Siapa Saya? Tentang Metamorfosa Gadis Berkuncir Dua

"Siapa Saya", seharusnya menjadi tema hari pertama keikutsertaan saya dalam event 30 Hari Menulis Cerita bersama KUBBU - BPJ (Klub Blogger dan Buku  - Backpacker Jakarta). 

Ya, “30 Hari Menulis Cerita” adalah sebuah program online di bukan Oktober 2020 dimana para peserta menulis di blognya masing-masing selama 30 hari penuh. Tentu saja ini akan menjadi tantangan untuk konsisten menulis selama 30 hari berturut-turut bagi saya dan semua anggota yang mengikutinya.

Nah, di grup WA yang sudah dibentuk, peserta diminta langsung menyetorkan link tulisan setiap harinya. 

Tapiii, berhubung beberapa hari ini saya hectic sekali, jadi ya gitu deh, saya baru mulai nulis di hari keempat ini...hiks! Beneran sok sibuk saya ini!

Well, gapapa, sambil ngebut saya mau nyusul yang lainya. 

Yess, semangat untuk saya!!!


Metamorfosa Gadis Berkuncir Dua


Metamorfosa Gadis Berkuncir Dua

Pertama, coba amati foto yang ada di pembuka artikel ini. Saya adalah gadis kecil berkuncir dua yang ada di sana. Itu adalah foto saya beserta Mbah Putri, Bapak, Ibu dan kelima kakak perempuan saya.

Saya enggak ingat kapan tepatnya foto ini diambil, mungkin saya harus tanya Ibu dulu kalaupun Beliau masih ingat momen itu. Yang jelas sebelum 1984, karena Mbah Putri saya meninggal di tahun itu.

Namun, saya enggak akan membahas kisah fotonya, melainkan ingin cerita metamorfosa gadis berkuncir dua di sana, alias diri saya.

Ceritanya, sejak bisa membaca dan menulis, saya suka nulis apa sajaaa. Di bagian belakang buku catatan saya, di sobekan kertas bahkan di buku bacaan Bapak atau Mbak-mbak yang saya ikut baca. Saya bisa nulis sepenggal kalimat yang saya baca atau nulis apalah..apalah yang berkeliaran di pikiran.

Sampai saya punya buku berupa diary yang akhirnya saya jadikan tempat menuliskan aneka rasa. Ada cerita mini, puisi atau kekesalan hati pada teman sendiri. Tentu dalam versi anak SD ya..haha

Tak hanya itu, saya juga antusias sekali dengan pelajaran Bahasa Indonesia jika sudah diminta mengarang cerita (yup, dulu istilah "mengarang" lebih banyak digunakan dibandingkan menulis). 

Dan Bu Sri Amini, guru SD saya waktu itu selalu senang dengan hasilnya. Beliau selalu menjadikan karangan saya sebagai contoh ke teman-teman hingga besar rasanya kepala...

Hingga, suatu hari sewaktu kelas 4, Beliau meminta saya menulis tentang Sumpah Pemuda. Saya lupa tepatnya temanya apa. Yang jelas saya diberi kertas folio, pensil dan penghapus. Bu Sri meminta saya menyerahkan hasil tulisan itu seminggu setelahnya.

Lalu, nulislah saya di rumah sampai waktu yang ditentukan. Tiap hari saya tambahkan cerita di sana, besoknya saya lanjutkan lagi. Lalu, ketika saatnya tiba, saya serahkan ke Bu Sri.

Dan...di luar dugaan, Beliau sangat senang. Saya diminta datang hari Minggu ke rumah Beliau. Katanya ada beberapa yang harus ditulis ulang kata-katanya karena kekurangtahuan saya. Beliau akan mendampingi dam mengoreksi mana yang harus pakai huruf kapital, tanda baca yang tepat apa, susunan kalimat yang benar dan hal seputar itu tanpa mengubah isi tulisan.

Singkat cerita saya pun menulis ulang karangan bertema "Sumpah Pemuda" itu dengan ejaan dan susunan yang benar dengan didampingi Bu Sri. Seingat saya ada 4 atau 5 halaman folio tulisan tangan.

(Banyak ya...hahaha)

Kubbu BPJ


Saya manut saja tanpa tahu itu untuk apa, kata Beliau akan dikirimkan untuk lomba. Itu saja!

Bulan depannya, hari Senin saat upacara bendera. Nama saya dipanggil untuk maju ke depan oleh Bapak Kepala Sekolah, Pak Soeharto. Disampaikan Beliau saya menjadi juara II Lomba Mengarang tingkat SD Se-Kota Kediri dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda.

Saya senaaaang sekali. Ada piala yang tinggi, piagam penghargaan dan tas sekolah beserta buku tulis dan set alat tulis di dalamnya. 

Just Write!


Setelahnya saya tetap suka menulis meski hobi ini tergeser dengan kegiatan lain, seperti menari dan Pramuka.... Hingga, akhirnya seperti terlupa! 

Kini, jika diingat-ingat lagi, coba saat itu passion menulis saya lebih diasah ya....hm 

Apakah saya menyesal? Tentu tidak!

Semua perjalanan hingga saya ada di fase "mengarang" lagi, mencurahkan segala kata-kata yang berhamburan di kepala lewat blog saya ini, memang mesti demikian jalannya.

Justru dengan banyaknya kisah di sepanjang rentang waktu itu, saya jadi punya banyak cerita yang bisa dituliskan dalam versi kini. 

Jadi, buat dirimu yang mungkin merasa bahwa menulis adalah jalanmu, ayo mulai dan tekuni! Bakalan lega rasanya jika kita sudah wujudkan cita-cita. 

Enggak ada kata terlambat, kok! Saya saja baru memulainya (lagi) di usia 40 tahun, lho!

Tunggu apalagi, yuk mulai nulis dari sekarang! 

Life is story, what does yours say?

Semangaaat...!!!💖


Just Write!

signature-fonts

4 comments

  1. Keren ceritanya Mbak Dian. Anyway nama gurunya sama kayak guru Bahasa Indonesia saya waktu SMA yg juga sama² menemukan "bakat" menulis saya..

    ReplyDelete
  2. Wah aku justru bermasalah dengan pelajaran bahasa indonesia. Apalahi bagian karang mengarang. Suka bingung aja mulai dari mana. Mana yang peerlu di ceritakan kok ceritanya muter muter. Gitulah. Hehehe

    ReplyDelete
  3. Ceritanya menarik dan inspiratif. Salut! Meski sempat terhenti dan memulai lagi, Mba Dian ini masih tetap mahir menulis.

    ReplyDelete