Sate Mak Syukur, Lestarikan Cita Rasa Warisan Leluhur

Saat di perjalanan roadtrip Sumatera rute Padang - Bukittinggi akhir tahun 2019 silam, rencananya kami singgah makan di Sate Mak Syukur yang berlokasi di Kota Padang Panjang. Sebuah rumah makan yang ternama dengan Sate Padangnya yang enggak cuma terkenal di tempat aslinya tapi juga di Jakarta. 

Ya, sate yang ada sejak 1941 dijajakan oleh Mak (Mamak/Paman) Syukur dengan berjalan kaki. Kini dilanjutkan oleh keturunannya di sebuah rumah makan yang wajib dikunjungi wisatawan jika melewati kota di Sumatera Barat ini. 

Sayangnya, saat itu kami sedang terburu-buru karena memang itinerary harus direvisi setelah suami ngedrop saat di Bengkulu sampai harus masuk UGD. Jadi ya gitu deh, kami lewat Padang Panjang masih kepagian, belum buka warung satenya...Jadi bye-bye aja, makannya di Jakarta lagi nanti hihihi.


Sate Mak Syukur

Tentang Sate Padang


Saya dan keluarga penikmat Sate Padang. Kalau diminta memilih dibandingkan jenis sate lainnya kami lebih suka jenis ini. Bisa jadi karena saya pernah 5 tahun tinggal di Sumatera Utara dan suami pernah menetap selama 10 tahun di Bengkulu dan Sumatera Utara. Membuat makanan khas Melayu, Minang dan aneka ragamnya familiar bagi kami dan bahkan ngangeni.

Nah, Sate Padang mulai saya kenalkan ke anak-anak sejak kecil sebagai sajian di rumah saat mager bebikinan. Biasanya beli yang dekat rumah atau (dulu) sama tukang sate yang lewat. 

Jenisnya ada dua, yang bumbunya kuning, ciri khas Sate Padang Panjang dan yang berbumbu merah yang jadi ciri Sate Pariaman. Yang banyak dijual di sekitar tempat tinggal saya yang berbumbu merah. Sedangkan yang ala Padang Panjang selama ini saya belinya mesti saat nge-mal, ya di Sate Mak Syukur ini. 

Oh ya, sebenarnya sih ada satu jenis lagi Sate Padang ini, yakni Sate Dangung-Dangung yang berbumbu kuning juga tapi dilengkapi dengan parutan kelapa. Saya pernah makan ini saat mengunjungi Minangkabau sebelumnya. Tapi di Jakarta, yang lebih banyak saya temui adalah dua jenis Sate Padang yang pertama tadi, ala Padang Panjang dan Pariaman.

Well, saya kutip dari Wikipedia, cara pembuatan Sate Padang ini adalah dengan memasukkan daging segar ke dalam drum besar berisi air. Daging direbus dua kali agar lunak menggunakan drum dan air yang berbeda. Ada 19 macam bumbu rempah-rempah yang telah dihaluskan (diantaranya: bawang merah, bawang putih, kunyit, jahe, dan serai) dicampur dengan berbagai macam cabai untuk memperkaya rasa. Seluruh bumbu kemudian dijadikan satu dengan potongan daging dan dimasak bersama. 

Sisa kaldu akan dibuat kuah sate dengan menambahkan tepung beras sebagai pengentalnya. Rempah-rempah inilah yang membuat rasa sate dan kuahnya menjadi kaya dan lamak bana!

Nah, sate hanya dibakar sebentar saat dipesan, menggunakan arang (tempurung kelapa). Sate dimakan dalam keadaan hangat dan bisa dimakan dengan keripik singkong atau jangek khas Minang. Mantap jiwa!

Sate Padang

Sate Mak Syukur, Cita Rasa Warisan Leluhur


Kesuksesan Sate Mak Syukur yang kabarnya (sebelum pandemi) mampu menjual lebih dari 3000 tusuk sate per hari ini, tidak terlepas dari perjuangan di masa lampau almarhum Syukur Sutan Rajo Endah, atau  Mak Syukur. Usahanya tidak langsung melejit, karena Mak Syukur harus bersusah payah dulu memikul sate dan menjajakannya di sekitar Padang Panjang hingga bisa menempati kios yang kini jadi rumah makan.

Puluhan tahun merintis usaha kulinernya, akhirnya Mak Syukur memanen hasilnya. Sate Mak Syukur mulai dikenal orang-orang dari seluruh penjuru Sumatera maupun luar Sumatera. Alih-alih berkeliling mencari pembeli, kini orang-orang yang langsung mendatangi. 

Saat ini Sate Mak Syukur Padang Panjang berlokasi di Jalan Mohammad Syafei No.63, Pasar Baru, Padang Panjang Barat, Kota Padang Panjang dan dikelola oleh salah satu putranya. Sementara putra lainnya mengelola Sate Mak Syukur yang di Jakarta yang berlokasi di beberapa pusat perbelanjaan dan lokasi lainnya di Jakarta dan sekitarnya.

Saya pernah makan di dua cabang yang kebetulan sering saya kunjungi mal-nya, yakni Lippo Mal Karawaci dan AEON Mal BSD. Nah di kedua mal ini Sate Mak Syukur bisa didapatkan dengan cita rasa dan harga yang sama.

Etapiiii, apa sih sebenarnya keunikan Sate Mak Syukur ini?


1. Dagingnya Empuuuk 

Kabarnya, daging untuk bahan sate memang berasal dari bagian punuk dan rusuk sapi di mana daging yang dihasilkan tidak terlampau keras namun masih mengandung lemak. Nah, lemak inilah yang membuat rasa sate nikmat. Namun, lemak tidak diikutsertakan manakala sate sudah akan dibakar dan disajikan. Selain itu dua kali perebusan membuat daging sate sudah empuk sebelum dibakar.


2. Bumbu yang Meresap di Dagingnya

Daging direbus bersama bumbu aneka macam rempah agar empuk, bercita rasa dan aromanya wangi. Sehingga rasa meresap ke daging sate yang di Jakarta dibandrol 45 ribu per porsi. 


3. Kuah yang Mantap

Kuah Sate Padang dibuat dari kaldu rebusan daging bahan sate yang sudah berbumbu dan dikentalkan dengan tepung beras. Pedasnya pas, bagi saya yang berlidah Jawa. Tapi jika dirimu merasa kurang pedasnya, tersedia juga sambal saat penyajiannya.


4. Porsi yang Pas

Di Jakarta, Sate Mak Syukur disajikan per porsi berisi 7 tusuk sate dan potongan ketupat yang lembut disiram kuah kuning kental panas plus taburan bawang goreng di atasnya. Potongan dagingnya besar-besar sehingga dijamin kenyang. (Eh ini bagi saya ya..siapa tahu porsimu beda hahaha).


5. Tersedia Peneman Hidangan yang Sama Mantapnya

Tak hanya sate, tersedia pula menu Soto Padang, Keripik Singkong, Kerupuk Jangek (meski tidak selalu ada di cabang tertentu karena sold out). Cocok jika bersanding dengan sate yang hangat nan lezat. Sedikit saran, karena Soto Padang juga berteman ketupat (atau nasi) lebih baik pesan yang tanpa ketupat, karena di dalamnya sudah ada potongan kentang dan bihun. Kuatirnya kenyang sekali nanti hihihi. Sementara, untuk Keripik Singkong di Sate Mak Syukur rasanya juga sudah disesuaikan dengan lidah Jakarta, enggak terlalu pedas dan rasanya pas. Tepat jadi pilihan dicocolin ke kuah kental sate. Enaaaknyooo!!


Keripik Singkong @10.000

Sate Padang SMS
Sate @45.000 dan Soto @40.000


Well, meski harga Sate Mak Syukur 3 kali lipat lebih mahal dibandingkan sate Ajo Rommy, Ajo Mudo, Ajo Denai...dan lainnya yang dekat rumah saya, rasanya puas menyantapnya. Lagian semua yang di dekat rumah memang yang versi Pariaman, bukan versi Padang Panjang. 

Hanya sayangnya gerai yang di mal ini minimalis untuk jenis minumannya. Padahal bayangan saya bisa makan Sate Padang berteman teh talua atau minuman khas Minang lainnya. Tapi, mayan lah kalau lagi pengin Sate Padang ala Padang Panjang ke Sate Mak Syukur, sate yang lestarikan cita rasa warisan leluhur!

Betewe, dirimu suka Sate Padang jugakah seperti dirikuuuu?💖



Happy Tummy Happy Me

signature-fonts

7 comments

  1. Saya sudah pernah merasakan keripik singkongnya yang dari Padang mbak, pedes banget. Kalau sate Padang belum pernah nyoba. Di daerahku sepertinya belum ada yang jual ini. Bumbunya komplit ya, pasti rasa rempahnya terasa banget itu. Oh ya kerupuk jangek itu apa ya mbak?

    ReplyDelete
  2. Hmm... Ngeces nih mbak, saya penyuka segala macam sate. Semoga aja suatu saat nanti bisa ngincip sate padang penasaran banget sama rasanya, pasti enak banget

    ReplyDelete
  3. Wuuh mantab bener makannya mba Diannn... hihhihi. seneng ya nemuin makanan warisan leluhur gini. Berasa banget kalau Indonesaia kaya akan warisan kuliner. Kebetulan aku lebih suka sate "jawa" gitu yang pake bumbu kecap manis. Tapi sesekali juga makan sate Padang sih. Kalau sotonya aku sukaaaa.... rempahnya nendang dan seger di mulut .. sampe mi instan yang rasa soto Padang juga suka hehehehe... kayaknya kalau kita ketemuan bisa ngabisin makanan banyak nih mba. Secara aku juga suka masakan Nusantara gini. Wkwkwkwkw... Mantul!

    ReplyDelete
  4. Saya baru beberapa kali makan Sate Padang Mbak, dan memang bumbunya itu begitu terasa macam rempahnya. Yang paling saya suka, dagingnya yang empuk dan bumbunya yang meresap. Memang mantap ya, Mbak :)

    ReplyDelete
  5. Ternyata sate padang ada yang kuahnya merah juga ya. Kuah ya namanya. Hehehe...

    Saya biasa makan yang kuahnya kuning sih. Sebab kalau cari nasi padang selalu kuahnya kuning. Kirain ya cuma ini aja jenis sate padang tu. Hehehehe

    ReplyDelete
  6. wow , aku mengapa ya gak pernah suka sate padang, pertama awal , kali karena belinya di cirebon , mungkin bukan orang padang yg bikin, tapi waktu ke padang , tetep saja gak suka dengan rasa rempah2nya

    ReplyDelete