Kenali Gejala dan Obati Pikun Segera

Kenali gejala dan obati pikun segera! Memang bisa? Bisa bangets ternyata! Sebuah pencerahan baru,  saya dapatkan dari webinar kesehatan dalam rangka Festival Digital Bulan Alzheimer Sedunia, pada hari Minggu, 20 September 2020 yang lalu.

Sebuah acara yang membuka mata saya tentang penyakit pikun alias Demensia yang selama ini diidentikkan dengan lansia. Suatu gejala yang sering kali jadi bahan olok-olokan bagi seseorang yang sejatinya masih muda tapi sering lupa. Yakni gangguan memori kognitif yang perlu deteksi dini, yang ada metode dan obatnya, serta dapat ditangani oleh ahli. Di mana jika semakin dini ditangani akan semakin berpeluang mencegah parahnya demensia ini.


Festival Digital Bulan Alzheimer Sedunia


Festival Digital Bulan Alzheimer Sedunia


Festival Digital Bulan Alzheimer Sedunia yang merupakan bagian dari Program Kampanye Edukatif #ObatiPikun, diselenggarakan oleh PT Eisai Indonesia (PTEI) dan Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI), dalam rangka memperingati Alzheimer Awareness Month pada bulan September ini. 

Festival Digital Bulan Alzheimer Sedunia ini akan mengangkat berbagai topik mengenai apa itu Demensia Alzheimer, deteksi dini dan penanganannya, yang keseluruhan kegiatannya ditujukan untuk dokter dan masyarakat awam. Festival ini bertujuan diantaranya untuk mengajak dokter dan masyarakat mengenali gejala dan segera obati pikun, yang di dunia medis disebut dengan Demensia.

Ya, Demensia alias pikun merupakan penurunan fungsi otak seperti menurunnya daya ingat dan kecepatan berpikir serta berperilaku sehingga membuat seseorang butuh waktu lebih lama untuk mengingat atau lupa dengan apa yang mereka lakukan sebelumnya. 

Nah, Demensia berbeda dengan pelupa dan sejatinya bukanlah hal yang normal dalam proses penuaan manusia. 

Jadi, apa sebenarnya Demensia, apa saja gejalanya, bagaimana cara mendeteksi dini dan apakah Demensia bisa diobati? 


Festival Digital Bulan Alzheimer Sedunia

Kenali Gejala dan Obati Pikun Segera

Demensia Alzheimer

Kenali Gejala dan Obati Pikun Segera


Mengenal Demensia Alzheimer 


Demensia adalah suatu sindrom gangguan penurunan fungsi otak yang dapat memengaruhi fungsi kognitif, emosi, daya ingat, perilaku dan kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Masyarakat kerap kali menyebut kondisi ini sebagai pikun

Sayangnya, pikun sering dianggap sebagai hal normal yang dialami oleh lansia, sehingga seringkali penyakit tersebut tidak terdeteksi. Padahal berdasarkan data dari Alzheimer’s Disease International dan WHO, terdapat lebih dari 50 juta orang di dunia mengalami demensia dengan hampir 10 juta kasus baru setiap tahunnya. Dari banyaknya kasus tersebut, Alzheimer menyumbang 60-70% kasus. 

Nah, diperkirakan ada sekitar satu juta orang penderita Demensia Alzhemeir di Indonesia pada tahun 2013. Jumlah itu diprediksi akan meningkat drastis menjadi dua kali lipat pada tahun 2030, dan menjadi empat kali lipat pada tahun 2050. 

Sementara terkait faktor risikonya, penyakit Demensia Alzheimer memiliki faktor risiko:
  • Yang bisa dimodifikasi seperti penyakit vaskular: hipertensi, metabolik, diabetes, dislipidemia, pasca cidera kepala, pendidikan rendah, depresi
  • Yang tidak bisa dimodifikasi yaitu usia lanjut dan genetik yaitu memiliki keluarga yang mengalami Demensia Alzheimer. 

Well, selain mengetahui faktor risikonya, penting untuk menyadari bahwa Demensia Alzheimer bersifat kronis progresif, artinya semakin bertambah kerusakan otak seiring bertambahnya umur. Sehingga deteksi dini sangat penting dilakukan bagi penderita Demensia Alzheimer. 

Karena, melalui deteksi dini, penderita Demensia Alzheimer dapat lebih cepat ditangani sehingga kerusakan otak karena penyakit tersebut dapat diperlambat. 

Kabar buruknya, Demensia Alzheimer merupakan penyebab utama ketidakmampuan dan ketergantungan lansia terhadap orang lain. Di mana penyakit ini memberikan dampak fisik, psikososial, sosial, dan beban ekonomi tidak hanya bagi penderita tapi juga bagi keluarga dan lingkungan sekitarnya. Kurangnya kesadaran dan pemahaman tentang Demensia Alzheimer juga mengakibatkan stigmatisasi dan hambatan dalam melakukan diagnosis serta perawatan.

Oleh karena itu, deteksi dini dapat membantu penderita demensia dan keluarganya untuk dapat menghadapi dampak penurunan fungsi kognitif dan pengaruh psiko-sosial dari penyakit ini dengan lebih baik. Selain itu penanganan demensia sejak dini juga penting untuk mengurangi percepatan kepikunan ini. 

E-Screening Memory

E-Memory Screening
host webinar: Yockie Dheafithrasa

Festival Digital Bulan Alzheimer Sedunia
sebagian dari ratusan peserta webinar kesehatan pembukaan Festival Digital Bulan Alzheimer Sedunia


Pembukaan Festival Digital Bulan Alzheimer 


Nah, Festival Digital Bulan Alzheimer ini ditujukan untuk dokter dan masyarakat awam dan dapat diikuti oleh dokter spesialis saraf, dokter umum, dokter seminat serta masyarakat awam. 

Festival secara virtual dibuka oleh Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan NAPZA Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dr. Siti Khalimah, Sp.KJ, MARS, Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) PERDOSSI, DR. dr. Dodik Tugasworo P, SpS(K), dan President Director PT Eisai Indonesia (PTEI), dr. Iskandar Linardi. 

Oh ya, topik yang disampaikan pada festival ini adalah: 

Untuk Dokter (dokter spesialis saraf, dokter umum, dokter seminat): 
  • Pentingnya Pengobatan Sejak Dini Pasien Demensia 
  • Kendala dan Tantangan Dokter dalam Pengobatan Pasien Demensia 

Untuk masyarakat umum:
  • Obati Pikun dengan Mengenal Gejalanya
  • Demensia di Masa Pandemi

Sementara, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dr. Siti Khalimah, Sp.KJ, MARS saat membuka acara mengatakan,

“Saat ini kita mulai memasuki periode aging population, dimana terjadi peningkatan umur harapan hidup yang diikuti dengan peningkatan jumlah lanjut usia (lansia). Indonesia mengalami peningkatan jumlah penduduk lansia dari 18 juta jiwa (7,56%) pada tahun 2010, menjadi 25,9 juta jiwa (9,7%) pada tahun 2019, dan diperkirakan akan terus meningkat dimana tahun 2035 menjadi 48,2 juta jiwa (15,77%). Jumlah lansia yang terus meningkat tersebut dapat menjadi aset bangsa bila tetap sehat dan produktif. Namun lansia yang tidak sehat dan tidak mandiri akan berdampak besar terhadap kondisi sosial dan ekonomi bangsa. Demensia Alzheimer merupakan salah satu ancaman bagi lansia di Indonesia saat ini. 

Lebih lanjut dr. Siti Khalimah, Sp.KJ, MARS juga mengatakan jika Kementerian Kesehatan mendukung penuh Festival Digital Bulan Alzheimer Sedunia ini karena merupakan bagian dari edukasi yang sangat penting untuk mencegah lansia terkena Demensia Alzheimer. 

Dengan harapan, makin banyak lansia yang terdeteksi Demensia Alzheimer dapat ditangani sejak awal sehingga dapat terus produktif nanti.

E-Memory Screening
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dr. Siti Khalimah, Sp.KJ, MARS


Aplikasi E-Memory Screening (E-MS) - Aplikasi Deteksi Dini Demensia Alzheimer 


Sementara, terkait deteksi dini Demensia Alzheimer agar dapat ditangani sejak awal sehingga penderita dapat terus produktif nanti, diluncurkanlah Aplikasi E-Memory Secreening (E-MS) pada kesempatan kali ini.

Di mana Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) PERDOSSI, DR. dr. Dodik Tugasworo P, SpS(K) dalam sambutannya mengatakan,

“Edukasi kepada masyarakat dan tenaga kesehatan secara terus menerus sangat penting. Sebagai bagian dari program kampanye edukatif #ObatiPikun yang kami canangkan bersama dengan PT. Eisai Indonesia (PTEI), maka kami mengadakan Festival Digital Bulan Alzheimer Sedunia ini. Para peserta akan mendapat penjelasan menyeluruh mengenai Demensia Alzheimer dari berbagai narasumber dibawah naungan PERDOSSI. Dalam kesempatan itu pula, peserta akan diperkenalkan pada sebuah aplikasi deteksi dini Demensia Alzheimer bernama aplikasi E-Memory Screening (EMS). Melalui Aplikasi E-MS ini kami berharap semakin banyak masyarakat yang mengetahui gejala awal Demensia Alzheimer dan juga bagaimana penanganannya.”

Yess, Aplikasi E-MS resmi diluncurkan pada tanggal 20 September 2020 dan dapat diunduh dengan mudah oleh dokter dan masyarakat awam di Playstore dan Appstore. Aplikasi E-MS ini akan menilai kondisi memori seseorang dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan terkait Demensia Alzheimer yang mungkin dialami oleh pengguna aplikasi. 

Setelah itu, Aplikasi E-MS akan memberikan skor dan apabila skor tersebut menunjukkan kondisi abnormal, maka aplikasi ini akan menyediakan fitur direktori rujukan terpercaya kepada dokter di sekitar pengguna aplikasi berdasarkan GPS termasuk informasi jarak, nama dokter beserta keahliannya di bidang Demensia Alzheimer, serta nomor call center RS yang dapat dihubungi. 

Oh ya, selain deteksi dini, aplikasi ini juga menyediakan ragam informasi terpercaya dan akurat mengenai Demensia Alzheimer dengan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh masyarakat awam. Aplikasi ini juga menyediakan tips dan trik dalam merawat Orang Dengan Demensia (ODD) secara efektif dan efisien.

Festival Digital Bulan Alzheimer Sedunia
Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) PERDOSSI, DR. dr. Dodik Tugasworo P, SpS(K) 

Demensia alzheimer
in frame: dr Rocksy Fransisca Sp.S (moderator webinar)


Aplikasi E-Memory Screening untuk Indonesia - dr. Pukovisa Prawiroharjo, SP.S(K)


Tekonologi Informasi dipercaya bisa menjadi solusi penanggulangan Demensia, demikian paparan yang disampaikan oleh dr. Pukovisa Prawiroharjo, SP.S(K), karena:

  • Masyarakat Indonesia melek dan aktif menggunakan gadget
  • Informasi yang dikelola baik melalui IT dapat merubah paradigma masyarakat
  • Terdapat paradigma masyarakat yang anggap enteng pikun, bahkan menganggap itu normal terjadi
  • Masyarakat butuh edukasi tepercaya dari ahli, deteksi dini berbasis aplikasi gadget, dan direktori  rujukan tepercaya.

Lebih lanjut, tentang E- MEMORY SCREENING (E-MS) Aplikasi E-Memory Screening untuk Indonesia, Dokter Pukovisa menyampaikan:
E-MS = Alat Deteksi Dini Demensia: Menggunakan AD8-INA, direktori doctor spesialis neurologis dan Rumah Sakit dan artikel demensia
E-MS milik PERDOSSI yang disupport oleh PT Eisai Indonesia (PTEI)

Sedangkan untuk Tujuan Utama E-MS disebutkan oleh Dokter Pukovisa adalah untuk:

  • E-MS sebagai Alat Edukasi: E-MS digunakan sebagai alat edukasi untuk masyarakat umum untuk mengetahui tentang penyakit dementia.
  • E-MS sebagai Alat Skrining Demensia: E-MS digunakan Alat Skrining untuk deteksi dini dementia.Tersedia direktori/ daftar Rumah sakit yang mempunyai klinik memori dan dokter spesialis neurologis yang praktek

Festival Digital Bulan Alzheimer Sedunia
dr. Pukovisa Prawiroharjo, SP.S (K)
Festival Digital Bulan Alzheimer Sedunia

Festival Digital Bulan Alzheimer Sedunia

E-Memory Screening

Festival Digital Bulan Alzheimer Sedunia

Mengenai PT Eisai Indonesia (PTEI) 


Kemudian, perihal PT Eisai Indonesia (PTEI) yang mendukung Aplikasi E-MS ini, merupakan perusahaan farmasi dengan filosofi human health care (hhc) yang telah berkontribusi untuk industri kesehatan di Indonesia selama 50 tahun. Filosofi human health care (hhc) tersebut membuat PT Eisai Indonesia (PTEI) menempatkan perhatian utama pada pasien dan juga keluarga pasien. Hal tersebut dilakukan dengan meningkatkan manfaat yang diberikan dalam perawatan kesehatan dan memberikan kontribusi yang berarti dalam sistem perawatan kesehatan di Indonesia.


Yang mana President Director PT Eisai Indonesia (PTEI), dr. Iskandar Linardi, mengatakan dalam kesempatan ini,

“PT Eisai Indonesia (PTEI) memiliki filosofi human health care (hhc) dan telah berkontribusi dalam kesehatan masyarakat di Indonesia selama 50 tahun. PT Eisai Indonesia (PTEI) berkomitmen memberikan edukasi mengenai penyakit Demensia Alzheimer, terutama karena penyakit ini dapat dideteksi sejak awal sehingga dapat dilakukan penanganan secepat mungkin. Dalam rangka merayakan 50 tahun PT Eisai Indonesia (PTEI), kami bangga bisa mendukung PERDOSSI melaksanakan program kampanye edukatif #ObatiPikun dan mengembangkan Aplikasi E-Memory Screening (EMS).” 

Festival Digital Bulan Alzheimer Sedunia
President Director PT Eisai Indonesia (PTEI), dr. Iskandar Linardi


Obati Pikun dengan Mengenali Gejalanya - dr. S.B. Rianawati, SpS(K) - Pokdi Neurobehaviour Cabang Malang


Berlanjut ke pembicara berikutnya, ada dr. S.B. Rianawati, SpS (K) yang memaparkan seputar "Obati Pikun dengan Mengenali Gejalanya" 

Di mana Dokter Rien, memulai dengan pertanyaan: "Apa itu Pikun?"

Pikun adalah ketika seseorang butuh waktu lebih lama untuk mengingat atau lupa dengan apa yang mereka lakukan sebelumnya.

Tepatnya: menurunnya kemampuan untuk berpikir pada otak seseorang yang di dunia medis, disebut Demensia, yakni penurunan fungsi otak seperti menurunnya daya ingat dan kecepatan berpikir serta berperilaku.

Hmmm, apa bedanya dengan pelupa? Jelas bedaaaaa!!!

Pelupa terjadi karena gangguan pemusatan perhatian sementara, misalnya:

• Lupa nama orang yang jarang ketemu
• Mengeluh sering lupa, tapi dapat memberikan contoh hal yang dilupakan
• Sesekali kesulitan menemukan kata yang tepat saat berbicara
• Ingat hal penting, pembicaraan tidak terganggu
• Kehidupan sosial seperti biasa
• Kadang kesulitan menentukan arah, tapi tidak sampai tersesat

Sedangkan pikun terjadi karena fungsi kognitif menurun disertai gangguan aktivitas keseharian, misalnya:

• Lupa nama orang yang sering ketemu
• Mengeluh lupa hanya bila ditanya, tidak bisa memberikan contoh apa yang dilupakan
• Sering kesulitan menemukan kata yang tepat saat berbicara
• Sering lupa hal penting, kemampuan bicara sangat terganggu
• Kehilangan minat untuk aktifitas sosial
• Tersesat, bahkan dilingkungan sekitar rumahnya

Dokter Rien menegaskan juga jika
Pikun bukanlah hal yang normal dalam proses penuaan. 

Lalu, bagaimana mengatasi penyebab pikun? Yaitu dengan meringankan gejala, memperlambat perkembangan penyakit serta membuat penderita dapat hidup semandiri mungkin

Nah, dijelaskan lagi oleh Dokter Rien, beberapa penanganan pikun ini meliputi:

  1. Karena tumor otak: operasi dan kemoterapi | Kurang nutrisi: makan bergizi seimbang; meresepkan suplemen
  2. Obat-obatan: memperbaiki gejala pikun dan meningkatkan fungsi otak
  3. Terapi stimulasi kognitif: untuk memperbaiki fungsi kognitif, efektif meningkatkan kualitas hidup. berolahraga atau permainan fisik, bermain kata atau angka, membaca buku cerita, menggambar, mewarnai, membuat karya seni, memasak, berkreasi
  4. Perawatan Paliatif: keadaan yang sudah parah, misal kanker stadium akhir dengan demensia: meningkatkan kualitas hidup di sisa umurnya, mengurangi rasa sakit dan membina kondisi psikisnya, konseling dan dukungan dari teman dan keluarga

dr. S.B. Rianawati, SpS (K) - Pokdi Neurobehaviour Cabang Malang

Demensia Alzheimer

Demensia Alzheimer

Festival Digital Bulan Alzheimer Sedunia


Demensia di Masa Pandemi COVID-19: Dr. dr. Junita Maja Pertiwi, Sp.S(K) - Kelompok Neurobehavior PERDOSSI



Pembicara kedua, Dr.Dr Junita Maja Pertiwi, Sp.S(K), selanjutnya mengisi materi di Festival Digital Bulan Alzheimer Sedunia ini dengan tema "Demensia di Masa Pandemi COVID-19".

Dokter Maja mengulas tentang betapa banyak masalah terjadi baik yang menimpa Orang Dengan Demensia (ODD) maupun Caregiver-nya di masa pandemi COVID-19 ini. 

Lalu bagaimana mestinya kita menyikapi hal ini?

Pertama, Dokter Maja, mengingatkan tentang Penyakit Lansia Tersering di Indonesia:

  1. Osteoporosis (Keropos Tulang)
  2. Masalah Penglihatan
  3. Penyakit Alzheimer (Pikun)
  4. Artritis (Nyeri Sendi)
  5. Gangguan Metabolisme Tubuh
  6. Hipertensi
  7. Diabetes Mellitus
  8. Malnutrisi
  9. Insomnia
  10. Inkontinentia (Mengompol)
  11. Depresi (kerusakan pemrosesan otak)


Penyakit Alzheimer atau pikun berada di urutan ketiga sehingga pastinya perlu perhatian dari kita semua. Mengingat penyakit ini telah mengganggu fungsi luhur tubuh kita: fungsi tertinggi makluk hidup yang membedakan manusia dengan makluk lainnya

Nah, Gangguan Kognitif dan Perilaku pada pikun ini ditandai dengan Gangguan Daya Kenal, yakni terkait: Atensi, Konsentrasi, Memori, Bahasa, Orientasi, Berpikir Abstrak, Menilai diri sendiri, Berperilaku, Berwawasan/pengertian

Sementara, Gangguan Perilaku Demensia, dijelaskan oleh Dokter Maja, diantaranya: melihat sesuatu tetapi tanpa realita/delusi, senang berlebihan tanpa alasan/eforia, perilaku yang menyimpang, gelisah, mudah marah, halunisasi, depresi, Apatis, cemas

Sedangkan, Dampak Pandemi COVID-19 pada ODD bisa terjadi dari

  • Faktor Eksternal: risiko terpapar COVID-19, risiko menjadi pasien COVID-19, risiko depresi, risiko perburukan kognitif, risiko perburukan perilaku, risiko perburukan penyakit penyerta
  • Faktor Internal: komunikasi verbal berkurang, relasi keluarga berkurang, proses berpikir terganggu, perawatan diri terganggu, higiene diri terganggu, imbalans nutrient, risiko cidera, risiko infeksi, inkontinesia, konstipasi

Kemudian, Dampak Pandemi pada Caregiver:

Adaptasi: Menjaga diri, Menjaga kebersihan, Menjaga jarak, Menjaga hati, Menghindari kelelahan, Menghindari stress, Menyadari keadaan

Maka Cregiver perlu Komunikasi Gaya Baru: Terapi Musik, "Anak Bungsu", Ticket to Happiness, Bakat Tersembunyi, Seseorang di Hati, Lagu Kesayangan

Juga Menerima Kenyataan Baru: ketika penyandang DA menjadi seseorang yang lain: buat situasi yang menunjang. Ketika caregivers tidak dapat mengubah keadaan: Menikmati keadaan dan tetap baik, meski ODD tidak lagi mengenali kita, namun mereka masih mengerti akan kebaikan hati (Bahasa hati)


Nah, Dokter Maja menjabarkan tentang Strategi dan Tips Hidup dengan ODD di Masa Pandemi COVID-19, yang terdiri dari

Interaksi dengan ODD: 
  • Kita adalah pengganggu → Sabar dan mengalah...
  • Drama menjadi nyata → Bantu selesaikan drama...
  • Takut akan malam hari → Beri bantuan...
  • Wajah asing di cermin →  Hindari pemasangan cermin
  • Mudah berubah pikiran →  Jangan memaksa
  • Momen normal →  Masuklah ke dunianya

Interaksi dengan Orang Lain

  • Inisiatif mencari informasi perawatan ODD di masa pandemic COVID-19
  • Inisiatif mencari bantuan pihak berkompeten (mengenai gejala dan tanda COVID-19 pada ODD)
  • Membagikan kisah ke komunitas caregivers
  • Membagi tugas dengan caregivers lain (keluarga)

Interaksi Intrapersonal

  • “Pakailah masker anda barulah menolong orang lain”
  • Takut dan mengasihani diri adalah musuh sejati
  • Sadar/Refleksi diri: ‘fire together wire together’
  • Beri perhatian dan jangan lupa mohon maaf
  • Jika ingin Bahagia, berbahagialah
  • Jadilah seperti ‘Michaelangelo’

Dr. dr. Junita Maja Pertiwi, Sp.S (K)

Demensia di Masa Pandemi COVID-19

Dr. dr. Junita Maja Pertiwi, Sp.S (K)


So, just Love, Honor, Support. Just let them live in peace!

Akhir kata, "Selamat Bulan Alzheimer Sedunia!" 

Mari bersama kita kenali gejala dan obati pikun segera! Download Aplikasi EMS - Sahabat Kesehatan Otak Keluarga untuk membantu kita mendeteksi dini Demensia, karena semakin dini ditangani akan semakin berpeluang mencegah demensia ini!๐Ÿ’–

EMS Sahabat Keluarga




Salam Sehat
signature-fonts

24 comments

  1. Langkah-langkah daftar akun di aplikasinya standar ya mbak? Aku mau lah download, untuk ibu n ayahku, takut juga mbak ortuku baru 50an tahun tapi ada gejala pikun...

    ReplyDelete
  2. Takut juga nih saya kena pikun.
    Karena kadang kala lupa juga dimana naruh barang.
    Donlot juga lah

    ReplyDelete
  3. Wowwww Mbaaa Diaaann.
    Kek baca wikipedia, lengkap kap hahahhaa.

    Saya nulis ini kapan hari, karena takut gejala pikun alzheimer, yang saya rasakan sejak remaja dong.
    Tapi setelah baca ini, saya jadi lebih tenang, sepertinya saya memang pelupa hehehe.

    Dan saya mau donlot ah aplikasinya, wajib banget ini, biar jelas dan nggak self diagnosis.

    Saya tuh sejak remaja, rasanya setring mengalami lola ingatan.
    Kadang lupa alamat rumah, bahkan ada beberapa memori yang saya benar-benar lupain, ga sanggup ingat, aneh banget deh.

    Sering lupa nama? waaahh kayaknya banget nget.
    Cuman ciri-ciri pelupa, yaitu ingat untuk menjabarkan hal-hal yang saya lupakan itu yang bikin tenang :D

    ReplyDelete
  4. Mbak Dian ... kata-kata "penurunan fungsi otak" itu menakutkan bagi saya .... duh semoga saja tak mengalaminya ya Mbak.

    ReplyDelete
  5. Mbaaaak... kok ngeri sekali, ternyata jadi penyakit ketiga lansia. Kayak fenomena gunung es, tahu-tahu makjeder saja nih.
    Kira-kira penyebabnya apa ya Mbak?

    ReplyDelete
  6. Yang khas dari tulisan mba Dian ini, lengkap kap kap dan juga runut sekali.
    MaasyaaAllah...

    Duh, kita sudah nyampe di aging population ya Mba.

    Saya pribadi merasakan sedikit 'ngeri' padahal sebenarnya bisa dibilang ini adalah proses alamiah juga ya.

    ReplyDelete
  7. Ya ampun baru tahu mb dian kalau pikun itu justru bukan kenormalan ya, saya pun kira ini suatu hal yang normal. Jadi makin penasaran sama aplikasinya. Thanks mb ini informasi yang sangat bermanfaat.

    ReplyDelete
  8. E-MS sahabat diharapkan menjadi sahabat pertama untuk mendeteksi keluarga kita ya Mba Dian, apakah mereka memiliki kecenderungan Demensia Alzheimer atau tidak.

    ReplyDelete
  9. Wait-wait-wait apakah saya sudah termasuk pikun ya mbak. Asli kadang suka blank nggak ingat apa -apa Gitu. Apalagi pas dikeramaian, makanya sekarang kemana-mana butuh teman. aku berfikir curiga ini gangguan jin/syetan. Sempat ruqiah juga padahal ini sebenarnya butuh pengobatan ya. Trims infonya ya mbak dian membantu banget ini. ๐Ÿ˜

    ReplyDelete
  10. Baru tahu ada aplikasi untuk mendeteksi demensia sejak dini. Semoga ini bisa membantu banyak orang mencegah/mengurangi efek demensia.

    ReplyDelete
  11. aku aja suka mikir nih, aku tuh relatif masih muda kan under 30, tapi sering banget kelupaan gitu loh, kaya short term memory syndrome banget heuu. Aku jadi penasaran sama aplikasi E-MS ini, pengen cobain dan lihat hasilnya

    ReplyDelete
  12. serem aja sih ya kalau sampai pikun palagi masih usia produktif jangan sampe deh ..kyknya emang harus banyak olga dan jngn stress ya mbak Dian biar ga cepet pikun hehehe

    ReplyDelete
  13. tanteku yang paling tua mulai mengalami seperti yang dijelaskan oleh mba. dan aku ngga mau hal itu juga bakal terjadi sama aku :(

    ReplyDelete
  14. Wah kabar gembira ya kak, kalau pikun bisa diditeksi sejak dini. Kabarnya membaca al qur'an juga bisa ngurangi pikun di masa tua. Btw, aku sering lupa naruk kunci, tersu kadang udah buka kulkas lupa mau ambil apa? Ini gejala pikun juga bukan kak, umurku baru 35.

    ReplyDelete
  15. kesadaran untuk menghindarkan diri dari Alzeimer bisa dimulai dari sekarang.. membiasakan pola hidup sehat dan menstimulasi daya memori otak, menjaga pola makan, dsb..

    ReplyDelete
  16. baru baca judulnya, udah langsung ngerasa kalo ini artikel ditujukan buatku hikshiks

    tapi melewati usia 40, memang harus bersiap dengan kondisi2 ini. biar bisa menyiapkan diri. sehat2lah ya kitaaa

    ReplyDelete
  17. Beruntung banget ikut acara webinarnya ya Mbak, jadi tahu kalau pikun itu bukanlah proses menua yang normal. Jadi pingin cek memori bude saya pake aplikasi EMS soalnya beliau kadang-kadang suka lupa hari dan tanggal hehe

    ReplyDelete
  18. Nah ini ada aplikasi yang bagus dan membantu banget dalam urusan pikun apalagi pada orang tua pasti mereka pikun, kalo di jepang memang sudah ada juga alatnya bahkan orang tua di sana jadi pelayan yang memiliki restoran pikun haha

    ReplyDelete
  19. Dengan mengenali gejalanya, maka kita pun bisa melakukan deteksi dini demi mencegah kian parahnya Demensia Alzheimer ini ya mbak.

    ReplyDelete
  20. Selain karena emang suka, salah satu alasan saya tetap merajut sampe sekarang karena kutakut pikun, karena konon gerakan tangan teratur pada aktivitas merajut bisa memperlambat datangnya pikun :D

    ReplyDelete
  21. Penasaran dengan aplikasi EMS itu, dia mendeteksi berdasarkan apa ya? Coba cek me Appstore aah....

    ReplyDelete
  22. Terima kasih mbak buat tulisannya yang lengkap tentang Alzheimer. Jujur, saya pengen banget gak pikun sampai tua hehehe. Pasti semua juga sih ya. Jadi termotivasi buat rajin baca,belajar, dan tetep jaga lifestyle walaupun sekarang masih sehat-sehat aja.

    ReplyDelete