara yang pertama dan kedua sedemikian dekat. Juga kami ingin puas-puasin dulu dengan satu amanah ini sebelum siap dengan amanah yang lain lagi. Dan kami, enggak pernah serius lagi membahas terkait jumlah amanah ini 

Hingga saat si Mas berusia empat tahun kami merencanakan kehamilan berikutnya dan lahirlah si Adik ketika usia kakaknya 5 tahun. Tapi, ternyata berbeda dengan 2 kehamilan sebelumnya yang terbilang lancar jaya, kehamilan ketiga ini penuh drama. Mulai dari 2 kali pendarahan di trimester pertama dan sekali di trimester kedua, hingga sempat rawat inap di rumah sakit juga. Ya, di kehamilan ketiga ada diagnosa plasenta previa (posisi ari-ari menghalangi jalan lahir bayi). Sehingga dokter kandungan langganan menyatakan saya mesti menjalani persalinan sesar. Pasalnya, dokter enggak mau menanggung risiko kenapa-kenapa, karena ada satu bayi saya yang pernah meninggal dunia.

Maka, saya dan suami pun menyiapkan diri untuk persalinan secara operasi ini. Dan ternyata, enggak disangka saya pendarahan hebat saat di meja operasi. Hingga dibawa ke ruang rawat inap sempat telat. Dan menghabiskan 9 kantung darah untuk pemulihan di 4 hari perawatan. Nah, di saat saya benar-benar sudah sadar pasca operasi tiba-tiba suami ngomong gini, 

"Sudah ya cukup, 2 aja anaknya. Aku enggak mau kamu kenapa-kenapa. Dua aja kita jaga baik-baik nanti yaaa.."

"Iya...," angguk saya lemah dengan hati lega.


Mengapa Punya Anak Dua

About Our Big Family


Saya terlahir sebagai anak bungsu dari 6 bersaudara perempuan semua. Bapak Ibu saya menikah di jaman belum ada program Keluarga Berencana. Jadi Ibu saya hamil, ng-ASI, nyapih, hamil lagi..begitu seterusnya sampai 6 kali. Kata Ibu sih, sejatinya mereka pengin anak laki-laki, maka bablas sampai 5 hingga Ibu memutuskan memakai alat kontrasepsi yang jelang saya ada sudah tersedia. Nah, saya ada karena Ibu terlewat minum pil KB-nya. Dan, karena perekonomian Bapak dan Ibu sedang memburuk, maka Ibu berusaha mengugurkan saya, karena kuatir tidak bisa mencukupi jika nambah anak lagi. Ibu minum aneka jejamuan, tapi saya tetap bertahan. Hingga saya lahir sembilan bulan kemudian dan jadi perempuan keras kepala seperti sekarang (persis sama saat di dalam kandungan saya keras kepala ingin bertahan kwkwkw)

Tapi, meski demikian, Alhamdulillah saya tumbuh dan besar di tengah keluarga yang sangat mengasihi dan peduli. Orangtua saya memberikan porsi yang sama baik cinta maupun kesempatan pada kami keenam putrinya. Jadi tak ada rasa dibedakan oleh orangtua yang saya alami saat di posisi anak. Tapi, saya merasa kalau punya saudara banyak memang mesti lebih tahan diri. Banyak hal harus dibagi, itu yang membuat saya dulunya selalu berpikir anak banyak itu butuh perjuangan ekstra, baik di sisi orangtua maupun anak-anaknya. 

Sementara suami saya, terlahir sebagai anak kelima dari 6 bersaudara, 3 laki-laki dan 3 perempuan. Karena satu dan lain hal ternyata anak-anak yang urutan atas bisa mendapatkan limpahan perhatian dan materi tapi tidak pada anak-anak di urutan berikutnya. Hingga suami dan adiknya, anak kelima dan keenam sudah hampir dapat sisa. Seperti saat kuliah, berbeda dengan kakak-kakaknya yang dibiayai orangtua, pas giliran suami, orangtuanya sudah kehabisan biaya dan energi. Sehingga suami harus mengandalkan biaya dari kakak tertua, uang beasiswa dan ambil kerja sampingan. Sementara si anak bungsu, adik suami saya, malah cuma kursus sebentar, lalu kerja dan melanjutkan kuliah dengan biaya sendiri. 

Hal inilah yang disebut suami sebagai "pilih kasih". Karena orangtuanya tidak merencanakan dari awal dengan baik terutama masalah pendidikan sehingga anak-anak di urutan awal saja yang kebagian, yang belakangan enggak masuk hitungan. Itu yang membuatnya enggak mau punya banyak anak dan bertekad selalu memberi porsi yang sama untuk anak-anaknya nanti.

Well, kita enggak pernah bisa memilih terlahir dari orangtua yang mana. Tetapi setidaknya ada banyak hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik hingga membuat kita bisa menjadi orangtua yang lebih baik dari orangtua kita nantinya.



Dua Anak Lebih Baik
Saya dan keenam kakak saya (sesuai uruatan..kwkwkw saya nomor 6/bungsu)


Jadi, Anaknya Dua Aja Nih?


Nah, setelah ada dua amanah, saya dan suami pun serius membahas bab momongan ini. Oh ya, pembahasan ini disertai cerita perbandingan kondisi saudara kandung kami. Bukannya kenapa-kenapa, paling tidak saya dan suami bisa mengambil juga pelajaran dari keluarga mereka.

Ya, di keluarga saya, diantara 5 kakak, dua orang yang anaknya 2, dua orang yang anaknya 3 dan ada satu kakak saya belum ada momongan hingga kini. Sedangkan dari pihak suami, satu kakak anaknya 2, satu kakak anaknya 3, satu kakak anaknya 4 dan adiknya punya 1 anak. Hm..bervariasi ya, tapi semua sama, enggak ada yang punya anak 6 seperti orangtua kami hihihi

Terus, akhirnya kami sepakat, Insya Allah enggak nambah anak lagi. Dua saja lebih baik. Laki-laki semua enggak masalah. Nanti toh dapat anak perempuan juga, malah enak enggak perlu gede-in dah datang anaknya (sebagai mantu, kan..kwkwkw). 

Dan, pertimbangan kami berdua punya anak 2 saja memang terbukti benar adanya, karena:


1. Dua Anak Lebih Baik

Dulunya slogan program Keluarga Berencana di Indonesia adalah "Dua Anak Cukup". Kemudian menjadi"Dua Anak Lebih Baik"...Nah, saya dan suami merasa sreg dengan slogan terakhir ini. Karena dengan dua anak saja, kami merasa lebih baik dari semua sisi. Ibaratnya untuk perhatian, anak yang satu di sisi kiri yang lainnya di sisi kanan. Tinggal toleh ke kiri dan ke kanan, dua-duanya jadi terperhatikan. Demikian juga masalah materi. Kalau ada roti, dibagi 2 masing-masing dapat 1/2 nya, pasti lebih kecil bagiannya jika dibagi enam kan ya? Berbagai pertimbangan ini membuat saya dan suami percaya dengan dua anak saja keluarga kami akan lebih baik nantinya.


2. Kesehatan Lebih Utama

Jadi di kehamilan terakhir, usia saya sudah 33 tahun. Saya merasakan perbedaan dengan kehamilan pertama dan kedua. Lebih sering merasa capek dan bolak-balik drop aja. Memang faktor U begitu ngaruh nih kayaknya. Qadarullah pula ada diagnosa plasenta previa, sehingga disarankan enggak lahiran spontan. Dokter pun bilang selain karena diagnosa juga karena kondisi fisik saya maka persalinan sesar harus dipilih. Lah, kalau saya hamil lagi enggak kebayang mau di usia berapa nanti? Terus bagaimana dengan drama saat melahirkannya? Meski takdir sudah ditetapkan-Nya, tidak ada salahnya jika kita manusia mengantisipasinya. Itulah yang membuat kami, memilih untuk cukup dua saja anaknya. 


3. Kelahiran yang Berkualitas

Saat si Mas lahir, saya benar-benar fokus memberikan nutrisi berkualitas padanya sejak dini. Saya memberikan ASI eksklusif dan selanjutnya ASI serta makanan disesuaikan usia, sampai disapih umur 2 tahun sebulan setelahnya. Untuk adiknya saya lakukan hal yang sama, meski ada bonus ASI lebih lama, 1 bulan karena lebih sulit proses nyapihnya. Saya yakini kualitas otak anak melalui pemberian ASI eksklusif selama enam bulan sampai dua tahun dan perencanaan untuk memiliki anak kedua minimal setelah masa keemasan anak pertama sudah dilewati itu akan berdampak baik nantinya. Pasalnya, sel-sel otak saat masa keemasan merupakan hal terpenting bagi para orangtua dalam memberikan asupan gizi yang baik yang akan menciptakan generasi muda terdepan sehingga bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan negara. Nah, jika anak lebih dari dua, apalagi dekat jaraknya, bisa-bisa proses asupan gizi sebaik mungkin sejak dini ini akan terkendala nanti.


mengapa punya anak dua


4. Demi Pendidikan yang Lebih Baik

Memiliki anak dengan pendidikan berkualitas tinggi menjadi penting mengingat dengan pendidikan yang baik maka generasi yang akan datang akan siap menghadapi era globalisasi. Semenjak anak pertama lahir, selain memberikan kualitas otak yang berkualitas, maka para orangtua juga berkewajiban memberikan fasilitas pendidikan yang juga berkualitas bagi anak-anak dengan porsi pendidikan yang sama untuk anak pertama dan anak kedua. Dan, Alhamdulillah saat ini saya dan suami bisa memberikan kesempatan pendidikan yang sama pada si Sulung dan si Bungsu. Dan Insya Allah sudah kami siapkan perencanaan biaya pendidikannya sampai nanti


5. Bisa Diurus Berdua

Sejak menikah, kami sekeluarga berpindah tempat tinggal sesuai penugasan tempat kerja suami. Dan itu selalu jauh dari kediaman orang tua dan keluarga besar suami di Madiun dan saya di Kediri. Sehingga, yang ada ya cuma keluarga inti. Ini membuat, anak dua bagi kami lebih enggak repot ngasuhnya. Apalagi jarak usianya cukup jauh, sehingga saya yang ibu rumah tangga masih punya waktu untuk diri sendiri juga lebih bisa leluasa quality time dengan suami. Ini beneran terbukti, saat kami tinggal  di Amerika dalam rangka beasiswa suami , dimana semua urusan dikerjakan berdua bersama 2 anak yang masih bayi dan balita. Repotnya masih wajar rasanya!


6. Bonding yang Lebih Erat

Meski ini enggak jaminan juga berapa jumlah anaknya, tapi saya merasa dengan dua anak saja, saya jadi bisa lebih dekat dengan anak-anak saya. Apalagi saya mengurus sendiri hampir semua kebutuhannya. Sehingga waktu bersama mereka lebih banyak jadinya.


7. Kedekatan dengan Saudara Kandung Lebih Kuat

Jadi saat saya masuk SD, kakak pertama saya sudah merantau untuk kuliah. Sehingga meski akrab saya merasa dari kecil lebih dekat dengan kakak yang urutannya di atas saya. Karena tiap hari bersama mungkin ya. Beda dengan anak saya sekarang. Apa-apa banyakan berdua, main berdua, naik sepeda barengan, ke sekolah sama-sama sehingga mereka dekat satu sama lainnya. (meski teteup ada drama berantemnya juga yang bikin pusing kepala saya...hahaha)



Dua Anak Lebih Baik


8. Pengeluaran Rumah Tangga Lebih Hemat

Misalnya saat #dirumahaja seperti sekarang, otomatis nyiapin bahan makanan untuk 4 orang. Dan ini pasti jauh lebih hemat dibandingkan yang serumah beberapa orang lagi, kan? Enggak hanya soal pangan, tapi juga sandang, papan...juga liburan. Kini saat anak sudah besar, pesan hotel cukup 2 kamar, karena standar kamar hotel itu diisi 2 orang juga jatah breakfast-nya. Belum lagi ongkos pesawat atau biaya moda lainnya. Maka lebih hemat liburan  dengan dua anak pastinya


9. Komposisi yang Ideal Antara Orangtua dan Anak-anaknya

Ada Bapak, ada Ibu dan ada dua anak. Jika anak pertama harus diantar kemana, Bapak yang jalan, sementara adiknya mesti les ke arah yang berbeda, Ibu yang antar. Ada tugas sekolah, Ibu bantu adik ngerjain PR Bahasa Indonesia, sementara Bapak ngajarin kakaknya Matematika. Adil! Enggak bakal pusing kepala! kwkwkw


10. Mendukung Program Pemerintah

Last but not least, dengan punya 2 anak saja, kami turut serta mensukseskan program Keluarga Berencana. Apalagi kenaikan jumlah penduduk itu berbanding lurus dengan beban negara. Jika jumlah penduduk dalam sebuah negara bisa direncanakan, otomatis pemerintah akan lebih optimal dalam membangun sarana dan prasarana umum, serta bisa dipastikan pendapatan perkapita dalam sebuah negara akan naik nantinya. Ujung-ujungnya setiap keluarga menjadi lebih sejahtera. Jadi, jangan sampai punya pikiran,"Anak-anakku sendiri, negara kan enggak ngasih makan, ngapain juga ngatur-ngatur jumlah anak?" Big NO! Penduduk jadi tanggung jawab pemerintah. Misalnya di bidang kesehatan, berapa jumlah rumah sakit dan tenaga medis harus ada agar tercukupi buat semua warga, pendidikannya agar berkualiatas ada berapa murid idealnya di satu kelas, apakah sudah merata semua fasilitas yang ada di penjuru Nusantara...dan lain sebagainya. Jadi dengan bertambahnya anak, urusan negara bakal tambah banyak!


dua anak lebih baik



Well, begitulah tjurhatan panjang saya kenapa pilih punya anak dua. Enggak bermaksud memicu kontroversi, karena setiap keluarga pasti punya pertimbangan sendiri, jadi mohon jangan dinyinyiri hihihi.....(Pissss)

Dan, yang paling utama, manusia berusaha, Allah yang menentukan ending-nya. Jadi mau berapapun amanah yang diberikan, kita tetap pertanggungajawabkan dengan sebaik-baiknya semua amanah-Nya. 

Oh ya, mudah-mudahan yang masih sendiri segera didekatkan jodohnya. Yang belum ada momongan, disegerakan punya. Yang sudah ada anak, lebih baik dipertimbangkan mau nambah berapa.

Baiquelah...saya mau rebahan lagi mumpung #dirumahaja nya masih berlaku di Jakarta.
Tetap sehat dan semangat berkarya dari rumah ya...



Stay Healthy - Stay Safe - Stay Home

signature-fonts

34 comments

  1. Berapapun dapatnya, anak ada rizki masing2 dan amanah kita menjaganya. Ga nyangka ya pindah2 nya jauh, Denpasar, Pankalan Brandan, Amerikaaaa woow luar biasaa hehe

    ReplyDelete
  2. Masya Allah ... pembelajaran panjang hingga sampai pada pendapat 2 anak cukup. Salut saya. Semuanya berdasarkan pikiran yang matang karena pengalaman.

    ReplyDelete
  3. Saya niat awalnya pengen 2 anak aja kak, tapi ternyata Allah kasih lebih jadi ya di syukuri aja.
    Memang sedikit lebih ribet tapi kalo udah biasa jadi seru malah

    ReplyDelete
  4. Toss dulu mba, saya juga anak-anak semuanya laki-laki, alhamdulillah ya jagoan semua. Kita cantik sendirian hihihi. Saya sebenarnya seneng lihat orang lain yang sanggup punya anak banyak. Nggak tau juga nih mba kayanya saya mau coba 1 lagi. Mba dian juga hitunganya 3 kali kan heheheh nah itulah saya jadi pengen coba juga. Tapi nggak tahu kapan, kalau keasyikan kaya sekarang yaa udah ga jadi promil hihi

    ReplyDelete
  5. 6 orang srikandi semua yaaa Mba Dian. Kalo dulu memang stereotipenya begitu, punya anak kalau bisa ada laki dan perempuannya. Nah, kalo zaman sekarang, punya anak laki semua atau perempuan semua gak masalah. BTW, saya juga kehilangan anak pertama saya mba. Dia lahir saat kandungan saya 5 bulan, laki-laki jenis kelaminnya. Saya juga sempat trauma berat itu waktu 2015. Udahlah nunggunya 2 tahun, eh pas hamil cuma bisa di kandungan 5 bulan saja. Tapi meski demikian, saya tahu Allah punya rencana lain. Hamil berikutnya saya dapat anak perempuan. Kemudian hamil ketiga saya malah dikasih Allah 2 anak kembar laki-laki, non-identik pula. Jadi, saya merasa seakan Allah mengembalikan lagi almarhum Raffa pada keluarga kami. Allah selalu punya rencana lebih baik untuk hamba-Nya. Saya setuju Mba Dian, 2 anak saja cukup.

    ReplyDelete
  6. Membaca dari artikel diatas, bunda termasuk keluarga penuh harmoni. Sangat bijaksana sekali untuk memilih keputusan yang sangat berarti untuk masa depan.

    ReplyDelete
  7. Aku pengen punya dua anak
    Apa daya sampai saat ini baru dipercaya punya satu
    Ya sudahlah, mau gak mau yang satu ini diurus baik-baik yaaaaa

    Aku tau rasanya bersaudara berdua saja, kayak aku dan adikku
    Apalagi kalau jaraknya gak terlalu jauh, pas udah gede trus jalan berduaan, disangka orang pacaran hahahaha

    ReplyDelete
  8. Nyinyir aahhh, nyinyirrrr...nyinyiirrr... hahahahaha.
    Makasih udah berbagi Mbaaa :D

    Saya gagal fokus dengan penyesuaiannya di awal menikah malah Mba, di mana semua serba berubah, lalu hamil, melahirkan dan anak berpulang, masha Allah...
    Kebayang banget gimana tuh kondisi psikolog Mba.

    Alhamdulillah bisa terlewati, saya jadi ingat bagaimana Mba pernah nulis tentang berserah diri, keingat banget saat saya down dan liat postingan Mba muncul di medsos, tiba-tiba saya jadi merasa tercerahkan.

    Kalau saya sebenarnya pengen punya 3 anak Mba, soalnya kami dulu bertiga, dan adik saya meninggal.
    Tapi setelah anak kedua dan banyak hal terlewati, rasa-rasanya udah ngeri membayangkan hamil dan punya anak lagi hahaha.

    Jadi, 2 aja cukup (pengennya) :D

    ReplyDelete
  9. Saya masih 1 nich kak..lagi berjuang kembali untuk mendapatkan yang ke 2... yah..gitulah..ada yg mendapatkan dengan mudah..ada juga yg perlu perjuangan...

    ReplyDelete
  10. Saya turut prihatin Mba, baca cerita di atas, sungguh terasa berat banget ya Mba. Meski sulit buat ngelupainnya, tapi alhamdulillah sekarang semuanya sudah kembali normal dan sudah dikaruniai 2 anak.

    Dua anak itu memang ideal banget sih, tapi ya kembali lagi ke pertimbangan setiap orang pasti beda... Ada yang pengen punya banyak anak dan lain sebagainya.

    ReplyDelete
  11. #tos saya juga 6 bersaudara, anak kedua bukan bungsu. tapi tetep sih, anak kedua juga kurang diperhatiin karena alm ibu udah janda. Ayah meninggal saat saya kelas 4 SD
    Karena itu saya bertekad ngga mau banyak banyak, eh KB nya jebol :D :D

    ReplyDelete
  12. Ternyata panutanque ini anak bungsu juga yak, hehe.. Kalau dari ceritanya Mbak Dian, jadi inget kakak saya yg nomor 2, mikirnya sama "dua anak aja cukup"

    ReplyDelete
  13. Kalau saya sih, malah bercita-cita ingin sekali memiliki anak kembar 6, 3 laki-laki dan 3 perempuan biar rumah rame dengan tangisan dan candaan anak-anak.

    ReplyDelete
  14. Yang penting mampu menjaga amanah itu dengan baik. semua ada pertanggungjawabannya.

    ReplyDelete
  15. Anakku juga saat ini dua orang, beda jaraknya 5 tahun, dua-duanya laki2 sama kayak mbak. SempT kepikiran pengen hamil lagi siapa tau cewe kan, tapi ya takut wkwkwkw hamil bayi kemarin ini saja usianya sudah 38th dan emang berasa banget capenya hamil usia segini

    ReplyDelete
  16. Saya dan suami juga di awal pernikahan nggak ada rencana mau anak berapa karena emang setelah menikah nggak langsung dikasih juga jadi waktu itu dikasih 1 saja udah alhamdulillaah banget. Eh setelah dianugerahi 1 anak belum cukup 1,5 tahun si kakak udah punya adik lagi which is sekarang saya juga udah punya dua anak, cowok juga semuanya dan saat ini kepikirannya sama dengan Mbak. 2 anak lebih baik cuma nggak taulah ke depannya gimana, hehe. Ups maaf ikutan curcol.

    ReplyDelete
  17. Wah dua anak cukup emang bener mbak. Yang penting bagaimana mengantarkan ananda sampai mentas ya..karena ananda adalah titipan Allah SWT yg harus diselesaikan dengan baik untuk menyambut masa depannya. Semoga senantiasa diberikan kemudahan ya mbak Amin YRA

    ReplyDelete
  18. Huaaah aku baru tau cerita yang melahirkan anak kedua mbak huhuhu. Iya Mama Bapakku juga dua anak aja. Ikutan gerakan Dua Anak Cukup hehehe.

    ReplyDelete
  19. jaman dulu tidak ada KB dan akhirnya bapak saya bersaudara sebanyak 8 orang, wuihh
    dan memang keinginan tiap keluarga berbeda beda, ada yang ingin anak 3, ada yang ingin anak 4.
    Kalau 2 anak waktu ibu beli mainan biar nggak ngeluarin banyak duit juga hehehe

    ReplyDelete
  20. Akupun milih 2 Aja nih mba, krena kebetalan suami Dan akunlahir dr keluarga besar,,, yg penting kwalitas anak deh skrang bukan kwantitasnya

    ReplyDelete
  21. Setuju bgt,kita hanya berencana, kenyataannya dpt brp kita serahkan sama Allah dan kita bertanggungjwb atas yg di berikan hehe

    ReplyDelete
  22. Jaman dulu banyak anak, banyak rejeki ya. Karena mungkin dulu para orang tua gak mikirkan soal biaya pendidikan ya. Sekarang memang punya dua anak sudah sangat baik. Sesuai juga dengan program pemerintah

    ReplyDelete
  23. wah biasanya gitu ya, kalo udah punya saudara kandung banyak maunya cuma 2 tapi kalo saya yang cuma 2 saudara kandung pengennya kalo punya anak ada banyak hahaha. minimal 4 gitu. hihi. lucu bayanginnya punya anak segerombolan kemana-mana bawa banyak barang hihi

    ReplyDelete
  24. Iya mbak, ketika memiliki anak kita harus menyiapkan juga dana pendidikannya. Sebab pendidikan ini juga akan menentukan masa depan anak. Jadi kalau mau nambah anak kita juga harus mempersiapkan dana pendidikannya....

    ReplyDelete
  25. Serius nikah nggak mau lagi nambah satu belum ada anak ceweknya loh? Xixixixi kalau nungguin punya anak mantu masih lama nih kayaknya hehehehe. Aniway punya anak dua yang lebih baik, tapi kalau saya kalau bisa pengen punya anak 10 biar rame rumahnya hehehehe

    ReplyDelete
  26. Mbak DIan hebat bisa melalui cobaan buah hatinya duluan ke syurga ya.
    pengennya komen nyinyir sih mbak, eh. Berapapun itu Mbak ketika dititipkan amanah sama Allah mari kita jaga kualitas kita merawat dan membimbing mereka hehe

    ReplyDelete
  27. Mba Diaaaan, kemana ini komen-komen teman-teman semua? Kok gak kelihatan ini di halamannya. Padahal seru-seru loh saya bacanya. Hihihi. Kedua orang tua saya juga punya prinsip sama dengan Mba Dian, 2 anak saja cukup. Saya pun sama, hanya saya anak kedua Allah memberikan rezeki si kembar. Jadinya anak kami ada 3 deh. Hihihi.

    ReplyDelete
  28. kebetulan, kami pun mendapat rejeki 2 orang anak dan keduanya laki-laki. Seperti biasa, banyak rekan yang menggoda kami untuk menambah satu orang anak lagi, terutama cewek. Sikap kami ya menolak menambah anak, karena mendidik anak di masa ini sungguh tidak mudah.Belum lagi biayanya.

    ReplyDelete
  29. Anak saya satu. Biasaaaa.. Ditanyain juga kapan nambah.. Hehe

    ReplyDelete
  30. Hihi kita sama mba punya anak cukup 2 saja. Kalau mb Dian anaknya cowok semua, anakku 2 cewek smua. Pertimbangannya sih biar lbh fokus aja punya dua, bs mencukupi kebutuhan mereka dan insya allah bisa mnmberi pendidikan yg maksimal. Klu bnyk anak kami kuatir tdk bs mmberi ksh sayang dan lainnya lbh intens.

    ReplyDelete
  31. Menurutku juga, iya.
    Dua anak sudah lebih dari cukup.
    Apalagi jaman sekarang, apa-apa tidaklah murah beayanya.
    Kalau punya anak bamyak, malah bikin keteteran soal atur dana.

    ReplyDelete
  32. aku juga setuju mba Dian, seperti mamah dan papahku punya dua anak hihi tp entah kenapa aku bercita-cita mau punya anak 3 atau 5 gitu HAHHAH

    ReplyDelete
  33. Pengen punya anak juga, tapi belum dikasih sama Allah. Maunya sih banyak, tapi seberapa pun diamanahkan insyaa Allah akan berjuang menjaganya sebaik mungkin.

    ReplyDelete
  34. Saya juga di awal nikah pengen punya anak dua aja. Sedangkan suami pengennya lima. Wkwkwk....

    Eh qodarullah anak setelah anak pertama berusia setahun saya hamil lagi. Jadilah jaraknya dekat antara anak pertama dan kedua.

    Nah, karena si sulung dan ayahnya pengen punya baby lagi akhirnya saya setuju untuk hamil lagi. Alhamdulillah lahirlah anak ketiga. Setelah ngerasain hamil anak ketiga yang cukup dramatis saya merasa pengen udahan aja deh. Toh kan tadinya mau dua aja, tapi Alhamdulillah jadi dapat bonus 1. Hihihiii

    Berapapun jumlah anaknya semoga kita dapat menjaga amanahNya dengan baik

    ReplyDelete