Kapan Punya....?

Kapan Punya....? Suami dan saya, menikah dengan hanya bermodalkan sejumlah rupiah. Maklum, kami sama-sama merantau sehingga meski telah bekerja beberapa tahun, gaji banyak terpakai untuk kebutuhan sehari-hari, juga untuk biaya mudik ke kampung halaman yang biayanya lumayan. Sesudah menikah, saya resign dan pindah mengikuti suami ke kota tempatnya bekerja. Sehingga penghasilan keluarga tinggal dari gaji suami saja. Beruntung, perusahaan tempatnya bekerja menyediakan rumah dinas beserta perabotan yang membuat kami berdua tak perlu pusing memikirkan tempat tinggal. Saya hanya membeli beberapa peralatan rumah tangga untuk melengkapi barang-barang yang sebelumnya sudah dimiliki suami. Hingga, kami pun mengawali rumah tangga dengan doa, niat, tekad dan semangat untuk memulai sebuah awal kehidupan.


Pertanyaan Tak Berkesudahan

Nah, karena keterbatasan dana, saat itu kami belum mampu memliki motor. Suami pergi ke kantornya dengan naik sepeda karena kebetulan tempat kerja dan rumah dinas berada di lokasi yang sama. Jika pergi berdua, kami memilih naik angkutan kota, becak atau berjalan kaki saja. Hingga banyak teman yang menanyakan perihal ini. 
"Kapan punya motor? Mengapa tak ambil kredit motor saja, toh punya penghasilan tetap? Mudah dan pasti cepat prosesnya!"

Tapi kami bergeming. Prinsip untuk menghindari hutang memang jadi cita-cita sejak awal. Kami memilih menyisihkan uang, menabung, hingga beberapa bulan kemudian motor pun terbeli…tunai! Naik kelaslah modanya, dari sepeda ke motor. Sementara, tetangga hampir semua punya mobil, hingga lagi-lagi muncul pertanyaan senada. 
"Kapan punya mobil? Gampang kreditnya! Nyicilnya pasti bisa juga! Mumpung belum ada anak! Rumah sudah enak, rumah dinas, nggak butuh banyak pengeluaran kan?"

Aduh! Kenapa juga kepo ya! Memang mereka tahu kondisi keuangan kami. Prioritas masing-masing tentu berbeda. Suami dan saya tetap mengutamakan menabung agar mampu membeli mobil secara tunai, alasannya kami belum membutuhkannya saat itu. Lantaran masih berdua (anak pertama kami meninggal dunia), hingga cukup pakai motor saja kemana-mana. 

Menyisihkan uang ke dalam tabungan akan aman, sementara berhutang malah harus membayar bunga (yang besarnya kalau dihitung lumayan). Berhutang untuk membeli barang/aset konsumtif seperti motor atau mobil pribadi itu akan merugi di kemudian hari. Karena nilainya akan menurun dari tahun ke tahun. Beda dengan aset produktif seperti rumah atau tanah yang nilainya akan meningkat di masa depan. 

Juga, hutang bikin tidur tak nyenyak dan makan tak enak. Kepikiran tiba-tiba sudah waktunya bayar dan bayaaaar. Seperti dikejar-kejar! Belum lagi yang bunganya tinggi…ih ngeri! 

Lalu, apa yang saya lakukan untuk meredam pertanyaan “Kapan punya mobil” ini? 

Kalau nadanya bercanda dan datangnya dari teman sebaya, saya akan ngeles saja: 
”Nantilah, belum cukup uangnya, memang dikau mau beliin?” 

Sementara, kalau orangnya lebih tua, saya jawab dengan sopan tapi mengena: 
“Masih menabung, Bu! Kalau sudah terkumpul uangnya baru beli nanti. Mohon doanya, ya!” 
Sedangkan kalau nanyanya kepo penuh selidik, akan saya jawab dengan gaya cantik: 
“Mobil? Memang harus punya ya? Kalau sudah punya, apa dijamin bahagia?” 

Nah, lama-lama mereka capek juga tanya-tanya, kapan punya mobilnya. Apalagi, saat uang terkumpul kami bukannya beli mobil tapi malah membayar DP rumah. Lantaran suami dipindahkan oleh perusahaan ke kantor pusat yang membuat fasilitas rumah dinas ditiadakan. Niat awal tabungan untuk membeli mobil akhirnya malah bermanfaat untuk membeli aset produktif meski harus berhutang sebagian. 

Tapi kami pikir daripada uang dipakai membayar rumah orang jika mengontrak, lebih baik untuk bayar cicilan KPR yang saat lunas nanti, rumah jadi milik sendiri. Apalagi nilainya makin tahun makin naik nanti. 

Tapiiii, ternyata saat tinggal di rumah sendiri (dan masih juga nggak punya mobil), masih ada yang nanya: 
“Kapan punya mobilnya!” 

(Hhhhhhh!) Saya jawab sekenanya saja: 
“Pilih mana coba? Sudah punya rumah sendiri tapi nggak punya mobil, atau punya mobil tapi rumahnya masih nyewa?” 

Akhirnya, diamlah pasukan pemburu tanya tak berkesudahan itu! Meski nanya lagi lain hari karena saya dan suami memang tak kunjung membeli mobil karena fokus melunasi hutang rumah yang kami huni. Dan ketika sekian tahun berlalu, suatu hari melihat sudah ada kendaraan beroda empat itu di garasi, pertanyaan pun berganti:
"Kapan punya anak perempuan? Kan, baru dua laki-laki semua!"
Ah, entah, sampai kapan pertanyaan "Kapan punya...?" akan berakhir nantinya. 

Kamu, pasti pernah mengalaminya juga kan?
"Kapan punya pacar?"
"Kapan nikah?"
"Kapan punya anak?"
"Kapan punya adik?"
"Kapan punya hutang?"

Tabahkan hatimu jika ditanya yaaa...Bisa saja mereka basa-basi, tapi kalaupun serius memang ada tipe yang hobi ngurusin hidup orang padahal enggak ikut ngasih makan. 😁🙈

*cover: foto-foto selama tinggal di Amerika

Dont't Forget to Be Grateful!

signature-fonts

2 comments

  1. kalau sekarang kayaknya orang milih punya mobil dulu meski rumah masih ngontrak, mbak. hehe

    ReplyDelete
  2. sekarang yang suka kepo jangan2 malah gak punya apa2 mba hehe..lelah hayati kalau ngurusin apa kata orang ya mba, hidup sudah ada yang ngatur jalanin aja kehidupan masing2 kenapa mesti kepo ya :D
    mereka kalau bisa lihat perjuangan mba dian n suami sekarang mungkin gak bs berkata2 lagi xixi

    ReplyDelete