Nasihat Ibu

Saya dulu nulis apa saja, baik fiksi maupun non-fiksi di buku tulis sekolah, kertas coretan, diary (saat sudah remaja) dan ketika sudah mengenal komputer (laptop) saya tulis di sana. Sayangnya, banyak yang tak tersimpan dan tak berjejak lagi. Maka, setiap nemu file cerita lama, saya pindahkan dan simpan di blog saja. Biar saja blog ini jadi palugada - apa yang lu cari di blog gua ada...hahaha. Yang penting kembali ke niat awal bahwa ngeblog bikin saya bahagia...!

Seperti cerita anak berjudul "Nasihat Ibu" ini. Bertahun lalu saya menulisnya. Selamat menikmati!


Nasihat Ibu


Minggu pagi, Adi dan Ayah sedang menikmati udara segar sambil berolahraga ringan di lapangan Monas yang luas. Biasanya Ibu dan Ida, adik Adi, ikut serta. Tapi, karena Ida sedang kurang sehat maka Ibu dan Ida di rumah saja. 

Tak biasanya, Adi bermuka masam dan tak ceria hari ini. Saat Ayah mengajaknya bicara, ia hanya menjawab dengan sepotong atau dua potong kata. Padahal biasanya, ia selalu bercerita apa saja pada Ayahnya. Tentang pelajarannya di sekolah, teman-teman bermainnya atau tingkah polah Kiki, kucing peliharaannya. Tapi, kali ini berbeda.

“Kamu kenapa, Di, dari tadi kok cemberut begitu?” tanya Ayah keheranan saat mereka duduk di bangku taman.
“Lagi kesal, Yah!” jawab Adi dengan nada marah.
“Kesal? Sama siapa?”
“Sama Ibu!” Adi lirih menjawab.
“Memang kenapa kesal sama Ibu?” Ayah ingin tahu.
“Habis Ibu sih, Yah, semua diatur-atur. Kapan Adi harus makan, belajar, bermain, tidur, semuanya! Adi kesal jadinya!” tutur Adi panjang lebar.

“Di, Ibu seperti itu karena sayang sama kamu. Ibu ingin kamu belajar membagi waktu dengan baik. Mungkin kamu sering lupa waktu, jadi Ibu mengingatkanmu lagi dan lagi. Itu juga untuk kebaikanmu, Di. Misalnya kalau kamu telat makan, lalu sakit, nanti kamu sendiri yang rugi. Jadi tidak bisa sekolah atau bermain lagi,” jelas Ayah.

“Tapi Adi tidak mau diatur-atur begitu, Yah. Kadang Adi belum ngantuk, sudah disuruh tidur. Sedang asyik bermain, eh, dibilang Ibu untuk makan…Lagi seru nonton TV, disuruh belajar…Ah, kesal!” gerutu Adi.

“Adi, Ibu itu bermaksud baik sama kamu. Ibu ingin kamu berbuat adil pada dirimu sendiri.”
“Adil pada diri sendiri? Maksudnya apa, Yah?”

“Adil pada diri sendiri itu maksudnya, kamu bisa menempatkan diri pada tempat yang baik dan benar. Tidak hanya menuruti keinginan yang bisa merugikan dirimu sendiri. Caranya, dengan melakukan kegiatan pada waktunya. Waktunya makan ya kamu harus makan, jangan ditunda, karena tubuhmu butuh tenaga. Kalau keseringan ditunda bisa-bisa jatuh sakit nanti. Atau, waktunya tidur ya harus tidur karena istirahat cukup itu perlu untuk kesehatanmu. Juga, saatnya belajar. Jangan sampai nonton TV terus, sampai kamu lalai belajar. Itulah yang disebut adil pada diri sendiri ”

“Jadi, adil itu bukan hanya pada orang lain saja ya ternyata, Yah?”
“Benar. Kita juga perlu adil pada diri sendiri. Kalau kamu adil pada dirimu dengan makan, tidur, belajar, bermain pada waktunya, maka kesehatanmu akan terjaga, kamu jadi pintar dan hati selalu senang. Akhirnya disukai banyak teman dan bisa meraih cita-cita yang kamu impikan. Itulah kenapa Ibu selalu mengingatkanmu karena semua untuk kebaikanmu sendiri.”

“Adi sekarang mengerti, Yah. Tapi, Adi jadi menyesal sudah kesal sama Ibu, Yah,”
“Ya, sudah, nanti di rumah kamu minta maaf ke Ibu ya. Juga, lain kali patuhi nasihatnya!” 

“Iya, Yah! Siaaap!” sahut Adi riang.
“Nah, gitu dong! Ayo pulang, sudah siang! Kita belikan dulu kerak telor buat Ibu dan Ida, pasti mereka senang.” ajak Ayah lega.


No comments