Pindah lagi? Asyik…!


Namaku Andi. Umurku 11 tahun. Aku sekarang kelas 5 SD. Aku bersama Bapak, Ibu dan adikku Fia saat ini tinggal di kota Medan. Sudah empat tahun kami tinggal di ibu kota propinsi Sumatera Utara ini. Sebelumnya kami tinggal di Denpasar, ibu kota propinsi Bali. Kata Ibu, aku dan Fia lahir di Denpasar. Saat aku naik ke kelas dua, Bapak pindah tugas ke Medan. Di kota Medan aku betah sekali. Teman-temanku banyak dan semuanya baik padaku. Pokoknya aku senang tinggal di sini. Sampai suatu hari, seusai makan malam bersama,

Pindah Lagi?Asyik!



“Andi, Fia, Bapak punya kabar untuk kalian. Mulai bulan depan Bapak pindah tugas ke Jakarta. Jadi kita semua akan pindah kesana.”
”Pindah? Pak, kenapa sih kita harus pindah lagi. Andi senang tinggal disini. Teman Andi juga banyak. Dulu dari Denpasar pindah ke Medan. Sekarang mau pindah lagi ke Jakarta. Pokoknya, Andi lebih senang tinggal di Medan...”keluhku panjang.

”Andi, kita tinggal di Medan karena Bapak sedang ditugaskan di sini,bulan depan tugas Bapak dipindahkan ke Jakarta. Tentu saja kita jadi tinggal di sana. Jangan khawatir, di sana nanti kamu akan punya banyak teman lagi. Banyak hal baru akan ada di sana. Pasti menyenangkan sekali!”

”Tapi Pak, bagaimana dengan teman-teman Andi disini? Mereka semua teman yang baik. Andi enggak mau berpisah dengan mereka....”
”Andi,jangan khawatir,kamu masih bisa berkirim surat pada mereka. Kalian bisa saling bertukar kabar lewat internet...” 
 
Aku terdiam, tetap tak rela rasanya. Aku enggan meninggalkan kota Medan, teman-temanku, sekolahku, guru-guruku. Betapa sedihnya. Aku jadi membayangkan, kalau saja aku tidak usah ikut ke Jakarta. Tapi, di sini aku tinggal sama siapa yaaa..Ah, aku jadi bingung. Fia nampaknya tidak bersedih seperti aku. Mungkin karena dia baru kelas 1 SD atau mungkin karena temannya belum sebanyak temanku. Sedangkan Ibu kulihat juga tidak bersedih. Bahkan Ibu mulai bersiap mengemasi barang-barang kami.
Kenapa hanya aku yang bersedih, ya? 

***

Rabu siang saat pelajaran IPS, Bu Anis mengajarkan tentang beragam suku bangsa dan budaya di Indonesia.

”Anak-anak, siapa diantara kalian yang punya pengalaman berkunjung ke daerah lain. Coba, ceritakan pada teman-temanmu.”

Semua diam, enggak ada yang tunjuk tangan.

”Saya, Bu” Kuacungkan tanganku. 
”Ya ..Andi, ayo ke depan!”

”Teman-teman, sebelum tinggal di Medan, aku pernah tinggal di Denpasar..” 
”Selama 7 tahun akau bersama Bapak, Ibu dan Adikku tinggal di  Denpasar, ibukota propinsi Bali. Saat di sana, aku sering pergi ke pantai. Aku menyaksikan matahari terbit di Pantai Sanur atau matahari tenggelam di Pantai Kuta...indah sekali. Pulau Bali juga dikenal sebagai Pulau Seribu Pura. Karena ada banyak sekali pura di sana,sebagai tempat beribadah umat Hindu. Pura yang terbesar adalah pura Besakih. Ada juga lho, pura yang dibangun di atas karang di tengah laut, yaitu pura Tanah Lot. Bali juga punya banyak tari-tarian, seperti tari Kecak dan tari Barong. Selain itu, banyak juga hasil karya seni yang indah seperti seni lukis, seni pahat dan seni ukir. Jika ingin membeli hasil kerajinan untuk cenderamata, kita bisa datang ke pasar seni, misalnya Pasar Seni Sukawati. Oh ya, teman-teman, di Bali juga ada upacara pembakaran mayat yang disebut dengan Ngaben. Memang Bali sangat menarik untuk dikunjungi, karena itulah banyak wisatawan asing yang berkunjung kesana”

”Setelah pindah dari Denpasar, aku tinggal di Medan. Selama tinggal di sini, aku sudah pernah berkunjung ke Parapat, yang terletak  di tepi danau Danau Toba-danau terbesar di Asia Tenggara, dan menyeberang ke Pulau Samosir. Danau yang indah sekali. Di sana aku menyaksikan tari Tor-Tor, tarian khas suku Batak dan membeli ulos, kain tradisional suku Batak.”
”Selain itu, aku juga pernah berkunjung ke Brastagi. Di sana aku mengunjungi perkebunan buah, sayur dan bunga. Aku bisa memetik sendiri buah jeruk, markisa dan memanen sayur- mayur. Aku juga berkunjung ke pabrik pembuatan sirup markisa dan ikut mencicipinya, segar sekali..Pemandangan pegunungan di sana juga sangat indah.”

"Oh ya, tiap tahun saat Lebaran aku juga pulang kampung ke Jawa Timur. Ke rumah Eyangku, orangtua Bapakku, di Madiun dan Mbahku, orangtua Ibuku, di Kediri. Di sana aku juga jalan-jalan ke banyak tempat wisata. Aku pergi ke kota Malang, Surabaya juga menyeberang ke Pulau Madura"

”Begitulah teman-teman, pengalamanku berkunjung ke daerah lain. Oh ya, mulai bulan depan aku harus pindah lagi mengikuti Bapakku pindah tugas ke Jakarta” kuakhiri ceritaku. Tanpa kuduga, teman-teman bertepuk tangan sambil berdecak kagum.  Membuatku senang dan bangga.

”Terimakasih Andi! Kamu harus bersyukur pada Allah, tidak semua anak seberuntung kamu. Bisa tahu daerah lain dan mengenal budaya mereka.”kata Bu Anis

Benar juga, aku sungguh beruntung. Seharusnya aku tidak boleh bersedih, karena ternyata pindah lagi itu menyenangkan. Aku jadi tahu daerah  lain, berkunjung ke tempat-tempat yang indah, mengenal budayanya, punya banyak teman pula. Jadi, kenapa aku harus bersedih, ya?

***
Sorenya saat Bapak pulang kerja,”Pak, kita jadi pindah ke Jakarta kan?"
”Tentu saja, kenapa Andi?”
"Alhamdulillah. Pindah lagi, pindah lagi...ke  Jakarta...Asyik..asyik..”kataku sambil kegirangan.
Bapak dan Ibu keheranan, tanpa tahu apa yang membuatku berubah pikiran.


*Cerita anak ini saya tulis entah kapan, saya nemu di file. Daripada jamuran, tayang di blog saja...


Always Happy

signature-fonts

2 comments

  1. Aku kira cerita si kakak ini mbak. Hehehe

    Seru juga ya pindah-pindah terus.mungkin di awal terasa gemes. Baru aja punya teman, eh, kok pindah lagi.hehhee

    Tapi hikmahnya, pindah lagi bikin kita belajar banyak budaya, toleransi, atau bahkan belajar bahasa yang berbeda ya. Secara misal dari Jawa Timur, terus ke Medan,kan beda tuh ngomongnya. Hehehe

    ReplyDelete
  2. Saya juga dulu sering kayak gini pas masih kecil,,,tapi untungnya masih 1 kota pindahnya jadi gak terlalu jauh,,,ceritanya ya sama karena ayah kerjanya harus pindah,,,

    ReplyDelete