Megengan



Kangen pulang ke Kediri. Kangen Ibuk, Bapak, semua..! Kangen tradisi sebelum bulan puasa tiba. Kangen juga sowan ke Madiun pada Ibu Mertua dan nyekar ke makam Bapak Mertua. Kangen megengan, tradisi menyambut kedatangan bulan suci Ramadan dengan berbagi makanan pada sanak saudara dan tetangga. Biasanya yang wajib ada adalah kue apem dan pisang raja. Apem melambangkan permohonan maaf sebagai wujud pembersihan diri sebelum bersiap menjalani ibadah suci. Sedangkan pisang raja, yang jika disatukan dengan kue apem, laksana payung sebagai perlambang akan perlindungan dari segala halangan dan rintangan saat menjalankan ibadah Ramadan.

Nah, Megengan, sebuah cerpen lama saya buat tombo kangen yang meraja lantaran tak mungkin pulang gegara pandemi corona!


www.dianrestuagustina.com


Dwi masih kliyengan setelah semalaman tak bisa tidur nyenyak. Meski kereta api yang ditumpanginya kini nyaman sekali, tapi rasa tak tenang karena meninggalkan setumpuk pekerjaan, masih menggelayuti pikiran. Bermula saat Ibu menelepon dan memintanya pulang sebelum bulan puasa tiba. Awalnya, Dwi menolak karena banyak tugas kantor yang harus diselesaikan menjelang Ramadan. Ia juga beralasan, tak lama lagi toh ia bakal pulang saat mudik lebaran. Tapi, Ibu tetap pada pendirian kalau Dwi harus pulang saat Megengan. Akhirnya meski berat hati, ia pun manut pada perintah Ibu. 

Sampun, mriki Pak!” serunya pada tukang becak yang mengantarnya dari stasiun Madiun ke rumah Ibu. Ia menunjuk sebuah rumah bercat hijau di sebelah kiri jalan. Dwi lalu turun sambil mengangkat tas jinjingnya dan mengulurkan selembar uang dua puluh ribuan.
“Maturnuwun nggih, Pak!” segera berlalu dan membuka pintu pagar yang setengah terbuka.
“Buuu….Ibuuu!” teriaknya saat berdiri di depan pintu yang terbuka lebar. Coba kalau di Jakarta, mana bisa membiarkan pintu terbuka semua, batinnya.
“Ibuuuuuu…!” panggilnya lagi.

Masih tak ada sahutan.....

Dwi menghempaskan badan di sofa yang ada di sudut ruang tamu. Matanya menyelisik ke seluruh bagian ruangan. Rumah masa kecilnya nampak makin tua, serenta penghuninya. Hampir semua barang lama milik Ibu masih ada di sana dan berada di posisi yang sama. Hanya ada beberapa sentuhan modern yang dibeli Mas Eko atau Dwi. Ibu selalu menolak dibelikan barang baru. Menurutnya, makin senja usia manusia, makin sedikit kebutuhannya. Benar juga! Seperti saat ini, waktu Ibu menikmati masa pensiunnya sebagai guru. Tak banyak lagi kegiatan yang dilakoni. Apalagi beliau tinggal sendiri setelah beberapa tahun silam Bapak berpulang. Ibu bersikukuh kalau uang Mas Eko dan Dwi, lebih baik dipakai untuk kebutuhan mereka saja. Ibu merasa cukup dengan uang pensiunannya ditambah uang pensiun Bapak. 

Beberapa menit berlalu, belum ada tanda-tanda ada Ibu. Dwi lalu menuju ke belakang, ke arah dapur.

“Bu...Buuuu!”
“Ning mburi, Ndhuk!” teriak Ibu dari arah kebun di belakang rumah.
“Sebentar, Ibu cuci tangan dulu. Kena getah pisang,” tolak Ibu saat tangan Dwi ingin menyalami. Ibu masuk ke dapur dengan setumpuk daun pisang di tangan. Lalu, ditaruhnya di amben di dekat rak piring. Setelah mencuci tangan,
“Kamu sehat Ndhuk?” dirangkulnya Dwi erat.
“Nggih Bu. Ibu sehat?” Dwi balas memeluk Ibu dan merasakan kehangatan yang menjadikan gerutuan di hatinya perlahan pudar. Setelah beberapa saat,
“Sudah sana, bersihkan badanmu! Ibu akan membereskan daun pisang ini dulu.”

Ibu sudah sepuh, usianya menginjak tujuh puluh. Tapi ngotot ingin tinggal sendirian saja. Sejak Bapak meninggal, Mas Eko dan Dwi membujuk Ibu untuk tinggal bersama mereka. Terserah Ibu, mau bersama keluarga Mas Eko di Surabaya ataukah menemani Dwi di Jakarta. Tapi Ibu tidak rela meninggalkan rumahnya. Ibu tak ingin merepotkan Mas Eko dan Mbak Rita, istrinya, dan tiga anaknya yang masih kecil-kecil. Sedangkan kalau di tempat Dwi, Ibu tak pernah betah. Ibu merasa kesepian saat ditinggal Dwi bekerja. Lebih baik di Madiun saja, meski sendirian masih bisa berbincang dengan tetangga atau teman, juga punya kesibukan mengurus kebun dan ayam peliharaan! Begitu Ibu beralasan. 

Akhirnya Mas Eko dan Dwi pun mengalah. Namun mereka tetap memutuskan kalau Ibu harus ada yang menemani. Jadilah ada Yu Siti yang setiap hari datang membantu Ibu. Pun, kadang menemani pergi ke pasar atau jika ada perlu. Rumah Yu Siti persis di belakang rumah Ibu. Jadi kalau ada apa-apa bisa segera mengecek keadaan Ibu. Dwi membeli telepon seluler untuk Ibu juga Yu Siti. Juga rutin mengisi pulsanya. Hingga ia bisa sewaktu-waktu menghubungi Ibu untuk menanyakan kabar berita. Sesekali saat akhir pekan atau libur hari besar, Dwi juga menyempatkan diri menjenguk Ibu. Apalagi moda kereta api yang nyaman dan aman, kini sangat memudahkan perjalanan. 

“Ndhuk, ayo makan dulu. Ibu bikin pecel dan lapis daging kesukaanmu,” seru Ibu seakan tahu perut Dwi sedang keroncongan.
Pecel dan lapis daging, dua menu favorit Dwi saat pulang kampung. Baginya, sambal pecel Ibu rasanya tak ada duanya. Untuk bahan, Ibu menyangrai kacang tanah bukan menggorengnya. Itu yang membuat tekstur sambalnya kering tak berminyak, hingga lebih tahan lama. Lalu, takaran cabenya pun sedang saja hingga rasa pedasnya pas. Apalagi jika sayuran pendampingnya adalah kembang turi. Wah, bisa lupa diri Dwi!

Dulu, Ibu menumbuk sendiri kacang tanah yang sudah disangrainya. Bawang putih, cabe merah, cabe rawit dan daun jeruk purut juga disangrai dan dihaluskan. Kemudian irisan gula merah dan air asam jawa dimasukkan ke bumbu yang telah dihaluskan tadi . Terakhir semua dicampurkan dengan kacang tanah halus. Lalu, diaduk sampai rata dan selanjutnya disimpan di wadah yang tertutup rapat. Saat akan disajikan, sambal pecel tinggal ditambahkan dengan air matang. Praktis dan sedap! Itulah sebabnya setiap waktu, Dwi selalu punya stok sambal pecel di rumahnya. Tiap kali pulang, Ibu selalu membekalinya. Jika sudah habis, Ibu akan mengirimkannya. Syukurnya, sekarang bikin sambal pecel makin mudah saja. Sudah ada alat penggiling bumbu pecel. Kita tinggal bawa kacang tanah dan bumbu yang sudah matang. Dan, digilingkan ke kios penggilingan. Tentu lebih hemat tenaga dan waktu.


Lapis daging
sumber: langsungenak.com


Menu lain yang disukai Dwi adalah lapis daging. Lauk yang dulu hanya dimasak Ibu saat selamatan, lebaran atau ada tamu jauh yang datang. Paduan antara rasa manis kecap yang bersatu dengan bumbu-bumbu sederhana, seperti bawang merah, bawang putih, kemiri, merica, dan taburan bawang merah, membuat cita rasa lapis daging tak terkira. Enak sekali! 

Sore hari, seusai mandi,

“Ayo Ndhuk, kita nyekar ke makam Bapak!” ajak Ibu yang sudah bersiap di ruang tamu.
“Sebentar, Bu!” Dwi pun beranjak mengganti baju.

Makam Bapak berada tak jauh dari rumah. Sekitar 200 meter berjalan kaki, di seberang jalan ada pekamanan umum untuk penduduk desa setempat. Ibu dan Dwi pergi dengan membawa sapu lidi, sabit dan bunga untuk taburan di atas pusara. Di pemakaman tampak banyak orang. Ziarah kubur memang menjadi tradisi yang dilakukan sebelum Ramadan datang. Beberapa tetangga menyapa mereka berdua. Membuat mereka menghentikan langkah untuk berbincang sejenak.

Setelah beberapa kali menyisir sela-sela batu nisan, sampailah mereka di makam Bapak yang ada di bagian tengah. Sebatang pohon kamboja, teduh menaunginya. Batu nisannya berbahan granit dan berwarna hijau tua. Sesampainya, Ibu dan Dwi pun duduk untuk meluruskan kaki. Ibu mengambil sabit dari dalam tas yang dibawanya. Lalu berjongkok membersihkan rumput liar di sekeliling makam. Dwi membantu menyapu sekitarnya. Sesekali dipungutnya bunga kamboja yang berjatuhan. Angin senja bertiup tenang. Pohon kamboja dan beberapa pohon besar yang mengelilingi pemakaman membuat hawa sekitar sejuk dan rindang. 

Saat kecil, Dwi dan teman-temannya sering main ke sini dan berlomba mencari kelopak kamboja yang berjumlah empat atau enam. Jumlah kelopak kamboja umumnya ada lima. Jika ternyata ada yang menemukan kelopak kamboja sejumlah empat atau enam maka akan datang keberuntungan, begitu kata orang. Dulu, Dwi beberapa kali menemukan kelopak dengan jumlah tertentu itu. Teman-temannya pernah berkata, itu yang membuat nasib Dwi sekarang berbeda dengan mereka. Tapi, Dwi merasa tak pantas menghubung-hubungkan kesuksesan hidupnya dengan kelopak bunga kamboja. Ia merasa bisa sampai di titik ini, karena usaha keras yang dijalani pun doa pada-Nya yang diijabahi.

Selesai bersih-bersih, Ibu dan Dwi lalu bersimpuh di sisi nisan Bapak. Ada serangkai doa yang terucap di hati Dwi. Ia memohon agar Bapak mendapat tempat yang terbaik di sisi-Nya, pun diampuni segala dosa. Dan yang tak terlupa, ia meminta maaf karena sampai saat ini belum bisa menepati janjinya pada Bapak untuk mempunyai pasangan. Ya, pertanyaan kapan menikah itu yang membuat Dwi kadang enggan pulang. Sebenarnya bukan Bapak atau Ibu yang dulu selalu mengejarnya dengan pertanyaan yang menyebalkan itu. Tapi kerabat, tetangga pun teman-teman dekat yang memburu saat bertemu. Mereka seolah lupa, ini bukan pilihan yang Dwi tentukan. Ia pun ingin punya keluarga seperti Mas Eko atau teman-teman karibnya. Tapi jodoh seolah tak pernah berpihak padanya, berbanding terbalik dengan kesuksesan karirnya.

“Ayo, Ndhuk sudah hampir Maghrib,” Ibu membuyarkan lamunannya. Mereka pun beriringan pulang.
Di rumah, duduk di sofa depan, dengan dua cangkir teh kental dan wajik klethik sebagai camilan, Ibu membuka percakapan.
“Bagaimana pekerjaanmu?”
“Baik, Bu,” jawab Dwi singkat.
“Belum ada rencana pindah tugas lagi?”
“Belum dalam waktu dekat ini Bu. Masih di kantor pusat.”
“Oh, begitu. Oh ya, besok itu Megengan, Ibu mau buat apem. Perlu beli pisang raja juga. Pagi-pagi Ibu mau ke pasar. Kamu mau ikut?”
“Nggih, Bu,” sambut Dwi senang. Pagi-pagi ke pasar, mengulang kenangan. Kapan lagi!

Mereka berdua pun bercerita panjang lebar. Mulai dari hebohnya berbagai kasus korupsi di negeri ini yang selalu diikuti Ibu lewat televisi, sampai kabar siapa saja tetangga yang meninggal sejak Dwi pulang terakhir kali. Hingga tiba-tiba Ibu bertanya,
“Belum ada calonmu, Ndhuk?”
“Belum, Bu,” jawab Dwi sambil menghela napas panjang.
“Hmmmm, begini Ndhuk. Kamu tahu Bulik Sri, kan? Paklik Hari, suaminya Bulik Sri, punya adik yang belum menikah juga. Sudah 40-an umurnya, nggak jauh beda sama kamu. Namanya Agung. Kerjanya juga di Jakarta. Nah, kapan hari Bulik Sri ke sini, tanya ke Ibu, kamu sudah punya calon belum. Waktu Megengan adik iparnya berencana pulang ke Madiun, mau nyekar. Jadi mumpung lagi di sini, besok dia akan bertamu. Mau kenalan sama kamu.”

Dwi terdiam sesaat. Bulik Sri itu sepupu Ibu. Ini rupanya alasan Ibu memaksanya untuk pulang saat Megengan. Aduh Ibu ini, hari gini masih ada perjodohan! Batinnya kesal.

“Bu, kenapa itu terus yang dibicarakan,”gerutu Dwi tampak tak senang.
“Tak ada salahnya, Ndhuk. Kenalan saja dulu. Siapa tahu cocok,” bujuk Ibu lembut.
“Lihat besok saja. Saya tidur dulu, Bu, ngantuk,” Dwi menghindar.
“Baiklah, istirahat saja dulu.”

Esok paginya, pagi-pagi Ibu dan Dwi pergi ke pasar. Pulangnya, mereka sibuk di dapur mempersiapkan makanan untuk Megengan. Megengan adalah sebuah tradisi menyambut kedatangan bulan suci Ramadan dengan berbagi makanan pada tetangga dan sanak saudara. Biasanya yang wajib ada adalah kue apem dan pisang raja. Apem melambangkan permohonan maaf sebagai wujud pembersihan diri sebelum bersiap menjalani ibadah suci. Sedangkan pisang raja, yang jika disatukan dengan kue apem, laksana payung sebagai perlambang akan perlindungan dari segala halangan dan rintangan saat menjalankan ibadah Ramadan. Dwi paham di luar kepala semua maknanya, karena dulu Ibu selalu mengulang cerita yang sama setiap tahunnya.


apem
sumber:penasantri.id


Di dapur, Ibu mengadoni kue apem sementara Dwi menyiapkan wajan juga nampan dan daun pisang untuk membungkusnya. Pertama, Ibu menguleni gula pasir, telur dan vanili bubuk hingga larut. Lalu memasukkan tape singkong yang telah dihaluskan ke dalamnya. Kemudian dimasukkannya tepung beras dan santan hangat secara bergantian ke dalam adonan. Selanjutnya, adonan disisihkan dulu selama sekitar satu jam agar mengembang. Setelah tiba waktunya, kue apem pun siap di masak di atas wajan kecil yang diolesi minyak goreng terlebih dahulu. Dan, satu persatu akan dimasak sampai matang kecoklatan. 

Dulu, biasanya orang saling mengantar kue apem dan pisang raja. Hingga jumlahnya di rumah melimpah ruah. Akhirnya kini, setiap keluarga pergi ke masjid sambil membawa makanan tadi. Setelah semua berkumpul, doa bersama pun dipanjatkan. Memohon kelancaran dan keberkahan atas ibadah puasa yang akan dijalankan. Lalu, makanan dibagikan ke semua hadirin untuk dibawa pulang. Tentu lebih praktis dan hemat. Juga tak ada lagi makanan yang terbuang sia-sia. Selain itu, saat ini, biasanya ibu-ibu juga menambahkan kue lain sesuai selera masing-masing sebagai pelengkap. Biar tak repot bikin, Ibu menambahkan buah apel dan anggur ke dalam berkat yang akan dibawa ke masjid.

Sore hari pun tiba. Ibu berangkat ke masjid menjelang azan Maghrib. Ibu pergi tanpa mengajak Dwi. Alasannya agar Dwi istirahat saja, karena besok sudah harus kembali ke Jakarta. Dwi pun mengiyakannya. 

Selepas Maghrib, tiba-tiba,

Kulanuwun,” sebuah suara di teras depan. Seorang laki-laki.
Monggo,” Dwi menyahut dan segera keluar.
“Dik Dwi, nggih? Saya Agung, adik iparnya Mbak Sri” si tamu memperkenalkan diri.
Dwi langsung paham siapa tamunya. Pantas saja Ibu ngotot tak mau ia ikut ke masjid. Ini rupanya sebabnya.
“Oh, Mas Agung…monggo pinarak!”

Dan, mereka pun duduk di ruang tamu. Sesaat berdua tampak kikuk. Tapi lambat laun, mencairlah suasana. Agung, berkantor di kawasan Kuningan hanya beberapa blok dari kantor Dwi. Tinggalnya ngekos, persis sama dengannya. Profesional muda yang mengejar karirnya sampai lupa berumah tangga. Tak jauh beda dengan dirinya. 

Mereka berbincang hangat dengan ditemani dua cangkir kopi dan sepiring kue apem. Sampai saat Ibu pulang dan ikut nimbrung sebentar.
“Nak Agung besok balik jam berapa?” tanya Ibu ramah seusai berkenalan.
“Jam 6 sore, Bu.”
“Oh ya, sama. Besok ke stasiun diantar Dik Sri dan Dik Hari, ya? Mbok ya tolong Dwi nunut, biar sekalian.”
“Boleh Bu, nanti saya bilang Mas Hari,”
Dwi terdiam, tak lagi membantah Ibu.
“Oh ya, waktu ini Ibu juga nitip beli tiket ke Dik Sri, jadi nanti gampang, duduknya bisa jejeran. Biar ada teman ngobrol di perjalanan,” sambung Ibu lagi.

Dwi terpaku sesaat mendengar penjelasan Ibu. Akhirnya ia pun tahu semua jawaban lengkapnya sekarang. Ibu ngotot memesankan tiket kereta api untuk balik ke Jakarta dan meminta Dwi mengirimkan nomor KTP untuk persyaratannya. Ternyata ini maksudnya.
Diam-diam Dwi berterima kasih pada Ibu yang telah memaksanya pulang.
Lalu, Dwi pun merajut doa di hati, “Tuhan kalau memang ini jodohku, tolong dekatkan…!”

***
manut : patuh
mriki : sini
ning mburi : di belakang
amben : bangku bambu
nyekar : ziarah kubur
berkat : makanan sedekah
monggo pinarak : silakan duduk
nunut : bareng

*Baca juga cerita Fiksi saya di blog ini...


Stay Happy

signature-fonts

23 comments

  1. Ternyata sama, ya. Di sini juga ada tradisi megeng. Sekarang yang pegang kaum milenial atau peralihan. Namanya jadi apeman. Yang tua-tua yang apal namanya.
    Yang penting tradisi tetap lestari, ya.

    ReplyDelete
  2. ooh megengan itu apeman ya mbak dulu pas simbah putri masih ada jg suka bikin apeman.. menyambut ruwahan gitu kata simbah putri..ternyata masih lestari ya sampai jaman sekarang .

    ReplyDelete
  3. Kok kangen kampung halaman ya :D
    Di tempat saya dibesarkan adanya namanya haroa, dan kue-kuenya juga khusus.
    Pisang goreng kudu digoreng harus sebiji utuh gitu.
    Ada onde-onde (di sin namanya klepon)
    Ada telur rebus bulat, dan banyak kue-kue dan makanan khusus.

    Tapi sama sekali nggak ada apem, saya baru kenal apem di Surabaya hehehe

    ReplyDelete
  4. Wah, ternyata Mbak Dian jago juga menulis fiksi ya, Mbak. Dan kerennya, ini ada sisipan seputar kulinernya dan tradisi, jadi saya tau juga. Terus Dwi dan Agung itu nantinya jadian ya, Mbak Dian? hehehe.

    ReplyDelete
  5. Ketika jodoh datang dari arah mana saja, meskipun kali ini, rencana orang tua, terlihat sangat banyak mengatur pertemuan. Ah keren tulisannya. Tinggal nunggu lanjutannya, apakah happy ending?

    ReplyDelete
  6. Pulang kampung, tradisi jelang puasa, dan buat anak perempuan di atas 25 tahun yang belum menikah harus siapin kuping ditanyain kapan nikah. Hehehe. Saya jadi kangen kampung halaman juga mba.

    ReplyDelete
  7. Kalo di Aceh istilah nya meugang mbak. Biasanya orang2 masak berbagai olahan daging sapi. Ternyata ada juga di jawa ya.

    ReplyDelete
  8. Selamat menunaikan ibadah puasa, Mbak Dian and fam

    senang baca cerpen ini. Tiap kali baca cerpen, timbul kenangan nulis cerpen. Tapi saya kok masih susaaaah ya untuk nulis fiksi lagi :D

    ReplyDelete
  9. Aahh..so sweet Mbak Dian... suka deh ama cerita seperti ini, membacanya saya jadi serasa menghirup aroma pedesaan yg damai dan tentram, komplit dengan filosofi makanannya. Apem dan pisang raja perlambang permohonan maaf. Hmm, jd kepo... Dwi dan Agung, mbak dian dan suamikah ihihi... sotoy. Tfs cerpen indahnya ya Mbak... juara!

    ReplyDelete
  10. Aku penasaran endingnya Mbak. Gimana gimana hehehe

    Ceritanya ngalir enak dibaca. Sisipan ilmu kulinernya juga ngalir aja gitu, gak maksa. Keren nih mbak cerpennya. Sering2 dong BW-nya fiksi 😁

    ReplyDelete
  11. Kalau di aceh, nama tradisinya meugang.
    Kalo di sumbar nama tradisinya balimau.
    Intinya sama ya mba, menyambut Ramadhan.

    Btw, lanjutan ceritanya gmn?
    Dwi jadi ndak sama Agung ?
    Saya pinisirin mba Dian

    ReplyDelete
  12. Baca cerita ini jadi ingat ibudeh mbak, biasanya kalau megengan gini saya pulang dan bikin apem. Tapi sekarang gak bisa karena ada covid, huhuhu.
    Bagus mbak cerpennya

    ReplyDelete
  13. Wah, mbak dian ternyata jago nulis fiksi juga. Lanjut donk mbak ceritanya. hehehe..

    ReplyDelete
  14. Wah...aku terharu lho baca cerpen awal ttg Ibu yg tinggal sendirian di usia sepuh lalu engga mau tinggal ama anak-anaknya. Banyak contoh sih...Trus, akhirnya gimana nih Dwi & Agung? Semoga berjodoh. Hehe...Bandung sini tradisi sebelum puasa namanya Munggahan. Di kota besar udah bergeser jadi makan-makan di restoran. Setahuku zaman dulu berkirim kupat & lauk-pauk.

    ReplyDelete
  15. Ya ampuuun mba Diaaan, haha baca nama tokohnya kok sama kaya namaku sama kakakku siih... Btw megengan ini bacanya gimana sih?

    ReplyDelete
  16. Cie cieee, si Dwi. Jadi bersyukur dehh bisa pulang. Uhuyy. Pastinya pas belum masanya Corona ya Mbak. Hihi

    ReplyDelete
  17. Tradisi megengan masih ada juga di daerah saya, Mbak. Daerah perkotaan yang modern tidak menghilangkan tradisi turun temurun ini. Saling berkirim apem antar tetangga. Yang repot, kalau banyak yang kirim dalam sehari. Fiuh, dibuang sayang, tp menghabiskan banyak apem itu sesuatu, hihi ....

    ReplyDelete
  18. Keren nih bisa bikin cerpen juga. Cerpennya juga best, pembaca bisa dapat ceritanya, dapat juga kulinernya. Muantap banget.

    ReplyDelete
  19. Wah tadi pas baca judulnya kupikir itu bahasa Bali. Ternyata istilah Jawa Timuran ya mba. Di kampung ibuku dulu juga suka tradisi mirip-mirip kek gini. Tapi namanya ruwahan. Pada bikin apem sama peyek trus dibagiin ke tetangga-tetangga. Tapi sekarang kayaknya udah mulai pudar.

    Btw cerpennya keren-keren loh mba.. barangkali kalo dibikin kumcer yahud juga hehehe #kompor

    ReplyDelete
  20. Saya malah fokus ke resep bumbu pecelnya hahaha
    Saya tulis loh bumbunya, entar mau bikin. Lumayanlah bisa sampai menjelang lebaran. Aups kok malah bahas resep sih, ini kan cerpen.

    ReplyDelete
  21. Aaah.. Semoga kisahnya happy ending. setting latarnya keren, dan kue apemnya bikin ngiler. Alhamdulillah, untung saya sudah berbuka. Hehehe...

    ReplyDelete
  22. Di Malang ya istilahnya megengan. Tapi generasi berikut bnyk yg menyebutnya apeman. Ada pergeseran ya mba, tp sama tradisi menyambut puasa.

    ReplyDelete
  23. Baru denger istilah megengan, foto makanannya bikin gagal fokus a hahahaha, kalo adat di Situbondo ada si, cuman ya selametan biasa

    ReplyDelete